Ironisme Serangan di Temanggung

Agustus 10, 2009

Seorang Presiden di suatu negara, mengaku terus mencermati perkembangan penggerebekan teroris di Beji, Kedu, Temanggung (ada pengamat yang salah mengatakan, Tumenggung). Setelah aksi selesai, Presiden itu secara secara resmi memberikan pujian atas keberhasilan operasi anti teror di Temanggung.

Justru disini kita saksikan sebuah IRONI besar. Bayangkan, operasi yang digelar itu sangat hebat. Sampai dua stasiun TV menayangkan “Breaking News” atas operasi itu selama seharian penuh, bahkan lebih. Tajuknya juga bukan main, “Memburu Norrdin M. Top”. Tetapi ternyata yang dikepung selama 18 jam dengan segala teknik anti teror itu, hanya satu orang teroris. Itu pun tidak yakin, bahwa dia adalah Noordin M. Top. Sampai ada pengamat yang mengatakan, korban satu orang di Temanggung itu “Noordin yang tidak top”. Ini ironi sangat besar atas operasi satuan khusus anti teror, Densus 88.

Mari kita lihat masalahnya:

[o] Siapa yang mengatakan, bahwa teroris yang ada di rumah itu ada 3, 4, atau 5 orang? Ternyata, setelah tuntas digerebek, korban tewas hanya 1 orang saja? Atas laporan siapa di rumah itu ada 3 atau 4 orang teroris?

[o] Siapa yang mengatakan, bahwa tersangka yang berada di rumah itu adalah Nordin M. Top? Dalam berita TV, otak ratusan juta penduduk Indonesia benar-benar didoktrin agar percaya, bahwa sosok yang diserbu di Temanggung itu adalah Noordin. Dalam running text TV sampai disebutkan pernyataan suatu sumber: Noordin dipastikan tewas!

[o] Operasi yang digelar Densus 88, amat sangat hebat. Bisa disamakan dengan operasi-operasi satuan elit Amerika, seperti dalam film-film Hollywood. Jumlah pasukan yang diturunkan banyak, disebar di berbagai sisi rumah, termasuk yang berada di perbukitan. Mereka melakukan serangan berupa tembakan, lemparan bom, mengerahkan robot untuk mengetahui keadaan di rumah, memakai tameng, termasuk memakai galah dari bambu (nah kalau alat yang terakhir ini, bolehlah dianggap “kurang keren”). Bahkan ada panser, mobil ambulan, dan mobil-mobil biasa dikerahkan, sebagai persediaan. Belum lagi melihat perlengkapan yang dipakai anggota Densus. Ciamik, sudah keren, lengkap pula man! Sampai untuk berjalan saja, anggota Densus agak kaku, karena begitu banyaknya alat-alat ditubuhnya. Tapi anehnya, teroris yang dikepung cuma satu orang.

[o] Hal yang sulit dipahami, adalah kerusakan rumah milik Pak Mozahri itu. Rumah itu rusak parah, baik bangunan fisiknya, maupun isi dalamnya. Bantal, piring-piring, kasur, pakaian, dll. hancur berantakan. Kasihan amat. Padahal itu adalah rumah orang-orang tua, pensiunan guru. Dalam pengakuannya, isteri Pak Mozahri sangat membantah fitnah yang beredar selama ini. Terutama fitnah yang disebarkan oleh media-media massa dan aparat polisi. Dia mengatakan, bahwa laki-laki yang diserbu Densus 88 itu orangnya pendiam, datang sebagai tamu, tidak banyak bicara. Dia datang sekedar untuk bertamu sementara. Rumah itu milik orang miskin, dan saat ini hancur tidak karuan, karena kehebatan peluru-peluru dan bom yang mengenainya.

[o] Lokasi rumah Mozahri itu secara pendekatan militer, sangat “terbuka”. Dia terpisah dari masyarakat sekitar. Di sekelilingnya sawah dan kebun tembakau. Di belakang ada bukit. Jadi, lokasi demikian akan sangat menyulitkan bagi teroris untuk meloloskan diri. Justru hal itu akan sangat memudahkan pasukan keamanan beraksi.

[o] Mengapa aparat polisi mengijinkan aksi Densus 88 itu ditayangkan secara live oleh dua stasiun TV, MetroTV dan TVONe? Andai itu benar-benar operasi dengan tingkat sekuritas tinggi, apa salahnya bernegosiasi dengan pihak TV agar tidak membuat ekspose berlebihan. Sebab efek publiknya sangat dahsyat. Selain kita seperti disuguhi “adegan film Hollywood”, berita-berita seputarnya juga simpang-siur. Nah, semua ini kan akhirnya membingungkan masyarakat luas. Masak dalam situasi sensitif masyarakat selalu disuguhi berita-berita peperangan?

[o] Banyak pengamat bertanya-tanya, mengapa di dalam rumah Mozahri itu, pasca serangan intensif dilakukan, hanya ditemukan sedikit bercak darah? Sebenarnya, apa yang terjadi disana? Kalau memang seperti diberitakan selama ini, bahwa telah terjadi serbuan intensif, bahkan aksi tembak-menembak seru, tentu bercak darah yang berceceran akan mudah ditemukan dimana-mana.

Sebagian orang mengklaim, serangan di Temanggung itu suatu prestasi besar. Sampai seorang Presiden sebuah negara memujinya. Tapi bagi yang melihatnya secara kritis, pasti akan ragu. Bayangkan, hanya untuk mematikan seorang teroris di sebuah rumah, harus dikerahkan operasi besar-besaran. Belum lagi, operasi itu ditayangkan secara live oleh stasiun TV di Indonesia selama 24 jam atau lebih.  Ini kan sama seperti ungkapan, “Menembak merpati dengan rudal Scud.” Antara target dan kekuatan operasi yang dikerahkan (plus publikasinya) sangat tidak sebanding.

Dan sangat disayangkan, pemberitaan TVOne. Ketika membahas tentang bom di Jatiasih Bekasi. Redaksi TVOne terus-menerus mendoktrin masyarakat, bahwa bom itu disiapkan untuk diledakkan di kediaman Presiden di Cikeas. Berkali-kali hal itu disampaikan, sampai kita menyimpulkan, TVONe ini mau menjadi jubir kepresidenan. Anehnya, tidak disebutkan bukti-buktinya, atau argumentasinya bahwa bom Jatiasih mau diarahkan ke Cikeas.

Lebih konyol lagi, ada yang membuat analisa. Rumah di Jatiasih itu menghadap ke Cikeas. Ya Allah ya Rabbi, apa hubungannya rumah itu menghadap ke Cikeas? Apakah para teroris memiliki rudal atau pelontar bom yang cukup menjangkau jarak 5 km? Sejak kapan para teroris memakai senjata rudal? Woow, hebat banget.

Dapat disimpulkan, dalam beberapa hari terakhir, otak masyarakat Indonesia benar-benar dibuat bingung oleh berita-berita TV. Dibuat bingung oleh klaim kepolisian, dibuat bingung oleh pendapat pengamat yang tumpang tindih, dibuat bingung oleh aksi-aksi terorisme itu sendiri.

Yo wis lah, memang hal ini yang diinginkan rakyat Indonesia. Ya, silakan saja dinikmati.

Kami berlindung kepada Allah Ta’ala dari gelap gulita fitnah yang menimpa diri sendiri, keluarga, dan kaum Mukminin. Ya Allah selamatkanlah kami, selamatkanlah kami, lindungi kami, beri petunjuk dan ampunan kami. Allahumma amin ya Karim.

AMW.