Dimana Posisi SBY?

Agustus 5, 2010

Kita selama ini -sebagai bagian dari rakyat Indonesia- selalu bertanya-tanya, “Sebenarnya, bangsa ini memiliki pemimpin apa tidak? Jika punya pemimpin, mengapa sang pemimpin tidak menjalankan kepemimpinan untuk melayani dan membela rakyatnya?”

Terus terang, berbagai keluhan, keprihatinan, kritik, rerasan, bahkan sinisme sudah sangat banyak diajukan kepada Pak SBY, Presiden RI saat ini. Intinya, semua suara ini sangat mengharapkan komitmen Pak Presiden untuk membela, melindungi, dan melayani rakyatnya sendiri. Mengapa muncul semua keluhan-keluhan demikian? Sebab, sejak tahun 2004 lalu, dan terutama setelah jabatan kedua 2009 lalu, kehidupan bangsa ini semakin jauh dari harapan.

Biar tidak disebut fitnah, saya coba sebutkan beberapa contoh situasi mengerikan di sekitar kita:

(=) Beredarnya video porno Si Ariel, Luna, dan Tari. Bukan hanya adegan porno itu yang rusak, tetapi efek penyebarannya sangat luas.

(=) Kasus Bank Century yang sudah diputuskan “C” oleh rapat paripurna DPR, seperti lenyap ditelan bumi.

(=) Kasus mafia hukum, Bibit-Chandra, Susno Duadji, Anggodo-Anggoro, Gayus Tambunan, Kompol Arafat, Antasari Azhar, Sirus Sinaga, dll. seperti benang kusut. Semua kasus ini membuat masyarakat muak dengan lembaga hukum.

(=) Kasus ledakan “bom gas 3 kg” sangat marak dimana-mana. Para pejabat, BUMN, kementrian saling cuci-tangan.

(=) Fenomena perang anti teroris oleh Polri yang penuh kebohongan. Bukti nyata, selama ini telah beredar sekitar 9 juta tabung gas 3 kg.  Tabung ini sangat mudah meledak, dan ledakan seperti bom. Kalau benar-benar ada teroris di Indonesia seperti yang dituduhkan, pasti mereka akan memakai “bom 3 kg” itu. Tetapi kenyataan, tidak ada teroris memakai bom 3 kg.

(=) Fenomena kehancuran budaya anak-anak muda, seiring mewabahnya acara-acara entertainment di TV yang sangat destruktif, seperti “Indonesia Idol”, “Indonesia Mencari Bakat”, “Termehek-mehek”, “Penghuni Terakhir”, “Opera Van Java”, dll. yang sangat banyak. Termasuk acara infotainment yang selalu dikawal oleh presenter-presenter genit. Semua acara ini merusak karakter dan budaya sosial masyarakat.

(=) Kehancuran dunia pendidikan, dalam wujud komersialisasi pendidikan, krisis keteladanan guru, elitisme pendidikan, sistem kelulusan UN, kecurangan nilai, pendidikan minus manfaat, dll.

(=) Nasib dunia usaha yang semakin liberalis-kapitalistik. Banyak usaha kecil, PKL-UKM tergusur oleh tangan-tangan pemodal besar dan investor asing. Sampai ke kampung-kampung, ke rumah-rumah, ke kamar-kamar, peluang usaha masyarakat kecil dirampas pemodal besar dan asing.

(=) Kekerasan Rumah Tangga, pembunuhan keji, mutilasi, bunuh diri, sakit jiwa, manusia dipasung, penyakit sangat aneh, dll.

(=) Demo-demo yang kerap sekali diwarnai bentrokan, kerusahan, kericuhan, hingga terjadi korban jiwa, harta, dan trauma.

(=) Kebejatan media-media massa, terutama media TV, dalam mengacaukan opini masyarakat, menyebarkan kebohongan, menyebarkan pornografi, menyebarkan konsumerisme, bersikap sentimen anti Islam, sok nasionalis padahal pro Chinese Overseas, sok cerdas padahal munafik, dll.

Keadaan bangsa kita seperti sebuah episode drama yang hampir tamat. Drama itu sebentar lagi tamat, seperti sebuah panggung drama yang segera menurunkan layarnya. Apa yang terjadi di sekitar kita kini adalah prahara, bencana, skandal yang bertumpuk jadi satu.

Dalam posisi demikian, “Lalu dimana posisi seorang Presiden? Apa saja kerjanya? Apa saja yang dia lakukan, sehingga kehidupan rakyatnya runyam seperti ini? Untuk apa seorang Presiden digaji oleh negara, jika dia tidak mampu berbuat apa-apa untuk kebaikan rakyatnya?” Itu sama saja dengan makan gaji buta.

Di situs detiknews.com ada sebuah artikel menarik. Judulnya, SBY Dinilia Banyak Terjebak Politik Pencitraan. Tulisan yang dimuat pada 3 Agustusd 2010, ini berisi pendapat seorang pakar tentang kepemimpinan SBY yang dianggap terlalu menjaga citra melalui pernyataan-pernyataan hebat di media, padahal dalam kenyataan di lapangan bukti kepemimpinannya tidak ada.

Seperti raga tanpa jiwa... (sumber foto: detiknews.com)

Kepemimpinan seperti SBY saat ini kalau dilukiskan dalam sebuah pernyataan, “Wujuduhu ka ‘adamihi” (adanya kepemimpinan itu seperti ketiadaannya). Artinya, baik ada atau tiada kepemimpinan, tidak tampak bedanya.

Sangat disayangkan Pak SBY, Anda ini seorang doktor, terpelajar, seorang perwira tinggi TNI lagi. Tetapi berkah dari kepemimpinannya nyaris tak berbekas. Seperti tiupan angin semilir, sesaat menerpa wajah kita, lalu angin itu lenyap kembali tanpa jejak. Seorang doktor kok makan gaji buta? Sayang sekali!

Kita seperti tidak melihat sosok pemimpin, tetapi persona yang telah terpenjara oleh perangkap politik asing. Segala yang menguntungkan asing, IYA atau MONGGO! Tetapi segala yang bermanfaat, maslahat, dan berarti bagi kebaikan masyarakat sendiri, dijawab NANTI atau JANGAN DULU! Allahu Akbar.

Ya, inilah sosok pemimpin yang diyakini oleh bangsa Indonesia sebagai HARAPAN BANGSA; tetapi pada kenyataannya, tak lebih dari ELEMEN di bawah kendali asing.

Ya Allah ya Karim, hendak kemana kami mengadu? Hendak kemana kami mengadukan duka-nestapa masyarakat kaum Muslimin yang terus terlunta-lunta ini? Betapa banyak manusia -di bawah kepemimpinan seperti ini- mati dalam jahiliyah, kekufuran, kefasikan, kezhaliman, kemusyrikan, dan kesesatan. Apa yang harus kami lakukan ya Arhama Rahimin? Tunjuki kami, cerahi kami, bimbing kami Ya Haadi.

Tugas para Nabi dan Rasul Alaihimussalam menyelamatkan manusia dari kematian su’ul khatimah. Tapi bangsa kita kini seperti sebuah pabrik raksasa yang terus  “memproduksi” ribuan atau jutaan manusia yang mati di atas su’ul khatimah. Na’udzubillah wa na’udzubillah min dzalik.

Selamat menyambut Ramadhan, dan selamat memikirkan nasib Ummat.

AMW.

Iklan

Politik “Makan Tebu” Gaya SBY

Februari 27, 2010

SBY dan kawan-kawan saat ini lagi pening menghadapi Pansus Hak Angket Century yang terus mendorong penyelesaian kasus itu lewat jalur hukum. Lebih pening lagi ketika mendengar istilah “impeachment”. Seakan ia menjadi “mimpi buruk” yang membuat para pejabat “kurang tidur” dan “susah makan”.

Tadinya, SBY Cs ingin merayakan kemenangan telak dalam Pilpres 2009 lalu, yang menang satu putaran itu, dengan segala kemeriahan pesta politik. Maka SBY mencanangkan program “100 hari” pemerintahan KIB II. Tetapi belum juga 100 hari, mereka sudah menjadi bulan-bulanan opini publik, karena kasus kriminalisasi KPK, kisruh di tubuh Polri, dan tentu saja Pansus Hak Angket Bank Century.

Namun jika melihat kenyataan saat ini, sepertinya sangat berat masa kepemimpinan SBY selama 5 tahun ke depan. Belum juga 1 semester dia memimpin, sudah banyak gonjang-ganjing aneka masalah. Kalau SBY bisa lolos dari masalah Bank Century, masih ada masalah-masalah lain yang tidak kalah rumit, seperti Liberalisasi Ekonomi, China-ASEAN Free Trade Agreement, sistem outsourcing dalam ketenaga-kerjaan, pemberantasan korupsi, dan sebagainya. Masih jauh dari harapan bisa “tidur lelap”.

Legenda "batang manis".

Kalau melihat reputasi politik SBY sejak era Presiden Megawati, kita akan mendapati suatu taktik politik yang menarik. Ia bisa disebut sebagai taktik “makan tebu”; habis manis, sepah dibuang. Sejujurnya, banyak orang yang telah dimanfaatkan SBY, lalu dia kecewakan. Kemudian mereka berbalik menjadi lawan-lawan politik SBY.

<=> Megawati dan PDIP adalah pihak yang mula-mula merasa paling tersakiti oleh move-move politik SBY. Bisa dikatakan, bintang SBY mencorong di masa Pemerintahan Megawati. Waktu itu SBY sebagai Menkopolkam, dan sering berpidato di media-media, dengan segala pernyataan yang cerdas, tegas, dan penuh wibawa. Pamor SBY “naik daun”, sementara pamor Megawati tersaingi. Maka SBY pun di-eliminasi dari Kabinet Megawati. Nah, kasus eliminasi inilah yang membuat pamor SBY semakin gemilang, dengan istilah yang populer, “SBY dizhalimi!” Di kemudian hari Megawati marah atas klaim “dizhalimi” itu, sebab dirinya merasa tidak menzhalimi.

Harus dicatat, Megawati yang mengukuhkan posisi SBY sebagai Menkopolkam, dan Mega juga yang membesarkan image SBY sebagai pihak “yang terzhalimi”. Nah, ini satu contoh, jasa yang tak terbalaskan.

<=> Ketika SBY maju dalam Pilpres 2004 bersama JK, sebenarnya secara perhitungan modal dana, JK lebih kuat dari SBY. Maklum, JK seorang pengusaha. Tentu dia akan memanfaatkan kekuatan dana dan jaringannya untuk mendukung suksesnya pasangan SBY-JK. Namun setelah memimpin, SBY merasa tidak sreg dengan JK. Sebab JK dianggap “suka jalan sendiri”, “ingin jadi presiden juga”, serta “kurang kompromi dengan mitra-mitra asing”. Kasus perintah penangkapan Robert Tantular oleh JK, merupakan satu alasan yang membuat citra JK di mata SBY hancur berkeping-keping. Maka setelah dialog dengan Boediono dan Sri Mulyani, JK dianggap berbahaya, sehingga tidak perlu lagi “ikut kereta SBY”. Padahal semula, JK itu pengusaha sekaligus politisi yang berjasa bagi posisi SBY.

<=> Kemudian ada lagi, Surya Paloh, pemimpin Media Grup, pemilik MetroTV. Tokoh ini juga besar jasanya bagi kemenangan SBY. MetroTV atau Media Indonesia, pada sekitar tahun 2004, mau menjadi “humas” yang sering mengangkat citra politik SBY di mata publik. MetroTV itu dulu seperti pro SBY banget lah. Namun entahlah, kemudian Surya Paloh ditinggalkan juga oleh SBY. Padahal ia tadinya sangat mendukung SBY.

<=> Tokoh yang paling parah “disakiti” adalah Yusril Ihza Mahendra dan PBB-nya. Baik Yusril maupun PBB adalah elemen “partai kecil” yang sejak awal siap mendukung total SBY dan Partai Demokrat. Rasa sakit hati PBB muncul karena mereka menjadi pendukung utama SBY sejak awal bergulirnya pasangan SBY-JK. Tetapi setelah kemudian muncul mitra-mitra koalisi lain yang lebih potensial, seperti PKS dan Golkar, nasib PBB seperti dilupakan. Hanya, MS Ka’ban saja yang tetap dipertahankan. Malah posisi Yusril yang tadinya sebagai Menkumdang di-reshuffle. Adapun PBB saat ini, setelah Partai Demokrat mendapat suara 20 %, ya dilupakan sama sekali. Begitulah taktik “makan tebu”, habis manis sepah dibuang.

<=> Ada pula Bachtiar Chamsah, politisi PPP, mantan Menteri Sosial di KIB I. Orang ini sangat loyal kepada SBY. Ketika Pilpres 2009, PPP sebenarnya di bawah Suryadarma Ali sebenarnya ingin koalisi dengan Gerindra yang membawa missi ekonomi kerakyatan. PPP tadinya tidak mau mendukung pasangan SBY-Boediono. Tetapi Bachtiar Chamsah memainkan kekuatannya, sehingga PPP terbelah. Satu kubu pro SBY-Boed, satu kubu lagi ingin sinergi dengan pasangan politik lain. Konflik politik antara Suryadharma Ali dan Bachtiar Chamsah cukup tajam menjelang Pilpres Juni 2009 lalu. Setelah SBY menang, ternyata Bachtiar Chamsah dilupakan begitu saja. Malah, saat ini dia menghadapi ancaman KPK terkait korupsi di Depsos.

<=> Siapa lagi, oh ya PKS. Partai ini juga sempat dikecewakan oleh SBY dan Partai Demokrat, meskipun mereka telah mengorbankan pamor politiknya semurah-murahnya, sehingga pamor itu hancur di mata para aktivis Islam. PKS mendukung SBY sejak Pemilu Legislatif. Padahal ketika itu, PDIP, Golkar, dll. amat sangat kritis kepada SBY. Kesepakatan koalisi PKS-Demokrat tercapai, setelah SBY bertemu elit-elit PKS, yaitu Hilmi Aminuddin, Anis Matta, Fahri Hamzah, dll. SBY konon komitmen untuk memperbaiki komunikasi dengan elit-elit PKS. Bahkan disana mencual “deal politik”, bahwa SBY akan dipasangkan dengan Hidayat Nurwahid, sebagai Presiden dan Wakil Presiden dalam Pilpres. Namun kemudian, ternyata SBY lebih memilih sosok “di kantongnya” yaitu Boediono. Pilihan ini jelas membuat kubu PKS kecewa berat, sehingga Anis Matta dan Fahri Hamzah terang-terangan mengancam akan mundur dari koalisi dengan SBY (Partai Demokrat). Ancaman itu oleh Ahmad Mubarak dari PD disebut sebagai “olah-raga politik”. Akhirnya, kubu PKS melunak setelah SBY bertemu langsung dengan Ustadz Hilmi Aminuddin. Seakan, “pertemuan langsung” itu menjadi senjata andalan SBY untuk menaklukkan siapapun.

<=> Termasuk yang kecewa kepada SBY adalah mantan Ketua PAN, Soetrisno Bachir. Soetrisno tadinya ingin koalisi dengan Gerindra, atau ingin menjadi partai oposisi. Tetapi PAN diarahkan dengan sangat kuat untuk merapat ke Demokrat. Tanda tangan Soetrisno yang menyetujui koalisi dengan PD diperoleh, tetapi posisi Soetrisno sendiri di kancah politik diabaikan. Karier politiknya nyaris ambles sekarang.

<=> Juga termasuk yang kecewa adalah Aburizal Bakrie dan Akbar Tandjung. Kedua politisi Golkar ini dan politisi-politisi senior seperti Muladi, mereka dalam Pilpres lebih mendukung SBY-Boed, daripada mendukung pilihan kader Golkar sendiri, JK-Wiranto. Katanya, mereka bergerilya meyakinkan DPD-DPD Golkar di daerah agar menyalurkan suaranya ke SBY-Boed. Maka itu kita merasa sangat aneh ketika JK-Wiranto dalam Pilpres mendapat suara kecil, termasuk di kantong-kantong suara Golkar. Tapi kita maklum, ketika Aburizal dan Akbar terang-terangan tidak mendukung JK-Wiranto, dan mendorong Golkar menjadi sekutu terdekat Partai Demokrat. Tapi saat ini kondisinya sangat lain. Aburizal Bakrie dan SBY seperti dua elit politik yang saling berseteru sangat kencang. Golkar mendapat serangan-serangan keras dari elit-elit Demokrat, terkait hasil-hasil di Pansus Bank Century. Elit Golkar juga tak kalah galaknya dalam melayani serangan elit-elit Demokrat. SBY seperti lupa, bahwa Aburizal itu tadinya berjasa mendukung dia merebut suara dari kantong-kantong Golkar.

Ya, setidaknya, ini yang saya ketahui. Mungkin para pemerhati lain bisa mendapati informasi yang lebih lengkap. Intinya, strategi “makan tebu”; habis manis, sepah dibuang. Itulah gaya politik SBY yang dipraktikkan dari waktu ke waktu. Gaya demikian, bagus bagi dominasi politik SBY, tetapi juga efektif melahirkan lawan-lawan politik yang selalu bertambah.

Lihatlah dengan pandangan yang jujur: SBY sangat sering memanfaatkan metode bertemu langsung untuk menjinakkan lawan-lawan politiknya. Itulah yang sering kita dengan sebagai LOBI. Banyak pihak yang luluh dengan metode lobi ini.

Kemudian, lihatlah lagi: Potensi politik sehebat apapun, bisa dibuang, kalau dianggap sudah tidak bermanfaat lagi. Tetapi SBY sangat antipati untuk membuang Boediono dan Sri Mulyani. Di mata SBY, kedua orang itu lebih berharga dari JK, Surya Paloh, Bachtiar Chamsah, PKS, Aburizal, dan sebagainya. Nah, mengapa dia bisa begitu fanatik dengan Boediono dan Sri Mulyani? Ada apa ini? Entahlah, silakan kaji sendiri.

Maka, bagi siapapun yang bermain politik, dan ingin membuat kerjasama dengan SBY. Hendaklah mereka mengaca diri dulu! Anda itu apa, sehingga berharap SBY akan loyal kepada Anda? Anda harus menjadi seperti Boediono dan Sri Mulyani dulu, kalau mau diberi loyalitas kuat. Begitoeh…

Siapa mau menyusul masuk klub “BSH”?

= Mine =


Pemimpin Tidak Berkah

November 26, 2009

Dalam Islam, berkah itu dari kata ‘barakah’. Arti kata barakah sendiri banyak, antara lain kebaikan, rizki, kebahagiaan, karunia, dan sebagainya. Tetapi para ulama menjelaskan makna barakah sebagai: ziyadatul khair (bertambahnya kebaikan).

Rizki yang berkah, kalau dimakan/dipakai akan membuat kita ringan untuk berbuat kebaikan, atau akan mendatangkan kebaikan-kebaikan lain. Misalnya, Anda diberi motor oleh seorang teman secara ikhlas. Maka sejak Anda memiliki motor itu, ia begitu banyak membantu urusan Anda. Membantu berangkat kerja, membantu mengantar isteri belanja, membantu mengantar anak-anak, membantu bepergian ke majlis taklim, membantu menolong orang sakit, dll. Kalau motor itu tidak berkah, ia justru semakin menambah masalah. Sering macet, mogok, membuat urusan kacau, sering tabrakan, dimaki-maki orang, dll.

Contoh Keberkahan

Saya pernah dibelikan tiket bis malam jurusan Bandung oleh seseorang. Dalam hati sebenarnya “tidak enak”. Tetapi karena tidak mau menolak kebaikan orang, saya pakai juga tiket itu. Ternyata di jalan, saat mampir ke sebuah restoran, saya ijin ke kondektur mau shalat dulu. Masya Allah, saat saya kembali, saya telah ditingggal oleh bis itu. Padahal saya duduk persis di belakang kursi sopir. Perjalanan masih jauh, saya baru di Jawa Tengah. Tas dan barang-barang saya masih ada di bis itu. Alhamdulillah dompet masih saya pegang. Akhirnya saya ikut bis serupa itu yang menuju Jakarta, lalu turun saat dini hari di Cirebon.

Keesokan harinya, sesampai di Bandung saya kejar ke pol bis itu. Alhamdulillah tas dan barang-barang masih ada. Rasanya mau murka. Tetapi ironisnya, pengurus bis itu tidak ada ucapan tanggung-jawab yang bisa melegakan hati. Sepertinya pada “cuci tangan”. Saya pun tak mendapat ganti rugi apapun, termasuk ongkos tambahan yang saya keluarkan dari Cirebon. Yang lebih menyayat hati, makanan yang dibawakan ibu dari Malang basi, karena terlalu lama di jalan. Sedih-sedih sekali. Betapa ibu sangat menyayangi anaknya, tetapi makanan buatannya tidak bisa dikonsumsi, sehingga berakhir di tempat sampah. Laa haula wa laa quwwata illa billah.

Maka dapat disimpulkan, tiket yang dibelikan itu bukan tiket berkah. Ia tiket pembawa masalah. Sebab selama ini kami tidak  mengalami kesulitan-kesulitan seperti itu dalam perjalanan. Berbeda dengan rice cooker yang diberikan seorang teman kepada kami. Luar biasa, rice cooker itu diberikan bertahun-tahun yang lalu. Ia sangat handal, tidak pernah mengalami kerusakan berarti. Kalau rusak, paling dudukan kakinya. Telah bertahun-tahun kami memakainya untuk memasak nasi. Hasil nasinya bagus, sebagus masak di tungku biasa. Tetapi cara masaknya sendiri lebih simpel, tidak berproses panjang seperti masak di tungku. Sampai anak-anak kami biasa memasak nasi memakai rice cooker itu. Sungguh, saya sering memuji rice cooker itu sebagai pemberian yang penuh berkah. Alhamdulillahil Karim ‘ala nia’mihil wasi’.

Apa saja yang kalau ditekuni, dinikmati, dipakai, membawa banyak manfaat, mendorong perbuatan baik, membuat kita semakin bersyukur kepada Allah, maka ia adalah perkara berkah. Sebaliknya, apa saja yang mendatangkan masalah, menambah kerepotan, menyakitkan hati, membuat hati semakin keras, membuat jiwa resah, membuat diri tidak tahu malu, membuat kita malas berbuat kebaikan, membuat urusan semakin sempit, dapat dipastikan bahwa ia adalah perkara munqathi’ (terputus) dari berkah.

Agar mendapat berkah, kuncinya sederhana, yaitu: al imanu wat taqwa. Iman berarti mengibadahi Allah tanpa menyekutukan-Nya dengan siapapun, sedangkan taqwa berarti mentaati aturan-aturan Allah dan Rasul-Nya sekuat kesanggupan. “Dan sekiranya penduduk suatu negeri beriman dan bertakwa kepada Allah, maka benar-benar akan Kami bukakan atas mereka barakah-barakah dari langit dan bumi.” (Al A’raaf: 96).

Berkah dalam Kepemimpinan

Berkah itu menjangkau semua urusan manusia. Ia tidak terbatas pada soal makan-minum saja. Baju yang kita pakai bisa berkah, sendal yang kita pakai bisa berkah, isteri di sisi kita bisa berkah, anak-anak kita bisa berkah, pekerjaan kita bisa berkah, rumah, kebun, kendaraan, pensil, komputer, pisau, gelas, piring, dan sebagainya. Keberkahan bisa masuk ke urusan rumah-tangga, persahabatan, organisasi, perusahaan, bisnis, jual-beli, manajemen, pengelolaan masjid, dll. Termasuk keberkahan bisa masuk urusan kepemimpinan.

Pemimpin yang berkah mendatangkan banyak kebaikan. Rakyatnya sehat, hidup tentram, dicukupi rizki, keadilan ditegakkan, mushibah menyingkir, musuh takut mengganggu, perselisihan mudah ditemukan solusinya, moral rakyat semakin baik, semangat ibadah mereka baik, praktik ribawi semakin sepi, perzinahan dan perbuatan keji semakin jauh, dan lain-lain. Bahkan, dengan pemimpin yang berkah, hawa/cuaca semakin ramah, saat musim kering tidak mematikan tumbuh-tumbuhan, saat hujan tidak menimbulkan banjir.

Namun pemimpin yang tidak berkah, dia menjadi pintu kesengsaraan bagi rakyatnya. Rakyat semakin sengsara, ekonomi semakin sulit, ribawi merajalela, perzinahan, pelacuran, homoseks merajalela. Rakyat miskin semakin banyak, konflik dimana-mana, kejahatan/kriminalitas pesta pora, hukum diperjual-belikan, birokrat korupsi, sistem selalu buruk dan tumpang tindih. Orang munafik berkeliaran, kebohongan menjadi makanan sehar-hari, orang asing menjarah kekayaan negeri, kehormatan dilecehkan, rakyat putus-asa, para pemuda stress, dan sebagainya. Termasuk datangnya bencana dari segala arah, bencana alam, kecelakaan transportasi, kekeringan, kelaparan, wabah penyakit, skandal korupsi, dan sebagainya.

Itulah beda antara pemimpin berkah dan pemimpin munqathi’ (terputus berkahnya). Jika seorang pemimpin beriman dan bertakwa, insya Allah kepemimpinannya akan berkah. Kalau pemimpin hanya “saleh lisannya saja”, atau “hanya saleh retorikanya”, dijamin rakyatnya akan menderita.

Pemimpin apabila munafik lebih buruk dari pemimpin kafir, sebab dia membawa dua keburukan sekalgus: (1) Buruk hatinya karena kafir kepada Allah; (2) Buruk sikapnya karena menyembunyikan kekafiran, menampakkan kesalehan.

Baca entri selengkapnya »


Pidato Presiden dan “Tragedi Akal Sehat”

November 24, 2009

Semalam saya mengikuti secara penuh pidato Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono. Beliau menepati janjinya untuk segera merespon rekomendasi Tim 8 yang dibentuknya sendiri. Pak SBY bukan hanya bicara soal kasus Bibit-Chandra, tetapi juga menyinggung masalah Bank Century.

Poin-poin penting dari isi pidato SBY antara lain:

Terkait masalah Bank Century: (-) Menginstruksikan aparat hukum untuk memproses pejabat-pejabat Bank Century yang bersalah dalam pengelolaan bank itu; (-) Menugaskan Menkeu dan BI untuk menjelaskan kasus Bank Century sejelas-jelasnya, berdasarkan fakta, bukan rumor, apalagi fitnah; (-) Menugaskan pihak Kepolisian dan Kejaksaan untuk mengembalikan dana negara yang dipergunakan secara illegal dalam kasus Bank Century ke kas negara.

Terkait kasus Bibit-Chandra: (*) SBY menyarankan kepada Kepolisian dan Kejaksaan agar tidak membawa kasus itu ke pengadilan; (*) SBY meminta supaya dilakukan pembenahan internal di tubuh Polri, Kejaksaan, dan KPK.

Sebenarnya, sejak lama Pak SBY terkenal dengan cara-caranya yang seperti ini. Beliau sering meminta waktu untuk menyelesaikan kasus-kasus yang dihadapinya. Kemudian berjanji akan memberikan pernyataan resmi. Selanjutnya, saat pernyataan disampaikan, beliau berbicara sangat normatif, membela diri, bahkan berkeluh-kesah. Ini merupakan ciri pokok komunikasi politik SBY.

Kalau tidak percaya, coba review ulang pernyataan-pernyataan beliau di depan publik. Selalu begitu pakemnya. Masyarakat jadi cukup “didiamkan” dengan retorika memukau, bukan dengan solusi kongkret yang bisa mengakhiri segala polemik. Ke depan, 5 tahun ke depan, “drama pernyataan resmi” ini bisa jadi akan terus-menerus terulang. [Mungkin, hal ini terjadi karena Pak SBY selama menjadi militer, tidak pernah “pegang pasukan”, tetapi sebagai militer administratif. Jadi intuisi kepemimpinannya lemah].

Pusing Dibuat Sendiri

Dalam pidatonya yang berkisar 25 menit itu, Pak SBY berulang-ulang menyatakan tekadnya “untuk tidak mencampuri proses hukum”. Kalimat ini diulang-ulang, entah berapa kali.

Jelas suatu ironi yang sangat dahsyat. Pernyataan SBY malam kemarin itu, disaksikan seluruh rakyat Indonesia, bahkan dunia. Pernyataan itu jelas merupakan tindakan turut campur urusan hukum, baik langsung atau tidak. Tidak mungkin, pernyataan SBY mau dibawa ke urusan lain, misalnya ke urusan Gempa di Padang, gempa di Tasik, kekalahan timnas yunior Indonesia dalam piala Asia, tentang kesulitan transportasi jamaah Haji di Makkah, dll. Pernyataan itu jelas-jelas berkaitan dengan KASUS HUKUM Bibit-Chandra. Iya kan?

Bahkan SBY sudah salah langkah sejak awal. Why? Iya, dia membentuk Tim 8 yang diketuai Adnan Buyung (yang suka mengecat rambutnya dengan warna putih itu). Pembentukan Tim 8 berikut rekomendasinya, semua itu adalah bukti nyata bahwa SBY ikut campur soal hukum. Lho, mau ditafsirkan bagaimana lagi, Om? Apakah urusan yang dikerjakan Tim 8 itu berkaitan dengan masalah kesenian, olahraga, keagamaan, atau kuliner? Jelas-jelas ia berkaitan dengan hukum. Coba bayangkan, rekomendasi Tim 8 sendiri sangat jelas: Hentikan kasus hukum Bibit-Chandra.

Lha, apa orang Indonesia sudah pada bego-bego apa ya? (Maaf agak sarkas sedikit). Jelas-jelas kasus Bibit-Chandra itu masalah hukum. Kok katanya, “Tidak ikut campur soal hukum.” Pernyataan SBY, bahkan pembentukan Tim 8 sendiri adalah bagian dari tindakan mencampuri hukum, secara langsung atau tidak.

Sekarang kembali ke pernyataan SBY. Beliau meminta supaya Polri dan Kejaksaan tidak membawa kasus Bibit-Chandra ke pengadilan. Menurut Anda ini ada kaitannya dengan kasus hukum apa tidak? Jelas-jelas itu sangat berkaitan. Pertanyaan lain, menurut Anda ada tidak pengaruh dari pernyataan SBY ini bagi proses hukum Bibit-Chandra? Kalau Anda bilang, “Tidak!” Lalu apa gunanya SBY mengeluarkan pernyataan? Apa gunanya SBY membentuk Tim 8?

Ini benar-benar DRAMA KEBINGUNGAN luar biasa. Ini TRAGEDI AKAL SEHAT yang sangat menyayat hati. Kok bisa-bisanya SBY mengklaim tidak mau ikut campur soal proses hukum, sementara pernyataan dan tindakan-tindakan politiknya, sangat erat kaitannya dengan kasus hukum (Bibit-Chandra) yang sedang berjalan.

Kok bisa masyarakat Indonesia menerima sikap-sikap politik Pak SBY itu?

Sikap Konsisten

Kalau SBY benar-benar tidak mau ikut campur soal hukum, harusnya tidak usah membentuk Tim 8. Tidak usah menanti rekomendasi Tim 8. Tidak perlu membuat pernyataan-pernyataan politik seperti itu.

Lalu bagaimana dong seharusnya sikap Presiden?

Ketika muncul kasus Bibit-Chandra itu, cukuplah dia panggil Kepolisian dan Kejaksaan, lalu selesaikan secara politik, internal, secara diam-diam. Tidak perlu membuat pernyataan macam-macam. Kalau cara demikian masih gagal juga, SBY bisa copot Kapolri dan Jaksa Agung, ganti dengan tokoh lain yang bisa mengakomodir tujuan politik dia. Jadi, dia tetap bisa mengatasi masalah Bibit-Chandra itu dalam koridor posisinya sebagai RI, tanpa perlu ikut campur terlalu jauh.

Tetapi kan Pak SBY didesak disana-sini agar terlibat menuntaskan masalah ini?

Ya, itu tandanya SBY sangat mudah ditekan. Sangat mudah dikendalikan oleh opini yang berkembang. Atas dasar apa SBY menuruti tekanan-tekanan itu? Apakah ada aturan bahwa seorang Presiden harus menuruti opini yang berkembang di masyarakat?

Kalau memang tekanan itu sangat penting dan fundamental, mengapa dia tidak menempuh cara politik, misalnya membereskan masalah di Polri dan Kejaksaan Agung? Dengan cara ini, SBY bisa tetap memenuhi tuntutan publik, tanpa harus terlibat proses hukum.

SBY selama ini dikenal jago dalam “menundukkan orang” dengan cara diam-diam. Mengapa dia tidak melakukan hal yang sama saat membereskan masalah di Polri dan Kejaksaan? Bayangkan saja, saat pemilihan anggota Kabinet kemarin, SBY bahkan seperti mengadakan audisi “Cikeas Idol”. Bukti lain, Taufik Kiemas saja luluh dan mau menjadi Ketua MPR.

Mengapa Pak Beye, mengapa Anda tidak melakukan lobi-lobi “di bawah meja” saja? Mengapa Anda malah masuk begitu jauh ke urusan-urusan hukum? Anda hendak mendikte Polri dan Kejaksaan dengan menyarankan sesuatu yang sangat sulit bagi Polri dan Kejaksaan untuk menolak “saran” Anda. Namun atas semua ini, SBY masih mengklaim bahwa dia “tidak ikut campur proses hukum”.

Ini adalah kebohongan publik yang sangat terang-benderang. Jelas-jelas SBY turut campur kasus Bibit-Chandra. Malah sampai membentuk Tim 8 segala. Bagian mana yang membuktikan bahwa dia tidak ikut campur proses hukum Bibit-Chandra?

Game Politik SBY

Pernyataan SBY semalam sangat mencengangkan. Berkali-kali dia mengatakan, tidak akan mencampuri proses hukum. Tetapi pernyataan dia itu sendiri memiliki pengaruh bagi proses hukum Bibit-Chandra. Kasus Bibit-Chandra bisa dihentikan oleh Polri atau Kejaksaan, dengan dasar saran SBY tersebut.

Sekali lagi, saya menyebut masalah ini sebagai TRAGEDI AKAL SEHAT. Kok bisa-bisanya, wong jelas-jelas kasus ini hukum murni, dan hendak diselesaikan secara politik melalui pernyataan SBY, kok bisa disebut “tidak ikut campur proses hukum”.

Kenyataan seperti ini menjadi bukti nyata metode politik yang ditempuh SBY selama ini. Dari kasus “tragedi akal sehat” ini kita bisa membaca jelas bagaimana game politik yang dimainkan SBY selama ini.

PERTAMA, Pak SBY itu murni seorang politikus, bukan negarawan. Buktinya, dia dalam menghadapi berbagai persoalan, lebih kuat kalkulasi politiknya, daripada pertimbangan kepemimpinannya sebagai seorang negarawan.

Contoh simple, sebelum pidato tadi malam, sudah beredar pernyataan sebelumnya bahwa opsi yang akan ditempuh SBY adalah “out of court” (keluar dari mekanisme hukum). Pertanyaannya, mengapa SBY di berbagai kesempatan selalu menggunakan idiom-idiom bahasa Inggris (asing)? Apa dia tidak PD dengan bahasa Indonesia sendiri? Dulu waktu bicara di Kompas soal KPK, dia juga mengatakan, “KPK must not be unchecked” (KPK tidak boleh tidak dikontrol). Jujur saja, cara komunikasi SBY ini sangat mengecewakan dari sisi penggunaan bahasa Indonesia di negeri sendiri.

KEDUA, Pak SBY amat sangat “jaga image”. Bahkan sepertinya, modal politik utama dia adalah “jaga image” itu sendiri. Dia tidak mau disalahkan masyarakat karena mencuatnya kasus Bibit-Chandra. Ketakutan SBY sangat kuat, sehingga memutuskan untuk membentuk Tim 8. Padahal seharusnya, dia cukup memainkan lobi-lobi politik untuk menyelesaikan kasus Bibit-Chandra itu.

Toh, kalau mau jujur, dengan pertimbangan politik juga SBY bersikap diam saja atas Anggodo, tuntutan pencopotan Kapolri dan Jaksa Agung. Dia juga diam atas kasus pencatutan nama dia dalam rekaman Anggodo. Bahkan SBY terkesan membela diri dalam kasus Bank Century. Jadi, sikap politik SBY itu ada, tetapi tidak dipakai dalam kasus Bibit-Chandra. Hal ini semata demi image.

Akhirnya, silakan lihat masalah ke depan secara jernih. Pak SBY masih punya waktu sekian lama untuk memimpin negara ini. Tapi kalau cara-caranya tetap seperti yang kita saksikan ini, ya siap-siap saja bersabar. Salah satu amanah Konstitusi adalah “ikut mencerdaskan bangsa”. Semoga “TRAGEDI AKAL SEHAT” di atas tidak terulang lagi. Sangat memalukan! Masak seorang Presiden memberi contoh kepada rakyatnya cara MENGINGKARI perbuatannya sendiri.

= Mine =


Pencatutan Nama SBY

November 18, 2009

Tentu kita masih ingat dengan rekaman percakapan Anggoda dengan berbagai pihak yang beberapa waktu lalu diperdengarkan di gedung MK itu. Rekaman itu memicu sebuah momentum yang sangat MENDEBARKAN. Mengapa mendebarkan? Sebab, ia bisa mengarah kepada pembersihan institusi-institusi hukum di Indonesia dari para Mafioso hukum. Jika itu terjadi, woow luar biasa! Bukankah itu yang diingkan oleh gerakan Reformasi 1998 lalu?

Namun mirisnya, kalau masyarakat kehilangan momentum karena kelamaan menunggu penuntasan masalah ini.  Seperti kita ketahui, ibarat permainan bola, aparat hukum di Indonesia sangat senang memainkan strategi “mengulur-ulur waktu”. Mereka sangat tahu tabiat masyarakat kita ini (maaf), “hangat-hangat tahi ayam”. Panas sebentar, kemudian dingin lagi. Aparat di Indonesia sangat paham hal ini, maka mereka selalu  “mengulur-ulur waktu” agar suatu kasus tertentu cepat dilupakan. Rekaman di MK itu mengandung harapan besar, tetapi juga bisa kempes lagi seperti momentum-momentum kesadaran sosial lainnya.

Ada satu hal yang unik dari kasus “Rekaman Anggodo” di MK itu. Dalam rekaman itu nama SBY beberapa kali disebut oleh seorang wanita (Ong Yuliana) dan Anggoro yang sedang di Singapura. Hanya saja, Anggoro hanya menyebut istilah RI-1. Kalau ucapan Ong Yuliana bolehlah dianggap sepi saja. Maklum, dia hanya pemain “figuran” saja. Tetapi kalau ucapan Anggoro tentu lain. Anggoro pemilik dana sekitar 700 miliar rupiah, yang 1 % saja (7 miliar rupiah) cukup untuk membiayai operasional “utak-atik hukum” oleh Anggodo. Tentu sangat bego seorang Anggoro kalau menyebut nama RI-1 tanpa makna sama sekali.

Singkat kata, SBY maupun pihak Kepresidenan menolak keras namanya dicatut dalam rekaman itu. Dino Patti Djalal mewakili SBY meminta supaya pencatutan nama SBY itu diusut tuntas. “Presiden minta diusut dengan tuntas karena ini masalah serius,” kata Dino Patti Djalal, di kantor Presiden. (Suara Merdeka, 28 oktober 2009).

Seharusnya, ketika SBY meminta agar pencatutan namanya diusut tuntas, maka orang-orang yang menyebut namanya dalam rekaman itu harus ditangkap dan diperiksa. Mereka adalah Anggodo, Ong Yuliana, atau Anggoro sendiri. Ya, siapa lagi? Wong mereka kok yang menyebut-nyebut nama SBY. Namun sampai saat ini mereka masih bebas, belum ada pengusutan tuntas seperti yang disebut oleh Dino Patti Djalal.

Apakah ini berarti Kepolisian dan Kejaksaan mengabaikan instruksi SBY untuk mengusut tuntas kasus pencatutan nama SBY tersebut? Apakah Kepolisian dan Kejaksaan tidak memahami instruksi SBY?

Mungkin aparat Kepolisian akan berdalih, “Rekaman itu tidak bisa menjadi alat bukti yang kuat.” Kalau begitu logikanya, mengapa SBY meminta supaya kasus pencatutan namanya itu diusut tuntas? Apa artinya perintah SBY itu? Apakah sekedar untuk cari popularitas, atau itu menunjukkan SBY tidak mengerti hukum sehingga membuat instruksi seenaknya sendiri?

Paling tidak, pencatutan nama SBY sudah menjadi fakta. Terlepas apakah rekaman itu bisa menjadi bukti yang kuat atau tidak. Disana sudah jelas-jelas ada perkataan, “SBY mendukung kita!” Ini kan jelas-jelas penyebutan nama yang tidak bisa diingkari lagi. Disini sudah merupakan kasus hukum tersendiri, terlepas apakah ia berkaitan dengan isu Chandra-Bibit atau tidak. Yang jelas, pencatutan nama itu ada dan fakta.

Namun sampai saat ini Anggodo, Ong Yuliana, atau Anggoro tidak pernah diperiksa soal kasus “pencatutan nama” itu. Pihak Kepolisian atau Kejaksaan seperti mengingkari kenyataan, bahwa rekaman itu ada dan nyata. Mereka seperti mengingkari pendengarannya sendiri. Sangat ironis! (Padahal katanya, kalau mau menjadi pejabat publik itu harus sehat lahir-bathin, tidak buta atau tuli).

Justru ketika Anggodo dan Ong Yuliana tidak diproses oleh aparat hukum, hal ini semakin menguatkan dugaan, bahwa isi percakapan yang membawa nama SBY itu bukan suatu omong kosong. Ya, bagaimana lagi kita akan memahaminya? Hanya itu kemungkinannya. Dan disana juga menjadi bukti kesekian kalinya, bahwa uang mengendalikan hukum di negeri ini.

Selamat berpikir dan berubah lebih baik!!!

 

 

AMW.

 


Ketika Pemimpin Jadi SELEBRITIS

Oktober 15, 2009

Di sebuah negara, sebutlah namanya Keblingersia (baca dengan bahasa Sunda).  Di negeri ini rakyatnya sangat memuja-muja TV. TV menjadi “ibadah ritual” harian mengalahkan ibadah-ibadah lainnya. Salah satu acara TV yang sangat disukai adalah GOSIP SELEBRITIS. Rakyat negeri itu begitu memuja-muja para selebritis, melebihi kecintaan mereka kepada Nabi Saw. Kalau ditanya nama, judul lagu, judul sinetron, suami-isteri, dll dari seorang selebritris; warga Keblingersia tahu di luar kepala. Tapi kalau ditanya nama-nama keluarga Nabi Saw, mereka pada bengong.

Rupanya, sebagian pemimpin politik mengerti tentang selera “selebritis minded” rakyat negeri itu. Maka untuk memenangkan pertarungan politik, pemimpin itu tampil “sekinclong” mungkin, seperti para selebritis. Foto dia dipilih yang sebagus mungkin, dari ribuan pose wajah. Dicari yang tampak “awet muda”, segar, selalu mengulum senyum, dan seterusnya. Foto itu pun ditransfer dalam bentuk poster, pamflet, spanduk, kaos, sticker, cetakan buku, iklan TV, dan macam-macam media (istilahnya mix media).

Teorinya sederhana saja: “Sebagian besar pemilih di negeri itu kaum wanita dan gadis-gadis (yang merasa masih gadis, lho). Mereka doyan dengan dandanan selebritis. Maka kalau mau menang pemilihan, bikin promo sehebat para selebritis. Kalau perlu 10 kali lipat lebih hebat. Dijamin, akan menang pemilihan.” Ternyata, teori ini manjur bukan main. Rakyat negeri Keblingersia lupa dengan segala duka-lara hidupnya. Mereka merasa takjub, terharu, terpesona, kagum, cinta, rindu, kepada seorang “selebritis politik” tertentu.

Adapun kandidat-kandidat lain yang menampilkan keberanian, inovasi baru, gebrakan, visi pembangunan, agenda kemandirian, dan sebagainya, semuanya tidak laku. Karena warga Keblingersia sudah kadung mabuk dengan segala macam dunia GOSIP SELEBRITIS. Mereka sudah kadung cinta wajah tampan, maka pikirannya pun tidak berjalan normal. Kuat diduga, banyak warga Keblingersia yang sehari-hari tidak shalat. Kalaupun shalat, mereka hanya shalat fisiknya saja, sementara hatinya lalai. (Na’udzubillah min dzalik).

Hebatnya… Pemimpin negeri itu benar-benar paham selera GOSIP SELEBRITIS rakyatnya. Bukan hanya penampilan yang dibuat “klimis” bak selebritis. Sampai karakter politik pun dibuat semeriah dunia Gosip Selebritis.

Coba perhatikan beberapa kenyataan seperti di bawah ini:

<=> Setiap masuk suatu ruangan terbuka, pemimpin itu dielu-elukan dengan tepuk tangan, diiringi “dayang-dayang” yang panjang.

<=> Dalam pencalonan pejabat tertentu, dia sangat memegang “hak prerogatif”. Istilah yang kerap dipakai, setiap kandidat pejabat yang akan dipilih “sudah ada di kantong”.

<=> Pemimpin itu sangat sering berkeluh-kesah di depan umum. Tidak ragu untuk “curhat” di depan rakyat. Seakan, semua pihak dituntut memahami perasaannya.

<=> Dalam pengumuman nama-nama kandidat pejabat, dia sangat suka melama-lamakan urusan. Sangat suka kalau media-media massa meliput setiap gerak-gerik urusannya. Seolah penentuan calon anu dan anu, semua itu “komoditas gosip politik” yang bermanfaat bagi masyarakat. Semakin lama urusan berjalan, dia semakin girang, sebab media-media massa akan menjadikan urusannya sebagai gosip menarik.

<=> Kalau pemimpin itu seharusnya memiliki lapang dada, maka dia justru “gampang tersinggung”. Ada orang mengatakan “lebih cepat lebih baik”, dia tersinggung, marah, lalu “curhat”. Selebritis banget pokoknya.

Informasi terakhir yang cukup menyita perhatian media-media massa adalah soal rancangan kabinet. Sekitar 10 tahun lalu ada seorang pemimpin politik yang membuat prestasi dahsyat. Hari ini dia dilantik jadi pemimpin, besok kabinetnya sudah terbentuk. Luar biasa. Itu satu-satunya dalam sejarah Indonesia. Hebatnya, kabinet itu berjalan efektif dan membuat banyak prestasi, padahal hanya disusun dalam masa 1 hari.

Nah, di negara Keblingersia saat ini lain. Justru kalau terlalu cepat disusun tidak bagus, tidak jadi gosip media-media massa. Maka urusan penentuan kabinet pun diulur-ulur bukan main lambatnya. Segala macam momen akan dimanfaatkan untuk SELEBRASI agar rakyat semakin jatuh cinta dengan wajah tampan pemimpin itu. Laa haula wa laa quwwata illa billah. Herannya, banyak politisi yang senang dengan keadaan itu, sebab mereka jadi ikut terkenal.

Inilah kenyataan yang memang ada demikian. Hal-hal yang tidak terpuji justru laku di pasaran. Bisa dibayangkan ketika dunia politik berubah menjadi panggung selebritis, kira-kira akan jadi apa wajah negeri itu?

Kata Nabi Saw, kalau amanah disia-siakan, tunggulah saat kehancuran. Bagaimana amanah disia-siakan? Yaitu ketika amanah diserahkan kepada yang bukan ahlinya. (HR. Bukhari). Orang bakat jadi selebritis, kok didaulat menjadi pemimpin…Ya begitulah.

AMW.


Pemimpin Arif Bijaksana

Juli 18, 2009

Hanya berselang beberapa jam setelah ledakan bom di JW Marriot dan Ritz Carlton, seorang Presiden yang arif bijaksana langsung membuat pernyataan politik. Dalam pernyataannya, dia mengutuk keras aksi bom itu. Namun selain mengutuk, dia juga memperluas pernyataannya kemana-mana.

Dia mengklaim, ada gerakan orang-orang tertentu yang tidak suka ketika dia terpilih lagi sebagai Presiden. Dia sebutkan indikasi-indikasi tertentu, sesuai laporan intelijen. Dia katakan, ada sekelompok orang yang melakukan latihan menembak dengan sasaran foto dirinya. Malah dia tunjukkan beberapa foto untuk menguatkan tuduhannya. Malah sampai ada ungkapan, ada yang ingin agar kondisi di Indonesia menjadi keruh seperi di Iran pasca kemenangan Ahmadinejad.

Maklum, karena memang ini pemimpin yang arif bijaksana, maka begitu terjadi teror bom, langsung menyerang kesana-kemari. Terutama menyerang ke lawan-lawan politiknya. Dia bilang, ada sekelompok orang yang tidak suka dia terpilih menjadi Presiden lagi.

Saya bilangi ya, pasca Pilpres kemarin, menurut data quick count, ada sekitar 40 % pemilih (gabungan dari pemilih JK-Wiranto dan Mega Pro) yang tidak suka dia menjadi Presiden. Ini fakta. Mereka tidak suka dia menjadi Presiden lagi, maka dalam Pilpres mereka tidak mencontreng orang itu. Lho, apa ini aneh? Apa ini melanggar hukum? Apa yang namanya Pilpres itu, semua penduduk 100 % harus milih dia?

Kemudian dia mengatakan, menurut laporan intelijen, ada orang-orang tertentu yang latihan menembak dengan foto dia sebagai sasaran. Maka benar kata Mbak Mega, kalau memang ada orang seperti iu mengapa tidak ditangkap sejak awal saja? Lha iya tho. Kalau memang sudah ada indikasi berbau teroris, ya diringkus saja sejak awal. Wong Syech Puji saja bisa diringkus paksa kok, masak orang macam begitu tidak bisa diringkus?

Lagi pula, bagaimana sih seharusnya adab sopan santun seorang pemimpin? Harusnya, setelah kejadian seperti itu, membuat pernyataan mengutuk keras aksi terorisme, lalu memerintahkan kepolisian untuk bekerja maksimal, lalu meyakinkan semua pihak agar tenang dan terkendali. Lha, ini kok malah manas-manasi masyarakat dengan isu-isu yang justru sangat rawan kontroversi. Ibarat sudah ada bara api, malah disiram bensin.

Soal bukti foto-foto. Ya, di jaman begini, apa sih yang tidak bisa dibuat? Jangankan foto, uang kertas yang katanya 100 % sulit dipalsukan, tetap saja bisa dipalsukan. Bahkan uang palsu itu juga memakai hologram dan garis pengaman, meskipun tentu tidak sebagus aslinya.

Di dunia penuh rekayasa ini, mau membuat foto macam apapun bisa. Lihatlah bagaimana ilusi David Coperfield dengan “sihirnya”. Dia bisa menipu jutaan manusia dengan ilusi-ilusi yang dibuatnya. Contoh lain, setelah George Bush dilempar sepatu di Baghdad, muncul aneka game-game dengan bahan dasar kejadian pelemparan sepatu itu. Tentu para pembuat game itu bukan orang-orang White House. Para pembuatnya tentu orang-orang kreatif yang bisa mengutak-atik materi informasi dengan segala kreatifitasnya.

Kita perlu menulis seperti ini, sebab biasanya Ummat Islam selalu menjadi sasaran bulan-bulanan informasi. Perlu Anda ingat, para pendukung JK-Wiranto kemarin banyak dari kalangan ormas Islam. Tapi ya sudahlah, mari kita ucapkan selamat kepada pemimpin yang arif bijaksana!!!

Monggo dilanjutkan sikap arif bijaksananya!

AMW.