Hary Tanoe, Surya Paloh, dan Nasdem

Januari 26, 2013
Sudah Ngacir, Sebelum Perang Dimulai.

Sudah Ngacir, Sebelum Perang Dimulai.

Ibarat partai politik, Nasional Demokrat (Nasdem) belumlah berkiprah apa-apa. Ia masih sebatas dinamika internal, promo politik, penggalangan massa, membuat opini, dan seterusnya. Belumlah bermain dalam tataran politik sesungguhnya, karena Nasdem belum pernah ikut pemilu; ia baru saja diakui sebagai peserta pemilu 2014 nanti dengan nomer urut 1.

Tapi Nasdem seperti seorang pelari marathon, yang muntah-muntah sebelum bendera start dikibarkan. Beberapa pengurus teras Nasdem seperti Hary Tanoe, Ahmad Rofiq, Jefry Geovani, beberapa pimpinan daerah, pimpinan cabang luar negeri, serta kader-kadernya banyak yang keluar dari partai ini. Alasannya, rata-rata mereka tidak suka Surya Paloh menjadi Ketua Umum Nasdem. Ibarat perang belum dimulai, para prajurit dan komandan sudah pada ngacir.

Kalau mendengar¬† isi Editorial Media Indonesia (MetroTV) dari waktu ke waktu, rasanya kenyataan ini sangat IRONIS. Seolah orang-orang media ini paling pintar, suci, dan serba ideal. Tapi fakta berbicara, mereka tidak lebih baik dari partai-partai lain yang tidak mengalami kekisruhan “sebelum bertanding”. MetroTV sendiri tampaknya tidak mau membahas soal “kisruh internal” Partai Nasdem ini, karena khawatir akan men-demarketing partai itu di panggung politik nasional.

Hary Tanoe sendiri sangat khas dengan iklan-iklan yang dia tayangkan di media-media dalam MNC Grup. Dia terus mengklaim, atau semacam mengajari bangsa Indonesia, tentang pentingnya pengusaha terlibat politik. “Sebagai pengusaha biasanya tidak mau terlibat dalam politik. Tapi saya sengaja terlibat untuk memperbaiki bangsa dan negara.” Ya begitulah kira-kira ucapan Hary Tanoe yang telah terekam dalam benak ratusan juta manusia di Indonesia dan lainnya.

Tapi fakta memberikan jawaban sangat memalukan bagi Hary Tanoe. Belum juga dia bertanding dalam gelanggang politik secara head to head, dia sudah mundur dari partai yang ikut didirikannya. Malah keluarnya Hary Tanoe ini seperti membawa “gerbong para pengikut” dan menyebarkan aroma tidak sedap dari dapur internal Nasdem. Ya mungkin Hary Tanoe akan tetap bermain politik, sebagai pilihannya; tapi sikap menggurui rakyat Indonesia, dengan kalimat-kalimat santun, moralis, dan seterusnya; sementara mental politik dia sendiri temperamental (tidak sabaran); hal itu jelas tidak klop. Kalau mau menggurui sebuah bangsa, buktikan dulu kinerja dan perjuangan Anda. Belum apa-apa sudah berlagak “paling hero”, tetapi bersabar sedikit saja dalam negosiasi posisi politik, sudah tidak tahan. Hal itu menjawab sebuah dugaan, bahwa niat Hary Tanoe masuk dunia politik bersifat pragmatis, bukan berjuang bagi bangsa dan negara.

Dalam konteks ini, kita tak mau mengadili Nasdem, karena memang partai ini masih baru. Berilah dia kesempatan untuk terlibat, berkiprah, dan seterusnya demi kebaikan rakyat Indonesia (seperti yang dicita-citakannya). Biarlah dia berdinamika dengan kondisi internalnya, lalu bersiap menyongsong Pemilu 2014. Soal posisi Surya Paloh atau siapapun, ya biar saja, kan itu urusan internal mereka. Siapapun yang terpilih, itu sudah termasuk hak-hak politik mereka yang mesti dihargai. Hanya saja, kita mengkritik sikap “sok menggurui” atau “sok pintar sendiri”. Itu saja. Maka buktikan semua klaim dengan karya nyata; jangan sebatas retorika.

Bagi Nasdem, jika mereka berhasil keluar dari “kemelut besar” ini, ia akan jadi pelajaran berharga bagi mereka. Bisa jadi nanti mereka lebih mampu menghadapi aneka dinamika internal partai. Tapi kalau akibat kisruh itu mereka “gugur sebelum berbunga”, ya sangat menyedihkan saja.

Oke. Itu dulu. Mari kita lihat para anak negeri sedang berjuang memperbaiki bangsanya, lewat jalur politik praktis.

Mine.

Iklan