Memahami Karakter PARTAI ISLAMI

Mei 21, 2009

Alhamdulillahi Rabbil ‘alamiin. Was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah Muhammad wa ‘ala alihi wa ashabihi ajma’in. Amma ba’du.

Sebagaimana yang telah sama-sama kita saksikan, kondisi perpolitikan Islam di Indonesia saat ini (khususnya pasca Pemilu Legislatif April 2009) berada dalam kondisi yang sangat memprihatinkan. Nilai-nilai idealisme perjuangan politik Islam, seperti telah sirna, berganti dominasi sifat pragmatisme. Partai-partai Islam atau partai basis Muslim yang seharusnya bisa mengarahkan jalannya perjuangan perpolitikan, malah menjadi partisan politik praktis yang sangat terpengaruh oleh cara-cera berpolitik sekuler.

Fakta paling sederhana yang sama-sama kita saksikan adalah, ketika partai-partai Islam dan basis Muslim enggan bersatu dengan sesamanya lalu membentuk sebuah poros politik Islam. Kalau mereka bersatu, setidaknya total suara bisa mencapai 28 %. Suara ini lebih besar dari jumlah suara pemenang Pemilu Legislatif 2009. Lantaran sikap egoisme, pragmatisme kekuasaan, dan lunturnya komitmen terhadap nilai-nilai Islami, maka kesatuan poros Islam itu tidak terbentuk. Bahkan yang lebih memprihatinkan, partai-partai Islam membutuhkan peranan partai nasionalis sekuler untuk menyatukan diri mereka dalam satu ikatan koalisi.

Banyak sudah kritik, nasehat, bahkan kecaman dilontarkan untuk meluruskan sikap partai-partai Islam itu. Namun semua masukan tersebut tak ubahnya seperti angin yang membentur batu-batu karang. Ia dianggap angin lalu, tidak bernilai, bahkan diacuhkan saja. Para elit politik Muslim telah menjadi “politik sebagai panglima”, suatu kenyataan yang dulu mereka cela habis-habisan. Seharusnya, mereka berpolitik secara Islami, mencukupkan diri dalam batas-batas panduan agama Allah, dan tidak melompati pagar-pagar-Nya. Sebab pada hakikatnya, berpolitik adalah beribadah juga; ia terikat hukum-hukum Syar’i yang harus dipatuhi.

Sebuah pertanyaan besar: “Jika langkah-langkah partai Islam selama ini dianggap buruk, tidak layak, menyimpang dari kebenaran, bahkan merugikan masa depan Ummat. Lalu bagaimana bentuk dan cara berpolitik yang Islami, yang sesuai dengan nilai-nilai Syariat Islam itu sendiri? Mohon tunjukkan penjelasannya, sehingga kita tidak disebut sebagai kaum yang hanya pintar mengkritik, tetapi miskin solusi!”

Dalam tulisan ini akan dijelaskan tentang sifat-sifat (karakter) sebuah partai Islam yang Islami. Tujuan penulisan ini selain untuk menjawab pertanyaan seputar konsep partai Islam yang diharapkan Ummat, juga sebagai dorongan bagi kaum Muslimin untuk lebih bersungguh-sungguh mempersiapkan kerja politik Islami di masa ke depan.Insya Allah, konsep partai Islami ada dan sangat realistik, asalkan kita ada kesungguhan untuk mencari, membangun, dan mengembangkannya.

Apa yang disampaikan disini bukanlah sesuatu yang ideal. Tetapi semoga ia bisa menjadi arah untuk menemukan konsep partai Islam yang lebih tangguh, taat Syariat Islam, dan efektif dalam mencapai kemajua-kemajuan perjuangan politik. Maka, segala kebaikan itu semata merupakan nikmat Allah, adapun kesalahan-kesalahan datang dari diri saya sendiri atau bisikan syaitan. Walhamdu lillahi fil awwali wal akhir.

Baca entri selengkapnya »

Iklan