Catatan Sejarah Berharga

Mei 9, 2011

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Baru-baru ini eramuslim.com memuat sebuah tulisan sangat berharga, tentang setting sejarah munculnya gerakan Neo NII. Artikel itu ditulis oleh Saudara Muhammad Fatih, isinya bisa dibaca disini: NII, Komando Jihad, dan Orde Baru: Untold Story.

Tulisan ini sangat menarik, sangat berharga, dan layak dibaca oleh para aktivis Islam, serta kalangan para dai-dai di jalan Allah Ta’ala. Sebagian dari yang dituturkan disana sudah pernah saya dengar dari sebagian aktivis Muslim, tetapi dalam tulisan itu data-data dan nama disebutkan secara detail. Ini kelebihannya daripada penuturan melalui lisan.

Pentingnya Menjernihkan Sejarah Ummat

Saya menghimbau para aktivis Islam, para pejuang Muslim, para dai untuk mengkopi tulisan itu, dan menyimpan sebagai dokumentasi dakwah Islam. Ini sangat penting dan di dalamnya terdapat banyak kebaikan yang bisa diambil sebagai hikmah, insya Allah.

Secara umum, NII sudah dibubarkan oleh Pemerintah Orde Lama (Soekarno) sejak Al Ustadz SM. Kartosoewirjo dieksekusi mati -semoga Allah merahmati beliau dan menerima amal-amalnya-. Tetapi tidak berarti seluruh kekuatan NII SM. Kartosoewirjo pupus. Tidak sama sekali. Masih ada sisa-sisa kekuatan, baik di kalangan pimpinan maupun pendukung grassroot.

Nah, sisa-sisa pendukung NII itu terbelah dua. Pertama, sisa kekuatan yang bisa dibina, direkrut, dan diarahkan oleh intelijen (Bakin). Kedua, sisa kekuatan yang ingin meneruskan idealisme NII SM. Kartosoewirjo. Dan kelompok terakhir itu dikenal sebagai Darul Islam Fillah. Atau disebut juga “Kelompok Fillah”. Kelompok ini dipimpin oleh Ustadz Djadja Sudjadi dan lainnya. Selain militan, mereka juga anti sikap kooperasi (kerjasama).

Namun kemudian pimpinan “Kelompok Fillah” itu dibunuh, sehingga yang bertahan kuat adalah kelompok NII hasil didikan Bakin dan sebagainya. Nasib “Kelompok Fillah” selanjutnya tidak banyak diketahui. Namun munculnya gerakan-gerakan yang mengatasnamakan NII, yang banyak membawa paham sesat itu, tak lain sebagai buah rekayasa intelijen di era Orde Baru.

Konon ceritanya, Ustadz Djadja Sudjadi sudah disiapkan tiket pesawat agar segera pergi meninggalkan Indonesia. Tetapi sebelum tiket sampai di tangannya, beliau sudah keburu dibunuh.

Belakangan, Fahri Hamzah, salah seorang anggota DPR Fraksi PKS berkomentar tentang Negara Islam. Kepada media, Fahri mengatakan, “Siapa pun konsep negara agama tak ada, PKS juga sudah menegaskan itu. Tak ada negara Islam, Kristen, atau Hindu. Itu ide kampungan sekali.” Berita ini dikutip berbagai macam media online. Ramai beritanya di forum-forum diskusi.

Intinya, Fahri ingin menyelamatkan PKS dari serangan politik, terkait NII. Tapi caranya dengan mendestruksi ajaran Islam yang sudah baku, berupa Negara Islam atau Daulah Islamiyyah.

Seorang Muslim tidak boleh seperti itu, kalau masih sayang dengan agamanya. Menyebut Negara Islam kampungan sekali, ya sama saja dengan mencela Rasulullah Saw, mencela Khulafaur Rasyidin, serta mencela Imam-imam kaum Muslimin selama ribuan tahun.

Apa hukumnya menyebut ajaran Islam, yang bersumber dari Kitabullah dan As Sunnah, dengan ucapan “kampungan sekali”? Ya, jelas sekali, ini adalah penghujatan yang dalam terhadap ajaran Islam. Anda tahu lah, bagaimana hukumnya manusia yang menghujat agama Allah.

Rasulullah Saw ketika dalam peristiwa Fathu Makkah, beliau memberikan amnesti umum kepada kaum musyrikin Makkah. Tetapi beliau tidak bisa memaafkan beberapa person orang Makkah yang telah menghujat Allah dan Rasul-Nya. Mereka dihukum mati.

Simbol-simbol Islam harus dijaga, dipelihara, dan diperlakukan secara suci. Tidak boleh ada yang menghujat Allah, Rasulullah Saw, menghujat Al Qur’an, menghujat Hadits Nabi Saw, menghujat ajaran Syariat Islam, menghujat para Shahabat Ra, menghujat konsep Islam, dan lain-lain.

Dalam hal ini Fahri Hamzah tidak memiliki udzur sama sekali. Dia tidak dimaafkan kalau mengatakan tidak tahu atau tidak mengerti ajaran Islam. Sebab usia Daulah Islamiyyah itu sudah ribuan tahun. Sejarah Nabi dan Shahabat, banyak diungkap dimana-mana. Apalagi dia adalah seorang politisi dari “partai dakwah” (kalau masih begitu ya).

Akhirnya, sejarah kaum Muslimin di negeri ini HARUS DILURUSKAN kembali. Apa yang dilakukan oleh Muhammad Fatih, merupakan salah satu upaya pelurusan itu. Semoga ia menjadi amal mulia di sisi Allah. Amin. Sedangkan pernyataan Fahri Hamzah, merupakan pernyataan negatif yang membuat sejarah itu keruh kembali. Sebagian ada yang menjernihkan; sebagian terus setia mengotori.

Begitulah ihwan insan. Ada yang berjalan istiqamah lurus, ada yang tersesat. Na’udzubillah minad dhalalah.

AM. Waskito.


Orde Lama dan Sistem Islam

Oktober 2, 2009

Ada sebuah tulisan bagus di eramuslim.com, ditulis oleh Bang Rizki Ridyasmara. Judulnya, “Ayat-ayat Allah SWT dalam Gempa di Sumatra“. Secara umum, tulisan ini bagus, mengajak kita secara dalam merenung kembali tentang nestapa hidup di negeri ini. Intinya, bencana-bencana alam itu muncul karena kedurhakaan manusia (Indonesia) belaka. Juga karena kesalahan rakyat dalam memilih pemimpin yang benar dan lurus. Menurut Bang Rizki, pemimpin saat ini masih satu paket dengan gerakan New World Order yang dikendalikan orang-orang Luciferian.

Kalau mau membaca artikel lengkapnya, silakan di:

http://www.eramuslim.com/berita/tahukah-anda/ayat-ayat-allah-swt-dalam-gempa-di-sumatera.htm

Tapi ada satu bagian tulisan itu yang ingin dikomentari. Sebenarnya ini sudah lama, tapi ingin disampaikan saat ini, karena berbagai alasan teknis. Ada beberapa penggal kalimat dalam tulisan itu (di luar tema inti) yang sebenarnya perlu diluruskan. Isinya sebagai berikut:

Kedua, 44 tahun lalu, tanggal 30 September dan 1 Oktober 1965 merupakan tonggak bersejarah bagi perjalanan bangsa dan negara ini. Pada tanggal itulah awal dari kejatuhan Soekarno dan berkuasanya Jenderal Suharto. Pergantian kekuasaan yang di Barat dikenal dengan sebutan Coup de’ Etat Jenderal Suharto ini, telah membunuh Indonesia yang mandiri dan revolusioner di zaman Soekarno, anti kepada neo kolonialisme dan neo imperialisme (Nekolim), menjadi Indonesia yang terjajah kembali. Suharto telah membawa kembali bangsa ini ke mulut para pelayan Dajjal, agen-agen Yahudi Internasional, yang berkumpul di Washington.

Nah, pada bagian di atas, kita perlu memberi catatan-catatan. Secara umum, baik Soekarno atau Soeharto itu sama-sama sekuler. Kalau Soekarno sekulernya bledag-bledug (blak-blakan), sementara Soeharto sekulernya diselimuti kesantunan tata-krama Jawa. Tapi hakikatnya, sama-sama sekuler. Dan di akhir Pemerintahannya Soeharto dekat dengan kalangan Islam. Meskipun hal itu tidak serta-merta bisa mengubur semua dosa-dosa politiknya.

Adapun catatan yang ingin disampaikan terhadap paragraf di atas adalah sebagai berikut:

[1] Ketika kita memposisikan Soeharto sebagai agen Kapitalisme, solusinya tidak harus Soekarno. Ini catatan besar yang harus selalu diingat. Solusinya seharusnya adalah Islam itu sendiri. Seperti kata ungkapan, “Al Islamu huwal hal” (Islam itulah solusinya).

[2] Kalau kita mencela Soeharto, tidak harus lalu memuji Soekarno. Soekarno tidak kalah brutalnya dari Soeharto. Di antara dosa-dosa Soekarno antara lain: Menolok Piagam Djakarta, menulis teks Proklamasi sendiri (sangat singkat dan ada coretan-coretan), menyetujui perjanjian Linggardjati, Renville, KMB. Dalam salah satu klausul KMB, Indonesia harus menanggung hutang Belanda yang nilainya miliaran gulden. Soekarno juga membabat habis gerakan DI/TII, mengeksekusi mati SM Kartosoewiryo rahimahullah, dia membubarkan Masyumi, mentoleransi pemberontakan PKI Madiun, memaksakan ideologi NASAKOM, hingga akhirnya terlibat dalam gerakan PKI tahun 1965. Banyak sekali dosa-dosa Seokarno, termasuk sebutan-sebutan “berbau syirik” baginya seperti “Yang terhormat paduka yang mulia, pemimpin besar Revolusi..” dll. Sebutan-sebutan itu adalah “cuci otak” yang membuat rakyat Indonesia sampai saat ini masih terus menyimpan kekaguman spiritual kepadanya.

[3] Andaikan Soekarno tidak terlibat New Word Order, bukan berarti dia bisa bebas dari segala beban dosa. Bukankah waktu itu istilah New World Order sendiri belum populer? Bahkan ketika itu masih ada blok Timur Uni Soviet yang anti kapitalisme Amerika. Soekarno bukanlah manusia yang mandiri, dia tetap membebek juga kepada ideologi materialisme. Dalam banyak tulisannya, Soekarno itu mengakui sangat kagum dengan pemikiran Karl Marx. Apa manusia macam begini yang hendak kita bela? Na’udzubillah min dzalik.

Perlu diingat juga, tidak ada tokoh-tokoh Islam jaman Orde Lama yang memberi rekomendasi kepada Soekarno. Kalau ada adalah Hamka rahimahullah yang berbesar hati tetap menyalati Seokarno, meskipun beliau pernah dipenjara oleh Soekarno.

Intinya, sejak jaman Kemerdekaan RI, negara kita tidak pernah dipimpin secara benar. Baik Soekarno, Soeharto, maupun era Reformasi, semuanya dilandasi nilai-nilai sekularisme-materialisme. Tidak ada yang mau memimpin negara ini dengan ideologi Islam, dengan tata nilai Islam, dengan panduan manhaj Rabbaniyyah. .

Disini saya terkesan oleh sikap Ki Bagoes Hadikoesoemo rahimahullah. Ketika menyikapi satu kalimat dalam Piagam Djakarta, “Ketuhanan dengan kewajiban melaksanakan Syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya.” Ketika banyak orang berselisih tentang redaksi yang tepat untuk kalimat itu, Ki Bagoes menawarkan konsepnya yang jenius. Beliau mengusulkan agar kalimat itu ditetapkan “Ketuhanan dengan kewajiban melaksanakan Syariat Islam, tanpa embel-embel bagi pemeluk-pemeluknya”.

Sungguh mengagumkan usulan Ki Bagoes rahimahullah itu. Saya acungi dua jempol untuk beliau. Andai dalam jari-jari tangan ini ada 10 jempol, insya Allah akan saya acungkan semuanya.

Wallahu A’lam bisshawaab.

AMW.



Tim Weiner dan Nasib CIA

Desember 16, 2008

Saat berkunjung ke rumah teman kemarin, saya merasa surprised saat melihat di lemarinya, sebuah buku tebal bercover merah, tertulis judul Kegagalan CIA, oleh Tim Weiner. Wah, ini dia buku yang sedang hangat dibicarakan. Jiwa dagang saya segera muncul, “Berapa nih Anta beli buku ini?” (He he he, masak tanya harga buku saja diklaim “jiwa dagang”? Terlalu sensitif ya). Kata teman, harga dia beli 120 ribu, kalau saat ini ada discount 30 % (sekitar 85 ribuan lah). Kalau beli di Gunung Agung, discount 20 %. (Nah, kalau yang beginian diteruskan, baru cocok disebut “jiwa dagang”. He he he…ulang).

OK-lah, mari kita mulai saja. Si Tim Weiner ini…(sambil berlagak mau memvonis ‘gak jelas’), ternyata dia itu seorang penulis ya…(garing, garing…seluruh dunia juga sudah tahu kalau dia penulis, garing ring…). Baiklah, ehhem, sekarang mulai serius beneran, ehhem…

Buku ini berjudul Kegagalan CIA. Judul kecilnya, Spionase Amatiran Sebuah Negara Adidaya. Namun dalam cover, judulnya Membongkar Kegagalan CIA. Judul aslinya, Legacy of Ashes The History of CIA (Warisan puing-puing, sebuah sejarah CIA). Tentu penulisnya Tim Weinner, seorang wartawan The New York Times. Pernah memenangkan hadiah Pulitzer, 20 tahunan menulis di bidang intelijen, bukunya Legacy of Ashes tersebut menjadi international best seller. Buku ini dalam versi Indonesia diterbitkan oleh PT. Gramedia Pustaka Utama Jakarta. Alih bahasa Akmal Syamsuddin, kata pengantar oleh Budiarto Shambazy, kolomnis Kompas. Jumlah total halaman lebih dari 830 halaman. Bagian isi dari halaman 1 sampai 661, sedang halaman catatan kaki dari 662 sampai 832.

Sisi unik buku ini, bagian tengah cover ada logo CIA sebesar bulatan stempel yang dicetak sangat eksklusif. Mengkilat dan tebal. Ia memberi kesan “buku mahal”. Kerta yang dipakai pun bukan HVS biasa, tetapi kertas khusus, seperti yang banyak dipakai pada buku-buku terbitan asing.

(Hei, bercanda lagi, dong! Jangan serius melulu!…sudah, sudah bercanda sudah selesai. Sekarang waktunya serius. Sudah, jangan bercanda terus. Kita lagi dilihat banyak orang, tahu. He he he…)

Baca entri selengkapnya »


Antara Orde Baru dan Orde Reformasi

November 8, 2008

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Masyarakat Madani berbeda dengan masyarakat Badwi. Masyarakat Madani telah berperadaban, memiliki aturan sosial yang mengatur hidupnya, dan diatur oleh suatu pemerintahan. Masyarakat Badwi sebenarnya juga memiliki corak kepemimpinan juga, tetapi sangat tradisionalis.

Sebagai bagian dari masyarakat berperadaban, hidup kita tidak lepas dari keberadaan suatu IMARAH (kepemimpinan atau pemerintahan). Disini ada ungkapan menarik dari Khalifah Umar Ra.: “Tidak ada Islam, tanpa jamaah; tidak ada jamaah, tanpa kepemimpinan; tidak ada kepemimpinan tanpa ketaatan.” Selama kita menjadi Ummat Islam, kita akan selalu berperadaban (tidak hidup secara Badwi), dan otomatis kita akan selalu bersinggungan dengan kepemimpinan.

Saudaraku, dalam beberapa tulisan terakhir saya menyinggung tentang Politik Soeharto. Secara umum, saya berani menghargai kebaikan-kebaikan beliau kepada kaum Muslimin. Bahkan saya percaya, beliau adalah seorang tokoh Muslim yang berjasa. Insya Allah. Adapun tentang kritik-kritik kepadanya, saya tidak berbeda dengan para pemerhati yang obyektif dalam hal ini. Beliau memiliki sekian kesalahan dan kekeliruan yang tidak boleh dilupakan.

Sebelumnya, perlu Anda ketahui, dalam penulisan artikel-artikel ini, seluruhnya mandiri, dengan biaya dan support sendiri. Secara politik maupun ekonomis, tidak ada kaitan saya dengan para ahli waris Pak Harto. Kenal pun tidak. Ini dedikasi murni untuk melayani penerangan Islam, insya Allah. Seandainya, melupakan jasa baik seorang Muslim merupakan amal shalih, tentu hal itu lebih tepat untuk dilakukan. Apalagi sikap para aktivis politik banyak yang melampaui itu: mereka berani memfitnah, melakukan kebohongan, pembunuhan karakter, menghujat, dan seterusnya.

Secara umum, ketika kita melihat suatu pemerintahan yang memerintah kehidupan kaum Muslimin, ada dua rujukannya: (1) Pandangan Syariat Islam, dan (2) Pandangan tarikh (sejarah) tentang pemerintahan-pemerintahan sebelumnya. Kedua pandangan ini perlu dipakai, agar kita bisa menghasilkan penilaian yang jujur dan tidak kehilangan banyak kebaikan.

Kalau melihat Pemerintahan Soeharto (kadang disebut Orde Baru), sebenarnya disana masih jauh dari ideal. Ya, kita sudah sama-sama memaklumi, bahwa segala sesuatu mesti ditimbang secara Syariat Islam. Sedangkan, Pemerintah Pak Harto waktu itu bukanlah Pemerintahan Islami (seperti Thaliban misalnya), juga bukan Republik Islami (seperti Sudan misalnya), atau juga tidak menerapkan Syariat Islam (seperti Kelantan di Malaysia), atau juga bukan Kerajaan di atas Syariat Islam (seperti Kerajaan Saudi). Dari sisi ini, jelas disana akan kita temukan banyak kekurangan-kekurangan. Pendek kata, secara formalis pemerintahan Soeharto bukan pemerintahan Islami.

Tetapi di akhir jabatannya, beliau banyak mengakomodir aturan/kebijakan yang selaras dengan Syariat Islam. Alhamdulillah. Belum seluruhnya, masih sebagian, dan terasa manfaatnya. Andai waktu itu tidak ada akomodasi sama sekali, mungkin kehidupan dakwah Islam saat ini lebih susah lagi. Secara formalis, Pak Harto bukan seorang pemimpin negara Islami, baru menerima substansi Syariat Islam pada sebagian aturan/kebijakannya.

Dari sisi kekurangan, jelas disana banyak kekurangan. Contoh, sakralisasi Pancasila dan UUD 1945, militerisme, sikap lunak kepada sistem konglomerasi, pelanggaran HAM berat terutama DOM di Aceh, dan lain-lain. Jadi kekurangan itu tetap ada, tidak bisa dipungkiri.

Hanya saja, saat politik Soeharto dibandingkan SISTEM LIBERALISASI saat ini, ia lebih baik. Kalau saya menerima politik beliau, bukan berarti mengabaikan kesalahan-kesalahannya. Tetapi saat membandingkan dengan kondisi saat ini, politik beliau lebih baik. Tetapi secara ideal, apa yang kita anggap terbaik adalah SISTEM ISLAMI. Seperti kata Ali bin Abi Thalib Ra., “Islam itu tinggi dan tidak ada yang lebih tinggi darinya.”

Sistem Liberalisasi ini sangat membahayakan kehidupan Islam dan kaum Muslimin. Di segala sektor diliberalisasikan, antara lain:

[o] Politik liberal. Pemilu multi partai (tahun 2009 nanti diikuti 34 partai, pernah sampai 48 partai). Pemilihan presiden langsung, pilkada langsung, dan otonomi daerah secara berlebihan. Ini sangat liberal. Di Amerika saja hanya 2 partai, pemilihan DPR disatukan dengan pemilihan presiden.

[o] Ekonomi liberal. Sistem pasar terbuka, sistem kurs dan indeks saham terserah mekanisme pasar, pencabutan subsidi-subsidi untuk masyarakat. Tidak ada perlindungan terhadap produk dalam negeri. Investasi terbuka, perusahaan-perusahaan asing bebas. Luar biasa liberalisasi ini.

[o] Media massa liberal. Sejak tahun 1999 di Indonesia berlaku UU Pers yang menjamin kebebasan media massa sebebas-bebasnya. Tanpa ada kontrol, restriksi, ancaman sanksi berat bagi pers atas kesalahan mereka. UU Pers itu lebih melindungi pers daripada masyarakat.

[o] Sistem pendidikan liberal. Sekolah-sekolah bebas berdiri, dengan kontrol yang tidak ketat. PT diswastanisasi dengan kebebasan mengelola anggaran sendiri.

[o] Budaya dan pergaulan liberal. Hal itu sangat terlihat di masyarakat, baik melalui doktrin TV, media massa, hiburan, iklan, dsb. Sangat westernist sekali.

[o] Ideologi liberal. Diusung oleh JIL dan kawan-kawan. Intinya, sekularisme, pluralisme, dan liberalisme. JIL ingin meliberalkan pemahaman kita atas agama ini.

Liberalisasi itu adalah kekafiran. Sebab segala sesuatunya diserahkan ke mekanisme pasar dan hawa nafsu manusia. “Suka suka gue dong!” begitu slogan populernya. Ini adalah hakikat kekafiran, tidak mau tunduk kepada tuntunan Allah dan Rasul-Nya. Bahkan liberalisasi itu sistem yang menganut “hukum rimba”, siapa yang kuat dia yang menang.

Kalau begini kenyataannya, Islam dan kaum Muslimin lama akan hancur di negeri ini. Islam mengajarkan prinsip sami’na wa atha’na (kami dengar dan kami patuh, ya Allah). Sementara liberalisasi menyerahkan segala urusan kepada MEKANISME PASAR atau HAWA NAFSU MANUSIA sendiri. Apakah Anda bisa melihat hakikat kekafiran ini?

Coba sekarang Anda pikirkan secara jernih, benarkah di negara kita telah berlangsung LIBERALISASI di segala bidang? Apakah fakta yang saya ajukan itu mengada-ada, membual, atau berdusta?

Lalu pikirkan lagi, berbahayakah LIBERALISASI ini bagi Islam dan kaum Muslimin? Apakah tidak bahaya? Apakah sesuai ajaran Islam? Apakah sesuai Syariat Islam? Apakah berkah dan patut disyukuri? Cobalah jawab secara jujur.

Saya tidak percaya bahwa ada pemerintahan ideal, sebelum ia benar-benar menegakkan Syariat Islam secara murni dan konsisten. Pemerintah Orde Baru masih jauh dari ideal, tetapi ia telah mengakomodasi sebagian substansi Syariat Islam dalam aturan/program/kebijakan. Adapun orde Reformasi saat ini adalah hakikat LIBERALISASI yang sangat membahayakan Islam dan kaum Muslimin.

Semoga Anda memahami di titik mana upaya ini diarahkan. Alhamdulillah Rabbil ‘alamin. Wallahu a’lam bisshawaab.

AMW.


Menghargai Jasa Seorang Muslim…

November 3, 2008

Sungguh, menulis tentang Soeharto itu sangat tidak mudah. Bukan karena kita tidak memiliki bahan untuk ditulis, tetapi opini keliru yang telah terbentuk sangat massif, luas, dan mengkristal di dasar otak jutaan manusia. Gambaran umum yang ada Soeharto itu kejam, zhalim, koruptor, memperkaya diri, militeristik, dan seterusnya. Selama lebih dari 10 tahun, media-media TV mendoktrinkan politik mereka secara intensif, sehingga sikap melawan arus disini akan seketika dihakimi sampai hancur. Na’udzubillah.

Saya sudah memahami masalah ini sejak lama. Bahkan istilah-istilah yang dipakai untuk menghancurkan siapapun yang berusaha berkata obyektif tentang politik Soeharto sudah digudangkan dengan sangat rapi. Kalimat seperti: antek Soeharto, antek Orde Baru, pro Soeharto, pro status quo, anti Reformasi, anti perubahan, orang suruhan Cendana, pro militer, dsb. Banyak sekali.

Jadi proses indoktrinasi disini berjalan dengan dua arah: Pertama, mengangkat berbagai isu yang mendukung liberalisme di bidang politik, ekonomi, sosial, budaya, pergaulan, seni, informasi, sampai keyakinan (SEPILIS). Kedua, menghantam siapapun yang tidak setuju dengan liberalisasi dengan label antek Soeharto, pro Orde Baru, anti Reformasi.

Cara demikian sudah dilakukan sejak jaman Fir’aun di Mesir dulu. Cobalah baca dialog-dialog antara Fir’aun dengan Musa As. Fir’aun tidak hanya menyerang misi Kenabian yang dibawa oleh Musa, tetapi Fir’aun juga ingin melakukan pembunuhan karakter kepada Musa, dengan tuduhan Musa adalah tukang sihir, dan hendak menyesatkan kaumnya dari agama semula. Ini cara klasik, tetapi terus dipakai oleh siapapun yang berjalan di atas akidah kebathilan.

Mungkin karena alasan inilah, banyak kaum Muslimin tidak berani mengungkit-ungkit tentang kebaikan Soeharto. Padahal faktanya sangat banyak dan kita rasakan manfaatnya sampai saat ini. Sistem bank Syariah itu dimulai dari era Soeharto; begitu pula dengan legalisasi jilbab, sistem ONH, BMT, kopontren, labelisasi halal MUI, UU Perkawinan, UU Pendidikan Nasional, penerimaan KHI, dan sebagainya. Banyak dan banyak sekali.

Baca entri selengkapnya »