Ciri Khas Aliran Sesat

Desember 21, 2015

Aliran sesat itu macam-macam ya. Tingkah polah dan lakunya, bermacam rupa dan bentuk.
.
Aliran sesat ada yang terang-terangan. Ada yang malu-malu. Ada yang “gak ngerasa”; seolah aliran lurus, padahal hakikatnya sesat.
.
TAPI ada SATU CIRI KHAS aliran sesat yang mesti ada, harus, atau wajib. Semua aliran sesat punya ciri ini. Kalau ciri ini tak ada, besar peluang suatu aliran menuju JALAN LURUS.
.
Apa ciri khas tersebut?
.
MUDAH SAJA. Kalau suatu aliran, pengajian, majelis meyakini DIRINYA AHLI SORGA, dan semua orang di luar kelompoknya SESAT. Nah, itu ciri khas aliran sesat.
.
DASAR TELAAHNYA begini. Suatu kaum meyakini dirinya AHLI SORGA, berarti itu KESOMBONGAN. Dan kesombongan tidak akan masuk sorga. Kesombongan identik dengan manhaj IBLIS.
.
SUDAH begitu, memvonis orang di luar kelompoknya sebagai sesat, itu adalah MEMATAHKAN TONGKAT AL JAMAAH. Itu sama dengan menghancurkan PERSAUDARAAN UNIVERSAL kaum Muslimin. Ini sangat berat. “Innamal mukminuna ikhwah” (bahwa orang-orang beriman itu bersaudara). Mematahkan persaudaraan Islam sama dengan MERUSAK PRINSIP AGAMA.
.
Lebih baik kita mendapat ilmu sedikit & berkah; daripada mendapat ilmu segunung, tapi HATI DIAJARI KESOMBONGAN DAN MEMBENCI SESAMA MUSLIM.
.
Di mana saja Anda diajari untuk MEMUSUHI KAUM MUSLIMIN, tinggalkan itu. Wallahi, di sana dada-dada kita akan menjadi sumpek dan sesak, setelah Allah meluaskannya.
.
Nas’alullah al ‘afiyah fid dini wad dunya wal akhirah. Amin.

(Mine).


Sikap Musdah dan Umi Kultsum!

Mei 31, 2011

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Ada berita menarik di eramuslim.com, tentang diskusi yang menghadirkan Musdah Mulia, di Makassar. Dalam debat itu Musdah dicecar oleh para mahasiswi Makassar dengan aneka gugatan. Beritanya bisa dibaca di artikel-artikel berikut ini: Musdah Ancam Mahasiswi Dipidanakan, Musdah Adalah Orang Amerika).

Intinya, Musdah merasa marah dan ingin menggugat mahasiswi yang bernama Umi Kultsum itu. Katanya, akan diadukan lantaran alasan pencemaran nama baik. Allahu Akbar, sebegitukah kualitas nalar Musdah?

Coba Anda perhatikan…

PERTAMA. Namanya forum diskusi, forum seminar, dan sebagainya. Jadi wajar saja ada yang menghujat, menggugat, protes, dan sebagainya. Wong, memang forumnya kondusif untuk itu. Kecuali kalau mahasiswi itu bicara di media, dia menjelek-jelekkan Musdah tanpa alasan. Itu baru bisa dipidanakan!

Betapa memprihatinkan nalar Musdah ini ketika hendak mengadukan seorang mahasiswi ke polisi karena pencemaran nama baik. Padahal forum yang ada disana forum diskusi, forum debat ilmiah. Apa Musdah tidak memahami istilah “kebebasan mimbar” di perguruan tinggi? Lalu, apa gunanya dong dia menyandang gelar profesor?

KEDUA. Musdah merasa dirinya dicemarkan nama baiknya oleh mahasiswi bernama Umi Kultsum itu. Lalu perhatikan ucapan Si Mudah yang saya kutip dari artikel di atas: “Hati-hati yah kalau adik berkata-kata, saya bisa tuntut anda pasal pelecehan jika anda mengkritisi saya seperti itu. Anda ini kan mengambil data dari Sabili dan Suara Islam. Kedua majalah ini bukan bacaan kaum intelektual. Kedua majalah itu kerja cuma menghina orang.”

Lihat kalimat yang di-bold di atas. Musdah katanya merasa dicemarkan nama baiknya. Tetapi saat yang sama, dia mencemarkan nama baik media Sabili dan Suara Islam. Kedua media disebut, “Bukan bacaan kaum intelektual.” Mungkin maksud Musdah, yang disebut bacaan kaum intelektual itu adalah teori-teori Liberal yang dia anut selama ini. [Yang begini sih bukan intelektual, Musdah. Tetapi “lakum dinukum wa liya din”].

Lihatlah dengan jeli, satu sisi merasa dicemarkan nama baiknya. Tetapi saat yang sama, mencemarkan nama baik media-media Islam. Allahu Akbar!

KETIGA. Sangat memprihatinkan, Musdah hendak menuntut seorang mahasiswi karena melakukan pencemaran nama baik. Mahasiswi itu siapa, dan Musdah siapa? Apakah sebanding Musdah ingin mengadukan mahasiswi yang tentu saja masih sangat belia itu? Apakah Musdah begitu protektif, begitu otoriter, begitu paranoid?

Lalu bagaimana dengan klaim dia selama ini, bahwa dirinya kaum intelektual, maju, dewasa, bijak, terbuka, moderat, dll. Mana bukti ucapan itu? Mana bukti kedewasaan pemikiran Musdah ketika berhadapan dengan “anak kecil”, seorang mahasiswi Makassar itu? Sangat memilukan!!!

Akhirul kalam, kami sangat mendukung dilakukannya koreksi-koreksi kritis terhadap pemikiran kaum LIBERAL ini. Mereka merupakan tantangan yang nyata bagi kehidupan bangsa Indonesia dan Islam. Pembelaan terhadap ajaran Islam dari serangan pemikiran oleh kaum Liberal dan orientalis, merupakan  bagian dari JIHAD membela agama Allah Ta’ala.

Semoga Umi Kultsum tetap istiqamah dan tegar. Jangan galau oleh tekanan-tekanan. Dan semoga Prof. Musdah bisa menunjukkan bukti kedewasaan dan keintelektualan sikapnya. Berteori atau pencitraan, mudah. Tetapi bukti riil di lapangan kehidupan, tidak mudah Bu!

Walhamdulillahi Rabbil ‘alamiin.

Abinya Syakir.


Hanung Bramantyo Lagi…

April 12, 2011

Belum lama lalu diluncurkan film dengan judul sangat unik. Judulnya hanya simbol tanda tanya (?). Mungkin dalam sejarah perfilman Indonesia, baru ini ada film dengan judul sangat unik.

Film ini disutradarai anak muda yang cukup dikenal, Hanung Bramantyo. Dia sutradara film pluralis, Ayat Ayat Cinta. Juga sutradara film Sang Pencerah, yang menampilkan sosok KH. Ahmad Dahlan. Termasuk film yang menghujat para aktivis Islam dan pesantren, Perempuan Berkalung Sorban. Film ini diproduksi oleh grup MAHAKA, induk media Republika, dan dikendalikan oleh usahawan, Erick Tohir.

Saat me-launching AlifTV, Erick Tohir didaulat untuk memberikan sambutan. Disana Erick Tohir mengklaim bahwa AlifTV ditujukan untuk menyebarkan konsep Islam “rahmatan lil ‘alamiin”. Maksudnya Islam yang bagaimana? Itu Islam yang cinta damai, anti kekerasan, pluralis; serta konsekuensinya menerima konsep ekonomi liberal, menerima budaya Barat, serta toleran terhadap gerakan-gerakan kolonialisasi Barat. Ibaratnya, Islam yang enak di kita dan enak di mereka (orang non Muslim).

Sosok seperti Erick Tohir tentu jangan bayangkan akan mengembangkan versi Islam seperti Rasulullah Saw. Ya, jauhlah. Islam dalam pandangan Erick tentu bukan ISLAM ASLI, tetapi Islam yang sudah sedemikian rupa dipoles, dipermak, dimodifikasi, sehingga sesuai dengan peradaban kapitalisme Barat. Nah, itulah yang lalu diklaim sebagai “Islam rahmatan lil ‘alamiin”.

Hanung: Menyimpan Dendam Kepada Islam.

Terkait dengan film “?”, pihak Mahaka dan Republika jelas sangat memuji. Ya, pusat pujian ada pada persoalan: film itu menawarkan toleransi, bukan Islam galak, tidak menghakimi, memandang semua agama sama, semua budaya baik, dan seterusnya. Pendek kata, dalam film ini posisi Syariat Islam tidak dipandang sama sekali.

Dari sisi kalkulasi bisnis, sepertinya pihak Mahaka tidak takut rugi. Mungkin karena film semacam ini lebih banyak mengkampanyekan budaya, bukan dilihat dari sisi bisnisnya. Kan kita tahu, kapitalis China sangat berkepentingan agar kaum Muslim Indonesia semakin sekuler saja. Ide-ide pluralisme merupakan tangga menuju tujuan itu.

Dan mengapa harus Hanung Bramantyo yang menjadi sutradara? Nah, ini menjadi tanda tanya, persis seperti judul film itu sendiri.

Hanung ini kan lulusan sekolah agama di Yogya. Background keluarga Muhammadiyyah. Dia mengerti sedikit-sedikit tentang konsep dan wawasan Islam. Dalam pernikahan yang kedua, dia menikah dengan Zaskia Mecca, artis yang populer dalam sinetron “Para Pencari Tuhan”. Sebelum menikah, mereka berdua sudah gandeng-renteng gak karu-karuan. Sehingga kawan-kawannya, sesama artis, sangat mendorong agar mereka berdua segera menikah. Konon, mereka akhirnya menikah ketika perut Zaskia semakin menonjol ke depan.

Kehidupan kaum LIBERALIS seperti berada dalam dua dunia. Dunia pertama, istilah-istilah keren, intelektualis, pemikiran-pemikiran progressif, dan seterusnya. Dunia kedua, kehidupan manusiawi mereka yang tidak terungkap di depan publik. Dalam dunia “tidak tampak” itu kualitas moral mereka sangat buruk. Misalnya, sudah dikenal bahwa di markas JIL di Utan Kayu itu banyak ditemui botol-botol minuman keras.

Film Hanung sendiri sebenarnya juga tidak bagus-bagus amat. Tetapi bahwa dia memang membenci kalangan Islamis karena telah mengekang hawa nafsunya, sejak dia masih remaja, memang benar adanya. Isi film Hanung cenderung ingin “membalas dendam” atas kultur Islam yang pernah membesarkannya.

Film Ayat Ayat Cinta berjalan sukses, karena didukung promo besar-besaran, baik promo resmi maupun tak resmi. Sukses novel AAC itu sendiri sudah menjadi promo besar bagi filmnya. Setelah namanya mulai berkibar, Hanung menyerang Islam lewat film, Perempuan Berkalung Sorban. Namun film terakhir ini tidak sukses, malah menuai protes dari banyak kalangan Islam.

Ketika filmnya kurang laku, Hanung coba-coba mencari momen bagus untuk buat film. Setelah berpikir dalam, lalu catch…dapat man! Dia pun mengajukan rancangan film “Sang Pencerah” dengan mengangkat sosok KH. Ahmad Dahlan. Siapa yang dibidik dari film ini? Ya, warga Muhammadiyyah, almamater Hanung sendiri. Secara umum, film itu cukup sukses di pasaran warga Muhammadiyyah. Pundi-pundi keuangan Hanung pun menebal. Setelah uang di tangan, lagi-lagi Hanung membuat film, untuk memuaskan hobi lamanya, menyerang konsep Islam yang menurutnya tidak toleran, kolot, demen kekerasan, eksklusif, dan seterusnya. Nah, itulah dia film “?”.

Padahal intinya, Hanung merasa konsep Islam tidak bisa memuaskan hawa nafsunya. Dia ingin agama yang bisa memuaskan hawa nafsunya, sepuas-puasnya, tanpa limit, tanpa kekangan apapun. [Maka dari sini kita bisa melihat bagaimana masa depan pernikahan Hanung dengan Zaskia. Wong agama saja tidak dipedulikan, apalagi keluarga?].

Rasanya tidak malu ya. Saat kantong kering, mencari penonton dari Ummat Islam. Setelah kantong tebal, segera menyerang dakwah Islam. Tapi apa mau dikata, begitulah sosok sutradara itu. Kalau dibilang kejam, ya kejam; kalau dibilang sadis, ya sadis; kalau dibilang curang, ya curang. Begitulah cara Hanung dalam menyerang ajaran-ajaran Islam yang tidak bisa memenuhi hasrat hawa nafsunya.

Kasihan banget ya, agama yang suci dipaksa memuaskan hawa nafsu seorang manusia. Bagaimana kalau ada banyak orang semisal dia, sama-sama meminta agama melayani hawa nafsunya sepuas-puasnya? Kok bisa ya, agama hendak diperbudak oleh hawa nafsu manusia. Masya Allah, laa haula wa laa quwwata illa billah.

Sosok seperti Hanung itu seperti manusia yang sudah KEHILANGAN JATI DIRI. Secara spiritual, batere jiwanya seperti sudah drop total. Maka yang keluar dari dirinya bukan ekspresi jiwa yang murni dan lurus, tetapi hawa nafsu dan pemikiran-pemikiran yang kalah. Kalau Hanung berekspresi ini dan itu, ia hanyalah seperti ungkapan orang-orang frustasi yang sudah tak bisa berbuat apa-apa.

Kalau dalam Al Qur’an digambarkan, “Khatamallah ‘ala qulubihim wa ‘ala sam’ihim wa ‘ala absharihim ghisyawah, wa lahum adzabun ‘azhim” (Allah telah mengunci hati dan pendengaran mereka, lalu di atas penglihatan mereka diberi tutupan, dan bagi mereka adzab yang besar).

Rata-rata para penggiat paham SEPILIS seperti itu. Secara batin atau jiwa, mereka sudah dianggap tidak ada. Atau dianggap sebagai eksistensi kegelapan. Maka tidak keluar dari jiwa semacam itu selain kegelapan, kecurangan, kelicikan, kesadisan pemikiran, kekejaman nalar, dll; intinya ekspresi kefrustasian.

Ya, inilah sekilas “resensi film” berjudul “?” (tanda tanya). Lalu apa makna “?” disana? Ya jelas sekali. Pembuatnya adalah sosok misterius yang DIPERTANYAKAN kesehatan ruhaninya. Terimakasih.

AM. Waskito.


Pahami Makna “Agama”!

Juli 28, 2010

Bismillahirahmaanirrahiim.

Akhir-akhir ini saya kebanjiran komentar-komentar keras dari para pendukung Gusdur. Di antara komentar itu ada yang langsung dibuang, karena terlalu sarkastik. Mereka marah dengan terbitnya buku, “Cukup 1 Gusdur Saja“, yang terbit beberapa bulan lalu.

Tetapi anehnya, mereka tidak pernah marah ketika kehormatan Islam diinjak-injak oleh Gusdur selama puluhan tahun. Seolah, di dunia ini, Gusdur boleh secara bebas menghina Islam, lalu kita dilarang 100 % menyampaikan pembelaan atas kehormatan Islam. Masya Allah, itulah “sikap adil” yang diyakini oleh orang-orang ini. Allahu Akbar!!!

Dalam buku itu, alhamdulillah -dengan segala pertolongan Allah Ta’ala- saya membantah secara telak pemikiran-pemikiran dominan Gusdur. Buku itu sangat telak, sehingga bila saya sendiri membacanya lagi, rasanya masih tercenung. Alhamdulillah, segala puji dan syukur hanya kepada Allah jua.

Saya sarankan, para pembaca supaya membaca buku itu. Masya Allah, rasanya beda dibandingkan buku-buku saya lainnya. Kalau tidak mampu beli, silakan pinjam milik teman. Kebetulan, saat ini ada promo buku murah dari penerbit. Silakan cari di link ini: Download Katalog Buku Super Murah. Harga yang ditawarkan penerbit, Rp. 15.000,-. Setengah dari harga semula.

Semua manusia pasti memilih "agama". Terserah, apakah agama itu berbentuk, atau tidak berbentuk.

Metode yang saya gunakan dalam menulis buku itu, antara lain: (1) Menyampaikan fakta kejadian seperti apa adanya, seperti yang dimuat oleh media-media massa, baik umum maupun media Islam. (2) Membuat analisis kejadian itu sesuai timbangan Islam, baik melalui analisis Al Qur’an, As Sunnah, kaidah fiqih Islam, kaidah akidah Islam, dan pendapat tokoh-tokoh Muslim. (3) Tambahan, berupa analisis politik dan sosial.

Ketika para pemuja Gusdur marah-marah, hal itu mengingatkan kita pada suatu persoalan prinsip: Sejauhmana kita memahami konsep agama Islam ini? Mengapa harus marah ketika ditunjukkan kebenaran dengan dasar analisis fakta, Kitabullah, dan As Sunnah?

Berikut ini saya sampaikan runutan pokok-pokok pemikiran seputar makna agama yang selama ini kita anut.

[1] Agama, berasal dari a-gama. Kata orang, arti a-gama adalah tidak kacau. Orang beragama, agar hidupnya tidak kacau. Tetapi yang dimaksud disini adalah agama sebagai religion atau din.

[2] Dalam pemahaman formal, yang dinamakan agama ya seperti Islam, Nashrani, Yahudi, Zoroaster, Hindu, Budha, Konghuchu, dll. Pokoknya yang dikenal sebagai nama-nama agama formal di dunia. Tetapi pandangan ini kurang memuaskan, sebab banyak manusia menjalani kehidupan di luar aturan-aturan agama, tetapi mereka tidak mau disebut atheis.

[3] Bertrand Russel, seorang ahli Fisika sekaligus filosof matarialis modern, dia pernah mengatakan, bahwa: “Atheisme sebenarnya agama juga.” Pernyataan ini sangat menarik. Atheisme disebut agama, padahal mereka mengaku sangat anti agama. Seolah Bertrand Russel ingin mengatakan, “Orang yang ‘anti agama’, hakikat agama mereka ya sikap ‘anti agama’ itu.”

[4] Sebagian orang mengklaim, “Saya tidak percaya kepada doktrin-doktrin agama. Saya lebih percaya pada akal bebas, free thinking. Tidak ada dogma, yang ada adalah kebebasan berpikir.” [Komentar: Berarti agama orang itu, ya kebebasan berpikir itu sendiri. Dia tidak boleh marah, kalau manusia yang lain memilih “ketidak-bebasan berpikir”]. Kemudian ada yang mengklaim, “Bagi kami agama itu adalah rasio. Apa saja yang sesuai rasio, itulah agama kami. Rasio adalah tuhan bagi kami.” [Komentar: Berarti, agama mereka adalah agama rasio itu sendiri, sebab mereka mau terikat dengan aturan yang mendewa-dewakan rasio. Sebaliknya, mereka tidak boleh marah kepada orang yang mengagungkan ajaran “non rasio”]. Ada lagi yang lain, “Sudah, sudah, sudah. Semua ini omong kosong. Saya tidak percaya nilai apapun, saya tidak percaya kebenaran. Saya tidak percaya apapun. Saya memilih jalan hidup kosong, nihil, tanpa nilai apapun.” [Komentar: Nah, dia juga beragama dengan nihilisme-nya itu. Iya kan? Dia memuja tuhan “kosong”, tuhan “nilai nol”, tuhan “tanpa nilai”. Iya kan]. ===> Singkat kata, manusia itu makhluk IDEOLOGIS. Mereka mau memilih apapun, itulah agamanya. Jadi, pada hakikatnya tidak ada manusia yang tak beragama.

[5] Misalnya, kalangan Freemasonry. Mereka menyembah setan, memuja sihir, memuja baphomet, memiliki ritual tersendiri, membangun gerakan rahasia, memiliki aturan-aturan, pro Zionis, dll. Katanya, mereka punya missi menghapuskan semua agama yang ada. Nah, itulah agama mereka. Itulah ideologi dan jalan hidup mereka. Mereka adalah pemeluk agama, Freemasonry. Biarpun mereka mau jumpalitan gak karu-karuan, tetap saja mereka adalah pemeluk agama, yaitu agama Freemasonry.

[6] Agama di dunia ini dibagi 3: (1) Dinul Hanif yaitu AL ISLAM, yang meyakini Ke-Esaan Allah dan taat kepada Syariat Nabi Saw. (2) Dinul Ahlil Kitab, yaitu Yahudi yang berpegang kepada Taurat, dan Nashrani yang berpegang kepada Injil. (3) Dinul Musyrikah, agama kemusyrikan, yaitu agama-agama apapun selain Islam, Yahudi, dan Nashrani. Baik yang punya bentuk formal, atau merupakan madzhab pemikiran.

[7] Dalam Al Qur’an disebutkan ayat yang sering dibaca oleh para khatib, “Huwalladzi arsala Rasulahu bil huda wa dinil haq, li yuzh-hirahu ‘alad dini kullihi” (Dialah -Allah- yang mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk dan agama yang benar, agar Dia menangkan agama itu atas segala agama). Kata-kata ‘alad dini kullihi, seolah memberikan pengertian, bahwa agama yang dipeluk manusia itu banyak. Tidak hanya Islam, Yahudi, dan Nashrani saja. Selain Ahli Kitab, juga banyak PAGANISME  dengan segala macam cabang-cabangnya. Bahkan tidak berlebihan jika Bertrand Russel menyebut atheisme sebagai agama juga. PKI adalah kaum beragama juga, tetapi agamanya di atas keyakinan: menolak Tuhan, membenci agama formal, meyakini sistem sosial tanpa kelas, dst.

[8] Ibnu Taimiyyah rahimahullah menjelaskan bahwa Ilah (Tuhan), itu adalah segala sesuatu yang dicintai, ditaati, dan mendominasi hidup seseorang. Apapun yang dicintai lahir-batin, ditaati aturannya, diagungkan simbolnya, ia adalah Ilah. Hingga Al Qur’an menyebut suatu kaum yang mempertuhankan hawa nafsunya sendiri. (Al Jatsiyah, 23).

[9] Anak-anak muda hedonis, berkata dengan angkuh, “Hidup ini adalah kesenangan. Selagi masih hidup, habiskan untuk senang-senang. Gak usah ibadah bro, gak usah bersujud. Sudah happy-happy aja terus. Hidup ini kesenangan, bro. Jangan mau tertipu oleh ceramah ustadz-ustadz. Ayo bro. Jangan munafik. Ayo seneng-seneng. Cewek, miras, narkoba, judi, diskotik, hayo apa saja yang bikin lu seneng.” Nah, ini pemeluk agama juga. Agama hedonisme, agama memuja hawa nafsu. Ritual mereka ya seneng-seneng itu. Prinsip agama mereka, ya seperti perkataan itu.

[10] Liberalisme, Gusdurisme, SEPILIS-isme, dll. juga bagian dari agama. Mereka memiliki pemikiran, tokoh, sikap, dan simbol-simbol. Mereka penganut agama juga, meskipun secara label KTP tertulis Islam. Semua ini agama juga, hanya para pelakunya tidak sadar-sadar.

[11] Kalau penganut Gusdurisme itu berdiri di atas ajaran Islam, bukan sekedar berlabel KTP Muslim, mereka pasti akan rujuk dengan Syariat Islam dalam memandang segala sesuatu. Kalau Nabi mereka adalah Nabi Muhammad Saw, yang katanya sangat mereka harapkan syafaat beliau, pasti mereka akan menghormati Sunnah Nabi. Kalau Kitab Suci mereka Al Qur’an, mereka pasti akan mengutuk ucapan Gusdur yang sangat hina dan keji itu. Kalau fiqih mereka adalah fiqih Islam, misalnya mengambil madzhab Imam Syafi’i, mereka pasti murka jika ada tokohnya yang bermesraan dengan Yahudi. Nah, itulah masalahnya. Orang-orang itu mengaku Islam, tetapi tidak memahami konsep paling mendasar dari ajaran Islam. Sebaliknya, mereka tak mau disebut sebagai penganut Gusdurisme, tetapi bukti-bukti di lapangan menunjukkan hal itu.

[12] Terakhir, dalam Surat Al Isra’ dikatakan, “Faqul ja’al haqqa wa zahaqal bathila, innal bathila kaana zahuqa” (Katakanlah, ‘Kebenaran telah datang dan hancurlah kebahilan, karena kebathilan itu pasti hancur). Islam pasti dimenangkan oleh Allah menghadapi semua agama yang ada di muka bumi ini. Itu pasti. Hanya saja, ketika Islam tidak memiliki pelindung, berupa Daulah Islam atau Khilafah Islam, kekuatan agama ini tidak tampak, selain seperti cahaya kunang-kunang di malam hari. Cahaya-nya indah, kelap-kelip, tapi tak bisa menerangi malam.

[13] Kelak di Akhirat, semua manusia akan dikumpulkan di padang Mahsyar. Ketika itu muncul aneka rupa bendera, sesuai dengan banyaknya aliran, agama, ideologi yang dianut manusia di dunia. Setiap orang akan menggabungkan diri dengan salah satu dari bendera itu. Para pengikut Rasulullah Saw akan berdiri di belakang beliau. Maka saudaraku, hati-hatilah Anda dalam memilih bendera ketika hidup di dunia ini. Pilihlah bendera Sayyidul Mursalin, Muhammad Rasulullah Saw!!!

Maka disini, kita memohon kepada Allah Ta’ala Ar Rahmaan Ar Rahiim, agar:

Dia memberi hidayah kepada para pemuja Gusdur itu, menunjuki jalan mereka ke jalan yang lurus, memimpin mereka keluar dari kegelapan, memberikan kepada mereka cahaya, agar bisa berjalan di muka bumi di atas al haq. Jika tidak demikian, semoga mereka diam, bersikap pasif, dan dicegah dari segala perbuatan yang merugikan Islam dan kaum Muslimin. Semoga Allah menahan lisan, tangan, dan perbuatan mereka dari kejahatan-kejahatan. Jika yang demikian pun tidak dikabulkan, ya kita pasrahkan mereka sepenuhnya ke Tangan Allah Ta’ala. Biarlah Allah memperlakukan mereka, sekehendak-Nya.

Rabbana, inna nas’alukal ‘afiyah fid dunya wal ‘akhirah. Allahumma amin, wa shallallah ‘ala rasulillah Muhammad wa ‘ala alihi wa ashabihi ajma’in.

Semoga bermanfaat. Walhamdulillah Rabbil ‘alamiin.

AMW.


BAHAYA: Humanisme, Pluralisme, Demokrasi !!!

Januari 5, 2010

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Saudaraku, perjuangan rasanya tidak mengenal kata akhir, setiap waktu setiap masa, kita terus berhadapan dengan berbagai masalah. Ummat ini harus dipedulikan, dijaga, dihargai, diperjuangkan hak-haknya, dengan sekuat kemampuan yang kita miliki. Belum juga tuntas masalah Bank Century, kita sudah menghadapi masalah baru, “Gerakan Pemujaan Abdurrahman Wahid”. Kalau Bank Century berkaitan dengan harta benda, maka dalam masalah Gus Dur ini masalah AKIDAH. Ingat akidah, ini masalah terbesar Ummat ini!!!

Banyak orang mengelu-elukan Gus Dur sebagai tokoh: HUMANISME, PLURALISME, dan DEMOKRASI. Media-media massa sangat giat mencuci otak masyarakat dengan pujian-pujian berlebihan dalam 3 persoalan itu. Sampai 9 Fraksi DPR, termasuk partai-partai Islam, menyokong usulan agar Gus Dur diangkat menjadi pahlawan nasional.

Ini sangat bahaya, sangat berbahaya. Kalau sampai Pemerintah mengabulkan tuntutan anggota DPR itu, alamat bangsa kita akan diadzab oleh Allah dengan bencana-bencana memilukan di masa ke depan. Mengapa? Untuk tokoh yang penuh permusuhan kepada Islam, menghina Al Qur’an, pembela JIL, pro Israel, dll. itu ingin ditasbihkan sebagai “pahlawan nasional”. Sedangkan almarhum Buya Natsir, mantan Ketua DDII, yang jelas-jelas jasa-jasanya diakui Dunia Islam, sampai beliau mendapatkan Faishal Award dari Kerajaan Saudi, sampai wafatnya tidak pernah diakui sebagai pahlawan nasional. Baru beberapa waktu lalu, status kepahlawanan beliau diakui.

Begitu pula, almarhum Syafruddin Prawiranegara yang menjadi Gubernur BI pertama, pernah menyelamatkan Indonesia dengan menjadi Presiden Pemerintahan RI Darurat (PDRI), beliau sampai saat ini belum juga diakui sebagai pahlawan nasional. Jasa beliau besar, tapi tidak diakui oleh negara ini.

Saya yakin, jika Gus Dur sukses diangkat sebagai pahlawan nasional, itu artinya: Kita telah mengangkat manusia yang dimurkai Allah sebagai tokoh pujaan, idola nasional. Laa haula wa laa quwwata illa billah. Ini sama saja dengan menghalalkan kehancuran, bencana, dan segala siksaan atas bangsa ini.

Ya, kalau Anda tidak percaya, lalukan saja apa yang Anda inginkan! Mari kita lihat akibatnya nanti! Saya hanya mengingatkan, sebagaimana waktu mengingatkan agar masyarakat jangan memilih SBY-Boed. Kalau kelak Anda hidup menderita, maka jangan salahkan, selain diri sendiri.

Saudaraku… Gus Dur banyak dipuji-puji sebagai tokoh Humanisme, Pluralisme, Demokrasi. Sebenarnya istilah-istilah itu apa maksudnya? Apa maknanya, dan bagaimana konsekuensinya? Disini kita akan bahas tentang bahasa besar di balik kampanye slogan Humanisme, Pluralisme, Demokrasi.

KADAR PRAKTIS-FILOSOFIS

Secara sederhana humanisme bisa diartikan sebagai kemanusiaan, pluralisme sebagai paham keragaman, dan demokrasi sebagai “penentuan keputusan dengan suara terbanyak”.

Ketika bicara tentang isu Humanisme-Pluralisme-Demokrasi, bisa dalam dua tataran. Pertama, tataran praktis, yaitu manfaat dari humanisme, pluralisme, demokrasi bagi kehidupan masyarakat. Kedua, dalam tataran filosofis, yaitu makna terdalam dari humanisme, pluralisme, demokrasi, serta pengaruhnya yang bersifat fundamental bagi keyakinan (ideologi) manusia.

Dalam tataran praktis, humanisme diamalkan misalnya dengan menyayangi orang sakit, memberi sedekah pengemis, menolong anak kecil yang jatuh, memberi bantuan sosial, mengirim Prita dengan koin-koin, menolong korban bencana alam, dsb. Jadi, tidak masalah disini, secara praktis.

Pluralisme secara praktis bisa diterjemahkan sebagai, menghargai perbedaan pendapat, mengakui keragaman potensi, kemampuan, mengakui perbedaan adat-kebiasaan, mengakui perbedaan perilaku hidup, dan lain-lain. Demokrasi diterjemahkan secara praktis, misalnya berunding dengan orang lain, bermusyawarah, melakukan undian penentuan sikap, pemilihan ketua kelompok, dan lain-lain.

Dalam tataran praktis, ya kita bisa memahaminya. Bahkan kita kerap memanfaatkan fungsi-fungsi humanitas, pluralitas, dan demokrasi itu. Ajaran Islam sangat mengakui tentang sikap tarhim (penyayang), fungsi syura (musyawarah untuk muakat), dan menghargai perbedaan pendapat fiqih (khilafiyyah).

Tetapi ketika paham Humanisme-Pluralisme-Demokrasi dibawa ke tataran ideologis, konsep pemikiran, corak keyakinan, kita akan menyaksikan betapa bahayanya konsep Humanisme-Pluralisme-Demokrasi itu. Amat sangat berbahaya. Bahkan saya yakin, Anda tidak melihatnya sedemian serius masalah in.

Konsep Humanisme-Pluralisme-Demokrasi adalah merupakan ajaran agama tersendiri. Bahkan ia sangat agressif dalam menyirnakan peranan agama-agama tradisional, termasuk Islam di dalamnya. Kalau seseorang benar-benar tahu, ada apa di balik Slogan Humanisme-Pluralisme-Demokrasi, niscaya dia benar-benar akan melakukan TAUBAT NASHUHA. Sungguh, paham Humanisme-Pluralisme-Demokrasi itu sangat membahayakan semua agama, terutama Islam.

BAHAYA HUMANISME

Islam jelas-jelas mengajarkan sikap pengasih, penyayang, bahkan sekalipun kepada binatang. Nabi Saw mengatakan, “Irhamu man fil ardhi, yarhamukum man fis sama’i” (kasihi siapa yang ada di bumi, maka akan mengasihimu siapa yang ada di langit.”

Tetapi ideologi Humanisme itu berbeda. Ia bukan sifat-sifat pengasih, penyayang, seperti yang diajarkan Islam. Namun ia adalah suatu keyakinan untuk menjadikan manusia sebagai tujuan tertinggi kehidupan ini. Bukan matahari, bulan, batu, pohon, atau kuburan yang disembah-sembah disini, tetapi yang disembah adalah human interest (kepentingan manusia) itu sendiri. Humanisme itu suatu paham untuk mengagung-agungkan kepentingan manusia, mengalahkan kepentingan apapun yang lain.

Aplikasi dari paham ini, segala apa yang merugikan kebebasan, kepentingan, selera manusia, harus ditolak jauh-jauh. Termasuk hak Allah untuk mencampuri urusan manusia, juga harus ditolak. Maka Anda saksikan, para penganut humanisme sejati, mereka tidak mau menghukum anak-anaknya, memberi kebebasan penuh kepada anak-anaknya, sekalipun untuk memilih agama, memilih tindakan seks, memilih transaksi bisnis, dsb.

Apapun yang menjerat kebebasan manusia, termasuk aturan-aturan agama, harus disingkirkan sejauh-jauhnya. Inilah ideologi asli kaum Humanis. Maka dalam Al Qur’an dikatakan, “Afa ra’aita manit takhadza ilahahu hawaha” (apakah engkau Muhammad tahu, siapa yang menjadikan hawa nafsunya sebagai sesembahannya). Ini benar-benar nyata, dan disebutkan demikian dalam Al Qur’an.

Sri Mulyani dalam dialog dengan Wimar Witoelar di MetroTV pernah mengatakan, setelah dia pulang dari studi di Amerika, kurang-lebih dia mengatakan, “Kemudian saya kembali ke Indonesia, kemudian menemukan suatu kehidupan yang concern utama-nya adalah manusia itu sendiri.” Ucapan Sri Mulyani ini adalah contoh bagus pemikiran seorang Humanis.

Orang-orang Humanis akan sangat banyak mengecam aturan-aturan Islam. Jangankan aturan hudud, aturan memerintahkan anak-anak shalat saja mereka tentang habis-habisan. Sebab memang concern utama mereka adalah menjadikan hawa nafsu itu sebagai sesembahan.

BAHAYA PLURALISME

Tidak kalah bahayanya adalah ideologi Pluralisme. Allahu Akbar, ini benar-benar ideologi yang amat sangat menghujat ajaran Islam. Konsep pemikirannya seolah baik, tetapi sejatinya amat sangat merusak.

Pluralisme adalah ideologi yang meyakini kebenaran majemuk (plural). Mereka itu bukan sekedar mengakui ada banyak agama di dunia ini, lebih dari itu mereka meyakini, bahwa: kebenaran itu tidak tunggal, tapi majemuk. Dengan keyakinan ini mereka mengakui bahwa semua ideologi di dunia bisa diterima sebagai kebenaran, sesuai sudut pandang masing-masing.

Kalau kita katakan, 1 + 1 = 2. Maka orang pluralis, akan mengatakan: “Relatif. Bisa 2, 3, 7, 10, bahkan tak terhingga. Tergantung dari sudut mana memandangnya.” Maka antara pemikiran PLURALISME dan RELATIVISME adalah dua saudara kembar yang saling mencintai satu sama lain.

Di mata kaum Pluralis, mereka biasa mengatakan, “Islam itu benar, menurut orang Islam. Tetapi Kristen juga benar, menurut orang Kristen. Begitu pula, orang Yahudi, Hindu, Budha, Tao, Kong Fu Tse, Sinto, Pagan Mesir, Pagan Quraisy Makkah, Majusi, dsb. mereka benar sesuai pandangan masing-masing.” Yang paling parah, mereka meyakini, bahwa syurga itu diperuntukkan bagi siapa saja, dari keyakinan apapun, termasuk atheis, selama mereka hidup di dunia sebagai orang yang bak, tidak mengganggu orang lain.

Jadi, Pluralisme ini pada dasarnya adalah KEKAFIRAN lain, setara dengan kekafiran-kekafiran di luar Islam lainnya. Bahkan, Pluralisme adalah mbah-nya kekafiran.

Coba Anda renungkan: Paham semua konsep ideologi adalah benar, sesuai pandangan masing-masing pemeluknya. Hal ini kan sama saja dengan MENGHALALKAN segala bentuk kekafiran. Kekafiran Fir’aun, musyrikin Quraisy, Rumawi, Persia, dan sebagainya dianggap tidak ada. Masya Allah, ini adalah KEKAFIRAN sekafir-kafirnya, karena memandang di dunia ini tidak ada kebathilan, semua dianggap benar dan boleh.

Tapi lucunya, kaum Pluralis itu amat sangat marah dengan kaum Mukminin. Katanya, mereka mengakui kebenaran semua keyakinan, termasuk Islam, tetapi mereka marah ketika melihat Ummat Islam meyakini agamanya dengan sangat konsisten. Mereka bisa menerima keyakinan apapun lainnya yang dipeluk para penganutnya secara konsisten, tetapi mereka amat marah ketika melihat Ummat Islam konsisten dengan agamanya. Ini menandakan, bahwa tujuan utama kaum pluralis adalah: Memerangi Islam itu sendiri!!!

Bayangkan, bagaimana kita tidak akan mengkafirkan kaum Pluralis, wong semua penganut agama di dunia, termasuk kaum-kaum yang diadzab oleh Allah di masa Nabi Nuh, Hud, Shalih, Luth, Syuaib, Fir’aun, Abu Jahal, dsb sebagai orang yang benar. “Mereka adalah benar, sesuai pandangan mereka,” begitu logika kaum Pluralis.

Sebenarnya, pandangan Pluralisme itu adalah pandangan MANUSIA PALING DUNGU di dunia, paling dungu sejak jaman Nabi Adam As, sampai jaman Hari Kiamat nanti. Mengapa dikatakan demikian? Sebab mereka meyakini bahwa semua keyakinan adalah benar. Padahal antar keyakinan itu sendiri saling bertabrakan satu sama lain. Misalnya, kaum Yahudi menganggap dirinya sebagai kaum terpilih; kaum Nashrani menganggap Yahudi sebagai domba-domba yang sesat dari kalangan Bani Israil; sementara Ummat Islam meyakini Yahudi sebagai manusia terkutuk.

Begitu pula, Hindu menganggap sapi sebagai hewan suci, Islam menganggap sapi sebagai hewan ternak, para penyayang binatang membenci manusia yang membunuh binatang, sedangkan para Biksu Budha tidak makan daging, hidup sebagai vegetarian.

Lihatlah, antar keyakinan itu saling bertabrakan satu sama lain, mungkinkah semuanya dianggap benar? Masya Allah, betapa dungu sedungu-dungunya kaum Pluralis itu. Nanti, kalau ada seseorang yang tiba-tiba melempar batu ke arah penganut Pluralis itu, si pelempar bisa berargumen, “Melempar batu ke jidat Anda adalah kebenaran, dari sudut pandangan saya. Jadi mohon jangan salahkan ya!”

BAHAYA DEMOKRASI

Sebenarnya, masalah ini sudah sering dibahas di berbagai kesempatan. Saya hanya mengulang sedikit saja. Ideologi demokrasi adalah kekufuran juga. Mengapa? Paham ini meyakini sebuah prinsip, vox populi vox dei (suara rakyat adalah suara Tuhan). Artinya, peranan Tuhan dalam segala levelnya bisa diamputasi, diganti keputusan-keputusan yang diputuskan oleh manusia sendiri.

Peranan Allah Ta’ala dalam segala masalah bisa diamputasi, diganti segala putusan yang diperoleh melalui mekanisme demokrasi itu sendiri. Ini adalah ideologi kekafiran juga. Padahal sifat ajaran Islam adalah mengikuti petunjuk, bukan membuat petunjuk sendiri, atau trial and error.

Seseorang disebut MUSLIM karena dia melakukan TASLIM. Apakah taslim? Ia adalah berserah diri untuk mengikuti petunjuk Allah dan Rasul-Nya. Inilah hakikat Islam, yaitu mengikuti petunjuk Allah.

Dalam Al Qur’an disebutkan, “Keluarlah kalian (Adam dan Hawa) dari syurga, maka bilamana nanti datang petunjuk dari-Ku kepada kalian, maka siapa yang mengikuti petunjuk-Ku tidak ada kekhawatiran atas mereka dan tidak pula mereka bersedih hati.” (Al Baqarah; 38).

Inilah jalan Islam, yaitu mengikuti petunjuk Allah, bukan membuat parameter kebenaran sendiri, sekalipun ia disebut sebagai DEMOKRASI, diputuskan dengan suara terbanyak.

KESIMPULAN

Dengan pembahasan ini, maka sangat jelas bahwa seruan Humanisme-Pluralisme-Demokrasi adalah: Seruan kekafiran, sekafir-kafirnya manusia kepada Kitabullah dan Sunnah. Bahkan, seruan Humanisme-Pluralisme-Demokrasi itu sebenarnya membahayakan semua agama, bukan hanya Islam. Dengan Humanisme-Pluralisme-Demokrasi, lama-lama eksistensi agama akan mati.

Tetapi karena di dunia ini yang memang sangat kokoh dalam memegang keyakinannya adalah Ummat Islam, maka slogan Humanisme-Pluralisme-Demokrasi dianggap sebagai ofensif untuk memerangi agama ini.

Namun Al Qur’an menjelaskan, “Mereka hendak memadamkan cahaya Allah dengan mulut-mulut mereka (dengan segala media yang mereka miliki), namun Allah berkehendak menyempurnakan cahaya agama-Nya, meskipun orang-orang kafir itu tidak menyukainya.” (As Shaaff).

Andaikan saat ini banyak orang mengelu-elukan Gus Dur, dan menyebutnya sebagai pahlawan Humanisme-Pluralisme-Demokrasi, pada dasarnya mereka tidak mengerti saja. Mereka hanya memandang ideologi Humanisme-Pluralisme-Demokrasi dari kulitnya yang tampak manis.

Nanti pada ujungnya, ideologi Humanisme-Pluralisme-Demokrasi ini sepenuhnya merupakan slogan yang dikembangkan oleh Freemasonry. Mereka ingin membabat semua agama/ideologi di dunia dengan ketiga slogan itu. Lalu mereka nanti akan mengarahkan manusia untuk memuja Lucifer, sang iblis.

Jadi, media-media massa, ormas, tokoh-tokoh, anggota DPR, dan siapapun yang ngeyel ingin mentahbiskan Gus Dur sebagai pahlawan nasional, pada dasarnya mereka itu berada satu jalur ke arah tujuan penghambaan Lucifer. Hanya saja, mereka tidak tahu! Ya Allah, pimpin mereka ke arah kebenaran, pimpin ke arah taubat dan pengertian Islam. Allahumma amin ya Rahmaan ya Rahiim.

AMW.


Shalat Ghaib untuk Gus Dur

Januari 2, 2010

Baru-baru ini saya mendapat SMS dari teman di Jakarta. Katanya, hari Jum’at lalu dirinya ikut Shalat Jum’at di Masjid Istiqlal Jakarta. Niatnya, mau Shalat Jum’at sekaligus mendengar khutbah Syaikh Abdurrahman As Sudais, Imam Masjidil Haram yang terkenal itu. Seperti diberitakan sebagian media Islam, Syaikh As Sudais memang akan datang ke Indonesia. Setelah Shalat Jum’at selesai, eee…ternyata dilakukan Shalat Ghaib mendoakan Gus Dur yang baru meninggal. Syaikh As Sudais sendiri yang mengimami shalat.

Teman saya itu jelas tidak mau ikut Shalat Ghaib. Hanya dia merasa kasihan saja, masak orang seperti Gus Dur dishalatkan ghaib? Malah katanya, di halaman masjid banyak orang berbincang-bincang, katanya Syaikh Sudais datang untuk ta’ziyah atas kematian Gus Dur. Wah, kok bisa begitu ya? Padahal Syaikh Sudais kedatangannya sudah direncanakan sebelumnya.

Sangat prihatin dengan sikap MUI, termasuk pengelola Masjid Istiqlal. Bagaimana bisa mereka menyuruh Syaikh Sudais menyalatkan ghaib Gus Dur itu? Apa alasannya? Hal ini kan bisa menimbulkan fitnah di kalangan orang-orang yang tidak tahu.

Nabi Saw pernah hendak menyalatkan Abdullah bin Ubay ketika dia mati. Kata Nabi, andaikan beliau bisa berdoa 70 kali untuk memintakan ampunan bagi Abdullah bin Ubay, hal itu akan beliau lakukan. Berbeda dengan Umar bin Khattab Ra, beliau tetap tidak sudi mendoakan Abdullah bin Ubay. Ternyata, kemudian turun ayat yang melarang Ummat Islam secara mutlak untuk menyalatkan orang-orang munafik.

Orang munafik yang kekafirannya samar-samar saja, tidak boleh dishalatkan. Lalu bagaimana dengan Gus Dur yang: Ikut mendirikan Shimon Perez Institut, pernah datang ke Israel, mendapat “medali keberanian” dari lembaga Yahudi, pernah mau menghapuskan Tap MPR No. 25 tentang gerakan Komunisme, pernah mau membuka hubungan dagang dengan Israel, dan sebagainya. Bagaimana dengan kata-kata Gus Dur, “Al Qur’an itu kitab suci paling porno“? Bagaimana dengan kiprahnya yang terus-menerus menyerang Syariat Islam, membela sekularisme, pluralisme, berkali-kali menghina lembaga fatwa (MUI), membeli para penentang RUU APP, dan seterusnya?

Apa perbuatan-perbuatan kufur seperti itu tidak tampak ya di mata orang Islam Indonesia? Apa Ummat Islam Indonesia akan mengecam keras Harmoko ketika salah membaca Al Fatihah, atau mengecam keras Arswendo Atmowiloto ketika membuat pooling yang melecehkan Nabi Saw? Tetapi mereka tidak berani mengecam Gus Dur karena dia adalah “putra darah biru”, cucu KH. Hasyim Asyari, pendiri NU?

Apakah dalam kita beragama ini, ada keistimewaan bagi orang-orang tertentu, dari silsilah keturunan tertentu? Sejak kapan kita mengadopsi prinsip Hindu yang mengagung-agungkan kaum Brahmana?

Rasanya sangat berat, nyesek di hati… Ya Rabbi ya Rahman ampuni hamba-hamba-Mu ini! Hampir saja mereka akan ditenggelamkan seperti kaum Nabi Nuh As, kalau tidak segera bertaubat dari KEBANGKRUTAN cara beragama mereka. Sangat menjijikkan melihat sikap elit-elit Muslim yang tidak memberi contoh yang benar! Mereka oportunis, ikut memuja-muja Gus Dur demi mengundang KEMURKAAN Allah Ta’ala.

Nabi Saw pernah mengatakan, “Lau saraqat Fathimah binti Muhammad, la qatha’tu yadaha” (kalau seandainya Fathimah mencuri, aku sendiri yang akan memotong tangannya).

Hadits ini merupakan bukti, bahwa ajaran Islam bersifat UNIVERSAL. Ajaran Islam berlaku bagi siapapun, tak memandang bulu, siapapun dirinya. Bahkan, anak seorang Nabi pun kalau melanggar, tetap akan dihukum. Malah Nabi Saw sendiri yang akan melakukan hukuman atas anaknya.

Demi Allah, Fathimah binti Rasulillah Ra sepanjang hidupnya, sejak kecil tidak pernah mencuri. Kita tahu, mencuri itu perbuatan hina. Mengapa Nabi Saw mengaitkan nama Fathimah yang mulia dengan kejahatan mencuri yang hina? Mengapa Nabi tidak memakai nama lain saja, selain nama anaknya sendiri?

Itu menunjukkan, bahwa Nabi Saw amat sangat serius dengan ajaran Islam ini. Tidak peduli, beliau harus mengorbankan nama anaknya, Fathimah, didekatkan dengan tindak pencurian. Dan seumur hidupnya, Fathimah benar-benar tidak pernah mencuri, wahai manusia! Ingat itu!!!

Adapun sekarang, hanya karena soal “darah biru”, “darah coklat”, “darah abang ijo”, seseorang diberi keistimewaan untuk menghujat agama Allah, membela kekafiran dan kaum kafir, serta melecehkan Syariat Islam.

Ya Rabbi ya Karim, maafkan kami, maafkan kami. Ampuni ya Allah, ampuni kami…

Beginilah keadaan kami, Ya Allah. Kami terlalu lemah, terlalu lemah. Kami membutuhkan agama hanya agar menjadi kendaraan untuk melampiaskan nafsu-nafsu kami. Tidak ada keberanian di hati kami untuk membela agama-Mu. Yahudi lebih kami takuti daripada murka-Mu. Omong kosong ya Allah, kami teriak-teriak “Bela Palestina…Bela Palestina…Bebaskan Al Quds…Tolong Masjidil Aqsha…” Ya Allah, semua itu omong kosong kok. Itu cara kreatif kami untuk dapat nikmat-nikmat dunia, agar nafsu-nafsu kami tambah bergembira ria. Itu saja kok, Ya Allah. Jangankan membela Palestina, wong membela kesucian Al Qur’an di negeri ini, kami sangat takut. Kami takut kehilangan jabatan, kehilangan gaji 30 juta rupiah per bulan, takut kehilangan investor, takut tidak diundang oleh TV, kami takut diawasi Densus 88, kami takut suara partai kami jeblok, kami takut menentang kaum facebookers, ya Allah terlalu banyak yang kami takuti dalam hidup ini. Kami takut diancam oleh agen-agen Yahudi. Ya Allah, saksikanlah, kami lebih takut kepada Yahudi, Gus Dur, PBNU, dan sebagainya, daripada kepada-Mu. Ya Allah, moral kami sudah ambruk, agama kami hancur berkeping-keping, akidah kami rusak serusak-rusaknya. Kami tak tahu harus berbuat apa lagi…

Kasihan, sungguh kasihan Ummat ini. Mereka tidak diberi teladan yang benar.

Ya Allah ya Karim, ampuni kami, ampuni diriku kalau berlebih-lebihan. Ya Allah, selamatkan kami dari musibah, fitnah, dan semua kesesatan yang memilukan itu. Selamatkan kami dari tipu daya syaitan dan bala tentaranya. Selamatkan kami dari makar orang-orang kafir, munafik, zhalim. Ya Allah, kami takut kepada-Mu, meskipun seluruh manusia harus memurkai diri kami. Kami tidak peduli dengan mereka semua, selama Engkau tetap meridhai kami. Amin Allahumma amin. Wa shallallah ‘ala Rasulillah Muhammad wa ‘ala alihi wa ashabihi ajmain.

Kami menghimbau kepada gerakan Islam, aktivis dakwah, organisasi Islam, dan siapa saja yang peduli dengan AKIDAH UMMAT. Mohon Anda angkat bicara!!! Belalah akidah Islamiyyah, dan jelaskan kebathilan-kebathilan Gus Dur, agar Ummat Islam tahu. Mari kita tolak REKAYASA MEDIA dan orang-orang Liberal –laknatullah ‘alaihim– dalam upaya mereka untuk memuja-muja Gus Dur, dan mengangkatnya sebagai “pahlawan nasional”.

AMW.


Gerakan Pemujaan Gus Dur…

Januari 2, 2010

Terus terang, akhir-akhir ini rasanya sumpek melihat berita-berita TV. Isinya didominasi pemujaan-pemujaan terhadap Abdurrahman Wahid alias Gus Dur. Banyak suara-suara yang mengusulkan agar Gus Dur diangkat sebagai pahlawan nasional. Termasuk gerakan di DPR, facebook, dan sebagainya. Sementara pernyataan dari tokoh-tokoh Islam, seperti MUI, PP Muhammadiyyah, dan sebagainya “setali tiga uang”. Semua mengarah kepada upaya memuja Gus Dur. (Atau mungkin mereka ingin menempatkan Gus Dur sebagai “nabi jaman modern”? Entahlah).

Jujur saja, sikap-sikap seperti inilah yang selama puluhan tahun telah mematikan cahaya kebenaran. Ummat Islam tidak diajari bersikap tegas, jelas, dan lurus. Para elit agamawan, tokoh sosial, dan politik berlomba-lomba mencari muka, dengan resiko mengundang kemurkaan Allah Al Aziz. Na’udzubillah min dzalik.

Bayangkan, saat tahun 2001 lalu, ketika Gus Dur menjadi Presiden RI, mayoritas kekuatan politik di Indonesia menyerang dirinya dari berbagai sisi. Segala macam dalil-dalil untuk menjatuhkan Gus Dur, dikeluarkan semua. Termasuk foto Gus Dur memangku Ariyanti Sitepu, VCD Gus Dur dibaiat di gereja, dokumen keterlibatan Gus Dur dalam partai Ba’ats Irak, dan sebagainya. Tetapi lihatlah saat ini, setelah Gus Dur meninggal, semua orang berusaha memuja-muja Gus Dur. Seolah dia adalah ‘Tuhan’ yang berhak diagung-agungkan.

Ummat Islam mundur terus-menerus karena sejak lama ditipu terus oleh elit-elitnya. Mereka tidak diajari sikap yang benar, konsisten, tegas, dan pemberani. Semua elit rata-rata mencari muka, dengan alasan “sikap diplomatis”. Ya, ada kalanya “sikap diplomatis” bisa dipakai. Tetapi tidak dalam segala persoalan harus memakai “sikap diplomatis”. Dalam urusan akidah yang membahayakan Ummat, seperti dalam soal film “Kiamat 2012” lalu itu, kita harus bersikap tegas.

Baiklah, mari kita bahas kembali tentang Gus Dur. Siapakah Gus Dur ini? Siapakah dia, bagaimanakah ideologinya? Bagaimana perjuangannya?

Dari sekian banyak proses pembacaan dan analisis terhadap kiprah Gus Dur sejak dia memimpin PBNU, saya dapat menyimpulkan, bahwa: “Mengucapkan inna lillahi wa inna ilaihi raji’un ketika Gus Dur meninggal, adalah kesalahan. Kematian Gus Dur bukanlah musibah, tetapi bagian dari pertolongan Allah Al Aziz kepada kaum Muslimin di Indonesia.”

Ketika bicara tentang Gus Dur, maka kita harus berbicara tentang YAHUDI. Nah, inilah asas segala pembicaraan tentang Gus Dur. Siapapun yang berbicara tentang Gus Dur tanpa menyinggung gerakan Yahudi internasional, dia salah!!!

Coba kita runut masalah ini secara jernih, bi idznillah:

[01] Setiap hari kita membaca Surat Al Fatihah dalam Shalat. Disana ada doa, agar kita diberi petunjuk oleh Allah, yaitu mengikuti Shiratal Mustaqim. Shirat Al Mustaqim ini bukan jalan “al maghdhub ‘alaihim” (jalan orang yang dimurkai oleh Allah). Nabi Saw menjelaskan, bahwa kaum yang dimurkai itu adalah kaum Yahudi. Maka ketika kita bicara tentang Yahudi, otomatis kita bicara tentang suatu kaum yang dimurkai Allah Al Aziz. Ini bukan perkara sepele, tetapi amat sangat serius.

[02] Yahudi (Bani Israil) mengalami pasang-surut gerakan selama ribuan tahun. Awal gerakan mereka adalah di masa Nabi Ya’qub As dan anak keturunannya yang diberi tempat oleh raja Mesir di Kan’an. Di kalangan Bani Israil ada yang shalih-shalih, tetapi lebih banyak yang durhaka. Para Nabi-nabi, seperti Ya’qub, Yusuf, Musa, Harun, Dawud, Sulaiman, Zakariya, Yahya, Isa, dan lain-lain ‘alaihimussalam, mereka termasuk bagian Bani Israil yang shalih-shalih.

[03] Di jaman modern, atau setidaknya setelah Eropa mengalami Renaissance, Yahudi mengalami transformasi gerakan keagamaan baru. Gerakannya berbeda dengan risalah Nabi-nabi dari kalangan Bani Israil. Gerakan mereka justru menginduk kepada inspirasi Samiri yang pernah membuat patung Al Baqarah (sapi betina) untuk pemujaan. Mereka mengambil ide-ide kemusyrikan dari bangsa Mesir, di jaman Fir’aun. Hampir semua simbol-simbol keagamaan yang dipakai Yahudi modern, itu digali dari peradaban kemusyrikan Mesir. Jadi, Yahudi modern bukanlah pengikut Musa, Dawud, atau Sulaiman, tetapi mengikuti Samiri yang membuat patung sapi betina untuk pemujaan. Hal itu dikuatkan dengan doktrin Talmud yang mengagung-agungkan etnis mereka, dan melecehkan Tuhan (Allah Ta’ala). Yahudi yang berpegang kepada Talmud bukanlah bagian dari Ahli Kitab, tetapi mereka adalah orang-orang musyrik yang mengikuti jalan Samiri.

[04] Secara umum, Yahudi modern terdiri dari dua komunitas besar, yaitu: Yahudi asli (original Jewish) dan Yahudi warna-warni (colored Jewish). Yahudi asli maksudnya, orang-orang yang mewarisi darah Yahudi. Darah Yahudi ditentukan oleh silsilah keturunan dari jalur ibu. Inilah manusia yang benar-benar disebut Yahudi. Dan harus dicatat, kaum Yahudi ini amat sangat ketat dalam menjaga kemurnian etnis mereka. Mereka tidak tertarik melakukan asimilasi seluas-luasnya, sebab mereka merasa sebagai “etnis terbaik di dunia”, sementara etnis lain dianggap “budak” yang bebas dieksplotasi tanpa batas. Lalu yang disebut Yahudi warna-warni adalah siapa saja dari etnis apapun selain Yahudi yang bekerja mensukseskan misi Yahudi internasional. Mereka ini bisa disebut “budak-budak” Yahudi asli. Mereka bisa orang Jawa, bisa orang pesantren, bisa bergelar kyai haji, bisa asal Jombang, dan sebagainya. Mereka itu jelas-jelas tidak berdarah Yahudi, karena ibunya bukan Yahudi, tetapi mau suka-rela berjihad membela missi Yahudi internasional.

[05] Yahudi warna-warni itu biasanya tergabung dalam organisasi-organisasi mantel pendukung Zionisme internasional. Selama ini, mereka kita kenal sebagai “Freemasonry”. Tetapi menurut ahlinya, organisasi mantel itu bisa macam-macam. Freemasonry hanya satu bentuk saja. Rizki Ridyasmara menyebut mereka sebagai kelompok Luciferian, karena mereka mengabdi kepada “tuhan” yang bernama Lucifer yang disimbolkan dalam bentuk bintang, di dalamnya ada bentuk kepala kambing bertanduk dua. Bisa dikatakan, Lucifer adalah simbolisasi Iblis itu sendiri. Kaum Freemasonry ini bisa berasal dari berbagai etnis, dari berbagai negara, dari berbagai status, ikatan keagamaan, organisasi, dan sebagainya. Tapi mereka satu kata dalam simbol keagamaan, ideologi, dan missi memperjuangkan kepentingan Yahudi nternasional.

[06] Pertanyaannya, mengapa Yahudi asli harus membentuk organisasi mantel yang bermacam-macam? Atau mengapa Yahudi asli harus meminta bantuan “Yahudi abang ijo”? Jawabnya: Yahudi membutuhkan penetrasi ke berbagai negara/etnis di dunia, untuk mendukung missi mereka. Sedangkan cara terbaik penetrasi ialah dengan memakai tangan orang-orang dari negara/etnis masing-masing. Misalnya, Yahudi mengambil seorang kyai haji sebagai agen mereka. Maka diharapkan, semua jamaah kyai haji itu akan mudah dikendalikan untuk mendukung missi Yahudi. Kemudian, Yahudi sendiri merasa dirinya terlalu suci untuk berhubungan dengan manusia-manusia lain. Mereka tidak mau “kotor tangan”, maka dipakailah agen-agen dari setiap negara untuk menggarap negara masing-masing. Soal biaya, mereka bersedia memberikan dukungan penuh.

[07] Perlu dicatat, bahwa siapapun yang terlibat dalam gerakan mantel Yahudi seperti Freemasonry, mereka bukan orang Muslim. Mereka itu kafir. Tidak diragukan lagi. Mengapa? Sebab mereka berani mengkhianati agamanya sendiri dalam rangka mensukseskan missi Yahudi. Kemudian, mereka tidak meyakini lagi bahwa Islam adalah agama yang paling benar. Ideologi mereka diganti dengan humanisme, pluralisme, dan demokratisme. Kemudian, mereka selama hidupnya selalu memusuhi missi perjuangan Islam. Dan mereka ridha dengan ritual-ritual kekufuran yang berlaku di organisasi seperti Freemasonry itu.

[08] Untuk mengenali apakah seseorang terlibat Freemasonry atau tidak, sungguh tidak mudah. Mungkin hanya kerja intelijen negara yang bisa menyingkap hal itu. Tetapi seorang anggota Freemasonry bisa dikenali tanda-tandanya, misalnya: (1) Mereka bukan Yahudi asli, ibunya bukan berdarah Yahudi; (2) Selama hidupnya dia mengagung-agungkan slogan humanisme, pluralisme, dan demokrasi; (3) Dia sangat memusuhi misi perjuangan Islam, dan membenturkan misi tersebut dengan seruan Sekularisme atau Nasionalisme; (4) Dia memiliki sumbangan, sedikit atau banyak, bagi kemajuan Yahudi internasional; (5) Dia mendapat penghargaan resmi dari organisasi Yahudi internasional.

[09] Adalah sulit untuk memastikan bahwa Gus Dur adalah seorang Freemason, sebab kita tidak memiliki bukti validnya. Bisa jadi kalangan Muslim lain memiliki data tersebut, sehingga ia bisa dibuka. Namun untuk menyimpulkan, bahwa Gus Dur adalah seorang penyokong gerakan Yahudi internasional sangatlah mudah. Banyak tanda-tandanya. Misalnya, dia pernah terlibat mendirikan Shimon Perez Institute; dia pernah pergi ke Israel; dia pernah mendapat medali dari organisasi Yahudi karena keberaniannya membela kepentingan Yahudi di Indonesia; ketika menjadi Presiden RI, dia pernah hendak membuka hubungan dagang dengan Israel; Gus Dur secara formal pernah membela Yahudi di depan media massa. Dia mengatakan, “Yahudi itu orang beragama, bukan atheis. Kalau dengan Soviet yang komunis saja Indonesia mau menjalin hubungan, mengapa tidak dengan Israel?” Begitu kira-kira alasan dia ketika itu. Sangat jelas sekali bahwa Gus Dur adalah seorang Zionis (pembela Israel) dari kalangan bangsa Indonesia.

[10] Fakta kecil yang perlu disinggung, yakni kedekatan Gus Dur dengan Ahmad Dhani, dari band Dewa. Semua orang sudah tahu, bagaimana sikap Dhani kepada Gus Dur. Dhani sangat memuja-muja Gus Dur. Pendek kata, Gus Dur mau berbicara apapun, Dhani dijamin akan mendukung. Sementara Dhani ini sangat layak dicurigai sebagai bagian dari Freemasonry di Indonesia. Ada yang pernah membahas simbol-simbol yang dipakai Dhani dalam cover album-albumnya. Dhani pernah menginjak-injak kaligrafi Allah yang telah disamarkan, di atas panggung band. Kemunculan abum “Laskar Cinta” ditujukan sebagai anti-tessa “Laskar Jihad” (segala upaya Jihad untuk membela Islam). Dalam salah satu lagu hits-nya, Dhani melantunkan lirik yang kurang lebih isinya sebagai berikut, “Tak ada yang lain, selain diri-Mu yang selalu kupujaaa… Dengan mata-Mu aku melihat, dengan lidah-Mu aku bicara.” Di mata kita, mungkin lagu ini dianggap bentuk pujian kepada Allah. Maka ia dianggap sebagai lagu “pop religi” Dhani dan bandnya. Padahal bisa jadi, yang dimaksud diri-Mu, memuja-Mu, mata-Mu, lidah-Mu itu adalah Lucifer, dewa pujaan kaum Freemasonry. Sebab disana tidak ada disebutkan kata “Allah” sedikit pun. Malah kaligrafi Allah diinjak-injak oleh Dhani dan kawan-kawan. Ada sebuah informasi menarik, ketika Kraton Solo tiba-tiba menganugerahi Dhani dengan gelar “Raden”. Tidak ada angina, tidak ada hujan, tiba-tiba Dhani dianugerahi gelar itu. Dhani sendiri merasa heran dengan gelar itu, sebab dia bukan orang Jawa. Ini sangat janggal. Ada apa ini, tiba-tiba dia di-raden-kan oleh Kraton Solo? Hal lain yang tak kalah menarik, kasus Dhani dengan Mulan Jamila. Hampir tidak ada satu pun media infotainment yang menghujat sikap Dhani yang mengkhianati isterinya itu. Padahal ketika kasus yang sama menimpa pasangan artis-artis lain, media infotanment getol memberitakan hal itu. Saya juga masih ingat, betapa Dhani sangat ngefans dengan Manchester United yang dikenal dengan julukan “Setan Merah”. Ketika MU akan bertanding dengan FC Barcelona dalam Piala Champions, Dhani secara emosional mendukung MU. Malah ketika MU datang ke Malaysia, Dhani mengajak anak-anaknya datang kesana. Banyak sisi-sisi menarik seputar kiprah Dhani “Dewa” yang mencerminkan kedekatan manusia itu dengan gerakan Freemasonry.

[11] Patut diingat dengan jelas, bagaimana peranan media massa, terutama media TV dalam memuja-muja Gus Dur. Selama ini saya cukup bersimpati kepada MetroTV, sering mengakses TVOne, dan berita-berita lain. Tetapi dengan gerakan pemujaan Gus Dur, ini tampak nyata bahwa media-media itu seperti berlomba mencari keridhaan Yahudi internasional. Caranya, dengan memuja-muja Gus Dur. Sejujurnya, sejak dulu Gus Dur itu tidak ada apa-apanya. Dia menjadi besar bukan karena dirinya, tetapi karena REKAYASA MEDIA. Media yang membuat Gus Dur besar, dan media pula yang membuat tokoh-tokoh lain kecil. Bayangkan, media massa tidak pernah peduli ketika Ketua PP Persatuan Islam, KH. Shiddiq Amin wafat. Begitu pula, ketika KH. Husein Umar wafat. Media tidak mau memberitakan, atau menghargainya secara layak. Tetapi ketika ada seorang icon Yahudi di Indonesia mati, mereka berlomba-lomba melakukan “ritual pemujaan”. Sangat menyedihkan! Kalau akhirnya nanti Gus Dur benar-benar ditasbihkan sebagai “pahlawan nasional”, sungguh kita patut memboikot semua media-media sekuler itu. Jangan lagi merasa memiliki media, selain media yang kita buat sendiri.

[12] Orang-orang yang mengklaim dirinya pro pluralisme, pro demokrasi, pro humanisme, lalu memuja-muja Gus Dur sebagai manusia yang berjasa besar dalam ketiga isu tersebut. Pada dasarnya, mereka adalah orang-orang BODOH yang tidak mengerti ujung dari gerakan pluralisme, humanisme, dan demokrasi itu sendiri. Pluralisme adalah ideologi untuk mematikan keimanan kepada agama-agama (bukan hanya Islam). Seorang pluralis sejati tidak memiliki keyakinan yang kuat kepada suatu agama, selain agama pluralisme itu sendiri. Orang-orang yang berakidah humanisme, mereka mempertuhankan “kepentingan manusia”, sehingga manusia dianggap bebas merdeka, termasuk bebas dari aturan agama. Manusia yang berakidah demokrasi, mereka meyakini bahwa “suara rakyat suara Tuhan”. Artinya, cukuplah kesepakatan rakyat untuk menggantikan peranan aturan Tuhan. Ketiga prinsip (pluralisme, humanisme, demokrasi) ini adalah hakikat atheisme, sebagaimana prinsip-prinsip yang diajarkan oleh Freemasonry kepada para pengikutnya.

[13] Semua orang yang memuja-muja Gus Dur, pada dasarnya tidak keluar dari 3 kemungkinan: Pertama, mereka orang bodoh yang tidak tahu informasi dan sempit wawasan. Mereka orang-orang fanatik yang tidak bisa membedakan hitam dan putih; Kedua, mereka orang oportunis yang merasa perlu mencari keridhaan umat manusia (khususnya investor Yahudi) agar mendapat keuntungan-keuntungan duniawi; Ketiga, mereka satu barisan dengan Gus Dur dalam rangka memadamkan cahaya agama Allah dan membesarkan missi Yahudi laknatullah ‘alaihim. Hanya ini kemungkinannya.

[14] Betapa banyak manusia takut kepada Gus Dur, selama hidupnya. Mereka tidak berani mengkritik Gus Dur, tidak berani berbeda pendapat, tidak berani membantah, tidak berani menentang pendapat-pendapatnya yang keliru. Termasuk, ketika Gus Dur mengatakan, bahwa Al Qur’an adalah kitab suci yang paling porno. Mereka tetap tidak berani mengingatkan Gus Dur. Mereka sangat takut kepada Gus Dur, karena takut kuwalat, takut celaka, takut mengalami kemalangan. Lihatlah, betapa banyak manusia sudah mempertuhankan Gus Dur. Kepada Allah mereka tidak takut, tetapi kepada Gus Dur begitu ketakutan. Realitas seperti itu adalah kemusyrikan dalam bentuk baru.

[15] Terakhir, betapa hinanya manusia yang mau membela, membantu, mendukung, menyokong, mempermudah gerakan Yahudi internasional. Padahal mereka semula adalah Muslim, orang Indonesia, orang pesantren, dan sebagainya. Sayang sekali, mereka mendukung Yahudi internasional yang terkenal dengan misi-misi kejahatan mereka untuk memperbudak seluruh manusia di dunia. Mereka mendukung gerakan yang tujuan akhirnya menjadikan semua manusia bersimpuh di telapak kaki Yahudi. Bahkan sangat disayangkan sekali, mereka lahir dari rahim wanita-wanita non Yahudi. Mengapa? Sebab selama mereka tidak memiliki darah Yahudi, statusnya tetap sebagai “budak”. Sangat menyedihkan, mereka bersusah-payah mendukung misi kerusakan di muka bumi.

Sulit bagi saya untuk memastikan, apakah Gus Dur seorang Freemason atau bukan? Tetapi setidaknya kita mendapat banyak bukti, bahwa dia adalah tokoh yang selama hidupnya banyak menolong missi-missi Yahudi internasional. Dalam Surat Al Maa’idah dikatakan, “Wan man yatawallahum, fainnahu minhum” [siapa yang loyal kepada mereka (Yahudi atau Nashrani), sesungguhnya dia bagian dari mereka].

Sekali lagi ditegaskan disini, Gus Dur bukan saja tidak pantas dianggap sebagai “pahlawan nasional”. Bahkan mengucapkan “innalillah wa inna ilaihi raji’un” saat dia mati, adalah sebuah kesalahan.

Saudaraku, Anda jangan takut kepada siapapun dalam rangka mentaati Allah dan Rasul-Nya. Sekaligus Anda jangan berani memuja-muja manusia yang tidak pantas dipuji, sehingga perbuatan Anda itu akan mengundang kemurkaan Allah Ta’ala. Jadilah Muslim sejati yang bicara apa adanya; katakan benar jika benar, katakan salah jika salah. Demi Allah, orang-orang oportunis dimanapun tidak akan beruntung. Mereka takut dimusuhi manusia, tetapi tidak takut dimusuhi Allah Ta’ala.

Perhatikan nasib orang-orang yang saat ini berlomba-lomba memuja Gus Dur, kemudian mereka tidak bertaubat dari kesalahan-kesalahannya. Lihatlah apa yang nanti akan menimpa mereka! Mari kita sama-sama menyaksikan!

Alhamdulillahi Rabbil ‘alamiin, wallahu Akbar, wallahu Akbar, wallahu Akbar walillahil hamdu.

Abu Muhammad Waskito.

(Dulu dibesarkan dalam kultur Nahdhiyin, di Malang).