Apresiasi Seorang Pembaca Buku

April 1, 2011

Kekuatan Besar di Balik Buku

Sebagai penulis buku, banyak suka-dukanya. Kadang menerima kenyataan-kenyataan yang membuat diri harus penuh kesabaran. Namun kadang menerima HIBURAN dari Allah Ta’ala. Sumber hiburan bisa dari mana saja; termasuk dari arah yang tidak disangka-sangka. Salah satu hiburan terindah bagi penulis buku, ialah ketika menerima pujian tulus dari seorang pembaca. Ini bukan pujian yang dibuat-buat tetapi asli tulus, insya Allah.

Saya pernah mendapat surat yang ditulis tangan. Dikirim seorang bapak-bapak asal Surabaya. Kalau tidak salah, namanya Ahmad Ma’ruf. Beliau mengaku sangat terkesan dengan buku “Hidup Ini Mudah” yang saya tulis. Lalu beliau menulis surat apresiasi. Hebatnya, dalam surat itu beliau juga memberi saya hadiah sebuah buku agenda dan ballpoint tinta tebal. Masya Allah, hal-hal seperti ini merupakan “kado istimewa” bagi seorang penulis.

Kalau kita membaca teks endorsement yang terletak di cover belakang buku, itu bisa dibuat-buat. Sebagian endorsement merupakan teks yang sudah disiapkan, bukan dari pembaca. Nanti pembaca tinggal memilih teks mana yang cocok dengan hatinya. Hal ini saya ketahui dari informasi penerbit tertentu. Untuk membuktikannya mudah. Biasanya komentar pembaca dalam endorsement selalu berbeda-beda, padahal komentar yang ditujukan untuk buku yang sama, sangat mungkin menghasilkan komentar yang sama pula. Hal-hal demikian ini sering sudah di-setting secara sengaja.

Berikut ini sebuah apreasiasi berharga dari seorang pembaca buku “Aku Membaca Aku Tersenyum” yang telah saya tulis. Komentar positif ini dikirim via e-mail oleh seorang mahasiswi Sastra Inggris di Unpad Jatinangor. Beliau berasal dari Indramayu, Jawa Barat. Memang di bagian akhir buku, saya sebutkan akses e-mail yang bisa dihubungi. Sekedar catatan, teks yang tercantum ini sudah dilakukan penyuntingan seperlunya. Sebagian besar isi surat dipertahankan, hanya diberi perubahan sedikit agar enak dipandang, mudah dibaca, dan lebih jelas. Tidak ada perubahan substansial di dalamnya.

Assalamu’alaikum Warahmatullah Wabarakaatuh.

Bapak penulis yang terhormat,

Maaf sebelumnya, saya telah memberanikan diri untuk mengirim email ini. Namun saya hanya ingin memberikan pendapat saya tentang buku yang Bapak tulis yang berjudul “Aku Membaca Aku Tersenyum” yang diterbitkan oleh Penerbit Khalifa, Jakarta.

Saya, Jessica Lusianov, mahasiswa UNPAD Fakultas Sastra, telah membaca buku tersebut. Setelah membacanya, saya menilai bahwa buku yang Bapak tulis benar-benar sangat bagus dan menggugah. Saya menyukainya. Mengapa? Karena isi buku tersebut benar-benar penuh renungan, hikmah, humor, pengalaman berharga, dan yang paling penting adalah SANGAT MEMOTIVASI saya untuk lebih giat dan gemar membaca buku-buku umum, baik itu di perpustakaan dan di toko buku. Saya sendiri adalah penggemar buku kelas berat karena saya sendiri termasuk pribadi yang pendiam dan agak tidak menyukai hiburan (meskipun saya hobi bermain alat musik dan menyanyi selain membaca buku).

Saya benar-benar dibuat bangkit disebabkan tulisan-tulisan Bapak di buku tersebut yang sebagian besar mengajak masyarakat, khususnya Kaum Muda dan Pelajar untuk lebih mencintai buku (bacaan). Mulai sekarang, setelah membaca buku tersebut, saya menjadi sadar bahwa ilmu dan wawasan itu tidak hanya didapatkan di bangku sekolah saja, tapi melalui membaca juga wawasan kita akan luas.

Yang paling penting adalah, saya pun sadar atas apa yang saya perbuat selama ini salah. Saya sendiri adalah tipe orang yang kurang tidur, kurang minum air putih, dan tidak pernah berolahraga. Akan tetapi, setelah membaca buku tersebut yang di dalamnya terdapat tips menjaga kesehatan dan sebuah kisah yang cukup menggugah hati yang akhirnya menyimpulkan bahwa menjaga kesehatan itu perlu (dan bahwa belajar sampai larut malam mengabaikan kodrat fisik itu salah), saya pun menyadari kekeliruan saya selama ini.

Saya sangat berterima kasih kepada Bapak karena melalui buku yang Bapak tulis saya akhirnya mengerti. Akhirul kalam, saya benar-benar kagum terhadap Bapak dan buku Bapak dan saya mengucapkan terima kasih sekali lagi. Sekian dari saya, seorang pembaca. Teruslah berkarya dan menghasilkan buku-buku yang terbaik. Saya doakan semoga Bapak sehat dan sukses selalu.


Wabillahi Taufiq wal Hidayah. Wassalamu’alaikum Warahmatullah Wabarakaatuh.

Pembaca

JESSICA LUSIANOV.

Secara pribadi, ada rasa malu membaca komentar indah seperti di atas. Tetapi bagaimana lagi, itu adalah apresiasi pembaca yang dia sampaikan secara tulus. Alhamdulillahi Rabbil ‘alamiin. Intinya, jika ada yang baik dan bermanfaat, semoga hal itu bisa menjadi kebaikan, bagi pembaca, juga bagi penulis, dan Ummat. Allahumma amin.

Buku “Aku Membaca Aku Menulis” itu berisi banyak entry dan substansi. Humor hanyalah sebuah METODE saja, untuk menyampaikan kepada maksud sebenarnya. Dalam buku itu, terutama di bagian-bagian akhir, saya kaji secara intens cara-cara MEMBANGKITKAN KEKUATAN TERSEMBUNYI dari buku-buku yang diam rapi di atas rak itu. Melalui buku, kita bisa mencapai kekuatan dan keahlian seperti yang kita inginkan.

Disana ada kekuatan tersembunyi, andai kita berkenan membacanya…

AM. Waskito.

Iklan

PROMO BUKU: “Aku Membaca Aku Tersenyum”

November 24, 2010

Judul buku lengkap: “AKU MEMBACA AKU TERSENYUM: Pesona Humor, Pengalaman Hidup, Hikmah, dan Wawasan Segar.” Disingkat, AMAT.

Buku ini –seperti buku lainnya- telat saya promokan. Diterbitkan oleh Penerbit KHALIFA pada Juli 2010, tetapi baru sekarang dipromokan. Secara officially, tentu buku ini sudah dipromokan oleh Penerbit KHALIFA. Link promonya bisa dilihat disini: “Promo Buku AMAT”.

Buku “Aku Membaca Aku Tersenyum” termasuk buku paling unik di antara buku-buku yang pernah saya tulis. Buku ini bertema ringan, kreatif, humor, atau menjurus “hiburan”. Tetapi tentu saja hiburan yang baik, insya Allah. Dalam buku ini ada sekitar 60 entry tentang kisah, pengalaman hidup, renungan, hikmah, informasi, catatan kritik, anekdot, dll. Semua ditulis ringan-ringan, dengan tujuan memberikan hiburan segar dan sehat bagi pembaca.

Cover Depan Buku AMAT.

Secara ide, buku AMAT sebenarnya masih tergolong buku serius. Ia disusun karena suatu alasan tertentu. Singkat cerita, menurut analisis yang saya buat dengan parameter tertentu, minat baca masyarakat kita sangat rendah. Dari setiap 1000 penduduk, paling hanya ada 6 atau 7 orang yang hobi membaca. Itu adalah jumlah yang sangat kecil sekali. Tidak sampai 1 %. Dengan kualitas minat baca serendah itu bagaimana bangsa Indonesia akan maju dan bersaing? Embel

Ditulis buku AMAT sebenarnya dalam rangka “mengompori” masyarakat, agar senang membaca, rindu membaca, dan hobi membaca. Ya, tujuan besarnya tentu nanti ke arah “mencerdaskan kehidupan bangsa” dan “ikut menciptakan ketertiban dunia”. He he he…kok jadi membahas tentang UUD ‘45 ya. Buku ini memang ingin mengajak masyarakat senang membaca, agar bangsanya maju. Karena masyarakat kita lebih suka hal-hal yang lucu, maka ditulis buku humor. Kalau ditulis buku semisal, “Kaidah Membaca dalam Kehidupan Insan”, khawatinya…kagak ada yang mau baca. Tujuannya sih serius, tetapi caranya agak berbau lawakan. (Mohon, para komedian di TV jangan merasa tersaingi ya…santai aja).

Secara umum, buku ini bagus sekali (he he he, namanya juga promo, boleh kan bilang begini… Kalau ditulis, “buku ini payah deh,” itu bukan promo namanya, tetapi “fitnah”…). Berbeda dengan buku-buku humor biasa, saya memuat lebih banyak kisah, hikmah, peristiwa, atau catatan yang bersifat nyata. Memang ada beberapa humor yang bersifat fiktif. Itu ada. Kalau dibaca insya Allah tidak nyesal deh. Lagi pula, khusus bagi saya, agar tidak ada kesan bahwa “abisyakir” itu serius melulu. Meskipun nantinya, entry buku itu tetap ada yang serius.

Sekedar gambaran ya…dalam buku ini saya memuat materi-materi antara lain: Kisah Lucu tentang Rokok, Salah Memasukkan Infak, Rahasia Negeri Impian, Makan Biawak Lokal, Duit Setumpuk di Zimbabwe, Angsa Ratu Inggris, Air Mata Sarjana Teknik, Nasib Seorang Senior, Kisah Unik Seputar Was-was, Bertanya Malah Ditertawakan, Sisi Jenaka Novel Andrea, 10 Manfaat Membaca, dll.

Namun ada beberapa materi yang menurut saya istimewa, antara lain: Menjebak Seorang Penipu (pengalaman nyata menjebak penipu SMS), Si Jangkrik Besar (pengalaman memelihara jangkrik di masa kecil), Buku “Indonesia Menggugat” (pengalaman meminjamkan buku ke guru di SD), Pengorbanan Kaum Sanusi (di Afrika Utara), Sosok Pahlawan Buku (dari Desa Jabung, Kab. Malang), dan Cara Praktis Mencintai Buku (bagian menjelang akhir).

Kisah kaum Sanusi di Libya sangat mengharukan. Ia merupakan catatan perjalanan Ustadz Muhammad Asad ketika membantu perjuangan kaum Sanusi (termasuk panglima Umar Mukhtar di dalamnya) menghadap penjajah Italia. Tentu saja kejadian itu terjadi di masa lalu, saat perjuangan Singa Padang Pasir, Umar Mukhtar rahimahullah. Kaum Sanusi adalah komunitas Muslim yang berjuang meraih kemerdekaan dari penjajah Eropa di Afrika Utara. Sayangnya, perjuangan mereka kandas justru karena sikap kaum Muslimin sendiri. Entry ini sangat layak dibaca, untuk memahami setting sejarah Islam di awal-awal abad 20.

Kalau pembaca tertarik, silakan membeli bukunya. Kalau tidak punya uang, silakan meminjam ke teman. Kalau tidak ada kawan yang memiliki atau mau meminjami buku, silakan berdoa saja agar kaum Muslimin di Indonesia mau meningkat minat bacanya. Soal humor atau hiburan, itu hanya wasilah saja, bukan esensi yang dituju. Tidak bisa mengakses tulisan bernuansa humor dari buku ini, masih banyak sumber-sumber lain. Toh, kalau otot rahang kita banyak “latihan” tertawa, atau bahkan “hobi” tertawa ngakak, pastilah nanti capek-capek juga. Iya kan?

Cover Belakang Buku AMAT.

Terkait buku AMAT sendiri, sejak awal terbit, saya sudah komitmen ke penerbit untuk membantu mempromokan buku ini. Tetapi masya Allah, kesempatan untuk itu selalu tertunda-tunda, sampai 4 bulanan. Dan baru ada kesempatan ketika media blog ini justru sedang berproses menuju masa transformasi  besar. Sebenarnya malu mempromokan buku ini setelah lewat sekian bulan. Tetapi bagaimana lagi, kesempatan dan keluangan baru ada saat ini. Tak apalah telat, asal tetap dipromokan. Minimal, untuk melunasi janji yang sudah disampaikan. (Sungguh, janji itu sesuatu yang sangat ringan terucap. Namun setelah itu, kita akan tersandera oleh janji tersebut, sampai kita bisa melunasinya. Biarpun telat dan akhirnya harus mengucap permohonan maaf).

‘Ala kulli haal, terimakasih atas perhatian pembaca budiman semua. Mohon maaf atas semua salah dan kekurangan. Dengan Anda mau sabar mantengi artikel-artikel di blog ini, sebenarnya Anda sekalian sudah LULUS dari missi yang dikehendaki buku, “Aku Membaca Aku Tersenyum”.

Lho, kok jadi susah mengakhirinya ya… Yo wis, sampai disini ajah. Matur nuwun. Syukran jazakumullah khair wa barakallah fikum jami’an. Amin.

[ P. E. N. U. L. I. S ].