Bolehkah Membaiat Pemimpin Ahli Bid’ah ?

Mei 18, 2014

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Baru-baru ini datang sebuah e-mail ke alamat “langitbiru” kami. Isi e-mail ini menanyakan tentang boleh tidaknya membaiat pemimpin ahli bid’ah. Kami akan coba berikan jawaban. Berikut isi e-mailnya.

PERTANYAAN: Assalamu’alaikum ustadz. Afwan saya mau tanya tentang masalah yang cukup serius. Moga ustadz bisa membantu. Beberapa waktu lalu sempat ramai tentang isu baiat kepada sebuah jamaah dakwah di negeri Timur Tengah. Ada pro dan kontra. Ada yang mendukung dan langsung ikut membaiat, ada juga yang menolak. Pihak pendukung beralasan, “Ini kan sebuah Daulah Islamiyah, jadi tunggu apa lagi, hayo segera bai’at. Kalau tidak, nanti kamu mati dalam keadaan jahiliyah.” Ada juga yang berpandangan lain, “Jangan dibaiat, itu kan orang Khawarij, kita gak boleh bai’at orang Khawarij karena mereka ahli bid’ah.” Begitulah pro dan kontra. Ustadz mohon diberi penjelasan sekaligus share untuk pencerahan Umat. Jazakumullah khoiron katsiron atas perhatiannya. (Nurhadi, Depok).

JAWABAN:

"Jangan Mendukung Eksistensi Sistem Ahli Bid'ah".

“Jangan Mendukung Eksistensi Sistem Ahli Bid’ah”.

Dengan memohon pertolongan dan ilmu kepada Allah Rabbul Jalali wal Ikram, kami memberikan jawaban sebagai berikut:

[1]. Mula-mula harus dibedakan antara pemimpin ahli bid’ah di atas sebuah sistem (manhaj) ahli bid’ah; dan pemimpin ahli bid’ah di atas sistem Ahlus Sunnah Wal Jamaah. Kedua hal berbeda dan ada dalam sejarah Islam. Para ulama pun menyikapi berbeda.

[2]. Para ulama menjelaskan, bahwa sekte ahli bid’ah yang dikenal sesat dan keluar dari Ahlus Sunnah Wal Jamaah, setidaknya ada 7 kelompok, yaitu: Khawarij, Syiah Rafidhah, Mu’tazilah, Murji’ah, Jahmiyah, Jabbariyah, dan Qadariyah. Sering terjadi kesesatan suatu sekte menular atau dianut oleh sekte-sekte lainnya. Di era modern, kaum ahli bid’ah ini ditambahkan, yaitu: Liberal (orientalisme), Ahmadiyah, Inkarus Sunnah, pengikut Nabi-nabi palsu modern. Para ulama Ahlus Sunnah sepakat bahwa kelompok-kelompok di ataslah yang menyimpang dari Syariat dan keluar dari manhaj Ahlus Sunnah.

[3]. Secara umum, suatu pemerintahan yang menganut paham ahli bid’ah tidak dianggap sebagai pemerintahan Islam, atau pemerintahan berdasar Syariat Islam, tetapi ya dianggap sebagai pemerintahan ahli bid’ah. Karena secara hakiki paham ahli bid’ah bukanlah paham Islam, tapi paham yang menyimpang. Dengan sendirinya kita kaum Muslimin tidak boleh membaiat suatu pemerintahan ahli bid’ah. Jika pemerintahan ahli bid’ah boleh dibaiat, maka kita harus membaiat pemerintahan Syiah Rafidhah di Iran; pemerintahan Syiah Nusairiyah di Suriah; pemerintahan Syiah Shafawiyah di Iran dan Syiah Ubaidiyah di Mesir, pada masa lalu; juga pemerintahan Qaramithah yang sesat dan kufur. Para ulama Ahlus Sunnah sejak dulu sampai kini tidak melakukan hal itu.

[4]. Pemimpin ahli bid’ah di atas sistem Ahlus Sunnah masih memungkinkan dibaiat, dengan asumsi sang pemimpin tidak mengubah sistem pemerintahan menjadi sistem ahli bid’ah. Di zaman Imam Ahmad rahimahullah, pemerintahan Abbassiyah sempat dipimpin Khalifah ahli bid’ah dari kalangan Mu’tazilah. Ketika itu kepemimpinannya tidak di-makzulkan dan Imam Ahmad sendiri menolak memberontak kepadanya. Jadi pemimpin ahli bid’ah di atas sistem Ahlus Sunnah, masih memungkinkan dibaiat.

[5]. Lalu bagaimana dengan pemimpin di atas sistem Khawarij, bolehkah kita membaiatnya? Kalau benar-benar sistem itu memang mengadopsi ciri-ciri Khawarij, maka kita tidak boleh membaiatnya. Justru terhadap ahli bid’ah harus diingatkan, diluruskan, diperbaiki, bukan didukung di atas bid’ahnya. Dulu kaum Haruriyah di zaman Khalifah Ali RA, mereka tidak dibaiat atau didukung; tapi diminta taubat dan kembali kepada manhaj Ahlus Sunnah. Ketika tak mau taubat, mereka diperangi di Nahrawan. Sangat jelas sikap Ahlus Sunnah dari perbuatan Khalifah Ali RA.

[6]. Di antara ciri pemerintahan (kepemimpinan) Khawarij antara lain: a. Menganggap kebenaran di pihaknya, sementara Muslim lain tak berhak atas kebenaran; b. Mengkafirkan kaum Muslimin yang berada di luar kelompoknya; c. Memisahkan diri dari Jamaatul Muslimin dan membuat tafsiran “Jamaatul Muslimin” sesuai versi mereka sendiri; d. Terang-terangan memerangi kaum Muslimin yang lain, setelah sebelumnya menganggap mereka sebagai murtadin; e. Berbangga dengan kekejaman yang dilakukan atas orang-orang yang menyelisihi manhajnya. Hal itu pernah dilakukan kaum Khawarij ketika mereka membantai Shahabat Khabab bin ‘Arrat RA, juga isterinya yang sedang hamil. Mereka dibantai hanya karena berbeda pendapat.

[7]. Perbuatan kaum Khawarij benar-benar menyalahi Syariat Rasulullah SAW, antara lain sebagai berikut: a. Nabi SAW mengutamakan persatuan kaum Muslimin, sedangkan Khawarij mengutamakan perpecahan dan konflik; b. Nabi SAW menerima, mengakui, dan memuliakan orang yang masuk Islam; sedangkan Khawarij merasa gembira dengan menuduh Muslim di luar kelompoknya sebagai kafir dan murtad; c. Rasulullah SAW menyebarkan ilmu, hidayah, akhlak; sedangkan Khawarij menyebarkan pembunuhan, ketakutan, menyalahi janji, kekejaman; d. Rasulullah SAW lembut kepada Ummat, lembut kepada para Shahabat RA; sedang Khawarij arogan, kasar, menumpahkan darah Ummat; e. Rasulullah SAW memerangi kaum kufar, sedangkan Khawarij memerangi sesama Muslim yang berbeda pendapat; f. Rasulullah SAW menepati janji dan tidak berkhianat, sedangkan Khawarij berkhianat demi memenuhi nafsu sendiri. Demikianlah, banyak segi perbedaan antara sifat dakwah Rasulullah dan kaum Khawarij.

Dari semua ini bisa disimpulkan, kita tidak boleh membaiat kepemimpinan (pemerintahan) ahli bid’ah. Baiat terhadap mereka sama dengan mendukung penyimpangan atas Syariat Islam; mengekalkan bid’ah; serta dikhawatirkan baiat itu akan membuat yang bersangkutan ikut memikul dosa-dosa yang mereka lakukan. Nas’alullah al ‘afiyah.

Semoga jawaban ini bisa membantu memahami persoalan yang ada. Mohon dimaafkan jika ada kesalahan dan kekurangan. Alhamdulillahi Rabbil ‘alamiin, wallahu a’lam bisshawab.

(Mine).

Iklan

Pemikiran Politik Salafi (Bagian 4)

Februari 4, 2009

Masalah 31

Aneh sekali ungkapan penulis ini… sepertinya ia memang belum pernah belajar mengenai tafsir Ulil Amri itu siapa. Bukankah ini menunjukkan kebodohannya yang sangat. Ia berbicara masalah2 politik, tapi ia tidak memahami makna Ulil Amri, sehingga ia beranggapan bahwa pemerintah muslim itu bukan Ulil Amri. Atau mungkin ia beranggapan bahwa pemerintahan yang tidak menerapkan hukum Islam itu tidak disebut Ulil Amri. Saya mohon kepada penulis untuk menengok kitab2 tulisan para Ulama dalam masalah ini. Seperti Ibnu Katsir dalam tafsirnya.


Berkata al-Hafidz Ibnu Katsir ketika menafsirkan surat an-Nisa ayat 58: “Tampaknya- wallahu’a’lam- ayat ini umum mencakup seluruh ulil amri apakah dari kalangan para penguasa ataupun para ulama.” [Tafsir Qur’anil Adzim juz 1, hal 530, penerbit Darul Ma’rifah, Beirut, Cet . Pertama]. Berkata Ibnu Taimiyyah: ”Ulil amri ada dua golongan: Para ulama dan para penguasa.” (Majmu Fatwa juz 28, hal 170, Penerbit Maktabah Ibnu Taimiyyah, Kairo, Mesir).

Catatan AMW:

Saya dibodohkan oleh Abu Ammar karena tidak menganggap setiap Penguasa Muslim sebagai Ulil Amri. Kemudian dia berdalil dengan pendapat Ibnul Qayyim dan Ibnu Taimiyyah tentang Ulil Amri. Menurut kedua ulama itu, Ulil Amri ada dua, yaitu: Golongan ulama dan penguasa!

Abu Ammar ingin mengatakan, bahwa semua jenis penguasa yang beragama Islam, meskipun tidak melaksanakan hukum Islam, dia adalah Ulil Amri. Tetapi lucunya, dia berdalil dengan pendapat Ibnul Qayyim dan Ibnu Taimiyyah. Padahal dalam pandangan kedua ulama itu tidak disebutkan bahwa semua jenis penguasa yang beragama Islam, otomatis adalah Ulil Amri. Kedua ulama tersebut hanya mengatakan, Ulil Amri itu bisa ulama bisa juga penguasa.

Kalau kita mengkaji asal dari istilah Ulil Amri ini dalam Surat An Nisaa’ ayat 59. Disana dijelaskan dengan tegas, bahwa kedudukan Ulil Amri itu tidak bisa lepasa dari ketaatannya kepada Allah dan Rasul-Nya. Bagaimana mungkin kita akan mentaati Ulil Amri, ketika dia tidak taat kepada Allah dan Rasul-Nya? Lalu apa artinya kalimat: ‘Athiullah wa ‘athiur Rasula wa ulil amri minkum’? Apakah ayat ini bisa dimaknai: “Taatlah kalian kepada Allah, taatlah kalian kepada Rasul, dan kepada para penguasa Muslim, siapapun dirinya, baik dia taat kepada Allah dan Rasul atau tidak?”

Ketaatan kita kepada Ulil Amri masih satu koridor dengan ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya. Tidak bisa dipisahkan hal ini, kecuali oleh orang-orang sesat. Kalau ketaatan kepada Ulil Amri bersifat mutlak, sekalipun dia durhaka kepada Allah dan Rasul, berarti keberadaan ayat itu menjadi tidak berguna. Begitu pula, kalau kita lepaskan posisi Ulil Amri dari ketaatan kepada Allah dan Rasul, kita diperintahkan taat semata-mata karena Ulil Amri itu sendiri. Jika demikian, lalu apa gunanya kita taat kepada Ulil Amri? Apakah ketaatan kita itu hanya bernilai politik? Padahal seorang Muslim hidupnya untuk ibadah kepada Allah. Kalau mentaati Ulil Amri karena dirinya sendiri, itu berarti syirik. Na’udzubillah wa na’udzubillah min dzalik.

Secara mutlak ketaatan kita kepada Ulil Amri terikat oleh ketaatan dia kepada Allah dan Rasul-Nya. Taat kepada siapapun, apakah orangtua, pemimpin, guru, ulama, atasan, dan lainnya, adalah bentuk ibadah kepada Allah. Dalam ibadah itu tidak mungkin Allah memerintahkan kita taat kepada manusia yang durhaka kepada Allah dan Rasul-Nya. Aneh sekali, ibadah untuk Allah Ta’ala; tetapi dalam ibadah itu, kita boleh mentaati seseorang yang durhaka kepada Allah dan Rasul-Nya. [Selesai].

Masalah 32

Kemudian persoalan2 yang nyata-nyata kemaksiatan semisal perpecahan, meninggalkan sholat, mencukur jenggot dan seterusnya yang salafiyin berusaha mendakwahkannya engkau anggap sebagai sebuah kesalahan, padahal nyata bertentangan dengan petunjuk Rasulullah, Sedangkan semua itu akan membawa kepada semakin jauhnya umat Islam dari pertolongan Alloh. Apakah penulis ini menyangka… bahwa dengan semakin menjauhi petunjuk maka pertolongan Alloh akan turun??? Nadzubillah…

Sesungguhnya mengembalikan umat Islam kepada ajarannya adalah sebuah langkah tepat sesuai dengan bimbingan Rasulullah. Maka kejayaan umat Islam hanya bisa diraih dengan kembalinya umat kepada ajarannya yang lurus. Kembali kepada Islam sebagaimana Islam yang dipahami pendahulu umat ini. Bukan kembali kepada ajaran lainnya. Karena, jika umat ini dibawa kepada ajaran2 yang bukan bersumber dari mereka –sahabat dan generasi terbaik yg mendapat jaminan dari Rasulullah- maka selamanya pertolongan Alloh tidak akan didapat.

Catatan AMW 32:

Bukan begitu maksudnya, syaikh! Masak seorang Muslim memerintahkan saudaranya meninggalkan agamanya, lalu durhaka dalam maksiyat kepada Allah dan Rasul-Nya? Ini adalah fitnah bodoh yang tidak layak dipikirkan! Tetapi di mata Salafi, ia bisa diplintir-plintir tidak karuan, lalu dihiasi kebiasaan mereka mencela manusia sesuka hati. (Mungkin mereka kelak akan mendapat “hasil besar” dari kebiasaan cela-mencela itu. Na’udzubillah min dzalik).

Maksudnya begini, dalam meluruskan manusia dari kesalahan, harus melihat situasi dan kondisinya. Mencukur jenggot dan memelihara kumis itu perbuatan keliru, tidak sesuai Sunnah Nabi. Tetapi kalau kamu mengejek para polisi atau tentara yang melakukan perbuatan itu, kamu bisa digebuki mereka. Begitu pula, menghiasi tubuh dengan tato adalah perbuatan munkar. Tetapi kalau kamu menjelek-jelekkan seorang preman terminal karena tato di tubuhnya, kamu bisa pulang dengan wajah bengep-bengep. Kamu juga boleh berpendapat bahwa demokrasi itu haram, tetapi kalau kamu teriak-teriak hal itu di depan ribuan simpatisan PDIP, kamu bisa dihujani batu. Intinya, kebenaran itu bukan hanya soal dzatnya saja, tetapi juga cara menempatkan kebenaran itu sendiri.

Saat ada orang kecelakaan berat, kebetulan dia memakai celana menutup mata kaki. Apakah seorang Salafi akan enggan menolong orang itu karena celananya turun sampai di bawah mata kaki? Atau misalnya, ada seseorang sedang tenggelam di sungai, sedangkan orang itu dikenal tidak mau diajak ke majlis taklim. Apakah kita akan menolong orang itu, atau bertanya ke dia, apakah dia sudah mau pergi ke majlis taklim atau belum? Harusnya, mereka selamatkan dulu jiwanya, baru nanti ditanya. Inilah yang disebut Fiqih Aulawiyyah (Fiqih Prioritas).

Bukan kita harus mengabaikan kesalahan-kesalahan warga Muslim Palestina dalam amal-amal mereka. Tetapi ada prioritas lain yang lebih penting didahulukan, seperti menyelamatkan jiwa, menyelamatkan agama dan moral, harta benda, keluarga, kehidupan, dan lainnya. Bagaimana mereka hidup lebih baik dan Islami, kalau sepanjang waktu terus mendapatkan teror dari orang-orang kafir? Selamatkan mereka dulu dari teror, baru luruskan kesalahannya. Toh, kalau mau jujur, jangan jauh-jauh ke Palestina. Di sekitar kita pun banyak Muslim yang terjerumus dalam kesalahan-kesalahan. Apakah Anda tidak malu, mengkritik Muslim Palestina, sementara di sekitar Anda juga banyak orang-orang yang salah seperti itu? [Selesai].

Baca entri selengkapnya »