SBY Senang “Cari Aman”

Maret 22, 2012

1. Bukan sekarang saja regim SBY ingin menaikkan harga BBM. Hal ini sudah dua kali terjadi, dan kalau sekarang jadi, menjadi yang ketiga kalinya. Kalau dibaca, alasan yang dipakai masih sama dari waktu ke waktu. “Kenaikan harga minyak dunia. Mengurangi beban APBN dengan mengurangi subsidi BBM. Menyelamatkan perekonomian nasional.” Kalau di era SBY misalnya ada 10 kali kenaikan harga BBM, alasannya pasti sama juga. Ya, tinggal di-copy paste.

2. Lucu kalau mendengar penjelasan-penjelasan Menteri ESDM Jero Wacik, lewat forum-forum diskusi di TV. “Tidak mungkinlah pemerintah ingin menyengsarakan rakyatnya. Setahu saya selama bekerja di kabinet Pak SBY, tidak ada alasan politik seperti itu. Kalau pemerintah menaikkan harga BBM karena ingin ada alasan untuk memberikan BLT, biar citra politiknya naik. Wah, itu jahat namanya.” Sosok seperti Pak Jero Wacik ini seperti politisi lugu yang benar-benar baru belajar politik. Dia berbicara dalam tataran “etika” dan “tatakrama”. Padahal dalam realitas sebenarnya, kondisi rakyat Indonesia tidak memperbolehkan lagi untuk ditipu dan dikibuli, apapun caranya. Termasuk dengan retorika “pura-pura tidak tahu”. Ya, kita bisa melihat kesungguhan Pak Jero Wacik dalam membela rakyat dari bukti berupa foto dia di depan caddy-caddy seksi di lapangan golf Halim. Andaikan Pak Jero Wacik “tidak jahat”, tidak perlu muncul foto seperti itu.

 

3. Dampak paling mematikan dari kenaikan harga BBM adalah efek domino dan eskalasi pengaruh-nya yang sangat kuat dalam meningkatkan kemiskinan dan penderitaan rakyat. Dalam salah satu pidatonya, Ny. Ani Yudhoyono mengklaim bahwa pilihan kenaikan harga BBM merupakan “pilihan terpaksa” demi menyelamatkan ekonomi nasional. Sebenarnya bukan “kepaksa” Bu, tapi malas; tidak mau bekerja keras dan berani mengambil resiko. Regim SBY sudah dikenal sebagai regim paling “cari aman”. Tidak mau berkeringat dan menunjukkan harga diri di hadapan para penekan (asing atau lokal).

4. Banyak sekali sektor-sektor yang bisa diperbaiki, selain melaksanakan opsi kenaikan BBM. Antara lain: meningkatkan lifting produk migas nasional, memangkas mata rantai perdagangan migas, memperbesar peranan Pertamina dalam eksplorasi minyak di Indonesia, mengutamakan konsumsi gas untuk dalam negeri, meningkatkan negosiasi royalti pertambangan dengan pihak asing, memberantas praktik korupsi di segala sektor (dimulai dari korupsi di tubuh Partai Demokrat), mengurangi jumlah PNS dan meningkatkan kinerja mereka, meningkatkan pendapatan pajak, terutama dari perusahaan-perusahaan besar dan asing, menggunakan multi mata uang dalam jual-beli migas; dan lain-lain jalan keluar. Seharusnya, opsi memotong subsidi untuk rakyat, mestinya menjadi opsi terakhir, ketika jalan-jalan lain sudah tidak ada. Tapi kita tahu, pemerintah SBY ini amat sangat mau enaknya saja, mau gampangnya saja.

5. Adalah hak rakyat untuk mendapatkan subsidi negara. Negara itu dibangun untuk siapa sih? Untuk rakyat kan. Lalu mengapa pemerintah SBY selalu merasa sangat bersalah kalau menyisihkan dana untuk rakyat? Padahal hakikatnya SBY itu kan digaji oleh rakyat. Sebaliknya, mereka merasa selalu termotivasi untuk memenuhi perjanjian-perjanjian dengan lembaga internasional seperti IMF dan Bank Dunia. Sebenarnya, mereka itu pembela rakyat, atau antek asing ya? Urusan rakyat selalu dikorbankan demi memenuhi standar harga minyak NYMEX di New York. Apalagi menurut seorang ekonom, UU yang dipakai untuk menaikkan harga BBM itu sudah dibatalkan oleh keputusan MK.

6. Rakyat Indonesia bisa dikatakan “ada”, tetapi juga “tiada”. Maksudnya, secara realitas (de facto), rakyat Indonesia ada. Jumlahnya sekitar 240 juta. Belum lagi orang asing yang tinggal di negeri ini. Tetapi di mata pemerintah SBY, rakyat sebanyak itu seperti dianggap “asap” saja. Jerit-tangis, penderitaan, kemiskinan, kesusahan sosial, konflik, dan segala ancaman yang mengitari kehidupan rakyat; dianggap sepele oleh SBY dan kawan-kawan. Maka ketika SBY tidak mau mengorbankan partainya, tidak mau mengorbankan politisi demokrat, tidak mau mengorbankan para ekonom Neolib, tidak mau mengorbankan uang para konglomerat, tidak mau mengorbankan kekayaan perusahaan asing, tidak mau mengorbankan pengaruh kroni-kroninya; akhirnya rakyat yang jadi korban! Ya, rakyat adalah korban paling gampang direalisasikan.”Toh, mereka nanti juga gak akan melawan. Kalau mau melawan, kita punya Densus88. Itu saja solusinya. Gampang kan?” begitu logika simplisit mereka. Na’udzubillah min dzalik.

7. Ketika harga-harga melambung, infalasi melesat tinggi, rakyat miskin “yang terkena dampak” akan dibantu dengan BLT (BLSM). Masya Allah, ini benar-benar pemerintahan primitif. Di zaman semaju ini ada pemerintahan membagi-bagikan uang gratis. Masya Allah. Benar-benar bodo dan sebodo-bodonya manusia. Di negara maju dan beradab, bagi-bagi uang ini tidak dilakukan. Selain meningkatkan inflasi, memicu konflik sosial, meningkatkan mental pengemis di tengah rakyat; ya kok bodo sekali ya. Katanya, menaikkan BBM untuk mengurangi subsidi; lha kok sekarang uang negara dibagi-bagi obralan begitu? Satu sisi mengurangi subsidi, di sisi lain bagi-bagi uang secara cuma-cuma. Otak para pemimpin ditaruh dimana ya? Kenapa Anda -andaikan harus menaikkan harga BBM- mengapa tidak menaikkan dengan besaran kecil (misalnya maksimal 500 rupiah)? Mengapa lalu harus bagi-bagi uang kebohongan dan pengemisan rakyat itu? Disini terlihat jelas bahwa regim SBY amat sangat tidak manusia terhadap rakyatnya. Rakyat dianggap manusia-manusia robot yang tinggal diberi uang kalau kelaparan.

8. Berulang kali SBY curhat tentang keselamatan dirinya. Seolah seluruh rakyat dan dunia, harus concern memikirkan hak-hak eksklusif dirinya. Di sisi lain, dia tidak concern dengan hak-hak rakyat. Ini selain ketidak-adilan, juga hakikat pengkhianatan. Mengapa SBY tidak menjunjung tinggi hak-hak rakyat sebagaimana dia menjunjung tinggi hak-hak privasinya? Dimana sikap adil Anda, Pak Presiden?

9. Gerakan-gerakan sosial, termasuk gerakan mahasiswa, saat ini sedang merapat kembali untuk menuju jantung kekuasaan SBY. Mereka memberikan pilihan: “BBM naik, SBY turun!” Itu yang saya baca dari edaran yang disebarkan sebagian gerakan mahasiswa. Dari pengalaman memerintah RI sejak tahun 2004 sampai sekarang, tampak jelas hakikat sebenarnya: regim SBY lebih pro asing daripada kepada rakyat sendiri. Kebijakan-kebijakan menyengsarakan di zaman dia, banyak diarahkan oleh tangan-tangan asing. Dalam satu riwayat dikatakan, “Sebaik-baik pemimpin adalah yang mencintai kalian dan kalian mencintainya; dia mendoakan kalian, dan kalian mendoakannya. Seburuk-buruk pemimpin adalah yang membenci kalian, dan kalian membencinya; dia melaknat kalian, dan kalian melaknat dirinya.” Hikmah dari riwayat ini, kepemimpinan SBY sebaiknya dihentikan; sebelum bangsa dan negara tambah rusak gak karuan.Ya Allah, kabulkanlah harapan kami. Amin ya Rabbal ‘alamiin.

(Pak Sakerah).


Partai Demokrat Tambah Ancur Cur…

Februari 22, 2012

Baru-baru ini situs suara-islam.com memuat berita yang sangat heboh. Heboh…boh…boh. Beritanya tentang skandal seks yang pernah Ulil Abshar Abdala lakukan dengan seorang cewek bernama, Marchelinta. Parah, parah, parah banget. “Sesuatu bhangghetth…” kata anak-anak ABG.

Berita lengkapnya baca artikel berikut: FPI Buka Skandal Seks Dedengkot JIL. Disini diungkap foto-foto pesan BBM Ulil Abshar. Disana terlihat jelas foto dan nama Ulil Abshar. Parah, parah, parah baaaangghetth…

Ulil Sedang Pusing 7 Putaran…

Berikut ini kata-kata Ulil Abshar dalam BBM ketika dia merasa cemburu dengan Marchelinta: “Kamu menyakiti aku berkali2. Aku berusaha sabar. Yg terakhir kemaren itu, aku sudah tak tahan. Aku baru saja kirim bunga Valentine ke kamu, tiba2 kamu pacaran dengan cowo lain, dan kamu tunjukin di pp BB.”

Kasihan bangghetth Si Ulil. Dia sudah nafsu, sampai begitunya. Apa dia gak inget anak-isteri ya? Wal ‘iyadzubillah min dzalik.

Partai Demokrat (PD) yang sudah carut-marut, dengan tersebarnya berita ini semakin nyungsep saja. Kasihan Pak Sebeye. Mungkin sebentar lagi dia akan menggubah lagu baru, bertema melankolik. “Betapa malang nasibku… Semenjak ditinggal ibu….” Jadi teringat lirik lagu Ratapan Anak Tiri yang sangat populer saat aku duduk di bangku SD dulu. Lagu ini kalau dinyanyikan Pak Sebeye, mungkin bisa menaikkan pamornya. Meskipun tentu jadi tampak lebay sekali.

Sangat menyedihkan. Padahal Ulil Abshar ini kan menantu KH. Mustafa Bisri, seorang kyai terkenal asal Rembang. Bagaimana perasaan dia dan keluarganya ketika melihat kelakuan menantunya seperti itu?

Ya, orang-orang yang berani melecehkan Syariat Islam, dia akan dilecehkan oleh Allah Ta’ala. “Innalladzina yuhaaddunallaha wa rasulahu kubitu kamaa kubitalladzina min qablihim” (sesungguhnya orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, mereka akan dihinakan seperti telah dihinakan orang-orang sebelum mereka). [Al Mujaadilah: 5].

Kalau ada yang bertanya, bagaimana cara menghukum orang-orang seperti Ulil Abshar, atau Habib “Homoseks” Hasan bin Ja’far Assegaf (Pemimpin Majelis Taklim Nurul Mustofa) itu? Bagaimana baiknya?

Ya, kalau menurut hukum Islam, ya dihukum rajam, sampai mati. Untuk pelaku homoseks, boleh juga dihukum mati, meskipun bukan dengan rajam. Kalau tidak salah, ada pembahasan soal itu.

Kalau hukum seperti itu sulit diterapkan, bolehlah dihukum dengan beberapa alternatif berikut ini:

==> Dilemparkan ke kandang buaya, buat tambahan ransum. Biar nanti matinya pelan-pelan. Mula-mula tangan dulu ilang, lalu kaki, lalu ini, itu, dan seterusnya.

==> Atau dibuat tambahan pakan ternak.

==> Atau kalau mau, dijadikan obyek eksperimen di kandang ikan hiu. Ya, kita mau lihat, apa dagingnya masih disukai ikan itu atau tidak?

Ini hanya sekedar intermezzo. Intinya, wajah Partai Demokrat semakin gak karu-karuan. “Betapa malang nasibku…,” terdengar seorang pemimpin politik melantunkan lagu melankolik.


Anas Pasti Terjungkal!

Februari 8, 2012

Saat ini posisi politik Ketua Umum Partai Demokrat, Anas Urbaningrum, semakin terpojok. Terutama setelah Angelina Sondakh ditetapkan sebagai tersangka oleh KPK. Beberapa hari lalu, Angie (demikiaan sapaan Angelina Sondakh) berziarah ke makam suaminya, Ajie Masaid. Entahlah, apa tujuan Angie datang kesana?

Kata orang, “Tumben Angie ingat makam suaminya?” Maklum polisi sih, jadi urusan ke makam pun dilakukan sesuai “kepentingan politik”.  (Kasihan Ajie Masaid, meskipun sudah wafat, masih “diharapkan” kontribusi politiknya. He he he). Mungkin, ini semacam acara “meminta empati publik” seperti yang dilakukan Afriyani Susanti beberapa waktu lalu, saat dia hujan tangis, memohon maaf karena sudah “menghabisi” 9 nyawa manusia. Afriyani tidak pernah hujan air-mata saat berdugem-dugem ria. Mandi keringat, iya kale…

Oh ya, kembali ke Bung Anas. Nama lengkapnya, Anas Urbaningrum; sebuah paduan nama antara maskulinitas dan feminitas. Dalam khazanah bahasa Jawa kata “ningrum” itu merupakan ciri identitas perempuan. Pantesan, kalau melihat gaya publik Bung Anas; sekali waktu tampak gagah, di waktu lain terkesan “cantik”. Ah sudahlah, lupakan saja. Mari kita fokus ke konten lagi.

Dalam situasi seperti ini, banyak orang berandai-andai soal nasib Bung Anas Urbaningrum. Ada yang berteori: “Anas tetap kokoh. Dia didukung oleh Pak SBY, plus tentunya dukungan Ibu Ani Yudhoyono. Posisi Anas tetap kuat. Dia akan aman melenggang sebagai Ketua Umum PD sampai tahun 2015 nanti.” Tetapi ada juga yang berteori: “Wah, posisi Anas sangat riskan. Dia tak akan bertahan lama.” Kenapa bisa begitu, Bung? “Ya, karena citra Partai Demokrat semakin ringsek. Kalau Anas tidak segera dilengserkan, Partai Demokrat bakal tamat.” Atau mungkin ada yang berteori: “Anas, bisa kuat, bisa lemah. Tergantung situasi dan kondisinya.”

Kalau saya percaya, bahwa Anas akan terguling. Dia akan terjungkal, insya Allah. Ini keyakinan saya pribadi. Bisa benar, bisa tidak.

Mengapa saya menduga seperti itu?

Hal ini bukan soal analisis kasus Wisma Atlet, kasus Munas Demokrat di Padalarang, atau kasus Hambalang. Bukan juga masalah hitung-hitungan politik seperti yang kerap ditunjukkan oleh Burhanuddin Muhtadi atau Eep Saefullah Fatah. Bukan juga karena hitung-hitungan logika hukum versi KPK, atau versi Jakarta Lawyers Club (Karni Ilyas). Bukan pula karena hitung-hitungan survei yang macam-macam. Bukan semua itu.

Lalu berdasarkan apa?

Jawabnya, berdasarkan Hukum Keadilan.

Maksudnya bagaimana?

Mari kita buka lembaran-lembaran sejarah lagi. Dalam Pemilu 2004, kita harus ingat Bung Anas Urbaningrum masuk dalam jajaran anggota KPU. Ketika itu KPU dilanda kemelut hebat. Beberapa pejabat KPU didakwa melakukan perbuatan korupsi (melawan hukum). Akibatnya, sebagian dari mereka mendapat sanksi hukuman, seperti Prof. Dr. Nazaruddin Syamsuddin, Prof. Dr. Mulyana W. Kusumah, dan lainnya. Pejabat-pejabat itu harus dihukum, dan kini sudah bebas dari hukuman.

Sebenarnya, Anas ketika itu tersangkut masalah-masalah di KPU. Namun dia cepat-cepat berlindung di balik punggung Pak SBY dan Partai Demokrat. Di tangan PD, posisi Anas aman, nyaman, terkendali, dan berkemajuan (apaan tuh maksudnya?). Pendek kata, ketika kawan-kawan Anas sudah dijebloskan ke penjara, Anas sendiri selamat, sehat, sentausa, bernaung di bawah perlindungan politik Partai Demokrat.

Tentu saja, sikap Anas ini amat sangat menyakitkan bagi kawan-kawannya di KPU. Anas dianggap mau selamat sendiri, mencari aman, dan tidak solider dengan nasib kawan. Entahlah, apa selama menjadi anggota HMI, Anas diajari sikap-sikap nyeleneh seperti itu? Rasanya aneh ya. Tapi itulah kenyataan.

Ketika geger KPU versi 2004 itu mencuat, salah satu delik yang dituduhkan ke Anas ialah: menerima gratifikasi (suap). Anas benar-benar menerima uang itu, meskipun bukan dia sendiri yang memakainya. Ketika ditanya, bagaimana status uang tersebut? Anas mengaku, kurang lebih: “Uang itu tidak haram, tapi juga tidak halal. Jadi statusnya syubhat.” Sambil cengengesan.

Kalau tahu uang syubhat, seharusnya dijauhi ya. Tapi ini malah dibagi-bagikan ke para kawan dan kolega. Itulah Anas Urbaningrum, salah satu alumni terbaik HMI, dengan sikap keagamaannya yang ambigu (aneh).

Setelah masuk Demokrat, Anas bukan saja terlindungi, tetapi semakin mencorong pamornya. Karier politik Anas melesat jauh tinggi. Kalau di dunia entertainment, mungkin semujur nasib Sule itulah.

Nah, dalam konteks sejarah Anas di masa lalu; sikapnya yang mencari selamat, tidak solider kepada kawan, dan juga kenyataan bahwa kawan-kawannya sudah dijebloskan ke penjara; tampaknya Anas akan mengikuti langkah itu.

Secara logika politik manusia bisa ngomong apa saja, selicin komentar-komentar Burhanuddin Muhtadi, sang pakar “politico mathematic” (mengkaji politik dengan pola pikir Matematik, he he he). Tetapi dalam rentangan sejarah dan hukum keadilan; Anas tidak akan bisa lari. Para Malaikat sudah menandai punggung dan dahinya. Hanya tinggal menanti momen yang tepat.

Bung Anas pasti terjungkal… Sebagai sunnah berlakunya hukum keadilan dalam kehidupan. Bukan hanya Bung Anas, tetapi juga “Bos Besar” dan “Ketua Besar” (dalam konteks ini, baca sebagai: Es-Be-Ye). Hanya soal waktu saja!

Wa lan tajida li sunnatillahi tabdila… Dan sekali-kali kamu tidak akan pernah melihat Sunnah Allah itu berubah.

Selamat menanti, Bung Anas! Ingat, kawan-kawan Anda di KPU 2004 sudah ada yang dijebloskan ke penjara. Dalam doa-doanya, mereka mungkin merintih agar Anda juga mendapatkan sanksi yang setimpal. Iya gak…

Mine.


SBY dan “9 Malapetaka Terorisme”

September 27, 2011

Bismillahirrahmaanirrahiim.

FAKTA: Hari Minggu, 25 September 2011, sekitar pukul 10.55 WIB, seorang pemuda, diperkirakan usia 31 tahun, melakukan aksi bom bunuh diri di Gereja Kepunton Solo. Akibat aksi ini satu orang tewas -dengan usus terburai- yaitu si pelaku peledakan itu sendiri, dan puluhan jemaat gereja terluka. Menurut kabar, pelaku peledakan itu diperkirakan namanya Ahmad Yosefa.

Pagi hari terjadi peledakan bom, sore harinya SBY langsung membuat konferensi pers. Isi konferensi pers: dia menyebut peledakan itu sebagai aksi pengecut, dia menyebut pelaku peledakan itu ialah “jaringan Cirebon”, dan dia kembali memastikan bahwa Indonesia belum aman dari aksi-aksi terorisme.

Pernyataan SBY ini setidaknya mengandung dua masalah besar: Pertama, dia begitu cepat memastikan bahwa pelaku peledakan itu adalah ini dan itu. Hanya berselang beberapa jam SBY sudah memastikan, padahal hasil penyelidikan resmi dari Polri belum dikeluarkan. Hal ini mengingatkan kita kepada Tragedi WTC 11 September 2001. Waktu itu media-media Barat sudah memastikan bahwa pelaku peledakan WTC adalah kelompok Usamah, hanya sekitar 3 jam setelah peristiwa peledakan. Seolah, SBY sudah banyak tahu tentang seluk-beluk aksi bom bunuh diri di Kepunton Solo tersebut. Kedua, SBY untuk kesekian kalinya tidak malu-malu mengklaim bahwa kondisi Indonesia masih belum aman dari aksi-aksi terorisme. Kalau seorang pemimpin negara masih berakal sehat, seharusnya dia malu dengan adanya aksi-aksi terorisme itu. Tetapi sangat unik, SBY tampaknya sangat “menikmati” ketika kondisi Indonesia tidak cepat lepas dari aksi-aksi terorisme.

Bila Masanya Tlah Tiba, Seseorang Akan Dikejar Bencana, Sekalipun Dia Bersembunyi di Pucuk Gunung Atau Liang Semut…

Setiap ada aksi terorisme, dimanapun juga, termasuk di Indonesia, kaidahnya sederhana. Aksi terorisme bisa dibagi menjadi 3 jenis: (a). Aksi yang benar-benar murni dilakukan oleh pelaku terorisme dengan alasan ideologis. Mereka melakukan teror karena kepentingan ideologi, dan menjalankan aksi itu dengan persiapan-persiapan sendiri. Aksi-aksi yang dilakukan oleh IRA di Irlandia, Basque di Spanyol, atau kelompok David Coresh di Amerika termasuk jenis ini;

(b). Aksi terorisme yang dibuat oleh aparat sendiri dalam rangka mencapai tujuan politik tertentu. Aparat yang merancang dan mereka pula eksekutornya. Contoh monumental aksi demikian ialah peledakan WTC yang dilakukan oleh dinas intelijen Amerika sendiri; (c). Aksi yang dilakukan oleh pihak-pihak tertentu (misalnya kelompok Jihadis) yang ditunggangi oleh aparat. Penyusun aksi itu sebenarnya aparat, tetapi eksekutornya diambil dari kalangan Jihadis yang mudah dipengaruhi dan diprovokasi. Aksi peledakan bom itu sangat mudah dibuat oleh mereka yang punya DANA, INFORMASI, dan AKSES SENJATA. Sedangkan sudah dimaklumi, aparat keamanan memiliki itu semua. Mereka bisa membuat aksi peledakan dimanapun, lalu aksi itu diklaim dilakukan oleh pihak ini atau itu.

Malapetaka. Dalam bahasa Inggris disebut “disaster”. Dalam bahasa Arab disebut bala’. Seseorang disebut mendapat malapetaka ketika dia tertimpa keburukan, mushibah, kemalangan, atau penderitaan; karena telah melakukan kedurhakaan atau kezhaliman kelewat batas. Contoh manusia yang mendapatkan malapetaka ialah George Bush. Begitu hinanya manusia itu, sehingga dia dilempar sepatu ketika berbicara di Irak. Tidak pernah ada kepala negara dilempar sepatu sehina itu, selain George Bush.

SBY dalam hal ini juga bisa dikatakan, telah mendapat “malapetaka terorisme”. Mengapa SBY dikatakan telah mendapat “malapetaka terorisme”? Alasannya, karena: (a). Dia banyak didoakan mendapat malapetaka oleh semua aktivis Islam yang mendapat kezhaliman dan penistaan akibat isu-isu terorisme itu, beserta keluarga dan kerabat mereka. Mereka mendoakan bersama agar SBY mendapat laknat dari Allah Ta’ala; (b). Dia didoakan mendapat malapetaka oleh setiap Muslim yang merasa muak dan benci akibat peristiwa-peristiwa terorisme yang penuh rekayasa, demi menjelek-jelekkan para aktivis Islam itu. Begitu muaknya masyarakat, sampai pernah beredar ajakan agar mematikan TV ketika disana ada SBY sedang pidato; (c). SBY mendapat malapetaka langsung dari Allah akibat segala dosa-dosa dan kezhalimannya kepada kaum Muslimin, kepada bangsa Indonesia, dan alam sekitarnya.

Setidaknya disini ada “9 Malapetaka Terorisme” yang menimpa SBY sepanjang karier kepemimpinnanya. Angka 9 sesuai dengan “angka keramat” yang sering dielu-elukan oleh SBY sendiri.

Malapetaka 1: SBY adalah seorang “Presiden Terorisme”. Maksudnya, dia adalah satu-satunya Presiden RI yang paling banyak berurusan dengan isu teorisme. Bahkan, SBY tidak memiliki prestasi apapun yang bernilai, selain dalam mengurusi isu terorisme itu sendiri. Tidak ada Presiden RI yang begitu gandrung dengan isu terorisme, selain SBY. Tidak ada Presiden/PM di negeri-negeri Muslim yang begitu intensif bergelut dengan isu-isu terorisme, selain SBY. Bahkan tidak ada presiden negara dimanapun, setelah George Bush, yang begitu getol dengan isu terorisme, selain SBY. Singkat kata, SBY bisa disebut sebagai “George Bush-nya Indonesia“.

Malapetaka 2: SBY terbukti merupakan Presiden RI yang sangat sentimen kepada aktivis-aktivis Islam, bahkan sentimen kepada Ummat Islam. Di sisi lain, SBY sangat peduli dengan nasib minoritas non Muslim. Banyak fakta yang membuktikan hal itu.

Saat terjadi peledakan bom di Kepunton Solo, SBY begitu cepat bereaksi. Dia mengecam tindakan aksi bunuh diri tersebut. Tetapi ketika terjadi kerusuhan di Ambon, sehingga beberapa orang Muslim meninggal, ratusan rumah dibakar; ternyata SBY diam saja. Dia tak bereaksi keras, atau mengecam.

Ketika seorang jemaat gereja HKBP mengalami penusukan di Cikeuting, SBY langsung bereaksi keras. Padahal jemaat itu hanya luka-luka saja. Bahkan yang terluka juga termasuk aktivis Muslim. Tetapi terhadap puluhan pemuda Islam yang dibunuhi Densus88 di berbagai tempat; terhadap ratusan pemuda Islam yang ditangkap, ditahan, dan disiksa; terhadap ratusan keluarga pemuda-pemuda Muslim yang terlunta-lunta; ternyata SBY hanya diam saja, atau pura-pura tidak tahu.

Ketika terjadi insiden Monas yang menimpa anggota Jemaat Ahmadiyyah, Juni 2008 di Jakarta, SBY bereaksi keras. Dia mengecam ormas Islam anarkhis. Kata SBY: “Negara tidak boleh kalah oleh kekerasan!” Hebat sekali. Tetapi ketika Ustadz Abu Bakar Ba’asyir berkali-kali diperlakukan kasar, galak, dan penuh tekanan; padahal beliau sudah tua dan sakit-sakitan. Ternyata SBY tak pernah mau peduli.

Ketika terjadi pelatihan militer oleh sebagian kelompok Islam di Jantho Aceh. Dilakukan di tengah hutan, tanpa ada korban atau aksi kekerasan apapun, ia dianggap sebagai aksi terorisme. Para pelakunya ditahan, sebagian ditembak mati. SBY membiarkan perlakuan keras itu. Tetapi terhadap gerakan OPM di Papua yang jelas-jelas bersenjata dan menyerang aparat berkali-kali, SBY tidak pernah menyebut gerakan OPM sebagai terorisme.

Ketika para penari Cakalele mengibarkan bendera RMS di depan mata SBY, dia tak bersikap tegas. Padahal itu benar-benar penghinaan di depan mata dia. Tetapi ketika ada sebagian orang membuat aksi demo dengan membawa kerbau yang ditulis “Sibuya”, SBY begitu marah.

Intinya, SBY sudah terbuksi sangat NYATA dan JELAS, bahwa dia sangat membenci pemuda-pemuda Islam, dan sangat pengasih kepada kalangan minoritas non Muslim; meskipun gerakan mereka membahayakan NKRI. Kaum Muslimin yang banyak jasanya bagi negara dibiarkan dianiaya, sedangkan kaum minoritas selalu mendapat pembelaan penuh.

Malapetaka 3: Dalam masa kepemimpinan SBY sangat banyak bencana-bencana alam, mulai dari Tsunami, gempa bumi, banjir, tanah longsor, gunung meletus, kekeringan, lumpur Lapindo, kecelakaan tragis, dll.

Malapetaka 4: Dalam masa kepemimpinan SBY kondisi perekonomian Indonesia mengalami kemerosotan hebat. Inflasi tinggi, hutang luar negeri membengkak sampai Rp. 1733 triliun, pengangguran merebak, dominasi asing sangat kuat di segala sektor, beban anggaran negara sangat berat, dll.

Malapetaka 5: Di masa kepemimpinan SBY praktik korupsi merebak, mewabah, merajalela. Pejabat pemerintah seperti Gubernur, Bupati, Walikota banyak ditahan. Anggota DPR, menteri-menteri terlibat korupsi. Bahkan korupsi menyentuh aparat hukum seperti kepolisian, kejaksaan, kehakiman. Tidak terkecuali, para politisi Partai Demokrat juga dirundung banyak masalah korupsi, seperti yang diungkapkan Nazaruddin. Isu korupsi yang menimpa Partai Demokrat sangat berat.

Malapetaka 6: Melalui laporan Wikileaks yang dipublikasikan koran Australia, Sydney Herald Morning dan The Age, SBY dituduh menyalah-gunakan kekuasaan untuk melakukan korupsi dan kejahatan politik. Keluarga SBY dituduh memanfaatkan posisi SBY untuk memperkaya diri. Isteri SBY, Bu Ani Yudhoyono malah disebut sebagai “broker proyek”. Belum pernah ada Ibu Negara di Indonesia mendapat sebutan demikian, selain isteri SBY. Ironinya, yang melaporkan berita-berita itu justru Kedubes Amerika Serikat, yang notabene kawan SBY sendiri; pelapornya, menteri-menteri SBY sendiri; dan publikasi oleh media Australia yang notabene adalah kawan SBY dalam pemberantasan terorisme.

Malapetaka 7: Pernyataan SBY tentang negara Amerika tersebar luas di tengah masyarakat. Pernyataan itu berbunyi, kurang lebih: “America is my second country. I love It, with all of faults.” Pernyataan ini tersebar dimana-mana, yang menjelaskan bahwa SBY tidak memiliki komitmen nasionalis. Dia memiliki sifat KHIANAT terhadap bangsanya sendiri. Tidak heran, kalau dalam pidato-pidatonya, SBY sangat senang memakai bahasa Inggris. Lucunya, saat Obama datang ke Tanah Air, lalu berpidato berdua bersama SBY; SBY harus berkali-kali dibisiki oleh Menlu Marty Natalegawa tentang isi pidato Obama tersebut. Forum yang seharusnya bisa membuat SBY dipandang mulia, malah membuatnya “kasihan deh lo”.

Malapetaka 8: Dapat disimpulkan, bahwa SBY adalah satu-satunya Presiden RI yang tidak memiliki kemampuan apa-apa. Sama sekali tak memiliki kemampuan. Kemampuan satu-satunya SBY ialah membuat PENCITRAAN. Dari sisi kemampuan manajemen tidak ada; wawasan ekonomi, tak ada; ilmu pertanian, nol besar; wawasan bela negara, kosong melompong; kemampuan diplomasi, sami mawon; kemampuan retorika, nilai 4; kemampuan sains, wah tambah parah; dan seterusnya. SBY nyaris tak memiliki kelebihan apapun, selain membuat pencitraan. Sebagian purnawirawan jendral menyebut SBY sebagai “jendral salon”, “jendral kambing”, “terlalu banyak membaca”, dan sebagainya. Ini adalah penilaian yang sangat memprihatinkan.

Mapaletaka 9: …hal ini belum berjalan, dan akan terus berjalan sampai disempurnakan oleh Allah Ta’ala. Bentuknya, kita tidak tahu; bisa apa saja, sesuai kehendak-Nya. Kita hanya bisa menanti.

Apa yang disebut disini bukanlah fitnah atau cerita dusta. Ia benar-benar ada. Hanya saja, mungkin sebagian orang menyebutnya dengan istilah “kesialan SBY”, “mushibah bersama SBY”, “kelemahan SBY”, “malapetaka bersama SBY”, “kehancuran nama SBY”, dan lain-lain. Dalam tulisan ini, ia disebut “malapetaka”, sesuai dengan makna kata itu sendiri.

Ya, silakan Pak SBY, lanjutkan hidup Anda; lanjutkan apa saja yang Anda sukai; toh setiap orang berhak berbuat dan memutuskan, sedangkan dosa-dosa dan akibat, akan dia tanggung sendiri. Pak SBY ini sudah “masuk kantong”, karena dia sangat sentimen kepada para aktivis-aktivis Islam, terlalu jauh bermain-main dalam ranah kezhaliman isu terorisme; akibatnya banyak orang menyumpahi dan mendoakan malapetaka baginya.

“Semakin seseorang terjerumus jauh dalam kezhaliman kepada kaum Muslimin, semakin perih akibat yang tertanggung dalam dirinya, keluarganya, dan kehidupannya.”

Nas’alullah al ‘afiyah lana wa lakum ajma’in.

Bandung, 27 September 2011.

AM. Waskito.


Antara SBY dan PKS…

Maret 3, 2011

Beberapa hari lalu, 1 Maret 2011, sekitar jam 5 sore, SBY menyampaikan pidato politik tentang KOALISI partai-partai politik dengan Partai Demokrat. Ketika massa FPI dan FUI melakukan tekanan ke Istana, SBY mengalihkan perhatian publik ke soal KOALISI.

Singkat kata, SBY sebagai Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat (PD) merasa kecewa dengan sikap partai-partai koalisi yang justr bersikap “menusuk” Pemerintah. Khususnya, dalam proses penentuan Hak Angket Mafia Pajak di Parlemen. Dalam proses itu, para penentang pemakaian hak angket menang tipis dibandingkan para pendukung. Disana, PD merasa telah dikhianati oleh anggota-anggota DPR dari PKS dan Golkar. “Katanya koalisi, kok mereka setuju pemakaian hak angket sih?” begitulah logikanya.

Wajah Politik “Benci Tapi Rindu”. (Sumber gambar: inilah.com).

Dalam pidatonya, seperti biasa, SBY dengan bahasa berputar-putar, diindah-indahkan, dilembut-lembutkan, dibijak-bijakkan; akhirnya memberi peringatan kepada partai koalisi agar bersikap searah dengan kebijakan politik Partai Demokrat. Bila tidak mau demikian, mereka akan didepak dari KOALISI dengan Demokrat.

Beberapa komentar…

[1]. SBY sejak dulu tak pernah bersikap tegas. Sikap tegasnya baru keluar ketika menghadapi aksi kekerasan oleh pemuda-pemuda Muslim, atau ketika terjadi aksi bom-boman di suatu tempat (terorisme). Kalau sikap politik, SBY nyaris tidak pernah tegas. Bahasanya, ya begitu-begitu saja. Seolah, Pak SBY ini diciptakan untuk tidak menjadi laki-laki. Sayang sekali. Dalam berbagai persoalan, sulit sekali menemukan sosok ketegasan SBY.

[2]. Pernyataan politik itu sebenarnya diarahkan secara khusus ke PKS.  Bukan ke Golkar. Kekuatan politik PKS dan infrastruktur politiknya kan masih terbatas, belum sebesar Demokrat, Golkar, atau PDIP. Ya, PKS di tingkat pertengahan lah. Karena kekuatan semacam itu, PKS sering sekali diancam-ancam oleh Demokrat. Sedang Demokrat atau SBY tidak berani macam-macam ke Golkar, sebab Golkar selain suara besar, pengalaman banyak, infrastruktur juga kuat. Secara infrastruktur, Golkar lebih kuat daripada Partai Demokrat. Seharusnya, kalau tujuannya mengancam PKS, tidak usah membuat pidato-pidato macam begitu. Langsung kirim surat saja, atau kirim utusan ke DPP PKS. Itu lebih safety dan elegan. Jadi, nantinya tidak usah melibatkan masyarakat luas dan media.

[3]. Dalam pidatonya, SBY lagi-lagi mengatakan: “Saya mendapat banyak masukan, SMS, saran-saran, dari berbagai pihak.” Sangat mengherankan sekali. Ini presiden seneng banget baca SMS. Setiap ada SMS masuk, langsung baca. Coba lah sekali-kali pidato itu secara gentle. Kalau hati Anda tidak suka dengan PKS, katakan saja, “Aku kesel sama PKS.” Jadi, tidak usah berlindung di balik, “Saya mendapat masukan, SMS, saran-saran…” Cobalah nanti kalau pidato lagi, sudah katakan apa adanya, tidak usah memakai dalih ini itu. Hal semacam ini lebih enak bagi masyarakat, karena mengurangi “POLUSI KALIMAT”. (Ternyata, bukan hanya ada polusi udara, air, atau suara. Sekarang ada “polusi kalimat”. Itu tuh…terlalu banyak basa-basi).

[4]. Seharusnya Pak SBY tidak usah membawa masalah KOALISI politik ini ke ranah persoalan negara. Negara itu kan berbeda dengan urusan politik, urusan parpol, dll. Negara punya urusan sendiri, yaitu melayani rakyat, bangsa, dan masyarakat. Kalau suatu urusan tidak ada kaitannya dengan masalah rakyat abaikan saja. Kalau hal itu berkaitan dengan kepentingan politik PD, selesaikan secara politik juga. Jangan memakai mimbar negara untuk mengurusi kepentingan Demokrat. Tidak baik itu!

[5]. Sebenarnya, apa sih salahnya DPR setuju penggunaan Hak Angket Mafia Pajak? Apa salahnya? Itu kan untuk pemberantasan korupsi juga. Kok anggota DPR malah kesal dengan upaya pemberantasan korupsi di Departemen Pajak? Katanya, komitmen dengan pemberantasan korupsi. Intinya, maksud penggunaan Hak Angket itu untuk menyelesaikan korupsi. Ini seharusnya didukung, bukan ditolak. Kita bisa belajar dari kasus Hak Angket Bank Century. Meskipun, sampai saat ini masalah Bank Century digantungkan secara hukum; tetap saja disana ada manfaatnya. Apa manfaatnya? Bangsa Indonesia secara aklamasi mengakui dan menetapkan, bahwa telah terjadi korupsi dalam bailout Bank Century. Secara moral, Hak Angket Bank Century sudah sukses 100 %. Meskipun secara hukum, kasus itu masih berjalan -mungkin- 15 %. Kalau Hak Angket Mafia Pajak disetujui, siapa tahu nanti masyarakat jadi paham, bahwa ada korupsi besar di dunia perpajakan.

[6]. Sebenarnya, bukan rahasia lagi, bahwa SBY dan Demokrat sebenarnya tidak suka dengan politik PKS. Alasannya jelas, sebab PKS dianggap sebagai partai hasil bentukan gerakan dakwah Ikhwanul Muslimin di Indonesia. Banyak orang tahu itu, karena mereka membaca analisa penulis-penulis Barat atau lokal yang melakukan studi tentang PKS. Gerakan Ikhwanul Muslimin oleh partai politik semacam Demokrat itu selalu dicurigai akan melakukan tiga hal: menerapkan Syariat Islam, mengganti Pancasila, dan mendirikan negara Islam. Ketakutan politisi sekuler terhadap agenda-agenda semacam ini sangat kuat, sehingga meskipun sudah dibujuk-rayu, dikatakan bahwa PKS bukan Ikhwanul Muslimin; mereka tetap tidak akan percaya. Mereka selalu percaya bahwa PKS punya “hidden agenda”. Jusuf Kalla pun meyakini hal seperti itu.

[7]. Meskipun tidak suka dengan PKS, orang seperti SBY atau Demokrat, tetap merasa butuh PKS. PKS dianggap memiliki dua kelebihan utama dibandingkan partai-partai lainnya. Satu, PKS memiliki jaringan kader yang solid; Dua, PKS memiliki kreativitas politik yang dinamis. Maka itu, ketidak-sukaan SBY ke PKS lebih tepat diungkapkan sebagai, “Benci tapi rindu. Marah tapi butuh. Nothing, but everything!” Kekuatan PKS ini terbukti beberapa kali bisa menghantarkan SBY ke tampuk kekuasaan RI-1. Itu sudah terbukti pada Pilpres 2004 dan Pilpres 2009.

[8]. Di kalangan PKS sendiri, sebenarnya mereka lebih suka KOALISI dengan Golkar. Belajar dari pengalaman 2004-2009, sebenarnya mereka tidak suka dengan arogansi politisi-politisi Demokrat, termasuk sikap peragu SBY. Tetapi sayang, Golkar kurang nyaman dengan PKS. Mereka khawatir, PKS akan menjadikan Golkar sebagai kendaraan untuk membesarkan partai PKS sendiri. Istilahnya, numpang di pundak Golkar. Sementara, dengan PDIP para politisi PKS merasa banyak hambatan psikologis dan sosial. Adapun untuk koalisi dengan sesama partai Islam/Muslim, PKS kurang tertarik. Mengapa? Sebab PKS sudah merasa lebih kuat dari partai-partai itu. “Kalau koalisi ya dengan yang lebih kuat, bukan dengan yang lemah-lemah. Nanti kita dapat apa dari yang lemah,” begitu logikanya.

[9]. Lalu ke depan bagaimana? Seperti biasa, SBY atau Demokrat akan memainkan kartu ancam-mengancam. “Awas lho. Nanti menteri kamu akan kami ganti. Jatah menteri akan diberikan ke partai lain.” Ya, partai seperti PAN atau PKB tentu senang kalau mendengar ancaman-ancaman semacam itu. Itu sama saja dengan “pinju rejeki”. Tetapi…suatu saat, ketika SBY atau Demokrat terdesak, mereka akan datang ke PKS untuk melakukan “shilaturahmi politik” (maksudnya, minta bantuan).

Ya begitulah. Memang lucu politik seperti ini. Nanti pun kalau Nasdem jadi parpol, kemungkinan besar akan masuk juga tradisi transaksional semacam itu. PDIP termasuk konsisten tetap jadi OPOSISI sampai saat ini. Meskipun mungkin alasan utamanya, Mbak Mega pernah “sakit hati” kepada mantan menterinya, yang kini jadi Presiden RI. Tapi kalau PDIP tetap konsisten dengan sikap OPOSISI, suatu saat mereka bisa memenangi Pemilu. Ya, gimana lagi, hampir gak ada partai politik yang konsisten?

Pada hakikatnya, politik itu kan suatu ALAT yang dipakai para politisi untuk membangun kemaslahatan hidup, dan mencegah segala kerusakan yang timbul dalam kehidupan. Bahasa Islamnya, amar makruf nahi munkar. Inti politik sebenarnya kesana.

Tetapi kalau kita membaca kenyataan-kenyataan di atas, makna politik itu sudah sangat jauh bergeser. Ia telah menjadi alat untuk BEREBUT KEKUASAAN. Jadi, idenya berputar-putar saja dalam soal kekuasaan itu. Ancaman mengganti menteri, mengganti anggota DPR, mengeluarkan dari koalisi, dll. itu kan berbau kekuasaan semua. Tidak satu pun yang berbau kepentingan maslahat dan mencegah kemungkaran.

Ya begitulah, para hamba politik, para hamba dunia… Mereka lupa dengan hakikat tugas dan kehidupannya. Sayang sekali, yak!

(Politische).


Analisis: Soal Lagu Ciptaan SBY di Test CPNS

Oktober 16, 2010

Seperti sudah sama-sama dimaklumi, media massa lagi ramai membicarakan pertanyaan seputar judul lagu ciptaan SBY, pada test CPNS di Kementrian Perdagangan, 12 Oktober 2010. MetroTV sampai mengangkat isu soal lagu itu sebagai materi Editorial.

Rata-rata analisa yang muncul di balik pencantuman pertanyaan narsis itu adalah sebagai berikut:

Pertama, kalau pencantuman soal seputar judul lagu itu diketahui SBY, berarti dia sedang melakukan politik pencitraan seperti yang sudah-sudah.

Kedua, kalau pencantuman soal judul lagu itu tidak diketahui oleh SBY, berarti bawahan-bawahan dia, khususnya di Departemen Perdagangan sedang berusaha menjilat atau cari muka ke SBY.

Ketiga, pencantuman soal itu merupakan upaya untuk melakukan kultus individu, seperti pemimpin-pemimpin politik sebelumnya, di era Orde Lama dan Orde Baru.

Keempat, analisis yang lebih serius, pertanyaan seperti itu dalam test CPNS dipahami sebagai bentuk surve terhadap popularitas SBY di mata anak-anak muda yang ikut test CPNS. Apakah SBY masih populer? Apakah citra SBY masih indah di hati rakyat? Bagaimana peluang politik SBY ke depan?

Sebenarnya, ada juga analisis lain yang tak kalah pentingnya. Pertanyaan tentang judul lagu SBY jelas sangat sulit dijawab oleh masyarakat biasa. Apalagi oleh orang-orang yang anti SBY. Bisa jadi, kalau pemuda/pemudi anti SBY ikut dalam test itu, lalu mendapatkan pertanyaan tersebut, mungkin mereka akan muntah-muntah.

Jadi, sebenarnya pertanyaan seputar judul lagu SBY itu merupakan TEST LOYALITAS bagi calon-calon PNS. Kalau mereka sangat ngefans dengan SBY, sangat mengagumi kiprah politiknya, sangat menikmati pencitraannya, mereka akan tahu jawaban pertanyaan itu. Tetapi kalau mereka bukan pendukung/pecinta SBY, kecil kemungkinan bisa menjawab. Kecuali, kalau mereka menjawab asal-asalan, lalu benar. Itu lain perkara.

"Lupakan derita. Mari bernyanyi. Wuo wuo wuo...ho ho ho." (gambar: politikana).

Dengan pertanyaan seperti itu, pihak Departeman Perdagangan sepertinya ingin mendapatkan jaminan bahwa PNS yang mereka terima, benar-benar LOYALIS-nya Pak Beye, bukan orang kritis, apalagi lawan politiknya. Hal-hal demikian dibutuhkan untuk menyaring CPNS sejak dini, agar mereka tidak meloloskan orang-orang yang masuk kategori pembenci SBY.

Kalau ditanya, apakah cara seperti ini tidak aneh, ganjil, menggelikan, memprihatinkan, sekaligus mengecewakan? Jawabannya mudah saja, “Sejak kapan kita puas dengan kinerja Pemerintahan SBY? Lha wong, memang sejak lama sudah penuh catatan, kritikan, serta ketidakstabilan kok. Kalau hanya soal CPNS itu sih masih kecil dibandingkan kasus-kasus “gajah” lainnya.

Ada harapan di hati supaya Pak Presiden SBY secara gentle mengaku diri tidak mampu memimpin, lalu mundur secara elegan. Itu lebih baik, demi menjauhkan masyarakat dari resiko penderitaan hidup yang lebih berat. Kasihanilah rakyat kecil, kebanyakan mereka fakir, kurang ilmu, dan lemah.

“Pak Beye, mau kan segera mengakhiri derita rakyat Indonesia? Mau kan? Mau dong… Ayolah, Bapak bisa!!!”

AMW.


Presiden SBY, Kasihanilah Rakyat Indonesia!

Agustus 12, 2010

Yang kami hormati:

Presiden Republik Indonesia, Bapak Dr. Susilo Bambang Yudhoyono.

Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakaatuh.

Presiden SBY, semoga Bapak dalam keadaan sehat dan bugar untuk melaksanakan amanah memimpin rakyat Indonesia yang jumlahnya sekitar 230 juta jiwa ini, baik Muslim maupun non Muslim.

Melalui pernyataan ini, saya selaku salah satu anak bangsa, meminta Bapak agar melaksanakan janji-janji Anda dalam kampanye Pilpres maupun pidato-pidato politik, untuk mensejahterakan rakyat Indonesia, memakmurkan kehidupan mereka, menegakkan keadilan, memberantas korupsi, meningkatkan taraf pendidikan, memajukan pertanian, dll. Pendek kata, Bapak sudah berjanj akan mensukseskan pembangunan, membina keamanan-ketenteraman, dan keselamatan hidup masyarakat luas.

Bencana Alam Sangat Menyusahkan Rakyat Kecil!!!

Bapak SBY, kasus penangkapan Ustadz Abu Bakar Ba’asyir pada pagi hari, 9 Agustus 2010 di Banjar Patroman, adalah kesalahan besar yang dilakukan Pemerintahan Bapak. Khususnya aparat kepolisian. Kita masih ingat, ketika Bapak memerintahkan pegawai-pegawai Istana Negara untuk tidak jadi menebang sebuah pohon besar di depan Istana. Instruksi Bapak itu berguna menyelamatkan eksistensi sebuah pohon. Seharusnya Bapak juga bisa menginstruksikan bawahan Bapak untuk menyelamatkan seorang ustadz sepuh, Ustadz Abu Bakar Ba’asyir.

Tentang keabsahan penangkapan Ustadz Abu Bakar Ba’asyir ini berikut rentetan peristiwanya, bolehlah kita perdebatkan. Pihak Pemerintah, khususnya Polri meyakini bahwa Ustadz Abu Bakar Ba’asyir merupakan otak dan pendukung dana kegiatan terorisme di Aceh. Sementara kalangan ormas Islam (yang pro Syariat Islam), mereka menolak keras penangkapan itu. Apalagi semua ini dilakukan saat menjelang Ramadhan 1431 H. Bolehlah kita memiliki argumentasi masing-masing. Tetapi saya ingin mengingatkan KONSEKUENSI BERAT dari penangkapan tokoh yang istiqamah seperti Ustadz Abu Bakar Ba’asyir itu.

Dalam hadits shahih, sekaligus hadits qudsiy, Allah Ta’ala berfirman: “Man ‘aa-da liy waliyan, faqad adzantu lahu bil harbi” (siapa yang memusuhi seorang wali-Ku [maksudnya, wali Allah], maka Aku nyatakan perang terhadap-nya).” (HR. Bukhari-Muslim).

Bapak SBY yang saya hormati…

Bila Bapak menghormati sebuah pohon di depan Istana, tidak jadi memerintahkan menebangnya, karena di pohon itu diduga “ada penunggunya”. Bagaimana Bapak akan membiarkan Densus88 dan Polri menangkap Ustadz Abu Bakar Ba’asyir, bahkan dengan cara-acara berlebihan di tengah jalan? Apakah Bapak tidak khawatir, bahwa seorang Abu Bakar Ba’asyir termasuk salah satu wali Allah di negeri ini? Apakah Bapak tidak khawatir jika Allah menyatakan perang kepada Anda, kepada Polri, bahkan kepada rakyat Indonesia yang diam membisu melihat Ustadz Ba’asyir dianiya? Wahai Bapak SBY, apakah Anda tidak merasa takut membiarkan semua ini?

Saya ingin mengingatkan Anda terhadap REALITAS BESAR, sekaligus hal ini untuk mengingatkan rakyat Indonesia. Pada tahun 2003 lalu, kepolisian meringkus Ustadz Abu Bakar Ba’asyir di RS PKU Muhammadiyah Solo. Ustadz Ba’asyir dijemput paksa, didorong-dorong, dibawa pergi dengan mobil; bahkan untuk sekedar buang kecil saja, Ustadz Ba’asyir harus melakukannya di botol air mineral, karena dilarang oleh aparat polisi.

Lalu apa yang terjadi sesudah kejadian jemput paksa itu?

Tahun 2004, tepatnya 26 Desember 2004, wilayah Aceh dan sekitarnya dilamun Tsunami yang sangat dahsyat, sehingga total menewaskan manusia sekitar 150.000 jiwa. Sekitar 100.000 jiwa adalah korban di wilayah Indonesia. Tidak berselang lama setelah Tsunami, terjadi gempa hebat di Yogya. Menewaskan manusia sekitar 5000-6000 orang, dengan angka kerugian materi sangat besar. Setelah gempa Yogya, terjadi “Tsunami Jilid II” di Pangandaran Ciamis dan sekitarnya. Disini juga jatuh korban jiwa dan kerugian material sangat besar.

Tiga kejadian bencana sangat mengerikan terjadi, menurut sebagai orang, karena sikap zhalim para penguasa (Megawati dan SBY) kepada para aktivis Islam, khususnya kepada ulama sepuh Ustadz Abu Bakar Ba’asyir. Dan Allah telah berjanji akan memerangi siapa saja yang memusuhi wali-wali-Nya.

Maka Bapak SBY…

Secara pribadi saya memohon kepada Anda, agar mengasihi kehidupan rakyat Indonesia ini. Kasihanilah rakyat kecil yang memang sudah sengsara hidupnya. Kasihanilah masyarakat yang sekian lama selalu menjadi “obyek pelengkap penderita”. Mereka tidak berdaya menghadapi kesulitan hidup dan kemiskinan yang merata. Mereka tidak berdaya menghadapi fenomena kejahatan, penipuan, kekerasan, korupsi, dll. Apalagi jika kemudian hidup mereka akan ditambah-tambah dengan benacana-bencana alam mengerikan?

Kasihanilah rakyat Indonesa, Pak SBY. Anda adalah pemimpin nasional RI. Takdir Anda memimpin rakyat Indonesia, termasuk memimpin urusan kami. Kesempatan berkuasa di tangan Anda hendaklah digunakan untuk menegakkan keadilan di tengah masyarakat, membangun kesejahteraan masyarakat, membangun martabat bangsa, menyingkirkan kejahatan, mafia hukum, dan sebagainya. Jangan gunakan kekuasaan di tangan Anda untuk memuaskan ambisi diri sendiri dan kelompok; untuk membiarkan kesengsaraan dan nestapa merajalela; untuk mempersilakan orang-orang kuat menganiaya orang-orang lemah; untuk mengundang datangnya bencana demi bencana.

Bapak SBY, kami mengingatkan Anda agar mengasihi rakyat kecil, rakyat Indonesia. Perlu Anda ketahui, sekejam-kejamnya seorang Imam Samudra dengan tindakannya yang diklaim aparat hukum sebagai terorisme itu; dalam hatinya dia memiliki niat mulia. Imam Samudra hidup di tengah rakyat yang menderita hidupnya, sengsara nasibnya. Imam ingin memperbaiki kehidupan ini dengan memperjuangkan Syariat Islam. Meskipun kemudian almarhum Imam Samudra dkk. melakukan aksi kekerasan yang seharusnya tidak dilakukan. Dan alhamdulillah, sebelum wafatnya, mereka sudah meminta maaf atas kesalahan-kesalahannya.

Sekejam-kejamnya aksi terorisme yang dilakukan Imam Samudra, hal itu dilakukan karena kuatnya semangat dia untuk memperbaiki kehidupan rakyat Indonesia yang centang-perenang. Niatnya mulia, meskipun caranya melanggar hukum nasional. Jadi, teringat legenda Robin Hood yang dikenal di masyarakat Britania. Imam Samudra tidak jauh dari legenda Robin Hood itu. Hatinya mulia, sangat peduli dengan nasib rakyat, tetapi caranya keras.

Pak SBY, cukuplah karakter Saudara Imam Samudra ini menjadi NASEHAT BESAR bagi Anda dan jajaran aparat Polri. Di balik hati manusia yang amat sangat dimusuhi negara dan Polri itu sebenarnya ada niat mulia membela kehidupan rakyat Indonesia dari sengsara dan nestapa. Maka sudah sepantasnya, Anda wahai Pak SBY, memiliki hati yang lebih baik dari Imam Samudra. Buktikan bahwa Anda lebih baik dari musuh Anda, Imam Samudra dkk!

Caranya, Anda buktikan sifat pengasih Anda kepada rakyat Indonesia ini! Lepaskan Ustadz Abu Bakar Ba’asyir, dan secara gentle mintalah maaf kepadanya! Juga mintalah maaf kepada kalangan pemuda-pemuda Islam yang selama ini teraniaya dengan isu terorisme. Dengan cara demikian, berarti Anda telah menghindarkan kehidupan rakyat Indonesia dari ancaman bencana-bencana alam.

Jika nasehat ini Anda anggap sepi, lalu kezhaliman itu terus berlangsung, sembari mayoritas rakyat Indonesia tidak peduli atas kezhaliman ini, saya menasehati bangsa ini agar menyiapkan kesabaran, kesabaran, kesabaran, kesabaran, dan kesabaran yang panjang. Ada hari-hari sulit yang akan kita hadapi setelah ini.

Demikian nasehat yang bisa saya sampaikan. Mohon maaf bila ada kata dan kalimat yang tak berkenan di hati Anda. Terimakasih atas semua perhatian dan pengertian Bapak! Alhamdulillah Rabbil ‘alamiin.

Wassaalamu’alaikum warahmatullah wabarakaatuh.

Bandung, 2 Ramadhan 1431 H/12 Agustus 2010.

Abu Muhammad Waskito ibn Boeang.


Dimana Posisi SBY?

Agustus 5, 2010

Kita selama ini -sebagai bagian dari rakyat Indonesia- selalu bertanya-tanya, “Sebenarnya, bangsa ini memiliki pemimpin apa tidak? Jika punya pemimpin, mengapa sang pemimpin tidak menjalankan kepemimpinan untuk melayani dan membela rakyatnya?”

Terus terang, berbagai keluhan, keprihatinan, kritik, rerasan, bahkan sinisme sudah sangat banyak diajukan kepada Pak SBY, Presiden RI saat ini. Intinya, semua suara ini sangat mengharapkan komitmen Pak Presiden untuk membela, melindungi, dan melayani rakyatnya sendiri. Mengapa muncul semua keluhan-keluhan demikian? Sebab, sejak tahun 2004 lalu, dan terutama setelah jabatan kedua 2009 lalu, kehidupan bangsa ini semakin jauh dari harapan.

Biar tidak disebut fitnah, saya coba sebutkan beberapa contoh situasi mengerikan di sekitar kita:

(=) Beredarnya video porno Si Ariel, Luna, dan Tari. Bukan hanya adegan porno itu yang rusak, tetapi efek penyebarannya sangat luas.

(=) Kasus Bank Century yang sudah diputuskan “C” oleh rapat paripurna DPR, seperti lenyap ditelan bumi.

(=) Kasus mafia hukum, Bibit-Chandra, Susno Duadji, Anggodo-Anggoro, Gayus Tambunan, Kompol Arafat, Antasari Azhar, Sirus Sinaga, dll. seperti benang kusut. Semua kasus ini membuat masyarakat muak dengan lembaga hukum.

(=) Kasus ledakan “bom gas 3 kg” sangat marak dimana-mana. Para pejabat, BUMN, kementrian saling cuci-tangan.

(=) Fenomena perang anti teroris oleh Polri yang penuh kebohongan. Bukti nyata, selama ini telah beredar sekitar 9 juta tabung gas 3 kg.  Tabung ini sangat mudah meledak, dan ledakan seperti bom. Kalau benar-benar ada teroris di Indonesia seperti yang dituduhkan, pasti mereka akan memakai “bom 3 kg” itu. Tetapi kenyataan, tidak ada teroris memakai bom 3 kg.

(=) Fenomena kehancuran budaya anak-anak muda, seiring mewabahnya acara-acara entertainment di TV yang sangat destruktif, seperti “Indonesia Idol”, “Indonesia Mencari Bakat”, “Termehek-mehek”, “Penghuni Terakhir”, “Opera Van Java”, dll. yang sangat banyak. Termasuk acara infotainment yang selalu dikawal oleh presenter-presenter genit. Semua acara ini merusak karakter dan budaya sosial masyarakat.

(=) Kehancuran dunia pendidikan, dalam wujud komersialisasi pendidikan, krisis keteladanan guru, elitisme pendidikan, sistem kelulusan UN, kecurangan nilai, pendidikan minus manfaat, dll.

(=) Nasib dunia usaha yang semakin liberalis-kapitalistik. Banyak usaha kecil, PKL-UKM tergusur oleh tangan-tangan pemodal besar dan investor asing. Sampai ke kampung-kampung, ke rumah-rumah, ke kamar-kamar, peluang usaha masyarakat kecil dirampas pemodal besar dan asing.

(=) Kekerasan Rumah Tangga, pembunuhan keji, mutilasi, bunuh diri, sakit jiwa, manusia dipasung, penyakit sangat aneh, dll.

(=) Demo-demo yang kerap sekali diwarnai bentrokan, kerusahan, kericuhan, hingga terjadi korban jiwa, harta, dan trauma.

(=) Kebejatan media-media massa, terutama media TV, dalam mengacaukan opini masyarakat, menyebarkan kebohongan, menyebarkan pornografi, menyebarkan konsumerisme, bersikap sentimen anti Islam, sok nasionalis padahal pro Chinese Overseas, sok cerdas padahal munafik, dll.

Keadaan bangsa kita seperti sebuah episode drama yang hampir tamat. Drama itu sebentar lagi tamat, seperti sebuah panggung drama yang segera menurunkan layarnya. Apa yang terjadi di sekitar kita kini adalah prahara, bencana, skandal yang bertumpuk jadi satu.

Dalam posisi demikian, “Lalu dimana posisi seorang Presiden? Apa saja kerjanya? Apa saja yang dia lakukan, sehingga kehidupan rakyatnya runyam seperti ini? Untuk apa seorang Presiden digaji oleh negara, jika dia tidak mampu berbuat apa-apa untuk kebaikan rakyatnya?” Itu sama saja dengan makan gaji buta.

Di situs detiknews.com ada sebuah artikel menarik. Judulnya, SBY Dinilia Banyak Terjebak Politik Pencitraan. Tulisan yang dimuat pada 3 Agustusd 2010, ini berisi pendapat seorang pakar tentang kepemimpinan SBY yang dianggap terlalu menjaga citra melalui pernyataan-pernyataan hebat di media, padahal dalam kenyataan di lapangan bukti kepemimpinannya tidak ada.

Seperti raga tanpa jiwa... (sumber foto: detiknews.com)

Kepemimpinan seperti SBY saat ini kalau dilukiskan dalam sebuah pernyataan, “Wujuduhu ka ‘adamihi” (adanya kepemimpinan itu seperti ketiadaannya). Artinya, baik ada atau tiada kepemimpinan, tidak tampak bedanya.

Sangat disayangkan Pak SBY, Anda ini seorang doktor, terpelajar, seorang perwira tinggi TNI lagi. Tetapi berkah dari kepemimpinannya nyaris tak berbekas. Seperti tiupan angin semilir, sesaat menerpa wajah kita, lalu angin itu lenyap kembali tanpa jejak. Seorang doktor kok makan gaji buta? Sayang sekali!

Kita seperti tidak melihat sosok pemimpin, tetapi persona yang telah terpenjara oleh perangkap politik asing. Segala yang menguntungkan asing, IYA atau MONGGO! Tetapi segala yang bermanfaat, maslahat, dan berarti bagi kebaikan masyarakat sendiri, dijawab NANTI atau JANGAN DULU! Allahu Akbar.

Ya, inilah sosok pemimpin yang diyakini oleh bangsa Indonesia sebagai HARAPAN BANGSA; tetapi pada kenyataannya, tak lebih dari ELEMEN di bawah kendali asing.

Ya Allah ya Karim, hendak kemana kami mengadu? Hendak kemana kami mengadukan duka-nestapa masyarakat kaum Muslimin yang terus terlunta-lunta ini? Betapa banyak manusia -di bawah kepemimpinan seperti ini- mati dalam jahiliyah, kekufuran, kefasikan, kezhaliman, kemusyrikan, dan kesesatan. Apa yang harus kami lakukan ya Arhama Rahimin? Tunjuki kami, cerahi kami, bimbing kami Ya Haadi.

Tugas para Nabi dan Rasul Alaihimussalam menyelamatkan manusia dari kematian su’ul khatimah. Tapi bangsa kita kini seperti sebuah pabrik raksasa yang terus  “memproduksi” ribuan atau jutaan manusia yang mati di atas su’ul khatimah. Na’udzubillah wa na’udzubillah min dzalik.

Selamat menyambut Ramadhan, dan selamat memikirkan nasib Ummat.

AMW.


Politik “Makan Tebu” Gaya SBY

Februari 27, 2010

SBY dan kawan-kawan saat ini lagi pening menghadapi Pansus Hak Angket Century yang terus mendorong penyelesaian kasus itu lewat jalur hukum. Lebih pening lagi ketika mendengar istilah “impeachment”. Seakan ia menjadi “mimpi buruk” yang membuat para pejabat “kurang tidur” dan “susah makan”.

Tadinya, SBY Cs ingin merayakan kemenangan telak dalam Pilpres 2009 lalu, yang menang satu putaran itu, dengan segala kemeriahan pesta politik. Maka SBY mencanangkan program “100 hari” pemerintahan KIB II. Tetapi belum juga 100 hari, mereka sudah menjadi bulan-bulanan opini publik, karena kasus kriminalisasi KPK, kisruh di tubuh Polri, dan tentu saja Pansus Hak Angket Bank Century.

Namun jika melihat kenyataan saat ini, sepertinya sangat berat masa kepemimpinan SBY selama 5 tahun ke depan. Belum juga 1 semester dia memimpin, sudah banyak gonjang-ganjing aneka masalah. Kalau SBY bisa lolos dari masalah Bank Century, masih ada masalah-masalah lain yang tidak kalah rumit, seperti Liberalisasi Ekonomi, China-ASEAN Free Trade Agreement, sistem outsourcing dalam ketenaga-kerjaan, pemberantasan korupsi, dan sebagainya. Masih jauh dari harapan bisa “tidur lelap”.

Legenda "batang manis".

Kalau melihat reputasi politik SBY sejak era Presiden Megawati, kita akan mendapati suatu taktik politik yang menarik. Ia bisa disebut sebagai taktik “makan tebu”; habis manis, sepah dibuang. Sejujurnya, banyak orang yang telah dimanfaatkan SBY, lalu dia kecewakan. Kemudian mereka berbalik menjadi lawan-lawan politik SBY.

<=> Megawati dan PDIP adalah pihak yang mula-mula merasa paling tersakiti oleh move-move politik SBY. Bisa dikatakan, bintang SBY mencorong di masa Pemerintahan Megawati. Waktu itu SBY sebagai Menkopolkam, dan sering berpidato di media-media, dengan segala pernyataan yang cerdas, tegas, dan penuh wibawa. Pamor SBY “naik daun”, sementara pamor Megawati tersaingi. Maka SBY pun di-eliminasi dari Kabinet Megawati. Nah, kasus eliminasi inilah yang membuat pamor SBY semakin gemilang, dengan istilah yang populer, “SBY dizhalimi!” Di kemudian hari Megawati marah atas klaim “dizhalimi” itu, sebab dirinya merasa tidak menzhalimi.

Harus dicatat, Megawati yang mengukuhkan posisi SBY sebagai Menkopolkam, dan Mega juga yang membesarkan image SBY sebagai pihak “yang terzhalimi”. Nah, ini satu contoh, jasa yang tak terbalaskan.

<=> Ketika SBY maju dalam Pilpres 2004 bersama JK, sebenarnya secara perhitungan modal dana, JK lebih kuat dari SBY. Maklum, JK seorang pengusaha. Tentu dia akan memanfaatkan kekuatan dana dan jaringannya untuk mendukung suksesnya pasangan SBY-JK. Namun setelah memimpin, SBY merasa tidak sreg dengan JK. Sebab JK dianggap “suka jalan sendiri”, “ingin jadi presiden juga”, serta “kurang kompromi dengan mitra-mitra asing”. Kasus perintah penangkapan Robert Tantular oleh JK, merupakan satu alasan yang membuat citra JK di mata SBY hancur berkeping-keping. Maka setelah dialog dengan Boediono dan Sri Mulyani, JK dianggap berbahaya, sehingga tidak perlu lagi “ikut kereta SBY”. Padahal semula, JK itu pengusaha sekaligus politisi yang berjasa bagi posisi SBY.

<=> Kemudian ada lagi, Surya Paloh, pemimpin Media Grup, pemilik MetroTV. Tokoh ini juga besar jasanya bagi kemenangan SBY. MetroTV atau Media Indonesia, pada sekitar tahun 2004, mau menjadi “humas” yang sering mengangkat citra politik SBY di mata publik. MetroTV itu dulu seperti pro SBY banget lah. Namun entahlah, kemudian Surya Paloh ditinggalkan juga oleh SBY. Padahal ia tadinya sangat mendukung SBY.

<=> Tokoh yang paling parah “disakiti” adalah Yusril Ihza Mahendra dan PBB-nya. Baik Yusril maupun PBB adalah elemen “partai kecil” yang sejak awal siap mendukung total SBY dan Partai Demokrat. Rasa sakit hati PBB muncul karena mereka menjadi pendukung utama SBY sejak awal bergulirnya pasangan SBY-JK. Tetapi setelah kemudian muncul mitra-mitra koalisi lain yang lebih potensial, seperti PKS dan Golkar, nasib PBB seperti dilupakan. Hanya, MS Ka’ban saja yang tetap dipertahankan. Malah posisi Yusril yang tadinya sebagai Menkumdang di-reshuffle. Adapun PBB saat ini, setelah Partai Demokrat mendapat suara 20 %, ya dilupakan sama sekali. Begitulah taktik “makan tebu”, habis manis sepah dibuang.

<=> Ada pula Bachtiar Chamsah, politisi PPP, mantan Menteri Sosial di KIB I. Orang ini sangat loyal kepada SBY. Ketika Pilpres 2009, PPP sebenarnya di bawah Suryadarma Ali sebenarnya ingin koalisi dengan Gerindra yang membawa missi ekonomi kerakyatan. PPP tadinya tidak mau mendukung pasangan SBY-Boediono. Tetapi Bachtiar Chamsah memainkan kekuatannya, sehingga PPP terbelah. Satu kubu pro SBY-Boed, satu kubu lagi ingin sinergi dengan pasangan politik lain. Konflik politik antara Suryadharma Ali dan Bachtiar Chamsah cukup tajam menjelang Pilpres Juni 2009 lalu. Setelah SBY menang, ternyata Bachtiar Chamsah dilupakan begitu saja. Malah, saat ini dia menghadapi ancaman KPK terkait korupsi di Depsos.

<=> Siapa lagi, oh ya PKS. Partai ini juga sempat dikecewakan oleh SBY dan Partai Demokrat, meskipun mereka telah mengorbankan pamor politiknya semurah-murahnya, sehingga pamor itu hancur di mata para aktivis Islam. PKS mendukung SBY sejak Pemilu Legislatif. Padahal ketika itu, PDIP, Golkar, dll. amat sangat kritis kepada SBY. Kesepakatan koalisi PKS-Demokrat tercapai, setelah SBY bertemu elit-elit PKS, yaitu Hilmi Aminuddin, Anis Matta, Fahri Hamzah, dll. SBY konon komitmen untuk memperbaiki komunikasi dengan elit-elit PKS. Bahkan disana mencual “deal politik”, bahwa SBY akan dipasangkan dengan Hidayat Nurwahid, sebagai Presiden dan Wakil Presiden dalam Pilpres. Namun kemudian, ternyata SBY lebih memilih sosok “di kantongnya” yaitu Boediono. Pilihan ini jelas membuat kubu PKS kecewa berat, sehingga Anis Matta dan Fahri Hamzah terang-terangan mengancam akan mundur dari koalisi dengan SBY (Partai Demokrat). Ancaman itu oleh Ahmad Mubarak dari PD disebut sebagai “olah-raga politik”. Akhirnya, kubu PKS melunak setelah SBY bertemu langsung dengan Ustadz Hilmi Aminuddin. Seakan, “pertemuan langsung” itu menjadi senjata andalan SBY untuk menaklukkan siapapun.

<=> Termasuk yang kecewa kepada SBY adalah mantan Ketua PAN, Soetrisno Bachir. Soetrisno tadinya ingin koalisi dengan Gerindra, atau ingin menjadi partai oposisi. Tetapi PAN diarahkan dengan sangat kuat untuk merapat ke Demokrat. Tanda tangan Soetrisno yang menyetujui koalisi dengan PD diperoleh, tetapi posisi Soetrisno sendiri di kancah politik diabaikan. Karier politiknya nyaris ambles sekarang.

<=> Juga termasuk yang kecewa adalah Aburizal Bakrie dan Akbar Tandjung. Kedua politisi Golkar ini dan politisi-politisi senior seperti Muladi, mereka dalam Pilpres lebih mendukung SBY-Boed, daripada mendukung pilihan kader Golkar sendiri, JK-Wiranto. Katanya, mereka bergerilya meyakinkan DPD-DPD Golkar di daerah agar menyalurkan suaranya ke SBY-Boed. Maka itu kita merasa sangat aneh ketika JK-Wiranto dalam Pilpres mendapat suara kecil, termasuk di kantong-kantong suara Golkar. Tapi kita maklum, ketika Aburizal dan Akbar terang-terangan tidak mendukung JK-Wiranto, dan mendorong Golkar menjadi sekutu terdekat Partai Demokrat. Tapi saat ini kondisinya sangat lain. Aburizal Bakrie dan SBY seperti dua elit politik yang saling berseteru sangat kencang. Golkar mendapat serangan-serangan keras dari elit-elit Demokrat, terkait hasil-hasil di Pansus Bank Century. Elit Golkar juga tak kalah galaknya dalam melayani serangan elit-elit Demokrat. SBY seperti lupa, bahwa Aburizal itu tadinya berjasa mendukung dia merebut suara dari kantong-kantong Golkar.

Ya, setidaknya, ini yang saya ketahui. Mungkin para pemerhati lain bisa mendapati informasi yang lebih lengkap. Intinya, strategi “makan tebu”; habis manis, sepah dibuang. Itulah gaya politik SBY yang dipraktikkan dari waktu ke waktu. Gaya demikian, bagus bagi dominasi politik SBY, tetapi juga efektif melahirkan lawan-lawan politik yang selalu bertambah.

Lihatlah dengan pandangan yang jujur: SBY sangat sering memanfaatkan metode bertemu langsung untuk menjinakkan lawan-lawan politiknya. Itulah yang sering kita dengan sebagai LOBI. Banyak pihak yang luluh dengan metode lobi ini.

Kemudian, lihatlah lagi: Potensi politik sehebat apapun, bisa dibuang, kalau dianggap sudah tidak bermanfaat lagi. Tetapi SBY sangat antipati untuk membuang Boediono dan Sri Mulyani. Di mata SBY, kedua orang itu lebih berharga dari JK, Surya Paloh, Bachtiar Chamsah, PKS, Aburizal, dan sebagainya. Nah, mengapa dia bisa begitu fanatik dengan Boediono dan Sri Mulyani? Ada apa ini? Entahlah, silakan kaji sendiri.

Maka, bagi siapapun yang bermain politik, dan ingin membuat kerjasama dengan SBY. Hendaklah mereka mengaca diri dulu! Anda itu apa, sehingga berharap SBY akan loyal kepada Anda? Anda harus menjadi seperti Boediono dan Sri Mulyani dulu, kalau mau diberi loyalitas kuat. Begitoeh…

Siapa mau menyusul masuk klub “BSH”?

= Mine =


Pemimpin Tidak Berkah

November 26, 2009

Dalam Islam, berkah itu dari kata ‘barakah’. Arti kata barakah sendiri banyak, antara lain kebaikan, rizki, kebahagiaan, karunia, dan sebagainya. Tetapi para ulama menjelaskan makna barakah sebagai: ziyadatul khair (bertambahnya kebaikan).

Rizki yang berkah, kalau dimakan/dipakai akan membuat kita ringan untuk berbuat kebaikan, atau akan mendatangkan kebaikan-kebaikan lain. Misalnya, Anda diberi motor oleh seorang teman secara ikhlas. Maka sejak Anda memiliki motor itu, ia begitu banyak membantu urusan Anda. Membantu berangkat kerja, membantu mengantar isteri belanja, membantu mengantar anak-anak, membantu bepergian ke majlis taklim, membantu menolong orang sakit, dll. Kalau motor itu tidak berkah, ia justru semakin menambah masalah. Sering macet, mogok, membuat urusan kacau, sering tabrakan, dimaki-maki orang, dll.

Contoh Keberkahan

Saya pernah dibelikan tiket bis malam jurusan Bandung oleh seseorang. Dalam hati sebenarnya “tidak enak”. Tetapi karena tidak mau menolak kebaikan orang, saya pakai juga tiket itu. Ternyata di jalan, saat mampir ke sebuah restoran, saya ijin ke kondektur mau shalat dulu. Masya Allah, saat saya kembali, saya telah ditingggal oleh bis itu. Padahal saya duduk persis di belakang kursi sopir. Perjalanan masih jauh, saya baru di Jawa Tengah. Tas dan barang-barang saya masih ada di bis itu. Alhamdulillah dompet masih saya pegang. Akhirnya saya ikut bis serupa itu yang menuju Jakarta, lalu turun saat dini hari di Cirebon.

Keesokan harinya, sesampai di Bandung saya kejar ke pol bis itu. Alhamdulillah tas dan barang-barang masih ada. Rasanya mau murka. Tetapi ironisnya, pengurus bis itu tidak ada ucapan tanggung-jawab yang bisa melegakan hati. Sepertinya pada “cuci tangan”. Saya pun tak mendapat ganti rugi apapun, termasuk ongkos tambahan yang saya keluarkan dari Cirebon. Yang lebih menyayat hati, makanan yang dibawakan ibu dari Malang basi, karena terlalu lama di jalan. Sedih-sedih sekali. Betapa ibu sangat menyayangi anaknya, tetapi makanan buatannya tidak bisa dikonsumsi, sehingga berakhir di tempat sampah. Laa haula wa laa quwwata illa billah.

Maka dapat disimpulkan, tiket yang dibelikan itu bukan tiket berkah. Ia tiket pembawa masalah. Sebab selama ini kami tidak  mengalami kesulitan-kesulitan seperti itu dalam perjalanan. Berbeda dengan rice cooker yang diberikan seorang teman kepada kami. Luar biasa, rice cooker itu diberikan bertahun-tahun yang lalu. Ia sangat handal, tidak pernah mengalami kerusakan berarti. Kalau rusak, paling dudukan kakinya. Telah bertahun-tahun kami memakainya untuk memasak nasi. Hasil nasinya bagus, sebagus masak di tungku biasa. Tetapi cara masaknya sendiri lebih simpel, tidak berproses panjang seperti masak di tungku. Sampai anak-anak kami biasa memasak nasi memakai rice cooker itu. Sungguh, saya sering memuji rice cooker itu sebagai pemberian yang penuh berkah. Alhamdulillahil Karim ‘ala nia’mihil wasi’.

Apa saja yang kalau ditekuni, dinikmati, dipakai, membawa banyak manfaat, mendorong perbuatan baik, membuat kita semakin bersyukur kepada Allah, maka ia adalah perkara berkah. Sebaliknya, apa saja yang mendatangkan masalah, menambah kerepotan, menyakitkan hati, membuat hati semakin keras, membuat jiwa resah, membuat diri tidak tahu malu, membuat kita malas berbuat kebaikan, membuat urusan semakin sempit, dapat dipastikan bahwa ia adalah perkara munqathi’ (terputus) dari berkah.

Agar mendapat berkah, kuncinya sederhana, yaitu: al imanu wat taqwa. Iman berarti mengibadahi Allah tanpa menyekutukan-Nya dengan siapapun, sedangkan taqwa berarti mentaati aturan-aturan Allah dan Rasul-Nya sekuat kesanggupan. “Dan sekiranya penduduk suatu negeri beriman dan bertakwa kepada Allah, maka benar-benar akan Kami bukakan atas mereka barakah-barakah dari langit dan bumi.” (Al A’raaf: 96).

Berkah dalam Kepemimpinan

Berkah itu menjangkau semua urusan manusia. Ia tidak terbatas pada soal makan-minum saja. Baju yang kita pakai bisa berkah, sendal yang kita pakai bisa berkah, isteri di sisi kita bisa berkah, anak-anak kita bisa berkah, pekerjaan kita bisa berkah, rumah, kebun, kendaraan, pensil, komputer, pisau, gelas, piring, dan sebagainya. Keberkahan bisa masuk ke urusan rumah-tangga, persahabatan, organisasi, perusahaan, bisnis, jual-beli, manajemen, pengelolaan masjid, dll. Termasuk keberkahan bisa masuk urusan kepemimpinan.

Pemimpin yang berkah mendatangkan banyak kebaikan. Rakyatnya sehat, hidup tentram, dicukupi rizki, keadilan ditegakkan, mushibah menyingkir, musuh takut mengganggu, perselisihan mudah ditemukan solusinya, moral rakyat semakin baik, semangat ibadah mereka baik, praktik ribawi semakin sepi, perzinahan dan perbuatan keji semakin jauh, dan lain-lain. Bahkan, dengan pemimpin yang berkah, hawa/cuaca semakin ramah, saat musim kering tidak mematikan tumbuh-tumbuhan, saat hujan tidak menimbulkan banjir.

Namun pemimpin yang tidak berkah, dia menjadi pintu kesengsaraan bagi rakyatnya. Rakyat semakin sengsara, ekonomi semakin sulit, ribawi merajalela, perzinahan, pelacuran, homoseks merajalela. Rakyat miskin semakin banyak, konflik dimana-mana, kejahatan/kriminalitas pesta pora, hukum diperjual-belikan, birokrat korupsi, sistem selalu buruk dan tumpang tindih. Orang munafik berkeliaran, kebohongan menjadi makanan sehar-hari, orang asing menjarah kekayaan negeri, kehormatan dilecehkan, rakyat putus-asa, para pemuda stress, dan sebagainya. Termasuk datangnya bencana dari segala arah, bencana alam, kecelakaan transportasi, kekeringan, kelaparan, wabah penyakit, skandal korupsi, dan sebagainya.

Itulah beda antara pemimpin berkah dan pemimpin munqathi’ (terputus berkahnya). Jika seorang pemimpin beriman dan bertakwa, insya Allah kepemimpinannya akan berkah. Kalau pemimpin hanya “saleh lisannya saja”, atau “hanya saleh retorikanya”, dijamin rakyatnya akan menderita.

Pemimpin apabila munafik lebih buruk dari pemimpin kafir, sebab dia membawa dua keburukan sekalgus: (1) Buruk hatinya karena kafir kepada Allah; (2) Buruk sikapnya karena menyembunyikan kekafiran, menampakkan kesalehan.

Baca entri selengkapnya »