“Tunggu Dulu, Pak Kapolri!”

Mei 18, 2010

Sejak Polri lepas dari TNI di era Abdurrahman Wahid, hubungan Polri dengan Ummat Islam jauh dari harmonis. Sejak era Dai Bahtiar, apalagi era Bamband Hendarso saat ini, hubungan Polri-Ummat Islam kerap diwarnai ketegangan. Saat Polri baru lepas dari TNI, belum menemukan bentuk kelembagaan yang mapan, mereka sudah keburu menelan mentah-mentah propaganda war on terrorism yang dilancarkan Amerika.

Masalah paling sulit dalam hubungan Polri-Ummat ini ialah soal KEBOHONGAN publik yang sering ditunjukkan oleh pejabat-pejabat Polri, lalu diamini begitu saja oleh jaringan media-media massa di Tanah Air. Contoh mudah, dari kasus Bom Bali I. Waktu itu Imam Samudra Cs merancang sebuah bom mobil, tetapi yang meledak 2 bom. Bahkan yang korbannya paling besar ialah bom kedua yang tidak dibuat Imam Samudra Cs yang meledak di Sari Club. Namun tetap saja, pemuda-pemuda Islam itu harus menanggung dosa yang tidak mereka lakukan. Meskipun tentu aksi mereka meledakkan bom di Paddy’s Club tetap merupakan kesalahan.

Sampai saat ini tidak ada satu pun yang bisa menjelaskan masalah Bom Bali I itu, mengapa Imam Samudra Cs membuat 1 bom, tetapi yang meledak bisa 2 bom? Bahkan yang korbannya sampai ratusan adalah pada bom kedua yang tidak dibuat oleh Imam Cs? Dan mengapa pula masyarakat seolah membiarkan Polri dan media-media massa mengadili pemuda-pemuda Islam itu di luar seluruh kesalahan mereka?

Seni kebohongan lagi-lagi ditunjukkan oleh pejabat Polri, Bambang Hendarso Danuri dalam konferensi pers 14 Mei 2010 lalu di Mabes Polri, pasca penembakan beberapa orang tertuduh teroris dan penangkapan puluhan lainnya. Berita ini luas ditayangkan media-media TV, juga diliput media-media cetak. Saya membaca versi berita dari Pikiran Rakyat, 15 Mei 2010, dengan judul, “2 Lulusan STPDN Dibekuk“.

Siswa "Be A Man" Lagi Persiapan Latihan "Terorisme"

Dalam berita itu Bambang Hendarso banyak mengklaim fakta-fakta yang patut diuji kembali kebenarannya. Hanya sayang, media-media massa sudah terlanjur memakan mentah-mentah konferensi pers Kapolri itu. Dan hal demikian sudah lama terjadi. Ada SIMBIOSIS MUTUALISME antara Polri dan media-media massa. (Bahkan kasus Susno Duadji, sebenarnya juga merupakan “obyek mutualisme” tersebut).

Dalam pernyataannya Bambang Hendarso menjelaskan tentang posisi Mustakim, salah satu tertuduh yang ditangkap polisi. “Dia (mustakim) alumnus terbaik di Mindanao, yang kemudian menjadi pimpinan latihan di Aceh,” kata Kapolri.

Pertanyaannya: Apa kamp latihan di Mindanao itu seperti akademi militer? Apa disana diajarkan kuliah, test, ada IPK, kelulusan, dan lain-lain sehingga jebolan kamp itu bisa disebut alumni? Lebih parah lagi, dari mana Polri bisa tahu kalau Mustakim alumnus terbaik? Apakah utusan Polri pernah bertemu dekan fakultas terorisme disana, lalu menanyakan “IPK” terakhir Mustakim?

Kapolri juga mengatakan, kelompok itu sudah menyiapkan sejumlah rencana serangan terhadap sejumlah pejabat penting di Pulau Jawa, terutama di Jakarta.

Pernyataan ini jelas bertolak belakang dengan opini yang dibangun oleh Polri selama ini. Mereka selama ini menyebut kelompok anak-anak muda itu sebagai Tanzhim Al Qa’idah Aceh Darussalam. Dalam berbagai kesempatan, baik pejabat Densus maupun Polri menjelaskan, bahwa kelompok ini sengaja memilih Aceh, karena Aceh memiliki reputasi konflik RI-GAM di masa lalu. Lalu, bagaimana dengan klaim, anak-anak muda itu mau menyerang pejabat di Jakarta, sedangkan mereka latihan di Aceh? Jauh-jauh amat latihan di Aceh, sementara targetnya di Jakarta? Mengapa tidak sekalian saja mereka latihan di Papua, sambil jalan-jalan rekreasi?

Kapolri mengatakan, “Pada tanggal 17 Agustus 2010 mereka akan melakukan penyerangan dan pembunuhan para pejabat yang melakukan upacara 17 Agustus, termasuk tamu negara asing.”

Apa yang dikatakan Kapolri ini sangat aneh. Kasus di Aceh terjadi pada Februari lalu, kasus penembakan di Cikampek, Cawang, penangkapan di Solo bulan Mei. Sementara 17 Agustus masih sekitar 3 bulan lagi dari kejadian Cikampek-Cawang. Dan lebih lama lagi kalau dikaitkan dengan latihan militer di Aceh. Bahkan katanya, menurut info kepolisian, latihan itu sudah diendus sejak akhir 2009. Masih lama dari momen 17 Agustus.

Okelah, katakanlah mereka hendak melakukan serangan pada 17 Agustus nanti. Tapi masalahnya, mengapa mereka melakukan latihan militer jauh-jauh amat di Aceh? Mengapa mereka menyebut diri Tanzhim Al Qa’idah Aceh Darussalam? Ada yang tidak nyambung antara fakta latihan di Aceh dan tuduhan melakukan serangan saat 17 Agustus 2010 nanti. Logikanya, kalau mau menyerang di Jakarta, anak-anak muda itu bisa saja membuat latihan di Banten atau Lampung yang dekat Jakarta. Secara nalar orang biasa, membuat latihan yang jauh dengan target yang dibidik, itu akan menyulitkan mereka sendiri. Harus boyong-boyong peralatan dalam jarak jauh.

Lebih heboh lagi ialah klaim Kapolri berikut ini: “Mereka memastikan, dengan aksi ini seluruh pejabat akan terbunuh dan akan mempercepat proses pergantian kekuasaan dan menyatakan negara Islam Indonesia telah berdiri.”

Ini adalah kebohongan besar yang sulit untuk diterima akal sehat, dan wawasan orang-orang terpelajar. Bagaimana mungkin dengan membunuh para pejabat, lalu bisa berdiri negara Islam Indonesia? Apakah tampuk kekuasaan itu ada di tangan para pejabat tersebut? Lalu bagaimana dengan rakyat, bagaimana dengan mahasiswa, bagaimana dengan daerah-daerah, bagaimana dengan TNI, partai politik, dll.? Apakah mereka akan diam saja ada serombongan anak-anak muda tiba-tiba mengklaim berdirinya negara Islam di Indonesia?

Benar-benar kedustaan yang sulit dipahami. Kapolri membuat-buat pernyataan sesuai asumsi Polri atas masalah itu, bukan atas realitas sebenarnya. Sebodoh-bodohnya anak muda itu, mereka tidak akan mungkin mendirikan negara dengan cara menyerang pejabat-pejabat tersebut. Kekuatan mereka seberapa sehingga berani ingin mendirikan negara Islam di Indonesia? Mereka hanya puluhan orang, atau kurang dari 150-an orang, dengan peralatan militer seadanya. Tidak mungkin mereka akan melakukan aksi seperti yang dituduhkan Kapolri itu.

Seni kebohongan semacam inilah yang sekian lama berkembang di Indonesia. Dan sayangnya, media-media massa suka menelan mentah-mentah pernyataan seperti itu. Dengan sikap selalu memfitnah dan menyebarkan fitnah seperti ini, sulit berharap akan tumbuh kedamaian di masa nanti. Sebab bara sakit hati selalu bersemi di hati orang-orang yang difitnah itu.

Sebuah pertanyaan kritis: “Mengapa Polri ingin mengaitkan kasus di Aceh dengan pembunuhan para pejabat saat upacara bendera 17 Agustus 2010 nanti?

Sebab kenyataan yang ada di hadapan kita, anak-anak muda yang dituduh sebagai teroris itu, mereka tidak melakukan peledakan-peledakan bom seperti kelompok Nurdin Cs di masa lalu? Mereka menggelar latihan militer di hutan yang tidak menimbulkan korban dari kelompok sipil. Coba pikirkan, apakah ada rakyat sipil yang mati akibat serangan mereka? Sama sekali tidak ada. Itu artinya, kasus Aceh tersebut SULIT DIANGKAT menjadi isu terorisme. Maka biar bisa NGANGKAT, dipakailah isu pembunuhan pejabat saat 17 Agustus 2010. Hanya dengan isu semacam itu, dijamin rakyat Indonesia -yang sehari-hari intens dibodoh-bodohi media massa- akan mudah diyakinkan bahwa anak-anak itu sangat berbahaya dan mereka teroris. Padahal kasusnya sangat beda dengan isu terorisme Nurdin Cs.

Kalaupun anak-anak muda itu bersalah, harusnya bukan dengan delik terorisme. Tetapi dengan delik MENYIMPAN SENJATA API ILEGAL dan MENYERANG APARAT POLISI. Artinya, perbuatan mereka murni adalah perbuatan kriminal. Tidak usah dikaitkan dengan terorisme, sebab memang mereka tidak melakukan serangan-serangan teror seperti yang dilakukan Nurdin Cs. Hanya dua delik itu kesalahan mereka.

Adapun soal LATIHAN MILITER, ini bukan menjadi delik kriminal. Siapapun boleh melakukan latihan militer, selama tidak memakai senjata api ilegal. Coba saja Anda lihat, di TV ada acara “Be A Man“. Disana juga ada latihan-latihan ala militer. Itu legal, tidak salah, selama tidak memakai senjata api sungguhan. Begitu juga di masyarakat banyak arena latihan painball, disana ada latihan tembak-tembakan mirip situasi militer sungguhan. Dari sisi latihan militer, anak-anak muda itu tak boleh disalahkan. Hanya kesalahan mereka memakai senjata api sungguhan, dan katanya melakukan penyerangan kepada aparat di Aceh.

Sedangkan tentang ideologi Negara Islam. Ini kan pilihan setiap orang. Indonesia negara demokrasi, menghargai pilihan ideologi rakyatnya. Tidak ada masalah, orang memiliki ideologi negara apapun di hatinya, selama mereka tidak menyerang orang lain dan melakukan tindakan melawan hukum. Iya kan. Sebuah contoh mudah, Hizbut Tahrir Indonesia. Mereka sangat kencang menyerukan penegakan Daulah Islamiyyah. Tetapi mereka memakai jalur dakwah dan politik, bukan militer.

Soal ideologi negara Islam dijamin sepenuhnya di sebuah negara demokrasi. Asal cara-cara mewujudkan ideologi itu tidak dilakukan dengan cara-cara kekerasan. Kalau ada yang membela ideologi negara sekuler, negara kapitalis, negara nasionalis, ya harus legowo jika ada yang menginginkan selain itu.

Jadi anak-anak muda itu seharusnya diproses secara hukum murni. Mereka jangan dikait-kaitkan dengan isu terorisme, sebab mereka memang tidak melakukan tindakan-tindakan terorisme seperti yang selama ini dilakukan kelompok Nurdin Top dan kawan-kawan. Tidak ada rakyat sipil yang menjadi korban aksi mereka.

Kalau dipersalahkan di pengadilan, ya salahkan karena mereka membawa senjata api ilegal dan menyerang aparat sehingga ada yang terbunuh di Aceh. Itu pun harus diselidiki dulu siapa pelaku yang melakukan penyerangan. Selama masih ada kesewenang-wenangan dalam penegakan hukum, jangan berharap akan ada keamanan dan ketertiban di tengah masyarakat Indonesia.

Pesan terakhir untuk Kapolri dan bawahannya: “Anda semua adalah para penegak hukum. Maka tegakkanlah hukum dengan cara hukum, bukan dengan melanggar hukum!

AMW.

Iklan

Hati-hati Soal Penanganan Terorisme

Mei 13, 2010

Entahlah, dengan apa lagi kita hendak berkomentar? Sudah terlalu banyak kecaman, kritikan, keprihatinan, sekaligus kecewa dialamatkan kepada Densus 88 atas semua operasi-operasi yang mereka sebut sebagai “pemberantasan terorisme”. Tetapi Densus 88, yang sebagian besar personelnya direkrut dari Brimob Polri itu, seperti korp yang tidak memiliki mata dan telinga. Semua kritikan seolah mereka buang begitu saja ke tong sampah. Sangat menyedihkan!

Belum lama lalu KH. Abu Bakar Ba’asyir dalam khutbahnya di Bekasi, beliau mendoakan agar Densus 88 dilaknat oleh Allah karena penangkapan beberapa orang anggota Jamaah Anshorut Tauhiid (JAT). Tetapi hari kemarin (12 Mei 2010) Densus menggerebek dua lokasi di Cikampek dan Cawang Jakarta Timur. Hasilnya, 5 orang pemuda Islam tewas diterjang peluru-peluru Densus 88. Hari ini, 13 Mei 2010, Densus melakukan lagi penggerebekan di Baki, Sukoharjo Solo. Hasilnya, dua orang pemuda Islam diringkus.

Kalau dikaitkan dengan seluruh operasi Densus 88 sejak era Bom Bali 12 Oktober 2002 lalu, sudah ada puluhan pemuda Islam tewas di tangan Densus, dan ratusan lagi ditangkap, lalu dijebloskan ke penjara. Belum lagi nasib keluarga-keluarga dari pemuda-pemuda yang dituduh teroris itu. Mereka hidup terlunta-lunta kehilangan suami, ayah, kakak-adik, anak, dan lainnya. Hal seperti ini akan menjadi “bom waktu” yang membahayakan kehidupan bangsa Indonesia ke depan.

Dari forum diskusi di internet tersebar data, bahwa sejak Barack Obama menjadi Presiden AS, mereka tidak lagi mendukung operasi anti teroris di Indonesia, secara politik maupun finansial. Justru dukungan itu muncul dari Australia yang berkepentingan untuk merawat “isu pemberantasan teroris” ini. Tidak mengherankan jika SBY mengumumkan kematian Dulmatin, justru di hadapan PM dan anggota Parlemen Australia. Jadi kasus ini semacam “over kontrak” dari Amerika ke Australia.

Sangat tepat sebuah kalimat yang dikatakan terkait dengan agenda “pemberantasan teroris” ini. Dengan munculnya kasus-kasus teroris ini: “Pihak tertuduh teroris mendapat promosi gratis, pihak media dapat berita, dan polisi dapat dana.” Jadi seperti lingkaran setan. Baik media maupun polisi merasa diuntungkan dengan munculnya isu-isu terorisme ini. Dan sayangnya, masih banyak orang yang “mencari makan” dengan jalan jualan isu setan. (Kalau di TV, ini serupa acara “alam ghaib” begitulah. Hanya berbeda kontennya).

Apa yang dilakukan oleh Densus 88 selama ini mencerminkan sikap-sikap yang sangat zhalim. Beberapa alasan yang bisa dikemukakan:

(=) Densus selalu melakukan tindakan penggerebekan. Artinya, menangkap sasaran dengan jalan kekerasan, tanpa prosedur sebagaimana lazimnya operasi kepolisian. Dari penggerebekan ini mereka kerap melakukan hal-hal zhalim antara lain: menangkap orang dengan asumsi sendiri, membunuh sasaran di tempat, menyita barang-barang milik sasaran tanpa ampun, bahkan menyegel lokasi sasaran.

(=) Densus tidak mengenal istilah second opinion (opini pembanding). Mereka hanya menggunakan asumsi-asumsi intelijen sesuai pandangan mereka sendiri. Bahkan second opinion ini seperti barang HARAM dalam kasus terorisme. Sehingga sangat berpeluang melahirkan praktik hukum rimba. Siapa yang pegang senjata, dia berkuasa.

(=) Jarang sekali dilakukan upaya-upaya hukum, persuasi, dialog, terhadap sasaran-sasaran yang dibidik Densus 88. Seolah, pemuda-pemuda suspect teroris itu, mereka bukan warga negara Indonesia yang berhak mendapat perlakuan hukum yang sama.

(=) Perlakuan yang sungguh berbeda diperlihatkan oleh Polri (khususnya Densus 88) terhadap gerakan OPM di Papua dan RMS di Ambon-Maluku. Gerakan politik mereka, bahkan gerakan militer, tidak ada bedanya dengan pemuda-pemuda yang dituduh teroris itu. Bukan sekali dua kali OPM di Papua melakukan serangan dengan memakai senjata-senjata organik. Tetapi lihatlah, apakah Polri sangat bernafsu menyebut OPM dan para pengikutnya sebagai gerakan teroris. (Sebuah tulisan bagus ditulis Amran Nasution di situs hidayatullah.com, Suara dari Alam Kubur. Di bagian-bagian akhir ulisan itu dijelaskan, bahwa definisi teroris hanya berlaku bagi pemuda-pemuda Islam saja).

Benar yang dikatakan oleh Susno Duadji dalam wawancara dengan Suara Islam, institusi kepolisian bisa menjadi lembaga “super body” yang sewenang-wenang. Mereka adalah aparat dengan jumlah personil sekitar 320 ribu, dipersenjatai, berhadapan langsung dengan masyarakat sipil. Sementara, TNI pasca Reformasi seperti “macan ompong” yang tidak memiliki pengaruh politik apapun.

Operasi-operasi Densus 88 yang pekat berisi kezhaliman sangat membahayakan masa depan bangsa ini. Operasi seperti itu akan menyuburkan benih-benih INSTABILITAS yang sangat luas di tengah-tengah masyarakat. Bukan hanya kalangan pemuda-pemuda yang dituduh teroris dan keluarga mereka, tetapi juga gerakan-gerakan anti kemapanan lain yang sejak lama menginginkan kehancuran Indonesia. Mereka akan merasa mendapat dukungan tidak langsung, merasa senasib sepenanggungan, merasa menghadapi musuh yang sama, yaitu aparat kepolisian. Siapapun yang pernah disakiti atau dirugikan oleh kepolisian lambat-laun akan merasa di pihak suspect teroris.

Kalau pemuda-pemuda Islam itu berani berhadapan face to face dengan aparat kepolisian, hal ini akan memantik semangat kalangan anti aparat untuk berani juga seperti mereka. Lama-lama Indonesia ini akan penuh dengan konflik antara sipil-kepolisian, lalu hal itu menjadi “kebudayaan nasional”.

Dan kelak masyarakat umum akan merasa terbiasa dengan suasana militer. Mereka terbiasa mendengar istilah revolver, FN, M16, AK47, rompi anti peluru, dsb. Jika sudah terbiasa, mereka akan mencoba. Dan selanjutnya, Densus 88 akan menjadi “pahlawan besar” bagi kehancuran NKRI ini.

Kalau mau jujur, yang membedakan antara Densus 88 dengan para pemuda yang dituduh teroris tu, hanya satu saja: akses senjata! Hanya itu saja. Artinya, penghalang bagi pemuda-pemuda itu untuk melakukan perlawanan yang seimbang terhadap Densus 88 hanya tinggal masalah senjata. Ini adalah situasi yang SANGAT mengkhawatirkan. Kalau nanti mereka telah mendapat akses senjata, tidak terbayangkan bagaimana situasi kehidupan Indonesia nanti? Beda aparat Densus dengan pemuda-pemuda itu tipis sekali. Mereka sama-sama terlatih dalam suasana kombatan, hanya soal fasilitas yang berbeda.

Inilah situasi yang sebenarnya sejak lama diingatkan oleh tokoh-tokoh Islam. Sejak Bom Bali I dulu, aparat diminta bersikap jujur, adil, dan tidak semena-mena. Tetapi sampai detik ini, kita sudah sama-sama tahu kondisinya. Ya, tanpa disadari bangsa kita telah melahirkan kekuatan anti aparat yang terus berkembang dari waktu ke waktu. Kalau dulu, para tertuduh teroris sering memakai bom, maka kini mereka sudah bicara tentang senjata organik dan latihan-latihan militer.

Lalu apa yang menakutkan di balik semua ini? Ya, nanti Indonesia bisa bernasib seperti Pakistan. Pakistan hari ini adalah negara yang telah DISANDERA oleh gerakan-gerakan milisi anti Pemerintah. Gerakan Thaliban telah menyebar ke seluruh penjuru Pakistan, mereka face to face dengan militer Pakistan. Aksi-aksi kekerasan berlangsung hampir setiap saat. Mungkin, situasi seperti itulah yang ingin diciptakan oleh Polri dan Densus 88.

Jangan pernah bermimpi Densus 88 atau Polri akan sanggup memberantas gerakan anti Pemerintah (terorisme) sampai ke akar-akarnya. Ini hanya lamunan kosong, seperti mimpi di siang hari. Dalam sejarah gerakan-gerakan kekerasan dimanapun, hatta di Inggris, Spanyol, Srilangka, India, Pakistan, bahkan di Amerika; tindakan-tindakan repressif tidak banyak berguna mengatasi gejolak dan kekerasan. Semakin banyak operasi militer digelar oleh Polri, semakin subur benih-benih kekerasan itu tumbuh.

Bangsa Amerika setelah 10 tahunan berada dalam komando war on terrorism, di bawah kendali George Bush, mereka kini berada dalam krisis multi dimensi yang sangat menyakitkan. Barack Obama seperti harus membersihkan banyak sampah yang ditinggalkan oleh Bush. Itulah hasil dari perang melawan teroris yang digelar dengan penuh kecurangan, dusta, dan kesewenang-wenangan. Tampaknya, Indonesia ingin meng-copy pengalaman yang sama. Bila operasi Densus 88 selama ini mendapat sokongan dana asing, maka kelak kita akan membiayai “pemberantasan teroris” dari APBN atau APBD. Ketika itu, antara konflik dan kemiskinan, akan menjadi wajah sehari-hari Indonesia.

Akhirnya, saya menyarankan kepada media-media massa, khususnya TVOne dan MetroTV, agar mereka berhenti “mencari makan” dengan menjual isu-isu terorisme itu. Kelak dampaknya akan kita jumpai, ketika Indonesia menjadi negara yang sangat INSTABIL karena terus direcoki konflik massif antara sipil dan aparat.

Fa’tabiruu ya ulil albaab! Ambillah pelajaran, wahai orang-orang berakal!

AMW.


Isu Terorisme dan Para “Selebritis”

Maret 12, 2010

“Di setiap musim selalu ada ahlinya.”

Itulah ungkapan yang paling tepat untuk diucapkan. Di Indonesia ini, pada waktu-waktu tertentu ada MUSIM TERORISME. Ini nyata dan benar-benar faktual, sebab hampir setiap tahun sejak 2002, selalu ada MUSIM TERORISME. Saat musim ini tiba, seluruh pikiran masyarakat seperti “dicuci otak” untuk mengikuti berita, opini, peredabatan seputar terorisme. Dan ketika musim ini tiba, muncul pula “pendekar-pendekar” yang merasa paling ahli bicara tentang terorisme, jihad fi sabilillah, ajaran Islam, hak-hak non Muslim, dan sebagainya. Para “selebritis terorisme” ini muncul dengan segala kepakaran, kegagahan, dan penampilannya di layar-layar TV.

Celakanya, yang selalu menjadi “selebritis” itu orangnya ya itu itu saja. Dari sejak dulu sampai sekarang, tidak akan keluar dari nama-nama seperti: Al Chaidar, Umar Abduh, Wawan Prayitno, Abdurrahman Assegaf (namanya “Assegaf” tetapi tidak tampak seperti keturunan Arab), Nur Huda, dan lain-lain. Tentu raja dari segala “selebritis terorisme” ini adalah: NASIR ABBAS!

Coba kita bertanya kepada kaum Muslimin di Indonesia dengan pertanyaan berikut: “Orang-orang itu sebenarnya selama ini berpendapat mewakili kepentingan siapa? Apakah mereka wakil dari MUI, atau wakil dari ormas Islam, wakil dari MMI, wakil dari JI, atau wakil siapa?” Sama sekali, pendapat, ucapan, opini orang-orang itu tidak mewakili pandangan kaum Muslimin di negeri ini. Jika demikian, mengapa mereka selalu menjadi “selebritis” ketika muncul musim terorisme? Apa kapasitas mereka bicara tentang terorisme? Kalau Ansyad Mbay bisa dimaklumi, sebab dia ketua Desk Anti Teror. Atau Hendropriyono, sebagai mantan Ketua BIN. Sedangkan orang-orang di atas, sangat tidak jelas mewakili Ummat Islam yang mana?

Contoh menarik, pandangan Abdurrahman Assegaf (namanya “Assegaf” tetapi wajah seperti orang Muslim lokal). Dia mengklaim bahwa para pelaku terorisme itu memiliki ideologi ekstrim, bahkan disebut menganut aliran sesat. Kemudian dia menegaskan bahwa, “Islam itu rahmatan lil ‘alamiin.”

Persoalannya, banyak orang mengklaim Islam sebagai agama “Rahmatan Lil ‘Alamiin”, lalu menafsirkannya sebagai agama yang hanya berisi etika sopan satun, sikap ramah, menyayangi sesama, toleransi terhadap perbedaan, tidak memaksakan kehendak, patuh pada kebijakan politik, pasrah dengan sistem ekonomi yang berlaku, dan sebagainya. Orang-orang ini tidak mau mengembalikan tafsir Rahmatan Lil ‘Alamiin itu kepada sikap beragama Nabi Saw dan para Shahabat Ra. Padahal tentu yang paling mengerti tafsiran dan aplikasi Rahmatan Lil ‘Alamiin itu adalah Nabi dan para Shahabat. Sedangkan, di jaman Nabi beliau berjihad menegakkan sistem Islam secara konsisten, berkesinambungan, dan komprehensif. Ya, buktinya adalah negara Islam Madinah Al Munawwarah itu sendiri. Itulah negara Islam pertama yang didirikan kaum Muslimin yang terus dilestarikan selama ribuan tahun.

Jadi konsep Rahmatan Lil ‘Alamiin versi Nabi Saw sangat berbeda dengan konsep Rahmatan Lil ‘Alamiin yang dicetuskan oleh Abdurrahman Assegaf Cs. Di mata Abdurrahman ini, yang namanya ajaran Islam hanya berisi akhlak baik kepada orangtua, akhlak baik kepada guru, menyayangi teman, rajin belajar, rajin olah-raga, makan makanan bergizi, membuang sampah pada tempatnya, memakai helm di jalan raya, dan semacamnya. Ya, itulah tafsiran Rahmatan Lil ‘Alamiin yang mereka ingin paksakan agar diterima oleh Ummat Islam.

Berjihad Melawan Panser Yahudi dengan Batu.

FITNAH TERHADAP JIHAD

Terus terang ada rasa muak ketika mendengar opini-opini busuk yang dikembangkan oleh media-media massa. Dalam berita di Trans7 berkali-kali saya mendengar, mereka menyebut istilah “jaringan terorisme”, “sekolah teror dunia”, para teroris, dan sebagainya. Semua istilah itu ditujukan kepada amal-amal Jihad kaum Muslimin di seluruh dunia, termasuk di Afghanistan, Mindanao, Irak, dan sebagainya. Afghanistan disebut sebagai “sekolah teror dunia”. Laa haula wa laa quwwata illa billah. [Bila tuduhan Trans7 itu salah, semoga orang-orang yang melontarkan tuduhan keji itu dikutuk oleh Allah, dirusak kehormatannya, dibangkrutkan bisnisnya, dipecah-belahkan keluarganya, disesatkan hidupnya, sampai mati binasa. Amin Allahumma amin].

Harus dipahami perkara ini…

Jihad dalam Islam itu ada dua, Jihad Ofensif dan Jihad Defensif. Jihad ofensif dilakukan oleh negara-negara Islam dalam rangka memukul mundur musuh-musuhnya, mengusir para agressor, serta menaklukkan negara-negara jahiliyyah. Syaratnya, harus memiliki negara Islam yang berdaulat dan dipimpin seorang imam. Adapun jihad defensif, bisa dilakukan Ummat Islam dimanapun dan kapanpun, dalam rangka membela diri, menolak agressi musuh, menolak penjajahan, menolak kezhaliman orang kafir, dsb. Jihad yang terjadi di Palestina, Irak, Afghanistan, Kashmir, Chechnya, Mindanao, Bosnia, dll. semua itu adalah jihad defensif untuk mempertahankan diri.

Kedua jenis Jihad di atas adalah Syar’i, berdasarkan dalil-dalil Syariat Islam. Tidak satu pun ulama Ahlus Sunnah menolak konsep jihad seperti itu, sejak dulu sampai saat ini. Nabi Saw dalam peperangan Badar, Uhud, dan Ahzab, bersifat Jihad Defensif. Tetapi dalam perang Hunain, perang Khaibar, perang Tabuk, Fathu Makkah, dan lainnya bersifat Jihad Ofensif.  Kedua jenis jihad tersebut dilakukan oleh Nabi dan para Shahabat.

AKSI BOM MANUSIA

Adapun soal aksi-aksi pengeboman target sipil di daerah aman seperti Indonesia, dengan sasaran warga sipil, dengan tidak membedakan agama mereka, seperti dalam kasus Bom Bali I, Bom Bali II, bom JW Marriot, bom Kuningan, bom JW Marriot-Ritz Carlton, dengan menggunakan bom manusia atau bom mobil; semua ini adalah perkara baru dalam konteks Jihad Fi Sabilillah. Baru populer sejak tahun 80-an di dunia Islam. Khususnya sejak Usamah bin Ladin menyerukan jihad global melawan Amerika tahun 1996.

Jihad sebelum tahun 80-an tidak pernah menggunakan bom manusia atau bom mobil. Teknik bom manusia dimulai oleh seorang wanita Tamil, ketika meledakkan dirinya untuk membunuh PM India, Rajiv Ghandi. Teknik bom mobil banyak digunakan oleh Mafia, kelompok Abu Nidal dan Hizbullah di Libanon, IRA di Irlandia, Basque di Spanyol, dan sebagainya. Kedua cara ini benar-benar bukan berasal dari khazanah perjuangan para Mujahidin Islam. Jihad Fi Sabilillah yang dilakukan para Mujahidin Islam sejak lama menggunakan cara-cara kontak militer biasa.

Hanya ketika Hamas memulai menerapkan teknik bom manusia, yang kemudian disebut sebagai bom istisyhad, dan juga menerapkan teknik bom mobil, ia segera diadopsi oleh gerakan-gerakan Jihad kaum Muslimin, khususnya oleh kelompok Al Qa’idah dan Usamah bin Ladin. Padahal dalam perang di Saudi, jihad Syaikh Hasan Al Banna menyerang Israel, jihad Panglima Soedirman di Indonesia, jihad Syaikh Umar Mukhtar As Sanusi di Libya, dan lain-lain semuanya tidak memakai bom manusia atau bom mobil.

Entahlah, mengapa kemudian teknik “bom manusia” dan “bom mobil”, dengan target sasaran-sasaran sipil tak bersenjata menjadi TREND di kalangan gerakan-gerakan perlawanan Islam? Ini sangat mengherankan dan aneh. Satu sisi, “bom manusia” dan “bom mobil” itu metode yang dimulai oleh orang kafir; di sisi lain, para pendahulu Mujahidin Islam di masa sebelumnya tidak mengenal cara-cara seperti itu.

Dan celakanya, cara “bom manusia” yang diadopsi dari cara perjuangan gerakan Macan Tamil Srilangka itu, kemudian didalili dengan seabreg-abreg dalil. Intinya, dalam jihad, seorang Muslim boleh membinasakan dirinya, dalam rangka menimpakan kerugian besar kepada musuh. Tetapi membinasakan diri dengan cara menempelkan bom dalam tubuh seorang pejuang Islam, adalah sangat berbeda. Tubuh itu bisa hancur berkeping-keping, seperti daging tanpa arti sama sekali. Padahal Allah Ta’ala sudah mengatakan, “Wa laqad karamna Bani Adama” (dan sungguh telah Kami muliakan anak-keturunan Adam. Al Isra’: 70).

Dalam hati saya meyakini, cara-cara Jihad yang mengadopsi cara orang Tamil Srilangka inilah yang telah membuat ruwet amal-amal Jihad Fi Sabilillah di dunia Islam. Para mujahidin itu dilarang menyerang target sipil, dilarang menyerang rumah ibadah, dilarang menyerang ternak-ternak, menyerang lahan pertanian, bahkan mengejar musuh yang melarikan diri saja tidak perlu. Jihad Fi Sabilillah aslinya sangat luhur, sangat mulia. Tetapi setelah muncul aneka rupa BID’AH yang mencontoh cara wanita Tamil saat menyerang Rajiv Ghandi itu, kehidupan Jihad di Dunia Islam mulai morat-marit. Makanya Allah Ta’ala sudah berpesan, “Wa jahidu fillahi haqqa jihadih” (dan berjihadlah kalian di jalan Allah dengan jihad yang benar).

Mudah-mudahan ke depan tidak akan ada lagi aksi bom manusia atau bom mobil yang dikendarai manusia itu. Ini adalah cara-cara salah dalam jihad. Memang benar bahwa kita boleh meniru teknik berperang orang kafir, seperti Nabi Saw meniru teknik perang parit bangsa Persia. Tetapi lihatlah bedanya disana dengan teknik “bom manusia” yang meniru cara wanita Tamil itu! Dalam perang parit di masa Nabi, tidak aksi yang merendahkan martabat dan nilai kehidupan seorang Muslim. Tidak ada sama sekali. Sedangkan “bom manusia” itu justru jelas-jelas telah menghancurkan tubuh seorang Muslim, seperti daging cincang yang biasa dipakai membuat baso itu.

Kalau seorang Muslim dalam jihad kejatuhan bom milik musuh, sehingga tubuhnya hancur lebur akibat ledakan bom itu, tidak masalah. Itu resiko perjuangan. Toh, bukan dia penyebabnya. Tetapi kalau menempelkan rompi bom dalam tubuh lalu meledakkan diri sendiri, atau diledakkan dari jauh, ini benar-benar cara SESAT yang harus ditinggalkan. Kaum Muslimin jangan lagi memakai cara-cara seperti itu sebab sangat merendahkan martabat seorang Muslim. Allah telah memuliakan kita dengan firman-Nya, “Wa laa tahinu wa laa tahzanu, wa antumul a’launa in kuntum mu’minin” (janganlah merasa hina dan merasa sedih, kalian adalah yang tertinggi derajatnya, kalau kalian benar-benar beriman). Apa artinya ayat ini diturunkan dari langit, ketika ada serombongan para Mujahidin Islam sangat bernafsu menghinakan dirinya sendiri dengan memakai rompi berisi bom, lalu secara pengecut membidik target-target sasaran sipil yang sangat lemah? Inikah moral Islami?

Saya menghimbau kepada para alim-ulama, para ustadz, para guru, dan sebagainya agar menghapuskan konsep “bom manusia” atau “bom mobil yang dikendarai manusia” dari kamus Jihad Fi Sabilillah. Cara-cara keji, menghinakan diri, dan pengecut itu tidak layak dimasukkan dalam kamus Jihad Fi Sabilillah.

KEMATIAN SAUDARA DUL MATIN

Ketika mendengar terbunuhnya Saudara Dul Matin, tentu sebagai sesama Muslim kita mengucapkan, “Inna lillahi wa inna ilaihi ra’jiun.” Kita turut berduka atas wafatnya seorang pemuda Muslim, mendoakan kebaikan baginya, dan memintakan ampunan atas dosa-dosanya. Begitu pula atas terbunuhnya rekan-rekan Dul Matin. Allahummaghfirlahum warhamhum wa ‘afihim wa’fuanhum. Amin Allahumma amin.

Dalam hal ini ada dua kondisi yang harus dilihat:

[1] Keterlibatan Dul Matin dalam aksi-aksi pengeboman sasaran sipil di Indonesia, dengan memakai bom manusia atau bom mobil yang dikendarai manusia. Jelas aksi seperti ini salah, dan tidak bisa diklaim sebagai Jihad Fi Sabilillah. Kesalahan demikian harus dipahami, dihentikan, dan tidak diulangi lagi oleh pemuda-pemuda Islam lainnya. Ingat, Allah memerintahkan kita berjihad dengan cara yang benar, seperti para pendahulu kita para Mujahidin yang lurus, bukan dengan meniru teknik “bunuh diri” wanita Tamil ketika membunuh Rajiv Ghandi. (Saya menantang semua pembela paham “bom istisyhad” untuk menghadirkan bukti-bukti, coba Anda sebutkan siapa orang pertama dari kalangan kaum Muslimin yang memulai teknik bom manusia itu? Pasti tidak ada, sebab bom seperti itu memang dirintis oleh gerakan Tamil Elam di Srilangka).

[2] Keterlibatan Al Akh Dul Matin dan kawan-kawan dalam Jihad Defensif membela kaum Muslimin yang tertindas di negeri-negeri Muslim, seperti di Afghanistan, Mindanao, Pattani, dan lainnya. Maka perbuatannya adalah benar, sah, dan dinilai sebagai Jihad Fi Sabilillah. Peranan Dul Matin di Mindanao dalam rangka membela kepentingan Ummat Islam disana menghadapi militer Filipina yang didukung Amerika Serikat, adalah bagian dari Jihad Defensif yang diakui sah dalam Syariat Islam. Pelaku Jihad Defensif adalah Mujahid, meninggalnya dalam membela kaum Muslimin, adalah Syahid.

Siapapun, pemerintah manapun, kepolisian manapun, tidak akan bisa menghapuskan hukum Jihad Fi Sabilillah ini, sebab ia adalah RISALAH yang TURUN DARI LANGIT. Jihad itu bukan rekayasa Usamah, bukan doktrinasi Mullah Umar, bukan milik Hamas, tetapi milik Islam, milik kaum Muslimin, dan diperintahkan oleh Allah Ta’ala. Jihad yang lurus -sebelum tersusupi cara-cara dari luar Islam- adalah amal mulia, bukan terorisme.

CATATAN AKHIR

Kepolisian, Densus88, Amerika Serikat, Australia, dan siapapun, mereka sanggup menyerang target-target pelaku terorisme, seperti menyerang sasaran sipil dengan bom manusia, meledakkan bom mobil di tengah-tengah keramaian masyarakat umum (non kombatan). Tetapi mereka tak akan sanggup menghadapi Jihad Fi Sabilillah yang sebenarnya, yaitu Jihad yang sesuai kaidah dan etika Islami. Meskipun mereka hendak menyamakan Jihad dengan terorisme, maka Allah akan tetap menjernihkan agama-Nya dari kotoran-kotoran kesesatan.

Jihad tidak akan sanggup dikalahkan oleh siapapun, sebab ia adalah RISALAH yang turun dari langit. Jihad dalam rangka menyebarkan hidayah Islam dan Jihad dalam membela kaum Muslimin yang teraniaya, akan selalu hidup dan ada di muka bumi, sampai akhir sejarah Ummat Islam. Jihad yang Syar’i ini tidak akan mampu dikalahkan oleh siapapun, dengan cara apapun, sebab Allah-lah backing-nya. Sesuatu yang di-backing-i oleh Allah Ta’ala, tidak akan mampu dikalahkan oleh siapapun.

Dan kita harus mewaspadai adanya konspirasi dari orang-orang durjana untuk merusak ajaran Islam, merusak keimanan Ummat, serta mengacaukan opini dunia dengan aksi-aksi terorisme yang mereka lakukan sendiri, lalu diklaim sebagai perbuatan para Mujahidin Islam. Hal-hal demikian kerap terjadi, demi kepentingan rendah, dengan mengorbankan kemuliaan agama. Islam kerap dijadikan kendaraan oleh orang-orang tertentu untuk menodai Islam itu sendiri. Laa haula wa laa quwwata illa billah.

Keberadaan para “selebiritis terorisme” sungguh membuat mual orang-orang yang menyaksikannya. Mereka ini sok tahu dan merasa paling mengerti. Padahal analisis mereka saling berbenturan satu sama lain. Ya, maklumlah, di jaman modern, segala sesuatu bisa dibisniskan. Setiap musim ada ahlinya… Setiap datang musim isu terorisme, para “selebritis terorisme” segera bermunculan dengan segala opininya.

Segala puji bagi Allah Ta’ala yang telah menjadikan Jihad Fi Sabilillah sebagai pelindung ajaran Islam dan kehidupan kaum Muslimin. Alhamdulillah Rabbil ‘alamiin.

AMW.


Standar Keadilan di Indonesia!

Maret 11, 2010

Kemarin seorang pejabat kepolisian membuat konferensi pers, terkait kontak senjata di Aceh Besar dan penggerebekan teroris di Pamulang Tangerang. Dalam konferensi pers itu “sang jendral polisi” menjelaskan banyak hal, terutama tewasnya buronan teroris paling dicari Dul Matin. Kepastian sang terbunuh ialah Dul Matin katanya sangat kuat, peluang kesalahannya hanya 1 banding 100.000 triliun (jadi seluruh nol-nya ada 17).

Atas sukses kerja kepolisian ini, seorang pejabat tinggi tertentu dalam pidatonya di depan Parlemen Australia, secara terbuka mengklaim keberhasilan tersebut. Tak lama kemudian, dia mendapat puji-pujian dari berbagai pihak, khususnya dari PM Australia. Padahal katanya Dul Matin sangat dicari-cari aparat keamanan Amerika, kepalanya dihargai US$ 10 juta. (Kalau tidak salah, seharga kepala Usamah ya?).

Kasus seperti ini sudah sering terjadi di Indonesia, sejak tahun 2002 lalu. Berulang terjadi, dan modusnya cenderung sama. Seperti sudah ada “SOP”-nya dalam pengembangan opini di tengah masyarakat. Sejak awal kita sudah mengkhawatirkan hal ini. Silakan baca artikel berikut: Khawatir Teror Bom! Jadi masalah terorisme seperti sebuah “adat istiadat” yang dipelihara demi keuntungan-keuntungan politik tertentu.

Tapi ada satu masalah yang sangat mengusik hati, terkait dengan pemberantasan para tertuduh teroris itu. Kalau kita lihat sikap tegas kepolisian atau Pemerintah, tidak sebanding dengan sikap-sikap mereka yang amat sangat DEFENSIF dalam kasus korupsi, khususnya skandal Bank Century.

Mari kita lihat masalahnya:

[=] Sampai saat ini pihak kepolisian belum secara giat menyelesaikan kasus hukum skandal Century, padahal desakan ke arah itu sangat kuat. Bahkan sejak lama sebelum ada hasil Sidang Paripurna DPR yang menghasilkan “Opsi C”, kepolisian sudah lama didesak untuk terjun ke kasus Century.

Lalu bandingkan dengan sikap tegas dan tanpa kompromi yang dilakukan aparat kepolisian, khususnya Densus88, ketika memberantas teroris. Disini tidak memerlukan waktu lama, kepolisian segera menurunkan tim-nya dan melakukan gerakan “sapu bersih”. Mengapa sikap “sapu bersih” itu tidak diterapkan dalam kasus-kasus korupsi, terutama skandal Bank Century? Ini sangat mengherankan.

[=] Presiden RI dalam pidatonya menanggapi hasil Paripurna DPR yang telah memutuskan “Opsi C”, dia jelas-jelas membela posisi dua pejabatnya yang sering disebut dalam Pansus Bank Century. Dalam pidato itu dia menceramahi rakyat Indonesia dengan prinsip “presumption of innocence” (azas praduga tak bersalah). Biarpun BPK sudah menjelaskan hasil audit, biarpun Pansus sudah memberi rekomendasi “Opsi C”, dia tetap saja membela bawahannya dengan alasan “praduga tak bersalah”.

Tetapi dalam kasus yang mereka klaim sebagai terorisme, mereka bersikap main sergap, tangkap, bunuh, tanpa memberi kesempatan pembelaan di depan hukum. Bahkan, kebanyakan sasaran Densus88 mati tertembak. Kejadian di Pamulangan itu, target sedang di Warnet tetapi ditembak mati juga. Mengapa ya kalau kepada koruptor atau pejabat-pejabat yang bersalah dalam kejahatan perbankan, tidak dilakukan tindakan “main sikat” seperti itu? Bukankah para tersangka eroris itu juga rakyat, memiliki hak-hak hukum, memiliki kedudukan yang sama untuk diperlakukan seacara adil di depan hukum?

[=] Ada sesuatu yang mengherankan dalam penegakan hukum di Indonesia ini. Dalam masalah-masalah korupsi, skandal, kejahatan perbankan, semuanya selalu menggunakan standar hukum normal, bahkan mungkin istimewa. Tetapi kalau dalam kasus terorisme, hukumnya hanya satu, yaitu “hukum Densus88”. Istilahnya seperti perkataan Rambo, “No one can stop me!”

Hal-hal demikian sangat jelas mencerminkan sikap tidak fair dalam menegakkan hukum. Hukum bersifat tebang pilih, terhadap siapa ia dilunakkan, dan terhadap siapa dikeraskan? Tergantung persepsi penguasa itu sendiri terhadap hukum yang ditegakkan.

Satu hal yang saya kagumi dari penampilan Jendral Polisi Bambang Hendarso Danuri. Setiap akan pidato selalu membaca “Bismillahiirrahmaanirrahiim”, “Assalamu’alaikum warahmatullah…”, “Alhamdulillah…”, dan sebagainya. Retorikanya kalem, tenang, sistematik. Tentu dengan wajah beliau yang memelas, tampak seperti orang saleh, cerdas, penuh empati, penuh bijaksana, dan seterusnya.

Tapi ya itu tadi, semua itu hanya penampilan saja. Kalau beliau ditanya, “Mengapa kepolisian tidak memperlakukan para koruptor sekeras Densus88 menyerang target-target terorisme? Bukankah korban akibat korupsi, skandal keuangan, kejahatan perbankan sangat hebat pengaruhnya dalam menyengsarakan ratusan juta rakyat Indonesia?” Kira-kira apa jawaban Jendral Polisi yang “tampak saleh” itu? …ya tanyakan saja kepada beliau!

AMW.


Khawatir TEROR BOM !!!

Desember 9, 2009

Mungkin rasanya janggal, saat-saat seperti ini kita membahas masalah TEROR BOM. Apalagi sekarang tanggal 9 Desember, hari korupsi sedunia yang sedang diperingati oleh ribuan orang di Indonesia, khususnya di Jakarta.

Tapi sungguh, ini kekhawatiran yang sangat beralasan. Kita sudah kenyang dengan isu seputar TEROR BOM. Semua itu akibatnya sangat menyakitkan hati. Kepada Allah kita memohon agar Dia menjaga kaum Muslimin dari segala fitnah menyakitkan, fitnah pedih, yang membuat hati-hati manusia berputus-asa. Allahumma amin.

Mari kita runut masalahnya…

=> Sejak tahun 2002, sejak Bom Bali I, publik Indonesia seperti rutin diramaikan dengan isu-isu TEROR BOM, setiap tahunnya. Isu itu buntutnya panjang, membabi-buta, menyikat siapa saja yang dicurigai berkomplot dengan teroris. Banyak sudah kesedihan menimpa kita sejak Bom Bali I lalu itu.

=> Saat terjadi Bom JW Marriot dan Ritz Carlton, itu menjadi kejutan tersendiri. Ia terjadi pertengahan Juli 2009, padahal teror bom terakhir terjadi tahun 2005 di Bali (Bom Bali II). Jadi ada masa “kosong teror” sekitar 4 tahunan. Tiba-tiba saja muncul bom di JW Marriot di atas. Teror bom itu bisa muncul kapan saja.

=> Harus diakui, saat ini Pemerintah SBY-Boed sedang mendapat tekanan politik sangat hebat. Padahal ini baru masa “100 hari” pemerintahannya. 100 hari saja sudah seperti ini, bagaimana nanti? (Kepada Allah kita memohon keselamatan dunia dan Akhirat, amin). Kita jadi teringat masa-masa ketika sebelum Pilpres dan setelahnya kemarin. Waktu itu SBY juga dikepung oleh tekanan politik yang amat kuat.

=> Secara perhitungan politik, dengan bergulirnya kasus Bank Century, SBY akan menghadapi dua pilihan sulit: Pertama, kehilangan Boediono dan Sri Mulyani. Kedua, dia tetap mempertahankan keduanya, dengan resiko akan menghadapi tekanan politik berat secara konstan sampai 2014 nanti. Mau pilih mana? (Tahu deh, kita kan bukan Presiden).

=> Biasanya, kalau regim pemerintahan seperti SBY ini, ketika ia tertekan sangat kuat, biasanya akan mencari ISU PENGALIHAN. Isu pengalihan yang seketika bisa membuat pikiran masyarakat langsung tertuju ke masalah itu. Nah, isu yang paling OK untuk dijadikan pengalihan, adalah TEROR BOM. Coba saja lihat kondisi-kondisi sebelum terjadi peristiwa teror-teror bom selama ini, selalu ada sangkut-pautnya dengan politik.

=> Isu TEROR BOM yang paling laku tentu saja dikaitkan dengan pemuda-pemuda Islam, Jamaah Islamiyyah (kalau medhok dibaca, Jamangah Ngislamiyah), Daulah Islamiyyah, Islam radikal, Wahhabi, dan sebagainya. Ya, tahu sendirilah. Kan sudah hafal dengan modus semacam itu.

Nah, inilah yang sangat kita takutkan. Jangan sampai terjadi TEROR BOM yang sama sekali tidak jelas juntrungnya. Ya Allah mohon lindungi kami dari segala fitnah dan tekanan orang-orang zhalim. Allahumma amin.

Masyarakat Indonesia memorinya pendek. Kadang ketika sudah sibuk dengan suatu isu, mereka mudah melupakan isu-isu lainnya yang seharusnya tetap diwaspadai.

Laa haula wa laa quwwata illa billah. Hasbullah wa Ni’mal Wakiil Ni’mal Maula wa Ni’man Nashir. Allahumma inna nas’alukal ‘afiyah fid dunya wal akhirah. Amin Allahumma amin.

Bumi Allah, 9 Desember 2009.

AMW.


Informasi Penting Soal Terorisme

September 3, 2009

Beberapa waktu lalu MetroTV membuat berita yang menarik. Menurut investigasi tim MetroTV, semakin tidak terbantahkan bahwa teror bom JW Marriot dan Ritz Carlton didanai oleh luar negeri, yaitu pendana dari Arab Saudi. Tokoh kuncinya adalah sosok Ali Muhammad yang saat ini ditangkap polisi. Ali Muhammad terbukti secara valid berhubungan dengan Syaifuddin Jaelani, seseorang yang disebut-sebut merekrut Dani, pelaku peledakan di JW Marriott. Disana dijelaskan aliran dana dari Saudi secara bertahap, lewat rekening BCA milik Syaifuddin Jailani.

Dalam hati kecil, saya tetap tidak yakin dengan terorisme ini. Semua ini hanya palsu, buat-buatan, hanya sekedar opini untuk merusak pikiran masyarakat dengan berita-berita dusta. Itu keyakinan saya. Saya sangat setuju dengan pandangan mantan Kepala Bakin, Dr. AC Manulang. Saat beliau ditanya tentang Usamah bin Ladin dan Al Qa’idah, beliau menganggap keduanya itu tidak ada artinya. Hanya semacam pion-pion kapitalisme Barat untuk memerangi Dunia Islam yang memiliki potensi kekayaan dan energi sangat besar.

Saat mendengar paparan MetroTV, saya agak berkerut kening juga. Tapi saya tetap yakin, elit-elit Al Qa’idah itu telah melakukan kolaborasi dengan kapitalis-kapitalis Barat. Dan masya Allah, berita yang dimuat Republika, 2 September 2009, berjudul Ubah Pemberantasan Terorisme, memberi secercah titik-terang.

Singkat kata, Kapolri melakukan rapat dengar pendapat dengan anggota DPR. Dalam rapat itu ada seorang anggota DPR yang mengkritisi sosok Ali Muhammad. Katanya, dia adalah double agent (agen ganda). Satu sisi, dia disebut sebagai penghubung Al Qa’idah, tetapi di sisi lain dia adalah anggota Angkatan Darat Amerika.

Berikut ini petikan beritanya, dari Republika.co.id:

Anggota Komisi I DPR, Abdillah Toha, mempertanyakan penangkapan salah satu tersangka teroris bernama Ali Mohamed yang dilakukan oleh Polri belum lama ini. Abdillah meminta penjelasan kepada Kapolri, apakah seorang bernama Ali yang ditangkap adalah benar anggota jaringan Alqaidah.

Soalnya saya memiliki informasi Ali Mohamed adalah agen ganda,” kata Abdillah.

Berdasarkan sumber-sumber informasi yang dirangkumnya dari media massa internasional, seperti New York Times, terang Abdillah, Ali Mohammed bukanlah warga negara Arab Saudi. Duta Besar Arab Saudi di Indonesia juga telah membantah Ali yang ditangkap Polri berkewarganegaraan Arab Saudi.

Abdillah menyebutkan, Ali adalah warga negara Mesir dan kini telah menjadi warga negara Amerika Serikat (AS). “Dia bahkan telah menjadi salah satu anggota Angkatan Darat AS.”

Karena kesimpangsiuran informasi ini, Abdillah meminta penjelasan kepada Kapolri dalam rapat dengar pendapat dengan DPR. Kapolri diminta menjelaskan, apakah Ali Mohamed yang ditangkap di Garut, Jawa Barat, adalah anggota jaringan Alqaidah atau agen ganda yang dimaksud Abdillah.

Ketika dimintai konfirmasi, Kapolri kembali menyatakan belum mau menerangkan penangkapan terhadap Ali. Dia menegaskan, tidak mau bertindak gegabah dengan langsung mengaitkan Ali dengan jaringan Alqaidah. “Nanti akan kami beri penjelasan resmi,” kata Bambang.

Fakta ini diperkuat informasi yang pernah disampaikan oleh Ketua PB Muhammadiyyah, Prof. Din Syamsuddin. Beliau pernah mengatakan, bahwa beberapa lama sebelum terjadi bom di hotel JW Marriott, disana berkumpul banyak agen-agen CIA. Dan mereka telah bersih meninggalkan hotel itu, ketika teror bom terjadi.

Masalahnya, pemuda-pemuda Islam yang sangat bersemangat itu, mereka tidak tahu kalau SUDAH DITIPU mentah-mentah oleh elit-elitnya. Elit Al Qa’idah di atas permukaan seperti sangat membenci Amerika, tetapi dalam kenyataannya mereka satu kepentingan. Apalagi kalau ingat sejarah masuknya Usamah bin Ladin ke Afghanistan. Dia masuk bareng dengan infiltrasi  CIA yang sangat kuat ke barisan Mujahidin Afghan. Pertanyaannya, masak sih antara Usamah dan CIA tidak bersinggungan? Wong, mereka tadinya saling kerjasama dalam melawan Komunis Soviet di kamp-kamp pelatihan Mujahidin di Peshawar Pakistan. Istilah Al Qa’idah itu sendiri kan munculnya dari istilah kamp-kamp itu.

Saya nasehatkan, saudara-saudara pemuda Islam yang sangat semangat dengan Jihad. Janganlah Anda tertipu oleh ulah konyol dagelan-dagelan kapitalis yang nyaru menjadi “syaikh mujahid” itu. Sadarlah kawan, berjuanglah di jalur yang lurus, jangan mau ditipu orang-orang jahat itu.

Wallahu A’lam bisshawaab.

== Pengamat ==


Sekali Lagi: TERORISME !!!

Agustus 23, 2009

Ini sebuah tulisan bagus dari eramuslim.com. Judul aslinya: “Mantan Direktur BAKIN: Terorisme Kerjaan Intelijen”. Ini sengaja dimuat untuk memperkuat pandangan kita selama ini, bahwa terorisme hanyalah FITNAH yang ditujukan untuk memerangi Ummat Islam secara psikologis dan pemikiran.

Syukran untuk redaksi eramuslim.com. Maaf, saya kutip langsung, tidak ijin terlebih dulu. Kalau ada komplain, mohon sampaikan via e-mail. Nanti tak hapus artikel ini. Tapi insya Allah redaksi eramuslim.com lapang hati.

Mantan Direktur BAKIN: Terorisme Kerjaan Intelijen

Dalam diskusi yang diselenggarakan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) di Wisma Antara siang tadi, mantan direktur BAKIN, AC Manulang, menegaskan bahwa tidak mungkin terorisme dilakukan atas ajaran agama Islam, semuanya merupakan bagian dari operasi intelijen.

”Islam tidak mengajarkan terorisme. Karena Islam merupakan agama yang mengajarkan perdamaian. Terorisme adalah bagian dari kegiatan intelijen,” ujar doktor sosiologi dari universitas di Jerman ini.

Menurut Manulang, setelah perang dingin antara kapitalisme dan komunisme usai, Amerika sebagai pionir dari kapitalisme mencari musuh baru, yaitu Islam. Inilah yang sedang terjadi saat ini. Kenapa harus di Indonesia?

Manulang menambahkan bahwa jumlah penduduk Indonesia yang 230 juta dan mayoritas Islam merupakan potensi dan sekaligus bahaya besar untuk kapitalisme. Karena itulah, mereka melemahkan semua potensi yang akan menghambat kapitalisme.

”Salah satu cara yang dilakukan Amerika adalah mengangkat semacam ‘sweet boy’ untuk menjadi pemimpin negara yang mayoritas Islam di seluruh dunia,” jelas AC Manulang.

Jose Rizal Jurnalis dari presidium Mer-C yang juga sebagai pembicara di acara diskusi tersebut menambahkan, ”Terlalu aneh kalau seorang Air dan Eko yang menurut saksi mata masih shalat Jumat di Solo bisa dikatakan tertembak pada Sabtu jam 2 pagi di Jatiasih, Bekasi.”

Menurut Jose, bagaimana mungkin dua orang yang mengangkut bom ratusan kilogram bisa secepat itu tiba di Bekasi, dan langsung tertembak di lokasi.

Selain soal Air dan Eko, dua orang yang disebut polisi sebagai teroris dan tewas ditembak polisi di Bekasi, Jose juga menganggap aneh peristiwa penyerbuan 600 polisi di Temanggung. ”Umumnya penyerangan terhadap suatu tempat persembunyian biasanya dengan gas air mata. Dan semua orang pasti tidak akan tahan dengan cara ini,” ujar dokter yang akrab dengan suasana konflik.

Tapi anehnya, masih menurut Jose, Ibrahim tidak pernah keluar rumah yang diserbu tersebut. Bahkan, darah yang mestinya berceceran di lokasi tidak ada. Tidak tertutup kemungkinan, Ibrahim memang sudah tidak lagi hidup ketika penyerbuan berlangsung.

Jose kembali mengkritisi pasca peledakan Mariot-Ritz Carlton, ”Kenapa polisi tidak mengecek lebih lanjut siapa ratusan orang asing yang menginap di dua hotel tersebut. Tapi, langsung mengarahkan semua tuduhan itu kelompok yang disebut sebagai Nurdin M Top.”

Senada dengan Jose, AC Manulang juga mengungkapkan bahwa saat ini pihak intelejen tidak punya data soal Nurdin M Top. ”Saat ini, sepengetahuan saya, pihak intelijen tidak tahu banyak soal Nurdin M Top,” jelas Manulang.

Ismail Yusanto, sebagai juru bicara HTI yang juga sebagai pembicara di acara tersebut menegaskan bahwa Islam tidak mengajarkan cara-cara terorisme seperti itu dalam jihad.

Bahkan Ismail membeberkan sejumlah fakta bahwa ada ketidakcocokan antara motivasi teror dengan aksi terorisme. ”Kita sudah paham bahwa motivasi yang disampaikan aparat lewat media adalah perang melawan Amerika, tapi kenapa aksinya tidak tertuju pada aset Amerika?” ujar Ismail.

Menurutnya, hingga saat ini, dari sekian banyak peristiwa terorisme di Indonesia, tidak satu pun warga AS yang menjadi korban. Bahkan, kantor Dubes AS di Jakarta tidak tersentuh bom sama sekali.

Lalu, siapa dalang di balik teror di Indonesia? Jose mensinyalir bahwa kelompok multinasional korporat atau pebisnis multinasional di belakang gembar-gembor terorisme. Jose berargumen bahwa hanya merekalah yang tahu adanya rapat pebisnis besar di Mariot saat peristiwa bom terjadi.

Selain itu, masih menurut Jose, pasca naiknya Obama menggantikanBush, isu terorisme akan disudahi oleh Obama. Tapi, kelompok multinasional yang memang selama ini membiayai sarana militer Amerika dan negara-negara besar lainnya, tetap menginginkan kondisi konflik karena itu memudahkan bisnis mereka. Mnh.

Semoga Ummat Islam semakin paham, apa yang terjadi, siapa yang mereka hadapi, dan akan kemana fitnah ini bergulir? Allahumma amin.