Menjernihkan Masalah ‘Khawarij’

Oktober 11, 2008

Ada satu fakta sejarah yang sangat penting di era kepemimpinan Khalifah Ali Ra., yaitu: menghadapi sekte Khawarij! Hal ini sangat penting, sebab saat itu perkembangan Khawarij mencapai puncaknya, hingga Khalifah Ali memutuskan untuk memerangi mereka. Setelah itu sekte Khawarij memudar, ide-idenya menyebar secara sporadis dalam sekte-sekte, atau kemudian ia mewujud dalam bentuk gerakan-gerakan politik tidak jelas.

Fitnah Khawarij sudah muncul sejak jaman Khalifah Utsman Ra., tetapi matang di era Khalifah Ali. Ummat Islam mengambil teladan dalam menyikapi Khawarij dengan melihat cara Khalifah Ali memperlakukan mereka. Khalifah Ali memerangi kaum Khawarij dan menumpas mereka di Nahrawan, setelah sebelumnya mengutus Ibnu Abbas Ra. untuk menyadarkan mereka. Setelah tidak bisa disadarkan dengan dakwah dan keberadaan mereka semakin mengganggu Ummat Islam, tidak ada pilihan lain, selain mereka diperangi.

Fitnah Khawarij di Era Modern

Di era modern, fitnah Khawarij ternyata muncul kembali. Bentuknya yang paling nyata ialah: (1) Memisahkan diri dari kehidupan jumhur kaum Muslimin, dan mencukupkan diri dengan kelompok eksklusif; (2) Mengkafirkan sesama Muslim, yaitu orang-orang yang berada di luar kelompok mereka; (3) Menentang kepemimpinan Islami, setelah sebelumnya mengkafirkan kepemimpinan itu. Demikian kurang lebih wajah Khawarij dalam konteks modern.

Fitnah itu makin menjadi-jadi ketika muncul fitnah dari arah lain. Sebagian orang bermudah-mudah menuduh sesama Muslim sebagai Khawarij, dan menetapkan bagi mereka sanksi-sanksi seperti yang menimpa Khawarij di jaman dulu. Sesama Muslim dituduh sebagai “anjing-anjing neraka”, “seburuk-buruk makhluk di kolong langit”, dilancarkan tahdzir, jarah, dan hajr, serta mereka direkomendasikan agar ditumpas sampai ke akar-akarnya oleh aparat negara.

Dialog dengan pihak yang dituduh tidak pernah ditempuh, debat terbuka belum dilakukan, menghilangkan keraguan, kejahilan, dan halangan-halangan belum ditempuh, tetapi sudah masuk ke area sanksi tertinggi. Seperti disebut dalam ungkapan, “Mereka hendak menaiki kepalanya sendiri.”

Alasan mereka sangat sederhana, siapa saja yang memberontak kepada penguasa yang sah, itulah Khawarij. Paham seperti ini tidak dikenal dalam Islam, sebab memang tidak ada dasarnya dan teladan dari jaman Salaf. Bisa jadi para pejuang Islam di Indonesia pada jaman dulu akan juga dituduh Khawarij karena memberontak kepada penguasa Kompeni Belanda. Atau Ummat Islam yang menentang Pemerintah NASAKOM di era Orde Lama juga disebut Khawarij. Bahkan kaum Sunni di Iran yang tertindas setelah berdiri Revolusi Syiah Iran, mereka juga disebut Khawarij. Para pejuang Moro di Mindanao disebut Khawarij, pejuang Pattani disebut Khawarij, pejuang Kashmir disebut Khawarij, dan seterusnya.

Tuduhan Khawarij akhirnya menjadi fasilitas yang sangat lezat untuk melanggengkan kekuasaan, apapun bentuk dan orientasi kekuasaan itu. Seolah, ajaran Islam seperti “centeng” yang menjaga kekuasaan apa saja, baik yang halal atau haram. Na’udzubillah min dzalik.

Baca entri selengkapnya »

Iklan

Salafus Shalih Adalah Para Pendahulu Kita

Mei 29, 2008

Salaf, Salafus Shalih, Salafiyah, Salafi

Salaf kadang dikaitkan dengan masa/waktu/jaman. Kadang dikaitkan dengan generasi. Kadang dikaitkan dengan keadaan. Semua itu merujuk ke masa lalu.

Masa jahiliyah sebelum Islam di Makkah juga disebut jaman ‘Salaf’. Para Nabi sebelum Rasulullah (Saw) juga Salaf. Bahkan Fir’aun pun sebenarnya Salaf, dengan arti orang yang hidup di masa lalu. Itu pemaknaan secara general (umum).

Adapun Salaf yang dimaksud dalam Islam, dalam kajian dakwah, akidah, maupun fikih, merujuk kepada hadits Nabi (Saw): “Khairun naasi qarni tsummal ladzi yalunahum tsummal ladzi yalunahum” (sebaik-baik manusia adalah jamanku, kemudian sesudahnya, kemudian sesudahnya). Ada yang menyebutkan hadits ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari Muslim.

Baca entri selengkapnya »