MODUS Abraham Samad…

Mei 24, 2014

Seperti biasa, Abraham Samad Cs, berulah kembali. Mereka memainkan instrumen KPK untuk bermain politik. Bajunya para “penegak hukum”, tapi hatinya pemain politik.

Menjelang Pilpres diadakan, Abraham Cs, menetapkan pendukung Prabowo-Hatta, Suryadarma Ali sebagai tersangka korupsi di Departemen Agama RI. Katanya, kasus ini sudah beredar sejak bulan Januari, tapi “dipetik” oleh Samad Cs menjelang Pilpres.

Mungkin gak masalah ya “memetik” kasus saat kapan saja. Tapi masalahnya, bagaimana dengan keterlibatan JOKOWI dalam kasus korupsi pembelian bus Transjakarta? Apa Jokowi tidak terlibat di sana? Penggunaan dana triliunan, masak gak terlibat sih?

"Penegak Hukum atau Politisi?"

“Penegak Hukum atau Politisi?”

Sama juga soal Bank Century. Waktu awal memimpin KPK Samad janji, kasus Century kelar dalam waktu satu tahun. Satu tahun saudara. Tapi sampai kini gak kelar-kelar? Kenapa tuh Mad? Kendala hukum atau kendala politik? Aneh.

Jadi intinya, masalah korupsi di Indonesia ini bisa ditangani “sesuai kebutuhan politik”. Gak percaya? Coba ingat kasus LHI! Bagaimana hasil persidangan LHI saat ini? Apakah dia terbukti berbuat korupsi? Apakah ada uang negara dikorupsi? Gak ada. Malah sebenarnya itu masih statusnya “akan berbuat”, bukan “telah terbukti”. Orang-orang KPK stress memikirkan bukti materiil kasus LHI itu. Tapi dampaknya, kasus itu telah “membunuh” PKS dengan kejam. Beginilah modus Samad Cs.

Soal keterlibatan SDA dalam korupsi di Departemen Agama. Kami yakin SDA tidak terlibat korupsi di situ. Alasannya gini: SDA selama ini dikenal sebagai birokrat yang cukup bersih. Lagi pula dia Ketua PPP, masak berani sih lakukan korupsi? Dalam amatan kami, kasus yang dibawa Samad Cs ini semacam kasus “inefisiensi di PLN” yang melibatkan Dahlan Iskan itu lho. Negara dirugikan karena adanya pemborosan penggunaan uang, bukan maksud korupsi. Coba saja ingat, para pejabat SBY berulang-ulang membela Sri Mulyani dan Boediono dengan alasan: “Salah kebijakan tidak bisa dikriminalisasikan”. Harusnya KPK berbuat yang sama dalam melihat kasus inefisiensi di tubuh Departemen Agama.

Tapi kalo nafsunya sudah politik, ya apapun kenyataan bisa digoreng sesuka hati…

Ya tinggal memanfaatkan media-media aneh, seperti MetroTV, Media Indonesia, Kompas, Detik.com, Tempo, dan sejenisnya. Ya gampanglah, mereka kan biasa memainkan nada “korupsitainment”. Gak ada niat baik berantas korupsi sesungguh-sungguhnya.

Kalau KPK dan Samad Cs gentle, kalau gentle ya, harusnya mereka membidik para konglomerat China pendukung Jokowi itu. Tanyakan ke mereka soal dana BLBI 500-600 triliun yang mereka bawa kabur ke luar negeri. Harusnya Samad Cs main kesana, bukan nyari-nyari kasus untuk melakukan “tembakan politik”.

Kita masih ingat kasus SPRINDIK Anas yang beredar secara liar, sebelum Anas ditetapkan sebagai tersangka. Waktu itu kan Samad dianggap bersalah soal beredarnya SPRINDIK itu. Lalu penyidik meminta untuk membuka pesawat Blackberry milik dia. Ternyata dia gak mau memberikan? Aneh, dia suka menyadap komunikasi orang; tapi giliran alat komunikasi dia sendiri tak boleh disentuh aparat. Lagian kenapa gak dipaksa saja ya? Kenapa harus minta izin dulu? Wong petugas KPK itu sering kok blusukan ke rumah orang, tanpa permisi dulu.

Orang-orang semacam Samad Cs itu kayaknya perlu didoakan agar lurus jalannya; tidak berdusta; tidak berkhianat; tidak menjual murah keadilan dan pemberantasan korupsi. Kalau tidak mau jalan lurus, semoga Allah SWT benamkan mereka dalam kehancuran mendasar karena telah mengkhianati amanat kebenaran dan kehidupan rakyat.

Kami yakin SDA tidak bersalah. Tapi seandainya dia benar-benar bersalah…seharusnya Abraham Samad Cs bersikap adil dengan menetapkan Jokowi sebagai tersangka dalam kasus Bus Transjakarta dan aneka kasus korupsi di Solo.

Kamu bisa jujur Mad…?

(Abah).


10 Fakta Kelicikan KPK. Ayo Kritis Bro!

Januari 12, 2014

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Tahu tidak, setiap ada suara-suara kritis yang mengkritik KPK, selalu saja muncul pembelaan-pembelaan naif, seperti: “Mereka ingin melemahkan KPK. Mereka pro koruptor, tidak mendukung pemberantasan korupsi. Mereka tidak mau Indonesia bebas korupsi.” Dan omongan-omongan sejenis.

KPK memang lembaga anti korupsi; tapi isinya kan manusia-manusia juga yang tidak suci dari dosa dan hawa nafsu. Siapa menjamin bahwa sistem KPK dan orang-orangnya suci dan bebas dari dosa?

Satu fakta yang layak diangkat sebagai permulaan. KPK sudah berdiri sejak tahun 2003, di era Megawati. Berarti lembaga ini sudah 10 tahun eksis di negeri ini. Setelah sekian lama, apakah negeri kita jadi bebas korupsi? Apakah kehidupan kita jadi makmur, jadi sejahtera, jadi adil dan penuh sentosa? Ya tahu sendirilah.

Kalau memang KPK sangat sukses dalam pemberantasan korupsi, harusnya kehidupan kita semua ini berubah drastis; dari kemiskinan menjadi kemakmuran, dari pungli berubah menjadi administrasi yang rapi, dari skandal-skandal keuangan menjadi keberhasilan proyek-proyek pembangunan, dari kesemrawutan tatanan sosial menjadi kerapian dan disiplin. Di China itu tak ada lembaga semodel KPK, tapi mereka serius berantas korupsi, sehingga dampaknya besar bagi kehidupan rakyat China. Di kita ini, banyak omong, tapi hasil cuma secuil.

Cuma orang-orang bodoh yang percaya bahwa pemberantasan korupsi di Indonesia bergantung eksistensi KPK. Cuma orang bodoh yang mau percaya hal itu. Ketahuilah, KPK itu hanya SEMACAM AKUARIUM, sekedar untuk memberitahu bangsa Indonesia bahwa di negeri ini sudah berlangsung pemberantasan korupsi. Padahal hasilnya sangat jauh dari harapan. Kalau KPK benar-benar gentle, harusnya bisa memberantas pengerukan kekayaan nasional oleh tangan-tangan asing.

Lembaga KPK ini kan sangat didukung oleh Amerika, agar menjadi semacam AKUARIUM tadi. Biar rakyat Indonesia tahu kalau di negeri ini ada pemberantasan korupsi. Biar tahu saja. Adapun soal keseriusan memberantas korupsi dan hasil nyatanya, itu masalah lain. Kita ini jadi semacam dikasih AKUARIUM DOANG, biar tidak bertanya-tanya soal lautan dan samudra.

“Ini nih, di akuarium ini sudah ada lautan dan samudra. Di lautan ada ikan dan karang, disini juga ada. Di lautan airnya biru, akuarium ini airnya juga biru. Sama kok, gak ada bedanya!” Begitulah logikanya.

Omong kosong klaim yang mengatakan bahwa KPK bisa memberantas korupsi di Indonesia. Itu hanya seperti logika, memindahkan pasir di truk dengan sendok. Apa bisa pasir di truk dipindahkan pakai sendok?

Bukan berarti kami anti pemberantasan korupsi, tapi kami anti dengan sandiwara busuk atas nama pemberantasan korupsi. Kalau serius berantas korupsi, jangan berlagak seperti selebritis atau pemandu sorak acara-acara infotainment. Harus sungguh-sungguh, massif, dan konsisten. Kalau orientasinya “asal jadi berita media” ya akhirnya jadi KORUPSITAINMENT, bukan kesungguhan memberantas korupsi itu sendiri.

Berikut adalah sebagian fakta kelicikan lembaha KPK:

[1]. Mereka tidak serius untuk membela posisi hukum mantan Ketua KPK Antasari Azhar. Kita tahu, bahwa di balik kasus Antasari Azhar itu terdapat banyak kecurangan hukum yang menimpa Antasari. Keluarga Nasaruddin yang semula membenci Antasari akhirnya sadar bahwa Antasari bukan pelaku pembunuhan keluarga mereka. Mengapa KPK harus ikut bertanggung-jawab terhadap masalah ini? Karena Antasari Azhar ditetapkan sebagai tersangka ketika sedang menjabat Ketua KPK. Artinya, lembaga KPK ikut bertanggung-jawab atas nasibnya. Antasari tidak boleh dilupakan. Mungkin orang akan berdalih: “Itu kan bukan masalah korupsi. Kami tidak berhak masuk kesana.” Ini alasan naif. Yang terjadi pada kasus Antasari adalah korupsi hukum; itu lebih hebat ketimbang korupsi uang (kekayaan). Selama ini tidak ada komitmen dari Ketua KPK yang mana saja terhadap nasib Antasari; padahal dia dijebloskan ke penjara saat menjabat Ketua KPK.

[2]. Masih ingat kasus Bibit Samad dan Chandra Hamzah soal “Kriminalisasi Ketua KPK”? Waktu itu kedua Ketua KPK itu mengungkapkan bukti rekaman percakapan antara terdakwa korupsi dengan aparat hukum, yang intinya ada kesengajaan untuk menjebloskan kedua Ketua KPK ke tuduhan kriminal. Rekaman disebar di media dan online. Tapi masalahnya, secara prosedur kasus kedua Ketua KPK sudah masuk tahap penyidangan (P21). Tuduhan aparat melakukan kriminalisasi dijawab begini: “Mari kita buktikan, ada tidaknya kriminalisasi lewat mekanisme hukum!” Ternyata kedua ketua tersebut tidak mau. Keduanya memilih memainkan pengaruh media untuk melawan proses hukum. Akhirya SBY menurunkan tim pencari fakta untuk menengahi masalah; sampai akhirnya kedua Ketua KPK dinyatakan bebas lewat mekanisme Deponering. Ini kan sangat aneh, ketua lembaga hukum tidak mau menjalani proses hukum.

[3]. Dari berbagai kasus yang ditangani KPK banyak pelaku korupsi yang ditetapkan sebagai tersangka, setelah ditemukan bukti rekaman percakapan yang mengindikasikan tindak korupsi. Persoalannya, semua orang yang ditetapkan sebagai tersangka itu kan rata-rata orang di luar tubuh KPK. Pernahkah ada rekaman percakapan antara pejabat-pejabat KPK dengan orang lain, lalu rekaman itu bisa dilihat oleh pihak lain. Jadi bukan hanya pihak KPK saja yang bisa memantau data dari mesin perekam tersebut. Tetapi kan aksesnya sampai saat ini tidak ada. Kalau KPK intens mengawasi orang lain; diperlukan juga KPK diawasi oleh pihak lain yang independen, agar lembaga ini tidak dipakai sebagai “alat pemukul politik”.

[4]. Ketika baru menjabat sebagai Ketua KPK, Abraham Samad berjanji, kasus Skandal Century akan diselesaikan dalam waktu SATU TAHUN. Tanggal 16 Desember 2011 dia dilantik di Istana Presiden, saat ini sudah dua tahun lebih, tetapi kasus Skandal Century belum kelar-kelar juga. Padahal bukti-bukti dan fakta sangat banyak. Dokumen-dokumen seputar Skandal Century itu sangat banyak sehingga harus diangkut memakai troli.

[5]. Dalam kasus beredarnya Sprindik soal penetapan Anas sebagai tersangka kasus Hambalang, pada 9 Februari 2013. Akibat kecerobohan itu Ketua KPK Abraham Samad diajukan ke sidang kode etik internal KPK. Singkat kata, dia dipersalahkan dengan sanksi sangat ringan. Harusnya kalau ketua lembaga anti korupsi mulai bermain-main cara kotor, Abdullah Hehamahua Cs jangan memberi sanksi ringan, tapi harus tegas. Kalau perlu dipecat, atau dijebloskan ke kasus pidana. Mengapa demikian? Kalau tidak tegas, nanti jabatan Ketua KPK itu bisa dipakai untuk “segala keperluan” di luar pemberantasan korupsi. Tapi yang sangat memalukan dan licik adalah: Abraham Samad saat itu menolak pesawat Blackberry-nya disita lalu dibongkar isinya! Nah, itu dia masalahnya. Sangat licik.

[6]. Dalam melaksanakan fungsinya KPK sering memakai cara-cara kotor, yaitu pembunuhan karakter terhadap calon-calon korbannya. Seharusnya, kalau menegakkan hukum ya hukum saja; harus dingin, presisi, tanpa emosi, tanpa membangun opini yang menyudutkan privasi para tersangka. Dalam kasus Al Amin Nasution, KPK menyebarkan rekaman percakapan Al Amin yang tertarik dengan cewek “berbaju putih”. Padahal soal cewek baju putih itu tak ada kaitannya dengan proses hukum. Itu masalah privasi Al Amin Nasution. Begitu juga dalam kasus Luthfi Hasan, KPK sengaja mem-blejeti Luthfi lewat seorang cewek muda yang bernama Darin Mumtazah. Lebih parah lagi tentang Ahmad Fathonah, KPK seperti mengaduk-aduk rumah-tangga orang itu. Bayangkan saja, dalam pengakuan KPK, mereka sudah mengikuti gerak-gerik Ahmad Fathonah, termasuk ketika yang bersangkutan masuk hotel. Kalau memang mereka serius menegakkan hukum, bukan mau membuat KORUPSITAINMENT, harusnya dia sudah menangkap Fathonah sebelum masuk hotel. Toh, berdasar data-data yang ada, Fathonah sudah akan disergap. Pertanyaan? Kenapa petugas KPK mesti menunggu yang bersangkutan “main congklak” dulu di kamar hotel? Ya kan tujuannya jelas, biar kasusnya heboh seheboh-hebohnya; nanti setelah itu Johan Budi akan bisa berpuas-puas nampang di depan media, sebagai “The Prince of KPK”.

[7]. Pejabat-pejabat KPK sangat doyan masuk ke acara Indonesia Lawyers Club (tadinya JLC). Acara itu kan disettiing oleh TVOne dan Karni Ilyas; keduanya tidak mewakili lembaga negara. Mereka itu media swasta yang pasti punya kepentingan dan cara-cara tertentu yang mereka lakukan. Kalau yang mengadakan acara adalah TVRI, okelah tak masalah. Tapi ini kan TVOne yang notabene pro Golkar (Aburizal Bakrie). Adalah sangat naif, ketua lembaga penegak hukum rajin kongkow di acara begituan. Kalau misalnya ingin memberi keterangan pers, lakukan secara resmi di board KPK, bukan di lapak orang lain.

[8]. Dalam kasus Luthfi Hasan ada hal yang aneh. Luthfi ditetapkan sebagai tersangka, dan langsung ditahan, dengan tuduhan menerima suap. Kata Johan Budi, saat penangkapan KPK sudah punya dua bukti yang cukup. Tapi belakangan divonis penjara lewat kasus pencucian uang. Cara KPK menjerat Luthfi: aset dan kendaraan Luthfi disita KPK, lalu ditaksir nilainya; kemudian Luthfi disuruh menjelaskan darimana saja uang yang dia pakai sehingga punya aset-aset seperti itu? Inilah yang oleh KPK disebut “pembuktian terbalik”. Cara KPK ini sangat berbahaya. Ia bisa menyasar banyak orang. Hati-hati kepada siapa saja yang punya banyak kekayaan, tapi pelupa, atau tidak rapi menyimpan kwitansi-kwitansi transaksi. Hati-hati Anda! Nanti bisa kena strategi “pembuktian terbalik” ala KPK. Jadi seolah KPK menerapkan strategi: “Tangkap dulu, urusan belakangan!” Ini cara-cara koboi dalam penegakan hukum.

[9]. Dalam berbagai kasus korupsi yang melibatkan Nazaruddin, Angelina Sondakh, dan lainnya didapatkan banyak kesaksian tentang keterlibatan Irfan Baskoro alias Ibas, anak SBY. Banyak saksi-saksi yang mengatakan hal itu. Tapi mengapa Ibas tidak kunjung diperiksa oleh KPK; padahal kalau dalam kasus lain-lain, kesaksian tersangka korupsi menjadi bahan untuk penyidikan selanjutnya. Seharusnya Ibas dihadirkan dalam persidangan dan ditanya keterlibatannya. Hal itu bisa menjadi jalan untuk masuk menyelidiki keterlibatan keluarga Cikeas secara umum.

[10]. Dalam kasus yang melibatkan Anas Urbaningrum, juga ada hal yang aneh. Terutama masalah kronologi sampai Anas ditetapkan sebagai tersangka. Seperti kata orang, kok bisa SBY mendesak-desak agar kasus Anas segera diselesaikan? Kemudian Anas ditetapkan sebagai tersangka setelah ada desakan-desakan itu. KPK menolak tudingan ini. Tapi fakta berbicara, KPK seperti “mati nyali” kalau sudah berbicara posisi orang-orang Cikeas. Seperti sosok Bunda Putri yang merupakan kunci membuka proyek-proyek keluarga Cikeas, tidak jelas bagaimana kelanjutannya. Dalam kasus Anas, dia dituduh terlibat menerima mobil Harrier yang paling harganya berapa lah; tapi KPK membuat masalah ini seolah merupakan hajat hidup bangsa Indonesia. Kelihatan banget kalau mereka bekerja “asal tersangka dapat dihukum”. Ini kan preseden yang tidak bagus. Harga mobil Harrier itu tak seberapa dibandingkan kehebohan kasus ini di media dan di mata masyarakat. Ya, inilah metode pemberantasan korupsi ala KPK.

Kami meyakini, KPK ini hanya semacam “akuarium” saja. Sekedar sebagai “hiburan” buat rakyat Indonesia bahwa sedang ada pemberantasan korupsi. Tapi adanya KPK tak akan bisa memberantas korupsi sebenarnya, yaitu: pengerukan kekayaan nasional oleh tangan-tangan asing! KPK ini hanya semacam pengalihan saja. Percayalah!

(Mine).


Bung Abraham Samad dan Revolusi Kehidupan!

Februari 20, 2012

Alhamdulillahi Rabbil ‘alamiin. Ini adalah ucapan baik yang perlu kita lantunkan melihat gebrakan-gebrakan Ketua KPK yang baru, Bung Abraham Samad. Pemimpin KPK yang berani, bernyali, dan pro keadilan; adalah dambaan seluruh insan Indonesia.

Ketua-ketua KPK sebelumnya (selain Antasari Azhar), lebih banyak bermain-main retorika, menikmati publikasi, kongkow dengan wartawan, senang buat jumpa pers, dll. Lagaknya banyak, tenaga pemberantasan korupsi letoy.

Dalam masa kepemimpinan tidak lama, Bung Abraham Samad sudah membuat gebrakan-gebrakan. Pertama, dia tetapkan Miranda Goeltom sebagai tersangka kasus suap pemilihan Deputi Senior BI. Kedua, dia tetapkan Angelina Sondakh sebagai tersangka kasus Wisma Atlet. Dan belum lama lalu, Bung Abraham Samad berjanji, akan menyelesaikan kasus Century di tahun ini (2012). Ya, tipikal pemimpin yang tegas, bernyali, dan berani mati itulah yang kini dinantikan oleh masyarakat dari lembaga KPK.

Antasari Azhar pernah mengatakan teori “makan bubur ayam”. Kalau makan bubur panas, harus dari pinggir. Nanti ujungnya akan sampai ke tengah (maksudnya, lingkaran dalam kekuasaan SBY). Namun sebelum Bung Antasari selesai makan bubur, mungkin baru makan kerupuk dan daun-daun seledri-nya, beliau sudah “dihadiahi” sejumput kisah seputar Rani Yuliani; sebuah kisah yang kelihatan sangat dibuat-buat.

Untuk memperbaiki kondisi kehidupan di Indonesia, kita bisa gambarkan metode praktisnya sebagai berikut:

== Menangkapi para pejabat-pejabat birokrasi, siapapun dirinya, yang terlibat korupsi. Pejabat itu bisa dari level bawah sampai ke tampuk kekuasaan Kepresidenan. Toh, menurut laporan Wikileaks, lingkar kekuasaan SBY tidak sepi dari korupsi. Apalagi setelah terbongkar prahara Partai Demokrat seperti saat ini.

== Kalau para pejabat korup sudah dibereskan, sasaran diarahkan ke lembaga-lembaga hukum, seperti Kepolisian, Kejaksaan, Kehakiman, dan lainnya. Sebab yang membiarkan kasus-kasus korupsi itu berlarut-larut, ya lembaga-lembaga hukum ini.

== Kalau itu sudah selesai, masuk ke korupsi korporasi, oleh perusahaan-perusahaan, baik lokal maupun asing. Disana terdapat sangat banyak kasus korupsi dengan segala bentuknya. Semua itu harus dibasmi. Ibaratnya, kalau kita sudah punya “sapu yang bersih”, pakailah ia untuk membersihkan sampah di halaman (bisnis korporasi).

== Setelah itu, baru kita bangun kehidupan masyarakat yang bebas korupsi, kezhaliman, monopoli, penindasan minoritas, dan sebagainya. Ujungnya akan kesana, sehingga harapan masyarakat adil dan makmur itu akan tercapai. Insya Allah.

Namun, langkah demikian tentu tidak mudah. Banyak mafia-mafia yang harus dihadapi oleh Bung Abraham Samad dan kawan-kawan. Di antara mafia itu adalah: mafia MEDIA, mafia PAKAR/PENGAMAT, mafia birokrasi, mafia hukum, mafia beneran (preman dan kriminalis), mafia poilit (elit dan partai politik), mafia bisnis (konglomerat dan anak-buahnya), mafia asing (dalam segala bentuknya). Semua mafia ini harus dihadapi.

Sebagai sebuah langkah awal, gebrakan Bung Abraham Samad harus kita dukung. Selanjutnya perlu dilakukan langkah-langkah sistematik untuk membersihkan korupsi, dan mematahkan mata-rantai mafia-mafia durjana itu. Semoga Allah Al ‘Aziz menolong untuk menyelamatkan negeri dari angkara murka, kezhaliman, dan penindasan (minoritas). Amin Allahumma amin.

Dan tentu, Bung Abraham Samad harus hati-hati. Jangan sampai nanti beliau (seperti kasus Antasari) diberi “Rani Yuliani” dalam bentuk yang lain. Doakan semoga beliau istiqamah dalam membela keadilan dan melenyapkan kezhaliman. Amin Allahumma amin.

AMW.


Jangan Terlalu Berharap Kepada Ketua KPK Baru!

Desember 28, 2011

Ketua KPK periode 2012-2016 sudah terpilih. Dia bernama Abraham Samad. Tokoh muda 44 tahun ini menggantikan Busyro Muqaddas yang saat ini beralih posisi menjadi Wakil Ketua KPK. Abraham Samad (apakah ada hubungan dengan Bibit Samad?), terpilih secara aklamasi oleh anggota Komisi III DPR dengan 43 suara (dari 55 suara).

Seperti biasa, rakyat Indonesia sangat berharap kepada pemimpin KPK yang baru ini. Harapan rakyat sangat besar agar aksi pemberantasan korupsi benar-benar efektif dan adil. Ya, negara mana yang akan maju kalau fenomena korupsi merata dimana-mana?

Lebih Sejuk Melihat Rumput. Daripada Melihat Wajah Kaum Elit.

Tetapi masalahnya, apa harapan itu benar-benar nyata, atau hanya impian kosong saja? Jujur, kalau melihat kehidupan elit-elit politik selama ini, termasuk sosok para Ketua KPK, sangat sulit berharap. Mereka selama ini lebih banyak omong ketimbang banyak guna.

Coba perhatikan artikel berikut ini: Mau Tahu Gaji Abraham Samad Cs? Coba perhatikan rincian gaji tersebut! Misalnya, gaji pokok Rp. 5 juta. Sedangkan tunjangan jabatan sampai Rp. 15 juta lebih. Ditambah lagi tunjangan kehormatan, tunjangan perumahan, tunjangan transportasi, tunjangan hari tua, dan asuransi kesehatan. Total gaji Ketua KPK, Rp. 72.200.000,- (tujuh puluh dua juta, dua ratus ribu rupiah). Sedangkan gaji Wakil Ketua KPK, Rp. 63.120.000,- (enam puluh tiga juta, seratus dua puluh ribu rupiah).

Mungkin, ke depan gaji Ketua KPK Cs. bisa ditambah lagi dengan: tunjangan santai, tunjangan wisata, tunjangan nonton film, tunjangan popularitas, tunjangan anak-cucu, tunjangan pelesir ke luar negeri, tunjangan BBM, tunjangan main facebook-an, tunjangan kegelisahan, tunjangan duka-cita, tunjangan pernikahan anak, tunjangan memelihara burung kicauan, dan seterusnya. Jadi list tunjangan-tunjangan ini bisa diperpanjang, sehingga kegiatan pokok anggota KPK hanyalah memelototi gaji bulanan mereka, di rekening-rekening yang “cepat gendut” itu.

Mungkin, dasar pemikirannya, “Gaji Ketua KPK Cs perlu dibesarkan, biar mereka tidak ngiler kalau menghadapi penyuapan dari para koruptor.” Masalahnya adalah: dengan gaji yang nilainya bisa mencapai 60 kali atau 70 kali UMR itu, mental mereka justru letoy. Mereka jadi takut mati, karena setiap bulan selalu menanti-nanti gaji besar. Para pemulung yang penghasilan cuma Rp. 25 ribu sehari, mereka berani mati, mengais sampah plastik di kiri-kanan rel kereta api. Tetapi dengan gaji 60-70 jutaan, mental manusia jadi rapuh. Yang dia pikirkan hanyalah gaji doang, day to day.

Saya sarankan agar bangsa Indonesia tidak usah banyak berharap kepada sosok Abraham Samad Cs. Jangan berharap banyak. Biasanya, manusia-manusia seperti ini (serupa dengan anggota DPR dan menteri-menteri Cs), sudah terkena TIGA PENYAKIT MEMATIKAN.

Apa saja 3 penyakit itu? Pertama, BANYAK OMONG. Kedua, BANYAK GAYA. Dan ketiga, BANYAK BERKELIT.

Mereka itu hanya pandai ngomong dan ngomong saja. Keahlian utama mereka adalah “bibir dan lidah” saja. Omongannya banyak, mengepul bagai asap rokok. Membuat batuk-batuk bagi manusia yang sehat. Mereka juga banyak gaya. Senang ketemu wartawan-wartawan. Tidak menolak gaul dengan anggota DPR dan pejabat. Kenal dengan artis-artis dan dunia selebritas. Pakaian, kendaraan, alat elektronik, dan sebagainya berkelas. Dan nanti kalau dikritik oleh rakyat (termasuk melalui kritik seperti ini) mereka banyak membela diri, defensif, mencari-cari alasan. Seperti gayanya Chandra Hamzah yang tidak berani dikonfrontir dengan Nazaruddin itu.

Singkat kata, pejabat-pejabat KPK selama ini seperti manusia-manusia yang secara mental-ruhani bermasalah. Mereka nafsu menjadi anggota KPK, tetapi setelah menjabat tidak menunjukkan keberaniannya untuk babat habis korupsi di Indonesia. Maklumlah, para pencari kerja beda dengan penegak keadilan. Karena mungkin merasa tak bersaing mencari kerja di bursa eksekutif muda, akhirnya nyari-nyari di KPK (mencantolkan kerah bajunya ke beban keuangan negara).

Kita tidak tahu bagaimana reputasi Abraham Samad ini. Apakah akan ada perubahan atau sama letoy-nya dengan Busyro Muqaddas? Wallahu a’lam, hanya Allah yang Tahu. Kalau nanti Abraham ini juga tertimpa 3 penyakit di atas (banyak omong, banyak gaya, banyak berkelit); ya sudah, tak ada harapan banyak di negeri ini; baik generasi tua (Busyro Muqaddas) maupun generasi muda (Abraham Samad) sama-sama brengsek-nya.

Oke deh…begitu saja! Selamat berjuang, Bung Abraham Samad! Semoga Anda diselamatkan dari 3 penyakit berbahaya itu, dan efektif bisa memberantas korupsi di negeri ini! Amin ya Rabbal ‘alamiin. Termasuk amanah yang sering dikatakan oleh para pemimpin, bahwa akar korupsi berada di lingkaran Istana Negara (ingat informasi Wikileaks). Nanti, arah perjuangan Anda, harus masuk juga ke titik itu. Soal akan di-antasari azhar-kan atau tidak, tawakkal sajalah!

Selamat berjuang, Bung!

Blog Abisyakir.