Bid’ah dan Beberapa Perkara Baru

Januari 10, 2012

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Seperti dijelaskan sebelumnya, bid’ah secara bahasa ialah sesuatu yang baru, ciptaan baru tanpa contoh sebelumnya, atau suatu perkara yang diada-adakan. Dalam istilah lain bid’ah juga kerap disebut sebagai muhda-tsatul umur (urusan baru yang diada-adakan).

Ummat Islam sangat diperingatkan oleh Rasulullah Shallallah ‘Alaihi Wasallam terhadap urusan bid’ah ini karena belajar dari pengalaman para pengikut Nashrani yang banyak berbuat bid’ah, lalu mereka tersesat. Bid’ah di kalangan Nashrani misalnya, mewajibkan kerahiban, sehingga seorang rahib Nashrani meninggalkan dunia, tidak menikah, mengasingkan diri dalam biara-biara untuk fokus ibadah. Mereka juga menghalalkan gambar dan patung-patung orang shalih, menghalalkan Salib dan menyembahnya, menjadikan kuburan orang shalih sebagai tempat bersujud (dulunya dalam ibadah Nashrani ada ritual bersujud), dan sebagainya.

Baru Tidak Selalu Bid'ah. You Know?

Rasulullah  Shallallah ‘Alaihi Wasallam dalam hadits populer dari Irbath bin Sariyyah Radhiyallahu ‘Anhu pernah berkata: “Wa iyyakum min muhdatsatil umur, fa inna kulla muhdasatin bid’ah, wa kulla bid’atin dhalalah” (hati-hatilah kalian dari perkara baru yang diada-adakan, karena setiap yang baru (diada-adakan) itu adalah bid’ah, dan setiap bid’ah adalah sesat). Dalam riwayat lain disebutkan tambahan, “Wa kullu dhalalatin fin naar” (dan setiap yang sesat itu nanti resikonya masuk neraka). Na’udzubillah wa na’udzubillah min dzalik.

Jadi, menghindari bid’ah itu adalah jalan untuk menjauhkan diri dari siksa neraka. Bukan karena ingin disebut Wahabi, atau karena ingin menang-menangan dalam perdebatan. Mungkin ada yang bilang: “Lihat nih, gua lebih hebat dari lu. Gua dalilnya lebih kuat, sedangkan lu dalilnya rusak. Singkat kata, gua nih calon ahli syurga, sementara lu calon ahli neraka. Rasain tuh jadi calon ahli neraka! Ha ha ha…!” Omongan seperti ini tidak boleh ada dalam agama. Ia adalah omongan setan yang nyaru menjadi manusia. Dalam beragama kita harus “mukhlishina lahud diin” (mengikhlaskan agama semata-mata untuk Allah). Bukan untuk menang-menangan di mata manusia.

Banyak orang mendefinisikan bid’ah dengan pengertian sekedar: “Sesuatu yang tidak ada di zaman Nabi” (maa laa yakunu fi ahdin Nabi). Definisi demikian terlalu general. Nanti bisa menimbulkan masalah-masalah ketika kita bertemu hal-hal baru yang tidak ada di masa Rasulullah Shallallah ‘Alaihi Wasallam.

Mestinya definisi itu diperbaiki menjadi: “Sesuatu yang tidak disyariatkan oleh Allah dan Rasul-Nya, dan tidak sesuai dengan Syariat Islam” (maa laa syara’allahu bihi wa Rasuluhu, wa huwa yukhalifu Syariatal Islam). Intinya, bid’ah itu selain tidak diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya, ia juga menyelisihi Syariat Islam. (Dalam hal ini, Anda mesti ingat kaidah para ulama, bahwa Syariat Islam ditujukan untuk menjaga jiwa, menjaga agama, menjaga harta, menjaga akal, menjaga keturunan kaum Muslimin).

Kemudian pertanyaannya, adakah hal-hal baru yang tidak ada di masa Rasulullah Shallallah ‘Alaihi Wasallam, tetapi ia sesuai dengan Syariat Islam? Jawabnya, ada dan banyak! Nah, hal demikian harus benar-benar dipahami, agar Anda tidak bingung ketika memahami persoalan Sunnah dan bid’ah.

Baca entri selengkapnya »

Iklan