Menanggapi Tulisan Kolom di Majalah SABILI

April 6, 2009

PENGANTAR PENULIS

Tulisan ini sebenarnya merupakan tanggapan terhadap sebuah tulisan kolom di majalah SABILI edisi No. 10/Dzul Hijjah 1429 H. Judul tulisan ini, Gerakan Wahabi Sebagai ‘Tertuduh’. Ia merupakan tanggapan terhadap tulisan kolom berjudul Wahabisme dan Pemikiran Pembaruan Islam yang ditulis oleh Saudara Agus Widiarto. Saya perlu segera merespon tulisan tersebut, karena semula saya berlangganan Sabili, dan sebagai pelanggan saya merasa tulisan itu tidak adil. Disana tergambar dengan jelas pemikiran stigmatisasi terhadap gerakan Islam, khususnya Wahhabiyyah. Alih-alih sang penulis akan memuji prestasi gerakan Wahhabiyyah, dia malah tenggelam dalam kesenangannya mencari-cari kesalahan dengan metode analisis picik.

Tidak lama setelah tulisan itu terbaca, saya segera menyusun tulisan jawaban sebagai hak jawab seorang pembaca terhadap media yang dibacanya. Mungkin berselang 3 atau 4 hari setelah dibaca, tulisan jawaban itu saya kirim via e-mail ke redaksi majalah Sabili. Namun sayang, beberapa kali kirim e-mail tersebut gagal sampai ke redaksi Sabili. Kalau tidak salah, dalam box e-mail Sabili sudah terlalu penuh kiriman e-mail. Saya coba kirim dengan beberapa versi alamat e-mail, tetapi masih saja gagal. Terakhir, saya kirim ke bagian marketing Sabili, dan alhamdulillah terkirim. Hanya sayangnya, sampai saat ini tulisan itu tidak pernah dimuat. Entah apa alasan redaksi tidak memuat. Atau mungkin artikel itu benar-benar tidak sampai ke tangan redaksi Sabili? Wallahu A’lam.

Karena di SABILI tulisan jawaban ini tidak termuat, ya akhirnya saya muat di blog sederhana ini. Semoga Allah meridhai, kaum Muslimin berkenan, dan atas dosa-dosa kita semuanya diampuni Al Ghafur Ar Rahiim. Allahumma amin ya Karim.

“GERAKAN WAHABI SEBAGAI TERTUDUH”

Kalau berbicara isu gerakan Wahabi di Indonesia, sebagian besar warnanya selalu negatif. Istilah “Wahabi” sendiri sejatinya merupakan pelabelan yang padat dengan sinisme. Warga Nahdhiyin sampai saat ini tidak pernah mengibarkan “bendera persaudaraan” terhadap gerakan ini. Seakan, apa yang mereka sebut Wahabi itu adalah realitas di luar Islam. Na’udzubillah min dzalik.

Kolom yang ditulis Agus Widiarto, Wahabisme dan Pemikiran Pembaruan Islam, di Sabili No. 10/Th. XVI/6 Dzul Hijjah 1429 H, bukanlah kenyataan baru. Ia hanya stereotip yang selalu diulang-ulang dari waktu ke waktu. Termasuk terbitnya buku baru, Quo Vadis Salafi? Wajahnya sama, maksudnya sejalan, hanya berbeda operatornya saja.

Seharusnya kita bersikap obyektif, memandang sesuatu dari berbagai sisi, dan melepaskan diri dari kedengkian pemikiran; sehingga bisa secara fair menghargai kebaikan, apapun bentuknya, siapapun pelakunya. Jika tidak demikian, maka Ummat Islam tidak akan pernah membangun. Sebaik apapun hasil pembangunan, para pelakunya pasti memiliki cacat dan kelemahan. Kata ungkapan, “Al insan makanu khatha’ wa nisyan” (manusia itu tempatnya salah dan lupa). Orang-orang yang dianggap ‘non Wahabi’ 24 karat sekalipun, kalau mau dilacak, akan terkuak kesalahan dan aibnya.

Saat kita melihat gerakan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah; sering disebut gerakan Salafiyah atau Wahhabiyyah menurut yang lain; situasinya tidak se-simple dikotomi hitam-putih. Keragaman pemikiran, pola gerakan, dan aktualisasi dakwah, tampak disana. Perlu diketahui, dalam gerakan ini sejak awal selalu muncul komunitas ekstrem. Mereka dulu dikenali dengan sebutan Kafilah Al Ikhwan. Mereka tidak segan-segan menumpahkan darah siapa saja yang menolak pemikiran Wahabi. Tahun 1979 terjadi peristiwa “kudeta Masjidil Haram” oleh Juhaiman Al Utaibi dan pengikutnya. Di tahun-tahun terakhir muncul gerakan takfir yang diikuti aksi-aksi kekerasan. Semua ini merepotkan Kerajaan Saudi dan para ulamanya, sejak dulu sampai sekarang. Ekstremitas inilah yang banyak menyumbang citra negatif dakwah Salafiyah.

Pengamat yang apriori akan berhenti hanya sampai di titik memperpanjang daftar stigmatisasi. Namun bagi pengamat sportif, dia tidak gegabah menarik kesimpulan. Dakwah Salafiyah sendiri berkontribusi besar dalam isu Kebangkitan Islam di dunia. Hampir setiap gerakan Islam modern, sedikit banyak terimbas gerakan ini. Ikhwanul Muslimin, Jamaah Islamiyyah di Mesir, Jamaat Islami di Pakistan, Salafiyah di India, PAS di Malaysia, gerakan Islam modern di Indonesia (Muhammadiyyah, Al Irsyad, Persis, Masyumi, DDII, Hidayatullah, dll.), sampai gerakan Sanusiyyah di Maroko; disana terdapat jejak pengaruh Salafiyah. Dalam kaidah Ushulul ‘Isyrin (Prinsip 20) Ikhwanul Muslimin, sebagian prinsipnya jelas membawa misi pemurnian Tauhid dan menghidupkan Sunnah Nabi.

Kesalahan utama para pengamat ketika memandang gerakan Wahabi –termasuk kesalahan Agus Widiarto- ialah menganggap gerakan ini sebagai produk pemikiran Syaikh Ibnu Abdul Wahhab atau Ibnu Taimiyyah. Ini kesalahan serius. Pemurnian Tauhid dan menghidupkan Sunnah, dua syiar utama dakwah Salafiyah, sebenarnya merupakan penjabaran kongkret dari Dua Kalimat Syahadat. Sedang Kalimat Syahadat adalah kontrak asasi seorang Muslim dengan Rabb-nya.

Bagaimana Islam akan kembali berjaya dan setiap Muslim mendapati kejelasan arah hidupnya, jika mereka tidak kembali kepada Kalimat Syahadat? Apakah dianggap sebagai kesesatan, dengan mengembalikan Ummat Islam kepada asas agamanya? Ya, hati nurani Anda bisa menjawabnya.

Agus Widiarto menulis, “Wahabisme harus dipisahkan ke ruang berbeda dengan yang lain, ketika gerakan ini tak melanjutkan ijtihadiyah terhadap doktrin-doktrin agama.” Pertanyaannya, apakah untuk Dua Kalimat Syahadat masih dibutuhkan ijtihad? Jelas sangat tidak mungkin. Adapun dalam perkara fiqih atau muamalah, ulama-ulama Wahabi sangat progressif dalam ijtihad. Lihatlah konstruksi bangunan Masjidil Haram dan Masjid Nabawi! Ia merupakan fakta monumental sikap progressif ulama Wahabi dalam ijtihad.

Agus menutup tulisannya, “Jika pun Wahabisme dipandang sebagai gerakan puritan yang keras, kaku, dan intoleran, ia bukanlah mainstream pemikiran atau bahkan gerakan dakwah Islam di Indonesia yang penuh toleran.” Pertanyaannya, apakah kita lupa bahwa Dewan Wali Songo pernah mengeksekusi Syaikh Siti Jenar karena berpaham Wihdatul Wujud? Lihatlah, ternyata di masa sebelum Wahabi muncul, sikap tegas membela akidah Islam telah ada, di bumi Nusantara ini.

Walhamdulillahi Rabbil ‘alamin.

Bandung, 30 November 2008.

AMW.

Note: Maaf, tulisan ini sudah “cukup umur”. Ditulis akhir November, baru posting sekarang.

Iklan

Pemikiran Politik Salafi (Bagian 4)

Februari 4, 2009

Masalah 31

Aneh sekali ungkapan penulis ini… sepertinya ia memang belum pernah belajar mengenai tafsir Ulil Amri itu siapa. Bukankah ini menunjukkan kebodohannya yang sangat. Ia berbicara masalah2 politik, tapi ia tidak memahami makna Ulil Amri, sehingga ia beranggapan bahwa pemerintah muslim itu bukan Ulil Amri. Atau mungkin ia beranggapan bahwa pemerintahan yang tidak menerapkan hukum Islam itu tidak disebut Ulil Amri. Saya mohon kepada penulis untuk menengok kitab2 tulisan para Ulama dalam masalah ini. Seperti Ibnu Katsir dalam tafsirnya.


Berkata al-Hafidz Ibnu Katsir ketika menafsirkan surat an-Nisa ayat 58: “Tampaknya- wallahu’a’lam- ayat ini umum mencakup seluruh ulil amri apakah dari kalangan para penguasa ataupun para ulama.” [Tafsir Qur’anil Adzim juz 1, hal 530, penerbit Darul Ma’rifah, Beirut, Cet . Pertama]. Berkata Ibnu Taimiyyah: ”Ulil amri ada dua golongan: Para ulama dan para penguasa.” (Majmu Fatwa juz 28, hal 170, Penerbit Maktabah Ibnu Taimiyyah, Kairo, Mesir).

Catatan AMW:

Saya dibodohkan oleh Abu Ammar karena tidak menganggap setiap Penguasa Muslim sebagai Ulil Amri. Kemudian dia berdalil dengan pendapat Ibnul Qayyim dan Ibnu Taimiyyah tentang Ulil Amri. Menurut kedua ulama itu, Ulil Amri ada dua, yaitu: Golongan ulama dan penguasa!

Abu Ammar ingin mengatakan, bahwa semua jenis penguasa yang beragama Islam, meskipun tidak melaksanakan hukum Islam, dia adalah Ulil Amri. Tetapi lucunya, dia berdalil dengan pendapat Ibnul Qayyim dan Ibnu Taimiyyah. Padahal dalam pandangan kedua ulama itu tidak disebutkan bahwa semua jenis penguasa yang beragama Islam, otomatis adalah Ulil Amri. Kedua ulama tersebut hanya mengatakan, Ulil Amri itu bisa ulama bisa juga penguasa.

Kalau kita mengkaji asal dari istilah Ulil Amri ini dalam Surat An Nisaa’ ayat 59. Disana dijelaskan dengan tegas, bahwa kedudukan Ulil Amri itu tidak bisa lepasa dari ketaatannya kepada Allah dan Rasul-Nya. Bagaimana mungkin kita akan mentaati Ulil Amri, ketika dia tidak taat kepada Allah dan Rasul-Nya? Lalu apa artinya kalimat: ‘Athiullah wa ‘athiur Rasula wa ulil amri minkum’? Apakah ayat ini bisa dimaknai: “Taatlah kalian kepada Allah, taatlah kalian kepada Rasul, dan kepada para penguasa Muslim, siapapun dirinya, baik dia taat kepada Allah dan Rasul atau tidak?”

Ketaatan kita kepada Ulil Amri masih satu koridor dengan ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya. Tidak bisa dipisahkan hal ini, kecuali oleh orang-orang sesat. Kalau ketaatan kepada Ulil Amri bersifat mutlak, sekalipun dia durhaka kepada Allah dan Rasul, berarti keberadaan ayat itu menjadi tidak berguna. Begitu pula, kalau kita lepaskan posisi Ulil Amri dari ketaatan kepada Allah dan Rasul, kita diperintahkan taat semata-mata karena Ulil Amri itu sendiri. Jika demikian, lalu apa gunanya kita taat kepada Ulil Amri? Apakah ketaatan kita itu hanya bernilai politik? Padahal seorang Muslim hidupnya untuk ibadah kepada Allah. Kalau mentaati Ulil Amri karena dirinya sendiri, itu berarti syirik. Na’udzubillah wa na’udzubillah min dzalik.

Secara mutlak ketaatan kita kepada Ulil Amri terikat oleh ketaatan dia kepada Allah dan Rasul-Nya. Taat kepada siapapun, apakah orangtua, pemimpin, guru, ulama, atasan, dan lainnya, adalah bentuk ibadah kepada Allah. Dalam ibadah itu tidak mungkin Allah memerintahkan kita taat kepada manusia yang durhaka kepada Allah dan Rasul-Nya. Aneh sekali, ibadah untuk Allah Ta’ala; tetapi dalam ibadah itu, kita boleh mentaati seseorang yang durhaka kepada Allah dan Rasul-Nya. [Selesai].

Masalah 32

Kemudian persoalan2 yang nyata-nyata kemaksiatan semisal perpecahan, meninggalkan sholat, mencukur jenggot dan seterusnya yang salafiyin berusaha mendakwahkannya engkau anggap sebagai sebuah kesalahan, padahal nyata bertentangan dengan petunjuk Rasulullah, Sedangkan semua itu akan membawa kepada semakin jauhnya umat Islam dari pertolongan Alloh. Apakah penulis ini menyangka… bahwa dengan semakin menjauhi petunjuk maka pertolongan Alloh akan turun??? Nadzubillah…

Sesungguhnya mengembalikan umat Islam kepada ajarannya adalah sebuah langkah tepat sesuai dengan bimbingan Rasulullah. Maka kejayaan umat Islam hanya bisa diraih dengan kembalinya umat kepada ajarannya yang lurus. Kembali kepada Islam sebagaimana Islam yang dipahami pendahulu umat ini. Bukan kembali kepada ajaran lainnya. Karena, jika umat ini dibawa kepada ajaran2 yang bukan bersumber dari mereka –sahabat dan generasi terbaik yg mendapat jaminan dari Rasulullah- maka selamanya pertolongan Alloh tidak akan didapat.

Catatan AMW 32:

Bukan begitu maksudnya, syaikh! Masak seorang Muslim memerintahkan saudaranya meninggalkan agamanya, lalu durhaka dalam maksiyat kepada Allah dan Rasul-Nya? Ini adalah fitnah bodoh yang tidak layak dipikirkan! Tetapi di mata Salafi, ia bisa diplintir-plintir tidak karuan, lalu dihiasi kebiasaan mereka mencela manusia sesuka hati. (Mungkin mereka kelak akan mendapat “hasil besar” dari kebiasaan cela-mencela itu. Na’udzubillah min dzalik).

Maksudnya begini, dalam meluruskan manusia dari kesalahan, harus melihat situasi dan kondisinya. Mencukur jenggot dan memelihara kumis itu perbuatan keliru, tidak sesuai Sunnah Nabi. Tetapi kalau kamu mengejek para polisi atau tentara yang melakukan perbuatan itu, kamu bisa digebuki mereka. Begitu pula, menghiasi tubuh dengan tato adalah perbuatan munkar. Tetapi kalau kamu menjelek-jelekkan seorang preman terminal karena tato di tubuhnya, kamu bisa pulang dengan wajah bengep-bengep. Kamu juga boleh berpendapat bahwa demokrasi itu haram, tetapi kalau kamu teriak-teriak hal itu di depan ribuan simpatisan PDIP, kamu bisa dihujani batu. Intinya, kebenaran itu bukan hanya soal dzatnya saja, tetapi juga cara menempatkan kebenaran itu sendiri.

Saat ada orang kecelakaan berat, kebetulan dia memakai celana menutup mata kaki. Apakah seorang Salafi akan enggan menolong orang itu karena celananya turun sampai di bawah mata kaki? Atau misalnya, ada seseorang sedang tenggelam di sungai, sedangkan orang itu dikenal tidak mau diajak ke majlis taklim. Apakah kita akan menolong orang itu, atau bertanya ke dia, apakah dia sudah mau pergi ke majlis taklim atau belum? Harusnya, mereka selamatkan dulu jiwanya, baru nanti ditanya. Inilah yang disebut Fiqih Aulawiyyah (Fiqih Prioritas).

Bukan kita harus mengabaikan kesalahan-kesalahan warga Muslim Palestina dalam amal-amal mereka. Tetapi ada prioritas lain yang lebih penting didahulukan, seperti menyelamatkan jiwa, menyelamatkan agama dan moral, harta benda, keluarga, kehidupan, dan lainnya. Bagaimana mereka hidup lebih baik dan Islami, kalau sepanjang waktu terus mendapatkan teror dari orang-orang kafir? Selamatkan mereka dulu dari teror, baru luruskan kesalahannya. Toh, kalau mau jujur, jangan jauh-jauh ke Palestina. Di sekitar kita pun banyak Muslim yang terjerumus dalam kesalahan-kesalahan. Apakah Anda tidak malu, mengkritik Muslim Palestina, sementara di sekitar Anda juga banyak orang-orang yang salah seperti itu? [Selesai].

Baca entri selengkapnya »


Pemikiran Politik Salafi (Bagian 3)

Februari 4, 2009

Masalah 21


Manhaj Ahlus Sunnah wal Jama’ah dalam menghadapi pemerintah muslim adalah patuh dan taat, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, ta’atilah Allah dan ta’atilah Rasul(Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (Sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari Kemudian. Yang demikian itu adalah lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya” [QS.an-Nisa : 59].

Catatan AMW 21:

Ya sepakat, kita harus taat kepada Pemerintah Muslim, yaitu Pemerintahan yang taat kepada hukum Allah dan Rasul-Nya, bukan yang takluk kepada hukum Belanda, Perancis, Inggris, dan lainnya. Sama seperti ketika Anda (Abu Ammar) ketika mengatakan tentang kebathilan demokrasi: “Cukuplah bahwa hukum ini milik Alloh, maka Demi Alloh… produk hasil olahan manusia utk mengatur kemaslhatan dunia ini tidak akan pernah mencapai tujuannya.”

Kalau ada Pemerintahan yang tidak taat kepada hukum Allah dan Rasul-Nya, kita tidak wajib taat kepadanya. Buat apa taat kepada mereka, sementara mereka sendiri tidak taat kepada Allah dan Rasul-Nya? Alasan apa yang membuat orang-orang durhaka itu harus ditaati, jika mereka tidak menjalankan Syariat Islam? Apakah Allah mewajibkan orang-orang beriman taat kepada orang-orang yang durhaka kepada-Nya dan Rasul-Nya? Ya, Anda tahu jawabannya.

Termasuk salah satu kesesatan Salafi, yaitu mengklaim setiap Pemerintah yang pimpinan tertingginya ber-KTP Islam sebagai Ulil Amri. Meskipun mereka berakidah demokrasi, Nasionalisme, Sekularisme, Pluralisme, Sosialisme, kerjasama dengan Zionisme, dan lain-lain. Padahal cara-cara seperti inilah yang menyebabkan syiar keimanan semakin meredup, sementara syiar-syiar kekafiran terus berkibar-kibar. Mengklaim setiap pemimpin ber-KTP Islam sebagai Ulil Amri, meskipun dalam praktiknya dia anti Islam (seperti Husni Mubarak di Mesir), akibatnya tersebarlah kekafiran seluas-luasnya. Laa haula wa laa quwwata illa billah. [Selesai].

Masalah 22


Rasullullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Artinya : “Berkata al-‘Irbadh bin Sariyah radhiyallahu ‘anhu : ‘Suatu hari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah shalat bersama kami, kemudian beliau menghadap kepada kami dan memberikan nasehat kepada kami dengan nasehat yang menjadikan air mata berlinang dan membuat hati bergetar, maka seseorang berkata: ‘Wahai Rasulullah, nasehat ini seakan-akan nasehat dari orang yang akan berpisah, maka berikanlah kami wasiat.’ Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Aku wasiatkan ke-pada kalian supaya tetap bertaqwa kepada Allah, tetaplah mendengar dan taat, walaupun yang memerintah kamu adalah seorang budak Habasiyyah. Sungguh, orang yang masih hidup di antara kalian setelahku maka ia akan melihat perselisihan yang banyak, maka wajib atas kalian berpegang teguh kepada Sunnahku dan sunnah Khulafa-ur Rasyidin yang mendapat petunjuk. Gigitlah dia dengan gigi gerahammu. Dan jauhilah oleh kalian perkara-perka-ra yang baru, karena sesungguhnya setiap perkara yang baru itu adalah bid’ah. Dan setiap bid’ah adalah sesat.’” [HR. Ahmad (IV/126-127), Abu Dawud (no. 4607) dan at-Tirmidzi (no. 2676), ad-Darimy (I/44), al-Baghawy dalam kitabnya Syarhus Sunnah (I/205), al-Hakim (I/95), dishahihkan dan disepakati oleh Imam adz-Dzahabi, dan Syaikh al-Albany menshahihkan juga hadits ini].


Perhatikanlah hadits mulia ini. Sekalipun seorang budak yang menjadi pemimpin. Maka ketaatan itu tidak boleh dicabut. Tahukah engkau wahai penulis??? Jika salah satu syarat menjadi pemimpin itu adalah seorang yang merdeka.
Lantas bagaimana seorang budak bisa menjadi penguasa??? Dengan cara apa dia menjadi penguasa??? Tidakkah terpikir olehmu??? Engkau kemanakan petunjuk yang mulia dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ini???

Catatan AMW 22:

Dalam sejarah Islam pernah terjadi, kalangan budak menjadi Khalifah kaum Muslimin. Itulah yang dikenal sebagai era Dinasti Mamluk (atau Mameluk). Kalau membaca sejarah, sebenarnya mereka bukan budak, tetapi proses sosial yang terjadi ketika itu membuat mereka “terbudakkan”. Ketika itu muncul seorang ulama yang menggugat posisi “kebudakan” Khalifah itu. Beliau adalah Al ‘Izz bin Abdus Salam rahimahullah. Beliau menuntut agar Khalifah memerdekakan dirinya terlebih dulu, sebab tidak sah seorang pemimpin negara Islam berstatus budak. Maka dengan terpaksa, Khalifah di masa itu menuruti tuntutan tersebut. Sehingga disana muncul kalimat bernada humor, “Al malik yuba’” (dijual seorang raja). Padahal seharusnya dikatakan, “Al mamluk yuba’” (dijual seorang budak).

Ya, beginilah sederhananya. Kalau pemimpin itu Muslim dan menegakkan Syariat Islam, apakah dia merdeka atau budak, apakah kulit hitam atau putih, apakah dia zhalim atau adil, maka kita wajib mentaatinya. Dia mentaati Allah dan Rasul-Nya, maka kita pun rela mentaatinya. Sebaliknya, andai ada seorang pemimpin yang sifat-sifatnya nyaris sempurna, tetapi dia meletakkan hukum Allah dan Rasul-Nya di telapak kakinya, maka pemimpin seperti itu tidak layak ditaati. Atas dasar apa meletakkan ketaatan kepada orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan Rasul-Nya?

Kalau Salafi rela mentaati siapapun yang ber-KTP Islam, meskipun ideologinya Sekuler, Nasionalis, Sosialis, dan lainnya, maka itu terserah mereka. Jelas kita berlepas diri dari sikap wala’ kepada orang-orang berideologi non Islam. Mendaulat pemimpin ber-KTP Islam sebagai Ulil Amri, meskipun dia berideologi non Islam, hal itu sama saja dengan memberikan pakaian Islam kepada sesuatu di luar Islam. Jelas ini kemungkaran besar. Na’udzubillah min dzalik. Dan hal-hal seperti inilah yang selama ini terus melemahkan kaum Muslimin dan membuat mereka hina. Jika menyebut seorang kafir sebagai Muslim, hal itu bisa menyebabkan kerusakan; apalagi jika mengislamisasikan kepemimpinan negara yang sebenarnya tidak Islami? Pasti kerusakan yang terjadi jauh lebih dahsyat lagi. Seharusnya Salafi mengingkari para pemimpin berideologi Sekuler, Nasionalis, Sosialis, Kapitalis, Kesukuan, dll. sebagaimana mereka bisa dengan sangat keras mengingkari demokrasi. [Selesai].

Baca entri selengkapnya »


Pemikiran Politik Salafi (Bagian 2)

Februari 4, 2009

Masalah 10


Saya ingin bertanya kepada penulis ini….. Dari mana engkau mendapat kabar ini, bahwa lebih baik Muslim Palestina hijrah keluar dari negerinya????
Engkau mendengarnya dari Murobbi mu?? Atau engkau hanya mendengar selintas saja??? Kemudian dengan dasar itu engkau menulis dan menyebarkannya??? Di manakah letak keadilan dan ilmiah-mu dalam beragama ini? Sementara begitu mudahnya engkau menuduh tanpa bukti.
Saya beri tahu sekarang jika engkau tidak mengetahui duduk permasalahannya.

Pernyataan ini adalah Fatwa Syaikh al-Albani rohimahulloh. Tetapi anehnya fatwa tersebut menjadi rusak oleh org2 semisalmu. Karena tidak adil dan amanah dalam menyampaikan isi Fatwa itu. Apakah engkau sudah membaca sendiri fatwa Syaikh Albani dalam masalah ini?? Ataukah engkau hanya mendapat penggalannya saja, yang sengaja disebarkan oleh org2 pendengki dakwah salaf ini??? Sepertinya memang demikian… engkau hanya mendapat sepenggal kalimat “lebih baik muslim Palestina hijrah keluar dari negerinya.” Atau mungkin engkau sudah membaca keseluruhan fatwa tersebut, namun kebencian di hatimu menyebabkan engkau tidak bisa memahami fatwa tersebut. Atau memang demikianlah caramu dalam beragama ini… memotong dalil sesuai hawa nafsumu???

Jika cara terakhir ini yang engkau pegang, maka ketahuilah!! Jika engkau rajin sholat, maka engkau akan celaka!!! Saya akan terangkan dalilnya kepadamu tentang ini. Perhatikan firman-Nya berikut: “Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat.” (QS.al-Maa’uun : 4). Wahai penulis… rusaklah agama ini jika engkau berdalil dengan cara memotong2nya, tidak memahaminya secara utuh. Maka camkanlah!!!
Alloh berfirman dalam lanjutan ayat tersebut: “Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya, orang-orang yang berbuat ria dan enggan (menolong dengan) barang berguna”. [QS al-Maa’uun :4-7].

Jika demikian caramu beragama, maka seperti ungkapan penyair berikut: “Jika engkau mengetahuinya, maka musibah. Jika engkau tidak mengetahuinya, maka musibahnya lebih besar.” Mudah2an engkau sadar akan kekeliruanmu dalam masalah penyampaian dalil.

Catatan AMW 10:

Sejujurnya, saya belum pernah membaca fatwa itu secara lengkap. Saya hanya mendengar kesimpulan umumnya, bahwa sebagian ulama menyarankan agar Muslim Palestina hijrah dari negerinya, demi untuk menyusun kekuatan. Jika nanti telah terbina kekuatan, mereka akan melancarkan Jihad Fi Sabilillah melawan Israel. Begitulah kira-kira pandangan yang saya terima. Di kalangan Salafi sendiri, mereka meyakini tentang pentingnya hijrah dari Palestina itu. Di forum MyQuran saya dapati sebuah bukti tentang pendapat seorang Salafi yang membenarkan fatwa hijrah dari Palestina tersebut. Dan Anda jangan mencela saya karena menyinggung soal fatwa itu, sebab ia telah dianggap masalah serius oleh kaum Muslimin di Palestina. Lagi pula, kalau Anda jujur, sampaikan kepada kami isi fatwa tersebut secara lengkap, berikut sumbernya. Siapa tahu kita akan lebih bijak jika telah membacanya secara lengkap. Sayangnya, Anda begitu keras dalam mencela saya, tetapi tidak menyebutkan sumber fatwa itu.

Abu Ammar menuduh saya suka memotong dalil-dalil, ada kebencian di hati saya dan sebagainya. Ya terserah deh, Anda akan mengatakan apa saja; semua itu urusan Anda kepada Allah Ta’ala. Saya ini hanya hamba yang lemah, hanya mampu beramal sekuat kesanggupan, seraya memohon rahmat dan taufik-Nya. Amin. [Selesai].

Masalah 11

Ketahuilah… bahwa fatwa Syaikh al-Albani dalam masalah hijrah palestina, tidak seperti apa yang engkau tulis. Perhatikan, duduk permasalahan fatwa beliau yang sebenarnya dalam beberapa Masalah berikut:

[1]. Hijrah dan Jihad terus berlanjut hingga hari kiamat. [2]. Fatwa tersebut tidak diperuntukkan kepada negeri atau bangsa tertentu. [3]. Nabi Muhammad sebagai Nabi yang mulia, beliau hijrah dari kota yang mulia, Makkah. [4]. Hijrah hukumnya wajib ketika seorang muslim tidak mendapatkan ketetapan dalam tempat tinggalnya yang penuh dengan ujian agama, dia tidak mampu utk menampakkan hukum2 syar’i yang dibebankan Alloh kepadanya, bahkan dia khawatir terhadap cobaan yang menimpa dirinya shg menjadikannya murtad dari agama. Inilah inti fatwa Syaikh al-Albani yang seringkali disembunyikan!!

Catatan AMW 11:

Contoh hijrah untuk menyelamatkan agama adalah apa yang ditempuh Haji Nuh, ayah Syaikh Al Albani sendiri dan keluarganya. Beliau sekeluarga hijrah dari Albania di Balkan ke Syiria, karena Albani menjadi negara Komunis yang kafir. Demi menyelamatkan agama, mereka pergi dari Albania ke Syria. Cara demikian diperbolehkan, meskipun bagi yang memilih tetap bertahan demi mempertahankan Islam di negerinya, hal itu juga tidak dilarang. Segala sesuatu tergantung kepada niat dan kemampuan masing-masing. Saat kita memuji Syaikh Al Albani dan keluarga yang hijrah ke Syria, pada saat yang sama kita tidak boleh mencela kaum Muslimin Albania yang tetap bertahan di negerinya. Siapa tahu mereka disana berjuang mempertahankan Islam agar tidak hancur ditindas Komunis. Alhamdulillah, setelah Komunis runtuh di Eropa Timur (termasuk Albania), kaum Muslimin bisa menampakkan diri dan menjalankan amal-amal agamanya.

Sebenarnya, jika tegak suatu Daulah Islamiyyah, atau Khilafah Islamiyyah yang kokoh, maka negeri itu harus membuka diri bagi hijrahnya kaum Muslimin dari negeri-negeri tertindas, demi menyelamatkan agama dan kehidupan mereka. Namun di jaman sekarang, adakah negeri Islami yang ramah? Bukankah setiap negara merasa egois dengan nasionalisme masing-masing? Bahkan negara seperti Kerajaan Saudi, mereka sangat ketat dengan ke-Saudi-annya. Sangat sulit mendapat hak kewarganegaraan Saudi, meskipun bagi orang Arab. Begitu juga sulit menikahi wanita Saudi.

Tidak sedikit warga Muslim Palestina yang hijrah ke Yordania, Syria, Mesir, Irak dan lain-lain negara Arab. Bahkan ada yang “hijrah” ke Amerika dan Eropa. Kalau dulu, bangsa Yahudi dikenal dengan DIASPORA, menyebar kemana-mana. Ternyata kenyataan yang sama kini dialami oleh Muslim Palestina. Mereka “diaspora” ke berbagai tempat di dunia. Meskipun telah bertahun-tahun tinggal di negara Arab tertentu, mereka tetap dianggap orang asing, atau pengungsi. Itulah salah satu beda nyata antara nasionalisme Arab dengan Khilafah Islamiyyah. Di tangan Khilafah Islamiyyah, setiap Muslim di dunia, adalah warga negaranya. [Selesai].

Baca entri selengkapnya »


Pemikiran Politik Salafi (Bagian 1)

Februari 4, 2009

Pengantar

Saya telah menulis artikel di blog ini tulisan berjudul “Mesir dan Saudi Dukung Zionis Laknatullah”. Tujuan penulisan ini ialah untuk mengecam sikap diam negara-negara Arab besar terhadap agressi Israel ke Ghaza Palestina. Mereka memiliki kekuatan besar tetapi tidak dipakai untuk menolong sesama Muslim. Malah mereka menolak sanksi berat terhadap Israel. Apa yang mereka lakukan adalah kezhaliman yang nyata terhadap kehidupan kaum Muslimin. Di sisi lain, tulisan itu dimaksudkan untuk menegakkan kebenaran, tanpa pandang bulu. Jika Mesir dan Saudi bersikap zhalim dengan diamnya, tidak perlu ditutup-tutupi atau berusaha “selalu diselamatkan”. Kebenaran lebih penting dari apapun.

Kemudian muncul tanggapan-tanggapan, alhamdulillah atas segala nikmat Allah. Salah satu tanggapan muncul dari Abu Ammar, seorang Salafi dari Karawang. Tanggapannya masuk blog ini pada 28 Januari 2009. Abu Ammar menulis komentar panjang atas artikel di atas, sekitar 25 halaman HVS. Disini saya muat tulisan original beliau, setelah saya keluarkan tulisan saya darinya. Tulisan dibiarkan seperti semula, kecuali untuk hal-hal tertentu yang perlu diperbaiki. Untuk catatan kaki di bagian tulisan tentang Abu Muhammad Al Maqdisi sengaja ditiadakan, biar tidak semakin membuat ruwet susunan tulisan. Kalau Pembaca mau tahu tulisan aslinya, lengkap, tanpa pemotongan apapun, silakan lihat komentar Abu Ammar pada artikel “Mesir dan Saudi Dukung Zionis Laknatullah”.

Tulisan Abu Ammar langsung saya tanggapi. Tetapi karena sangat panjang, maka saya tanggapan ini dalam beberapa seri. Mohon dimaklumi! Hal ini juga sebagai pelajaran untuk selanjutnya. Siapapun yang keberatan dengan isi tulisan dalam blog abisyakir.wordpress.com, boleh mengirimkan tulisan tanggapan. Tetapi sebaiknya tulisannya jangan terlalu panjang biar tidak menyulitkan. Setidaknya seimbang dengan artikel asli yang ditanggapi. Dan tulisan tanggapan itu tidak akan langsung diberi tanggapan balik, kecuali untuk tema-tema seputar Salafiyyah. Dalam kaitan dengan tanggapan Abu Ammar ini, sengaja saya bersabar mengikuti runutan masalahnya, meskipun berpanjang-panjang. Tujuannya, untuk memberikan wawasan penting kepada Pembaca, bi rahmatillah. Maka itu mohon materi diskusi ini dibaca baik-baik, kalau perlu dikopi ke data pribadi. Insya Allah disini ada wawasan yang layak disimak. Walhamdulillah.

Bukan sekali dua kali saya berdiskusi dengan Salafiyun. Kadang dalam suasana santun, kadang tensi tinggi, sampai suasana keras. Secara umum, argumentasi-argumentasi Salafiyun rata-rata sewarna. Dari satu alasan ke alasan lain, cenderung sama. (Tetapi dimaklumi saja, di kalangan Ummat Islam, kelompok apapun, metode “copy paste” itu sudah populer). Poin-poin pemikiran yang disampaikan Abu Ammar hampir-hampir mewakili sikap politik Salafi selama ini. Di dalamnya terhimpun pemikiran-pemikiran khas Salafiyun. Oleh karena itu, disini ia diberi title “Pemikiran Politik Salafi”.

Secara teknis, bantahan Abu Ammar saya letakkan di topik “Masalah” dengan nomer urut tertentu, lalu komentar saya diletakkan di “Catatan AMW”. Hampir seluruh isi tulisan Abu Ammar dibahas disini. Satu hal yang ingin ditekankan disini; Abu Ammar menuduh saya tidak memiliki rasa takut sama sekali kepada Allah. Nah, nanti Pembaca silakan pahami, siapa yang sebenarnya tidak memiliki rasa takut itu? Akhirnya, selamat menyimak, semoga bermanfaat! Amin. Dengan memohon pertolongan Allah, mari kita mulai diskusi ini:…

Masalah 1

Alhamdulillah segala puji hanya milik Alloh azza wa jalla, kepada-Nya kita memuji dan memohon pertolongan. Kepada-Nya kita memohon ampunan dan berlindung dari kejelekan jiwa dan rusaknya amal. Barangsiapa yang dikehendaki Alloh mendapat petunjuk, maka tak seorang pun mampu menyesatkannya. Dan barangsiapa yang disesatkan-Nya, maka tak seorang pun yang bisa memberinya petunjuk. Aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang haq untuk diibadahi, kecuali Alloh Ta’ala semata, dan Muhammad shallallahu ’alaihi wa salam adalah hamba dan utusan-Nya. Sholawat dan salam semoga tercurah kepada Rasululloh shallallahu ’alaihi wa salam, kepada keluarganya, sahabat serta semua umat beliau yang mengikutinya dengan kebaikan hingga Alloh mendatangkan keputusan-Nya.

Sebelumnya sebagai informasi. Saya mendapat kiriman email dari teman. Yang saya lihat dia hanya mem-forward saja. Ternyata pengirim pertama adalah saudara AM. Waskito. dan dia sebenarnya juga hanya mengambil tulisan tersebut dari tulisan di abisyakir.worpress.com sehingga saya pun berkenginan mengomentari tulisan tersebut. Saya juga telah mengirimkan tulisan saya ini kepada pengirim email pertama. Semoga bermanfaat…

Catatan AMW 1:

Sebenarnya asal tulisan itu ada di blog abisyakir.wordpress.com ini. Saya tidak pernah menyebarkan tulisan berjudul “Mesir dan Saudi Dukung Zionis Laknatullah” itu via e-mail. Kalaupun ada, swaramuslim.com mempublikasikan kembali tulisan dari blog abisyakir ini. [Selesai].


Baca entri selengkapnya »


Amerika, Israel, dan Wahhabi

Januari 16, 2009

Baru saja saya ikut Shalat Jum’at di sebuah masjid NU, yang sering disinggahi. Lama tidak pernah Shalat Jum’at disini, saya coba sempatkan. Alhamdulillah sampai di masjid sebelum adzan dikumandangkan.

Pertama masuk pelataran masjid, terdengar pengurus masjid meminta doa para jamaah bagi saudara-saudaranya di Palestina. Alhamdulillah, ini adalah simpati yang layak diperbuat oleh kaum Muslim dalam situasi seperti sekarang. Bapak pengurus itu serius meminta kesungguhan jamaah untuk mendoakan kaum Muslimin di Filistin. Seperti biasa, beliau memimpin membacakan Al Fatihah beberapa kali. Ala hadiniah wa niyatin sholihah….ya begitulah.

Khutbah Jum’at disampaikan seorang khatib, kelihatannya setingkat ustadz. Dia membahas perilaku Bani Israil di Surat Al Baqarah. Khutbahnya ringkas, sehingga cepat selesai. Memang dalam khutbah itu seharusnya ringkas, dalam, dan berkesan. Jangan bertele-tele, lalu membiarkan pra jamaah pada -maaf- ngiler karena tertidur.

Sebelum khutbah ditutup, beliau membaca doa. Di dalamnya dimasukkan doa seperti Qunut Nazilah, meminta pertolongan bagi Muslim, dan meminta kehancuran bagi kafir zhalim. Saya sangat apresiatif dengan doa seperti itu, alhamdulillah.

Sampai dalam doa itu dimintakan kehancuran bagi: AMERIKA, ISRAEL, dan…ini sungguh tidak disangka, WAHHABI. Amerika, Israel, dan Wahhabi dibaca satu baris, berurutan, hanya dijeda oleh koma saja.

Saya kaget bukan main. Yang tadinya membaca “amin”, seketika saya berhenti. Saya khawatir ikut mendoakan sesuatu yang salah. Sampai saat menulis artikel ini, rasa kelu di hati saya masih terasa.

Bagaimana mungkin, Wahhabi disejajarkan dengan Amerika dan Israel? Apa hubungannya Wahhabi dengan Krisis Ghaza saat ini? Apakah memang Wahhabi itu sudah sampai ke tingkat kufur? Zhalim? Seperti Yahudi Israel laknatullah ‘alaihim?

Saya tidak mengerti, dan harus bagaimana menjawabnya? Entahlah.

Sebagai seseorang yang dilahirkan dan dibesarkan di Jawa Timur, di Kota Nahdhiyin Malang. Sejak remaja saya sudah tahu tentang kebencian kaum Nahdhiyin kepada Wahhabi. KH. Sirodjuddin Abbas adalah magnum opus-nya kalangan Nahdhiyin dalam kebenciannya kepada Wahhabi dan Ibnu Taimiyyah. Banyak fakta yang tidak perlu dibahas disini. Begitu takutnya dengan isu Wahhabi ini sampai DPP PKS pernah membuat klaririfikasi bahwa mereka “bersih” dari unsur Wahhabi.

Sungguh, saya sangat sedih melihat kebencian yang amat sangat itu. Bertahun-tahun saya masuk masjid NU, ikut shalat bersama mereka. Ikut makmum di belakang mereka. Saya tidak pernah menyebut mereka kafir, murtad, atau setara dengan Israel yang zhalim. Saya hargai keadaan diri mereka, meskipun saya tidak terjun dalam amal-amal mereka.

Namun, adilkah menyebut Wahhabi sebagai musuh Islam, setara dengan Amerika dan Israel yang zhalim?

Ya…silakan jawab dengan nurani Anda sendiri.

Wahhabi, jika boleh disebut demikian, padahal ini masih sangat debatable, tidak semuanya buruk, beringas, main hakim sendiri, menjilat penguasa, dan lain-lain. Saya memahami, Wahhabi itu hanyalah cara untuk mengembalikan kita kepada KOMITMEN terhadap DUA KALIMAT SYAHADAT. Setiap Muslim jelas membutuhkan komitmen kepada Syahadatnya.

Wallahu a’lam bisshawaab.

Bandung, 15 Januari 2009.

AM. Waskito.


Gerakan Juhaiman Al Utaibi

November 24, 2008

Pada 29 tahun lalu, tepatnya tanggal 20 November 1979 di Makkah terjadi sebuah peristiwa menggemparkan dunia. Ketika itu sekelompok pemuda Arab merebut Masjidil Haram dengan kekuatan senjata dan mengklaim bahwa Masjid Suci berada di bawah kendali mereka. Mereka menyandera para jamaah Masjidil Haram, membunuh polisi yang melawan, serta mengelilingi masjid dengan sistem pertahanan militer. Gerakan ini dipimpin oleh seorang putra gurun Najd, yaitu Juhaiman Al Utaibi.

Gerakan pemuda Arab ini bukan saja membuat Kerajaan Saudi kalang-kabut, tetapi membuat Dunia Islam merasa kalut dan cemas. Bahkan Amerika dan Eropa pun ikut ketar-ketir menyaksikan serangan militer yang tak terduga itu. Hampir tidak pernah ada yang menduga jika Masjidil Haram direbut dan dikendalikan sebuah milisi bersenjata. Mereka kurang dikenal, tidak tahu dari mana arahnya, tidak ada angin tidak ada hujan, tiba-tiba sudah menguasai Masjid Suci yang penuh berkah itu. Gerakan Juhaiman nyaris luput dari perhatian intelijen.

Setelah bertahan beberapa minggu, gerakan bersenjata Juhaiman berhasil ditaklukkan. Sandera dibebaskan, Masjidil Haram diamankan, dan para pemberontak di tangkap. Dari kontak senjata yang terjadi, 75 pengikut Juhaiman terbunuh, 170 orang ditahan. Dari pihak pasukan Saudi, 60 orang terbunuh, 200 orang terluka. Masjidil Haram As Syarif mengalami kerusakan-kerusakan, sehingga membutuhkan waktu beberapa bulan untuk memulihkannya kembali. Akhir dari drama kekerasan ini, 63 orang kelompok Juhaiman dijatuhi hukuman pancung di 8 kota Saudi. Juhaiman sendiri dan Sayyid (saudara “Al Mahdi”), dipancung di Makkah.

Data di atas diambil dari buku berjudul, Kudeta Mekkah: Sejarah yang Tak Terkuak. Ditulis seorang jurnalis, The Wall Street Journal, Yaroslav Trofimov. Buku ini diterbitkan oleh Pustaka Alvabet, Tangerang Jakarta. Cetakan kedua Februari 2008. Judul aslinya, The Siege Of Mecca: The Forgotten Uprising in Islam’s Holiest Shrine and The Birth of Al Qaeda. (Pengepungan Makkah: Pemberontakan yang terlupakan di tempat paling suci Ummat Islam dan awal kelahiran Al Qaidah).

Sebagaimana lazimnya buku karya penulis Barat, opini-opini yang dikembangkan cenderung sensasional dan buthek (keruh) oleh asumsi-asumsinya sendiri. Mereka melihat suatu kenyataan tidak seperti orang-orang beriman melihatnya. Sikap sekuler dan meremehkan nilai-nilai keagamaan, merupakan ciri khas buku-buku mereka. Kalau membaca buku seperti itu, secara otomatis harus di-scan dulu, agar “virus” yang bertebaran dimana-mana tidak menyebar ke sel-sel otak.

Sebagai sebuah studi sejarah, opini Yaroslav Trofimov tentang peristiwa pengepungan Masjidil Haram, tidak perlu diterima. Tetapi data-data umum yang dia sampaikan, bisa menjadi referensi untuk memahami suatu realitas sejarah.

Baca entri selengkapnya »