SBY dan “9 Malapetaka Terorisme”

September 27, 2011

Bismillahirrahmaanirrahiim.

FAKTA: Hari Minggu, 25 September 2011, sekitar pukul 10.55 WIB, seorang pemuda, diperkirakan usia 31 tahun, melakukan aksi bom bunuh diri di Gereja Kepunton Solo. Akibat aksi ini satu orang tewas -dengan usus terburai- yaitu si pelaku peledakan itu sendiri, dan puluhan jemaat gereja terluka. Menurut kabar, pelaku peledakan itu diperkirakan namanya Ahmad Yosefa.

Pagi hari terjadi peledakan bom, sore harinya SBY langsung membuat konferensi pers. Isi konferensi pers: dia menyebut peledakan itu sebagai aksi pengecut, dia menyebut pelaku peledakan itu ialah “jaringan Cirebon”, dan dia kembali memastikan bahwa Indonesia belum aman dari aksi-aksi terorisme.

Pernyataan SBY ini setidaknya mengandung dua masalah besar: Pertama, dia begitu cepat memastikan bahwa pelaku peledakan itu adalah ini dan itu. Hanya berselang beberapa jam SBY sudah memastikan, padahal hasil penyelidikan resmi dari Polri belum dikeluarkan. Hal ini mengingatkan kita kepada Tragedi WTC 11 September 2001. Waktu itu media-media Barat sudah memastikan bahwa pelaku peledakan WTC adalah kelompok Usamah, hanya sekitar 3 jam setelah peristiwa peledakan. Seolah, SBY sudah banyak tahu tentang seluk-beluk aksi bom bunuh diri di Kepunton Solo tersebut. Kedua, SBY untuk kesekian kalinya tidak malu-malu mengklaim bahwa kondisi Indonesia masih belum aman dari aksi-aksi terorisme. Kalau seorang pemimpin negara masih berakal sehat, seharusnya dia malu dengan adanya aksi-aksi terorisme itu. Tetapi sangat unik, SBY tampaknya sangat “menikmati” ketika kondisi Indonesia tidak cepat lepas dari aksi-aksi terorisme.

Bila Masanya Tlah Tiba, Seseorang Akan Dikejar Bencana, Sekalipun Dia Bersembunyi di Pucuk Gunung Atau Liang Semut…

Setiap ada aksi terorisme, dimanapun juga, termasuk di Indonesia, kaidahnya sederhana. Aksi terorisme bisa dibagi menjadi 3 jenis: (a). Aksi yang benar-benar murni dilakukan oleh pelaku terorisme dengan alasan ideologis. Mereka melakukan teror karena kepentingan ideologi, dan menjalankan aksi itu dengan persiapan-persiapan sendiri. Aksi-aksi yang dilakukan oleh IRA di Irlandia, Basque di Spanyol, atau kelompok David Coresh di Amerika termasuk jenis ini;

(b). Aksi terorisme yang dibuat oleh aparat sendiri dalam rangka mencapai tujuan politik tertentu. Aparat yang merancang dan mereka pula eksekutornya. Contoh monumental aksi demikian ialah peledakan WTC yang dilakukan oleh dinas intelijen Amerika sendiri; (c). Aksi yang dilakukan oleh pihak-pihak tertentu (misalnya kelompok Jihadis) yang ditunggangi oleh aparat. Penyusun aksi itu sebenarnya aparat, tetapi eksekutornya diambil dari kalangan Jihadis yang mudah dipengaruhi dan diprovokasi. Aksi peledakan bom itu sangat mudah dibuat oleh mereka yang punya DANA, INFORMASI, dan AKSES SENJATA. Sedangkan sudah dimaklumi, aparat keamanan memiliki itu semua. Mereka bisa membuat aksi peledakan dimanapun, lalu aksi itu diklaim dilakukan oleh pihak ini atau itu.

Malapetaka. Dalam bahasa Inggris disebut “disaster”. Dalam bahasa Arab disebut bala’. Seseorang disebut mendapat malapetaka ketika dia tertimpa keburukan, mushibah, kemalangan, atau penderitaan; karena telah melakukan kedurhakaan atau kezhaliman kelewat batas. Contoh manusia yang mendapatkan malapetaka ialah George Bush. Begitu hinanya manusia itu, sehingga dia dilempar sepatu ketika berbicara di Irak. Tidak pernah ada kepala negara dilempar sepatu sehina itu, selain George Bush.

SBY dalam hal ini juga bisa dikatakan, telah mendapat “malapetaka terorisme”. Mengapa SBY dikatakan telah mendapat “malapetaka terorisme”? Alasannya, karena: (a). Dia banyak didoakan mendapat malapetaka oleh semua aktivis Islam yang mendapat kezhaliman dan penistaan akibat isu-isu terorisme itu, beserta keluarga dan kerabat mereka. Mereka mendoakan bersama agar SBY mendapat laknat dari Allah Ta’ala; (b). Dia didoakan mendapat malapetaka oleh setiap Muslim yang merasa muak dan benci akibat peristiwa-peristiwa terorisme yang penuh rekayasa, demi menjelek-jelekkan para aktivis Islam itu. Begitu muaknya masyarakat, sampai pernah beredar ajakan agar mematikan TV ketika disana ada SBY sedang pidato; (c). SBY mendapat malapetaka langsung dari Allah akibat segala dosa-dosa dan kezhalimannya kepada kaum Muslimin, kepada bangsa Indonesia, dan alam sekitarnya.

Setidaknya disini ada “9 Malapetaka Terorisme” yang menimpa SBY sepanjang karier kepemimpinnanya. Angka 9 sesuai dengan “angka keramat” yang sering dielu-elukan oleh SBY sendiri.

Malapetaka 1: SBY adalah seorang “Presiden Terorisme”. Maksudnya, dia adalah satu-satunya Presiden RI yang paling banyak berurusan dengan isu teorisme. Bahkan, SBY tidak memiliki prestasi apapun yang bernilai, selain dalam mengurusi isu terorisme itu sendiri. Tidak ada Presiden RI yang begitu gandrung dengan isu terorisme, selain SBY. Tidak ada Presiden/PM di negeri-negeri Muslim yang begitu intensif bergelut dengan isu-isu terorisme, selain SBY. Bahkan tidak ada presiden negara dimanapun, setelah George Bush, yang begitu getol dengan isu terorisme, selain SBY. Singkat kata, SBY bisa disebut sebagai “George Bush-nya Indonesia“.

Malapetaka 2: SBY terbukti merupakan Presiden RI yang sangat sentimen kepada aktivis-aktivis Islam, bahkan sentimen kepada Ummat Islam. Di sisi lain, SBY sangat peduli dengan nasib minoritas non Muslim. Banyak fakta yang membuktikan hal itu.

Saat terjadi peledakan bom di Kepunton Solo, SBY begitu cepat bereaksi. Dia mengecam tindakan aksi bunuh diri tersebut. Tetapi ketika terjadi kerusuhan di Ambon, sehingga beberapa orang Muslim meninggal, ratusan rumah dibakar; ternyata SBY diam saja. Dia tak bereaksi keras, atau mengecam.

Ketika seorang jemaat gereja HKBP mengalami penusukan di Cikeuting, SBY langsung bereaksi keras. Padahal jemaat itu hanya luka-luka saja. Bahkan yang terluka juga termasuk aktivis Muslim. Tetapi terhadap puluhan pemuda Islam yang dibunuhi Densus88 di berbagai tempat; terhadap ratusan pemuda Islam yang ditangkap, ditahan, dan disiksa; terhadap ratusan keluarga pemuda-pemuda Muslim yang terlunta-lunta; ternyata SBY hanya diam saja, atau pura-pura tidak tahu.

Ketika terjadi insiden Monas yang menimpa anggota Jemaat Ahmadiyyah, Juni 2008 di Jakarta, SBY bereaksi keras. Dia mengecam ormas Islam anarkhis. Kata SBY: “Negara tidak boleh kalah oleh kekerasan!” Hebat sekali. Tetapi ketika Ustadz Abu Bakar Ba’asyir berkali-kali diperlakukan kasar, galak, dan penuh tekanan; padahal beliau sudah tua dan sakit-sakitan. Ternyata SBY tak pernah mau peduli.

Ketika terjadi pelatihan militer oleh sebagian kelompok Islam di Jantho Aceh. Dilakukan di tengah hutan, tanpa ada korban atau aksi kekerasan apapun, ia dianggap sebagai aksi terorisme. Para pelakunya ditahan, sebagian ditembak mati. SBY membiarkan perlakuan keras itu. Tetapi terhadap gerakan OPM di Papua yang jelas-jelas bersenjata dan menyerang aparat berkali-kali, SBY tidak pernah menyebut gerakan OPM sebagai terorisme.

Ketika para penari Cakalele mengibarkan bendera RMS di depan mata SBY, dia tak bersikap tegas. Padahal itu benar-benar penghinaan di depan mata dia. Tetapi ketika ada sebagian orang membuat aksi demo dengan membawa kerbau yang ditulis “Sibuya”, SBY begitu marah.

Intinya, SBY sudah terbuksi sangat NYATA dan JELAS, bahwa dia sangat membenci pemuda-pemuda Islam, dan sangat pengasih kepada kalangan minoritas non Muslim; meskipun gerakan mereka membahayakan NKRI. Kaum Muslimin yang banyak jasanya bagi negara dibiarkan dianiaya, sedangkan kaum minoritas selalu mendapat pembelaan penuh.

Malapetaka 3: Dalam masa kepemimpinan SBY sangat banyak bencana-bencana alam, mulai dari Tsunami, gempa bumi, banjir, tanah longsor, gunung meletus, kekeringan, lumpur Lapindo, kecelakaan tragis, dll.

Malapetaka 4: Dalam masa kepemimpinan SBY kondisi perekonomian Indonesia mengalami kemerosotan hebat. Inflasi tinggi, hutang luar negeri membengkak sampai Rp. 1733 triliun, pengangguran merebak, dominasi asing sangat kuat di segala sektor, beban anggaran negara sangat berat, dll.

Malapetaka 5: Di masa kepemimpinan SBY praktik korupsi merebak, mewabah, merajalela. Pejabat pemerintah seperti Gubernur, Bupati, Walikota banyak ditahan. Anggota DPR, menteri-menteri terlibat korupsi. Bahkan korupsi menyentuh aparat hukum seperti kepolisian, kejaksaan, kehakiman. Tidak terkecuali, para politisi Partai Demokrat juga dirundung banyak masalah korupsi, seperti yang diungkapkan Nazaruddin. Isu korupsi yang menimpa Partai Demokrat sangat berat.

Malapetaka 6: Melalui laporan Wikileaks yang dipublikasikan koran Australia, Sydney Herald Morning dan The Age, SBY dituduh menyalah-gunakan kekuasaan untuk melakukan korupsi dan kejahatan politik. Keluarga SBY dituduh memanfaatkan posisi SBY untuk memperkaya diri. Isteri SBY, Bu Ani Yudhoyono malah disebut sebagai “broker proyek”. Belum pernah ada Ibu Negara di Indonesia mendapat sebutan demikian, selain isteri SBY. Ironinya, yang melaporkan berita-berita itu justru Kedubes Amerika Serikat, yang notabene kawan SBY sendiri; pelapornya, menteri-menteri SBY sendiri; dan publikasi oleh media Australia yang notabene adalah kawan SBY dalam pemberantasan terorisme.

Malapetaka 7: Pernyataan SBY tentang negara Amerika tersebar luas di tengah masyarakat. Pernyataan itu berbunyi, kurang lebih: “America is my second country. I love It, with all of faults.” Pernyataan ini tersebar dimana-mana, yang menjelaskan bahwa SBY tidak memiliki komitmen nasionalis. Dia memiliki sifat KHIANAT terhadap bangsanya sendiri. Tidak heran, kalau dalam pidato-pidatonya, SBY sangat senang memakai bahasa Inggris. Lucunya, saat Obama datang ke Tanah Air, lalu berpidato berdua bersama SBY; SBY harus berkali-kali dibisiki oleh Menlu Marty Natalegawa tentang isi pidato Obama tersebut. Forum yang seharusnya bisa membuat SBY dipandang mulia, malah membuatnya “kasihan deh lo”.

Malapetaka 8: Dapat disimpulkan, bahwa SBY adalah satu-satunya Presiden RI yang tidak memiliki kemampuan apa-apa. Sama sekali tak memiliki kemampuan. Kemampuan satu-satunya SBY ialah membuat PENCITRAAN. Dari sisi kemampuan manajemen tidak ada; wawasan ekonomi, tak ada; ilmu pertanian, nol besar; wawasan bela negara, kosong melompong; kemampuan diplomasi, sami mawon; kemampuan retorika, nilai 4; kemampuan sains, wah tambah parah; dan seterusnya. SBY nyaris tak memiliki kelebihan apapun, selain membuat pencitraan. Sebagian purnawirawan jendral menyebut SBY sebagai “jendral salon”, “jendral kambing”, “terlalu banyak membaca”, dan sebagainya. Ini adalah penilaian yang sangat memprihatinkan.

Mapaletaka 9: …hal ini belum berjalan, dan akan terus berjalan sampai disempurnakan oleh Allah Ta’ala. Bentuknya, kita tidak tahu; bisa apa saja, sesuai kehendak-Nya. Kita hanya bisa menanti.

Apa yang disebut disini bukanlah fitnah atau cerita dusta. Ia benar-benar ada. Hanya saja, mungkin sebagian orang menyebutnya dengan istilah “kesialan SBY”, “mushibah bersama SBY”, “kelemahan SBY”, “malapetaka bersama SBY”, “kehancuran nama SBY”, dan lain-lain. Dalam tulisan ini, ia disebut “malapetaka”, sesuai dengan makna kata itu sendiri.

Ya, silakan Pak SBY, lanjutkan hidup Anda; lanjutkan apa saja yang Anda sukai; toh setiap orang berhak berbuat dan memutuskan, sedangkan dosa-dosa dan akibat, akan dia tanggung sendiri. Pak SBY ini sudah “masuk kantong”, karena dia sangat sentimen kepada para aktivis-aktivis Islam, terlalu jauh bermain-main dalam ranah kezhaliman isu terorisme; akibatnya banyak orang menyumpahi dan mendoakan malapetaka baginya.

“Semakin seseorang terjerumus jauh dalam kezhaliman kepada kaum Muslimin, semakin perih akibat yang tertanggung dalam dirinya, keluarganya, dan kehidupannya.”

Nas’alullah al ‘afiyah lana wa lakum ajma’in.

Bandung, 27 September 2011.

AM. Waskito.


Terorisme dan Kemunafikan Orang Indonesia

April 22, 2011

Serial terorisme di Indonesia dimulai sejak 11 September 2001, tepatnya sejak Tragedi WTC. Bukan sejak 12 Oktober 2002 ketika meledak Bom Bali I. Mengapa? Karena femomena terorisme di Indonesia itu merupakan hasil dari pemaksaan agenda War On Terror yang dilancarkan oleh Amerika sejak Tragedi WTC.

Indonesia termasuk klien terbaik Amerika dalam isu terorisme. Di jaman SBY kualitas dalam melayani isu terorisme itu semakin hebat. Betapa tidak, demi menyebarkan isu terorisme secara menyeluruh, bangsa Indonesia secara sadar dan paham, telah menghancurkan kehidupannya sendiri.

Kita ini bisa dibilang sebagai: bangsa yang mau mencelakai diri, demi membuat orang lain tertawa terbahak-bahak. Itulah Indonesia. Regim SBY sangat sempurna dalam memerankan posisi sebagai “badut” yang membuat tertawa itu. Kalau di negara lain, isu terorisme diatasi dengan sangat cepat, tertutup, dan efektif; agar tidak merugikan proses pembangunan. Kalau di Indonesia, isu terorisme malah bersaing ketat dengan sinetron-sinetron di RCTI, SCTV, Indosiar, dan lainnya.

Sejak awal munculnya isu terorisme, sebenarnya pihak Polri tidak suka harus menghadapi isu ini. Sebab mereka tidak berpengalaman menghadapi teroris. Yang berpengalaman ialah satuan Gultor (penanggulangan teror) di bawah satuan Kopassus. Mereka lebih berpengalaman. Sedangkan Polri jauh sekali dari kemampuan anti teror.

Namun kemudian Polri mau mengambil tugas anti teror itu, karena mendapat dukungan langsung dari Presiden RI. Bahkan yang terpenting, Polri menerima bantuan dana, fasilitas, dan pelatihan anti teror dari Amerika dan Australia (bahkan sangat mungkin Israel juga). Dengan motif dana itu Polri jadi semangat. Lalu satuan yang dipilih ialah Brimob yang mirip-mirip TNI. Orang-orang Brimob yang bagus dipilih. Dari sinilah nanti lahir Densus88. Satuan ini bisa dikatakan, menggantikan posisi Gultor dari Kopassus.

Seni Kemunafikan Demi Kehancuran Bangsa!

Seiring perjalanan waktu, ternyata Polri merasa SANGAT BAHAGIA mengemban tugas anti teror itu. Mengapa? Ada dua alasannya yang sangat mendasar: a. Mereka mendapat anggaran penuh untuk melakukan operasi-operasi anti teror; b. Mereka mendapatkan reputasi besar di mata masyarakat dan media massa dengan tugas “memberantas teroris” itu. Dua hal ini sangat menggiurkan.

Bahkan Polri yang selama Orde Baru merasa terus berada di bawah TNI, mereka merasa mendapatkan pujian, kekaguman, dan dukungan luas dari masyarakat dan negara. Terutama ketika selesai melakukan operasi anti teror. Jangan dikira. Hal-hal demikian sangat besar artinya bagi kalangan Polri. Mereka anggap itu adalah kemenangan moral besar.

Kemudian masalahnya bertambah rumit ketika isu teror “sangat bermanfaat” untuk mengalihkan perhatian masyarakat dari isu-isu besar yang sedang menerjang citra Pemerintah. Isu teror dipercaya sangat efektif untuk mengalihkan perhatian publik dari isu-isu negatif yang merugikan citra Pemerintah. Maka bila ada isu-isu sengak tertentu, segera saja berita soal terorisme diangkat. Ya, begitulah.

Dan kebetulan, wartawan-wartawan media bertingkah seperti wartawan infotainment. Mereka sangat haus mencari berita-berita seputar terorisme, sebab terbukti berita semacam itu efektif nyedot iklan. Semakin banyak iklan, paha dan kaki semakin berlendir. [Maksudnya, semakin banyak duit yang didapat wartawan untuk main esek-esek secara haram. Na’udzubillah wa na’udzubillah min dzalik].

Akhirnya seperti lingkaran setan, semua pihak membutuhkan isu terorisme. Polisi jelas butuh, karena soal anggaran dan citra sosialnya di mata TNI dan masyarakat. Pemerintah juga membutuhkan, untuk mengalihkan perhatian publik. Kaum kapitalis membutuhkan juga, agar para aktivis Islam tidak terus koar-koar menyerang bisnis mereka. Bahkan para wartawan media sangat menyukai isu ini, sebab sangat “berlendir”.

Sejujurnya, orang-orang yang saat ini berteriak paling keras, “Awas teroris! Teroris mengancam bangsa! Teroris musuh bersama!” Ternyata orang seperti itu merupakan pihak yang paling menginginkan isu terorisme terus menghantui kehidupan bangsa kita. Ini hanya soal kemunafikan saja.Media-media, seperti TVOne, MetriTV, RCTI, GlobalTV, Trans7, dan lainnya yang sering provokatif dalam memberitakan isu-isu teroris, mereka juga sangat MUNAFIK. Satu sisi, merasa seolah membela kepentingan rakyat; di sisi lain, mereka selalu berdoa agar kasus terorisme selalu muncul. “Ini masalah cari makan untuk anak-isteri, Mas!” Ya, cari makan yang halal dong! Jangan memakan darah, air mata, dan nyawa manusia.

Perlu disadari, isu terorisme ini jelas SANGAT MENGHANCURKAN kehidupan nasional. Otak, hati, tangan, kaki, dan kehidupan kita tidak pernah konsentrasi melakukan pembangunan. Sebab, setiap akan berkarya SELALU DIGANGGU oleh isu terorisme. Kapan bisa mencapai kemajuan, kalau selalu muncul isu terorisme? Coba deh, pikir dengan akal sederhana, apakah ada kemajuan yang tinggi di sebuah negara yang ramai dengan isu terorisme? Tidak pernah itu. Tidak ada negara seperti itu. Dimanapun juga terorisme itu merupakan musuh bebuyutan stabilitas pembangunan.

Fakta yang sangat menyedihkan. Hal ini membuktikan bahwa terorisme di Indonesia itu tidak ada yang ORIGINAL, tetapi by design. Ternyata, para teroris yang sering ditangkap atau ditembak aparat kepolisian itu, rata-rata orang bodoh. Jauh sekali dari kualitas seorang teroris dunia seperti di Irlandia, Spanyol, Amerika, Kanada, dan lainnya. Karakter teroris itu seharusnya: pintar, cermat, bermain data, sabar meretas proses, mengerti konstelasi politik, dll. Ya, seperti diperlihatkan di film-film action itu. [Coba deh, lihat film tentang Jason Bourne]. Sedangkan di Indonesia, para teroris rata-rata kurus-kurus, tinggal di gang, miskin, berwawasan sempit, penguasaan alat minim, pengangguran, dan seterusnya. Para teroris dunia tertawa melihat kualitas teroris Indonesia. Tertawa terbahak-bahak mereka.

Betul yang dikatakan oleh Amran Nasution dalam sebuah tulisannya. Pemberantasan teroris di Indonesia itu seperti: “Memburu hewan liar di kebun binatang.” Lihatlah, betapa mudahnya menembaki hewan di kebun binatang. Sebab hewan-hewan itu sudah dipenjara, tidak bisa lari kemana-mana. Nah, itulah hakikat isu terorisme di Indonesia ini.

Di negeri ini kita tak bisa berharap akan berkarya maksimal. Sepanjang waktu, kita akan terus direcoki dengan isu-isu terorisme. Tetapi kita juga tak bisa mencegah hal itu, sebab ia digerakkan oleh tangan-tangan kekuasaan yang merasa sangat diuntungkan oleh isu tersebut. Intinya, semakin sedikit warga bangsa Indonesia yang mencintai negerinya. Kebanyakan ialah kaum MANIAC (baca: syaitan) yang hidup seperti virus, mencari keuntungan di balik penderitaan masyarakat luas.

Jika suatu saat Indonesia hancur, jangan menangisi siapapun. Kehancuran itu adalah BUAH dar proses yang ditanam oleh kaum maniac itu. Jangan menyesal dan menangis lagi. Wong, itu semua mereka yang membuat. Dan ingatlah, kaum maniak keji itu pasti akan mendapat sanksi paling perih dan mengerikan, daripada orang-orang lainnya.

Ya Allah ya ‘Aziz, kami ini hanya bisa mengingatkan. Tak lebih dari itu. Ampuni kami dan maafkan kaum Muslimin yang ikhlas dalam menjalani hidupnya. Allahumma amin.

AM. Waskito.


Indonesia CINTA MATI Terorisme

April 21, 2011

Banyak yang aneh di negeri ini. Lalu orang berseloroh enteng, “Kalau tidak aneh, bukan Indonesia, dong? Siapa dulu? Kita, bangsa Indonesia, top master untuk urusan yang aneh-aneh. Hayolah kawan, anehkan dirimu, anehkan hidupmu, Indonesiakan darahnya. Oh ye? Gitu tho? Oke, oke, aneh!”

Soal TERORISME…ah sudahlah. Ini kan hanya hiburan saja. Nikmati sajalah… Ini hiburan, semacam sinetron Cinta Fitri yang episodenya tidak entek-entek itu. Mungkin, menjelang kedatangan Imam Mahdi nanti, sinetron tersebut baru tammat. Isu teroris di Indonesia, tidak usah dibuat pusing. Itu sami mawon dengan sinetron-sinetron itu.

Di Indonesia kan ada Densus88. Sampai tahun 2010 nama Densus88 terus berkibar. Sekarang ada badan tersendiri, namanya BNPT (Badan Nasional Penanggulangan Terorisme). Ini lembaga resmi negara. Namanya lembaga negara, pasti ada ongkos operasionalnya kan. Itu pasti. Misalnya, di Indonesia tidak ada terorisme, terorisnya habis bersih disikat aparat keamanan. Misalnya begitu. Lalu apa kerja BNPT dong? Ya gak ada kerjaan. Kalau gak ada kerjaan, sementara anggaran jalan terus, jadinya bagaimana? Ya, pasti dibubarkan.

Sinetron Tak Kenal Tammat.

Maka ramainya pembicaraan soal terorisme itu sama dengan: memberi nyawa yang panjang bagi BNPT. Kalau negara merasa terancam, BNPT akan panen pekerjaan, sekaligus tentu panen anggaran. Kalau isu terorisme berakhir, ya pasti penghasilan akan terancam. Iya kan.

Sama juga media-media massa. Isu terorisme itu semacam “lumbung padi” bagi mereka. Para wartawan media tak peduli efek apapun dari pemberitaan soal terorisme. “Yang penting ada berita, yang penting ratting acara tinggi, yang penting iklan nyedot terus. Soal A, B, C, D, E, F, G, H… itu soal lain. Yang penting cari makan dulu, buat anak-isteri.” Cuma buat makan anak-isteri Pak? Ya tidak. Ada plus-nya. Plus-nya apa? Nambah koleksi mobil baru, beli gadget baru (seperti Arifinto itu lho), masuk kafe “kopi luwak” yang bergengsi itu, nonton final Piala Champions dari pinggir lapangan, pelesir ke Macao, Hawaii, minimal Singapore lah.

Berita yang dimuat seputar darah, air mata, dan nyawa manusia…tetapi outputnya untuk jalan-jalan ke Pataya, Paris, Dubai, dan seterusnya. Kalau ditanya, kok gitu sih? Jawabnya enteng, “Dunia ini hanya panggung sandiwara. Ceritanya mudah berubah-ubah.” Ya, kalau tahu panggung sandiwara, mengapa mereka mau memainkan peranan Dasamuka, Rahwana, Buto Ijo, dan kawan-kawan? Pilih peran yang bagus dong!

Ya itulah Indonesia, sebuah negeri yang aneh, menganehi, dan sekaligus teranehi. [Anda paham maksudnya? Kalau tidak paham, bilang saja “pass”. Saya juga “pass” kok].

Pak Jero Wacik dari Kementrian Budaya dan Pariwisata. Dia berusaha keras melariskan obyek-obyek wisata di Indonesia. Begitu semangat sampai hampir ketipu. Ceritanya, soal Komodo mau dimasukkan dalam salah satu ikon “7 Keajaiban Dunia”. Ternyata, yayasan internasional yang mengadakan even penganugerahan gelar “7 keajaiban dunia” itu memakai cara seperti “debt collector”, suka maksa-maksa. Kalau Indonesia mau Komodo masuk daftar “7 keajaiban dunia”, Indonesia harus setor dana sekian juta dollar, dan Indonesia harus mau mengadakan acara penganugerahan predikat “7 keajaiban dunia” itu.

Ya, mirip modus orang-orang kita. Mau cari duit, tetapi berliku-liku, dengan retorika tinggi. Tentu Pak Jero Wacik menolak keras. Gak mau aku. Nanti, malah ketipu lagi. Begitulah, salah satu bukti keseriusan Pak Menteri dalam soal kampanye wisata obyek-obyek menarik di Indonesia.

Tetapi dalam soal terorisme ini, efeknya sangat kuat bagi sektor wisata di Indonesia. Bukan hanya wisata, tetapi juga investasi, kunjungan bisnis, kunjungan studi, kerjasama sosial, dll. Setiap negara yang diobral media sebagai “sarang teroris”, pasti akan sangat dirugikan nama baiknya. Sektor wisata rusak, investasi rusak, bidang sosial rusak.

Siapa yang merusak? Ya, tentu saja para pelaku teror, para pemimpin BNPT, para pengamat terorisme, media-media yang getol memberitakan isu terorisme. Mereka ini kan sama saja dengan “seolah membela negara”, padahal pekerjaannya “merusak kepentingan negara”.

Dalam isu terorisme ini, sebaiknya rakyat Indonesia mendengar analisis Dr. AC. Manullang. Kata beliau, isu terorisme itu hanya bikin-bikinan saja. Teroris sejati di Indonesia tidak ada. Andaikan ada, maka teroris itu akan dicegah terlebih dulu dengan aksi “kontra intelijen” sebelum ia pecah. Beliau bahkan meyakinkan bahwa tuduhan kepada Abu Bakar Ba’asyir adalah mengada-ada. Tidak ada bukti material ke arah sana.

Memang, di balik isu terorisme ada multi kepentingan. Pihak aparat ingin mendapat anggaran dana; pihak pelaku ingin mendapat ketenaran; pihak media lagi-lagi berdalih “cari makan buat anak-isteri”.

Seharusnya, kalau bangsa Indonesia SEHAT lahir-batin, jangan suka membesar-besarkan masalah terorisme ini, sebab efeknya merusak kepentingan bangsa sendiri. Merusak kepentingan wisata, investasi, bisnis, sosial, dll. Kalau perlu aksi terorisme itu ditutup-tutupi, atau diklaim sebagai kasus kriminal biasa saja, agar tidak merusak kehidupan umum. Ya, namanya KELICIKAN pasti hasilnya adalah KERUSAKAN. Itu pasti!

Inilah anehnya Indonesia. Aneh, aneh, aneh betul. Kok mau-maunya negeri ini dijuluki “sarang teroris”. Padahal julukan itu sangat merepotkan dan memiskinkan kehidupan bangsa.

Kalau bangsa lain sangat membenci mafia, narkoba, pornografi, kekerasan; maka Indonesia justru “cinta mati” dengan isu terorisme. Hebatnya, dari isu yang “gelap gulita” nanti dipakai untuk menghantam lawan-lawan politik. Aneh kan…ya sangat teraneh-anehi, menganeh-anehkan, plus diperanehkan. [Kalau tidak mudeng, bilang “pass”. Aku sudah “pass” duluan…].

Oke lah…santai aja soal terorisme. Jangan termakan propaganda media. Kalau ada yang memfitnah, menyudutkan, berbohong, dll. ya doakan saja yang bersangkutan agar sadar. Kalau dia maniac, doakan agar mendapat laknat Allah yang sempurna. Ingat, semua ini just sinetron. Not else.

AM. Waskito.


Kok Jadi Menghina Islam?

September 30, 2010

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Sejak lama kita telah mengingatkan Ummat Islam bahaya aksi-aksi Densus 88. Hal ini sudah diingatkan berkali-kali, di berbagai media, termasuk di blog ini. Densus 88 sudah benar-benar membabi-buta dalam menjalankan wewenangnya untuk memberantas terorisme.

Bukan berarti kita tidak setuju dengan pemberantasan pelaku teror yang membuat onar di tengah masyarakat. Tetapi masalahnya: SATU, isu terorisme itu sendiri penuh rekayasa, bukan seperti kejadian teror yang benar-benar murni teror. DUA, banyak orang yang tidak bersalah, tidak tahu-menahu, atau baru sebatas dicurigai, telah menjadi korban pemberantasan terorisme yang membabi-buta. Pelaku terornya sendiri tetap aman, sementara kaum Muslim yang tidak berdosa menjadi korban.

Densus 88: “Membunuhi Orang Shalat, dengan Biaya APBN.”

TIGA, pemberantasan terorisme ini telah ditunggangi oleh semangat kebencian terhadap Islam, oleh sekumpulan anggota Polri dari unsur non Muslim, yang diasuh oleh Gorries Mere, selaku Ketua BNN. Menurut FUI, di tubuh Polri ada sebuah kelompok kecil beranggota 40-an orang, non Muslim semua, yang kerap beraksi membunuhi pemuda-pemuda Islam yang belum jelas kesalahannya di mata hukum. Pasukan itu kerap berlindung di balik nama Densus 88 untuk menghancurkan kehidupan pemuda-pemuda Islam tak bersalah dan keluarga mereka.

Kini terjadilah apa yang terjadi… Densus 88 dengan dukungan penuh Polri, mereka menembaki manusia yang sedang Shalat Maghrib. Katanya, orang-orang itu sedang memegang senjata, sedang hendak menyerang aparat keamanan. Padahal mereka ditembaki saat Shalat Maghrib di rumah. Betapa kejinya pernyataan -manusia terkutuk- Bambang Hendarso yang memfitnah manusia-manusia itu. Bahkan Yuki Wantoro, yang tidak tahu apa-apa tentang Perampokan Bank CIMB ikut difitnah juga, dan terbunuh disana. Masya Allah, mana lagi ada kebiadaban yang lebih keji dari itu? (Maka tidak berlebihan jika dikatakan, banyak dari pejabat-pejabat negara kita selama ini, bukan merupakan golongan manusia, tetapi golongan syaitan yang keji).

Sebenarnya, saat Densus 88 menangkap Ustadz Abu Bakar Ba’asyir di Banjar ketika itu, memecahkan mobil, membekuk sopir dan laki-laki dalam mobil itu, menangkap kaum wanita, bahwa menghardik Ustadz Abu Bakar dengan ucapan, “Kutembak kamu!” Ini adalah pelecehan, penghinaan, penistaan besar terhadap Islam dan kaum Muslimin.

Dan kini terjadi lagi penistaan yang lebih biadab. Orang-orang sedang shalat ditembaki, beberapa dibunuh. Ustadz Khairul Ghazali dibatalkan shalatnya, lalu dijatuhkan, dan diinjak-injak pula. Allahu Akbar, mana lagi kezhaliman yang lebih besar dari kekejian manusia-manusia syaitan ini? Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar!

Wahai kaum Muslimin, kami sudah lama mengingatkan Anda akan masalah ini. Sudah sering kami mengingatkan Anda, termasuk kami tidak peduli dengan nasib kami sendiri. Kami ingatkan bahaya besar kesewenang-wenangan seperti ini. Tetapi Anda sepertinya hanya menganggap biasa-biasa saja.

Al Qur’an dihina oleh Gusdur, Anda diam. Dakwah dan aktivis Islam terus-menerus difitnah oleh Kapolri dan jajarannya, Anda juga diam. Ustadz Ba’asyir ditangkap dengan cara-cara yang keji, Anda diam. Kini Densus 88 menyerang orang sedang shalat, -saya yakin- Anda pun akan diam kembali.

Lalu bagaimana nanti kalau ada yang menginjak-injak Al Qur’an? Bagaimana nanti kalau Nabi Saw dihinakan serendah-rendahnya? Bagaimana kalau ribuan Muslim dimurtadkan? Bagaimana kalau kekayaan kaum Muslimin di negeri ini terus dibawa ke luar negeri? Bagaimana kalau negerimu dihancurkan oleh koruptor-koruptor kelas kakap yang membawa kabur triliunan rupiah uang rakyat? Bagaimana kalau ribuan nasib saudari-saudarimu dilecehkan, dihina, dihukum mati, diperkosa di luar negeri? Anda pun -saya yakin- akan diam juga.

Kalau begitu, apa artinya Anda disebut sebagai Muslim? Apakah Islam sama sekali tidak berharga di mata Anda? Apakah yang paling penting dalam hidup ini adalah pekerjaan, gaji, karier, bisnis, title akademik, popularitas, hubungan seksual dengan wanita, punya anak lucu-lucu, punya aset banyak, diwawancarai media-media massa, terkenal di mata ibu-ibu dan kaum wanita? Apakah yang seperti itu yang Anda anggap paling penting dalam hidup ini? Masya Allah, laa haula wa laa quwwata illa billah.

Kita harus punya rasa malu, wahai Saudaraku! Kita harus punya rasa malu. Malu-lah hidup bemandi kesenangan, sementara keimanan Anda sangat tipis, rasa pembelaan Anda kepada Islam sangat krisis, rasa solidaritas Anda kepada sesama Muslim sangat kecil. Malu-lah, malu-lah, malu-lah, malu-lah, malu-lah…

Rasulullah Saw mengatakan, “Unshur akhaka zha-liman au mazh-luman” (tolonglah saudaramu yang zhalim dan terzhalimi). Maksud menolong saudara yang zhalim, ialah mencegah dia dari perbuatan zhalim itu.

Densus 88 atau Polri selama ini telah amat sangat sering menzhalimi pemuda-pemuda Islam. Begitu enaknya mereka menuduh orang lain sebagai teroris, atas dasar persepsi sendiri, atas dasar segala bentuk rekayasa. Tidak terhitung, betapa banyaknya keluarga Muslim, isteri-isteri, dan anak-anak mereka teraniaya karena tuduhan sebagai bagian komplotan teroris. Tetapi kita sendiri selama ini tidak ada niatan untuk menghentikan semua kezhaliman itu. Kita biarkan saja selama ini Densus 88, Bambang Hendarso -semoga Allah melaknat dia dan keluarganya-, Polri, TVOne dan MetroTV, terus-menerus menzhalimi kita semua. Betapa banyak orang-orang tak bersalah menjadi korban semua rekayasa terorisme ini.

Di Amerika sendiri, yang disebut sebagai boss-nya perang anti terorisme, mereka sudah mengendurkan ketegangan seputar isu terorisme ini. Padahal mereka telah kehilangan WTC, ribuan manusia tewas, miliaran dollar aset ekonomi hancur (yang tentu saja, peledakan WTC itu bukan dilakukan oleh Usamah Cs). Sedangkan di Indonesia, isu terorisme menjadi “penyakit menular” yang tidak sembuh-sembuh sejak lama.

Kita harus berusaha mengakhiri semua kezhaliman ini. Jangan lagi ada kaum Muslimin yang teraniaya secara sewenang-wenang. Rasulullah Saw mengingatkan, “Fattaqu zhulma, fa inna zhulma zhulumatun fid dunya wal akhirah” (takutlah kalian akan kezhaliman, sebab kezhaliman itu merupakan kegelapan di dunia dan akhirat). Kurang lebih seperti itu kata Nabi (mohon maaf bila ada lafadz yang tidak tepat).

Kalau sekarang anak buah Gorries Mere bisa membunuhi manusia saat sedang shalat. Suatu saat, mereka akan menembaki orang-orang yang sedang shalat jamaah di masjid. Suatu saat, mereka akan memerangi Islam dan kaum Muslimin, atas nama “perang melawan terorisme”. Adapun orang-orang terlaknat seperti Bambang Hendarso dan sejenisnya, mereka akan sangat mudah mencarikan dalil untuk melegalkan perang atas Islam ini. Mereka akan mencari dalil-dalil agar pemuda-pemuda bisa terus diperangi, dengan biaya APBN.

Aku telah mengingatkanmu, wahai Saudaraku! Inilah sebatas tanggung-jawab yang mampu kupikul. Selebihnya adalah tanggung-jawab Anda sendiri sebagai seorang Muslim yang masih menghargai agamanya. Bila agama itu sudah tak berharga di mata Anda, silakan lakukan apapun yang Anda sukai!

Ya Allah, ya Rahiim, ya Aziz, ya Ghafurr…kasihilah kami, sayangilah kami, sayangilah Ummat Muhammad ini. Bila Engkau tidak menolong kami dalam menolak kezhaliman manusia-manusia berhati syaitan, tentulah kami akan semakin tercerai-berai, agama-Mu semakin ternista, pemuda-pemuda kami akan terus teraniaya, wanita-wanita kami dan anak-anak kami, akan terus dicekam ketakutan, orangtua-orangtua kami akan menangis tidak berdaya. Ya Rahiim ya Aziz, tolonglah kami ya Allah, lindungi kami ya Mannan, belalah kami ya Jabbar.

Amin Allahumma amin. Wa shallallah ‘ala Rasulillah Muhammad wa ‘ala alihi wa ashabihi ajma’in. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamiin.

(Joinus)


Awas: Adu Domba TNI dan Ummat Islam!!!

September 25, 2010

Sejak lama banyak kalangan Islam tidak yakin dengan segala isu terorisme. Dari sekian panjang proses pemberantasan terorisme, sejak 12 Oktober 2002, banyak pihak meyakini bahwa terorisme adalah fenomena yang diciptakan sendiri oleh Polri. Mereka yang menciptakan semua itu, mereka yang kerepotan, lalu urusan negara dikorbankan.

Mengapa dikatakan demikian?

Pertama, mantan Kepala BIN di jaman BJ. Habibie, Mayjend ZA. Maulani pernah diminta MUI untuk mencari fakta seputar kasus Bom Bali I di Legian Bali. Setelah melihat fakta-fakta kerusakan dahsyat yang ada, beliau tidak percaya bom sedahsyat itu dibuat oleh Imam Samudra Cs. Masalahnya, teknologi bom Pindad pun belum setaraf itu. Jadi sejak tahun 2002 isu terorisme ini sudah digugat oleh para ahli.

Kedua, sejak era tahun 80-an sampai tahun 2000, tidak pernah terjadi kasus-kasus terorisme di Indonesia. Baru sejak Bom Bali I 12 Oktober 2002, terjadi terus-menerus peristiwa teror di Indonesia. Dan terjadinya hampir setiap tahun. Sempat terhenti sejak tahun 2005, lalu terjadi lagi dengan ledakan bom di JW Marriot – Ritz Carlton tahun 2009 lalu. Pada mulanya bangsa Indonesia tidak pusing oleh kasus-kasus terorisme ini, tetapi sejak tahun 2002, kasus teror seperti menjadi rutinitas.

Otak Pemfitnah Ummat! (sumber: inilah.com).

Ketiga, hampir di semua kasus terorisme yang diungkap Polri, selalu menyisakan tanda tanya dan misteri yang semakin menggunung. Contoh, dalam kasus Aceh, ada puluhan pemuda Islam sedang latihan jihad untuk menuju Ghaza, karena tahun 2008 lalu terjadi Tragedi Ghaza yang sangat memilukan. Lalu mereka diklaim sedang latihan untuk menyerang Presiden RI saat peringatan 17 Agustus 2009. Bahkan yang terakhir, seorang remaja Yuki Wantoro dituduh terlibat perampokan Bank CIMB. Padahal ada bukti valid yang menjelaskan, bahwa saat perampokan itu terjadi Yuki sedang di Solo, nonton berita perampokan dari TV.

Keempat, Polri terus-menerus mengklaim telah melakukan pemberantasan terorisme sebaik-baiknya. Tetapi nyatanya, aksi-aksi kekerasan tidak semakin mereda, bahkan semakin berkembang. Andaikan mereka jujur dalam isu terorisme, bukan menjadikan isu itu sebagai “komoditas nafkah”, tentu masalah ini sudah bisa diselesaikan sejak lama.

Kini masalah terorisme menjadi semakin serius, dengan rencana melibatkan TNI dalam pemberantasan apa yang diklaim oleh Polri sebagai terorisme itu. Baru-baru ini Pemerintah membentuk badan yang bernama BNPT (Badan Nasional Penanggulangan Terorisme). Hakikat badan ini dijelaskan oleh Bambang Hendarso Danuri, “Teman-teman dari TNI dalam momen tertentu jika dibutuhkan kita akan libatkan detasemen-detasemen khusus yang dimiliki oleh tiap angkatan di TNI seperti Denjaka, Den Bravo dalam striking force bersama.” Hal itu disampaikan Bambang Hendarso di Rupatama Mabes Polri, di Jakarta Jumat 24 September 2010 (Sumber: http://www.inilah.com, 24 September 2010).

PERHATIKAN: Satuan ini merupakan kekuatan pemukul, yaitu merupakan penggabungan Densus 88 ditambah satuan elit TNI seperti Den Jaka, Den Bravo, dan Gultor Kopasssus. Jadi, pemberantasan terorisme di negeri kita tidak pernah berubah dengan pendekatan psikologi, sosial, humanitas, tetapi selalu dengan prinsip sikat, sikat, sikat habis. Persis seperti aksi-aksi brutal Densus 88 selama ini. Hanya nanti, akan ditambah anggota dari satuan elit TNI. Istilah striking force itu bukan pendekatan manusiawi, bukan pendekatan sosial, atau kultural, tetapi pendekatan: Sikat habis!

Lalu, kira-kira apa yang nanti akan terjadi di Indonesia?

Dapat dipastikan, di negara ini eskalasi konflik antara Ummat Islam dengan pemerintah akan semakin hebat. Betapa tidak, selama ini Ummat Islam telah sedemikian rupa dalam mengkritik, mengecam, dan mengoreksi aksi-aksi oleh Densus 88. Bukan hanya Ummat Islam, tetapi juga kalangan TNI, para cendekiawan, para pengamat yang jujur, dll.

Dengan dibentuknya BNPT itu sama saja dengan mengadu-domba Ummat Islam dengan TNI. Selama ini, jika ada konflik kepentingan, hanya antara Ummat Islam dengan Polri. Tetapi kini akan diperluas lagi, dengan melibatkan TNI, khususnya satuan-satuan elit. Padahal kita tahu, fondasi keutuhan NKRI ada di tangan kalangan Islam dan TNI. Jika kemudian kedua-belah pihak dihadap-hadapkan, seperti jaman Orde Baru dulu, jelas akibatnya sangat fatal bagi NKRI.

Demi Allah, Ummat Islam tidak suka dengan cara-cara teror, Ummat Islam tidak mendukung aksi-aksi terorisme yang merusak kehidupan. Tetapi masalahnya, apakah benar terorisme yang dituduhkan itu? Atau ia hanya rekayasa belaka untuk memojokkan Ummat Islam dengan memakai fasilitas kekuasaan negara? Kalau benar-benar ada aksi terorisme yang sangat merugikan, kita pasti mendukung ia diberantas. Tetapi jangan semena-mena menyerang Ummat Islam atas alasan terorisme!

Kenyataan yang sangat menyakitkan. Begitu mudahnya Kapolri menuduh ini teroris, itu teroris, lalu membuat fakta-fakta seenaknya sendiri. Tak lupa, Polri yang memang memiliki hubungan khusus dengan Karni Ilyas, mereka akan memakai TVOne, atau akan memakai MetroTV untuk menjelek-jelekkan Ummat Islam, untuk membangun opini palsu.

Betapa tidak, dalam kasus latihan militer di Aceh, itu latihan legal yang diketahui aparat keamanan. Tujuannya, untuk persiapan Jihad di Ghaza, lalu diklaim sebagai terorisme untuk menyerang SBY di Jakarta. Video yang ditayangkan berulang-ulang di TVOne dan MetroTV itu adalah video latihan pemuda-pemuda Islam untuk persiapan ke Ghaza. Bagaimana bisa video ini lalu dibelokkan ke rencana menyerang SBY di Jakarta? Betapa tololnya pengelola media-media itu. Mereka sehari-hari makan-minum dari memfitnah Ummat Islam, menjelek-jelekkan pemuda Islam.

Yang paling parah ialah penggerebekan sebuah bengkel motor di Solo beberapa waktu lalu. Sebelum penggerebekan, aparat Polri melakukan persiapan di rumah makan, hanya sejarak 200 m dari lokasi. Ketika masuk bengkel itu, wartawan dilarang masuk dulu, aparat sedang “mempersiapkan” TKP. Begitu wartawan bisa masuk ke bengkel, disana senjata api, amunisi, peluru, dll. sudah ditata sangat rapi. Sudah digelar di lantai sangat rapi. Kalau boleh bertanya, “Itu para teroris sebenarnya lagi persiapan penyerangan, atau mereka mau jualan peluru ya? Kok cara menata peluru itu begitu rapi sekali?” Dan Kepala Dest Antiteror, Ansyad Mbai hadir dalam penggerebekan ke bengkel tersebut. Di TV ditayangkan kehadirannya.

Semua ini kan penipuan luar biasa. Polisi sendiri yang membuat-buat isu terorisme, mereka membuat kezhaliman luar biasa, atas nama pemberantasan teroris. Berapa banyak manusia yang akhirnya dirugikan, keluarga dirugikan, anak-isteri kehilangan ayah, kakak, paman mereka, akibat semua skenario itu? Yuki Wantoro yang tak tahu apa-apa tentang perampokan CIMB akhirnya menjadi korban sia-sia. Dia mati dalam keadaan tak bisa menuntut kezhaliman para polisi itu.

Wahai manusia Indonesia… Coba kalian pikir dengan akal kalian yang bersih, jika akal itu masih ada. Pernahkah akan tercipta keamanan negara, tentram, sentausa, dengan segala konspirasi penuh kezhaliman itu? Kezhaliman pasti akan menimbulkan mata rantai kerusakan sosial yang panjang. Hal ini akan menyebabkan dendam kesumat sosial secara luas di tengah masyarakat. Siapapun yang membuka pintu-pintu kezhaliman, dia tak akan bisa menutup pintu, hingga dirinya sendiri menjadi korban paling hina dari kezhaliman yang dilakukannya sendiri.

Kini masalahnya semakin serius. TNI hendak dilibatkan dalam konflik yang diciptakan oleh Kepolisian ini. Jelas akibatnya, eskalasi konflik itu akan semakin besar, semakin membara, semakin luas. Dan akibatnya kelak, jangan heran kalau NKRI akan lebih cepat hancur-lebur. Kalau Ummat Islam sudah membenci NKRI, Anda tidak akan memiliki kekuatan lagi untuk mempertahankan keutuhan negara ini.

Sekali lagi, kami bukan mendukung teroris, atau setuju dengan aksi terorisme. Tidak sama sekali. Tetapi kami sangat MENGGUGAT OPINI terorisme yang selama ini dikembangkan oleh Polri. Mereka seenaknya sendiri menuduh orang terlibat terorisme, menangkap, menembak mati, menyerbu, menggerebek, dan sebagainya. Mereka hanya bermodal opini tunggal di kepalanya sendiri, tanpa ada opini pembanding sama sekali.

Adapun Bambang Hendarso Danuri. Betapa zhalimnya orang ini, dengan segala penampilan dan retorikanya yang tampak santun. Semoga Allah melaknati dirinya, melaknati isteri dan anak-anaknya, melaknati keluarganya. Semoga Allah melaknati perwira-perwira Polisi yang berserikat dengannya dalam memfitnah Ummat Islam, dan melaknati siapa pun yang mendukung konspirasi zhalim atas kaum Muslimin di negeri ini. Semoga Allah melumpuhkan kekuatan mereka, sehingga mereka tidak mampu lagi berbuat zhalim kepada siapapun, selain menghancurkan diri mereka sendiri. Semoga Allah menyelamatkan bangsa ini dari manusia-manusia berhati syaitan. Amin Allahumma amin. Wa shallallah ‘ala Rasulillah Muhammad wa ‘ala alihi wa ashabihi ajma’in.

Semoga kita bisa mengambil sebaik-baik pelajaran.

AMW.


Bisnis Darah dan Nyawa Manusia

Agustus 16, 2010

Kalau melihat tukang jagal berjual beli daging, itu wajar. Apalagi di masa Ramadhan dan menjelang Idul Fithri nanti, pasti sangat ramai tukang jagal jualan daging. Itu wajar, sebab yang dijual daging sapi, kambing, atau ayam. Ada juga yang menjual daging kuda, kerbau, atau onta. Tetapi kurang umum di masyarakat kita.

Adalah amat sangat keji dan biadab, bila ada yang sampai memperjual-belikan darah manusia, nyawa manusia, nama baik keluarga, masa depan anak-anak, bahkan kehidupan bangsa. Mendengar berita-berita seputar manusia dimutilasi saja sudah sangat ngeri, apalagi ada jual-beli nyawa dan kehidupan insan. Pasti bila ada jual-beli semacam itu, para pelakunya hanyalah syaitan-syaitan berbadan manusia.

Andaikan Kakak atau Adik Anda Menjadi Tersangka...

Tapi apa ada jual-beli darah dan nyawa manusia?

Ini ada. Faktual. Nyata. Buktinya di depan mata kita. Paling tidak faktanya muncul sejak sekitar 10 tahun terakhir. Khususnya sejak terjadi Tragedi WTC, 11 September 2001. Sejak itu, darah, nyawa, keluarga, masa depan anak-anak, dan kehidupan aktivis-aktivis Muslim menjadi sasaran teror, difitnah habis-habisan, dizhalimi secara semena-mena, diinjak-injak kehormatannya, dan seterusnya. Pihak-pihak yang melakukan teror itu secara riil mendapat donor (dana bantuan) asing, seperti dari Amerika dan Australia.

Aktivis-aktivis Islam diperlakukan seperti hewan buruan, dikejar-kejar, dikepung dengan poster “awas teroris” ditempel di mana-mana, dikepung, ditembaki, dibunuhi di jalan-jalan. Yang berhasil ditangkap hidup, diberi “pelatihan fisik” tertentu, sehingga muka dan badannya bonyok tidak karuan. Mereka ditampilkan di media-media massa sebagai Muslim garis keras, pemuda Islam radikal, pemuda ekstrim, kaum fundamentalis, dsb. Sembari mereka tidak diberi kesempatan untuk membela diri secara adil.

Pihak-pihak yang memangku “tugas negara” menyerang sasaran para aktivis Islam itu, mereka selalu haus membutuhkan publikasi media massa, mereka butuh blow up di mata masyarakat, agar benar-benar tercipta image, bahwa bangsa kita sebentar lagi akan dikuasai teroris. Dengan cara publikasi media itu, mereka mendapat dukungan asing, mendapat dukungan APBN, mendapat restu ini itu. Padahal mayoritas kasus-kasus terorisme itu merupakan rekayasa yang mengada-ada.

Ada banyak alasan untuk memahami bahwa kasus-kasus terorisme di Indonesia ini merupakan rekayasa belaka, tidak memiliki landasan kebenaran sama sekali. Masyarakat hanya dibohong-bohongi oleh berita-berita media yang diputar-balikkan tidak karuan. Berikut argumentasinya:

[1] Peristiwa teror bom di Indonesia, umumnya dimulai pasca Tragedi WTC, 11 September 2001. Sebelum itu, di Indonesia jarang terjadi teror bom. Setelah Bom Bali I, seakan negara kita langganan terjadi teror bom.

[2] Secara umum, pemuda-pemuda Islam yang dituduh teroris itu rata-rata orang fakir-miskin. Ini sangat jelas. Secara ekonomi mereka susah. Itu terlihat dari rumah, kondisi keluarga, kampung tempat tinggal, dll. Lalu darimana mereka bisa membeli amunisi, bahan peledak, senapan, pistol, sirkuit bom rompi, mobil, kamera, dan seterusnya. Untuk diri sendiri saja susah, apalagi mau membuat bom mobil?

(Pihak aparat beralasan, “Mereka dapat transfer dari donor orang asing di Saudi.” Bantahan, sejak WTC 11 September 2001, semua transfer dana untuk keperluan Islam, sekalipun untuk dakwah dan pendidikan, sangat sulit masuk ke Indonesia. Bahkan sejak Saudi merugi akibat Perang Teluk 1990-1991, mereka kesusahan membantu dakwah Islam di negara-negara Muslim).

[3] Imam Samudra, Mukhlas, Amrozi, Ali Imran, mereka mengaku telah meledakkan bom mobil di depan cafe Paddy’s Club di Bali. Tetapi mereka tidak tahu-menahu tentang bom ke-2 di Sari Club yang menewaskan ratusan orang Australia. Menurut sebagian saksi, bom kedua ini merupakan rudal yang ditembakkan dari arah pantai di Bali, jatuh mengenai kafe Sari Club. Imam Samudra Cs melakukan satu kesalahan, tetapi harus menanggung dua dosa sekaligus, termasuk peledakan di Sari Club. Bodohnya, dunia internasional tak peduli dengan fakta itu. Hati mereka sudah tertutup untuk melihat kebenaran.

[4] Dalam setiap aksi terorisme, selalu saja ditemukan video yang menggambarkan aksi tersebut. Termasuk video pada saat peledakan Bom Bali II, JW. Marriot dan Ritz Carlton. Video yang paling dramatis ialah seperti di JW. Marriot dan Ritz Carlton. Disana seperti ada kamera yang terus mengikuti gerak-gerik pelaku teror. Kalau memang sudah tahu ada aksi seperti itu, seharusnya pembawa kamera membuat peringatan sejak dini.

[5] Tabung gas 3 kg yang beredar di masyarakat kerap kali meledak, dan ledakannya seperti bom. Tabung itu mudah didapat, sangat murah lagi. Kalau para “teroris” ingin melakukan teror dengan bom, mereka pasti akan menggunakan tabung gas 3 kg. Tetapi kenyataan yang ada, tidak pernah ada aksi seperti itu. Ini menandakan, bahwa aksi-aksi yang diklaim sebagai terorisme selama ini, sangat mengada-ada.

[6] Banyak pihak mempertanyakan, kalau para aktivis itu benar-benar sebagai bagian dari Tanzhim Al Qa’idah, yang menyatakan jihad global melawan Amerika. Mengapa dalam kasus-kasus teror di Indonesia, tidak ada satu pun warga atau instansi Amerika menjadi korban? Seolah, pihak teroris sudah diberitahu agar menghindari sasaran yang berlabel Amerika. Katanya Al Qa’idah, tetapi Amerika selamat terus?

[7] Selama ini, isu seputar terorisme amat sangat menjadi MONOPOLI kepolisian. Seakan pihak lain, seperti anggota DPR, Komnas HAM, tim pencari fakta independen, tim advokasi Muslim, ormas Islam, atau tim independen asing, tidak boleh campur-tangan sama sekali. Monopoli opini oleh Polisi ini jelas membuka pintu selebar-lebarnya bagi pembunuhan sipil secara sistematik oleh aparat.

[8] Setiap selesai satu kejadian teror, Polisi selalu mengumumkan, bahwa masih ada pelaku yang buron (DPO). Ini sangat menjengkelkan. Kalau kerja Polisi tuntas, seharusnya ringkus semuanya. Jangan dicicil sedikit-sedikit! Sangat kelihatan kalau Polisi ingin memperpanjang “sinetron terorisme” ini. Dengan panjangnya episode, jelas panjang pula harapan mendapat bantuan dana asing.

[9] Pernahkan kita membayangkan, bahwa negara Amerika sendiri yang disebut-sebut telah mengobarkan war on terror itu, mereka kini sudah bosan dengan isu terorisme. Bukan hanya Amerika. Negara-negara yang dulu ikut siaga dalam war on terror, mereka sudah mengendurkan ketegangannya, seiring lengsernya George Bush -laknatullah ‘alaihi wa ashabihi ajma’in-. Nah, mengapa Indonesia seperti sangat mensyukuri acara teror-teroran ini? Di negara asal terjadi Tragedi WTC saja sudah reda, kok disini masih laku?

[10] Perhatikan para pengamat terorisme yang muncul di media-media massa. Orangnya dari dulu itu-itu saja. Nashir Abbas jelas, Sidney Jones, Mardigu, Hendropriyono, Ansyad Mbai, Abdurrahman Assegaf, Umar Abduh, dll. Peristiwa teror di Indonesia seperti sebuah ritual yang diulang-ulang. Dan setiap “ritual” terjadi, para “pendeta” dalam ritual itu selalu orang-orang yang sama.

[11] Bahkan cara-cara media dalam meliput kasus-kasus teror itu nyaris sama. Hanya tempat, waktu, dan deskripsinya berbeda. Tetapi secara umum, model peliputan medianya, sama saja. Kalau tidak salah, orang-orang media sebenarnya bosan juga dengan kasus “jual-beli darah dan nyawa” itu, tetapi mereka seperti tidak ada pilihan.

[12] Isu terorisme di Indonesia seperti sebuah kanker mematikan. Mengapa demikian? Mulanya semua ini dibiarkan, tetapi lama-lama membesar menjadi kanker di tubuh bangsa kita. Bayangkan, semua pihak, selain kalangan Islam, nyaris tak mau bersuara membela kepentingan pemuda-pemuda yang dikejar-kejar sebagai teroris itu. DPR bisu, partai-partai bisu (terutama partai label Islam), Gubernur/Walikota bisu, Menteri bisu, aktivis HAM bisu, aktivis LSM bisu, media massa membisu (dari melakukan advokasi), ormas Islam membisu, gerakan mahasiswa membisu, BEM membisu, HMI membisu, dll. Seolah, semua pihak sudah sepakat untuk sama-sama menzhalimi aktivis-aktivis Islam yang rata-rata fakir-miskin itu. Allahu Akbar, bagaimana mereka bisa berharap akan tegak keadilan di negeri ini, sementara terhadap kezhaliman yang nyata-nyata di depan mata, mereka bisu? Ini menjadi bukti kesekian kalinya, bahwa sejatinya kebanyakan orang Indonesia ini berkarakter MUNAFIK.

[13] Kasus terbaru, yang diklaim oleh kepolisian sebagai terorisme di Aceh. Media-media massa, terutama MetroTV dan TVOne, ikut-ikutan mempublikasikan hal tersebut. Padahal sejatinya, seperti disebut dalam situs suara-islam.com, latihan militer di Aceh itu bukan untuk menyerang SBY saat 17 Agustus 2009. Itu adalah latihan para pemuda Islam yang semula rencananya akanĀ  diberangkatkan ke Ghaza. Latihan ini ada dua tahap, pertama tahun 2008 untuk persiapan ke Ghaza. Ini ada videonya, seperti yang ditayangkan di TV-TV. Lalu latihan kedua, akhir 2009 sampai awal 2010. Latihan kedua ini sangat kuat peranan Sofyan Tsauri dalam menjerumuskan pemuda-pemuda Islam itu dalam jebakan kasus terorisme. Latihan yang dirancang Sofyan Tsauri untuk kasus terorisme.

Sofyan Tsauri sendiri mengakunya sebagai desertir polisi Depok. Katanya desertir, tetapi bisa memakai Mako Brimob Kepala II Depok untuk latihan menembak dengan peluru tajam. Hebat kali Si Sofyan ini? Sofyan ini seorang desertir polisi yang memiliki kuasa seperti Kapolri. Hebat kali dia? Dari semua tertuduh teroris di Aceh, hanya Sofyan ini yang diperlakukan istimewa. Tidak dibelenggu, tidak ditutup mata, boleh memakai kacamata hitam, dan naik kendaraan pribadi yang mulus tentunya. Hebat kali Si Sofyan? Dia sudah menjalankan bisnisnya dengan sempurna.

[14] Polisi selama ini selalu bangga dan penuh senyum kalau memberitakan kejadian-kejadian terorisme. Seharusnya mereka sedih dan merasa sangat malu, “Kok dari dulu memberantas teroris tidak selesai-selesai. Polisi ini apa saja kerjanya?” Banyak masalah tidak selesai. Makelar kasus, Susno Duajdi, Anggodo-Anggoro, Bank Century, Gayus Tambunan, Ramayana, dst.

Dan aneka argumentasi yang kerap menjadi tanda-tanya bagi para pemerhati kasus-kasus terorisme di Indonesia. Intinya, seperti sudah dibahas di artikel sebelumnya: “Syaitan itu ada dua jenis, jenis jin dan jenis manusia. Syaitan jenis manusia adalah tukang fitnah, durhaka, pendosa, sangat keji.” Mereka tidak segan-segan untuk menjual-belikan darah, nyawa, dan kehidupan manusia, demi keuntungan dunia yang sangat kecil. Na’udzubillah wa na’udzubillah min dzalik.

Hebatnya lagi, yang menjadi sasaran jebakan terorisme itu rata-rata pemuda Muslim yang baik, bermoral, aktivis Islam, rajin ke masjid, bhakti pada orangtua, cinta keluarga, hidup sederhana, bahkan fakir-miskin. Ini adalah kezhaliman luar biasa. Kezhaliman sezhalim-zhalimnya. Bagaimana Indonesia akan bisa lolos dari kehinaan, bencana alam, dan sengsara, kalau kezhaliman seperti ini terus didiamkan?

Dan lebih hebat lagi, hebat bin ajaib, mayoritas kaum Muslimin, selain para aktivis Islam dan para penggiat Syariat Islam, rata-rata membisu semua atas kezhaliman luar biasa ini! Allahu Akbar! Bagaimana kelak kalau mereka ditanya di alam kubur, ditanya di Akhirat? Dimana pembelaan mereka atas nestapa Ummat Muhammad Saw?

Ya Allah, ya Rahiim, ya Rahmaan, rahmati, rahmati, rahmati, kaum Muslimin ini. Mereka sudah melakukan perbuatan luar biasa, dengan berdiam diri atas penderitaan pemuda-pemuda Islam yang dituduh teroris dan penderitaan keluarga mereka. Masya Allah ya Rahmaan ya Rahiim, ampuni kami ya Rabbal ‘alamiin.

Allahumma inna na’udzubika minas syaithanir rajiim, wa min an yahdhurun. Allahumma inna na’udzubika wa bi Izzatika min syarri wa zhulumatis syayathin wa ahzabihim ajma’in. Allahumma dammir hum tadmira, wa qat-tha’ aidihim wa arjulihim, wa farriq quwwatahum wa makrahum, wa anzil lahum hizyun fid dunya wal akhirah, wa zalzil hayatahum zilzalan katsiran, laa yazalu dzalikal zilzala hatta yatubuna ilaikal Ghafuur. Allahumma inna nas’aluka ‘afiyatan kamilan min kulli syayathin, wa syarrihim, wa zhulumatihim, wa makrihim jami’an. Wa laa haula wa laa quwwata illa billah. Amin Allahumma amin. Wa shallallah ‘ala Rasulillah Muhammad wa ‘ala alihi wa ashabihi ajma’in.

Walhamdulillah Rabbil ‘alamiin.

AMW.


Presiden SBY, Kasihanilah Rakyat Indonesia!

Agustus 12, 2010

Yang kami hormati:

Presiden Republik Indonesia, Bapak Dr. Susilo Bambang Yudhoyono.

Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakaatuh.

Presiden SBY, semoga Bapak dalam keadaan sehat dan bugar untuk melaksanakan amanah memimpin rakyat Indonesia yang jumlahnya sekitar 230 juta jiwa ini, baik Muslim maupun non Muslim.

Melalui pernyataan ini, saya selaku salah satu anak bangsa, meminta Bapak agar melaksanakan janji-janji Anda dalam kampanye Pilpres maupun pidato-pidato politik, untuk mensejahterakan rakyat Indonesia, memakmurkan kehidupan mereka, menegakkan keadilan, memberantas korupsi, meningkatkan taraf pendidikan, memajukan pertanian, dll. Pendek kata, Bapak sudah berjanj akan mensukseskan pembangunan, membina keamanan-ketenteraman, dan keselamatan hidup masyarakat luas.

Bencana Alam Sangat Menyusahkan Rakyat Kecil!!!

Bapak SBY, kasus penangkapan Ustadz Abu Bakar Ba’asyir pada pagi hari, 9 Agustus 2010 di Banjar Patroman, adalah kesalahan besar yang dilakukan Pemerintahan Bapak. Khususnya aparat kepolisian. Kita masih ingat, ketika Bapak memerintahkan pegawai-pegawai Istana Negara untuk tidak jadi menebang sebuah pohon besar di depan Istana. Instruksi Bapak itu berguna menyelamatkan eksistensi sebuah pohon. Seharusnya Bapak juga bisa menginstruksikan bawahan Bapak untuk menyelamatkan seorang ustadz sepuh, Ustadz Abu Bakar Ba’asyir.

Tentang keabsahan penangkapan Ustadz Abu Bakar Ba’asyir ini berikut rentetan peristiwanya, bolehlah kita perdebatkan. Pihak Pemerintah, khususnya Polri meyakini bahwa Ustadz Abu Bakar Ba’asyir merupakan otak dan pendukung dana kegiatan terorisme di Aceh. Sementara kalangan ormas Islam (yang pro Syariat Islam), mereka menolak keras penangkapan itu. Apalagi semua ini dilakukan saat menjelang Ramadhan 1431 H. Bolehlah kita memiliki argumentasi masing-masing. Tetapi saya ingin mengingatkan KONSEKUENSI BERAT dari penangkapan tokoh yang istiqamah seperti Ustadz Abu Bakar Ba’asyir itu.

Dalam hadits shahih, sekaligus hadits qudsiy, Allah Ta’ala berfirman: “Man ‘aa-da liy waliyan, faqad adzantu lahu bil harbi” (siapa yang memusuhi seorang wali-Ku [maksudnya, wali Allah], maka Aku nyatakan perang terhadap-nya).” (HR. Bukhari-Muslim).

Bapak SBY yang saya hormati…

Bila Bapak menghormati sebuah pohon di depan Istana, tidak jadi memerintahkan menebangnya, karena di pohon itu diduga “ada penunggunya”. Bagaimana Bapak akan membiarkan Densus88 dan Polri menangkap Ustadz Abu Bakar Ba’asyir, bahkan dengan cara-acara berlebihan di tengah jalan? Apakah Bapak tidak khawatir, bahwa seorang Abu Bakar Ba’asyir termasuk salah satu wali Allah di negeri ini? Apakah Bapak tidak khawatir jika Allah menyatakan perang kepada Anda, kepada Polri, bahkan kepada rakyat Indonesia yang diam membisu melihat Ustadz Ba’asyir dianiya? Wahai Bapak SBY, apakah Anda tidak merasa takut membiarkan semua ini?

Saya ingin mengingatkan Anda terhadap REALITAS BESAR, sekaligus hal ini untuk mengingatkan rakyat Indonesia. Pada tahun 2003 lalu, kepolisian meringkus Ustadz Abu Bakar Ba’asyir di RS PKU Muhammadiyah Solo. Ustadz Ba’asyir dijemput paksa, didorong-dorong, dibawa pergi dengan mobil; bahkan untuk sekedar buang kecil saja, Ustadz Ba’asyir harus melakukannya di botol air mineral, karena dilarang oleh aparat polisi.

Lalu apa yang terjadi sesudah kejadian jemput paksa itu?

Tahun 2004, tepatnya 26 Desember 2004, wilayah Aceh dan sekitarnya dilamun Tsunami yang sangat dahsyat, sehingga total menewaskan manusia sekitar 150.000 jiwa. Sekitar 100.000 jiwa adalah korban di wilayah Indonesia. Tidak berselang lama setelah Tsunami, terjadi gempa hebat di Yogya. Menewaskan manusia sekitar 5000-6000 orang, dengan angka kerugian materi sangat besar. Setelah gempa Yogya, terjadi “Tsunami Jilid II” di Pangandaran Ciamis dan sekitarnya. Disini juga jatuh korban jiwa dan kerugian material sangat besar.

Tiga kejadian bencana sangat mengerikan terjadi, menurut sebagai orang, karena sikap zhalim para penguasa (Megawati dan SBY) kepada para aktivis Islam, khususnya kepada ulama sepuh Ustadz Abu Bakar Ba’asyir. Dan Allah telah berjanji akan memerangi siapa saja yang memusuhi wali-wali-Nya.

Maka Bapak SBY…

Secara pribadi saya memohon kepada Anda, agar mengasihi kehidupan rakyat Indonesia ini. Kasihanilah rakyat kecil yang memang sudah sengsara hidupnya. Kasihanilah masyarakat yang sekian lama selalu menjadi “obyek pelengkap penderita”. Mereka tidak berdaya menghadapi kesulitan hidup dan kemiskinan yang merata. Mereka tidak berdaya menghadapi fenomena kejahatan, penipuan, kekerasan, korupsi, dll. Apalagi jika kemudian hidup mereka akan ditambah-tambah dengan benacana-bencana alam mengerikan?

Kasihanilah rakyat Indonesa, Pak SBY. Anda adalah pemimpin nasional RI. Takdir Anda memimpin rakyat Indonesia, termasuk memimpin urusan kami. Kesempatan berkuasa di tangan Anda hendaklah digunakan untuk menegakkan keadilan di tengah masyarakat, membangun kesejahteraan masyarakat, membangun martabat bangsa, menyingkirkan kejahatan, mafia hukum, dan sebagainya. Jangan gunakan kekuasaan di tangan Anda untuk memuaskan ambisi diri sendiri dan kelompok; untuk membiarkan kesengsaraan dan nestapa merajalela; untuk mempersilakan orang-orang kuat menganiaya orang-orang lemah; untuk mengundang datangnya bencana demi bencana.

Bapak SBY, kami mengingatkan Anda agar mengasihi rakyat kecil, rakyat Indonesia. Perlu Anda ketahui, sekejam-kejamnya seorang Imam Samudra dengan tindakannya yang diklaim aparat hukum sebagai terorisme itu; dalam hatinya dia memiliki niat mulia. Imam Samudra hidup di tengah rakyat yang menderita hidupnya, sengsara nasibnya. Imam ingin memperbaiki kehidupan ini dengan memperjuangkan Syariat Islam. Meskipun kemudian almarhum Imam Samudra dkk. melakukan aksi kekerasan yang seharusnya tidak dilakukan. Dan alhamdulillah, sebelum wafatnya, mereka sudah meminta maaf atas kesalahan-kesalahannya.

Sekejam-kejamnya aksi terorisme yang dilakukan Imam Samudra, hal itu dilakukan karena kuatnya semangat dia untuk memperbaiki kehidupan rakyat Indonesia yang centang-perenang. Niatnya mulia, meskipun caranya melanggar hukum nasional. Jadi, teringat legenda Robin Hood yang dikenal di masyarakat Britania. Imam Samudra tidak jauh dari legenda Robin Hood itu. Hatinya mulia, sangat peduli dengan nasib rakyat, tetapi caranya keras.

Pak SBY, cukuplah karakter Saudara Imam Samudra ini menjadi NASEHAT BESAR bagi Anda dan jajaran aparat Polri. Di balik hati manusia yang amat sangat dimusuhi negara dan Polri itu sebenarnya ada niat mulia membela kehidupan rakyat Indonesia dari sengsara dan nestapa. Maka sudah sepantasnya, Anda wahai Pak SBY, memiliki hati yang lebih baik dari Imam Samudra. Buktikan bahwa Anda lebih baik dari musuh Anda, Imam Samudra dkk!

Caranya, Anda buktikan sifat pengasih Anda kepada rakyat Indonesia ini! Lepaskan Ustadz Abu Bakar Ba’asyir, dan secara gentle mintalah maaf kepadanya! Juga mintalah maaf kepada kalangan pemuda-pemuda Islam yang selama ini teraniaya dengan isu terorisme. Dengan cara demikian, berarti Anda telah menghindarkan kehidupan rakyat Indonesia dari ancaman bencana-bencana alam.

Jika nasehat ini Anda anggap sepi, lalu kezhaliman itu terus berlangsung, sembari mayoritas rakyat Indonesia tidak peduli atas kezhaliman ini, saya menasehati bangsa ini agar menyiapkan kesabaran, kesabaran, kesabaran, kesabaran, dan kesabaran yang panjang. Ada hari-hari sulit yang akan kita hadapi setelah ini.

Demikian nasehat yang bisa saya sampaikan. Mohon maaf bila ada kata dan kalimat yang tak berkenan di hati Anda. Terimakasih atas semua perhatian dan pengertian Bapak! Alhamdulillah Rabbil ‘alamiin.

Wassaalamu’alaikum warahmatullah wabarakaatuh.

Bandung, 2 Ramadhan 1431 H/12 Agustus 2010.

Abu Muhammad Waskito ibn Boeang.