Tim Weiner dan Nasib CIA

Desember 16, 2008

Saat berkunjung ke rumah teman kemarin, saya merasa surprised saat melihat di lemarinya, sebuah buku tebal bercover merah, tertulis judul Kegagalan CIA, oleh Tim Weiner. Wah, ini dia buku yang sedang hangat dibicarakan. Jiwa dagang saya segera muncul, “Berapa nih Anta beli buku ini?” (He he he, masak tanya harga buku saja diklaim “jiwa dagang”? Terlalu sensitif ya). Kata teman, harga dia beli 120 ribu, kalau saat ini ada discount 30 % (sekitar 85 ribuan lah). Kalau beli di Gunung Agung, discount 20 %. (Nah, kalau yang beginian diteruskan, baru cocok disebut “jiwa dagang”. He he he…ulang).

OK-lah, mari kita mulai saja. Si Tim Weiner ini…(sambil berlagak mau memvonis ‘gak jelas’), ternyata dia itu seorang penulis ya…(garing, garing…seluruh dunia juga sudah tahu kalau dia penulis, garing ring…). Baiklah, ehhem, sekarang mulai serius beneran, ehhem…

Buku ini berjudul Kegagalan CIA. Judul kecilnya, Spionase Amatiran Sebuah Negara Adidaya. Namun dalam cover, judulnya Membongkar Kegagalan CIA. Judul aslinya, Legacy of Ashes The History of CIA (Warisan puing-puing, sebuah sejarah CIA). Tentu penulisnya Tim Weinner, seorang wartawan The New York Times. Pernah memenangkan hadiah Pulitzer, 20 tahunan menulis di bidang intelijen, bukunya Legacy of Ashes tersebut menjadi international best seller. Buku ini dalam versi Indonesia diterbitkan oleh PT. Gramedia Pustaka Utama Jakarta. Alih bahasa Akmal Syamsuddin, kata pengantar oleh Budiarto Shambazy, kolomnis Kompas. Jumlah total halaman lebih dari 830 halaman. Bagian isi dari halaman 1 sampai 661, sedang halaman catatan kaki dari 662 sampai 832.

Sisi unik buku ini, bagian tengah cover ada logo CIA sebesar bulatan stempel yang dicetak sangat eksklusif. Mengkilat dan tebal. Ia memberi kesan “buku mahal”. Kerta yang dipakai pun bukan HVS biasa, tetapi kertas khusus, seperti yang banyak dipakai pada buku-buku terbitan asing.

(Hei, bercanda lagi, dong! Jangan serius melulu!…sudah, sudah bercanda sudah selesai. Sekarang waktunya serius. Sudah, jangan bercanda terus. Kita lagi dilihat banyak orang, tahu. He he he…)

Baca entri selengkapnya »

Iklan