Ketika Alam Tidak Lagi Ramah…

Agustus 24, 2010

Hampir setahunan ini kami di Bandung merasa tidak mengalami musim kemarau, sepanjang tahun terus hujan. Dalam teori, siklus musim hujan dan kemarau di Indonesia kerap disebutkan sbb.: April-Oktober musim kemarau, sedangkan Oktober-April musim hujan. Namun dalam tahun terakhir, sepanjang tahun hujan terus. Kadang hujan sangat deras, sehingga terjadi banjir dan longsor di daerah-daerah tertentu.

Di TV kerap diberitakan bencana alam yang terus mendera daratan China, berupa banjir besar dan tanah longsor. Sudah ribuan manusia tewas menjadi korban. Begitu juga banjir yang melanda Pakistan, juga menyebabkan ribuan orang meninggal.

Polusi Berat CO2 Membuat Iklim Tak Menentu

Di hari-hari ini kita merasakan perilaku alam yang sulit dipahami. Kadang terasa gerah, tetapi tiba-tiba bertiup angin yang sangat dingin. Kadang cuaca sangat dingin, lalu berubah menjadi hawa panas. Kadang angin bertiup menderu-deru, membuat kita berprasangka, musim akan segera berganti. Tetapi ternyata, ia hanyalah “pancaroba semu”.

Begitulah, cuaca kini penuh turbulensi, penuh gejolak dengan segala ketidak-menentuan. Mungkin inilah realitas yang kerap disebut sebagai extremely climate change (perubahan iklim secara ekstrim). Daerah yang panas menerima dingin, begitu pula sebaliknya, dengan siklus yang tidak teratur. Padahal sebelumnya, selalu teratur dan dapat diprediksikan dengan mudah. Hujan atau panas, datang-berganti seperti tanpa siklus.

Menarik mengamati banjir besar yang terus-menerus mendera China. Hawa dingin, tanah longsor, dan lain-lain. Hari-hari ini China seperti panen dua realitas kontradiktif: panen pujian sebagai raksasa ekonomi baru, tetapi juga panen bencana-bencana besar.

Mengapa terjadi kondisi perubahan cuaca secara ekstrim?

Hal ini bisa dipahami dengan pendekatan sains. Menurut sains, akar persoalan ini muncul karena perilaku karbondioksida (CO2) di udara semakin liar. Polusi, pembakaran BBM, pembakaran bahan organik, menyebabkan produksi CO2 di udara meningkat sangat pesat. Menurut penelitian modern, gas CO2 itu tidak bisa dibuang keluar dari atmosfer bumi. Gas itu semakin bertambah, membuat ruang atmosfer bumi semakin panas. Inilah yang kerap disebut sebagai global warming (pemanasan global).  Ada juga yang menyebut green house effect (efek rumah kaca). Kalau Anda masuk rumah kaca, akan terasa sumuk (gerah), sebab disana udara panas seperti terperangkap dalam ruangan tersebut.

Panas di atmosfer berdampak meningkatkan suhu, meningkatkan penguapan air laut, juga mengubah formasi kelembaban udara. Suhu berubah, kelembaban udara berubah, maka perilaku angin juga berubah. Kan sesuai hukum sains, “Angin bertiup dari udara yang dingin ke udara panas, dari kondisi tekanan tinggi ke tekanan rendah.”

Dengan demikian kita menjadi paham mengapa kemudian terjadi perubahan-perubahan cuaca ini. Ia terjadi karena tingkat polusi yang luar biasa besar-besaran. China dan Amerika termasuk negara-negara penghasil polusi udara terbesar di dunia. Pabrik-pabrik di negara itu setiap waktu terus merobek-robek struktur harmonis ruang atmosfer. Mereka enak mendapat uang banyak, tetapi ummat manusia sedunia menjadi korban.

Beberapa waktu lalu sempat ada konferensi internasional tentang perubahan iklim di Nusa Dua, Bali. Waktu itu sempat dibahas tentang isu “perdagangan karbon”. Maksudnya, negara penghasil polusi CO2 terbesar di dunia, seperti China dan Amerika, harus memberi subsidi kepada negara-negara yang memiliki hutan luas, seperti Indonesia dan Brasil. Hutan-hutan ini kan setiap detik terus memproduksi O2, sementara pabrik-pabrik di China, Amerika, Jepang, Eropa, dll. terus memproduksi CO2. Negara-negara pollutan itu diminta memberi sumbangan untuk pengembangan dan pelestarian hutan di negara-negara tropik. Ternyata, mereka ogah membantu.

Sudah begitu Si SBY tawadhu banget. Melihat negara-negara pollutan tidak mau membantu, SBY terima aja. Maklum sih, Si SBY ini badannya ada di hadapan kita, tetapi hatinya sudah parkir di New York sana. Harusnya, kalau laki-laki sejati, negara asing tidak mau bantu menjaga hutan kita, usir saja mereka dari konferensi itu. Usir mereka, biar malu! Tetapi kita semua tahu, Si SBY ini kan karakternya begitu: rela mengorbankan rakyat sendiri, demi mencari keridhaan asing.

Ada hikmah besar di balik realitas perubahan iklim ekstrim ini. Hikmah apakah itu?

Perubahan iklim ekstrim ini terjadi lebih karena AMBISI MATERIALISME negara-negara industri tersebut. Di mata mereka, mumpung selagi hidup, harus mencari uang sebanyak-banyaknya, bagaimanapun caranya. Kalau sudah dapat uang, mereka akan gunakan untuk senang-senang sepuasnya, tidak peduli akibat dari senang-senang itu merusak lingkungan.

Di mata kaum jahiliyyah pemuja hawa nafsu itu, tidak ada istilah “ramah lingkungan”, “peduli nasib generasi”, “peduli beban bumi”, “empati dengan nasib manusia”, dan seterusnya. Di mata mereka ya hanya senang, senang, senang, senang, senang,… Sepanjang hayat hanya senang-senang saja. Maka itu Al Qur’an menyebut mereka, “Ya’kuluna kamaa ta’kulul ‘an-am” (mereka makan seperti makannya binatang).

Ironisnya, kehidupan seperti itulah yang oleh para ekonom kerap ditutup-tutupi dengan istilah: pertumbuhan ekonomi, kenaikan produk domestik bruto, iklim investasi, laju inflasi, kenaikan indeks saham, dll. Padahal semua itu intinya hanyalah: kehidupan ala binatang yang memuja hawa nafsu. Akibat kehidupan seperti ini sangat jelas, yaitu kerusakan lingkungan, perubahan cuaca ekstrim, dan seterusnya.

Alam ini sebenarnya diciptakan dalam kondisi harmonis. Allah Ta’ala telah meletakkan fungsi-fungsi, mekanisme, dan tabi’at alam yang ramah bagi kehidupan insan. Hanya saja, karena nafsu senang-senang (yang kerap ditutup-tutupi dengan istilah “pertumbuhan ekonomi”) itulah, maka alam ini rusak. Sayangnya, dalam kondisi seperti ini kita dipimpin oleh “artis” yang senang berdandan di depan cermin; bukan dipimpin manusia tegas.

Semoga kita bisa memetik hikmah dan manfaat! Amin.

AMW.

Iklan

Nasib Ngenes Kompor BPPT

Juli 8, 2010

Kita tahu, akhr-akhir ini sering sekali teradi ledakan tabung gas. Khususnya tabung kuning-hijau, ukuran 3 kg. Kalau tabung itu meledak, rasanya seperti bom yang dipasang oleh Nordin M. Top Cs. Bahkan mungkin ledakannya bisa lebih hebat dari itu. Tapi tidak ada yang menuduh kalangan Pertamina sebagai “teroris” akibat terjadinya banyak ledakan tabung gas di Tanah Air selama ini. [Padahal hasilnya sama, yaitu: ledakan, kerusakan, dan korban manusia].

Ada yang miris dengan masalah tabung gas ini. Sejak tahun 2006, BPPT sudah mengajukan konsep kompor gas yang aman untuk menunjang program konversi BBM ke gas itu. Tapi oleh negara ditolak. Malah negara ini ngeyel membeli jutaaan tabung gas ukuran 3 kg dari China. Terbukti, kualitas tabung gas itu jelek sekali. Produk karya bangsa sendiri tak dihargai, sementara pejabat-pejabat negara lebih senang membeli tabung buatan China.

Inovasi Karya Anak Negeri: Tak Dihargai 100 %!!!

Dalam masalah beras juga begitu. Betapa susahnya Pemerintah menaikkan harga dasar gabah, agar penghasilan petani membaik. Alih-alih ingin membantu petani, Pemerintah malah lebih suka membeli beras dari Vietnam, Thailand, Laos, dll. Beras rakyat sendiri diabaikan, sementara dari Vietnam dijadikan andalan. Sepertinya pejabat-pejabat itu lebih suka menggendutkan perut-perut anak orang asing, lalu membiarkan anak-anak kita kurus kering. Dalam masalah gula juga begitu. Pemerintah suka membeli gula rafinasi dari asing, lalu mengabaikan pasokan tebu dan produksi gula dari dalam negeri. Impor gula rafinasi itu sangat menakutkan petani-petani tebu kita.

Sebenarnya, sejak lama bangsa kita memiliki keahlian, keuletan, dan inovasi teknologi. Tetapi semua itu tidak dihargai oleh Pemerintahnya sendiri. Pemerintah ini lebih suka memakai produk asing, memberi ijin bagi investasi asing, memberi ijin penambangan asing. Adapun terhadp nasib produk anak neger, mereka buang jauh-jauh. Seolah di mata Pemerintah berlaku filosofi: “Setiap yang berasal dari asing, halal. Setiap yang berasal dari anak negeri, haram.” Ini benar-benar mengerikan. Bagaimana kita bisa tenang menatap masa depan anak-anak kita nanti di bawah kepemimpinan yang rela menjadi jongos asing?

Dalam Olimpiade Sains dunia, anak-anak Indonesia sering berprestasi. Dalam lomba-lomba teknologi internasional, utusan Indonesia juga sering menang. Tetapi dalam level produk teknologi yang dikonsumsi di Tanah Air, nyaris tidak ada yang produk asli Indonesia yang sukses. Kalau ada produk nasional yang bersaing, paling rokok, musik pop, dan -maaf- video mesum. Laa haula wa laa quwwata illa billah.

Kepemimpinan politik sejak jaman Gus Dur, Megawati, dan SBY saat ini, tidak ada satu pun yang pro kebangkitan industri dan teknologi dalam negeri. Rata-rata pro asing semua. Dulu Soeharto dikritik dengan segala catatan korupsi, kolusi, dan pelanggaran HAM. Tapi Soeharto masih punya komitmen terhadap negaranya sendiri. Salah satu bukti, Soeharto sampai wafatnya tidak pernah mau berobat ke luar negeri. Dia juga selalu menggunakan bahasa Indonesia, mekipun bertemu pejabat-pejabat tinggi negara lain.

Kenyataan seperti ini tidak akan terjadi, kecuali dalam salah salah satu kemungkinan: (1) Pemimpin politik telah berkhianat terhadap amanah UUD untuk membela kepentingan ekonomi rakyat Indonesia; (2) Pemimpin politik telah menjadi agen asing untuk menerapkan missi kolonialisme mereka.

Kompor BPPT hanya salah satu contoh kecil saja. Di BPPT sendiri ada ratusan atau ribuan penemuan teknologi yang sangat potensial untuk kemaslahatan kehidupan rakyat Indonesia, dan semua itu selama ini dibiarkan mangkrak (terlantar), karena Pemerintah lebih menyukai suplai teknologi dan produk asing. Terpuruknya PTDI (IPTN) menjadi bukti lain, betapa pemimpin politik tidak punya naluri sama sekali untuk membela negaranya sendiri.

Pemuda Indonesia Bisa Membuat Sepeda Bermesin (dari mesin pemotong rumput).

Inilah masaalahnya. Pemimpin politik lebih melayani asing, acuh dengan karya anak bangsa. Sementara rakyat banyak dibuat lalai oleh TV, sepakbola, rokok, musik, dan -maaf- video mesum. Lalu ada para politisi yang kebanyakan oportunis. Lidah mereka pandai bicara apa saja, tap nyali kosong. Yang di bawah tak berdaya, yang di atas hanya mementingkan diri sendiri. Jelas saja, orang asing bergirang hati, karena mereka bisa mengeruk kekayaan nasional tanpa kesulitan apapun. Laa haula wa laa quwwata illa billah.

Begitu ngenes-nya hidup di negeri ini. Ya Allah ya Aziz, tidak adakah harapan bagi kami? Lalu bagaimana dengan masa depan anak-cucu kami nanti? Masihkah mereka tetap istiqamah dalam Islam, atau berbondong-bondong murtad dari jalan agama-Mu?

Rabbighfir warham wa Anta Khairur Rahimin. Ya Rabbi ampuni kami, kasihi kami, sesungguhnya Engkau sebaik-baik yang mengasihi.

AMW.


Fujiwara Award untuk Ilmuwan Muda Indonesia

April 26, 2010

PENGANTAR

Artikel ini pernah dimuat oleh majalah Gatra, edisi 24 Februari 2010, hal. 32-33, dengan judul Obsesi Periset Smart Fluid. Ia adalah tentang sosok seorang periset muda Muslim Indonesia, Muhammad Agung Bramantya, yang sedang menempuh studi di Jepang. Berkat riset yang dilakukannya dalam topik “smart fluid” dia mendapat Fujiwara Award dan Young Engineer Award dari JSAEM, sebuah lembaga para ilmuwan Jepang. Ini adalah untuk pertama kalinya Fujiwara Award diberikan kepada seorang periset dari luar Jepang. Otomatis Muhammad Agung Bramantya merupakan orang Indonesia pertama, sekaligus Muslim pertama di Dunia Islam, yang menerima penghargaan tersebut. Karena begitu pentingnya informasi ini agar diketahui Ummat Islam, sengaja saya muat artikel tersebut di blog ini. Artikel serupa juga dimuat di koran Media Indonesia, dengan judul Mengulik Ultrasonik Pendeteksi Fluida Cerdik, edisi 12 Februari 2010. Semoga bermanfaat!

OBSESI PERISET SMART FLUID

Muhammad Agung Bramantya menjadi orang pertama di luar Jepang yang mendapat Fujiwara Award dan Young Engineer Award dari JSAEM. Buah ketekunan sejumlah riset bidang smart fluid. Untuk jangka pendek, PLTN bisa menjadi solusi alternatif guna mengatasi krisis listrik.

Dunia riset di laboratorium memang jauh dari hiruk-pikuk kemilau glamor. Meski sepi, dunia riset bukan berarti tidak dapat memberi kepuasan. Setidaknya, begitulah yang dirasakan Muhammad Agung Bramantya, kandidat doktor di Universitas Keio, Jepang. Berkat ketekunan dan temuannya dalam sejumlah riset, pria kelahiran Yogyakarta, 22 Maret 1981, ini dianugerahi Fujiwara Award.

“Saya senang karena (menjadi) orang pertama di luar Jepang yang mendapat Fujiwara,” kata Bram, begitu ia biasa disapa. Fujiwara Award diambil dari nama Ginjiro Fujiwara yang hidup pada 1869-1960. Ia pendiri Institut Teknologi Fujiwara, cikal bakal Fakultas Sains Teknologi Universitas Keio. Anugerah yang diterima Bram pada 30 Maret 2009 itu adalah penghargaan bagi peneliti yang aktif dan bergiat di lintas bidang, baik sains maupun sosial budaya.

Bram, yang belajar di Jepang sejak Maret 2008, tidak tahu secara pasti mengapa anugerah itu jatuh ke tangannya. Yang dia tahu, dirinya banyak terlibat dalam presentasi hasil riset di forum konferensi ilmiah, baik di Jepang maupun di dunia internasional. Untuk bidang sosial, Bram bergabung dalam forum South-East Asian Engineering Development Network (Seed Net). Forum ini berisi para peneliti dari ASEAN dan Jepang.

Foto Bram di Tengah "Mainan-nya"

“Selain saling dukung secara ilmiah-akademis, juga menjadi ajang untuk mengenalkan budaya dan informasi dari tiap negara,” katanya. Menurut Bram, penilaian dari sisi parameter akademik jelas terukur, sedangkan untuk parameter sosial-budaya tentu subjektif. Untuk aspek akademis, Bram bercerita bahwa dirinya pernah maju dalam seminar dunia ke- 11 tentang Electrorheological Fluids and Magnetorheological Suspensions (ERMR) Organizing Committee pada September 2008 di Jerman.

Dalam seminar itu, Bram adalah satu-satunya wakil Asia Selatan dan Asia Tenggara. Di sana, ia menyabet Best Poster Prize, menyisihkan 100-an poster peneliti dunia di bidang tersebut. “Itu prestasi puncak yang mungkin menginspirasi pemberian Fujiwara Award,” ujar peneliti yang selalu mengaku sebagai orang Indonesia, meski dalam diskusi menyatakan diri sebagai wakil Jepang. Ada pengalaman lucu ketika ia mendapat sampanye. “Bingung mau diapakan, akhirnya saya buang ke toilet,” katanya.

Kesetiaan Bram pada riset ternyata membuahkan penghargaan. Tanpa pernah mengimpikannya, pada 19 November lalu ia menerima Young Engineer Award. Anugerah dari Japan Society of Applied Electromagnet and Mechanics (JSAEM) ini diberikan pada puncak acara Magnetodynamics Conference ke-18 di Universitas Tokyo. “Penghargaan kali ini karena ada temuan spesifikasi di bidang itu,” ujar Bram.

Unsur kebaruan risetnya ada pada penggunaan metode ultrasonik un­tuk menganalisis struktur dalaman pada sebuah smart fluid, yang berupa magnetorheological fluid. Sebelumnya, para periset biasa memakai metode simulasi numerik, metode optical microscope, atau metode spektrografi analisis sektrum cahaya. Semua metode ini memakai preparat. “Sedangkan saya memakai metode gelombang ultrasonik,” katanya. Dengan metode ini, secara prinsip tidak ada perlakuan khusus terhadap fluida yang akan diteliti.

Aplikasi riset smart fluid kini merambah berbagai bidang. Di dunia otomotif dipakai untuk memonitor sistem suspensi peredam atau pemantau efek suspensinya. Penerapan suspensi dengan smart fluid telah dilakukan pada mobil Audi, Ferrari, dan BMW. NASA juga mengembangkannya untuk injeksi bahan bakar fluida. Sedangkan MIT lebih ke arah robotik.

***

Dunia riset yang kini ditekuni Bram tidak bisa lepas dari hobinya melakukan riset sejak mahasiswa. Salah satu risetnya ketika kuliah di Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, adalah mendesain mobil tenaga surya. Topiknya adalah “Aerodynamics Performance for Body Development of a Solar Car”. Ketika ia lulus dari teknik mesin UGM, skripsinya berjudul “Redesign Conceptual Aircraft: Airbus A 330”. Selain menjadi mahasiswa terbaik, Bram juga menjadi  mahasiswa yang lulus tercepat di angkatannya.

Begitu lulus, Bram sempat bekerja di Unocal. Namun, tak sampai setahun, ia merasa tidak sreg bekerja di tengah laut dengan sistem dua minggu kerja-dua minggu libur. “Bukan jenis pekerjaannya, melainkan sistemnya. Saya juga melihat jalur engineer di sana begitu-begitu saja. Jadi kuli, walau bayarannya besar,” katanya. Sebenarnya ia berencana terjun ke industri dulu selama 10-15 tahun, baru kemudian balik ke kampus untuk mengajar dan meneliti.

Namun Bram sudah gatal terjun ke riset. Pada 2004, ia pun memutuskan melanjutkan S-2 teknik mesin di Pascasarjana UGM. Ia tuntaskan studinya ini dalam tiga semester, dengan IPK 3,86. Lalu ia meneruskan kuliah di University of Malaya, menekuni teknik desain dan manufaktur. Selain belajar, ia juga aktif memberi tutorial resmi S-1 dan S-2 serta terlibat dalam berbagai pameran akademik dan presentasi poster.

Tesisnya, “Development of a Software for Designing and Manufacturing of an Impeller”, sekaligus menghasilkan software desain impeller pump layak paten lokal. “Tapi saya tidak mau. Enakan Malaysia, dong,” kata Bram. Suatu saat, jika pulang ke Indonesia, ia mencoba mematenkannya. Selain itu, juga bisa dipakai sebagai “senjata” jika akan bermitra dengan Malaysia.

Kini, di Jepang, Bram fokus di bidang yang didalaminya sejak 2007, yakni smart fluid, baik yang cair maupun gas. Proses studinya tidak berupa aktivitas kuliah atau tatap muka. “Semuanya berbasis penelitian,” ia menambahkan.

Kini tesis S-3 yang disiapkannya adalah soal magnetic and magnetorheological fluids. Risetnya merupakan bagian dari beasiswa JICA. Kini dilakukan di Jepang karena instrumentasi dan bahan materialnya terbilang mahal.

“Untuk gambaran, saya mendapat Rp 100 juta per tahun,” kata ayah dua anak berusia lima dan tiga tahun ini. Uang itu untuk bahan operasional. Selain itu, tambah Bram, masih ada dana dari profesor di laboratorium dan peralatan lainnya milik universitas senilai milyaran rupiah. “Saya taksir Rp 3 milyar-Rp 5 milyar,” kata Bram. Mahalnya biaya terletak pada investasi pembangunan laboratorium utuh, yang jika lengkap bisa mencapai Rp 1 trilyun.

***

Bram bersyukur, UGM dan pemerintah memberi dukungan penuh. “Kalau bukan dosen UGM, saya mungkin sulit mengakses fasilitas di sini. Pihak Jepang juga melihat status dosen dan PNS saya,” ungkap Bram. Ia percaya, sejumlah risetnya potensial untuk dikembangkan dan diterapkan. Riset S-1 bisa untuk bidang aerodinamika pesawat. Penelitian S-2 tentang flooding sangat dibutuhkan di reaktor nuklir.

Soal nuklir, Bram yakin, PLTN mampu menyelesaikan krisis listrik jangka pendek. “Jika nanti infrastruktur energi ramah lingkungan tercapai, barulah PLTN ditinggalkan sejauhjauhnya,” kata Bram.

Bila nanti kembali ke UGM, Bram ingin mengintensifkan riset-riset ke arah paten dan membangun jaringan interdislipiner ilmu. “Insya Allah, bisa lahir banyak temuan yang berguna untuk rakyat,” ujar Bram.

[FINISH HERE].

SUMBER: Blog Muhammad Agung Bramantya.


Selembar Cek dan Kalender Hijriyah

April 25, 2010

Oleh Husaini Mansur dan Dhani Gunawan Idat

Dewasa ini, alat pembayaran berupa cek (cheque) sudah begitu populer bagi dunia usaha, pedagang, pebisnis, pengembang, tokoh-tokoh masyarakat, pemimpin organisasi, baik Pemerintah maupun Swasta dll. Apalagi di kalangan perbankan. Berbagai cek dari nasabah harus diselesaikan setiap hari, supaya arus perniagaan dan sistem pembayaran tetap berjalan lancar, tanpa kendala.

Tinggal Nulis Angka Nominal.

Namun pertanyaan yang kemudian muncul, apakah memang ada hubungan (korelasi) antara cek sebagai alat pembayaran di satu pihak, dengan Tahun Hijriyyah di pihak lain, yang notabene merupakan sistem penanggalan Islami? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, melalui artikel ini, penulis akan mencoba mengetengahkan latar belakangnya.

BERAWAL DARI INOVASI

Pada masa Umar bin Khaththab menjadi Khalifah (634 – 644 M), wilayah Islam sudah menyebar ke segala penjuru. Jika sebelumnya pemerintahan hanya terbatas di Jazirah Arabia, kini semakin meluas, mulai dari Irak dan Persia di Kawasan Timur, hingga ke Syam dan Mesir di Kawasan Barat.

Menyadari perlunya pemerintahan yang bersih dan berwibawa, Khalifah Umar-pun menjadikan kesejahteraan pegawai dan prajurit sebagai salah satu prioritas Pemerintah. Imbalan kerja diberikan dalam jumlah mencukupi, sehingga Aparatur Negara merasa betah dan nyaman melaksanakan tugas. Sebagai bentuk atensi, Sang Khalifah kemudian mendirikan Diwan, sejenis Lembaga Negara yang mengatur gaji bulanan aparat, dan mulai berfungsi pada 15 H.

Agar pembayaran gaji tidak tumpang tindih, disamping daftar gaji, kepada masing-masing aparat yang akan menerima gaji, diberikan semacam kupon yang dinamai sakk atau sukuk. Isinya berupa ”perintah tertulis” dari Khalifah kepada Diwan, untuk membayarkan gaji kepada mereka yang berhak menerima, yaitu aparat pemegang kupon tersebut. Berkat adanya surat perintah yang berdimensi kontrol ini, pembayaran gaji akhirnya terlaksana secara efektif dan tepat waktu.

Bahkan pada saat paceklik melanda Kota Mekkah dan Madinah (17-18 H), metode surat perintah yang sudah teraktualisasi ini, ikut difungsikan Khalifah Umar. Konon dalam tahun kekeringan yang disebut juga sebagai Tahun Ramadah atau tahun kelabu itu, pembagian gandum (tunjangan natura) kepada penduduk dilakukan dengan  sistem yang serupa.

SUMBER MOTIVASI PEBISNIS

Dibelakang hari, Surat Perintah Pembayaran khas Khalifah Umar menjadi sumber motivasi tersendiri bagi pedagang atau pebisnis. Jikalau Khalifah Umar mengeluarkan Surat Perintah Pembayaran dalam rangka pelaksanaan tugas umum Kenegaraan, para pedagang atau pebisnis berinovasi mengeluarkan Surat Perintah Pembayaran dalam usaha bisnis, yakni pelunasan utang piutang yang berasal dari jual beli produk (komoditas). Prosesnya tentu saja dilakukan secara Islamiyah.

Perintah tertulis yang kemudian dikenal sebagai cek ini, ternyata begitu aplikatif di lapangan. Betapa tidak. Jika sebelumnya pembayaran di antara sesama pedagang, pemasok dan langganan dilakukan melalui kas (uang tunai), kini dapat diganti dengan cek (non cash), dengan tenggang waktu tertentu.

Berubahnya sistem pembayaran dari tunai ke cek, tentu tidak terlepas dari kondisi ekonomi yang paceklik di Tahun Ramadah – seperti telah diungkapkan –  sehingga daya beli menurun. Fenomena tersebut terlihat pula dalam formalitas cek. Berbeda dengan aturan cek dewasa ini, dimana pembayaran harus dipenuhi oleh pihak tertarik (Bank) begitu cek diunjukkan kepadanya, maka cek pada masa itu dapat dibayarkan dalam rentang waktu tertentu seperti tertulis dan telah disepakati di dalam cek. Dengan demikian, pembeli memiliki waktu jeda dalam pembayaran.

IDE PENETAPAN TAHUN BARU HIJRIYYAH

Permasalahan kemudian timbul, tatkala si penagih (penjual barang) akan mengklaim pembayaran cek. Pasalnya, cek-cek yang diterbitkan oleh pihak pembeli, tidak mencantumkan tahun pembayarannya. Yang ada hanya bulannya saja. Misalnya, bulan Sya’ban.

Ketika hal itu dikonfrimasikan kepada Khalifah Umar (Kepala Negara), Beliau-pun ikut bertanya. “Bulan Sya’ban yang manakah ? Apakah tahun ini, atau tahun lainnya ?” (Riwayat Maimun bin Mihran).

Selain kasus cek ini, Khalifah Umar juga diriwayatkan menerima surat dari Abu Musa Al-Asy’ari, Gubernur Kufah yang menggugah surat Khalifah Umar kepada sang Gubernur, karena tak ada tanggalnya. Kealpaan tersebut segera menyadarkan Khalifah Umar, bahwa sejauh ini Kaum Muslimin memang belum menetapkan penanggalan atau Tarikh Islamiyah secara resmi. Padahal tuntutan zaman harus diakomodir.

Karena itu, Khalifah Umar segera berembug dengan para sahabat yang berkompeten untuk mencari solusi yang tepat dalam hal penanggalan (kalender). Dari pertemuan yang terjadi, terdapat beberapa usulan. Ada sahabat yang menghendaki agar Tarikh Islam dimulai dari tahun kelahiran (Maulid) Nabi Muhamad SAW. Ada pula yang ingin mengaitkannya dengan Nuzulul Qur’an, atau peristiwa Isra’ Mi’raj. Sedangkan Ali bin Abi Thalib mengusulkan, agar Tarikh Islam dikaitkan dengan Hijrah Nabi ke Yastrib (Madinah).

Konon mayoritas sahabat termasuk Khalifah Umar sendiri menyetujui usul Sayyidina Ali yang menisbatkan Tarikh Islam dengan Hijrah Nabi. Dari aspek kejuangan, Hijrah Nabi yang monumental dan bersejarah, dinilai lebih tepat dan mengena sebagai awal perhitungan Tarikh Islam. Karena lewat peristiwa ini, Kaum Muslimin dapat membuka lembaran baru menuju masa pencerahan. Yakni, dari cahaya gelap (adz-dzulumat), ke cahaya terang atau cerah (an-Nur).

Dengan alasan tersebut, Khalifah Umar segera memutuskan bahwa Tarikh Islam mengacu ke Hijrah Nabi yang secara historis bersesuaian dengan tahun 622  Masehi. Menurut riwayat, keputusan bersejarah ini ditetapkan pada bulan Rabi’ul-awwal tahun ke 16 H. Sedangkan sumber lain mengatakan pada tahun ke 17 atau 18 H. Berbeda dengan Tarikh Masehi yang mengacu ke peredaran matahari (Syamsiah), Tarikh Hijriyyah dikaitkan dengan peredaran bulan (Qamariah), dan memperlakukan tanggal 1 Muharram sebagai awal tahun kalender. Demikianlah fenomena Tahun Hijriyyah, yang setiap tahunnya diperingati secara khidmat oleh Kaum Muslimin di seluruh penjuru dunia. Tak terkecuali pada 1431 H tahun ini.

Baca entri selengkapnya »


Kiamat 2012 dan Misteri UFO

November 18, 2009

Minggu-minggu ini kita disibukkan dengan berita seputar release film “2012”. Film ini unik, bukan hanya karena isinya kontroversial, tetapi judulnya hanya berupa angka. Hal ini mengingatkan kita kepada kode “911” sebelum kemudian muncul Tragedi WTC, 11 September 2001. Di media maupun internet, film 2012 menyita perhatian luar biasa. Secara pribadi saya sangat apresiatif dengan fatwa MUI Kab. Malang yang mengharamkan film “2012” itu. Baguslah, ada sikap determinatif ketika menghadapi masalah-masalah seperti ini.

Satu poin menarik dari film “2012” adalah tentang UFO. Singkat kata, Zaskia Mecca dan Hanung Bramantyo diwawancarai wartawan infotainment, menanyakan komentar mereka tentang film “2012” itu. Mereka ditanya tentang makhluk asing yang bernama UFO. Apakah mereka percaya? Dengan jelas dan tegas, Zaskia Mecca mempercayai adanya makhluk luar angkasa itu.

Terus terang saya tercenung mendengar komentar Zaskia Mecca itu. Terlalu lugu. Beberapa waktu lalu saat saya berkunjung ke rumah seorang teman, dia memarah-marahi anaknya yang masih SD karena percaya dengan UFO. Teman saya itu berkata tegas, “Nanti kamu musyrik kalau percaya dengan UFO!” Saya hanya terpaku menyaksikan kemarahan teman itu kepada anaknya. Dia marah besar dan sangat emosional saat bicara soal UFO.

Lalu UFO sendiri itu bagaimana? Ada atau tidak? Nyata atau hanya omong kosong?

UFO merupakan singkatan dari Unidentified Flying Object (suatu benda melayang yang tidak teridentifikasi). UFO sudah dibicarakan manusia sejak lama. Banyak orang mengklaim telah melihat UFO dengan segala macam bukti yang mereka sebutkan. Ada bukti foto, film, dan lainnya. Hingga kemarin sempat beredar rekaman video, katanya di atas lokasi Pasar Baru Jakarta ada benda UFO.

Banyak kalangan Islam terpengaruh oleh propaganda UFO ini. Salah satunya, Syaikh Muhammad Al Ghazali, salah seorang tokoh Mesir. Beliau juga percaya bahwa di luar angkasa ada kehidupan lain, seperti kehidupan kita di dunia ini. Beliau malah menampilkan dalil-dalil Al Qur’an untuk mendukung asumsinya.

Dari pembacaan yang saya lakukan selama ini dapat disimpulkan bahwa UFO ini hanya omong kosong belaka. Hanya bualan orang-orang yang tidak ada kerjaan. UFO ini hanya propaganda busuk untuk menyesatkan nalar manusia. Dengan keyakinan adanya UFO itu, nanti manusia digiring untuk memahami, bahwa agama itu tidak diperlukan. Sebab kehidupan seperti di dunia ini sifatnya umum (general), ada dimana-mana, tidak hanya di bumi saja.

Apa dalilnya untuk mengatakan bahwa UFO adalah omong kosong?

Pertama, tujuan akhir dari isu UFO adalah atheisme. Dari sini kita bisa mengetahui, bahwa isu UFO ini sesat semata. Sesuatu yang ujungnya sesat, pangkalnya pasti sesat.

Kedua, kalau UFO itu benar-benar ada, maka ia akan diceritakan manusia sejak jaman dahulu. Bukan hanya saat-saat jaman modern saja. Tentu yang menjadi saksi kehadiran UFO itu bukan hanya manusia jaman kita, tetapi juga manusia jaman Fir’aun dulu, manusia jaman Nabi Huud, dan sebagainya. Tetapi kan hebohnya baru di abad-abad modern, ketika para saintis materialis bersikap jumawa dengan ilmu yang mereka kuasai.

Ketiga, seluruh bukti-bukti yang diklaim sebagai bukti adanya UFO adalah bukti-bukti yang tidak jelas, samar, banyak diselimuti kabut ketidak-jelasan. Seluruh bukti-buktinya tidak ada yang meyakinkan. Kita tidak pernah mendapati bukti adanya UFO dengan bukti terang-benderang, seperti terangnya matahari saat siang, seperti bulan yang bercahaya di saat malam, atau seperti jatuhnya meteor ke permukaan bumi. Tidak pernah ada bukti yang meyakinkan. Selalu saja dipenuhi dengan selubung-selubung kekaburan. Masak sih, dalam waktu ribuan tahun sejak jaman Bani Israil di masa Ya’qub As, tidak ada bukti yang sangat meyakinkan?

Keempat, UFO itu kan diklaim sebagai makhluk asing di luar angkasa. Mereka diklaim sebagai masyarakat (koloni) yang memiliki kehidupan di luar angkasa, dan sebagian mereka mampu datang ke bumi. Kalau begitu, mengapa mereka tidak ada satu pun yang tertangkap tangan secara utuh di bumi? Atau tidak ada satu pun dari mereka yang melakukan kontak komunikasi, bergaul dengan manusia, dan sebagainya. Kalaupun ada, umumnya hanya di film-film fiksi. Sebagai sebuah koloni, tidak mungkin tidak ada jejak-jejaknya. Pasti ada jejaknya. Wong seekor ular yang melintas di atas lumpur meninggalkan jejak, masak sebuah koloni masyarakat tidak ada jejaknya sama sekali?

Kelima, ini yang paling konyol, sifat-sifat UFO itu ternyata diciptakan sendiri oleh pikiran manusia. Disana digambarkan UFO memiliki pesawat, bentuknya piring terbang. Pesawat bisa mendarat, berbentuk bulat, memiliki cahaya, dilengkapi alat-alat mesin canggih. UFO dipercaya lebih pintar dari manusia, bentuknya aneh, berkomunikasi dengan bahasa mesin, sangat peka dalam menginderai benda-benda, punya kemampuan listrik, punya kemampuan persenjataan, sering memakai laser, dll. Pokoknya, UFO lebih canggih dan pintar ketimbang manusia. Tetapi rata-rata mereka berpenampilan jelek (he he he).

Kalau Anda tahu, sifat-sifat yang dilekatkan kepada UFO di atas adalah hasil ciptaan manusia sendiri. Manusia terinspirasi dengan khayalan-khayalan tentang dunia yang asing, unik, dan sensasional. Lalu muncullah gambaran-gambaran tentang UFO. Ini semua hanya hasil pikiran ilmuwan-ilmuwan gendeng, tidak bermoral, dan atheis.

Lalu dimana letak inti kebohongannya?

Perlu dipahami, bahwa pesawat, kendaraan, alat komunikasi, senjata, sinar, dan apapun yang diklaim sebagai milik UFO itu, semuanya adalah alat-alat yang terikat hukum teknologi. Maksudnya, secara teknik kita harus memikirkan bagaimana alat-alat itu bisa muncul?

Misalnya, pesawat berbentuk piring terbang. Mengapa harus piring terbang? Bagaimana ia bisa melayang-layang di udara kalau bentuknya seperti piring terbang? Dimana letak bahan bakar, roket pendorong, serta alat kemudinya? Bahan bakar apa yang mereka pakai? Bahan bakar fosil, nabati, atau nuklir? Kalau nuklir, dimana mereka membuat reaktornya dan bahan radioaktif apa yang mereka pakai? Kalau mereka memakai senjata berupa sinar laser. Sinar lasernya dari bahan apa? Bagaimana cara membangkitkan sinar itu? Bagaimana cara mengisolasinya? Sejauhmana kekuatan sinarnya? Dan banyak pertanyaan-pertanyaan teknis yang tidak terjawab. Kita tahunya, semua itu tiba-tiba muncul begitu saja, misterius, membuat heboh dimana-mana. Padahal secara teknik sangat rumit perhitungannya.

Nah, setelah Anda paham bahwa alat-alat yang dipakai UFO itu harus memiliki landasan teknologi tertentu. Sekarang kita tanyakan, apakah kondisi alam dimana UFO itu tinggal sama dengan kondisi bumi? Ini pertanyaan fundamentalnya. Sebab harus Anda pahami, bahwa semua teknologi yang dikembangkan manusia selama ini, hal itu bertumpu kenyataan riil kehidupan di bumi. Semua jenis teknologi bertumpu pada kenyataan natural yang ada di bumi, meskipun itu adalah komputer super canggih, Deep Blue.

Sedangkan kita tahu, bahwa UFO selama ini digambarkan sebagai makhluk asing dari luar angkasa. Apakah kondisi di luar angkasa sama dengan kondisi di muka bumi? Jangankan di tempat-tempat yang jauh, di Mars saja sangat berbeda kondisinya dengan bumi. Kalau variable-variable lingkungannya berbeda, pasti teknologi yang dibutuhkannya juga berbeda. Itu pasti. Teknologi akan mengikuti kondisi di sekitarnya.

Maka ketika UFO digambarkan punya pesawat terbang, berbentuk piring terbang, punya alat-alat canggih, punya senjata laser, berkomunikasi dengan bahasa mesin, dll. semua ini hanyalah omong kosong belaka. Semua ini hanya bualan kosong ilmuwan-ilmuwan atheis, tak bermorasl, dan bejat.

UFO digambarkan sedemikian rupa dengan segala keanehannya, tetapi variabel-variabel yang menyertai segala hal yang bersangkutan dengan UFO itu mengacu kepada kondisi-kondisi di bumi. Makhluknya dari angkasa luar, tapi kondisi-kondisi yang mengelilinginya adalah kondisi bumi. Aneh bin ajaib!!!

Jadi, UFO dan kawan-kawan, hanyalah hasil omong kosong manusia-manusia kotor akal, manusia dungu yang suka menipu manusia dengan sensasi-sensasi. Mereka adalah manusia-manusia keji yang tidak memiliki pekerjaan apapun, selain menipu manusia dengan omong kosong.

Akhirul kalam, walhamdulillah Rabbil ‘alamiin. Tidak ada kebenaran suci dan mutlak, selain yang bersumber dari Allah dan Rasul-Nya.

AMW.


Sebuah Foto Kenangan

November 2, 2009

Akhi dan Ukhti rahimakumullah…

Ini ada sebuah foto menarik yang saya dapatkan ketika melihat-lihat album foto milik sebuah TK Islam. Foto ini kalau dilihat secara sekilas, tidak memiliki makna istimewa. Tetapi ia menjadi sangat bermakna kalau dikaitkan dengan pengalaman kami selama ini. Sebelumnya, silakan Anda cermati foto di bawah ini!

Foto Jerapah

Anak TK Terpana Melihat "Si Leher Panjang"

 

Foto yang tampak di atas adalah foto seekor jerapah di Kebun Binatang Bandung (KBB). Dalam foto ini terlihat beberapa anak TK sedang berkunjung ke KBB dan terpana melihat jerapah. Sekali lagi saya ulangi, ia adalah foto JERAPAH di Kebun Binatang Bandung. Tidak ada penafsiran lain. (Tidak dibutuhkan analisis Roy Suryo untuk memastikan kebenaran informasi yang saya sampaikan).

Lalu dimana sisi keistimewaan foto ini?

Jujur saja, saat melihat foto di atas, saya mendadak merasa ngilu, merasa sesak di dada. Ini bukan berkaitan dengan apapun, tetapi menyadari pengalaman kami selama ini bersama anak-anak. Biar Anda tidak semakin bingung, silakan dibaca secara runut poin-poin di bawah ini!

[o] Saya dan isteri sudah belasan tahun tinggal di Bandung. Alhamdulillah kami dikarunia sekian anak-anak. Selama di Bandung kami menyadari bahwa kota ini tidak terlalu banyak tempat-tempat wisatanya. Memang ada tempat wisata mall-mall, factory outlet, belanja HP, komputer, dll. Tapi jujur saja, kami tidak terlalu suka dengan wisata semacam itu, terlalu “mekanikal dan konsumtif”. Kebanyakan obyek wisata natural terletak di Kabupaten Bandung atau luar kota.

[o] Tapi Bandung memiliki satu obyek wisata yang mengagumkan kami selama ini. Ia terletak di “hutan kota” dekat Kampus ITB, yaitu: Kebun Binatang Bandung. Bagi kami, KBB itu seperti sebuah anugerah besar yang masih tersisa di tengah Kota Bandung. Kami dan anak-anak senang datang ke KBB untuk melihat binatang-binatang langka. Meskipun hal itu sudah dilakukan berulang-ulang kali. Kami senang membawa bekal dari rumah, menggelar tikar, lalu makan bersama di bawah pepohonan pinus di KBB itu. Hampir dipastikan, anak-anak selalu gembira dan puas, setelah berwisata ke KBB. Maklum, daripada sumpek melihat tingkah aneh manusia di berita-berita TV, lebih baik melihat binatang-binatang di KBB.

[o] Kebun Binatang Bandung memiliki beberapa kelebihan. Koleksi hewan-hewannya cukup lengkap, penataan tempatnya berdekatan satu hewan dengan lainnya. Sementara kalau di Ragunan Jakarta, karena terlalu luasnya area, jarak satu lokasi hewan ke lokasi lain berjauhan. [Udah keburu capek duluan jalan kesana kemari]. Selain itu, KBB itu bersih dan rapi. Pihak pengelola KBB tampak komitmen menjaga kebersihan tempat itu. Dan satu lagi, disana ada mushalla yang cukup lebar dan bersih. Anak-anak biasanya menjalankan Shalat Zhuhur atau Ashar disana. Hanya untuk fasilitas WC masih agak sulit, harus antre.

[o] Berkali-kali kami datang ke KBB, kami seperti hafal tempat-tempat binatang itu. Dimana burung-burung, dimana beruang madu, dimana monyet (and his friends), dimana akuarium, dimana gajah, dimana buaya, ular, onta, dan termasuk jerapah. Pendek kata, kami tahu tempat-tempatnya. Seperti contoh, anak-anak setiap ke KBB selalu penasaran ingin melihat ular-ular. Tetapi anehnya, ketika sudah dekat lokasi ular, mereka sering “kabur” ketakutan. Itulah situasi “aneh” yang sering terjadi. Penasaran, tapi ketakutan.

[o] Di antara koleksi KBB yang sangat menarik bagi kami adalah JERAPAH. Letak jerapah lebih ke dalam, dekat dengan tunggangan gajah, atau pohon-pohon pinus. Kalau datang ke KBB, hampir dipastikan kami akan selalu datang untuk melihat jerapah. Seolah jerapah itu seperti “hidangan menjelang penutup” sebelum kami sudahi jalan-jalan melihat berbagai koleksi binatang di KBB. Jerapahnya sendiri tinggi, dewasa, dan jinak. Kadang orang memberikan kacang atau makanan lain ke jerapah itu. Kepala jerapah itu bisa mendekat ke tempat kami berdiri di jalanan. Tetapi ia jinak, tidak menyerang pengunjung.

[o] Beberapa tahun lalu, kami berkunjung ke KBB, dan kami kecewa. Saya termasuk yang cukup kecewa. Mengapa? Sebab saat kami kesana, kami tidak lagi mendapati jerapah disana. Entah kemana jerapah waktu itu, tidak ada di kandangnya. Saya sendiri hanya berprasangka, jerapah itu mungkin sedang dibawa oleh petugas KBB untuk suatu urusan perawatan. Sebab tidak mungkin ia akan dilibatkan dalam sirkus. Setahu kami, KBB tidak memiliki akses pertunjukan sirkus. Murni sifatnya koleksi binatang dan wisata fauna langka.

[o] Kerisauan kami dengan melihat hilangnya jerapah dari kandang terbawa sampai ke rumah. Dalam obrolan sering saya sampaikan kepada isteri atau anak-anak, bahwa saya kecewa jerapah tidak ada di kandangnya. Suatu hari kami dengar berita, katanya jerapah KBB itu sudah mati. Dia mati karena memakan plastik, lalu tersumbat saluran pencernaannya karena plastik yang termakan. Nah, disini kekecewaan kami semakin menggumpal. “Oh, sayang sekali. Siapa pula yang memberi hewan itu bungkus plastik? Oh sayang sekali.”

[o] Secara anatomis, jerapah lehernya panjang. Makanan masuk ke perutnya setelah melewati kerongkongan yang cukup panjang. Kalau ada plastik yang masuk ke saluran pencernaannya, jelas akan membuat binatang itu sangat kesulitan, sehingga akibatnya bisa mati. Plastik bisa dari pengunjung yang memberi kacang dan lupa membuka bungkusnya. Atau dari jerapah itu sendiri yang memakan sampah plastik di sekitarnya. Yang jelas, kami kecewa dengan hilangnya koleksi jerapah dari KBB.

[o] Sejak KBB kehilangan koleksi jerapah, kami seperti hilang semangat. Meskipun pada dasarnya masih banyak koleksi hewan lain disana. Entahlah, apakah kami terlalu fanatik dengan jerapah? Mungkin saja.

Kalau melihat foto di atas, rasanya ada NGILU di hati. Ya Allah, itu kan hewan favorit kami di KBB. Itu adalah foto jerapah saat dia masih hidup. Tapi itulah dunia. Kadang di dunia ini kita diberi aneka hiburan oleh Allah yang Maha Pemurah. Namun ia bersifat tidak abadi. Hiburan di dunia tidak ada yang abadi, apapun bentuknya. Yang abadi, murni, dan sempurna, hanya ada di sisi-Nya, di dalam Jannah-Nya. Alhamdulillah.

Benarlah yang dikatakan oleh Allah kepada Adam As dan isterinya dalam Surat Al Baqarah, tentang dunia ini: “Qulnahbithu, ba’dhukum li ba’dhin ‘aduwwu, wa lakum fil ardhi mustaqarrun wa mata’un ila khiin” (keluarlah kalian dari syurga, sebagian kalian akan menjadi musuh bagi sebagian yang lain. Dan di bumi itu ada tempat berdiam bagi kalian dan ada kesenangan yang sampai batas waktu tertentu).

Maha Benar Allah dengan segala firman-Nya. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamiiin.

AMW.


Betapa Senangnya Diriku…

Agustus 10, 2009

Alhamdulillah, secara emosional saya menyukai hal-hal seperti di bawah ini. Spirit utamanya “green life“. Bukan sekedar green, tetapi green yang bermanfaat bagi kehidupan.

TANAMAN SORGUM

Dulu dalam pelajaran sekolah, kita pernah dikenalkan dengan nama Sorgum (Sorghum). Ia adalah termasuk jenis tanaman pangan, selain beras, gandum, ubi-ubian, sagu, dan lainnya. Katanya, Sorgum termasuk makanan pangan di peringkat 5 dunia. Ia tahan tumbuh di daerah kering, tahan hama dan penyakit. Hasil Sorgum bisa dipakai bahan pangan (pengganti beras), bahan industri, campuran pakan ternak. Termasuk ada penelitian-penelitian mutakhir, memanfaatkan Sorghum untuk membuat Bio Etanol.

Ladang Sorgum Menghijau.

Ladang Sorgum Menghijau.

Sekilas, tanaman Sorgum seperti jagung. Daun pun mirip sekali dengan jagung. Tapi butir-butir bijinya seperti model gandum. Kalau jagung, butir-butir terikat dalam sebuah bonggol, maka Sorgum seperti berdiri sendiri. Meskipun setiap butir itu terikat pada sebuah pelepah hijau (kalau masih muda). Konon, rasa Sorgum itu seperti ketan. Performanya dari jauh seperti jagung, rasa butirannya seperti ketan. (Maaf kalau informasinya keliru, sebab di Indonesia memang sulit menemukan tanaman ini. Sementara ini masih berada di pusat-pusat penelitian tanaman pangan).

PENGHIJAUAN HUTAN BAKAU

Di Indonesia banyak pantai-pantai yang semula hijau, kemudian menjadi gersang. Hal ini merugikan. Vegetasi tanaman rimbun di pantai sangat baik untuk melindungi pantai dari terjangan ombak besar, termasuk Tsunami. Sementara itu, hutan yang rimbun di pantai akan menjadi habitat sangat banyak hewan laut, baik ikan, kerang, cumi-cumi, kepiting, dan lainnya. Kalau hutan di pantai rimbun, para nelayan sangat diuntungkan. Bahkan memandang tanaman-tanaman yang rimbun itu telah menjadi hiburan tersendiri.

Hijaunya Hutan Mangrove.

Hijaunya Hutan Mangrove.

Bakau (mangrove) adalah tanaman yang populer di pantai-pantai. Ia mudah tumbuh. Batangnya tidak terlalu tinggi, tetapi akar-akarnya bisa sangat banyak, bahkan naik sampai satu meter di atas permukaan air. Hutan bakau menjadi habitat hewan-hewan air yang sangat bermanfaat. Disini tidak dikenal istilah “musim tangkapan”, sebab sumber makanan bagi ikan-ikan tersedia terus, jadi tidak perlu ada ikan “migrasi” untuk mencari ikan.

Penghijauan pantai dengan bakau merupakan investasi berharga bagi masa depan masyarakat pantai. Sangat mudah menanam bakau, dan kelak ia akan tumbuh sendiri, tanpa harus dirawat secara cermat seperti tanaman-tanaman di darat. Bakau bisa dianggap tanaman yang “bandel”, sebab mudah tumbuh di ekosistem laut. Malah, nanti kalau bakau itu sudah dewasa, ia akan “membuat hutan sendiri”. Maksudnya, biji-biji akan berjatuhan dari pohonnya, lalu tumbuh sendiri.

Nelayan Menaman Benih Bakau.

Nelayan Menaman Benih Bakau.

Di kawasan hutan bakau tertentu masyarakat mengenal hewan laut yang populer “Kepiting Bakau”. Ukurannya besar, sering berada di sela-sela akar bakau. Kepiting yang notabene hewan air (bukan amphibi seperti yang diisukan selama ini, sebab ia bernafas dengan insang. Hanya saja, di sekitar insangnya seperti ada spon. Selama insang-nya basah ia tetap hidup. Kalau kering, ia akan mati), menjadi tangkapan berharga bagi masyarakat.

Hanya kesulitannya, tanaman bakau itu akar-akarnya “arogan”. Kalau sudah tumbuh, ia bisa sangat “congkak”. Kadang kalau hutan bakau sudah begitu rapat, kita akan sulit menjejakkan kaki di pasir pantai, tetapi kaki selalu menimpa akar-akar itu. Kalau sudah sangat rapat, hutan bakau akan sulit ditembus. Masyarakat nelayan biasanya menyiasati hal ini dengan membuat jembatan kayu ke tengah-tengah hutan. Nah, jembatan itu menjadi “pintu akses” untuk “mengeruk” hasil-hasil tangkapan hewan bermanfaat dari tengah hutan.

Bakau yang Mulai Tumbuh.

Bakau yang Mulai Tumbuh.

Apapun urusan kuncinya 3, yaitu: (a) Ia adalah urusan baik yang bermanfaat bagi kehidupan insan; (b) Kita niat tulus mengembangkan kebaikan, untuk ibadah kepada Allah Ta’ala; (3) Ada komitmen dan konsistensi dalam mengembangkan sesuatu. Jika 3 hal ini dipenuhi, manusia akan menyaksikan “syurga dunia”. Maksudnya, kebaikan-kebaikan yang tumbuh bersemi di muka bumi.

MENANAM TERUMBU KARANG

Semula saya menyangka, batu-batu karang itu makhluk mati. Ternyata ia makhluk “hidup”. Artinya, ia bisa tumbuh dan ditanam. Caranya, dicari batu karang yang sudah cukup besar, lalu dipilih cabang-cabang tertentu. Nah, cabang-cabang itu dibawa ke atas daratan. Di darat, cabang-cabang itu disortir sampai didapatkan “benih” karang yang bagus. Setelah itu, ia diberi “landasan” berupa bidang-bidang kecil dari semen. Kemudian “benih” karang ini diikat di atas jejering kawat atau di atas balok-balok semen yang sudah dicetak. Sudah, setelah itu biarkan saja karang akan tumbuh sendiri. Setelah bertahun-tahun, karang itu benar-benar tumbuh membesar.

Coral dan Keindahan Laut.

Coral dan Keindahan Laut.

Menanam terumbu karang merupakan pilihan logis untuk menyelamatkan ekosistem pantai/laut. Jika pantai tidak diselamatkan, para nelayan di sekitarnya akan merasakan kerugian sangat besar. Pantai di sekitar mereka akan jauh dari hewan-hewan laut tangkapan. Menangkap ikan dengan bom, dinamit, atau merusak karang, sepintas lalu akan menghasilkan tangkapan besar dalam waktu singkat. Tetapi di kemudian hari, nelayan sendiri yang gigit jari. Terumbu karang adalah “rumah” bagi ikan-ikan. Kalau rumahnya rusak, ikan-ikan akan pergi.

Upaya Menanam "Benih" Coral.

Upaya Menanam "Benih" Coral.

Coral yang Tumbuh Bersemi.

Coral yang Tumbuh Bersemi.

Alangkah baik kalau Ummat Islam ikut partisipasi dalam hal-hal seperti di atas. Ya, harus ada sumbangan yang nyata dari kita bagi kehidupan manusia dan alam. Jangan hanya menuntut, lalu tidak bisa memberi solusi. Sungguh, kita bisa lebih tangguh dalam melakukan kebaikan-kebaikan di atas. Jangan sampai manusia mengacuhkan Islam, karena mereka tidak melihat bukti manfaat dari amal-amal pemeluk Islam itu sendiri.

Hayo…berlomba berbuat kebaikan yang bermanfaat. Green nature for green life well.

AMW.