Menggugat Hanung Bramantyo

Februari 15, 2009

Baru-baru ini muncul film kontroversial, Perempuan Berkalung Sorban. Hasil garapan sutradara Hanung Bramantyo. Hanung adalah sutradara muda yang berperan di balik film, Ayat Ayat Cinta. Nama dia melambung setelah fil AAC sukses di pasaran. Hanung sendiri adalah alumni sekolah Islam terkenal di Yogya, lalu masuk IKJ. Dia tadinya terobsesi oleh pesan ibunya untuk membuat film bertema Islam.

Namun munculnya film Perempuan Berkalung Sorban (PBS) mengundang kontroversi luas. Banyak kalangan Islam menuduh film itu melecehkan pesantren, melecehkan Syariat Islam, dan menuduh ajaran Islam menindas kaum wanita. Salah satunya, Ustadz Ridwan Saidi; beliau menyimpulkan bahwa film PBS sepenuhnya adalah propaganda untuk memperburuk citra Islam.

Hanung Bramantyo membela diri dengan mengatakan, bahwa film PBS adalah produk seni, bukan ajaran agama; dia tidak memiliki tendensi melecehkan Islam, pesantren, kyai, dan lainnya; dia mengaku Muslim, dan tidak ada niatan menistakan Islam; dia hanya mengangkat fakta tertentu di pesantren, agar menjadi pelajaran bagi masyarakat luas; dia hanya ingin menyuarakan tuntutan, agar Ummat Islam lebih menghargai martabat wanita; dan lain-lain.

Disini ada 10 pertanyaan untuk Hanung Bramantyo. Pertanyaan-pertanyaan ini untuk membuktikan apakah dia berkata benar, atau hanya berdusta saja dengan ucapan-ucapannya. Sekaligus pertanyaan ini untuk membantah para sineas yang berlagak idealis, tetapi mendengki kepada ajaran Islam.

[1] Apakah Hanung telah memikirkan tentang resiko kontroversi jauh-jauh hari sebelum beredarnya film PBS itu, atau ia tidak memikirkannya sama sekali?

(Sebagai seorang seniman film, adalah sangat bodoh kalau Hanung tidak memikirkan resiko kontroversi itu, sebab sebelumnya telah muncul kontroversi-kontroversi dengan hadirnya film tercela, seperti Fitna, Buruan Cium Gue, ML, dan sebagainya. Hanung pasti sudah menyadari resiko, dan dia memang sengaja ingin memicu kontroversi luas di tengah-tengah Ummat Islam. Ada baiknya sebagian aktivis Islam memperkarakan film Hanung ini ke pegadilan).

[2] Apakah film yang dibuat Hanung itu merupakan produk seni belaka, yang tidak boleh dikait-kaitkan dengan agama (Islam) sama sekali?

(Lalu bagaimana dengan film Ayat Ayat Cinta yang pernah dia sutradarai? Bukankah film itu sarat dengan muatan-muatan agama, bahkan konsumen terbesarnya pun adalah kaum Muslimin. Dalam film itu, adegan pelukan antara Fahri dengan Aisyah dibuat dengan teknik tidak bersentuhan, sebab keduanya bukan mahram. Begitu juga apa artinya “film Islami” yang dipesankan ibu Hanung kepada dirinya? Apakah itu juga hanya seni belaka? Jika demikian, duhai betapa hambarnya jiwa seorang Hanung Bramantyo. Jiwanya telah menyatu dengan seni, dan kering dari nilai-nilai agama. Na’udzubillah min dzalik).

Baca entri selengkapnya »

Iklan

Inti Kesesatan Paham Liberal

Februari 15, 2009

Beberapa hari kemarin TVOne menayangkan debat seputar kontroversi film “Perempuan Berkalung Sorban” (PBS) hasil arahan sutradara Hanung Bramantyo yang sebelumnya juga menjadi sutradara film “Ayat Ayat Cinta” (AAC). Dalam debat yang juga melibatkan pakar Zionisme Ustadz Ridwan Saidi dan tokol Liberal Musdah Mulia itu, mengemuka banyak informasi penting. Salah satu yang sangat penting dikaji adalah KONSEP BERAGAMA para penganut ajaran Liberalisme. Konsep itu sangat tampak dalam pemikiran Musdah Mulia dan pemikiran-pemikiran Hanung Bramantyo sendiri.

Tetapi pemikiran seperti itu bukan monopoli Musdah Mulia, tetapi juga sering diucapkan oleh Ulil Abshar Abdala, Luthfi Syaukani, Nong Darol, Abdul Moqsith Ghazali, Gunawan Mohamad, dan lainnya. Karena begitu seringnya diulang-ulang di berbagai kesempatan, akhirnya kita memahami bahwa hal itu merupakan salah satu misi inti gerakan kaum mosionaris Liberal itu.

Inti pemikiran kaum Liberal, termasuk yang berulang kali disampaikan Musdah Mulia dalam debat di atas, antara lain sebagai berikut: “Kita harus memahami Islam secara rasional, sesuai dengan semangat jaman. Kita membutuhkan Islam yang membebaskan, Islam yang menjunjung tinggi martabat wanita, Islam yang menghargai kesetaraan gender, Islam yang ramah, Islam yang anti kekerasan, Islam yang anti KDRT, Islam yang humanis, Islam yang bijak, Islam yang toleran, Islam yang pluralis, dan lainnya.

Percayakah Anda semua, bahwa disini kita dapati INTI KESESATAN para penganut ajaran Liberal itu? Sungguh, disini kita mendapati inti kesesatan seluruh ajaran agama Liberalisme. Walhamdulillah, dengan pertolongan Allah.

Sebagaimana namanya Liberalisme, membebaskan manusia untuk menafsikan teks-teks ajaran Islam sesuka hatinya, dengan cara apapun, bahkan sekasar apapun. Tidak heran jika disana ada orang-orang terkutuk yang meghujat Islam, seperti penulis buku “Lubang Hitam Agama”, menggugat keotentikan Al Qur’an, ambisi mengedit Al Qur’an, melecehkan Sunnah Nabi, merusak sejarah Islam, mengatakan Al Qur’am sebagai kitab suci paling o, dan sebagainya.

Lalu apakah inti kesesatan ajaran Liberal itu?

Baca entri selengkapnya »


Nia Dinata dan Logika Kain Kafan

Oktober 24, 2008

Kemarin malam digelar kembali debat terbuka di TV antara pihak yang pro RUU Pornografi dan yang anti RUU. Saya tidak mengikuti secara keseluruhan, hanya sempat melihat bagian terakhir, debat antara Nia Dinata (sutradara film) dan Feri Omar Farouk (pendukung kampanye Jangan Bugil di Depan Kamera).

Semula tersiar kabar RUU Pornografi akan disahkan DPR sekitar tanggal 23 Oktober, ternyata ditunda lagi. Ini adalah penundaan untuk kesekian kalinya. DPR yang telah bekerja sejak 4 tahun lalu, bahkan sejak 10 tahun lalu, tidak kelar-kelar menggolkan RUU yang isinya sekitar 40 pasal itu. Demi perlindungan moral masyarakat betapa lelet-nya kerja DPR. Bandingkan kalau mereka menggarap RUU politik, rapat-rapat maraton pun akan digelar untuk mengejar deadline.

Nia Dinata, Riri Riza, Dian Sastro, Ayu Utami, Rieke Dyah Pitaloka, dll. sudah sangat terkenal perlawanan mereka terhadap gerakan anti pornografi, khususnya melalui upaya legislasi untuk menghasilkan RUU Pornografi (Semula RUU Anti Pornografi Pornoaksi – RUU APP). Di balik mereka ada Mbah Dur, Gunawan Mohamad, aktivis JIL, Ratu Hemas, dan seterusnya.

Menarik sekali kalau mencermati perilaku kaum pembela kebebasan seni, liberalisasi budaya, dan pornografi itu. Sejak dulu mereka melontarkan alasan-alasan yang banyak dan bermacam-macam. Alasan-alasan mereka tampak keren dan cerdas, tapi alhamdulillah bisa dijawab tuntas oleh para pembela gerakan anti pornografi. Salah satu contoh baik ialah saat Musdah Mulia (guru besar UIN Jakarta) berdebat dengan seorang ustadz HTI. Musdah dibuat tidak berkutik, sehingga keluarlah sifat-sifat asli kewanitaannya, nervous dan emosional.

Para pendukung pornografi selalu memperbaharui alasan-alasan mereka. Setiap satu alasan dibantah, mereka segera bergeser ke alasan lain; ketika alasan baru itu juga dibantah, mereka bergeser ke alasan lainnya lagi; begitu seterusnya, sampai tidak ada satu pun alasan mereka yang tersisa. Setelah mereka kehabisan modal alasan, mereka balik lagi ke alasan pertama, lalu ke alasan kedua, ketiga, dan seterusnya. Mereka tidak pernah tulus ingin bicara tentang pornografi; alasan-alasan mereka hanyalah cover untuk menunda-nunda pengesahan RUU Pornografi. Semakin lama proses pengesahan itu berjalan, semakin tebal “upah perjuangan” yang didapat. Singkat kata, ini adalah “profesi” baru, menunda-nunda pengesahan RUU untuk melayani kepentingan industri kapitalis liberal. Soal “alasan cerdas”, itu mudah dibuat, tinggal diskusi, sharing, brain storming, dapat sudah ide “kreatif”.

Dalam debat di TVOne di atas, hampir tidak ada alasan baru dari seorang “pekerja seni” seperti Nia Dinata. Dia hanya mengulang-ulang lagu lama yang sudah terlalu sering diputar. Dari sisi intelligence atau smartness, para pendukung industri pornografi tidak memiliki ide yang layak.

Disini saya ingin mengulas sedikit cara berpikir Nia Dinata. Tetapi tujuannya bukan untuk membantah, sebab pemikiran-pemikiran mereka sudah terlalu sering dibantah. Kita hanya ingin bersenang-senang dengan aktivitas membela moralitas masyarakat. “Ya, it’s just for fun,” pinjam istilah anak-anak muda.

Baca entri selengkapnya »


Musdah Mulia dan Nikah Beda Agama

Oktober 11, 2008

Pengantar

Akhir-akhir ini sangat banyak masalah yang dihadapi Ummat Islam Indonesia. Selesai satu persoalan, segera muncul persoalan-persoalan lain. Sementara respon kita atas masalah-masalah itu rata-rata lambat, lemah, dan sporadis. Saat suara kalangan Islam phobia bisa berpengaruh kuat mengarahkan kebijakan publik, maka suara dakwah Islam terdengar sangat lemah. Hal semacam ini terjadi berulang kali menyebabkan kekalahan-kekalahan di berbagai medan pertarungan pemikiran melawan ideologi-ideologi sekuler. Pada gilirannya nanti, kekalahan itu semakin terakumulasi, meresap dalam, mengkristal, dan akhirnya terstrukturisasi dalam bentuk kekalahan peradaban. Di titik itu, seruan-seruan para dai seperti “angin yang membentur karang”, tidak didengar, tidak dihargai, hanya diacuhkan saja.

Saat kita merasa sepele atas serangan-serangan yang terus dilancarkan kalangan Islam phobia (apapun ideologi mereka); atau kita terlalu paranoid sehingga tidak berani berbuat apapun, meskipun sekedar bersuara; atau kita selalu berlindung di balik alasan “sekarang belum waktunya”; sebenarnya saat itu kita sedang bersungguh-sungguh menggali kekalahan Islam, sedalam-dalamnya. Na’udzubillah wa na’udzubillah min dzalik. Lihatlah, betapa kreatifnya para pemuda Islam saat mencari alasan, hujjah, atau dalil untuk menghindari resiko perjuangan. Mereka terus mencari-cari udzur (alasan pembenar), bahkan udzur yang sangat mustahil sekalipun; pada saat yang sama mereka mencela para munafikin Madinah yang selalu meminta udzur kepada Nabi shallallah ‘alaihi wa sallam. Saat ini, kegemilangan Islam hanya tinggal retorika saja, tanpa wujud dan eksistensi. Memalukan memang; tetapi apalah artinya rasa malu ketika kita telah terbiasa menikmati hidup tanpa perasaan itu, dimanapun dan kapanpun. Allahu Akbar, walillahil hamdu.

Ya Allah, kuatkanlah diri kami, luaskanlah rahmat-Mu, lindungi kami dari kezhaliman musuh-Mu. Semata kepada-Mu kami menghiba dan mengadukan kemalangan diri. Ya Allah, tidak ada yang sia-sia dalam kesungguhan, kepedulian, dan pengorbanan, sebab Engkau tidak menyalahi janji. Rahmati kami ya Rahmaan ya Rahiim. Allahumma amin.

Baca entri selengkapnya »


Mengapa Mereka Benci RUU Pornografi?

September 20, 2008

Berita MetroTV petang, 18 September 2008, mengangkat diskusi ringan soal rencana pengesahan RUU Pornografi. Disana tampil anggota dewan yang anti RUU Pornografi dari Fraksi PDIP dan yang mendukung RUU dari Fraksi PAN. Untuk kesekian kalinya kita membuka halaman debat kusir soal RUU Pornografi (dulu RUU Anti Pornografi Pornoaksi). Tahun 2006 lalu Ummat Islam menggelar “Aksi Sejuta Ummat” di Monas menuntut RUU APP segera disahkan, tetapi realisasinya alot amat. Sebagian kalangan sudah gemas melihat perkembangan media-media pornografi, sementra yang lainnya oke-oke aja.

Untuk melihat perdebatan baru ini, kita perlu lebih jujur memahami konstruksi sikap orang-orang yang anti RUU Pornografi. Istilahnya, “Jangan ada dusta di antara kita.” Hal itu dimaksudkan agar kita tidak keletihan menghadapi alasan-alasan mereka yang terus diperbaharui itu. Ketika satu alasan dibantah, segera muncul alasan berikutnya, termasuk yang paling naif sekalipun. Begitu terus berlangsung, setiap ada jawaban selalu ada alasan baru. (Kata anak-anak, capek deh!). Dengan memahami desain sikap mereka, akan membantu kita lebih konsisten dengan masalah ini. Semoga Allah Ta’ala memudahkan perjuangan Ummat. Amin.

Disini saya akan ungkap alasan-alasan kalangan anti RUU Pornografi. Sebagai tambahan, pihak-pihak yang menentang RUU itu tidak jauh dari komunitas PDIP, PDS, gerakan SEPILIS, seniman liberal, LSM anti Syariat Islam, Mbah Dur, komunitas gereja, media massa sekuler, dan semisalnya.

Cukup UU dan KUHP

Alasan paling standar dari kalangan anti RUU Pornografi adalah soal UU dan KUHP. Kata mereka, selama ini sudah ada UU Perlindungan Anak, ada KUHP, dll. Sudah banyak produk UU yang bisa digunakan untuk menjerat media-media pornografi dan model-model yang menjadi pelaku porno aksi. “Sudah pake aja UU yang ada. Tak usah bikin UU baru. Yang sudah aja manfaatkan sebaik mungkin, itu sudah cukup!” kata mereka.

Cara mematahkan alasan di atas sangat mudah, yaitu: “Kalau memang semua UU itu efektif bisa mencegah penyebaran media pornografi, mengapa sampai saat ini masih banyak produk-produk pornografi beredar luas? Itu artinya UU-nya mandul, sebab tidak mengatur masalah ini secara spesifik.”

Mereka akan balik membantah, “Ya, itu artinya penegakan hukumnya yang lemah, bukan UU-nya yang salah! Jangan salahkan UU-nya, tapi salahnya penegakan hukumnya yang lemah.”

Kita pun bisa menjawab balik, yaitu:

“Pertama, Anda katakan penegakan hukum lemah. Berarti disini ada pihak-pihak yang tidak menunaikan amanah hukum dengan baik. Pihak itu bisa kepolisian, kejaksaan, atau kehakiman. Mereka bisa disebut telah melanggar hukum karena tidak melaksanakan amanah penegakan hukum dengan baik. Kalau begitu apakah Anda telah menuduh kepolisian, kejaksaan, dan kehakiman telah melanggar hukum karena tidak melaksanakan UU/KUHP dengan benar? Tolong Anda sebutkan bukti-bukti pelanggaran hukum mereka, karena tidak menegakkan hukum secara baik! Kalau ada bukti-buktinya, hal itu bisa menjadi modal melakukan class action untuk menuntut tanggung-jawab mereka.”

“Kedua, UU atau KUHP yang ada saat ini hanya memberikan aturan yang sifatnya general (umum), sehingga tidak efektif lagi untuk menghadapi realitas perkembangan media pornografi, teknologi yang dipakai di dalamnya, modus penyebaran, pelaku, motiv bisnis dan sebagainya. Realitasnya sudah sangat komplek, tetapi ketentuan-ketentuan hukum yang digunakan sudah ketinggalan jaman. Bayangkan, untuk fenomena pornografi yang telah sedemikian rumit hanya cukup dihadapi dengan beberapa gelintir pasal saja. Itu menunjukkan bahwa bangsa kita tidak memiliki komitmen moral. Soal moral hanya omong kosong doang!”

Kalau mereka terus beralasan dengan lemahnya penegakan hukum, mereka harus tunjukkan bukti-bukti kongkretnya kelemahan itu, jangan hanya teori saja. Tunjukkan bagaimana kasusnya, apa buktinya, siapa pelaku “kelemahan penegakan hukum” itu! Sekali lagi, jangan omdo atau omkos!

Baca entri selengkapnya »