Mereka Itu Main Riset Lho

Juli 15, 2015

** Indonesia jadi target kolonialisasi negara-negara kuat ekonomi. Tujuan dasar: memperluas pengaruh & eksploitasi kekayaan.
** Kelemahan orang Indonesia, karakter lemah. Islam agama superior, tapi TAK MAMPU dipahami. Islam sebatas: identitas, simbol, ritual. Hanya itu.
** Kelemahan lain, mayoritas Muslim Indonesia fakir-miskin. Keyakinan bisa diatur-atur sesuai tawar-menawar ekonomi. Siapa berani harga tinggi, akidah bisa ditukar.
** Untuk menguasai suatu bangsa, dilakukan riset terlebih dulu. Tujuannya cari data-data untuk merumuskan strategi terbaik.
** Setiap yang pernah menerima beasiswa dari NEGARA SYIAH itu, akan digunakan, untuk penggalian data. Dasarnya: mereka itu loyal ekonomi dan mau balas budi.
** Perilaku Mut’ah juga bisa menjerat. Para pelaku sudah didata pernah Mut’ah di mana dan dengan siapa?
** Segala hal tentang Muslim negeri ini diselidiki. Termasuk hal-hal remeh seperti:
= Jenis-jenis sarung yang dipakai ke masjid.
= Kebiasaan sandal ilang di masjid.
= Makanan khas buka puasa.
= Variasi bacaan tarhiman (puji pujian) yang sering dibaca di masjid-masjid.
= Model-model jilbab Muslimah, dll.
** Bahkan isu-isu KONFLIK diriset sangat detail. Misal perselisihan sedekap dalam shalat, jumlah rakaat tarawih, kirim bacaan Al Fatihah, mayat disiksa karena tangisan ahli waris, Nabi naik ke langit dengan badan-ruh atau ruh saja, dll.
** Isu konflik harus dikuasai, untuk melemahkan sebuah bangsa, lewat “debat sampai akhir zaman”. TAK ada habisnya.
** Yang mau dapat kerja, harus setor hasil penyelidikan tentang Muslim Indonesia.
** BEGITULAH… Riset besar dengan dana besar sudah dilakukan. Tujuannya “untuk panen revolusi” di suatu masa nanti.
** Mereka main riset, tapi kita tak menyadarinya. Sayang memang.
NAS’ALULLAH AL ‘AFIYAH.

(MindOn).


Setitik Rahasia di Balik RISALAH AMMAN

April 29, 2015

* Risalah Amman (Amman Message) adalah semacam “deklarasi damai” antara para tokoh dan ulama Muslim anggota OKI. Disepakati di ibukota Yordan Amman, pada 4-6 Juli 2005.

* INTI risalah itu adalah seruan damai bagi penduduk negeri-negeri Muslim (khususnya anggota OKI). Hendaknya tidak saling menyerang/perang antar sesama bangsa; meski punya perbedaan-perbedaan paham.

* Kesepakatan ini tidak lepas dari situasi konflik di Irak pada 2003 dan Afghanistan pada 2001. Jadi antisipasi supaya konflik/perang tidak makin meluas ke negeri-negeri Muslim lain.

* Dalam Syariat Islam berdamai boleh. Dengan Ahlul Kitab, boleh; seperti Piagam Madinah; di sana ada damai dg Yahudi. Dengan orang musyrikin, boleh; seperti perjanjian Hudaibiyah antara Rasulullah Saw dg orang-orang musyrik Makkah. Dengan kaum sesat seperti Khawarij, boleh; seperti Khalifah Ali Ra biarkan Khawarij Nahrawan, sampai mereka membuat serangan, baru diperangi. Damai dg sesama Muslim, lebih boleh lagi.

* KESIMPULAN, akad damai dengan siapapun boleh. Karena damai lebih baik daripada perang.

* Tapi kalangan Syiah selalu mengklaim, bahwa ULAMA-ULAMA SUNNI MENGAKUI KEABSAHAN SYIAH lewat Risalah Amman. Ini klaim mengada-ada. Tidak benar seperti itu. (Kalau klaim itu benar tentu ulama-ulama Sunni itu akan mudah saja menyeberang menjadi pengikut Syiah).

* SATU LAGI, setelah Risalah Amman beredar tahun 2005, Iran Syiah justru sangat agressif menyerbu negeri-negeri Muslim dengan makar revolusinya. Itu berjalan sampai skarang. Banyak negeri Sunni berkobar akibat Syiah ini seperti: Irak, Yaman, Bahrain, Libanon, Suriah, Saudi Timur, bahkan aromanya sudah tercium di Indonesia.

* SEOLAH para ulama dijebak agar “sepakat dg keabsahan Syiah” lebih dulu; setelah itu agen-agen Syiah merajalela tawarkan revolusi Khomeiniyah.

Nas’alullah al ‘afiyah fid dini wad dunya wal akhirah. Amin.

(JoinNow).


BISAKAH ISLAM BERDAMAI DENGAN SYIAH ?

Februari 19, 2015

> Kita bicara obyektif ya. Tanpa emosi. Murni sebatas ilmu.

> Berdamai dengan orang kafir betulan, Ahlul Kitab dan musyrikin, itu BISA. Tapi dengan Syiah, tidak mungkin berdamai.

"Syiah Antitesis ISLAM"

“Syiah Antitesis ISLAM”

> Nabi SAW pernah berdamai dengan Yahudi, kabilah-kabilah Arab, juga musyrikin Makkah. Ingat momen Piagam Madinah dan Hudaibiyah.

> Berdamai dengan orang kafir betulan sangat mungkin. Karena MASING-MASING PUNYA KEYAKINAN SENDIRI. Islam begini; Kristen begitu; Yahudi beda lagi; Hindu lain; Budha beda, dan strusnya.

> Tapi agama Syiah kan beda. Mereka mengambil BAHAN DASAR dari Islam, lalu mereka bentuk apa saja YANG MENENTANG prinsip-prinsip Islam. Itulah hakikat Syiah.

> COBA perhatikan akidah Syiah: Menghujat Al Qur’an, menghina isteri-isteri Nabi, menghina Abu Bakar, Umar, Utsman dan para Shahabat Nabi, mempertuhankan imam-imam, menafikan hadits Nabi, menghalalkan zina, mengkafirkan Muslim, dan lain-lain.

> Kalau Syiah ngajak damai, ngajak toleran, ngajak menghormati nilai-nilai Islam (Syariat), ngajak menghormati tokoh-tokoh Ummat, ngajak kembali ke esensi Kitabullah dan Sunnah…kalau begitu caranya, justru mereka akan KEHILANGAN MAKNA Syiah itu sendiri. Cara begitu sama dengan Islam alias Ahlus Sunnah.

> Ketidakmungkinan damai dengan Syiah, justru karena AKIDAH yang mereka peluk. Akidah mereka adalah ANTITESA akidah Ahlus Sunnah (ISLAM). Bukan karena soal-soal politik, pemikiran, atau wawasan budaya.

> Kalau hanya faktor politik, dg org kafir tulen pun kita bisa berdamai.

SEMOGA BERMANFAAT. Amin.

(Mine).


Padahal Ustadz Arifin Itu Kan Lembut…

Februari 19, 2015

* 11 Februari 2015, perkampungan jamaah Majelis Dzikir Ustadz Arifin Ilham, Adz Dzikra, di Sentul, diserang sekitar 30-an orang. Mengatasnamakan FBR. Tapi banyak pihak menyebut mereka adalah orang Syiah.

* Serangan ini hanya karena sejak dua bulan lalu, di depan komplek Adz Dzikra itu ada spanduk “Tolak Syiah”. Di masjid-masjid Bekasi pernah berbulan-bulan dipasang spanduk “Tolak Salafi Wahabi”, tapi tidak ada penyerangan apapun dari pihak Salafi. Lha ini, baru spanduk begitu saja, baru dua bulan, itu pun hanya satu dua; langsung Syiah emosi dan menyerang. Waduh…

Dakwah Lembut Juga Diserang

Dakwah Lembut Juga Diserang

* Heran juga dengan kaum Syiah ini. Apa mereka tak melihat kalau Ustadz Arifin Ilham selama ini kan dakwahnya kalem-kalem saja? Berbeda dengan ustadz-ustadz MMI, Salafi, dan lainnya yang memang tegas dan lantang tentang Syiah. Lha Ustadz Arifin kan hanya semacam itu, berkerumun di sekitar majelis dzikir; kok sampai diserang itu bagaimana ceritanya ya?

* Tapi ada BERKAH-nya, alhamdulillah. Kasus ini membuka mata masyarakat luas, bahwa Syiah membidik kaum Muslimin non Wahabi (Salafi). Buktinya, ya kejadian ini. Juga kejadian di Sampang, pembacokan ustadz NU di Jember, sambit-sambitan di YAPI Pasuruan.

* Kalau melihat kisruh kehidupan di Pakistan, Irak, Suriah, Libanon, Bahrain, Yaman, Mesir, dan lainnya… Rata-rata itu bukan negeri Wahabi (Salafi). Jadi ya silakan direnungkan untuk selanjutnya…

Terimakasih.

(Mine).


APAKAH SYIAH KAFIR….?

Desember 19, 2014
Lihat Karakter Ini...

Lihat Karakter Ini…

* Ada seorang ustadz yg membuat status, kira-kira maknanya spt judul di atas. “Gue jadi ragu neh buat ngafirin Syiah.”

* INTINYA gini saja Saudaraku: KITA AKAN MENGKAFIRKAN PAHAM APA SAJA YG MEMBAHAYAKAN ISLAM. Nah, begitu. Batasannya adalah: menjaga agama kita ini. Terserah deh Syiah atau Syibeh. Yg jelas, kalau agama kita dalam bahaya: TOLAK, TOLAK, dan TOLAK.

* Lalu paham macam apa dari kaum Syiah ini yg membuat kita harus bersikap tegas? Nah, ini perlu dijelaskan lagi & terus dijelaskan, bi idznillah.

* BERIKUT AKIDAH SYIAH:

A. Mereka menolak Al Qur’an kita, katanya sdh dipalsukan, diselewengkan para Shahabat Ra. Mereka punya kitab tandingan Al Qur’an. (Haidar Bagir pernah menulis riwayat-riwayat yg meragukan orisinalitas Al Qur’an).

B. Mereka punya konsep HADITS sendiri. Berbeda dg konsep hadits Ahlus Sunnah. (Berkali-kali Jalaluddin R mengkritik Aisyah Ra, Abu Hurairah Ra, Imam Bukhari, dll).

C. Mereka mengkafirkan mayoritas para Shahabat Ra, trutama Abu Bakar Ra, dan Umar Ra. Yg tdk dikafirkan cuma segelintir, seperti Ali, Salman, Miqdad dan beberapa Radhiyallahu ‘anhum. (ALLAH SWT telah ridha kepada Shahabat Ra, tapi oleh Syiah malah dilaknat, dicaci maki. Mereka memusuhi KERIDHAAN Allah. Mau nyari apa, man?).

D. Mereka mengeluarkan istri-istri Nabi dari Ahlul Bait, bahkan sgat memusuhi Aisyah Ra dan Hafshaf Ra. Istri yg Nabi cintai malah dimusuhi.

E. Mereka menyembah para Imam yg 12 dari silsilah Ahlul Bait. Orang-orang saleh itu ditempatkan pada maqam KETUHANAN. Mereka hukumi mukmin bagi yg mengimani sifat-sifat Ketuhanan para imam; dan dihukumi kafir bagi yg menganggap mereka manusia biasa (shalihin).

F. Syiah menjadikan kota Najaf, Karbala, Kufah sbg kota suci. Begitu juga kota Qum. Sbg tandingan atas Kota Suci Makkah dan Madinah.

G. Syiah meyakini konsep Bada’. Intinya, Allah SWT bisa salah dalam perbuatan-NYA. Mereka juga meyakini konsep Raj’ah, yaitu reinkarnasi tokoh-tokoh Ahlul Bait.

H. Syariat Islam sbg WAHYU ILAHI ditegakkan di atas prinsip Kejujuran, Kebenaran, Keadilan. Tapi Syiah menjadikan kebohongan, kepalsuan, khianat sbg DASAR AGAMA. Itulah konsep Taqiyah.

I. Syiah telah merusak, menodai, memfitnah, serta menghancurkan NAMA BAIK Ahlul Bait Nabi SAW. Ini adalah dosa sgat luar biasa yg tdk terampuni. Citra Ahlul Bait jadi rusak di tangan mereka. Oleh itu Zainal Abidin rahimahullah pernah berkata, “Jangan perlakukan kami sebagai berhala.” Mereka bukan memuliakan, tapi merusak reputasi Ahlul Bait.

J. Syiah pada hakikatnya telah memusuhi, melawan, memerangi, serta MENGKAFIRKAN para Ahlus Sunnah. Ya mengkafirkan kaum Muslimin secara umum seperti kita-kita ini. Selama kita belum iman kpd imam-imam Syiah, kita dianggap kafir. Nas’alullah AL ‘AFIYAH minal kufri was syirki wad dhalalah, amin.

* Inilah 10 POIN dasar kesesatan Syiah. Padahal kita tidak membahas soal nikah muth’ah dan khumus. Belum kesana.

* Semua poin-poin itu adalah KEKUFURAN. Tanpa terkecuali. Semua itu membahayakan ISLAM. Jadi BUKAN KITA MENGKAFIRKAN SYIAH; TETAPI MEREKA MENGKAFIRKAN DIRINYA SENDIRI.

* Aspek hukumnya begini: Siapa saja yg secara SADAR dan PAHAM meyakini poin-poin itu, dia jelas kafir, karena dia meyakini hal-hal yg MENGHANCURKAN Syariat Islam. Namun harus dipastikan dulu, yg bersangkutan: rela, sadar, mengerti!

* Tapi bagi kita, cukup pemahaman UMUM, bahwa meyakini poin-poin di atas adalah KEKAFIRAN. Adapun vonis ke pribadi-pribadi, kita serahkan ke ulama-ulama yg kredibel (misal MUI).

* Kita boleh bersikap TEGAS kepada para dai, ulama, atau orang-orang yg terang-terangan mendakwahkan akidah Syiah. Mereka itu bukan orang awam yg berhak diberi toleransi.

* Bolehkah kita melaknat orang Syiah? Jawab: Kalau kita tahu mereka SEDANG atau TELAH melaknat isteri-isteri Nabi dan Para Shahabat RA, kita boleh balas melaknat mereka dg dalil: “Radhiyallahu ‘anhum wa radhuu ‘anhu” (Allah ridha pada Shahabat Nabi dan mereka semua ridha kepada Allah). Kalau ada yg berani melaknat hamba-hamba yg telah diridhai Allah, balas laknat mereka!

* Adapun posisi Tengku Hasbi As Shiddiqi rahimahullah; beliau hanya melihat dari aspek PERBEDAAN FIQIH saja. Sejauh hal itu tidak MENGHALALKAN YG HARAM dan MENGHARAMKAN YG HALAL; masih bisa ditoleransi. Rata-rata ulama Sunni tidak mengkafirkan Syiah gara-gara pendapat fiqih yg masih DALAM KORIDOR Syariat Islam.

* KESIMPULAN: “Kami tidak mengkafirkan Syiah; tapi merekalah yang mengkafirkan dirinya sendiri.” Sorry ya, bukan kita yg kafirkan mereka.

* Semoga tulisen sederhana ini bermanfaat. Amin ya Allah. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamiin.

Sumber: akun facebook pribadi.


CARA KITA MENCINTAI AHLUL BAIT

Desember 19, 2014
SUNNI Pasti Mencintai Ahlul Bait Nabi

SUNNI Pasti Mencintai Ahlul Bait Nabi

* Sebagian org brpikir bhw madzhab AHLUS SUNNAH (Sunni) tidak mghargai Ahlul Bait Nabi Saw. Ini tuduhan salah.

* Kaum SUNNI sgat mencintai, mghormati, memuliakan, membela Ahlul Bait Nabi Saw. Kita mencintai mereka, krn mereka adalah BAGIAN DARI KEHIDUPAN Nabi Saw. Kalau terhadap sorban, sendal, pedang, baju dan barang-barang sisa dipakai Nabi Saw, kita hormati; apalagi darah daging beliau? Anak, istri, cucu-cucunya? Pasti kita muliakan.

 

* Hanya saja, cara kita mencintai Ahlul Bait bersifat ADIL, BIJAK, MANUSIAWI. Kita tidak menjadikan mereka SESEMBAHAN yg diibadahi, seperti yg biasa dilakukan orang SYIAH. Nabi Saw saja tidak kita sembah, apalagi orang selain beliau?

* PERTAMA: Kita memandang Ahlul Bait sbg manusia-manusia pilihan. Tidak mencelanya. Tidak membencinya. Sbg manusia mereka bisa salah. Tapi kita yakin, Allah SWT mengampuni, memaafkan mrk.

* KEDUA: Dalam mencintai Ahlul Bait, kita TIDAK BOLEH menjadikan para Shahabat Ra yg lain sebagai MUSUH, manusia tercela, sasaran kebencian, karena Ahlul Bait & para Shahabat hidup BAIK-BAIK SELALU, BERSATU, SALING MENCINTAI, KERJASAMA. Maka kita tak boleh mencintai sebagian dg memusuhi yg lainnya.

* KETIGA: Ahlul Bait adalah tokoh-tokoh utama dalam sejarah Islam. Meskipun begitu tidak berarti Islam mengajarkan SISTEM KEBANGSAWANAN AGAMA. Tidak ada itu. Siapa saja bisa menjadi yg terbaik dalam Islam, jika dia paling brtakwa (Al Hujuraat 13). Hal itu dibuktikan oleh Nabi Saw dg memberi kepercayaan kpd para Shahabat non Ahlul Bait dlm urusan ilmu, perang, zakat, dakwah, dsb. Nabi Saw menunjuk siapa saja, tanpa membedakan dia Ahlul Bait atau bukan.

* KEEMPAT: Tentang masalah-masalah politik yang melibatkan Ahlul Bait di masa lalu, maka semua itu merupakan IJTIHAD mereka; kita berbaik sangka kpd mereka; adapun soal perhitungan amal, telah mendapat sebaik-baik hasil dari Allah. Kita yakin Allah Maha Bijaksana. Dan smua itu kita pandang sbg MASALAH SEJARAH, bukan SUMBER AKIDAH. Mengapa? Karena Syariat Islam SUDAH SEMPURNA, sblum Nabi wafat.

* INTINYA kita mencintai Ahlul Bait secara adil, bijaksana, manusiawi; dan tidak membenci, memusuhi, atau brdusta atas mereka.

Alhamdulillah Rabbil ‘alamiin.

Sumber: akun facebook pribadi.


Ridwan Saidi Tambah Ngaco…

Oktober 28, 2013

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Mestinya ya orang tua itu semakin bijak, semakin baik, semakin mulia; mulai meninggalkan jejak-jejak kemuliaan bagi diri, keluarga, dan masyarakatnya. Tapi aneh dengan Engkong Ridwan Saidi ini; sudah mendekati saat-saat akhir kehidupan, malah meninggalkan JEJAK KEBUSUKAN yang tercium ke seluruh alam. Na’udzubillah wa na’udzubillah min dzalik.

1. Awalnya Ridwan Saidi dikenal sebagai sejarawan kritis, juga tokoh yang intens mengamati pergerakan Zionis Yahudi. Mulanya termasuk bagian dari barisan perjuangan kaum Muslimin. Tapi aneh sekali, dalam acara resepsi kesesatan Syiah kemarin di SMESCO Jakarta (26 Oktober 2013) dia malah memuji-muji perserikatan “tukang kutuk Shahabat” yang bernama IJABI. Sudah begitu, dia memuja…menghamba…mengkultus…mengelu-elukan manusia pembawa laknat dan petaka: Jalal Sisyiah.

2. Ridwan Saidi mulai aneh-aneh sejak gaul dengan Jakarta Lawyers Club (sekarang jadi Indonesia Lawyers Club), yang ditukangi Karni Ilyas di TVOne. TVOne telah membuat kehidupan hari tua Ridwan jadi berbeda; dia jadi kenal dunia media, dunia panggung, dunia broadcasting; dunia cewek-cewek cantik. Ketika Tina Talisa masih di TVOne, Ridwan Saidi sering dipanggil: Engkong.  Mungkin maksudnya, Tina meminta supaya Ridwan mulai sadar diri bahwa dirinya sudah lanjut usia, jadi jangan aneh-aneh.

3. Industri media memang dahsyat, maka tidak ada salahnya seseorang tidak mau gaul dengan dunia TV atau RadioFM dengan pertimbangan, khawatir terkena fitnahnya. Dunia syuting itu sering kerja siang-malam di studio, laki-laki perempuan campur aduk, dan mereka sudah sepakat untuk “sama-sama diam soal cinta”. Maka itu, peluang rusaknya moral di dunia begini, sangat besar. Meskipun kita tidak menuduh Ridwan Saidi akan jadi semacam “ABG Tua”; tapi ya begitulah dunia media, sangat rawan kehancuran moral.

4. Contoh simple ialah seniman Sujiwo Tejo. Sejak banyak gaul dengan TV, terutama TVOne, dia juga sudah mulai lumer. Katanya dulu Sujiwo pernah “nyumpahi” orang TVOne, tapi sekarang ya tetap kumpul-kumpul, gathering.

5. Sangat menyedihkan ketika Ridwan Saidi sudah tua, malah membuka topeng dirinya sebagai pembela Syiah. Kasihan banget Pak. Meskipun ada 1000 Ridwan Saidi, tak akan banyak gunanya bagi Syiah; wong dia sudah tua, sudah lemah, tambah emosian lagi. Gak ada gunanya Pak dukungan kamu ke Syiah. Tapi secara keimanan, dukungan ke Syiah (IJABI) ini bisa jadi tanda-tanda su’ul khatimah. Nas’alullah al ‘afiyah fid dunya wal akhirah.

6. Ya kalau masih ada kesempatan dan kebaikan, cobalah Bang Ridwan Saidi bertaubat dari kesesatannya; dengan Anda mendukung Syiah sama saja mendukung serangan besar terhadap ajaran Syariat Islam.

7. Ridwan Saidi mengatakan: “Indonesia tidak membatasi dan menghalangi berkembangnya pemahaman agama tertentu selagi tidak merendahkan pemahaman agama lain.”

Justru Pak Ridwan, dengan ngomong begitu, Anda berarti tidak mengerti hakikat Syiah itu sendiri. Mana ada Syiah bisa muncul ke muka bumi, dengan tanpa menghujat simbol-simbol kemuliaan dan Syariat Islam? Anda tidak mengerti Syiah Pak.

Allahumma inna nas’aluka husnal khatimah, wa na’udzubika min su’il khatimah. Amin ya Hafizh.

Mine.


Apakah Ali bin Abi Thalib Haus Kekuasaan?

Oktober 28, 2012

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Dalam sebuah tulisan tentang “Kasus Sampang Jilid II” muncul komentar seorang pembaca yang diindikasikan sebagai pengikut sekte Syiah Rafidhah. Dia memberikan pandangan “imajiner” tentang situasi di Saqifah Bani Sa’idah ketika para Shahabat Radhiyallahu ‘Anhum melakukan pembicaraan untuk memilih pemimpin pengganti Nabi Shallallah ‘Alaihi Wasallam. Dalam pandangan pembaca itu, andai saja para Shahabat tidak mendahulukan sikap nasionalisme, tentu mereka akan merujuk Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘Anhu untuk menjadi pengganti Nabi.

Berikut komentar pembaca tersebut:

Imaginer. Andai aku ada di Saqifah Bani Sa’idah, aku katakan: “Stop perdebatan suksesi, tidak pantas tubuh suci rosul Allah belum dikebumikan kita usung-mengusung calon Muhajirin dan Ansor. Adalah bintik2 ta’assub nasionalisme. Bukankah ketika anda dipersaudarakan oleh rosul antara Muhajirin dan Ansor ketika awal hijrah, nasionalisme telah dihapus oleh rosul, hanya Ali yang dipersaudarakan dengan Rosul sendiri (tanda pertama). Anda menyaksikan di Ghodir khum ketika Rosul mengangkat Ali sebagai Maula, menyakiti Ali sama dengan menyakiti Nabi, lihat hadits2nya Mutawatir (tanda kedua). Bubarlah kembali berkabung kepada tubuh baginda ROSUL yang masih terbaring.”

Analisaku, tidak mungkin Rosul Allah tidak memberikan tanda sebagai penerusnya, karena persoalan ummat adalah persoalan besar. Rosul tahu kalau persoalan kepatutan dimusyawarahkan tidak pernah selesai, akhirnya kepatutan akan diselesaikan oleh kekuatan mayoritas. Yang diusung oleh individu. Ali sbg Maula berdasar dipilih Nabi tidak harus tunduk pada musyawarah mendadak yg bersifat nasionalis mengusung tokoh Ansor dengan Muhajirin. Dalam sejarah Ali mengalah demi menghindari perpecahan membai’ah atas hasil musyawarah dadakan. Nasionalisme menang. Wasiat Nabi tersingkir. Seharusnya menurutku hasil musyawarah yang tunduk pada Maula. Sehingga anasir2 nasionalisme tidak ada tempat. Tolong beri komentar dengan fakta sejarah.”

Sebenarnya, komentar ini semula tidak ingin dikomentari. Inginnya dibiarkan saja, karena bagi kita sudah jelas, bahwa pemikiran-pemikirian seperti di atas, termasuk kategori madzhab sesat Syiah Rafidhah. Hidup mereka, sejak awal sampai akhir; sejak kecil sampai tua renta; sejak membuka mata sampai menutup mata lagi (tertidur); dalam kerumunan atau sendirian; di rumah atau di jalan; saat di masjid atau di WC; saat bekerja atau sedang hubungan seksual; maka fokus masalah yang selalu mereka pikirkan adalah Hak Kewalian Ali bin Abi Thalib dan Hak Imamah Anak-anaknya. Agama, Syariat, bumi, langit, dan kehidupan yang luas ini, di tangan Syiah Rafidhah mengerucut ke dua masalah politik di masa lalu itu.

Pemikiran Syiah Rafidhah Membuat Kemuliaan Sejarah Ahlul Bait Menjadi Kebusukan dan Hina

Leonid Brezhnev, mantan Presiden Uni Soviet, pernah melakukan pembicaraan damai dengan Jimmy Carter. Sebelum pembicaraan dilakukan Brezhnev berkata, “Kalau kita gagal dalam mewujudkan perjanjian, Tuhan akan menghukum kita.” Perkataan itu spontan mengejutkan semua yang hadir dalam pertemuan itu. Ternyata, sosok Presiden Komunis Uni Soviet, masih menyimpan keimanan pada Tuhan. Begitu pula, Fir’aun masih menyembunyikan keimanan di hatinya, meskipun ucap keimanan itu dia katakan ketika nyawa sudah di tenggorokan (sehingga tak berguna lagi). Artinya, orang kafir sekafir-kafirnya saja, masih ada sisi-sisi keimanan baiknya. Lha ini orang Syiah Rafidhah, katanya Muslim, tapi otak kanan-kirinya, jiwa-raganya, hidup-matinya, isinya melulu hanya: Wilayah Ali dan Imamah Ahlul Bait.

Baiklah, berikut isi diskusi yang sudah dilakukan, dikutip secara utuh. Diskusi aslinya bisa dilihat pada tulisan: “Kasus Sampang Jilid II”. Semoga bermanfaat, amin ya Rahiim.

__________________________________________________________

@ Fulan…

==> Imaginer. Andai aku ada di Saqifah Bani Sa’idah, aku katakan: “Stop perdebatan suksesi, tidak pantas tubuh suci rosul Allah belum dikebumikan kita usung-mengusung calon Muhajirin dan Ansor. Adalah bintik2 ta’assub nasionalisme.

RESPON: Anda tidak boleh menyebut para Shahabat Anshar dan Muhajirin dengan istilah ta’ashub atau nasionalisme. Itu tuduhan kasar, kalau tidak disebut fitnah atas mereka. Para Shahabat Radhiyallahu ‘Anhum SANGAT TERGONCANG atas wafatnya Nabi Shallallah ‘Alaihi Wasallam, hal itu sangat terlihat dalam kebingungan Umar bin Khattab Radhiyallahu ‘Anhu yang mengancam akan menebas siapa saja yang mengatakan bahwa Nabi telah wafat. Ini menunjukkan keadaan tekanan psikologis yang sangat berat.

Satu sisi para Shahabat kehilangan sosok manusia teladan, orangtua, guru, kawan seperjuangan, sumber ilmu, penghibur hati, pembela hidup dan jiwa mereka. Di sisi lain, mereka cemas memikirkan masa depan PERADABAN ISLAM yang baru dibangun. Usianya baru 10 tahun; sementara musuh-musuhnya sangat banyak, baik dari kalangan Yahudi, Nasrani, musyrikin Persia, Romawi, Mesir, kabilah-kabilah Arab yang kafir, dll. Mereka cemas, siapa yang akan mengganti posisi beliau? Saat itu mereka berdebat, bahwa Anshar lebih tepat mengganti, yang lain berpendapat Muhajirin lebih tepat mengganti. Nabi sendiri tidak menunjuk siapa pengganti beliau, maka wajar dong terjadi perselisihan menentukan pemimpin.

Istilah Anshar dan Muhajirin bukan istilah ta’ashub atau nasionalisme. Itu istilah SYARIAT MURNI, wong dalilnya banyak dalam Al Qur’an dan terutama Sunnah. Anshar adalah pembela para Muhajirin; Muhajirin adalah orang yang hijrah ke negeri orang Anshar. Ini istilah Syariat yang menunjukkan amal dan prestasi amal mereka dalam perjuangan Islam. Itu bukan istilah fanatik atau nasionalisme.

Kalau Shahabat Anshar dan Muhajirin lebih mendahulukan urusan kepemimpinan, bukan urusan mengurus jenazah Nabi; karena mereka melihat bahwa: (1). Urusan kepemimpinan itu tidak bisa ditunda-tunda, harus cepat dipastikan dan dituntaskan; semakin lama ditunda akan melahirkan KETIDAK-PASTIAN yang sangat berbahaya; (2). Suasana di Saqifah Bani Sa’idah sudah mengarah ke terjadinya konflik dan perselisihan internal kaum Muslimin, hal itu kalau dibiarkan begitu saja, akan membesar menjadi konflik serius di kalangan ummat Islam. Memadamkan api konflik sangat diutamakan sebelum mengurus jenazah Nabi;

(3). Harus dicatat dengan tinta tebal, bahwa para Shahabat SUDAH TAHU kalau Nabi Saw wafat. Abu Bakar, Umar, dan para Shahabat Anshar Muhajirin Radhiyallahu ‘Anhum, mereka semua sudah tahu kalau Nabi wafat; maka itu mereka berselisih soal siapa yang akan menggantikan posisi Nabi dalam memimpin kaum Muslimin. Bahkan Abu Bakar dan Umar telah memeriksa jenazah beliau di kamar Aisyah Radhiyallahu ‘Anha terlebih dulu, sebelum berangkat ke Saqifah. Artinya, adalah DUSTA BELAKA kalau para Shahabat dianggap tidak tahu atau acuh dengan kematian Nabi Saw. Justru mereka amat sangat peduli dan mengalami kegoncangan jiwa. Adapun soal merawat jenazah Nabi, dalam Syariat Islam, hal itu harus diurus oleh keluarga beliau sendiri, untuk memandikan dan mengafani; lalu nantinya para Shahabat menyalati beliau, setelah urusan kepemimpinan beres diselesaikan. Apa mungkin untuk mengurus jenazah Nabi harus melibatkan semua para Shahabat baik laki-laki dan wanita? Mungkin kalau dalam hukum Syiah Rafidhah kayak begitu ya…

Para Shahabat Radhiyallahu ‘Anhum sangat mencintai Nabi Saw. Hal itu dibuktikan, mereka sampai berselisih dalam rangka memilih pemimpin untuk: MELANJUTKAN, MELESTARIKAN, dan MEMPERTAHANKAN PERADABAN yang telah dibangun oleh Nabi Shallallah ‘Alaihi Wasallam. Melanjutkan peradaban yang Nabi tinggalkan sangat diprioritaskan, sebelum para Shahabat bersama-sama menunaikan hak-hak jenazah Sayyidul Musthafa Shallallah ‘Alaihi Wasallam. Jadi para Shahabat lebih lebih mencintai Nabi ketimbang orang-orang Syiah Rafidhah yang telah dibutakan mata-hatinya, lalu Allah ombang-ambingkan mereka dalam kesesatan luar biasa.

Baca entri selengkapnya »


Fondasi Agama Syiah Rafidhah…

September 4, 2012

Karena melazimkan mencaci-maki manusia mulia (Shahabat Nabi Ra), hidup mereka selalu dicekam ketakutan berat.

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Dalam tulisan sederhana ini, kita akan coba jelaskan asal-usul agama Syiah Imamiyah (Rafidhah). Meskipun penjelasan seputar tema ini sudah banyak, tidak ada salahnya terus kita jelaskan. Dalam riwayat, Nabi Shallallah ‘Alaihi Wasallam menasehatkan, “Ceritakan tentang Bani Israil sebanyak-banyaknya.” Karena di antara sekte-sekte yang lahir dalam sejarah Islam, yang paling dekat tabiatnya dengan Yahudi, adalah Syiah Imamiyah; maka tidak ada salahnya kita banyak-banyak bicara tentang agama paganisme ini.

Mari kita mulai mengkaji masalah ini, semoga Allah memberikan ilmu, hidayah, dan taufik untuk menetapi yang diridhai-Nya, amin ya Rahiim.

[1]. Kajian ini dimulai dari sebuah ayat berikut: “Qul athi’ullaha war rasula, fa in tawal-lau fainnallaha laa yuhibbul kafirin” (Katakanlah -wahai Muhammad Shallallah ‘Alaihi Wasallam-: Taatlah kalian kepada Allah dan Rasul-Nya, maka jika kalian berpaling (dari ketaatan itu), maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir). /Surat Ali Imran: 32. Ayat ini menjadi sebuah pedoman; bahwa sikap taat kepada Allah dan Rasul-Nya adalah dasar keimanan. Siapa yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya, akan memiliki iman; sementara siapa yang durhaka kepada Allah dan Rasul-Nya, akan perlahan-lahan terseret ke domain kekafiran.

[2]. Awal munculnya Syiah adalah kebencian kepada Syariat Islam itu sendiri. Pendiri sekte ini sejak awal memang kafir dan ingin menodai Islam dengan ajaran sesat yang dia rintis. Prinsip yang dia pegang ialah seperti analogi “bola salju”. Bola salju kalau dilemparkan dari atas dalam ukuran kecil, nanti sampai di bawah akan menjadi besar. Si perintis sekte ini sudah tahu bahwa Islam akan eksis sampai akhir zaman. Maka sejak zaman Salaf (permulaan Islam, pasca wafatnya Nabi), dia telah merintis aliran sesat yang mendompleng nama Islam. Logikanya, “Kalau sekte ini dibentuk pada hari ini (zaman Salaf), maka di akhir zaman ia akan menjadi sekte besar.” Terbukti perkiraan dia benar.

[3]. Kalau sebuah sekte dibentuk di atas simbol-simbol kejahatan, kekejian, serta amoralitas; dapat dipastikan sekte itu tak akan bertahan lama. Maka sekte itu, kalau ingin eksis yang lama, ia harus dikaitkan dengan simbol-simbol yang luhur, mulia, teladan, kharismatik, serta berwibawa. Itu simbolnya saja; sedangkan soal substansi bobrok, itu masalah lain. Pendiri sekte Syiah menjadikan Ahlul Bait Nabi sebagai simbol. Kalau mereka menjadikan dajjal, Abu Jahal, Fir’aun, atau iblis sebagai simbol; sesuai fitrah manusia, hal-hal seperti itu akan ditolak.

Dalam Surat Thaaha ayat 96, Samiri berkata kepada Musa As tentang perbuatannya, membuat patung sapi betina. “Qaala, bashartu bi maa lam yabshuru bihi, fa qabadh-tu qab-dhatan min atsarir rasul, fanabadz-tuha; wa kadzalika sawwalat li nafsi” (Samiri berkata: aku melihat apa yang tidak mereka lihat, lalu aku segenggam jejak Rasul, lalu aku lemparkan ia; demikianlah, hawa nafsuku membujukku). Perkataan Samiri ini menjadi landasan berbagai kelompok sesat. Mereka selalu bertumpu di atas simbol-simbol yang baik, untuk mempengaruhi, merayu, membujuk, serta mengendalikan orang-orang awam (lugu); lalu di atas simbol-simbol itu mereka membuat tipu-daya kesesatan.

[4]. Entah mengapa, perintis agama Syiah ini memilih Khalifah Ali Radhiyallahu ‘Anhu sebagai simbol. Padahal tokoh-tokoh lain yang luhur dan melegenda juga tidak sedikit. Tetapi intinya, si perintis itu (para ulama sering menyebutnya sebagai Abdullah bin Saba’) mulai memuja-muja Ali; dan menjadikan dirinya sebagai mata air sebuah sekte sesat. Secara politik, Khalifah Ali memang punya pendukung; tetapi hal ini dalam lingkup politik, tidak sampai masuk wilayah akidah. Pendukung Khalifah Ali sering disebut “Syi’atu ‘Ali” (pendukung Ali). Tetapi nuansa politik pada golongan itu seiring perubahan zaman, terus bergeser menjadi nuansa ideologi, dengan lahirnya kelompok kultus individu terhadap sosok Ali dan keluarganya. Hal itu semakin parah dengan terjadinya Tragedi Karbala, ketika Husein dan keluarganya Radhiyallahu ‘Anhum terbunuh di tangan pasukan Yazid bin Muawiyah. Peristiwa Karbala menjadi amunisi besar yang semakin mengokohkan dominasi kelompok kultus Ali itu.

[5]. Mayoritas akidah Syiah berdiri di atas kultus individu terhadap sosok Ali (dan keluarganya); maka Syiah tak ubahnya seperti agama Nasrani yang memuja dan menyembah Yesus; bahkan lebih parah, karena yang disembah Syiah lebih banyak. Semua cabang-cabang akidah Syiah bermula dari pemujaan terhadap sosok Ali. Bagi kaum Syiah, bicara soal hak Kekhalifahan Ali, merupakan akidah tertinggi, melebihi Tauhid kepada Allah. Orang Syiah tidak peduli dengan Tauhid; tetapi dalam soal pemujaan terhadap Ali, mereka nomer satu. Istilah khas yang mereka kerap katakan, hak wilayah Ali atau imamiyah Ali.

[6]. Demi membela hak wilayah (kepempinan) Ali, segala pranata Syariat Islam dilabrak oleh kaum Syiah. Mereka menuduh Jibril As salah memberikan Wahyu; mereka menuduh Al Qur’an kaum Muslimin sudah diubah-ubah para Shahabat; mereka meyakini bahwa Ali, Hasan, Husein, Fathimah, dan anak keturunan mereka punya sifat-sifat Rubbubiyyah; mereka membatalkan Syariat, membatalkan Sunnah, membatalkan ilmu; mereka melecehkan para isteri Nabi dan para Shahabat Radhiyallahu ‘Anhum; mereka halalkan yang haram-haram; mereka kafirkan kaum Muslimin; dan seterusnya. Semua itu dimunculkan demi memuaskan dahaga kultus individu terhadap Ali bin Abi Thalib. Di titik ini, agama Syiah serupa dengan agama NAZI yang memuja Hitler (sosok manusia), atau agama Ahmadiyah yang memuja Mirza Ghulam, atau agama-agama lain yang memuja manusia.

[7]. Adalah sulit bagi Syiah Imamiyah untuk memaafkan Abu Bakar, Umar, Utsman, Aisyah, Hafshah, Ummu Salamah, dan para Shahabat yang lain Radhiyallahu ‘Anhum. Sulit dan sulit sekali; atau hampir mustahil. Mengapa demikian? Sebab konsekuensi dari memuja dan menyembah Ali, mengharuskan untuk mencaci-maki, merendahkan, menghina, dan melaknati para Shahabat Nabi yang mulia itu. Kok bisa begitu? Sebab dalam hidupnya, para Shahabat Nabi Saw bersikap proporsional dan obyektif terhadap Ali dan keluarganya. Mereka menghargai, mencintai, membela, mendukung; tetapi tidak sampai memuja dan mengkultuskan. Nah, sikap para Sahabat ini dianggap perintang terberat bagi sekte kultus Ali tersebut. Akhirnya, mereka jadikan para Sahabat Nabi sebagai sasaran hujatan, permusuhan, kebencian, bahkan laknatan. Meskipun, semua bentuk kejahatan mereka itu, mau tidak mau, akan mengenai diri mereka sendiri. Tidaklah mereka menghujat hamba-hamba yang diridhai Allah, melainkan mereka akan balas dimurkai oleh Allah Ta’ala. Demikianlah adanya.

[8]. Begitulah akhirnya Syiah menjadi agama tersendiri yang didalamnya bercampur-baur antara: Syiar tauhid dan kemusyrikan, keimanan dan kekufuran, amal shalih dan kejahatan, simbol kemuliaan dan kehinaan, syiar persatuan sekaligus persengketaan, kejujuran dan kebohongan, ilmu agama dan penindasan. Sepanjang masa Syiah terus mengganggu Ahlus Sunnah; karena agama mereka tidak akan tegak, tanpa inspirasi dari Syariat Islam; di sisi lain, amal shalih yang bisa Syiah lakukan ialah membenci, memusuhi, melecehkan, menipu, dan menikam Ahlus Sunnah. Mengapa demikian? Kaum Syiah seperti manusia yang sudah kecanduan narkoba. Mereka setiap hari mencaci-maki para Shahabat Nabi yang mulia; lalu Allah Al Aziz tenggelamkan hidup dan jiwa mereka ke dalam permusuhan, permusuhan, dan permusuhan, tanpa akhir. Dalam jiwa seorang Rafidhah, dia tidak bisa tenang, jika sehari saja lupa dari membenci kaum Ahlus Sunnah. Mata air eksistensi hidup mereka ada dalam kebencian itu.

Ada penuturan ayat Al Qur’an yang sangat menarik….

Tidakkah kamu mengetahui, orang-orang yang diberikan sebagian Al Kitab, mereka beriman kepada Jibti dan Thaghut, dan mereka berkata kepada orang-orang kafir (musyrik Makkah), ‘Semua ini lebih memberi petunjuk daripada jalannya orang-orang beriman (Muslim). Itulah orang-orang yang dilaknati oleh Allah dan siapa yang dilaknati Allah, engkau selamanya tidak akan menjumpai penolong baginya.” [An Nisaa’: 51-52].

Ayat ini berkaitan dengan Ahli Kitab yang memuji dan terpengaruh oleh ajaran-ajaran paganisme. Namun ayat ini memiliki kesamaan dengan perilaku orang-orang Syiah Rafidhah. Kesamaannya pada 3 sisi: (1). Syiah Rafidhah itu semula adalah orang-orang yang membaca Al Qur’an, atau menerima tuntunan Wahyu; (2). Syiah Rafidhah lama-lama menukar ajaran Tauhid menjadi kemusyrikan (paganisme), dengan menyembah Ali, Hasan, Husein, Fathimah, dan imam-imam Syiah. Dari risalah Tauhid berubah menjadi kemusyrikan; (3). Syiah Rafidhah menyenangi jalan paganisme itu, dan berbalik mencela jalan suci orang-orang beriman.

Dengan sikap seperti itu, maka Syiah pun menerima seperti yang diterima oleh kalangan Ahlul Kitab, yaitu: murka dan laknat Allah atas diri mereka. Na’udzubillah wa na’udzubillah tsumma na’udzubillah min dzalik.

[9]. Tetapi, ini kuncinya, bahwa kaum Syiah juga terkenal sangat pengecut. Dalam segala dendam, kebencian, dan permusuhan abadinya kepada Ahlus Sunnah (dan para Shahabat Nabi itu); tanpa kita sadari, mereka berlaku seperti orang-orang Bani Israil, yaitu sangat takut mati. Disebutkan dalam Surat Al Baqarah 96, bahwa: “Yawaddu ahaduhum lau yu’ammaru alfa sanatin, wa maa huwa bi muzahzihihi minal adzabi an yu’ammar, wallahu bashirun bi maa ya’maluun” (masing-masing mereka sangat senang andaikan bisa berumur 1000 tahun, dan tidaklah dia akan lepas dari adzab andaikan berumur panjang, dan Allah itu Maha Melihat apa yang mereka kerjakan). Kalau membaca sejarah, nyaris tidak ada satu pun tokoh pahlawan dari Syiah, sejak dulu sampai hari ini. Kalau pun mereka bisa berbuat aniaya, rata-rata karena di-back up oleh negara-negara Nasrani (dan Yahudi).

[10]. Bani Israil telah menyembah sapi betina, lalu Allah meresapkan sifat paganis itu ke dalam hati mereka. Kaum Syiah Rafidhah telah mencaci-maki para Shahabat Nabi Radhiyallahu ‘Anhum; lalu Allah resapkan ke dalam hati mereka rasa takut, rasa cemas, emosi, kedengkian, permusuhan, serta kegelisahan yang akut. Sungguh, orang-orang Syiah itu sudah sadar dan mengerti, bahwa mereka sedang berjalan menuju gerbang-gerbang kebinasaan; lalu mereka mencari teman, untuk menghibur diri menghadapi laknat, murka, dan siksa (jasmani-ruhani) dari Allah Ta’ala. Di balik statement-statement provokatif tokoh Syiah Bandung, Jalmat, sebenarnya tersembunyi ketakutan sangat hebat. Bukan kepada kita (manusia), tetapi kepada Allah yang selalu dia lecehkan agama dan Syariat-Nya.

Demikianlah sekilas tentang fondasi agama Syiah Rafidhah. Agama ini sangat complicated; segala bentuk sesat, durhaka, dan menyimpang, ada disini. Makanya kalau ada elit-elit di Indonesia yang tidak sadar akan kesesatan Syiah; bisa jadi, mereka adalah anggota Syiah; atau mereka mencari keuntungan politik dari pendukung Syiah; atau mereka mencari finansial dengan ide membela Syiah; atau memang mereka orang bodoh yang tidak tahu arah jalan.

Satu hal yang pasti: kaum Syiah menjadikan dendam dan permusuhan sebagai pokok agamanya, melebihi Tauhidullah; mereka mempertuhankan Ali, Hasan, Husein, Fathimah; mereka isi hidupnya dengan hanya dengki, dendam, permusuhan, dan kebencian; tetapi pada hakikatnya, mereka paling takut kematian; sebab dengan mati, mereka akan segera bisa mengetahui betapa beratnya murka Allah setelah kematian; karena murka yang sudah mereka rasakan dalam kehidupan sehari-hari pun sudah terlalu berat.

Semoga yang sederhana ini bermanfaat ya. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamiin.

(Abah Syakir).


Syiah Itu Dipelihara Amerika…

September 2, 2012

(Edited version).

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Dalam sebuah diskusi, saya merasa bengong ketika disana disimpulkan, bahwa Syiah yang beroperasi di negeri-negeri Sunni (seperti Indonesia), sebenarnya dipelihara oleh Amerika. Disana dikatakan: “Ahmadiyah dipelihara oleh Inggris, sedangkan Syiah dipelihara oleh Amerika.” Saya merasa, ini kejutan atau pencerahan yang sangat berbeda. Namun ketika merunut kepada data-data, fakta, serta kejadian-kejadian; saya baru bisa percaya kalau Syiah Imamiyah (Rafidhah) memang dipelihara Amerika.

MUI (Pusat) atau Pemerintah RI selama ini sangat susah untuk menetapkan Syiah dan Ahmadiyyah sebagai aliran sesat, sehingga keduanya harus dilarang beroperasi; karena adanya tekanan dari Amerika, Inggris, Australia, Kanada, dan negara-negara besar lainnya. Mereka bahu-membahu untuk memelihara faktor destruktif di tengah-tengah kehidupan kaum Muslimin Indonesia. Makanya, ketika ada sebuah ormas Islam sangat antipati kepada Ahmadiyah dan Liberal, tetapi bersikap “main mata” kepada Syiah, hal itu dipahami bahwa ormas tersebut tidak mau memikul beban terlalu berat, dalam menghadapi tekanan Inggris, Amerika, Kanada, Australia, dan kawan-kawan. Padahal sudah standar Ahlus Sunnah dimana saja, yaitu: Anti Sekularisme, anti Syiah, anti Ahmadiyah, anti Liberal, anti Kristenisasi, dan anti Zionisme. Ini sudah pakem khas Ahlus Sunnah!

Banyak data-data bisa disampaikan, bahwa Syiah Rafidhah memang dipelihara oleh kepentingan imperialis Amerika (atau secara umum imperialis Barat). Soal di atas permukaan ada retorika-retorika anti Amerika dari kalangan Syiah, itu hanya kamuflase saja, untuk menutupi fakta sebenarnya. Biasa kan ada sandiwara “bertema konflik” untuk menutupi “hakikat kemesraan” yang tidak terlihat.

Mari kita coba lihat data-datanya…

Antara “Benci” dan Cinta. Sulit Dibedakan Antara Keduanya.

[1]. Khomeini itu sejak muda (remaja) tinggal di Perancis. Disebutnya, tinggal di pengasingan. Baru menjelang Revolusi Syiah tahun 1979, dia pulang kampung. Tinggal di Perancis sejak muda sampai jenggotnya agak memutih, dapatkah dikatakan bahwa Khomeini bersih dari invasi pemikiran dan politik yang dipaksakan Barat kepadanya? Sangat tidak mungkin. Rata-rata semua tokoh politik dari Asia yang pernah diasuh di negara Barat, rata-rata kalau pulang ke negeri masing-masing akan membawa agenda politik dari “majikan-nya”.

[2]. Sebelum Iran dikelola oleh Khomeini dan kawan-kawan, penguasa politik disana ialah Reza Pahlevi. Sebenarnya orang ini Syiah juga dan menjadi boneka Amerika. Tetapi Pahlevi lebih kental dunia politiknya, sedangkan Khomeini terkenal dengan IDEOLOGI Syiah-nya. Ketika Barat mencabut peran Pahlevi dan menggantikannya dengan Khomeini; hal itu terjadi karena mereka ingin mengubah strategi, dari pendekatan politik menjadi pendekatan ideologi; dengan menjadikan akidah Syiah Imamiyah Itsna Asyari sebagai basisnya. Akidah ini jauh lebih berbahaya ketimbang manuver-manuver politik Reza Pahlevi. Sebab pada hakikatnya, akidah Imamiyah Itsna Asyari (atau Syiah Rafidhah) adalah kekufuran yang nyata. [Kalau ada ketua ormas Islam tertentu yang ragu dengan kekufuran akidah Syiah ini, saya ajak beliau untuk berdebat terbuka, bi idznillahil ‘Azhim].

[3]. Banyak sandiwara dilakukan untuk menutupi missi sebenarnya, bahwa Khomeini sebenarnya adalah boneka Amerika, tak ubahnya seperti Reza Pahlevi. Pertama, Amerika tidak segera menginvasi Iran di bawah kepemimpinan Khomeini, seperti mereka menginvasi negara-negara yang penguasanya digulingkan tanpa restu Amerika. Kedua, disana digambarkan bahwa ada sekian puluh helikopter marinir Amerika saling bertabrakan satu sama lain ketika hendak menyerang Iran. Bukti-bukti seputar serangan helikopter yang gagal ini tidak banyak diperoleh, selain dari info-info media. Benarkah heli-heli itu bertabrakan, atau sengaja di-setting agar bertabrakan? Atau jangan-jangan semua itu hanya opini media saja, tanpa bukti yang jelas? Bandingkan cara Amerika itu dengan invasi mereka ke Irak, Afghanistan, Columbia, Vietnam, bahkan infiltrasi ke Indonesia (pada peristiwa PKI 65). Ketiga, sepertinya ada “solusi damai” antara Amerika dengan keluarga Reza Pahlevi, sehingga setelah itu tidak ada “dendam politik” keluarga Pahlevi kepada Khomeini. Padahal layaknya tokoh-tokoh politik Persia, tabiat dendam sangatlah dominan. Keempat, secara massif Khomeini melakukan kampanye, bahwa Amerika adalah SETAN BESAR. Kampanye ini mendapat respon besar di dunia Islam. Karena ia memang sebuah strategi untuk mendapatkan SIMPATI kalangan Dunia Islam, yang mayoritas Ahlus Sunnah dan anti Amerika. Kelima, tidak lama setelah Revolusi Iran, negara itu terlibat dalam konflik besar Iran Versus Irak di bawah Sadam Husein. Ending dari konflik Iran-Irak ini, malah Irak dimusuhi oleh Amerika dan Sekutu, serta negara-negara Timur Tengah; setelah Irak menginvasi Kuwait pada tahun 1990.

[4]. Sejak lama Iran selalu dikaitkan dengan isu anti Amerika dan anti Israel. Bahkan ia masuk dalam kategori “axis of evils” (negara-negara poros kejahatan). Tetapi ia sendiri tidak pernah sedikit pun terlibat dalam perang melawan Amerika, atau perang melawan Israel (musuh bangsa Arab di Timur Tengah). Jadi sebagian besar perang disini sifatnya hanya “kampanye verbal” saja. Tidak heran jika Iran kerap dijuluki sebagai NATO (no actions talk only). Begitu juga, Hamas semakin terjebak dalam posisi sulit ketika organisasi itu menjalin kerjasama dengan Teheran. Iran adalah negara yang paling menikmati hasil kampanye anti Amerika dan Israel; tetapi pada saat yang sama, dia tidak pernah terlibat perang sedikit pun melawab Amerika dan Israel.

[5]. Tidak diragukan lagi, bahwa Syiah Iran turut membantu invasi Amerika ke Afghanistan dan Irak. Katanya, dua invasi ini tidak akan pernah berhasil, tanpa bantuan Syiah Iran. Dulu di zaman Pemerintahan Burhanuddin Rabbani (Mujahidin), Syiah telah menelikung pemerintahan itu melalui Jendral Rasyid Dustum di bagian Utara. Begitu juga Pemerintahan Irak saat ini, pasca invasi Amerika ke Irak, presidennya Jalal Talabani dan PM-nya Nuri Al Maliki, keduanya adalah bagian dari penganut Syiah. Lihatlah, Amerika lebih ridha Irak di bawah pemimpin Syiah daripada negara itu di bawah Saddam Husein yang merupakan bagian masyarakat Sunni.

[6]. Kita tentu masih ingat skandal Iran-Contra pada waktu-waktu lalu. Singkat kata, Iran dikesankan sangat bermusuh-musuhan dengan Amerika. Tetapi lewat skandal itu terbukti, Iran bekerjasama mesra dengan Amerika. Iran memasok minyak ke Amerika, lalu hasil keuntungan jual-beli minyak “ilegal” ini oleh Amerika disalurkan untuk membiayai gerakan Kontra di Kolumbia. Iran sendiri merasa diuntungkan, sebab mendapat penghasilan untuk membiayai kebutuhan mereka (khususnya untuk biaya konflik dengan Irak). Sandiwara besar abad 20 ini akhirnya terkuak, baik Iran maupun Amerika menanggung malu. Lalu dengan entengnya Amerika mengorbankan Kolonel Oliver Stone sebagai tokoh yang bertanggung-jawab atas skandal memalukan itu.

[7]. Fakta besar yang tidak diragukan lagi, bahwa Iran memiliki reaktor nuklir yang dikembangkan untuk kebutuhan energi dan militer. Hal ini sudah tidak diragukan lagi. Berulang kali Amerika, Inggris, dan Sekutu mengancam akan menyerang Iran. Tetapi hal itu tidak pernah terjadi, bahkan tidak akan terjadi; karena mereka sebenarnya satu kepentingan. Bandingkan, ketika Amerika mengancam negara-negara Muslim Sunni, seperti Irak dan Afghanistan; sekali diancam, langsung dihajar, meskipun akibatnya ekonomi Amerika mesti ambruk.

[8]. Di Indonesia, posisi Syiah selalu dibela oleh tokoh-tokoh Liberalis, seperti Azyumardi Azra, Syafi’i Ma’arif, Dawam Rahardjo, Said Aqil Siradj, bahkan Amien Rais. Belakangan, Mahfud MD ikut-ikutan membela Syiah dan berlagak memojokkan kaum Sunni di Madura. Anda pasti paham mengapa tokoh-tokoh Liberal ini selalu melindungi Syiah? Ya, karena memang job description-nya, mereka harus membela Syiah.

[9]. Media cetak yang sangat giat membela Syiah sejak zaman Orde Baru adalah majalah Tempo. Media ini punya peran besar dalam mempromosikan citra positif Syiah di mata kaum Muslimin Indonesia; media ini benar-benar telah banyak menyesatkan opini rakyat Indonesia, seputar Syiah. Media ini sejak lama dikomandoi Goenawan Mohamad, salah seorang jurnalis yang sejak lama disinyalir sebagai kaki tangan Amerika di Indonesia.

[10]. Abdurrahman Wahid termasuk salah satu tokoh pro Zionis yang banyak mendukung dan membela Syiah. Dia berdalih, “Membela minoritas.” Tetapi pada saat yang sama, dia justru sangat anti dengan minoritas aktivis Islam, yang selalu menjadi bulan-bulanan politik Orde Baru dan Orde Reformasi. Katanya membela minoritas, tetapi kok malah acuh tak acuh dengan kezhaliman rezim terhadap para aktivis Islam yang sebenarnya minoritas itu? Wahid sama sekali tidak pernah membela keluarga korban Tanjung Priok, Talangsari Lampung, DOM Aceh, korban konflik Ambon, korban konflik Poso, korban pembantaian Sampit (Sambas), tahanan politik Muslim, bahkan tidak pernah membela tokoh-tokoh Petisi 50 yang notabene kalangan umum. Di zaman Orde Baru, Wahid menjadi bagian dari anggota MPR Fraksi Golkar, dan sangat mendukung kekejaman rezim terhadap para aktivis Islam. Nah, itulah sosok “dajjal kecil” yang sering dielu-elukan sebagai “pembela minoritas”. Di zaman Orde Baru, posisi Syiah selalu dalam pengawasan ketat; tetapi di era Wahid, atau tepatnya tahun 2001, berdirilah IJABI, ormas Syiah pertama di Indonesia. Ormas ini juga direstui si orang itu, sehingga di mata penganut Syiah, nama Wahid begitu harum.

[11]. Berulang kali kita saksikan bagaimana Said Aqil Siradj membela Syiah, melindungi Syiah, sembari tangan dan mulutnya terus-menerus menyerang kaum Wahabi. Tapi lucunya, Said Aqil ini tidak berani berhadap-hadapan dengan pengurus PWNU Jawa Timur, atau MUI Jawa Timur, atau MUI Madura yang jelas-jelas telah memfatwakan kesesatan Syiah. Pernah pengurus PWNU Jawa Timur datang ke kantor PBNU di Jakarta, untuk menyerahkan fatwa Syiah sesat yang telah mereka sepakati. Waktu itu mereka sudah siap audiens dengan pengurus PBNU, termasuk Si Sail Aqil. Sampai pertemuan selesai, Si Said tidak menemui para pengurus PWNU Jatim. Alasannya, “Lagi macet di jalan.” Inna lillahi wa inna ilaihi ra’jiun. Said, Said…orang sepertimu kok beralasan “jalanan macet”? Beberapa waktu lalu Said ini datang ke Amerika, berkunjung ke Bank Dunia. Disana dia diberikan komitmen dukungan dana unlimitted, untuk memerangi terorisme (yang nanti ujung-ujungnya tuduhan itu dia arahkan ke Wahabi; semoga Allah Ta’ala membinasakan manusia yang satu ini dan para loyalisnya karena kekejian fitnah mereka; amin Allahumma amin). Kalau kembali ke momen pemilihan Ketua PBNU di Makassar, pada tahun 2010. Seminggu sebelum pemilihan ketua, dua kandidat calon ketua PBNU dipanggil ke Cikeas untuk bertemu Pak Beye. Entahlah, apa yang dikatakan Beye dalam pertemuan itu. Pokoknya setelah itu Shalahuddin Wahid terlihat tidak semangat memperebutkan kursi Ketua PBNU. Dan akhirnya, Said Aqil Siradj ini yang terpilih sebagai Ketua PBNU. Dulu di masa kepemimpinan Wahid sebagai Presiden RI, Si Said ini amat sangat loyal; sehingga berkali-kali dia menyerang Amien Rais dengan perkataan kasar. Salah satunya, kurang lebih, “Itu warga NU di bawah, sedang mengasah golok.”

[12]. Di Indonesia berkali-kali terjadi kerusuhan bermotif isu agama. Salah satunya dalam isu Syiah, seperti peristiwa Sampang, Bangil (Pasuruhan), penusukan ustadz NU di Jember, dan lainnya. Tetapi SBY rata-rata tidak pernah bersuara tentang kerusuhan ini. Jika ada komentar, ia selalu memojokkan kalangan Sunni dan menguntungkan posisi Syiah; seperti dalam komentar terakhir dia soal kasus Sampang kemarin. Pertanyaannya, sebagai kepala negara, mengapa SBY tidak berusaha melindungi akidah mayoritas kaum Muslimin di Indonesia yang bermadzhab Ahlus Sunnah? Kok dia justru lebih peduli dengan kelompok minoritas Syiah? Ya, kita tahulah, siapa SBY…

[13]. Ketika merebak isu “war on terror” di dunia, Indonesia gegap gempita menyambut isu tersebut. Salah satu akibatnya, kesempatan beasiswa belajar di Saudi diawasi sangat ketat. Sejak proses seleksi, pemberangkatan, hingga kuota beasiswa itu, diawasi sedemikian rupa. Banyak pelajar yang sedianya ingin belajar agama, merasa kesulitan. Termasuk dalam urusan kerja, bisnis, dagang, dan lainnya. Tetapi sebaliknya, kerjasama beasiswa, kunjungan tokoh, serta dakwah dengan Iran justru semakin marak. Ribuan pelajar Indonesia saat ini lagi nyantri di Iran; nanti kalau pulang mereka akan mendakwahkan agama perbudakan manusia atas manusia yang lain (pada hakikatnya, setiap pribadi Syiah adalah budak dari imam-imam Syiah di Persia).

[14]. Sampai detik ini, Amerika tidak pernah menjadikan para aktivis Syiah sebagai sasaran “war on terror” sebagaimana mereka menjadikan kaum Wahabi sebagai sasaran itu. Padahal kalau melihat “kampanye verbal” dari para dai-dai Syiah, mereka TAMPAK sangat anti Amerika dan Zionis. Kalangan Wahabi yang hati-hati saat bicara tentang Amerika, tidak segan-segan diteroriskan; sedangkan aktivis Syiah yang sehari-hari dzikirnya menyerang Amerika dan Zionis (tentu saja, dengan menyerang para Shahabat dan isteri-isteri Nabi Radhiyallahu ‘Anhum), tidak pernah diapa-apakan. Coba lihat, dalam kasus Sampang kemarin, aktivis Syiah membuat ranjau dari bom ikan dan paku-paku; tetapi Densus 88 tidak pernah menyatroni rumah Tajul Muluk dan kawan-kawan.

[15]. Ketika sebagian aktivis Muslim melakukan latihan militer, untuk persiapan jihad ke Palestina, pasca terjadi Tragedi Ghaza 2008-2009 lalu; mereka segera ditangkapi dan diposisikan sebagai teroris. Tetapi terhadap aktivis Syiah yang melakukan latihan-latihan militer, tidak ada satu pun yang ditangkapi aparat. Bahkan ada yang bilang, mereka dilatih oleh instruktur baret merah. Jadi ini seperti lelucon yang terus diulang-ulang. Betapa sensitif aparat keamanan kepada para pemuda Sunni, ketika mereka ingin berjuang ke Palestina; tetapi tidak sensi sama sekali kepada aktivis-aktivis Syiah yang terus menyusun kekuatan milisi.

Singkat kata, eksistensi Syiah di Indonesia sangat sulit untuk ditertibkan (apalagi dibubarkan), karena ia memang dilindungi oleh kekuatan Barat, khususnya Amerika. Sebagaimana Barat membutuhkan paham Liberal untuk merusak ajaran Islam, mereka juga merasa sangat diuntungkan dengan eksistensi paham Syiah.

Siapapun yang memeluk akidah Syiah Rafidhah secara sadar dan mengerti; dapat dipastikan dia akan keluar dari Islam. Mengapa? Karena dalam akidah itu mereka meyakini Al Qur’an tidak murni lagi; hak Kekhalifahan Ali sebagai azas agama melebihi Tauhidullah; batalnya Syariat Islam, diganti syariat perkataan pribadi imam-imam Syiah (yang tidak bisa dibuktikan otentisitasnya); mereka mencaci-maki, menghina, menyerang pribadi isteri-isteri Nabi dan para Shahabat Radhiyallahu ‘Anhum; mereka mengkafirkan Abu Bakar dan Umar, menganggap keduanya sebagai thaghut dan kekal di neraka; mereka mengkafirkan Ahlus Sunnah, dan menghalalkan harta, darah, dan kehormatannya; mereka menghalalkan nikah Mut’ah yang telah diharamkan oleh Nabi dan para Shahabat; dan lain-lain keyakinan sesat.

Inti keyakinan Syiah Rafidhah, adalah kedurhakaan kepada Syariat Islam, mempertuhankan imam-imam, menjadikan dendam politik sebagai akidah tertinggi, mengkafirkan kaum Muslimin, menodai kehormatan para Shahabat yang dicintai oleh Al Musthafa Shallallah ‘Alaihi Wasallam; serta semua itu dibungkus di balik kamuflase “mencintai Ahlul Bait Nabi”. Masya Allah, laa haula wa laa quwwata illa billah. Ini adalah keyakinan kufur, sehingga siapa yang meyakini semua ini secara sadar; dia otomatis kufur. Tidak berbeda sama sekali antara seorang Muslim yang masuk Kristen, Hindu, Budha, dengan orang yang masuk Syiah Rafidhah (Imamiyah) ini.

Wahai Ahlus Sunnah…Anda harus sadar sesadar-sadarnya, bahwa tidak ada yang sanggup mengalahkan Anda, melemahkan Anda, atau meruntuhkan Anda. Karena Anda berdiri di atas Al Haq. Anda berdiri di atas Syariat Islam yang suci, Kitabullah dan Sunnah yang mulia, Akidah Tauhid yang kokoh; serta Anda berdiri di atas Keridhaan Allah Ar Rahman, insya Allah wa bi idznihi. Tidak ada yang sanggup mengalahkan Anda, siapapun diri mereka; apakah Amerika, Inggris, NATO, nuklir Iran, jamaah Syiah Rafidhah seluruh dunia, dan seterusnya. Karena kita (Ahlus Sunnah) ditolong oleh Ar Rahmaan, lantaran selalu berpegang kepada Kesucian Syariat Islam, serta memuliakan Ahlul Bait Nabi semurni-murninya, tanpa mengkultuskan dan menodai hak-hak Uluhiyah dan Rubbubiyyah Allah Ta’ala.

Pegang selalu kemurnian akidah Ahlus Sunnah, dan jangan dilepaskan karena alasan apapun. Sekalipun kita mati, biarlah mati di bawah naungan bendera SUNNAH NABI Shallallah ‘Alaihi Wasallam. Jangan pernah lepaskan akidah ini, wahai Ahlus Sunnah. Karena akidah inilah yang akan menjadikan Islam tetap eksis di muka bumi; karena akidah inilah yang akan menjadikan Syariat Islam yang suci tetap terpelihara; karena akidah inilah yang akan menyatukan kita dengan barisan Sayyidul Mursalin, isteri-isteri Nabi, para Khulafaur Rasyidin, para Shahabat, serta imam-imam Ahlus Sunnah sepanjang masa, hingga hari ini.

Jangan pernah dilepaskan, wahai Saudaraku. Bahkan bercita-citalah kalian untuk mati dalam rangka membela BENDERA RASULULLAH sampai titik darah terakhir! Adapun terhadap omongan eli-elit politik sesat, serta bajingan-bajingan moral, abaikan saja. Semua itu tak akan memberi madharat sedikit pun kepada Allah yang Maha Suci. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamiin.

Tatar Pasundan, 2 September 2012. Minal faqir ila rahmati Rabbi,

AM. Waskito.