Antara Tauhid dan Iman Kristiani

Desember 20, 2011

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Dalam artikel “Allah Ta’ala Ada di Langit”, ada seorang pembaca yang mengajukan pertanyaan menarik. Pertanyaan ini perlu dibahas dalam tulisan tersendiri karena pembahasannya cukup melebar. Dan kebetulan, logika yang dipahami oleh si penanya itu sering muncul dalam tulisan orang-orang tertentu. Mereka mengklaim, bahwa konsep Tauhid yang diajarkan Ibnu Taimiyyah dan lain-lain, seperti konsep keyakinan Yahudi dan Nashrani terlaknat (begitu kira-kira yang pernah saya baca dari tulisan “abu salafy” dan manusia-manusia semisal di internet).

Isi pertanyaan pembaca tersebut adalah sebagai berikut:

Dengan mengimani Allah Ta’ala di langit secara ‘apa adanya’, bukankah seperti orang Kristen yang menafsirkan ‘Bapa Allah’ apa adanya? Dan  akhirnya mereka menganggap Yesus punya bapak, dan mereka pun berkilah bahwa ‘bapa’ tidak bisa disamakan dengan ‘bapak’. Dan akhirnya mereka juga berkata: IMANI SAJALAH! Mohon penjelasan!

Kalau penanya itu mau berterus-terang dan lebih jelas dalam menjabarkan pertanyaannya, mungkin dia akan mengungkapkan pertanyaannya seperti berikut ini:

“Orang Kristen meyakini bahwa Yesus (Isa ‘Alaihissalam) adalah tuhan yang ada di muka bumi. Semantara ada ‘Tuhan Bapak’ di syurga sana. Kalau meyakini bahwa Allah ada di langit, ya apa bedanya dong dengan keyakinan orang Kristen? Mereka bilang ‘Bapak di syurga’, lalu kita bilang ‘Allah di langit’. Sama saja kan? Jadi, keimanan orang Wahabi (kalau boleh disebut demikian) sama seperti keimanan orang Kristen. Apalagi orang Kristen selalu berdalih ‘imani saja deh, gak usah banyak mikir’. Itu sama seperti kata orang Wahabi, ‘imani saja, apa adanya.’”

Mari kita coba bahas pertanyaan ini secara runut dan teratur. Bismillah bi nashrillah, laa haula wa laa quwwata illa billah.

Isaac Newton: Kecewa dengan Konsep Trinitas.

PERTAMA, mula-mula kita harus meyakini bahwa konsep Akidah Islam berbeda dengan konsep keimanan Kristiani. Berbeda secara ushul (pokok) maupun perincian (tafshiliyah). Dr. Al Qaradhawi pernah mengatakan, bahwa keimanan Ummat Islam memiliki kemiripan dengan kaum Yahudi. Keduanya mengajarkan Tauhid. Hanya saja, tauhid dalam model Yahudi bersifat egoisme qaumiyyah (seakan Tuhannya kaum Yahudi itu hanya untuk mereka sendiri). Kemudian gambaran tauhid Yahudi itu sudah tercemar sedemikian rupa oleh tangan-tangan kotor manusia. Hingga diceritakan disana, suatu saat Allah dipiting (dibekuk lehernya) oleh Nabi Dawud, lalu Allah akan dilepaskan, setelah Dia mau memberkati Nabi Dawud. Intinya, Tauhid dalam Islam adalah ajaran yang berbeda dengan konsep monoteisme Yahudi. Dr. Adian Husaini pernah membahas masalah ini dalam tulisan-tulisan beliau. Kalau dengan monotesime Yahudi saja berbeda, apalagi dengan konsep keimanan kaum Nashrani.

KEDUA, pada awalnya ajaran Tauhid Nashrani sama seperti ajaran Tauhid yang kita yakini. Inilah ajaran Tauhid seperti yang diajarkan oleh Nabi Ibrahim dan Rasul-rasul sebelumnya. Namun kemudian ketika agama Nashrani diadopsi sebagai agama resmi Kekaisaran Byzantium (Romawi) terjadi benturan ideologi yang sangat keras. Mereka mau masuk agama Nashrani asalkan ada perubahan hal-hal fundamental dalam ajaran itu. Disini lalu dilakukan kompromi. Nashrani menjadi agama resmi Byzantium, tetapi agama itu harus mengadopsi ajaran-ajaran pagan (kemusyrikan) yang semula menjadi ajaran kaum Byzantium. Maka mulailah dimasukkan unsur-unsur pagan dalam agama Nashrani yang semula hanif (lurus). Unsur pagan itu antara lain: akidah Trinitas (Tuhan Bapak, Anak, dan Roh Kudus), menganggap Maria memiliki sifat ketuhanan, pemakaian simbol Salib, hari ibadah pada hari Ahad (Sunday = hari matahari), perayaan Natal setiap tanggal 25 Desember, pembuatan gambar, patung-patung, dll.

Katanya, awal invasi nilai-nilai paganisme ini dimulai sejak Konsili Nicea. Lalu para pengikut Nashrani yang masih setia dengan ajaran Tauhid yang lurus, mereka melarikan diri. Di antara mereka adalah para pemuda Ashabul Kahfi yang kita baca dalam Surat Al Kahfi itu. Para pengikut Tauhid terus berusaha menyelamatkan Injil versi asli yang mengajarkan nilai-nilai Tauhid secara lurus, misalnya Injil Barnabas. Ada yang berkata, ditemukannya “Gulungan Kumran” (Scroll of Qumran) di Laut Mati juga mengarah kepada bukti-bukti ajaran Nabi Isa ‘Alaihissalam yang masih lurus itu. Intinya, konsep keimanan Kristiani selama ini bukanlah konsep akidah Isa ‘Alaihissalam yang semestinya. Kebanyakan merupakan hasil invasi dari ajaran-ajaran paganisme Byzantium.

KETIGA, perbedaan antara akidah Tauhid Islami (Millah Ibrahim) dengan akidah Kristiani yang paling mendasar ialah dalam masalah Trinitas. Dalam Islam, Allah adalah Maha Satu, tidak mempunyai anak dan tidak menjadi anak bagi yang lain, dan tidak ada yang setara dengan Allah satu pun jua. (Baca Surat Al Ikhlas). Sedangkan dalam iman Kristiani, mereka meyakini bahwa Tuhan itu ada 3: “Tuhan Bapak, Yesus Anak Tuhan, dan Roh Kudus.” Malah ada 4, ditambahkan dengan Bunda Maria.

Dalam praktiknya, yang diperlakukan sebagai “tuhan” oleh kaum Kristiani banyak. Selain yang sudah disebut itu, ada juga: Salib, Sri Paus, pendeta (pastor), Santo-santo, dll. Mereka semua itu dibuatkan patung atau monumennya, lalu diharapkan berkah dan pertolongannya. Dalam agama Katholik, seorang pendeta selain bisa memberikan pemberkatan, ia juga bisa mengampuni dosa (ingat bilik-bilik ampunan dosa di gereja-gereja Katholik). Jadi, kalau dipikir-pikir, ajaran Nashrani hari ini terlalu banyak dipengaruhi oleh spirit paganisme. Background-nya ajaran Isa Al Masih, tetapi realitasnya banyak paganisme.

Dalam Surat Al Maa’idah dijelaskan, bahwa Allah tidak suka dengan ajaran Trinitas itu. Bahkan menyebut siapapun yang meyakini Trinitas, dia telah kafir. “Laqad kafara alladzina qaluu innallaha tsali-tsun tsala-tsah, wa maa min ilahin illa ilahu wahid” (sungguh telah kafir orang yang mengatakan bahwa Allah adalah “satu di antara Tuhan yang tiga”, dan tidak ada satu pun ilah selain Ilah yang Satu –yaitu Allah-). [Al Maa’idah: 73].

Baca entri selengkapnya »

Iklan