Pertanyaan Kritis untuk Para Penghujat NEGARA ISLAM

Agustus 15, 2009

Jauh-jauh hari Nabi Saw sudah mengingatkan, bahwa kelak akan muncul banyak fitnah. Memegang agama saat itu ibarat menggenggam bara api. Kalau bara dilepaskan, ia akan padam; kalau bara terus digenggam, tangan akan hangus. Betapa sulitnya menjadi orang ISTIQAMAH dalam keadaan seperti ini. Apalagi, banyak aktivis Islam yang semula sangat militan dan istiqamah, lalu mereka mulai berguguran satu per satu karena fitnah jabatan, harta, dan wanita. Bukan hanya orang kafir yang menanti-nanti agar kita terjerumus. Para mantan aktivis itu juga akan tersenyum puas kalau melihat kita ikut-ikutan berguguran.

[Allahumma ya Rabbana, inna nas’alukal ‘afiyah fid dunya wal Akhirah. Wa sallimna min kulli fitnatin, wa dhalalah, wa fasad. Waj’alna mustaqiman zhahira wa bathina ila akhiri hayatina. Allahumma amin ya Mujibas sa’ilin].

ISLAM ANTI TERORISME

Ajaran Islam sama sekali tidak mengajarkan praktik terorisme. Banyak ulama, lembaga-lembaga Islam, serta para cendekiawan Muslim yang bekerja keras mengingkari praktik terorisme. Cukuplah ayat ini sebagai dalil yang sering dibacakan oleh para khatib. “Sesungguhnya Allah itu memerintahkan berbuat adil dan ihsan, memberi karib-kerabat, mencegah perbuatan keji dan munkar, serta permusuhan. Dai memberi pelajaran kepadamu agar kalian mengambil pelajaran.” (An Nahl: 90).

Jika ada ajaran Islam yang dianggap paling keras, maka ia adalah JIHAD Fi Sabilillah. Jihad seringkali termanifestasikan dalam bentuk peperangan. Ya, mana lagi urusan manusia yang lebih keras dari peperangan? Namun, dalam Jihad itu pun Islam memberikan adab-adab. Perang dalam Islam bukan untuk misi penjajahan, tetapi untuk menyebarkan Rahmat Islam.

Seperti contoh, Panglima Abu Ubaidah bin Jarrah Ra. beliau dengan legowo menyerahkan kembali harta kaum Nashrani Palestina yang semula diberikan kepada pasukan Islam sebagai jaminan keamanan atas mereka. Namun waktu itu Khalifah Umar Ra. Memerintahkan pasukan Islam kembali ke Madinah. Panglima Abu Ubaidah dan pasukannya patuh Khalifah, mereka harus segera meninggalkan Palestina. Kaum Nashrani Palestina tahu rencana penarikan pasukan Islam itu. Mereka dengan menghiba-hiba meminta supaya pasukan Islam tetap berada di Palestina. Bahkan mereka berjanji akan menambahkan jaminan hartanya. Di mata kaum Nashrani, pasukan Islam meskipun berbeda agama, mereka sangat menghargai kaum Nashrani. Tidak melecehkan mereka sedikit pun. Berbeda dengan pasukan Romawi. Meskipun seagama dengan mereka, tetapi kerjanya menindas terus warga Palestina. Penindasan Romawi sementara waktu berakhir ketika pasukan Islam datang, lalu mengusir Romawi dari Palestina. Ini adalah contoh nyata adab-adab Islami di medan konflik.

Islam tidak mengenal istilah kolonialisme seperti yang biasa dilakukan oleh bangsa-bangsa Eropa. Islam telah bersentuhan dengan aneka jenis keyakinan manusia, tetapi disana tidak ada penjajahan. Kaum Muslimin tidak memiliki sejarah penjajahan di belahan bumi manapun. Berbeda dengan Eropa. Seakan, dimanapun mereka menginjakkan kaki di muka bumi, mereka ingin menindas manusia-manusia yang mereka temui. Islam suci dari hal-hal seperti ini.

Nah, atas semua itu, lalu terjadilah aksi-aksi terorisme di berbagai tempat. Pelakunya mengklaim sebagai mujahidin yang sedang menjalankan Jihad Global melawan Amerika. Sasaran-sasaran sipil mereka serang, seperti yang berkali-kali terjadi di Indonesia. Korban warga sipil berjatuhan, termasuk orang-orang yang memiliki KTP Islam. Kebanyakan serangan dilakukan dengan bom, bahkan bom manusia atau bom mobil. Semua aksi kekerasan itu lalu diklaim sebagai Jihad, pelakunya disebut Mujahidin, yang wafat diklaim sebagai Syahid.

Dan anehnya, dunia internasional yang notabene mayoritas kafir, malah setuju, mendukung, meyakini, serta membenarkan, bahwa semua aksi-aksi itu adalah manifestasi Jihad Fi Sabilillah. Lho, katanya mereka anti terorisme, tapi malah setuju dengan DEFINISI JIHAD menurut para pelaku kekerasan itu? Ini aneh bin ajaib. Seharusnya mereka memahami Jihad sesuai pendapat mainstream ulama-ulama Islam. [Kalau memang benci terorisme, harusnya mereka merujuk definisi Jihad menurut ulama-ulama yang masyhur, bukan menurut pelaku aksi-aksi itu sendiri].

Sekali lagi saya tegaskan, sekalipun dalam konfrontasi peperangan, Jihad Fi Sabilillah memiliki adab-adab. Itu sudah pasti. Namun dalam aksi terorisme kenyataannya sangat aneh. Mau disebut Jihad, atas dasar apa mereka berperang? Di atas konflik apa mereka berperang? Di pihak mana mereka berdiri, dan dengan siapa mereka berperang? Dimana medan perang itu berada dan bagaimana aturan main yang disepakati pihak-pihak yang terlibat perang? Semuanya serba tidak jelas.

Islam adalah agama yang sempurna, memiliki aturan-aturan dalam segala sisi. Mulai dari adab masuk WC, saat bercermin, ketika makan, berpakaian, berhubungan seksual dengan isteri, sampai menegakkan kepemimpinan, Islam memiliki aturannya. Lha ini, ada kelompok Islam yang katanya pro Syariat Islam, tetapi mereka melancarkan serangan militer seperti orang-orang yang tidak belajar adab Islam. Aneh tentunya.

Lalu karena aksi-aksi kekerasan semacam itu, ajaran Islam menjadi bulan-bulanan kaum kuffar. Salah satu ajaran Islam yang sangat dizhalimi pasca kasus-kasus teror ini adalah DAULAH ISLAMIYYAH (Konsep Negara Islam).

Kita dengar di TV-TV pernyataan para tokoh, baik dari kalangan aparat, mantan pejabat, atau orang-orang yang dianggap pakar. Komentar-komentar mereka sangat perih dalam menyerang Konsep Negara Islam. Di mata mereka, isu Negara Islam inilah yang dianggap biang kerok terorisme. Kalau Anda mendengar pernyataan Sidney Jones, pasti ujung-ujungnya menyerang DI/TII di masa lalu. Lho, apa hubungannya teror bom dengan DI/TII? Lagi pula, bisakah Sidney menyebutkan fakta sejarah, bahwa suatu negara bisa berdiri dengan teror bom? Hanya orang bodoh yang akan membenarkannya.

DAULAH ISLAM TIDAK BERSALAH

Ketika kita bicara tentang fakta terorisme, saat itu kita bicara tentang cara-cara kekerasan yang tidak dibenarkan oleh Syariat Islam. Terorisme tidak bisa ditarik ke ajaran Islam, begitu pula sebaliknya. Maka otomatis, terorisme tidak bisa dikaitkan dengan seluruh sisi ajaran Islam, termasuk Daulah Islamiyyah.

Mengaitkan Daulah Islamiyyah dengan terorisme adalah fitnah besar. Sejak jaman Nabi Saw dan Para Shahabat Ra., sampai saat runtuhnya Khilafah Utsmaniyyah di Turki, tidak ada satu pun daulah-daulah itu yang ditegakkan dengan cara teror. Apalagi dengan bom manusia dan menjadikan warga sipil sebagai sasaran. Secara teori, tidak ada satu pun negara di dunia yang bisa lahir dengan cara teror. Teror itu akan membangkitkan amarah manusia. Para pelaku teror alih-alih akan didukung, mereka justru dibenci oleh masyarakat luas. Bahkan kalau mau jujur, kelompok IRA di Irlandia pun sampai saat ini masih gagal memisahkan wilayahnya dari Britania Raya. Padahal aksi-aksi serangan IRA sudah sangat dikenal di dunia, jauh sebelum para pemuda-pemuda Muslim terjun di bidang ini.

Ajaran Islam pun tidak memberi ruang bagi aksi-aksi terorisme. Ada beberapa ayat dalam Al Qur’an yang seolah menyuruh melakukan teror, misalnya:

Dan bunuhlah mereka di mana saja kamu jumpai mereka, dan usirlah mereka dari tempat mereka telah mengusir kamu (Makkah).” (Al Baqarah: 191).

Maka jika mereka berpaling, tawan dan bunuhlah mereka di mana saja kamu menemuinya, dan janganlah kamu ambil seorang pun di antara mereka menjadi pelindung, dan jangan (pula) menjadi penolong.” (An Nisaa’: 89-90).

Apabila sudah habis bulan-bulan Haram itu, maka bunuhlah orang-orang musyrikin itu dimana saja kamu jumpai mereka, dan tangkaplah mereka. Kepunglah mereka dan intailah di tempat pengintaian.” (At Taubah: 5).

Sepintas lalu, ayat-ayat ini memerintahkan kaum Muslimin menyerang orang-orang musyrikin dimana saja mereka berada. Tetapi kalau Anda membaca ayat tersebut secara lengkap, akan segera tampak bahwa disana ada KONTEKS-nya. Ayat-ayat ini berkaitan dengan permusuhan antara kaum Muslimin di Madinah dengan kaum musyrikin Makkah. Permusuhan itu sudah terang-benderang, sudah sama-sama dimaklumi oleh kedua belah pihak. Kaum musyrikin Makkah menghalangi Ummat Islam berhijrah ke Madinah, mereka berkali-kali hendak membunuh Nabi Saw., dan mereka memperlakukan kaum Muslimin selama di Makkah dengan sangat kejam. Semua itu menjadi BUKTI NYATA bahwa konflik di antara kedua belah pihak sudah matang, tinggal diselesaikan di medan perang. Fakta berbicara, bahwa 2 tahun setelah Hijrah Nabi, pecahlah Perang Badar. Perang itu terjadi tidak lama setelah kaum Muslimin memiliki pijakan kaki di Madinah. Hari saat terjadi Perang Badar oleh Al Qur’an disebut sebagai Yaumul Furqan, hari pembeda antara yang haq dan bathil. (Surat Al Furqan: 41).

Ayat-ayat seperti di atas tidak boleh dipahami secara SERAMPANGAN. Tetapi kita harus melihat bagaimana Nabi Saw. dan Shahabat Ra. memahaminya. Untuk menerjuni konflik itu harus jelas dulu duduk masalahnya. Contoh terbaik, sebelum kaum Muslimin memerangi Kisra Persia, Nabi Saw. pernah mengirimkan surat kepada Kisra, lalu surat tersebut dirobek-robek oleh Kisra. Sejak saat itu dimaklumkan perang kepada Kisra Persia, meskipun realisasinya baru terjadi di jaman Khalifah Umar bin Khattab Ra. Kisra Persia adalah kaum musyrikin, tetapi Nabi Saw. tidak serta-merta memerintahkan kaum Muslimin memerangi mereka.

Begitu pula, saat pembebasan Kota Makkah. Waktu itu kaum Muslimin memasuki Kota Makkah dengan penuh kehormatan, sedang orang-orang musyrik tunduk terhina. Tetapi disini, warga Makkah tidak diserang habis-habisan, seperti dalam ayat-ayat di atas. Mereka dibebaskan oleh Nabi Saw. Orang-orang yang melarikan diri dari Makkah, tidak dikejar. Bahkan Hindun isteri Abu Sufyan dan warga Makkah lain, mereka meyakini bahwa Nabi itu orang baik, pasti tidak akan menzhalimi mereka. Karena itu pula warga Makkah berbondong-bondong masuk Islam.

Memang pada hakikatnya, Jihad Fi Sabilillah itu sebuah sarana untuk menyebarkan Rahmat Islam. Ia bukan metode untuk merusak kehidupan, menghancurkan harta-benda, membunuhi manusia-manusia tak berdosa. Allah Maha Kaya, untuk apa Dia memerintahkan manusia berbuat zhalim seperti itu? Bahkan dalam Al Qur’an disebutkan: “Janganlah kalian berkeliaran di muka bumi dengan berbuat kerusakan.” (Al Ankabuut: 36).

Dapat disimpulkan, Daulah Islamiyyah tidak ada kaitannya sama sekali dengan terorisme. Hanya orang-orang JAHIL saja yang akan menegakkan Daulah Islamiyyah dengan metode teror. Baik secara Syar’i, fakta sejarah, dan teori, tidak ada negara yang berdiri dengan metode teror. Umumnya melalui gerakan massa, gerakan politik, gerakan militer, kudeta kepemimpinan, atau perang terbuka.

Secara pribadi saya mengajak diskusi terbuka kepada siapapun yang selama ini menuduh bahwa aksi-aksi terorisme itu ditujukan untuk menegakkan Daulah Islamiyyah. “Tunjukkan bukti-bukti kalian, kalau kalian adalah orang yang benar!” (Al Baqarah: 111).

Baca entri selengkapnya »

Iklan

Keanehan Fenomena TERORISME di Indonesia

Agustus 15, 2009

Peristiwa teror bom di JW Marriott dan Ritz Carlton terus bergulir seperti “bola api” yang meluncur tak terkendali. Bukan hanya pengelola 2 hotel itu yang dirugikan, atau para korban yang mati dan terluka. Islam dan kaum Muslimin juga PANEN FITNAH akibat aksi teror yang didalangi manusia-manusia “sakit” itu.

Akal ratusan juta masyarakat Indonesia selama berminggu-minggu dicekoki secara intensif oleh isu teror dan kekacauan opini. Tanpa disadari, isu teror itu telah menciptakan ketakutan publik yang sangat massif. Berita perburuan, penangkapan, penahanan, interogasi, penyerbuan, penembakan, pengepungan, pengrusakan, razia di jalan, kampanye keamanan, dll. menjadi makanan sehari-hari. Belum lagi munculnya sikap curiga, prasangka buruk, fitnah, serta tindakan-tindakan boikot sosial kepada orang-orang tertentu yang tampak memiliki “ciri teroris”. Satu bukti nyata ialah penggerebekan di Temanggung beberapa waktu lalu. Ia benar-benar menimbulkan kecemasan besar di hati masyarakat. Alih-alih menimbulkan efek jera bagi teroris, masyarakat justru semakin ciut hatinya melihat sikap berlebihan aparat keamanan dalam operasi di Temanggung itu. Mereka berpikir, “Bagaimana kalau kami yang diperlakukan seperti itu?”

Selain itu, ajaran Islam sendiri menjadi olok-olok banyak orang. Konsep negara Islam (Daulah Islamiyyah), sistem Kekhalifahan Nabi, Jihad Fi Sabilillah, pedoman Al Qur’an dan Sunnah, ideologi Islam, Syariat Islam, dll. hari ini menjadi bulan-bulanan manusia-manusia BERLIDAH API. Mereka manfaatkan isu terorisme untuk menyerang Allah dan Rasul-Nya, melecehkan ajaran Islam, menghina warisan sejarah Islam, dan menebarkan fitnah-fitnah luar biasa.

Betapa keji perbuatan manusia-manusia nista itu. Mereka sudah tahu, bahwa selama itu berbagai kalangan Islam telah susah-payah menjelaskan, bahwa ISLAM TIDAK MENGAJARKAN TERORISME. Terorisme itu cara pengecut, bukan sikap kesatria. Islam mengajarkan sikap adil, bukan menjadi pengecut. Tetapi manusia-manusia nista itu tetap saja menyerang Islam, menyerang Daulah Islamiyyah, menyerang para Mujahidin, menyerang ideologi Islam, menyerang ajaran Nabi Saw, menyerang Allah dan Rasul-Nya. Padahal semua simbol-simbol kesucian Islam itu tidak ada kaitannya sama sekali dengan TERORISME.

Bagaimana mungkin, agama ALLAH yang MAHA SUCI dipaksa bertanggung-jawab atas perbuatan-perbuatan teror hina? Sungguh, andai kita mendiamkan masalah ini, tanpa memberi peringatan, mungkin bangsa ini akan dihujani batu dari langit karena kebejatan moral elit-elit tertentu yang gemar menistakan agama Allah. (Termasuk karena aksi “diam 1000 bahasa” para politisi yang selama ini mendapat jabatan dan kepuasan syahwat setelah menjual agama dengan harga murah).

Maka para dai harus berbuat sesuatu, sekuat kesanggupannya, untuk menghindari adzab Allah yang akan ditimpakan kepada bangsa yang durhaka. Kita harus menegakkan IZZAH ISLAM, ketika manusia-manusia berhati syaitan berlomba ingin merobohkan izzah itu. Laa haula wa laa quwwata illa billah.

OFENSIF KEPADA ISLAM

Kita semua mengutuk keras perbuatan teror bom di JW Marriot dan Ritz Carlton. Saya yakin, meskipun ada 1000 aksi peledakan semacam itu di 1000 hotel milik Amerika atau Inggris. Ia tidak akan menolong Islam dan juga tidak akan berhasil mengalahkan musuh-musuhnya. Malah, bisa jadi setelah itu Islam akan didefinisikan secara mutlak sebagai terorisme. Aksi-aksi teror tidak banyak gunanya. Namun kenyataan yang sangat menyakitkan, lewat aksi-aksi teror itu, Islam dan kaum Muslimin sering sekali menjadi sasaran FITNAH.

Para pakar, pengamat, ahli intelijen, mantan anggota JI, pejabat kepolisian, politisi, dan lainnya, mereka sering mengakui bahwa aksi terorisme tidak ada kaitannya dengan ajaran Islam (agama). Hal itu mereka katakan berulang-ulang di banyak kesempatan. Tetapi setelah itu, mereka akan mulai menyerang ajaran-ajaran Islam, seperti Jihad Fi Sabilillah, Daulah Islamiyyah, Khilafah Nubuwwah, Syariat Islam, para Mujahidin, dan lain-lain. Sebagian mulut mereka mengakui bahwa Islam tidak ada kaitannya dengan terorisme, tetapi sebagian yang lain tidak henti-hentinya menyerang agama Allah. Ini merupakan bukti KEMUNAFIKAN telanjang.

Media-media massa (terutama media TV), tidak kalah brutalnya dalam menciptakan kekacauan opini. Salah satunya adalah TVOne. Dalam berita-berita yang terkait penemuan bahan peledak di Jatiasih Bekasi, TVOne selalu mengakhiri pembacaan skrip beritanya dengan mengatakan bahwa bom itu akan diledakkan di rumah kediaman SBY di Cikeas. Tetapi mereka tidak menyebutkan bukti apapun atas klaim itu. Begitu pula, mereka secara bombastis membuat liputan tentang penyerangan Densus 88 di Temanggung. Ternyata, banyak data-data mereka yang salah. Sungguh sangat memalukan. Selama puluhan jam mereka mendoktrin pikiran ratusan juta masyarakat dengan info-info palsu seputar penggerebekan Temanggung. Termasuk disini, TVOne kerap mendatangkan mantan-mantan anggota JI sebagai narasumber. Andai organisasi yang disebut JI itu memang ada, yang didatangkan rata-rata orang aneh. Mereka tidak tampak sikap cemburunya ketika Islam disudutkan secara sistematik melalui pernyataan-pernyataan tendensius.

Untuk kesekian kalinya, kita mendapati kenyataan yang sama. Setiap pasca peledakan bom, Islam selalu diserang. Menariknya, Islam diserang setelah para ahli atau pakar mengakui bahwa aksi-aksi teror itu tidak ada kaitannya dengan agama (Islam). Seakan, pengakuan mereka itu merupakan ucapan “permisi” sebelum menyerang Islam sepuas-puasnya. Laa haula wa laa quwwata illa billah.

Baca entri selengkapnya »


Ironisme Serangan di Temanggung

Agustus 10, 2009

Seorang Presiden di suatu negara, mengaku terus mencermati perkembangan penggerebekan teroris di Beji, Kedu, Temanggung (ada pengamat yang salah mengatakan, Tumenggung). Setelah aksi selesai, Presiden itu secara secara resmi memberikan pujian atas keberhasilan operasi anti teror di Temanggung.

Justru disini kita saksikan sebuah IRONI besar. Bayangkan, operasi yang digelar itu sangat hebat. Sampai dua stasiun TV menayangkan “Breaking News” atas operasi itu selama seharian penuh, bahkan lebih. Tajuknya juga bukan main, “Memburu Norrdin M. Top”. Tetapi ternyata yang dikepung selama 18 jam dengan segala teknik anti teror itu, hanya satu orang teroris. Itu pun tidak yakin, bahwa dia adalah Noordin M. Top. Sampai ada pengamat yang mengatakan, korban satu orang di Temanggung itu “Noordin yang tidak top”. Ini ironi sangat besar atas operasi satuan khusus anti teror, Densus 88.

Mari kita lihat masalahnya:

[o] Siapa yang mengatakan, bahwa teroris yang ada di rumah itu ada 3, 4, atau 5 orang? Ternyata, setelah tuntas digerebek, korban tewas hanya 1 orang saja? Atas laporan siapa di rumah itu ada 3 atau 4 orang teroris?

[o] Siapa yang mengatakan, bahwa tersangka yang berada di rumah itu adalah Nordin M. Top? Dalam berita TV, otak ratusan juta penduduk Indonesia benar-benar didoktrin agar percaya, bahwa sosok yang diserbu di Temanggung itu adalah Noordin. Dalam running text TV sampai disebutkan pernyataan suatu sumber: Noordin dipastikan tewas!

[o] Operasi yang digelar Densus 88, amat sangat hebat. Bisa disamakan dengan operasi-operasi satuan elit Amerika, seperti dalam film-film Hollywood. Jumlah pasukan yang diturunkan banyak, disebar di berbagai sisi rumah, termasuk yang berada di perbukitan. Mereka melakukan serangan berupa tembakan, lemparan bom, mengerahkan robot untuk mengetahui keadaan di rumah, memakai tameng, termasuk memakai galah dari bambu (nah kalau alat yang terakhir ini, bolehlah dianggap “kurang keren”). Bahkan ada panser, mobil ambulan, dan mobil-mobil biasa dikerahkan, sebagai persediaan. Belum lagi melihat perlengkapan yang dipakai anggota Densus. Ciamik, sudah keren, lengkap pula man! Sampai untuk berjalan saja, anggota Densus agak kaku, karena begitu banyaknya alat-alat ditubuhnya. Tapi anehnya, teroris yang dikepung cuma satu orang.

[o] Hal yang sulit dipahami, adalah kerusakan rumah milik Pak Mozahri itu. Rumah itu rusak parah, baik bangunan fisiknya, maupun isi dalamnya. Bantal, piring-piring, kasur, pakaian, dll. hancur berantakan. Kasihan amat. Padahal itu adalah rumah orang-orang tua, pensiunan guru. Dalam pengakuannya, isteri Pak Mozahri sangat membantah fitnah yang beredar selama ini. Terutama fitnah yang disebarkan oleh media-media massa dan aparat polisi. Dia mengatakan, bahwa laki-laki yang diserbu Densus 88 itu orangnya pendiam, datang sebagai tamu, tidak banyak bicara. Dia datang sekedar untuk bertamu sementara. Rumah itu milik orang miskin, dan saat ini hancur tidak karuan, karena kehebatan peluru-peluru dan bom yang mengenainya.

[o] Lokasi rumah Mozahri itu secara pendekatan militer, sangat “terbuka”. Dia terpisah dari masyarakat sekitar. Di sekelilingnya sawah dan kebun tembakau. Di belakang ada bukit. Jadi, lokasi demikian akan sangat menyulitkan bagi teroris untuk meloloskan diri. Justru hal itu akan sangat memudahkan pasukan keamanan beraksi.

[o] Mengapa aparat polisi mengijinkan aksi Densus 88 itu ditayangkan secara live oleh dua stasiun TV, MetroTV dan TVONe? Andai itu benar-benar operasi dengan tingkat sekuritas tinggi, apa salahnya bernegosiasi dengan pihak TV agar tidak membuat ekspose berlebihan. Sebab efek publiknya sangat dahsyat. Selain kita seperti disuguhi “adegan film Hollywood”, berita-berita seputarnya juga simpang-siur. Nah, semua ini kan akhirnya membingungkan masyarakat luas. Masak dalam situasi sensitif masyarakat selalu disuguhi berita-berita peperangan?

[o] Banyak pengamat bertanya-tanya, mengapa di dalam rumah Mozahri itu, pasca serangan intensif dilakukan, hanya ditemukan sedikit bercak darah? Sebenarnya, apa yang terjadi disana? Kalau memang seperti diberitakan selama ini, bahwa telah terjadi serbuan intensif, bahkan aksi tembak-menembak seru, tentu bercak darah yang berceceran akan mudah ditemukan dimana-mana.

Sebagian orang mengklaim, serangan di Temanggung itu suatu prestasi besar. Sampai seorang Presiden sebuah negara memujinya. Tapi bagi yang melihatnya secara kritis, pasti akan ragu. Bayangkan, hanya untuk mematikan seorang teroris di sebuah rumah, harus dikerahkan operasi besar-besaran. Belum lagi, operasi itu ditayangkan secara live oleh stasiun TV di Indonesia selama 24 jam atau lebih.  Ini kan sama seperti ungkapan, “Menembak merpati dengan rudal Scud.” Antara target dan kekuatan operasi yang dikerahkan (plus publikasinya) sangat tidak sebanding.

Dan sangat disayangkan, pemberitaan TVOne. Ketika membahas tentang bom di Jatiasih Bekasi. Redaksi TVOne terus-menerus mendoktrin masyarakat, bahwa bom itu disiapkan untuk diledakkan di kediaman Presiden di Cikeas. Berkali-kali hal itu disampaikan, sampai kita menyimpulkan, TVONe ini mau menjadi jubir kepresidenan. Anehnya, tidak disebutkan bukti-buktinya, atau argumentasinya bahwa bom Jatiasih mau diarahkan ke Cikeas.

Lebih konyol lagi, ada yang membuat analisa. Rumah di Jatiasih itu menghadap ke Cikeas. Ya Allah ya Rabbi, apa hubungannya rumah itu menghadap ke Cikeas? Apakah para teroris memiliki rudal atau pelontar bom yang cukup menjangkau jarak 5 km? Sejak kapan para teroris memakai senjata rudal? Woow, hebat banget.

Dapat disimpulkan, dalam beberapa hari terakhir, otak masyarakat Indonesia benar-benar dibuat bingung oleh berita-berita TV. Dibuat bingung oleh klaim kepolisian, dibuat bingung oleh pendapat pengamat yang tumpang tindih, dibuat bingung oleh aksi-aksi terorisme itu sendiri.

Yo wis lah, memang hal ini yang diinginkan rakyat Indonesia. Ya, silakan saja dinikmati.

Kami berlindung kepada Allah Ta’ala dari gelap gulita fitnah yang menimpa diri sendiri, keluarga, dan kaum Mukminin. Ya Allah selamatkanlah kami, selamatkanlah kami, lindungi kami, beri petunjuk dan ampunan kami. Allahumma amin ya Karim.

AMW.


Nordin M. Top Susah Ditangkap…

Agustus 1, 2009

Sebuah dialog fiktif, sekedar untuk rehat…

Singkat cerita, Bang Jali bertemu dengan sohibnya, Bang Mamat, di warung kopi Mpok Irah. Mereka setiap sore sering kumpul-kumpul, ngobrol, sambil ngopi. Ya, apalagi kalau bukan ngobrol politik? Tapi kalau ditanya, apa mereka sedang bicara politik? Baik Bang Jali maupun Bang Mamat sudah sepakat untuk memberi jawaban diplomatis: “Kami hanya sedang silaturahmi, membicarakan masalah bangsa.” Wah, wah, wah, ternyata kedua orang itu sudah terkena penyakit yang sama, “flu elit politik“.

Sore itu Bang Jali dan Bang Mamat suah datang di warung kopi Mpok Irah, tetapi mereka belum juga mulai diskusi. Orang-orang sekitar yang sedari tadi menunggu, tampak gelisah. “Ada apa ini, kok diskusi belum dimulai?” kata mereka bertanya. Mpok Irah juga ikut gelisah. Sebab kopi Bang Jali maupun Bang Mamat belum nambah-nambah, rokoknya juga belum ada yang disulut. Padahal kalau diskusi lagi panas-panasnya, kopi bisa srupat-sruput seperti teko bocor, rokok bisa sedat-sedut seperti lokomotif kereta. Kadang, kalau sampai diskusi terlalu keras, beberapa piring dan gelas ada yang pecah. Kalau itu yang terjadi, Mpok Irah lebih senang, sebab akan diganti seharga 2  kali barang. Justru kalau Bang Jali dan Bang Mamat mulai bertengkar, Mpok Irah pelan-pelan mulai mendekatkan gelas-gelas ke tangan masing-masing. Ya, maksudnya biar dibanting. “Kan nanti diganti 2 kali harga,” kata Mpok Irah.

Nah, kenapa waktu itu kok Bang Jali belum juga diskusi sama Bang Mamat? Ternyata, setelah dilakukan penyelidikan oleh tim FBI (Farid, Bagong, dan Indra), mereka sedang meributkan jadwal diskusi untuk sore itu. Bang Jali maunya membahas keputusan MA yang membatalkan perhitungan tahap kedua kursi Parlemen; sementara Bang Mamat maunya bicara soal Nordin M. Top. Untuk memutuskan jadwal diskusi sore itu, mereka terpaksa berkali-kali melakukan “rapat paripurna”. Akhirnya, dicapai kesepakatan. Diskusi mengambil tema soal Nordin M. Top mengikuti saran Bang Mamat, tetapi topiknya diserahkan ke Bang Jali. Bang Jali memutuskan, membahas sebuah pertanyaan: Mengapa Nordin M. Top susah sekali ditangkap?

Baiklah, mari kita ikuti sebagian percakapan mereka.

Bang Jali: Gue heran, kenapa ya Nordin M. Top susah banget ditangkep? Padahal mereka sudah jadi buron polisi sejak tahun 2003 lalu. Apa dia punya kesaktian ya, Bang Mamat?

Bang Mamat: Iya nih, gue juga heran. Padahal foto-foto die sudah disebar dimana-mana. Kok susah amat ya nangkepnye? Padahal Imam Samudra, Mukhlas, dan Amrozi saja gampang ketangkep? Kok Nordin susah amat ya?

Bang Jali: Kali die orang Malaysia kali Bang? Jadi lebih susah ditangkepnye.

Bang Mamat: Justru itu Jali, kalau die orang Malaysia, harusnya lebih gampang ditangkep. Kan dia orang asing, jadi lebih susah mengenali jalan-jalan di Indonesia. Wajahnya pasti ada beda-bedanya lah ama kita. Ngomongnya juga pasti ada bedanya.

Bang Jali: Nah, itu die Bang. Harusnya orang asing lebih gampang ditangkep. Kok ini malah susah ya? Ada apa ya di balik itu semuanye?

Bang Mamat: Jali, kalau gue pikir-pikir, ini pasti ada yang kagak beres.

Bang Jali: Maksud Abang apaan?

Bang Mamat: Gue khawatir, ini semacam kongspiraksi, eh apa tuh, kospiraksi, atau aduh apa ya?

Bang Jali: Maksudnye, konspirasi Bang?

Bang Mamat: Ya, betul kon…kon…spiraksi. Eh susah amat sih ngomongnya. Pokoknya itulah, konspirasi!

Bang Jali: Konspirasi gimana sih Bang? Jangan suka ngomong konspirasi dong. Kita biasa-biasa ajalah, yang gampang-gampang ajalah, kagak perlu berpikir rumit-rumit.

Bang Mamat: Bener nih, Jali. Gue curiga banget deh. Itu tuh, lihat Usamah bin Laden. Katanye dia buronan terorisme paling dicari, tapi sampai sekarang belum juga ketangkep. Khawatirnya, orang macam Usamah itu sengaja dipelihara, tidak ditangkep-tangkep. Biar ceritanye rame gitu.

Bang Jali: Alah, Abang ade-ade aje. Jadi kayak sinetron aja. Setiap episode dibuat kisruh terus, biar orang mau terus nonton. Itu tuh kayak, sinetron “Rindu Fitriono” di TV tuh.

Bang Mamat: Ini serius Jali. Gue serius. Masak aparat keamanan sudah sehebat itu, anggarannya hebat, punya pasukan khusus, fasilitas lengkap, kok sudah bertahun-tahun tidak bisa nangkep Nordin M. Top. Gawatnya lagi, sampai hari ini Nordin disebut masih berkeliaran.

Bang Jali: Kalau gitu cara mikirnya, gue bisa dong Bang bikin teori konspiraksi, eh kok jadi ikutan Bang Mamat. Maksudnya, teori konspirasi.

Bang Mamat: Teori apa lagi, Jali? Lu punya teori yang lain memangnye?

Bang Jali: Bisa aje Bang, nama Norin M. Top itu cuma rekayasa doang.

Bang Mamat: Maksud Lu gimana sih?

Bang Jali: Bisa aje, si Nordin sendiri sudah mati. Tapi isunya dibuat seolah dia masih hidup, terus gentayangan menebar teror.

Bang Mamat: Kok gitu Jali?

Bang Jali: Bisa aja Bang, kan ini teori konspirasi. Kite-kite kan tidak pernah tahu keadaan sebenarnye. Kite cuma ikut berita-berita di TYV atau koran. Siapa tahu, sosok Nordin yang seperti “drakula” itu perlu dipelihara biar masyarakat selalu merasa terancam, merasa ketakutan gitu. Nanti kalau merasa terancam, kan mereka akan butuh aparat yang bersikap keras dan tegas ke orang-orang yang dicurigai.

Bang Mamat: Apa Lu punya contoh teori macam begitu?

Bang Jali: Ada Bang. Waktu itu kan pemilihan presiden di Amerika. George Bush mencalonkan diri untuk kedua kalinya sebagai presiden Amerika. Seminggu sebelum pemilihan presiden Amerika, Usamah bin Ladin menyebarkan video yang isinya mau menyerang Amerika. Rakyat Amerika mendengar video itu. Mereka ketakutan. Maka mereka merasa perlu memilih presiden seperti George Bush yang dikenal sangat keras ke teroris.

Bang Mamat: Lalu gimana?

Bang Jali: Buktinya, habis itu George Bush terpilih lagi untuk kedua kalinya. Dan yang hebat lagi, Usamah tidak pernah membuktikan ancaman serangan dia ke Amerika sedikit pun. Gue jadi curiga, sudah ada kongkalikong antara Usamah sama George Bush, untuk nakut-nakuti orang Amerika. Buktinya Bush terpilih lagi, dan Usamah sampai sekarang tidak pernah ketangkep.

Bang Mamat: Waduh Jali gue pusing juga nih sama teori Lu. Sudah deh, kita kembali ke topik tadi. Kenapa Si Nordin ini susah banget ditangkep ye?

Bang Jali: (Tampak diam, sambil mikir-mikir lama. Sesekali geleng-geleng kepala, garuk-garuk kepala).

Bang Mamat: Hei, Lu jawab pertanyaan gue. Jangan mikir gitu-gitu amat. Kayak main catur aje Lu.

Bang Jali: Eh, gue dapet jawabannya, Bang.

Bang Mamat: Jawaban apaan?

Bang Jali: Ya, itu yang tadi Abang tanyakan. Kenapa Nordin susah ditangkep?

Bang Mamat: Apa gitu jawabnya?

Bang Jali: Jawabnya pada nama Nordin “M” Top itu sendiri.

Bang Mamat: Maksud Lu gimana sih. Nordin M. Top kan Nordin Mochammad Top, gitu kan?

Bang Jali: Bukan itu Bang. Nordin “M” Top itu maksudnya = Nordin “Memang” Top.

Bang Mamat: Maksud Lu?

Bang Jali: Iye, Nordin memang top. Die orang paling top di Indonesia. Topnya ngalahi Manohara atau Mbah Surip. Dia sangat licin, susah ditangkep. Maka dia orang paling top. Nordin “Memang” Top.

Bang Mamat: Ho…ho…ho… (Terengar tawa Bang Mama keras, diikuti tawa semua orang yang mendengarkan diskusi di warung itu. Kecuali Mpok Irah, sebab dari tadi tidak ada pertengkaran. Padahal Mpok Irah sudah belanja gelas-gelas baru).

Bang Mamat: Jali, Jali, Lu bisa aje. Otak Lu pinter juga ye. Kalau orang Indonesia pinter kayak Elu,  dijamin deh tidak akan mudah dikibuli aksi-aksi terorisme macam gituan. Eh, ngomong-ngomong, sebagai hadiah kepinteran Lu, tolong buat sore ini Lu yang bayarin kopi gue ye?

Bang Jali: Gak apa-apa Bang. Ntar gue bayar semua. Tapi besok tagihan bon-nya gue anter ke rumah isteri Abang. (Kata Jali sambil ngacir).

Bang Mamat: Hei, Lu mau kemana hei? Lu bayar dulu nih kopinye. Sompret Lu…(Terdengar suara Jali memekik tinggi, disambut tawa orang-orang di warung itu. Kecuali Mpok Irah yang sedari tadi cemberut terus).

Begitulah…

Dunia ini seperti panggung sandiwara. Banyak tontonan panggung muncul dalam kehidupan. Sekilas mata, ia tampak sungguhan. Padahal sejatinya, tetap saja sandiwara. Sandiwara sangat berpengaruh di mata orang-orang awam, sebagaimana mereka sangat takjub saat melihat sinetron di TV. Tapi sandiwara tidak berpengaruh nyata bagi orang-orang beriman. Di mata orang beriman, tidak ada yang berubah. ALLAH tetap AKBAR (Maha Besar). Yang selain-Nya tetap ASH-GHAR (lebih kecil).

Alhamdulillah Rabbil ‘alamiin.


Membantah SURAT PALSU Nurdin M. Top

Juli 30, 2009

Anda tentu sudah tahu tentang beredarnya surat pengakuan bertanggung-jawab dari Tanzhim Al Qa’idah Indonesia, yang disusun oleh Nurdin M. Top yang beredar di internet. Surat ini muncul dari situs blog: mediaislam-bushro.blogspot.com. Layaknya situs-situs blog lain, tidak jelas siapa pengirim dan dimana domisilinya. Ya, semacam “surat kaleng”, tetapi dalam bentuk blog.

Surat itu mengklaim, Al Qa’idah Indonesia mengaku bertanggung-jawab atas serangan bom bunuh diri ke hotel JW. Marriott dan Ritz Carlton, 17 Juli 2009 lalu. Surat ditanda-tangani oleh “master DPO”, siapa lagi kalau bukan: Si Nordin M. Top. Tapi saya meyakini, bahwa itu adalah SURAT PALSU yang sengaja disebarkan, untuk mengesankan kepada masyarakat Indonesia, bahwa pelakunya adalah Al Qa’idah, Islam garis keras, link Jamaah Islamiyyah, dan lainnya.

Disini ada beberapa bantahan terhadap surat seperti ini, yaitu:

[1] Surat itu dimuat di situs blog liar, yang tidak jelas siapa pemilik blognya, dan dimana domisilinya. Untuk membuat surat seperti itu sangat mudah. Siapapun bisa membuatnya. Perlu diingat, di Indonesia sendiri sering ada telepon ancaman bom yang disampaikan orang-orang biasa, baik karena usil, atau ingin memeras. Maka munculnya situs klaim seperti itu biasa saja. Banyak orang bisa membuat surat klaim seperti itu.

[2] Dalam surat itu disebutkan data-data khusus, seperti KADIN Amerika, tim Manchester United menginap, dll. yang tidak bisa diketahui oleh orang banyak. Informasi seperti ini sangat terbatas. Sulit dibayangkan, Nordin Cs bisa mengakses informasi seperti itu. Contoh mudah, dalam Bom Bali I. Suryadarma Salim mengklaim, pelakunya sudah melakukan “keep watching” (pengamatan) sebulanan. Tetapi tetap saja Imam Samudra Cs tidak tahu secara detail siapa saja orang-orang yang ada di Paddy’s Club.

[3] Kejadian bom di JW Marriott dan Ritz Carlton hampir bersamaan. Hanya selisih beberapa menit saja. Secara letak, kedua hotel juga berdekatan. Maka media-media massa menyebutnya “Teror Bom Mega Kuningan”. Dua kejadian itu disatukan penyebutannya. Nah, mengapa dalam surat dari Si Nordin itu, dibuat dua surat? Satu surat untuk JW Marriott dan satu lagi untuk Ritz Carlton? Mengapa tidak disatukan saja? Apa para pelakunya selama ini bekerja sangat detail, sehingga membedakan satu target dengan target lainnya? Secara psikologis, para teroris tidak akan sempat membuat publikasi yang bertele-tele. Mereka akan to the point saja.

[4] Mengapa di akhir surat itu, setelah tertera nama Nordin M. Top ada kata: Hafidzohullah. Kata ini kan merupakan doa, agar seseorang (Nordin M. Top) dijaga oleh Allah. Jelas doa itu dibacakan orang lain, bukan oleh Nordin sendiri. Masak Nordin mendoakan untuk dirinya sendiri? Kalau kalimatnya dibaca secara utuh: “Amir Tandzim Al Qo’idah Indonesia, Abu Muawwidz Nur Din bin Muhammad Top, Hafidzohullah” (Dari Amir Al Qo’idash Indonesia, Abu Muawwidz Nurdin bin Muhammad Top, semoga Allah menjaganya).

Lihatlah, Nordin yang menulis surat itu, lalu dia juga yang mendoakan dirinya sendiri: “Semoga Allah menjaga dirinya/Nordin.” Ini hanyalah dagelan saja. Ini ditulis orang yang sok pintar memalsu surat para teroris.

[5] Metode yang dipakai oleh si pembuat surat adalah copy paste. Dia copy paste beberapa bagian dari surat satu ke surat kedua. Ini menggelikan, masak para teroris begitu tidak kreatif? Untuk membuat bom hebat, dan menembus keamanan JW Marriott saja mereka bisa, kok membuat surat sangat tidak kreatif begitu? Ini aneh besar.

[6] Coba perhatiakan kalimat bahasa Arab yang ditulis mengakhiri surat. Disana tertera kalimat: “Allahu Akbar, wa lillahi al ‘izzahu, wa li Rasulihi, wal mu’minun” (Allah Maha Besar, bagi-Nya kehormatan-Nya, dan bagi Rasul-Nya, dan bagi orang-orang Mukmin). Kalimat seperti ini salah, bahkan mengandung unsur kemusyrikan. Yang disebut Al ‘izzahu dalam kalimat itu tentu: kehormatan Allah. Kehormatan Allah itu hanya untuk diri-Nya, tidak boleh untuk selain-Nya, meskipun itu Rasul dan orang-orang beriman. Kehormatan di sisi Allah tentu berbeda dengan kehormatan di sisi makhluk-Nya. Harusnya, kalimat itu ditulis: Wal ‘izzatu lillahi, wa li Rasulihi, wal Mukminin. Dan ingat, ditulisnya “wal Mukminin” bukan “wal Mukminun“.

Singkat kata, surat yang diklaim dari Tanzhim Al Qo’idah Indonesia itu adalah surat palsu, bikin-bikinan. Ummat Islam jangan terperdaya oleh surat-surat yang tujuannya ingin memastikan, bahwa: Indonesia terus dirusuhi oleh aksi-aksi teror bom kelompok-kelompok Islam radikal. Tujuannya kesana, biar nanti penguasa memiliki dalil untuk memberlakukan lagi UU Subversif seperti masa-masa lalu. Laa haula wa laa quwwata illa billah.

Lihatlah para kapitalis itu! Saat Ummat Islam di atas angin, mereka memaksakan prinsip DEMOKRASI. Namun saat demokrasi sudah berjalan, ternyata Ummat Islam mampu mengikuti sistem demokrasi ini. Maka cara pun diubah, yaitu main fitnah dan tuduh atas nama kelompok Islam garis keras. Mereka tidak henti-henti mengerusuhi hidup kaum Muslimin ini, sebab memang disanalah mereka mendapatkan EKSISTENSI. Na’udzubillah wa na’udzubillah min dzalik.

Demikian yang bisa disampaikan. Semoga menjadi manfaat bagi Ummat Islam. Semoga Anda sekalian cepat sadar dan mengerti bahwa makar para konspirator sangat luar biasa akhir-akhir ini menimpa Ummat ini. Tidak ada tempat bergantung yang tangguh bagi kita, selain Allah Al Aziz Al Hakim.

Ya Allah lindungilah kami dari segala kejahatan dan kezhaliman orang-orang kafir. Hanya Engkau Pelindung dan Penolong kami, sebaik-baik pelindung dan penolong. Amin Allahumma amin.

AMW.


Membantah Pengamat TERORISME

Juli 30, 2009

[1] Dalam dialog dengan SCTV, Al Chaidar ngoceh banyak tentang data-data pelaku terorisme di Indonesia. Dia mengatakan, pada tahun 2006 dia melakukan penelitian tentang pengikut Nurdin M. Top. Kata Al Chaidar, saat itu terungkap bahwa Nurdin sudah berhasil merekrut sebanyak 19.000 kader rekrutan. Termasuk di dalamnya kader-kader wanita.

Bantahan:

Al Chaidar menyebut data, ada 19.000 pengikut Nurdin M. Top yang berhasil dia rekrut. Tetapi mengapa, ketika menjelaskan anggota kelompok Cilacap, Banten, Palembang, Wonosobo, dll. jumlah masing-masing kelompok sangat sedikit? Dari setiap kelompok itu Al Chaidar menyebut kurang dari 10 nama orang. Lho, katanya ada 19.000 kader rekrutan, kok dalam penjelasan anggota kelompok-kelompok itu sangat sedikit? Lalu sisanya yang mungkin masih 18.950 lagi kemana?

[2] Pengamat intelijen, Wawan Purwanto, dalam dialog dengan sebuah TV (kalau tidak salah MetroTV atau IMTV). Dia ditanya tentang pelaku peledakan di JW Marriott yang masih anak remaja, usia sekitar 17 tahun. Dia menduga, dalam diri remaja itu ada unsur gen dari nenek-nenek moyangnya dulu yang mungkin pernah terlibat aksi pengeboman. Perlu diingat, dalam rangka menumpas terorisme, Wawan Purwanto ini setuju jika dihidupkan kembali UU subversif seperti dulu.

Bantahan:

Katanya, remaja pelaku peledakan di JW Marriott kemungkinan nenek-nenek moyangnya pelaku peledakan bom juga. Sekarang kita mau tanya, siapa nenek-moyang remaja itu? Nenek moyang tentu hidup di masa yang lampau, melebihi usia kakek-nenek anak itu sendiri. Apa di jaman dahulu sudah ada kasus-kasus peledakan dengan modus bom manusia seperti itu? Maaf, kalau berkomentar jangan asal njeplak. Tapi dipikir-pikir dulu. Kalau tidak logis, Anda sendiri yang akan ditertawakan!

[3] Mantan Komandan Densus 88, Suryadarma Salim Nasution. Dalam dialog dengan TVOne, dia mengatakan bahwa tujuan aksi-aksi terorisme itu adalah untuk menegakkan Daulah Islamiyyah (sistem negara Islam).

Bantahan:

Mohon datangkan bukti-bukti dalam ajaran Islam, adakah ayat-ayat dalam Al Qur’an, atau adakah hadits Nabi Muhammad Saw yang memerintahkan Ummat Islam mendirikan negara Islam dengan cara teror? Mohon datangkan bukti-buktinya, kalau Anda adalah orang yang benar! Kalau sekedar klaim ini itu dari sekelompok orang, itu mudah melakukannya. Semua orang bisa mengklaim. Misalnya, gerombolan teroris bayaran mengklaim hendak membebaskan manusia dari penindasan. Klaim seperti ini sangat mudah dibuat. Hanya masalahnya, apakah klaim seperti itu diakui oleh ajaran Islam, atau oleh pandangan ulama-ulama Muslim?

[4] Pandangan tendensius mantan Kepala BIN, Hendropriyono. Dia menyebut, pelaku terorisme itu adalah kelompok Wahhabi atau Ikhwanul Muslimin. Dalam dialog di TVOne dengan Karni Ilyas, Hendro mempertegas pendapatnya, dengan menyebut kalangan Wahhabi atau Ikhwanul Muslimin garis keras.

Bantahan:

Ucapan Hendropriyono ini bisa sangat memojokkan banyak pihak. Di mata masyarakat, terutama warga NU, akan makin besar kebencian mereka kepada kalangan yang disebut Wahhabi dan Ikhwanul Muslimin. Perlu diketahui, satu-satunya negara di dunia saat ini yang resmi mengklaim sebagai penganut madzhab Wahhabi, adalah Arab Saudi. Sedangkan ulama-ulama Saudi sendiri sangat keras dalam mengingkari aksi-aksi terorisme itu. Saya memiliki referensi berupa fatwa-fatwa ulama Wahhabi yang mengingkari aksi terorisme. Malah ada fatwa khusus yang ditujukan untuk mengingatkan Usamah bin Ladin. Jadi aneh, aksi terorisme diingkari oleh ulama-ulama Wahhabi, tetapi madzhab Wahhabi malah dituding.

Jika Wahhabi demikian berbahaya, mengapa tidak sekalian saja Ummat Islam Indonesia DILARANG menunaikan Haji dan Umrah ke Saudi? Ya, khawatir mereka akan terpengaruh Wahhabi disana, lalu membuat bom-bom terorisme di Indonesia. Padahal sudah ada jutaan jamaah Haji dan Umrah, tetapi tidak satu pun yang kemudian melakukan aksi terorisme. Singkat kata, terorisme adalah kesesatan paham. Ia adalah faktor deviasi yang selalu muncul di paham apapun. Terorisme tidak bisa dikaitkan dengan madzhab-madzhab tertentu yang tidak bersalah.

[5] Pandangan lain dari mantan anggota Jamaah Islamiyyah, Nasir Abbas. Tokoh ini asal Malaysia, iparnya Saudara Mukhlas yang meninggal dieksekusi akibat Bom Bali I. Secara umum, pandangan Nasir Abbas, Al Chaidar, Abu Rusdan, dll. kerap kali saling bertabrakan. Masing-masing merasa benar sendiri, seolah paling mengerti masalah yang dihadapi. Ada satu ungkapan sangat kasar dari Nasir Abbas, saat dia ikut berpendapat dalam dialog TVOne dengan Hendro Priyono. Disana Nasir Abbas, bahwa kaum Thaliban itu tukang membunuhi Ummat Islam. Mereka berperang melawan Mujahidin, sementara Nasir ada di pihak Mujahidin. Dia mengklaim tidak suka dengan Thaliban.

Bantahan:

Dalam konflik Thaliban versus Mujahidin Afghanistan, harus dirunut masalahnya. Tadinya, Thaliban itu kaum santri agama di daerah perbatasan Afghan-Pakistan. Mereka tidak terlalu aktif dalam jihad, namun banyak belajar agama. Saat terjadi pertikaian antara kubu Burhanudin-Mas’ud dengan kubu Hikmaktyar yang beraliansi dengan Koalisi Utara, situasi Afghan semakin tidak menentu. Hal itu terus terjadi karena pimpinan-pimpinan Mujahidin berebut kekuasaan. Masyarakat Afghan, termasuk santri-santri Thaliban tidak suka dengan situasi tersebut. Dengan didukung Pakistan, Thaliban bangkit menundukkan semua Mujahidin, lalu membentuk pemerintahan sendiri. Hanya saja, setelah Pemerintahan Thaliban berdiri, banyak pihak yang tidak menyukai, sebab berhaluan Islam. Jadi, Thaliban itu akhirnya menunaikan tujuan awal para Mujahidin Afghan. Jika kemudian terjadi pertempuran, jangan ditafsirkan membunuhi Ummat Islam. Kalau begitu caranya, berarti konflik antara Ali bin Abi Thalib Ra. dengan Muawiyah Ra, juga bisa disebut saling membunuhi Ummat Islam. Dan pengakuan Nasir Abbas, bahwa dia tidak menyukai Thaliban. Hal ini sama dengan sikap Amerika selama ini.

[6] Pandangan lain yang sudah tidak kalah popular, dari Sidney Jones, seorang pengamat asal Australia. Pandangan Si Mbok Sidney itu seringkali mewarnai media-media Indonesia. Seolah dia adalah nabi-nya teori terorisme. Dalam diskusi dengan TVOne, Sidney membantah bahwa kasus terorisme di JW Marriott dan Ritz Carlton berhubungan dengan Pilpres. Dia tetap sepakat dengan gaya lamanya, menuduh Jamaah Islamiyyah (JI) ada di balik aksi terorisme itu.

Bantahan:

Sepanjang sepak terjangnya mengamati kasus-kasus terorisme di Indonesia, pandangan Sidney Jones sangat mudah dikenali. Tuduhan dia tidak akan keluar dari 3 nama: Jamaah Islamiyyah, Pesantren Al Mukmin Ngruki, dan DI/TII Kartosoewiryo. Tiga nama ini dia ulang-ulang di berbagai kesempatan, tentu dengan penuh kebanggaan, karena dia diangap sebagai peneliti/pengamat terorisme yang mumpuni. Tapi anehnya, di semua tempat, Sidney tidak pernah bergeser dari 3 nama tersebut. Kalau tidak JI, pasti Ngruki, kalau tidak DI/TII.

Saya khawatir, di kepala Sidney itu hanya ada 3 nama tersebut. Bisa jadi suatu saat Anda akan bertanya: “Mbak dari mana? Mbak suka makanan apa? Mbak pernah kecebur sumur?” Saya khawatir, jawaban yang keluar adalah: Jamaah Islamiyyah, Pesantren Ngruki, dan DI/TII. Kok ada manusia yang sedemikian fanatik dengan ketiga nama ini. Jangan-jangan Sidney sudah menjadi “penggemar berat” ketiga nama tersebut? Wallahu A’lam.

Pandangan membabi buta seperti Sidney Jones itu jelas sangat menyesatkan. Segala bentuk tindak kekerasan, pengeboman, bom bunuh diri, dll. kelak dengan serampangan bisa dikaitkan dengan Jamaah Islamiyyah, Pesantren Ngruki, dan DI/TII Kartosoewiryo yang sudah tidak eksis lagi. Tentu ini adalah kezhaliman yang nyata. Itu pun kalau orang-orang kafir mengerti istilah kezhaliman. Wong di mata mereka, zhalim atau adil itu sama saja.

Tentang Jamaah Islamiyyah misalnya. Organisasi ini sangat misterius. Wujud kekuatannya tidak tampak. Tidak ada pimpinan, pengurus, simbol, anggota, cabang-cabang, dll. layaknya jamaah dakwah selama ini. Saya menduga, pengaruh pemikiran tokoh-tokoh Jamaah Islamiyyah itu ada di Indonesia. Tetapi dalam batas pengaruh pemikiran saja. Namun kalau eksistensi organisasi, saya sangat tidak yakin. Begitu juga dengan pengagum Sayyid Quthb. Di Indoneia banyak orang menjadi pengagum Sayyid Quthb. Kitab tafsirnya, Fi Zhilalil Qur’an sudah terkenal. Tetapi apakah para pengagum Sayyid Quthb itu merupakan anggota Ikhwanul Muslimin Mesir? Belum tentu. Bahkan Ikhwanul Muslimin Indonesia yang diklaim oleh Habib Husein Al Habsyi, belum tentu mendapat lisence dari Ikhwanul Muslimin Mesir.

Singkat kata, kalau ngomong itu jangan asal nyeplos. Dipikir-pikir dulu secara cermat, biar tidak menjadi fitnah di kalangan Ummat Islam. Andai kemudian menjadi fitnah, yaa kita maklumlah. Apa sih kerjaan orang kafir, kalau tidak menyusahkan Ummat Islam? Justru rasanya aneh, kalau tiba-tiba mereka menjadi baik hati. Hua ha ha ha…(dengan nada tawa seperti Mbah Surip).

TADZKIRAH UMMAT

Ummat Islam saat ini seperti buih lautan. Banyak jumlahnya, tidak berharga nilainya. Ummat menjadi bulan-bulanan opini media massa. Mereka dalam kebingungan besar mencari-cari cahaya penerang. Banyak sudah nasehat, peringatan, ajakan, himbauan, dan sebagainya disampaikan. Tetapi Ummat ini seperti sangat sulit lepas dari penjara kelumpuhan lahir-bathin. Berbagai macam obat sudah didatangkan untuk memperbaiki Ummat ini, tetapi penyakit yang bersarang tidak kunjung sembuh-sembuh. Siapa yang salah? Obatnya, dokternya, atau pasiennya?

Mungkin inilah masanya JAMAN FITNAH. Jaman penuh cobaan, godaan, dan rongrongan iman. Memegang nilai-nilai Islam di hari ini seperti memegang bara api. Kalau dilepaskan, ia akan padam; kalau terus dipegang tangan menjadi hangus.

Namun bagaimanapun, di hati kita harus selalu ada OPTIMISME. Okelah cobaan ini memang berat, amat sangat berat. Musuh-musuh yang dihadapi Ummat memerangi dari segala penjuru. Termasuk musuh-musuh yang memakai baju Islam, memakai kopiah, sarung, gamis, fasih dengan istilah-istilah Islam, dll. Sebesar apapun problem itu, ALLAHU AKBAR. Allah lebih besar dari semua itu. Allah berjanji akan menolong orang-orang beriman dan mengalahkan musuh-musuh-Nya. Hanya janji Allah semata yang layak kita pegang!!!

Dalam Al Qur’an: “Dan siapa yang mengingkari sesembahan selain Allah, dan bertauhid kepada Allah, maka dia telah berpegang kepada simpul tali yang sangat kuat, yang tidak akan pernah putus. Dan Allah itu Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Al Baqarah: 256).

Wallahu A’lam bisshawaab.

(Comeon).


JIHAD dan Terorisme

Juli 23, 2009

Secara bahasa, JIHAD berasal dari ja-ha-da. Suatu usaha maksimal yang sanggup dikerahkan untuk menunaikan suatu urusan. JIHAD adalah perlambang puncak usaha manusia untuk mencapai sesuatu. Dalam jihad ini, pengorbanan apapun akan disanggupi, termasuk pengorbanan nyawa. Pasukan Jepang yang melakukan aksi Kamikaze pada Perang Dunia II, dengan menabrakkan pesawat ke kapal-kapal Amerika. Mereka bisa dianggap telah berjihad. Hanya saja, jihadnya untuk membela berhala (Kaisar Hirohito). Sedangkan Jihad Fi Sabilillah, diartikan sebagai perjuangan maksimal untuk menegakkan Kalimah Allah di muka bumi. Para ulama, mengidentikkan Jihad Fi Sabilillah dalam Al Qur’an sebagai perang melawan orang-orang kafir dalam membela agama Allah.

JIHAD adalah perkara yang suci. Ia adalah bagian dari risalah langit untuk menjaga, memelihara, dan menegakkan agama Allah di muka bumi. Jihad adalah instumen yang Allah turunkan untuk memelihara agama-Nya, melalui tangan-tangan hamba-Nya. Jihad bukan perkara baru dalam ajaran Nabi Muhammad Saw. Ia telah dikenalkan sejak Nabi dan Rasul, sebelum beliau. Musa, Harun, Danial, Dawud, Sulaiman ‘alaihimus salam, dan lain-lain adalah Nabi-nabi yang pernah terjun berjihad di medan laga.

Dalam Al Qur’an, “Berapa banyaknya Nabi yang berperang bersamanya kaum Rabbani yang banyak. Mereka tidak menjadi gentar karena berbagai cobaan yang menimpanya di jalan Allah; dan tidak pula mereka menjadi lemah dan menyerah. Dan Allah menyukai orang-orang yang bersabar.” (Ali Imran: 146).

Dalam riwayat diceritakan. Ada seorang Nabi yang berperang memimpin Ummatnya menghadapi orang-orang kafir. Sebelum musuh dikalahkan, ternyata matahari hampir terbenam. Padahal dalam aturan perang waktu itu, kalau matahari sudah terbenam, seluruh peperangan harus dihentikan. Maka Nabi itu segera memerintahkan matahari berhenti berputar. Dia meminta matahari tidak terbenam dulu, sampai dia dan pasukannya berhasil mengalahkan musuh.

Kedudukan JIHAD bersifat suci, luhur, mulia. Keberadaannya dibatasi oleh adab-adab Syariat. Misalnya, dalam peperangan melawan orang-orang kafir, pasukan Islam tidak boleh menghancurkan rumah-rumah ibadah, tidak boleh menghancurkan ternak, tanam-tanaman, tidak boleh menganiaya orangtua, anak-anak, dan kaum wanita. Tidak boleh mengejar musuh yang melarikan diri, tidak boleh membunuh tentara yang menyerah, berperang sesuai kesepakatan dengan musuh, dll. Hal ini menjadi bukti nyata, bahwa JIHAD bukan urusan “kacangan” yang bisa dilakukan sesuka hati. Ia benar-benar dibingkai dengan adab yang luhur.

Baca entri selengkapnya »