Patokan Negara Islami

Desember 16, 2013

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Tiga orang ulama dari Timur Tengah baru-baru ini datang ke negeri kita. Mereka datang untuk berdebat dengan ustadz-uztadz yang menjadi narapidana kasus terorisme di Lapas Nusa Kambangan. Tiga orang itu adalah Ali Hasan Al Halabi; Dr. Najih Ibrahim, dan Dr. Hisyam Najjar. Ali Hasan Al Halabi adalah tokoh Salafi terkenal dari Yordan; dua tokoh lainnya adalah mantan pemimpin Jamaah Islamiyah Mesir.

Ketiga tokoh ini selain menghadiri hajatan “debat tertutup” dengan ustadz-ustadz mujahidin, mereka juga menyampaikan penegasan tentang konsep negara Islam. Kata mereka: Negara Islam adalah negara yang di dalamnya terdengar suara adzan dikumandangkan, terdapat shalat berjamaah di masjid-masjid, syiar Islam diperbolehkan, pencurian dan kejahatan dilarang. Itulah ciri negara Islam.

Fungsi Negara Islam: Menjaga Kehidupan Kaum Muslimin !!!

Fungsi Negara Islam: Menjaga Kehidupan Kaum Muslimin !!!

Pandangan demikian termasuk mendominasi kalangan Salafi, dan dikembangkan di taklim-taklim mereka, daurah-daurah, ditulis di buku-buku, di majalah-majalah, juga situs internet. Kalau kita tidak setuju dengan konsep ini, biasanya akan segera mereka serang dengan istilah: TAKFIRI (tukang mengkafirkan), KHAWARIJ (pemberontak sesat), AHLUL BIDA’ (para ahli bid’ah), dan HIZBI (tukang memecah-belah agama). Ya begitulah.

Sebenarnya, apa sih patokan konsep Negara Islam itu?

Jawabnya sederhana, yaitu MAQASHIDUS SYARIAH. Ini adalah tujuan-tujuan dasar Syariat Islam, yaitu: (1). Menjaga agama kaum Muslimin; (2). Menjaga jiwa kaum Muslimin; (3). Menjaga harta kaum Muslimin; (4). Menjaga akal kaum Muslimin; (5). Menjaga keturunan kaum Muslimin.

Yang disebut negara Islam, kalau dalam negara itu melaksanakan (minimal) 5 tujuan dasar Syariat di atas. Meskipun nama negara itu misalnya “Negara Brokoli Lucu” atau “Negara Alay Merdeka”; tapi kalau praktik kehidupannya benar-benar menjadikan 5 Prinsip Syariat di atas sebagai landasan dasarnya, negara itu dinyatakan sebagai negara Islami. Kalau namanya jelek, nanti tinggal diganti saja yang lebih keren dan kharismatik.

Sebaliknya, meskipun nama sebuah negara misalnya seperti ini: “Negara Islami Banget Berdasar Al Qur’an dan As Sunnah Sesuai Pemahaman Salaf yang Murni 24 Karat“; tapi kalau kehidupan disana sekuler, Islam dan umatnya disia-siakan, tata-nilai keimanan dan akhlak tidak ada, malah orang-orang saleh dimusuhi negara, maka negara seperti itu tak bisa disebut sebagai negara Islami. Itu negara ngapusi.

Pertanyannya: Apa dasarnya konsep Maqashidus Syariah dijadikan patokan negara Islam? Ulama mana yang mengatakan itu? Apa ini pendapat Anda sendiri, atau pendapat Salafus Saleh?

Jawabnya sangat jelas: Dalilnya adalah kehidupan Rasulullah Saw dan para Khulafaur Rasyidin Ra. Mereka itu telah mencontohkan konsep negara Islam yang benar, tepat, shahih, valid, sempurna, tiada keraguan, tiada perselisihan, tidak basa-basi, mantap, oke banget, dan seterusnya.

Jadi kalau Najih Ibrahim, Ali Al Halabi, Hisyam Najjar, dan seterusnya bertanya, apa dalilnya? Ya, jawab saja, contoh pelaksanaan negara di zaman Nabi Saw dan para Khalifah Rasyidah Ra. Kalau merujuk ke konsep Salafus Saleh itu, apakah ciri negara Islam hanya: kumandang adzan, shalat jamaah, syiar Islam, larangan pencurian dan kriminalitas? Ya Anda bisa jawab sendiri.

“Tapi kan pendapat begini bukan pendapat ulama, hanya pendapat penulis blog ini?”

Waduh, payah deh kalau pendapat demikian tidak diklaim sebagai pendapat ulama. Payah banget. Apa ada yang lebih ulama dari Rasulullah Saw, dari Abu Bakar As Shiddiq Ra, dari Umar Al Faruq Ra, dari Utsman Dzu Nurain Ra, dari Ali Al Murtadha Ra? Apa ada ulama yang lebih alim dari mereka?

Kalau negara Islami hanya karena adzan, shalat jamaah, syiar Islam, dan semisalnya; maka di China juga ada adzan, ada shalat jamaah, ada syiar Islam (di Beijing saja ada masjid besar), ada larangan pencurian dan kriminalitas.

Ya, ini hanya sebagian faidah saja untuk menjelaskan kepada Ummat, agar tidak disesatkan oleh orang-orang alim yang menyimpang. Nas’alullah al ‘afiyah li wa lakum wa li sa’iril Muslimin. Amin.

(Abah).

Iklan