Memahami Masalah Besar

Januari 30, 2010

Saudaraku rahimakumullah…

Kalau kita membaca Kitabullah, As Sunnah, dan sejarah Ummat, nyatalah di mata kita, betapa terpuruknya Ummat ini di masa-masa dewasa ini. Antara gambaran “Khairu Ummah”, kemegahan sejarah, serta kontribusi Islam bagi peradaban dunia, seakan tidak tampaknya jejak-jejaknya dalam kehidupan Ummat masa kini. Ibarat pepatah “Ke Barat dan Ke Timur”; kemegahan ajaran Islam berjalan ke Barat, sementara realitas Ummat berjalan ke Timur.

Sedih, sedih, dan tentu sangat sedih. Berbahagialah kita yang masih bisa bersedih. Itu pertanda masih ada keimanan di hati. Jika kemungkaran berhasil mengangkangi Al Haq, lalu kita diam saja, tidak berkomentar apapun, selain hati yang kosong melompong. Itu tandanya tidak ada iman, walau “sebiji sawi” saja.

Pertanyaan, “Mengapa Ummat sedemikian menderita nasibnya?”

JAWABAN PERTAMA: Karena tidak ada satu pun negara di dunia yang mau mengemban amanah Islam. Tidak ada satu pun pemimpin di dunia ini yang mau menjadi pemimpin Ummat. Tidak ada satu pun kekuatan negara yang mau mem-back up pilar-pilar ajaran Islam. Inilah yang membuat agama ini seperti impoten.

Islam tidak bisa ditegakkan secara individu atau kelompok. Islam hanya bisa ditegakkan secara kaffah dengan ditunjang kekuatan negara, anggaran negara, UU negara, militer negara, dan sebagainya. Bisa saja, secara individu, keluarga, jamaah, kita menegakkan Islam, tetapi hanya sebagian kecil ajaran Islam itu sendiri. Tidak bisa kaffah, seperti yang diamanahkan oleh Syariat.

Bayangkan, untuk membuat manusia menjadi shalih butuh UU negara, program kebijakan yang mendukung, pengamanan alat negara, anggaran, dan sebagainya. Begitu pula untuk menertibkan media massa, mencegah kriminalitas, mengatasi pornografi, seks bebas, narkoba, perjudian, dll. jelas semua itu butuh kekuatan negara. Maka sudah ijma’ di kalangan kaum Muslimin, wajib hukumnya menegakkan Pemerintahan Islam. Ya, dengan apa lagi agama akan bisa dilaksanakan dengan baik, kalau bukan dukungan negara?

Memang ada negara-negara tertentu yang kelihatan “agak Islami”. Tetapi mereka lebih concern dengan nasionalisme sendiri. Tidak berani tegak mengemban amanah Ummat ini. Tentu saja, mereka tidak berani menghadapi tekanan-tekanan negara non Muslim.

JAWABAN KEDUA: Kemerosotan pemahaman dan moralitas kaum Muslimin sendiri. Baik masyarakat kaum Muslimin, para ulama, para aghniya, para cendekiawan, kaum wanita, dsb. Mereka semakin jauh dari tuntunan ajaran Islam itu sendiri. Buktinya, mereka akan amat sangat takut untuk mengatakan, “Aku mencintai negara Islam!” Untuk mengatakan hal demikian saja, takutnya setengah mati. Takut disangka teroris! Para ulama, penuntut ilmu, para aktivis Islam, juga sibuk terlibat dalam ikhtilaf yang tidak selesai-selesai. Malah di antara mereka ada yang susah-payah, melakukan pembenaran atas konsep sekularisme. Menyedihkan!

Akibat kemerosotan yang hebat itu, mayoritas kaum Muslimin kehilangan kenangannya terhadap kesejukan dan keindahan kehidupan di bawah Syariat Nabi. Mereka malah terjerumus menjadi penggemar budaya Barat yang memandang manusia seperti hewan. (Di Barat, manusia dianggap sama seperti derajat binatang. Malah, binatang-binatang itu tidak boleh disakiti dalam acara-acara TV. Tapi kalau tubuh manusia, boleh dimutilasi seperti bapak-bapak memotong daging korban). Kita mengambil petunjuk filosofi hewani, meninggalkan filosofi Nubuwwah. Ummat yang seperti ini sangat sulit diajak membanggakan konsep Islam.

JAWABAN KETIGA: Orang-orang kafir berdiri dalam barisan yang teguh, solid, dan kokoh untuk mematikan bangkitnya kembali peradaban Islam di muka bumi. Orang-orang kafir di Eropa, Amerika, Asia, Afrika, dll. mereka telah melihat kemegahan sejarah Islam selama sekitar 1300 tahun. Ya, mereka belajar dari pengalaman itu. “Jangan beri Islam kesempatan lagi, atau Islam akan menguasai negeri-negerimu,” begitu prinsip mereka. Bayangkan, orang-orang buta huruf di Afghanistan saja mampu membuat Soviet bubar, Amerika kuwalahan, apalagi kalau Islam telah menjadi sebuah negara kuat. Jelas mereka sangat ngeri. Maka, apapun agenda untuk melemahkan Islam, mereka akan biayai, berapapun harganya.

Pertanyaan selanjutnya, “Adakah jalan praktisnya?”

Alhamdulillah, kita tidak pernah kesepian dengan petunjuk Allah, dengan bimbingan-Nya yang terus mengalir. Segala puji dan syukur, hanya kepada-Nya.

Tulisan seperti ini dan semisalnya, adalah bukti bahwa pertolongan Allah itu ada dan nyata. Hanya mungkin selama ini, ia tampak sayup-sayup tidak jelas. Tetapi secara hakiki Allah tetap menolong Ummat ini. Disini kita menemukan “benang merah” dari semua kekacauan yang melanda Ummat ini. Tapi sejujurnya, ini bukan masalah lama, ini sering juga diungkap. Hanya saya sifatnya, memperbaharui “rasa” saja.

Metodenya sebagai berikut, saudaraku:

==> Fokus utama tetap pada sistem negara. Kalau negara baik, pemimpin baik, rakyat akan mudah diarahkan menjadi baik. Kalau negara buruk, sistem buruk, sulit pula masyarakat hidup baik. Pemimpin itu disebut Rais (kepala). Ia seperti kepala pada tubuh kita. Kalau kepala bonyok, seluruh tubuh sakit; kepala sehat, seluruh tubuh menjadi sehat pula. Diperlukan usaha-usaha lobi siyasah yang intensif dan kontinue, untuk mencari celah bagi tumbuhnya benih-benih peradaban Islam.

==> Memberi perhatian kepada sistem negara bukan berarti, kita mengabaikan tarbiyah Ummat. Justru salah. Sebab kalau sistem diperbaiki, tanpa didukung masyarakat, lama-lama sistem itu akan mereka ingkari juga. Idenya, “Sebelah atas diperbaiki, di bawah juga diperbaiki.”

==> Waspadai kelompok lobi-lobi “Freemasonry” yang terus menempel ke pusat-pusat kekuasaan, pusat hukum, bisnis, keuangan, alat negara. Mungkin nama mereka macam-macam, bisa Freemasonry, bisa Lions Club, Rotary Club, dan aneka jenis organisasi lobi. Mereka inilah yang terus berjuang agar para pemimpin yang terpilih selalu bermadzhab sekuler, anti Islam, pro hedonisme, liberalis, dan sebagainya.

==> Harus ada saling pengertian dan persaudaraan di kalangan lembaga-lembaga Islam, organisasi Islam, jamaah dakwah, dan sebagainya. Jangan senang diadu terus-menerus, sebab semua itu akhirnya meletihkan diri kita sendiri. Betapa banyak energi hilang hanya untuk perdebatan yang terus berulang-ulang.

Insya Allah dengan metode seperti di atas, ada jalur yang bisa kita lewati untuk menuju kebangkitan peradaban Islam, seperti mana ia pernah bangkit di muka bumi selama 1300 tahun lalu. Mari kita bekerja sesuai posisi masing-masing, menuju titik sasaran yang sama: Izzul Islam wal Muslimin!!!

Wallahu Waliyyut taufiq, fanshurna Rabbana innaka Khairun Nashirin. Amin.

AMW.