Syiah Itu Dipelihara Amerika…

September 2, 2012

(Edited version).

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Dalam sebuah diskusi, saya merasa bengong ketika disana disimpulkan, bahwa Syiah yang beroperasi di negeri-negeri Sunni (seperti Indonesia), sebenarnya dipelihara oleh Amerika. Disana dikatakan: “Ahmadiyah dipelihara oleh Inggris, sedangkan Syiah dipelihara oleh Amerika.” Saya merasa, ini kejutan atau pencerahan yang sangat berbeda. Namun ketika merunut kepada data-data, fakta, serta kejadian-kejadian; saya baru bisa percaya kalau Syiah Imamiyah (Rafidhah) memang dipelihara Amerika.

MUI (Pusat) atau Pemerintah RI selama ini sangat susah untuk menetapkan Syiah dan Ahmadiyyah sebagai aliran sesat, sehingga keduanya harus dilarang beroperasi; karena adanya tekanan dari Amerika, Inggris, Australia, Kanada, dan negara-negara besar lainnya. Mereka bahu-membahu untuk memelihara faktor destruktif di tengah-tengah kehidupan kaum Muslimin Indonesia. Makanya, ketika ada sebuah ormas Islam sangat antipati kepada Ahmadiyah dan Liberal, tetapi bersikap “main mata” kepada Syiah, hal itu dipahami bahwa ormas tersebut tidak mau memikul beban terlalu berat, dalam menghadapi tekanan Inggris, Amerika, Kanada, Australia, dan kawan-kawan. Padahal sudah standar Ahlus Sunnah dimana saja, yaitu: Anti Sekularisme, anti Syiah, anti Ahmadiyah, anti Liberal, anti Kristenisasi, dan anti Zionisme. Ini sudah pakem khas Ahlus Sunnah!

Banyak data-data bisa disampaikan, bahwa Syiah Rafidhah memang dipelihara oleh kepentingan imperialis Amerika (atau secara umum imperialis Barat). Soal di atas permukaan ada retorika-retorika anti Amerika dari kalangan Syiah, itu hanya kamuflase saja, untuk menutupi fakta sebenarnya. Biasa kan ada sandiwara “bertema konflik” untuk menutupi “hakikat kemesraan” yang tidak terlihat.

Mari kita coba lihat data-datanya…

Antara “Benci” dan Cinta. Sulit Dibedakan Antara Keduanya.

[1]. Khomeini itu sejak muda (remaja) tinggal di Perancis. Disebutnya, tinggal di pengasingan. Baru menjelang Revolusi Syiah tahun 1979, dia pulang kampung. Tinggal di Perancis sejak muda sampai jenggotnya agak memutih, dapatkah dikatakan bahwa Khomeini bersih dari invasi pemikiran dan politik yang dipaksakan Barat kepadanya? Sangat tidak mungkin. Rata-rata semua tokoh politik dari Asia yang pernah diasuh di negara Barat, rata-rata kalau pulang ke negeri masing-masing akan membawa agenda politik dari “majikan-nya”.

[2]. Sebelum Iran dikelola oleh Khomeini dan kawan-kawan, penguasa politik disana ialah Reza Pahlevi. Sebenarnya orang ini Syiah juga dan menjadi boneka Amerika. Tetapi Pahlevi lebih kental dunia politiknya, sedangkan Khomeini terkenal dengan IDEOLOGI Syiah-nya. Ketika Barat mencabut peran Pahlevi dan menggantikannya dengan Khomeini; hal itu terjadi karena mereka ingin mengubah strategi, dari pendekatan politik menjadi pendekatan ideologi; dengan menjadikan akidah Syiah Imamiyah Itsna Asyari sebagai basisnya. Akidah ini jauh lebih berbahaya ketimbang manuver-manuver politik Reza Pahlevi. Sebab pada hakikatnya, akidah Imamiyah Itsna Asyari (atau Syiah Rafidhah) adalah kekufuran yang nyata. [Kalau ada ketua ormas Islam tertentu yang ragu dengan kekufuran akidah Syiah ini, saya ajak beliau untuk berdebat terbuka, bi idznillahil ‘Azhim].

[3]. Banyak sandiwara dilakukan untuk menutupi missi sebenarnya, bahwa Khomeini sebenarnya adalah boneka Amerika, tak ubahnya seperti Reza Pahlevi. Pertama, Amerika tidak segera menginvasi Iran di bawah kepemimpinan Khomeini, seperti mereka menginvasi negara-negara yang penguasanya digulingkan tanpa restu Amerika. Kedua, disana digambarkan bahwa ada sekian puluh helikopter marinir Amerika saling bertabrakan satu sama lain ketika hendak menyerang Iran. Bukti-bukti seputar serangan helikopter yang gagal ini tidak banyak diperoleh, selain dari info-info media. Benarkah heli-heli itu bertabrakan, atau sengaja di-setting agar bertabrakan? Atau jangan-jangan semua itu hanya opini media saja, tanpa bukti yang jelas? Bandingkan cara Amerika itu dengan invasi mereka ke Irak, Afghanistan, Columbia, Vietnam, bahkan infiltrasi ke Indonesia (pada peristiwa PKI 65). Ketiga, sepertinya ada “solusi damai” antara Amerika dengan keluarga Reza Pahlevi, sehingga setelah itu tidak ada “dendam politik” keluarga Pahlevi kepada Khomeini. Padahal layaknya tokoh-tokoh politik Persia, tabiat dendam sangatlah dominan. Keempat, secara massif Khomeini melakukan kampanye, bahwa Amerika adalah SETAN BESAR. Kampanye ini mendapat respon besar di dunia Islam. Karena ia memang sebuah strategi untuk mendapatkan SIMPATI kalangan Dunia Islam, yang mayoritas Ahlus Sunnah dan anti Amerika. Kelima, tidak lama setelah Revolusi Iran, negara itu terlibat dalam konflik besar Iran Versus Irak di bawah Sadam Husein. Ending dari konflik Iran-Irak ini, malah Irak dimusuhi oleh Amerika dan Sekutu, serta negara-negara Timur Tengah; setelah Irak menginvasi Kuwait pada tahun 1990.

[4]. Sejak lama Iran selalu dikaitkan dengan isu anti Amerika dan anti Israel. Bahkan ia masuk dalam kategori “axis of evils” (negara-negara poros kejahatan). Tetapi ia sendiri tidak pernah sedikit pun terlibat dalam perang melawan Amerika, atau perang melawan Israel (musuh bangsa Arab di Timur Tengah). Jadi sebagian besar perang disini sifatnya hanya “kampanye verbal” saja. Tidak heran jika Iran kerap dijuluki sebagai NATO (no actions talk only). Begitu juga, Hamas semakin terjebak dalam posisi sulit ketika organisasi itu menjalin kerjasama dengan Teheran. Iran adalah negara yang paling menikmati hasil kampanye anti Amerika dan Israel; tetapi pada saat yang sama, dia tidak pernah terlibat perang sedikit pun melawab Amerika dan Israel.

[5]. Tidak diragukan lagi, bahwa Syiah Iran turut membantu invasi Amerika ke Afghanistan dan Irak. Katanya, dua invasi ini tidak akan pernah berhasil, tanpa bantuan Syiah Iran. Dulu di zaman Pemerintahan Burhanuddin Rabbani (Mujahidin), Syiah telah menelikung pemerintahan itu melalui Jendral Rasyid Dustum di bagian Utara. Begitu juga Pemerintahan Irak saat ini, pasca invasi Amerika ke Irak, presidennya Jalal Talabani dan PM-nya Nuri Al Maliki, keduanya adalah bagian dari penganut Syiah. Lihatlah, Amerika lebih ridha Irak di bawah pemimpin Syiah daripada negara itu di bawah Saddam Husein yang merupakan bagian masyarakat Sunni.

[6]. Kita tentu masih ingat skandal Iran-Contra pada waktu-waktu lalu. Singkat kata, Iran dikesankan sangat bermusuh-musuhan dengan Amerika. Tetapi lewat skandal itu terbukti, Iran bekerjasama mesra dengan Amerika. Iran memasok minyak ke Amerika, lalu hasil keuntungan jual-beli minyak “ilegal” ini oleh Amerika disalurkan untuk membiayai gerakan Kontra di Kolumbia. Iran sendiri merasa diuntungkan, sebab mendapat penghasilan untuk membiayai kebutuhan mereka (khususnya untuk biaya konflik dengan Irak). Sandiwara besar abad 20 ini akhirnya terkuak, baik Iran maupun Amerika menanggung malu. Lalu dengan entengnya Amerika mengorbankan Kolonel Oliver Stone sebagai tokoh yang bertanggung-jawab atas skandal memalukan itu.

[7]. Fakta besar yang tidak diragukan lagi, bahwa Iran memiliki reaktor nuklir yang dikembangkan untuk kebutuhan energi dan militer. Hal ini sudah tidak diragukan lagi. Berulang kali Amerika, Inggris, dan Sekutu mengancam akan menyerang Iran. Tetapi hal itu tidak pernah terjadi, bahkan tidak akan terjadi; karena mereka sebenarnya satu kepentingan. Bandingkan, ketika Amerika mengancam negara-negara Muslim Sunni, seperti Irak dan Afghanistan; sekali diancam, langsung dihajar, meskipun akibatnya ekonomi Amerika mesti ambruk.

[8]. Di Indonesia, posisi Syiah selalu dibela oleh tokoh-tokoh Liberalis, seperti Azyumardi Azra, Syafi’i Ma’arif, Dawam Rahardjo, Said Aqil Siradj, bahkan Amien Rais. Belakangan, Mahfud MD ikut-ikutan membela Syiah dan berlagak memojokkan kaum Sunni di Madura. Anda pasti paham mengapa tokoh-tokoh Liberal ini selalu melindungi Syiah? Ya, karena memang job description-nya, mereka harus membela Syiah.

[9]. Media cetak yang sangat giat membela Syiah sejak zaman Orde Baru adalah majalah Tempo. Media ini punya peran besar dalam mempromosikan citra positif Syiah di mata kaum Muslimin Indonesia; media ini benar-benar telah banyak menyesatkan opini rakyat Indonesia, seputar Syiah. Media ini sejak lama dikomandoi Goenawan Mohamad, salah seorang jurnalis yang sejak lama disinyalir sebagai kaki tangan Amerika di Indonesia.

[10]. Abdurrahman Wahid termasuk salah satu tokoh pro Zionis yang banyak mendukung dan membela Syiah. Dia berdalih, “Membela minoritas.” Tetapi pada saat yang sama, dia justru sangat anti dengan minoritas aktivis Islam, yang selalu menjadi bulan-bulanan politik Orde Baru dan Orde Reformasi. Katanya membela minoritas, tetapi kok malah acuh tak acuh dengan kezhaliman rezim terhadap para aktivis Islam yang sebenarnya minoritas itu? Wahid sama sekali tidak pernah membela keluarga korban Tanjung Priok, Talangsari Lampung, DOM Aceh, korban konflik Ambon, korban konflik Poso, korban pembantaian Sampit (Sambas), tahanan politik Muslim, bahkan tidak pernah membela tokoh-tokoh Petisi 50 yang notabene kalangan umum. Di zaman Orde Baru, Wahid menjadi bagian dari anggota MPR Fraksi Golkar, dan sangat mendukung kekejaman rezim terhadap para aktivis Islam. Nah, itulah sosok “dajjal kecil” yang sering dielu-elukan sebagai “pembela minoritas”. Di zaman Orde Baru, posisi Syiah selalu dalam pengawasan ketat; tetapi di era Wahid, atau tepatnya tahun 2001, berdirilah IJABI, ormas Syiah pertama di Indonesia. Ormas ini juga direstui si orang itu, sehingga di mata penganut Syiah, nama Wahid begitu harum.

[11]. Berulang kali kita saksikan bagaimana Said Aqil Siradj membela Syiah, melindungi Syiah, sembari tangan dan mulutnya terus-menerus menyerang kaum Wahabi. Tapi lucunya, Said Aqil ini tidak berani berhadap-hadapan dengan pengurus PWNU Jawa Timur, atau MUI Jawa Timur, atau MUI Madura yang jelas-jelas telah memfatwakan kesesatan Syiah. Pernah pengurus PWNU Jawa Timur datang ke kantor PBNU di Jakarta, untuk menyerahkan fatwa Syiah sesat yang telah mereka sepakati. Waktu itu mereka sudah siap audiens dengan pengurus PBNU, termasuk Si Sail Aqil. Sampai pertemuan selesai, Si Said tidak menemui para pengurus PWNU Jatim. Alasannya, “Lagi macet di jalan.” Inna lillahi wa inna ilaihi ra’jiun. Said, Said…orang sepertimu kok beralasan “jalanan macet”? Beberapa waktu lalu Said ini datang ke Amerika, berkunjung ke Bank Dunia. Disana dia diberikan komitmen dukungan dana unlimitted, untuk memerangi terorisme (yang nanti ujung-ujungnya tuduhan itu dia arahkan ke Wahabi; semoga Allah Ta’ala membinasakan manusia yang satu ini dan para loyalisnya karena kekejian fitnah mereka; amin Allahumma amin). Kalau kembali ke momen pemilihan Ketua PBNU di Makassar, pada tahun 2010. Seminggu sebelum pemilihan ketua, dua kandidat calon ketua PBNU dipanggil ke Cikeas untuk bertemu Pak Beye. Entahlah, apa yang dikatakan Beye dalam pertemuan itu. Pokoknya setelah itu Shalahuddin Wahid terlihat tidak semangat memperebutkan kursi Ketua PBNU. Dan akhirnya, Said Aqil Siradj ini yang terpilih sebagai Ketua PBNU. Dulu di masa kepemimpinan Wahid sebagai Presiden RI, Si Said ini amat sangat loyal; sehingga berkali-kali dia menyerang Amien Rais dengan perkataan kasar. Salah satunya, kurang lebih, “Itu warga NU di bawah, sedang mengasah golok.”

[12]. Di Indonesia berkali-kali terjadi kerusuhan bermotif isu agama. Salah satunya dalam isu Syiah, seperti peristiwa Sampang, Bangil (Pasuruhan), penusukan ustadz NU di Jember, dan lainnya. Tetapi SBY rata-rata tidak pernah bersuara tentang kerusuhan ini. Jika ada komentar, ia selalu memojokkan kalangan Sunni dan menguntungkan posisi Syiah; seperti dalam komentar terakhir dia soal kasus Sampang kemarin. Pertanyaannya, sebagai kepala negara, mengapa SBY tidak berusaha melindungi akidah mayoritas kaum Muslimin di Indonesia yang bermadzhab Ahlus Sunnah? Kok dia justru lebih peduli dengan kelompok minoritas Syiah? Ya, kita tahulah, siapa SBY…

[13]. Ketika merebak isu “war on terror” di dunia, Indonesia gegap gempita menyambut isu tersebut. Salah satu akibatnya, kesempatan beasiswa belajar di Saudi diawasi sangat ketat. Sejak proses seleksi, pemberangkatan, hingga kuota beasiswa itu, diawasi sedemikian rupa. Banyak pelajar yang sedianya ingin belajar agama, merasa kesulitan. Termasuk dalam urusan kerja, bisnis, dagang, dan lainnya. Tetapi sebaliknya, kerjasama beasiswa, kunjungan tokoh, serta dakwah dengan Iran justru semakin marak. Ribuan pelajar Indonesia saat ini lagi nyantri di Iran; nanti kalau pulang mereka akan mendakwahkan agama perbudakan manusia atas manusia yang lain (pada hakikatnya, setiap pribadi Syiah adalah budak dari imam-imam Syiah di Persia).

[14]. Sampai detik ini, Amerika tidak pernah menjadikan para aktivis Syiah sebagai sasaran “war on terror” sebagaimana mereka menjadikan kaum Wahabi sebagai sasaran itu. Padahal kalau melihat “kampanye verbal” dari para dai-dai Syiah, mereka TAMPAK sangat anti Amerika dan Zionis. Kalangan Wahabi yang hati-hati saat bicara tentang Amerika, tidak segan-segan diteroriskan; sedangkan aktivis Syiah yang sehari-hari dzikirnya menyerang Amerika dan Zionis (tentu saja, dengan menyerang para Shahabat dan isteri-isteri Nabi Radhiyallahu ‘Anhum), tidak pernah diapa-apakan. Coba lihat, dalam kasus Sampang kemarin, aktivis Syiah membuat ranjau dari bom ikan dan paku-paku; tetapi Densus 88 tidak pernah menyatroni rumah Tajul Muluk dan kawan-kawan.

[15]. Ketika sebagian aktivis Muslim melakukan latihan militer, untuk persiapan jihad ke Palestina, pasca terjadi Tragedi Ghaza 2008-2009 lalu; mereka segera ditangkapi dan diposisikan sebagai teroris. Tetapi terhadap aktivis Syiah yang melakukan latihan-latihan militer, tidak ada satu pun yang ditangkapi aparat. Bahkan ada yang bilang, mereka dilatih oleh instruktur baret merah. Jadi ini seperti lelucon yang terus diulang-ulang. Betapa sensitif aparat keamanan kepada para pemuda Sunni, ketika mereka ingin berjuang ke Palestina; tetapi tidak sensi sama sekali kepada aktivis-aktivis Syiah yang terus menyusun kekuatan milisi.

Singkat kata, eksistensi Syiah di Indonesia sangat sulit untuk ditertibkan (apalagi dibubarkan), karena ia memang dilindungi oleh kekuatan Barat, khususnya Amerika. Sebagaimana Barat membutuhkan paham Liberal untuk merusak ajaran Islam, mereka juga merasa sangat diuntungkan dengan eksistensi paham Syiah.

Siapapun yang memeluk akidah Syiah Rafidhah secara sadar dan mengerti; dapat dipastikan dia akan keluar dari Islam. Mengapa? Karena dalam akidah itu mereka meyakini Al Qur’an tidak murni lagi; hak Kekhalifahan Ali sebagai azas agama melebihi Tauhidullah; batalnya Syariat Islam, diganti syariat perkataan pribadi imam-imam Syiah (yang tidak bisa dibuktikan otentisitasnya); mereka mencaci-maki, menghina, menyerang pribadi isteri-isteri Nabi dan para Shahabat Radhiyallahu ‘Anhum; mereka mengkafirkan Abu Bakar dan Umar, menganggap keduanya sebagai thaghut dan kekal di neraka; mereka mengkafirkan Ahlus Sunnah, dan menghalalkan harta, darah, dan kehormatannya; mereka menghalalkan nikah Mut’ah yang telah diharamkan oleh Nabi dan para Shahabat; dan lain-lain keyakinan sesat.

Inti keyakinan Syiah Rafidhah, adalah kedurhakaan kepada Syariat Islam, mempertuhankan imam-imam, menjadikan dendam politik sebagai akidah tertinggi, mengkafirkan kaum Muslimin, menodai kehormatan para Shahabat yang dicintai oleh Al Musthafa Shallallah ‘Alaihi Wasallam; serta semua itu dibungkus di balik kamuflase “mencintai Ahlul Bait Nabi”. Masya Allah, laa haula wa laa quwwata illa billah. Ini adalah keyakinan kufur, sehingga siapa yang meyakini semua ini secara sadar; dia otomatis kufur. Tidak berbeda sama sekali antara seorang Muslim yang masuk Kristen, Hindu, Budha, dengan orang yang masuk Syiah Rafidhah (Imamiyah) ini.

Wahai Ahlus Sunnah…Anda harus sadar sesadar-sadarnya, bahwa tidak ada yang sanggup mengalahkan Anda, melemahkan Anda, atau meruntuhkan Anda. Karena Anda berdiri di atas Al Haq. Anda berdiri di atas Syariat Islam yang suci, Kitabullah dan Sunnah yang mulia, Akidah Tauhid yang kokoh; serta Anda berdiri di atas Keridhaan Allah Ar Rahman, insya Allah wa bi idznihi. Tidak ada yang sanggup mengalahkan Anda, siapapun diri mereka; apakah Amerika, Inggris, NATO, nuklir Iran, jamaah Syiah Rafidhah seluruh dunia, dan seterusnya. Karena kita (Ahlus Sunnah) ditolong oleh Ar Rahmaan, lantaran selalu berpegang kepada Kesucian Syariat Islam, serta memuliakan Ahlul Bait Nabi semurni-murninya, tanpa mengkultuskan dan menodai hak-hak Uluhiyah dan Rubbubiyyah Allah Ta’ala.

Pegang selalu kemurnian akidah Ahlus Sunnah, dan jangan dilepaskan karena alasan apapun. Sekalipun kita mati, biarlah mati di bawah naungan bendera SUNNAH NABI Shallallah ‘Alaihi Wasallam. Jangan pernah lepaskan akidah ini, wahai Ahlus Sunnah. Karena akidah inilah yang akan menjadikan Islam tetap eksis di muka bumi; karena akidah inilah yang akan menjadikan Syariat Islam yang suci tetap terpelihara; karena akidah inilah yang akan menyatukan kita dengan barisan Sayyidul Mursalin, isteri-isteri Nabi, para Khulafaur Rasyidin, para Shahabat, serta imam-imam Ahlus Sunnah sepanjang masa, hingga hari ini.

Jangan pernah dilepaskan, wahai Saudaraku. Bahkan bercita-citalah kalian untuk mati dalam rangka membela BENDERA RASULULLAH sampai titik darah terakhir! Adapun terhadap omongan eli-elit politik sesat, serta bajingan-bajingan moral, abaikan saja. Semua itu tak akan memberi madharat sedikit pun kepada Allah yang Maha Suci. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamiin.

Tatar Pasundan, 2 September 2012. Minal faqir ila rahmati Rabbi,

AM. Waskito.


Mengapa Mereka Menghujat Islam?

Februari 2, 2010

Setelah Abdurrahman Wahid meninggal, komunitas AKKBB membuat manuver-manuver. Mereka seperti panik karena baru kehilangan dedengkot kesesatan nomer wahid. Manuver paling baru AKKBB, mereka hendak menggugat UU penistaan agama yang sudah berlaku sejak tahun 1965. Kata mereka, UU itu bertentangan dengan Konstitusi, khususnya pasal 28 tentang kebebasan berpendapat. Mereka menuntut UU penistaan agama itu dicabut.

Di jaman ketika kondisi kehidupan masyarakat sedang sumpek (ruwet) seperti ini, adalah logis jika bangsa Indonesia menata kembali moralitasnya. Hal itu pula yang dilakukan Presiden Rusia, Vladimir Putin, dengan membangkitkan semanagat religius rakyatnya. Di Rusia ada gelombang kegairahan baru di kalangan generasi muda disana untuk mendatangi gereja-gereja. Pemerintah Jerman pun telah memasukkan kurikulum pelajaran agama ke sekolah-sekolah umum di Jerman. Pelajaran agama Islam sedang dikaji untuk diberikan kepada putra-putri Muslim di Jerman. Eropa dalam dekade-dekade terakhir sudah menyadari pentingnya nilai-nilai agama untuk mengatasi krisis demografi yang sangat parah disana. Pangeran Charles di Inggris, pemuka agama, serta otoritas moneter Inggris, mereka bersikap simpatik terhadap nilai-nilai Syariat Islam. Bahkan Inggris ingin menjadi gerbang ekonomi Syariah terbesar di Eropa. Sementara Pemerintah Yahudi Israel sejak lama meyakini bahwa eksistensi negara mereka sangat bergantung kepada pengajaran nilai-nilai Yudaisme kepada generasi muda Israel.

Menata moral sangat dibutuhkan, agar bangsa ini selamat dalam menghadapi segala turbulensi (guncangan) kehidupan seperti saat ini. Maka itu di jaman Orde Baru dulu, Pemerintah Soeharto memasukkan prinsip “Beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa” sebagai prinsip pembangunan dalam GBHN. Ya bagaimana lagi cara kita akan bangkit, kalau tidak kembali ke dasar moralitas kita sebagai bangsa religius? Bangsa manapun yang mengalami keterpurukan, asti akan membangun moralnya, sebagai landasan membangun kebangkitan.

Namun dari pengalaman selama 10 tahun terakhir, kita menyaksikan betapa derasnya arus penghujatan agama. Herannya, yang menjadi sasaran utama penghujatan ini adalah ISLAM. Agama-agama lain seolah selamat dari segala kasus penghujatan, hanya Islam yang menjadi sasaran utama. Lebih mengherankan lagi, yang menghujat Islam bukanlah orientalis, komunis, atau orang-orang non Muslim. Para penghujat Islam itu justru dari kalangan kyai, cendekiawan Muslim, tokoh ormas, dosen IAIN (UIN), guru besar perguruan tinggi Islam, mahasiswa IAIN, dan sejenisnya. Rupanya, para penghujat itu memerlukan simbol-simbol Islam sebagai KENDARAAN untuk menyerang Islam itu sendiri. Persis seperti Snouck Hurgronje.

Disini kita ambil beberapa contoh kasus penghujatan Islam, antara lain:

[o] Ulil Absar Abdala dengan tulisannya di Kompas, Menyegarkan Kembali Pemahaman Keagamaan. Tulisan ini jelas melecehkan ajaran-ajaran Islam.

[o] Ucapan Abdurrahman Wahid dalam wawancara dengan Radio Utan Kayu, “Menurut saya kitab suci yang paling porno adalah Al Qur’an. Ha ha ha..”

[o] Ucapan Dawam Rahardjo yang mendesak, jika Ummat Islam sulit diatur, agar Islam dilarang saja di Indonesia.

[o] Buku karya Sumanto Al Qurthubi, berjudul Lubang Hitam Agama.

[o] Karya tulis mahasiswa UIN Yogya, Menggugat Otentesitas Wahyu. Isinya sangat melecehkan kesucian Al Qur’an.

[o] Fatwa Musdah Mulia yang mengklaim bahwa Islam memperbolehkan homoseksual dan lesbian. (Maka itu Musdah bisa disebut sebagai “pakar homoseks dan lesbian”).

[o] Seruan pembubaran MUI dan Departemen Agama.

[o] Gerakan menentang UU Sisdiknas yang memasukkan materi keagamaan dalam pendidikan umum.

[o] Kampanye menentang legalisasi RUU Anti Pornografi-Pornoaksi yang sebenarnya ditujukan untuk melindungi moralitas masyarakat.

Bagaimana Ummat Islam di Indonesia akan hidup tenang dengan segala hujatan-hujaran seperti di atas? Semua itu sama saja dengan upaya menghancurkan sendi-sendi Islam dari dasar-dasarnya.

Anehnya, para penghujat itu tetap dikenal sebagai tokoh Islam, panutan Ummat, kyai haji, cendekiawan Muslim, aktivis Islam, dan sebagainya. Padahal pernyataan mereka –menurut hukum fiqih- mengandung konsekuensi kemurtadan. Tetapi media-media massa tidak peduli dengan semua itu. Media-media massa terus menjadi corong publikasi penghujatan-penghujatan tersebut. Kompas, Media Indonesia, Tempo, media-media TV, sering menjadi corong praktik penghujatan. Selain tentu saja media-media yang mereka kelola sendiri.

Sebuah pertanyaan mendasar: “Mengapa mereka bergerak secara sistematik menghujat Islam?”

Kalau mengikuti pernyataan-pernyataan di situs JIL, mereka melakukan gerakan LIBERALISASI (baca: menghancurkan konsep Islam dari dasar-dasarnya) dengan niatan antara lain: (1) Melawan pemahaman-pemahaman fundamentalis Islam yang merebak di masyarakat; (2) Mendukung kehidupan demokratis; (3) Mempertahankan Indonesia sebagai negara yang multi kultural/majemuk.

Tapi Anda jangan cepat percaya dengan omong kosong orang-orang JIL itu. Mereka hanyalah kaum pendusta, yang hidup meminum kedustaan, dari waktu ke waktu, dari generasi ke generasi. Untuk membantah pernyataan-pernyataan JIL tersebut, disini ada beberapa argumentasi yang bisa disebutkan, yaitu:

[a] JIL hanya menjadikan Islam fundamentalis sebagai sasaran, sementara mereka tidak pernah sama sekali bicara tentang Nashrani fundamentalis, Freemasonry fundamentalis, Zionis fundamentalis, Kapitalis fundamentalis, atau Liberal fundamentalis. Jadi yang dilawan JIL hanya Islam fundamentalis, sedangkan komunitas-komunitas fundamentalis lainnya tidak disentuh sama sekali.

[b] Jika memang JIL melawan Islam fundamentalis, mengapa sasaran mereka adalah dasar-dasar ajaran Islam itu sendiri? Mereka mengklaim bahwa Al Qur’an perlu diedit lagi, atau hadits Nabi dianggap tidak relevan dengan jaman modern. Dengan hujatan seperti itu, semua pemeluk Islam, bukan hanya Islam fundamentalis, kena semua. Bahkan anak-anak kecil yang belajar IQRA’ juga kena hujatan itu.

[c] Kalau JIL dan kawan-kawan memang demokratis tulen, mengapa mereka menyerang pemahaman Ummat Islam? Bukankah demokrasi itu identik dengan menghargai pendapat orang lain? Apa artinya demokrasi, kalau sebagian orang diperbolehkan menghujat keyakinan sebagian yang lainnya? Sangat jelas sekali, agressi JIL dan kawan-kawan terhadap Islam, benar-benar bertentangan dengan semangat demokrasi itu sendiri.

[d] JIL mengklaim sangat mendukung kehidupan multi kultural. Mereka membawa slogan “Bhineka Tunggal Ika” kemana-mana. Tetapi sikap JIL sangat memusuhi dasar-dasar pemahaman Islam. Ini jelas bukti kuat, bahwa mereka sangat tidak menghargai realitas multi kultural. Bahkan mereka terus memicu konflik di tengah-tengah masyarakat. Provokasi AKKBB dalam kejadian Insiden Monas 1 Juni 2008 adalah bukti besar, bahwa mereka menyuburkan konflik.

[e] Nah, ini fakta besar yang sulit dilupakan. Jika JIL sangat menghujat nilai-nilai Islam, maka perhatikanlah dengan sangat cermat, bahwa mereka TIDAK PERNAH SEKALIPUN MENGHUJAT AGENDA NEO LIBERALISME di Indonesia. Orang-orang JIL itu kerjanya hanya menghujati konsep-konsep Islam, tetapi mereka tidak pernah menghujat usaha-usaha pengerukan kekayaan nasional oleh kekuatan-kekuatan asing dan pengusaha-pengusaha kapitalis.

Perlu dicatat dengan jelas, orang-orang JIL dan sejenisnya, mereka sama sekali tidak peduli dengan gelombang Neo-Liberalisme yang melanda Indonesia. Dalam Pemilu 2009 lalu, mereka mendukung pasangan SBY-Boediono. Padahal kalau mau jujur, masalah Neo Liberalisme ini adalah bahaya besar yang mengancam seluruh bangsa Indonesia. Mengapa JIL dan kawan-kawan malah menghujat Al Qur’an, menghujat Sunnah Nabi, menghujat hukum Islam, menghalalkan homseksual-lesbian, menghujat MUI, mendukung pornografi-pornoaksi, dan lain-lain?

Disini kita bisa menarik BENANG MERAH. Hujatan-hujatan JIL, AKKBB, Abdurrahman Wahid, Ulil Absar, Luthfi Syaukani, Musdah Mulia, dll. bukanlah gerakan yang berdiri sendiri. Itu sangat terkait dengan missi lain, yaitu KOLONIALISME BARU. Ketika Ummat Islam sedang sibuk menghadapi JIL dan kawan-kawan, pada saat yang sama, gelombang eksploitasi kekayaan nasional oleh tangan-tangan asing dan kaum kapitalis berjalan intensif.

JIL menempati posisi menyibukkan kaum Muslimin, khususnya Islam fundamentalis, sementara gerakan eksploitasi ekonomi dimainkan dengan sangat kencang oleh perusahaan-perusahaan asing dan jaringan mereka. Sebagi upahnya, JIL dan kawan-kawan diberi bantuan dana oleh lembaga seperti Ford Foundation, Asia Foundation, Libforall, dan kawan-kawan. Mereka mendapat upah sedikit dengan cara mengorbankan kehidupan masyarakat luas dan anak-cucunya.

Untuk ke depan, kita jangan berbasa-basi lagi menghadapi kawanan JIL ini. Mereka adalah sekeji-kejinya manusia, karena rela menjual bangsanya demi keuntungan sedikit. Mereka menjadi kanker mematikan di dalam tubuh Ummat Islam, untuk mematikan semangat militansi dalam menghadapi kolonialisme baru.

Tawarkan kepada JIL beberapa tantangan. Satu, ajak mereka berdebat terbuka, disaksikan oleh masyarakat umum. Dua, ajak mereka mubahalah, perang doa, agar Allah melaknati siapa yang terbukti berdusta. Tiga, ajak mereka berhenti dari segala pengkhianatan, atas nama Islam, atas nama semangat kebangsaan. Jika tidak mau berhenti, doakan mereka agar celaka, binasa, beserta keluarga dan anak-keturunannya. Empat, adukan hujatan-hujatan mereka terhadap Islam, kepada kepolisian. Jika menyangkut perdata, tuntut mereka setinggi-tingginya, agar binasa dalam kemiskinan. Lima, sadarkan masyarakat luas, bahwa siapapun yang merusak tatanan moral, mereka adalah agen-agen Neolib. Enam, lakukan upaya-upaya pembelaan yang memungkinkan, demi menjaga eksistensi Islam.

Semoga bermanfaat. Amin ya Karim.

AMW.


Seorang Tokoh Meninggal…

Desember 31, 2009

Sore kemarin saya ikuti berita di TV, “Suara Anda”. Tapi lucu juga. Pertama-tama, TV itu salah menempatkan berita. Tertulis di teks pilihan berita soal buku “Gurita Cikeas”. Tapi tayangan yang muncul, tentang Kejaksaan mau banding kasus Prita.

Kelucuan kedua, belum juga acara “Suara Anda” dilanjutkan, presenter “disela” oleh telepon dari belakang (pengarah acara). Katanya, kondisi Abdurrahman Wahid di RSCM kritis. Perhatian tiba-tiba diarahkan ke topik “Gus Dur” ini. Maka semua skema berita pada “Suara Anda” itu langsung diganti “Breaking News”. Waktu saya ganti channel ke TV lain, disana sudah dikhabarkan dengan status “wafat”.

Begitu tergopoh-gopohnya media massa, sampai seperti kehilangan kontrol. Semua agenda yang mau diberitakan mendadak diganti. Bahkan “pemukulan George Aditjondro” kepada Ramadhan Pohan sampai dilupakan. Mungkin George “Gurita Cikeas” Aditjondro saat ini lagi bersyukur berkali-kali. “Syukur, syukur, syukur ada berita lain… Jadi orang-orang lupa dengan ‘jurus sabet buku’ yang kemarin baru saya peragakan.” Mungkin begitu ‘kali kata hati George.

Oh ya, kembali ke topik Abdurrahman Wahid alias Gus Dur. Media-media massa seperti merasa sangat terpukul dengan meninggalnya tokoh satu ini. Mereka sebut Gus Dur sebagai tokoh yang gigih memperjuangkan prinsip Egaliter, Humanis, Pluralis.  Maka berbagai ungkap duka nestapa segera tumpah, mengantar kematian Gus Dur. Media-media massa berdatangan ke Jombang. Pesantren Tebu Ireng seketika menjadi perhatian luas, setelah sebelumnya kampung Ponari di Jombang menjadi perhatian juga.

Lalu, siapakah Gus Dur ini? Mengapa bangsa Indonesia harus berduka karena kepergiannya?

Helmi Faisal, menantu Gus Dur sekaligus pejabat Menteri Pemberdayaan Daerah Tertinggal (atau apa ya tepatnya?), berkali-kali mengatakan, bahwa: “Gus Dur adalah manusia besar.”

Apa yang dikatakan Helmi itu bukan isapan jempol. Gus Dur memang tokoh besar. Betapa tidak, dia pernah menjadi Ketua PBNU selama puluhan tahun. Juga pernah menjadi Ketua Dewan Syura PKB, juga pernah menjadi Presiden RI. Memang, dia adalah orang besar. Tidak bisa dipungkiri lagi.

Sumber foto: http://akhdian.net/

Hanya mungkin persoalannya, “Besar dilihat dari kepentingan siapa?” Kalau dari kepentingan Ummat Islam di Indonesia, wah sangat keliru menyebut Gus Dur sebagai orang besar. Gus Dur itu hampir tidak memiliki kontribusi berarti bagi kemajuan kehidupan kaum Muslimin Indonesia. Jika jasanya diakui, paling di kalangan NU. Bukan di mata Ummat Islam Indonesia secara keseluruhan.

Tapi kan Gus Dur ini tokoh demokrasi?

Iya, seorang demokrat yang aneh. Katanya demokrat, tapi mengingkari kenyataan bahwa mayoritas rakyat Indonesia adalah Muslim. Demokrasi itu pasti menghargai suara mayoritas. Di Italia, German, Inggris, Perancis, dan sebagainya suara mayoritas Katholik/Kristen/Aglikan diakui kok. Tapi di Indonesia, dimarginalkan.

Tapi kan Gus Dur tokoh humanis?

Kalau humanis sejati, tentu tidak akan mengabaikan nasib ratusan juta Muslim Indonesia. Mereka manusia juga kan? Masak yang disebut manusia hanya orang-orang minoritas saja?

Gus Dur itu sangat hebat peranannya di forum-forum diskusi, di kalangan LSM, partai politik, pengusaha keturunan China, komunitas gereja, dll. Mana pernah Gus Dur turun ke gang-gang sempit di perumahan-perumahan kumuh, di rumah-rumah tikus di bantaran kali Ciliwung, di pasar-pasar tradisional di desa-desa, masuk ke pelosok-pelosok kampung, dll.

Kalau humanis sejati, dia tidak akan lepas hidupnya dari mengurusi orang-orang miskin. Contoh, Madame Theresia di India, selain sebagai penginjil, dia juga dekat rakyat miskin di India. Atau seperti Lady Di, dia turun langsung ke daerah-daerah yang banyak konflik, mengkampanyekan perang anti ranjau.

Ya, kalau gaulnya sama wartawan melulu, itu sih bukan humanis sejati. Tapi humanis “on air”.

Tapi kan Gus Dur itu pembela hak-hak minoritas?

OK, kita tanya, pembela apa dia? Apa dia membela minoritas etnis Madura yang dibantai di Sampit dan Sambas? Apa dia membela pemuda-pemuda Tanjung Priok yang dibantai militer tahun 1984? Apa dia pembela ratusan ribu korban DOM di Aceh? Apa dia pembela kaum gelandangan, pengemis, pengamen, WTS, dan sebagainya? Apa dia pembela petani, nelayan, pedagang pasar yang usaha mereka menjadi mainan para kapitalis?

Dia menjadi pembela minoritas, hanya dalam isu, opini, atau wacana saja. Pendek kata, yang berhubungan dengan media massa lah. Kalau tidak ada ekspose media massa, sepertinya dia tidak bisa berbuat banyak. Antara Gus Dur dan media massa itu seperti hubungan antara ikan dan air; keduanya saling membutuhkan.

Tapi bagaimanapun dia kan tokoh Muslim, kyai haji lagi?

Ya, di jaman sekarang sih, kalau mau menjadi “orang besar”, tergantung bagaimana peran media massa. Kalau media ekspose seseorang besar-besaran, dalam sebulan dia bisa menjadi tokoh besar. Kalau media memboikot seseorang, jangan harap akan menjadi tokoh besar. Besar atau kecilnya tokoh Indonesia saat ini, bukan karena kualitas dirinya atau sumbangan-sumbangan pemikiran dan ilmunya, tetapi karena popularitas dia di mata media massa. Itu saja kuncinya.

Secara jujur, Gus Dur itu memang pintar. Kalau tidak pintar, mustahil dia akan diangkat menjadi sebuah “maskot”. Tetapi kepintaran Gus Dur tidak berarti kalau dibandingkan peranan media massa yang membesarkan dirinya. Dari keluarga KH. Hasyim Asyari dan anak-cucunya, bukan hanya ada Gus Dur, tapi ada banyak orang lainnya. Tapi kan yang “mencorong” hanya tokoh satu ini. Sekali lagi, media massa telah membesarkan dia, sehingga menjadi tokoh besar, karena popularitas yang melimpah-ruah.

Sebuah fakta yang sangat unik. Menurut informasi media, jam 16.30 SBY datang ke RSCM menjenguk Gus Dur. Jam 16.45, dia meninggal. Maka vivanews.com menulis berita: Gus Dur Meninggal di Depan SBY.

Fakta yang unik juga. Gus Dur meninggal menjelang tutup tahun 2009. Menjelang tahun baru 2010. Ini jelas “menyulitkan” posisi orang-orang. Mereka mau seneng-seneng, ada orang meninggal. Tidak seneng-seneng, masak harus menunggu setahun lagi? Begitu deh.

Yang mau sedih, silakan sedih. Tapi saya menghimbau Ummat Islam, agar tidak terbawa kepada irama emosi yang dimainkan media-media massa. Ya, Anda tahu sendirilah. Media massa kan seperti itu. Mereka bekerja untuk suatu kepentingan; sedangkan posisi kepentingan itu dengan missi Islam, terpisah jauh.

Nabi Saw pernah mengatakan kepada seseorang yang mengaku mencintai Allah dan Rasul-Nya, beliau mengatakan, “Innaka ma’a man ahbabta” (engkau akan bersama orang yang engkau cintai).

Maka berhati-hatilah dalam mencintai. Cintailah orang yang benar, yaitu pribadi Muslim yang shalih, alim, berakhlak mulia, dan muttaqin. Jangan mencintai orang yang salah, sekalipun dia -misalnya- dikenal sebagai tokoh pejuang egalitarian, humanis, pluralis. (Apalagi prinsip-prinsip egaliter, humanis, pluralis itu mengingatkan kita kepada slogan-slogan yang banyak dipakai Freemasonry).

Selamat jalan wahai tokoh… Pengadilan kubur telah menanti di depan! Semoga engkau diberi balasan, sesuai amal-amalmu! Amin.

AMW.