MARI MELIHAT LEBIH BIJAK

Desember 21, 2015

Bismillah. Ini sebuah ajakan kepada semua IKHWAH Muslim untuk melihat Gerakan Islam (Harakah) lebih bijak. Jangan selalu berlandas tuduhan-tuduhan sepihak yang bersifat fitnah.
.
PRINSIP: Mari melihat dari dekat, jangan terus dari jauh. Mari melihat “dari mata mereka”, bukan selalu “mata kami”. Mari melihat sisi KELUASAN SYARIAT, bukan dari sudut-sudut sempit terus.
.
Kita ambil contoh, gerakan Al Ikhwan Al Muslimun. Ini adalah nama yang sudah populer.
.
[1]. Tujuan awal gerakan ini, MENEGAKKAN KHILAFAH ISLAMIYAH, setelah Khilafah Turki Utsmani runtuh 1924 M. Harus diingat tujuan ini.
.
[2]. Prinsip pendirinya: “Menegakkan Syariat dalam kehidupan negara hukumnya fardhu kifayah. Jika tidak ada yang menegakkannya, semua Muslim dianggap berdosa.”
.
[3]. Missi dakwah: “Melindungi agama dan keimanan Ummat dalam naungan sebuah jamaah; ketika negara tidak bisa diandalkan untuk melindungi agama Ummat.”
.
[4]. Akidahnya Ahlus Sunnah wal Jamaah, dengan asumsi: Tidak menganut paham Syiah, Khawarij, Murji’ah, Mu’tazilah, Jahmiyah, Jabbariyah, Qadariyah.
.
[5]. Katanya, Syaikh Al Banna, menganut paham TAFWIDH dalam Sifat Allah. Andaikan saja demikian, ini termasuk khifaf cabang akidah di kalangan para ulama sejak zaman dahulu.
.
[6]. Metode kaderisasi Al Ikhwan memakai sistem halaqah (liqa’), dengan ada murabbi & mutarabbi (murid). Ini adalah perbedaan dalam masalah SARANA (wasilah). Tidak boleh dibesar-besarkan. Karena sistem madrasah/sekolah di zaman Nabi Saw juga tidak ada.
.
[7]. Al Ikhwan ikut proses demokrasi. Ini adalah partisipasi politik secara fair, sesuai mekanisme hukum yang ada. Tujuan membendung maksud-maksud politik destruktif terhadap kehidupan Ummat; menawarkan nilai-nilai Islam untuk diadopsi oleh negara.
.
[8]. Al Ikhwan membolehkan demonstrasi. TAPI itu terjadi di negara-negara yang membolehkan hal itu.
.
[9]. Al Ikhwan merupakan gerakan rahasia. Kalau rahasia, mereka tidak menulis buku, berdakwah, berkhutbah, membuat partai, membuat sekolah, dll.
.
[10]. Al Ikhwan katanya hizbiyah, fanatik golongan. Hampir semua kelompok Islam ada kenyataan begitu. Sejak zaman Salaf pun ada fanatisme madzhab (ke madzhab Hanafi, Maliki, Syafi’i, Hanbali).
.
[11]. Al Ikhwan katanya menghasut pemberontakan politik. Lha faktanya mereka ikut demokrasi. Apa demokrasi sama dengan kudeta?
.
[12]. Katanya Al Ikhwan mendukung terorisme. Coba sebutkan fakta, data, dan buktinya!
.
[13]. Katanya Al Ikhwan memecah-belah barisan Ummat. Faktanya, mereka mau KERJASAMA dengan elemen-elemen Muslim di mana pun. Di Mesir, Turki, Yordan, Sudan, Afghan, Irak, Suriah, dll mereka mau kerjasama. Dan lagi pula, tercerai-berainya Ummat adalah tanggung-jawab semua, ketika TIDAK ADA KHILAFAH pemersatu Ummat. Bukan tanggung-jawab satu HARAKAH saja.
.
INI hanya sekedar contoh agar kita BIJAK dalam mengikuti pendapat. Jangan MEMELIHARA DENDAM kepada orang-orang yang tidak bersalah.
.
Kasihani dirimu, agama, iman, dan kehidupanmu.
.
Wallahu a’lam bis shawaab.

(Al Wasath).

Iklan

AL IKHWAN DAN TUDUHAN KHAWARIJ

Desember 21, 2015

Ini termasuk tuduhan mematikan dan sudah beredar sedemikian lama. Tentu sudah menimbulkan kerugian-kerugian dalam kehidupan kaum Muslimin, baik anggota Al Ikhwan Al Muslimun sendiri, maupun orang-orang yang bermualamah dengannya.
.
Alasan tuduhan ini, karena beberapa perkara: [1]. Al Ikhwan dituduh mengajarkan paham memberontak kepada penguasa. [2]. Al Ikhwan disebut mendukung gerakan-gerakan demonstrasi. [3]. Al Ikhwan disebut menghalalkan serangan “bom manusia”.
.

Bersikaplah Adil

Bersikaplah Adil

MISALNYA tentang demonstrasi. Rata-rata gerakan Al Ikhwan memanfaatkan kesempatan demonstrasi untuk tujuan: membela nilai-nilai Syariat dan memperjuangkan kepentingan politik. TETAPI harus diingat, jalan demonstrasi itu dilakukan di negara yang HUKUMNYA MEMBOLEHKAN HAL ITU. Jika secara hukum tidak diperbolehkan, mereka tidak melakukannya. Coba Anda perhatikan demo-demo yang dikoordinasi oleh gerakan Al Ikhwan, rata-rata di negara yang membolehkan aksi tersebut.
.
Kemudian tentang serangan “bom manusia”. Al Ikhwan tidak membolehkan hal itu dilakukan di negara damai (non perang). Diperbolehkan di wilayah-wilayah perang, dengan syarat ketat. Adapun serangan bom manusia di negara damai, mereka nilai sebagai bagian dari TERORISME. Hal itu secara fikih ala Al Ikhwan ditolak keras.
.
Adapun jika ada elemen-elemen gerakan Takfiri yang melakukan serangan-serangan “bom manusia” di wilayah aman (non perang). Ya, jangan dikaitkan dengan gerakan Al Ikhwan. Itu tentu sangat berbeda. Kita tidak boleh menghukum orang yang tidak bertanggung-jawab atas suatu perbuatan.
.
Kemudian soal pemberontakan… Ini penting dijelaskan. Sebenarnya, tidak bisa menilai Khawarij tidaknya suatu kaum karena alasan pemberontakan. Para ahlul bughat (pemberontak) itu tak otomatis dianggap Khawarij. Lagi pula, jika demikian, maka sebagian Shahabat Nabi Ra bisa masuk golongan Khawarij. Bahkan berdirinya Daulah Umawiyah, Daulah Abbassiyah, Daulah Andalusia, dan lainnya bisa dianggap bagian dari Khawarij.
.
TETAPI masalahnya, Al Ikhwan tidak memiliki reputasi memberontak kepada penguasa (pemerintah) di mana saja, baik pemerintah Islami atau sekuler. Coba Anda cari-cari data, di mana Al Ikhwan pernah kedapatan melakukan pemberontakan politik (kudeta)? Coba deh sebutkan!
.
Kemauan mereka menempuh metode demokrasi untuk mencapai kekuasaan, itu membuktikan MEREKA BUKAN PECINTA KEKERASAN. Tapi menghargai cara-cara kompetisi politik yang fair dan resmi. Itu fakta lho.
.
Fakta lain, saat kemarin Presiden Mursi kekuasaannya direnggut oleh As Sissi Cs dengan cara-cara sangat kasar dan biadab; ribuan tokoh dan aktivis Al Ikhwan dijebloskan ke penjara dan disiksa dengan keras; para ulama Mujahidin menyerukan agar Al Ikhwan melawan penindasan itu. Namun pimpinan-pimpinan Al Ikhwan melakukan syura darurat dan memutuskan untuk TETAP DI JALUR DAMAI. Tidak kurang, elemen-elemen Jihadi di Sinai, telah menyatakan perang kepada As Sissi, sementara Al Ikhwan yang menjadi korban keganasan As Sissi, tetap memilih cara damai.
.
Dan akan sangat berbeda jika situasinya di negeri perang, seperti Palestina, Suriah, Afghanistan, Yaman, atau Irak. Nah, di tempat-tempat ini para pemimpin Al Ikhwan membuka kesempatan perang secara gentle.
.
Anda coba perhatikan akhlak ini, kesabaran ini, serta hikmah yang dipikul oleh para ulama dan pemimpin Al Ikhwan ini? Subhanallah deh, kalau tahu kenyataan akhlak mereka, malulah kita ini.
.
Masak untuk yang seperti itu disebut Khawarij? Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. Kok manusia tidak takut ya dalam melanggar hak-hak sesama Muslim? Bukankah kata Nabi Saw, dua hal yang paling banyak memasukkan manusia ke neraka, adalah LISAN dan KEMALUAN?
.
Afwan ya. Afwan sekali. Sejak tahun 2000-an, saya sudah tidak bersama ikhwah Tarbiyah (kadang disebut Al Ikhwan). Sejak itu lebih banyak bergaul dengan ikhwah Salafi (khususnya komunitas Wahdah Islamiyah). Atas takdir dan rahmat Allah, justru setelah itu saya lebih banyak paham tentang gerakan Al Ikhwan ini. Sesuatu yang dulunya belum saya pahami.
.
Pernah suatu ketika Dr. Al Qaradhawi mengatakan, bahwa ulama-ulama seperti Syaikh Bin Baz, Al Utsaimin, Al Albani itu bukan monopoli satu kelompok saja. Beliau mengklaim, ulama-ulama itu adalah MILIK KAUM MUSLIMIN SECARA KESELURUHAN. Apakah Anda bisa mendapati contoh sikap legowo seperti itu?
.
Semoga para ahli fitnah, dendam, dan kebencian cepat-cepat bertaubat. Jangan sampai mereka wafat dalam keadaan menzhalimi kaum Muslimin. Hati-hatilah kawan!!!

(Al Wasath).


AL IKHWAN DAN SAUDI…

Desember 21, 2015

Bismillah. Rata-rata RAJA SAUDI keturunan SUDAIR bersikap baik kepada Al Ikhwan Al Muslimun. Itu bahkan sejak era Raja Abdul Aziz Al Saud rahimahullah.
.
Sikap TIDAK BERSAHABAT kepada Al Ikhwan mulai terjadi sejak KRISIS TELUK 1990-1991. Ketika itu kebijakan politik di tangan PANGERAN ABDULLAH (kmudian jadi Raja Saudi). Raja Fahd sendiri sejak tahun 80an sudah SAKIT-SAKITAN. Tidak menjabat secara efektif.
.
Dalam Krisis Teluk itu ada salah paham. Al Ikhwan dianggap mendukung Sadam Husein, padahal para aktivis Al Ikhwan banyak yang diburu di Irak. Maksud mereka adalah kampanye ANTI AMERIKA, bukan mendukung Sadam atau menentang Saudi dan Kuwait. Mengapa Anti Amerika? Sebab mereka melindungi Zionis Israel. Ini disalahpahami.
.
Di masa hidup Syaikh Hasan Al Bana rahimahullah, beliau pernah DITAWARI MENJADI GURU di Saudi; dan beliau bersedia. Namun karena satu dan lain hal agenda ini tidak jadi.
.
Bagi Raja Abdul Aziz, bekerjasama dengan Al Ikhwan lebih baik, karena mereka lebih ISLAMI. Sedangkan Raja Farouk atau Gamal Abdun Naser lebih pro SEKULARISME. Kerajaan yang Islami pasti suka bermitra dengan gerakan Islam. Pasti itu!!!
.
Ketika tokoh-tokoh Al Ikhwan, seperti Sayyid Quthb, Hasan Hudaibi, Ali Gharisah, Zainab Al Ghazali, Umar Tilmisani, dll. menhadapi ancaman eksekusi mati Gamal Abdun Naser; Mufti Saudi, Syaikh Bin Baz melayangkan surat protes ke Mesir. Tapi surat itu tak dianggap.
.
SEBAGAI bukti kesungguhan Saudi, mereka membuka pintu seluas-luasnya bagi para ulama, aktivis, dai-dai Al Ikhwan yang menyelamatkan diri dari rezim penindas di Mesir. Ini adalah fakta dan nyata. Syaikh Al Qaradhawi termasuk salah satu tamu Kerajaan Saudi di masa itu.
.
Ketika ribuan aktivis Al Ikhwan di Suriah dibantai Hafezh Assad (ayah Bashar) tahun 80an; maka Syaikh Bin Baz lagi-lagi menyerukan kaum Muslimin agar membela Al Ikhwan di Suriah.
.
Banyak lagi fakta-fakta kerjasama TA’AWUN ALAL BIRRI WAT TAQWA antara Kerajaan Saudi dengan Al Ikhwan. Ini hanya sekilas saja.
.
[1]. Bukan sesuatu yang aneh kalau pemuda-pemuda Saudi tertarik kepada Al Ikhwan; atau pemuda Al Ikhwan menjadi Salafi. Lha wong keduanya sangat berdekatan. Titik temunya: Komitmen TAUHID dan SYARIAT ISLAM.
.
[2]. Kalau jujur, madzhab fiqih keduanya juga mirip, sama-sama BERNUANSA ZHAHIRI.
.
[3]. Isu yang selalu digembar-gemborkan sebagai fitnah: “Al Ikhwan ingin mengubah sistem Kerajaan Saudi menjadi demokrasi.” Padahal jasa-jasa Saudi besar bagi Al Ikhwan, dan tak mungkin mereka akan membalas jasa-jasa itu dengan PENGKHIANATAN. Apa Anda pikir di Al Ikhwan tidak ada lagi orang berakhlak yang punya rasa malu? Nas’alullah al ‘afiyah.
.
[4]. Sebuah contoh, tentang Kerajaan Qatar. Negara ini seperti “rumah kedua” bagi Al Ikhwan setelah Mesir. Syaikh Al Qaradhawi lama di sini. Andai Al Ikhwan mau, negara Qatar jauh lebih kecil daripada Saudi. Faktanya Al Ikhwan bersikap baik, tidak ada agenda memberontak Pemerintah Qatar.
.
[5]. Bagi Al Ikhwan, situasi kehidupan Islami seperti di Saudi, telah memenuhi SEBAGIAN BESAR cita-cita perjuangan mereka. Mereka ingin kehidupan seperti itu terlaksana di negeri-negeri Muslim yang bercorak sekuler, seperti Mesir, Turki, dll.
.
JADI sangat mengherankan jika ada sekelompok orang, berlabel “Salafi”, tapi AMAT SANGAT BENCI kepada Al Ikhwan. Al Ikhwan mereka sikapi SEPERTI ORANG KAFIR. Na’udzubillah min dzalik.
.
BOLEH PERCAYA BOLEH TIDAK… Raja Abdul Aziz dan Pangeran-pangeran putra SUDAIR baik sikapnya pada Al Ikhwan. Syaikh Bin Baz dan ulama-ulama lain juga begitu. Bangsa dan rakyat Saudi menyantuni perjuangan Al Ikhwan sampai kini.
.
LHA terus, siapa yang menjadi acuan orang-orang aneh itu? Mereka ikut siapa? Ikut manhaj kecurigaan, permusuhan, dan dendamkah? Atau manhaj apa?
.
Wallahu a’lam bis shawaab. SUMEDANG, 3 Desember 2015.

(Al Wasath).


AL IKHWAN ITU AHLUS SUNNAH

Februari 19, 2015

* Alhamdulillah Pemerintah Saudi ada tanda-tanda berubah lebih baik, insya Allah. Di bawah Raja Salman, Pemerintah Saudi mau rekonsiliasi dengan Ikhwanul Muslimin. Alhamdulillah tsumma alhamdulillah.

* Al Ikhwan dekat coraknya dengan Salafiyah (Wahabi). Dekat sekali. Hanya saja, mereka terjun berpolitik dan tidak menafikan JIHAD, jika keadaan memaksa.

Dakwah untuk Perbaikan Ummat.

Dakwah untuk Perbaikan Ummat.

* Ada yang mengatakan, Al Ikhwan PRO DEMOKRASI dan ANTI MONARKHI. Anggapan ini lebih banyak salah paham, atau merupakan fitnah. Aslinya Al Ikhwan PRO KEBANGKITAN ISLAM, termasuk dalam sektor politik. Tapi mereka juga TAHU DIRI dan menyesuaikan langkah-langkah politik sesuai kesempatan yang ada. Maka itu Al Ikhwan tidak pernah membuat makar politik di Qatar, Kuwait, Yordan, atau Saudi yang menganut sistem Kerajaan.

* Bagi Al Ikhwan, mengubah SISTEM KERAJAAN menjadi demokrasi, ongkosnya sangat mahal. Hasilnya belum tentu lebih baik. FAKTA, setelah Tragedi Lapangan Rabi’ah, Al Ikhwan menempuh strategi JIHADUS SILMI, atau Jihad Damai. Karena mereka tidak mau Mesir jadi seperti Suriah. Ini membuktikan mereka berhitung tentang ONGKOS SOSIAL.

* Mengapa kemudian muncul gerakan dakwah dari Saudi yang benar-benar anti Al Ikhwan? Menurut kami, itu lebih besar karena alasan prasangka buruk, bisikan fitnah, dan hasutan. Karena sebelum tahun 1990, sikap Kerajaan Saudi selalu baik ke Al Ikhwan. Banyak tokoh-tokoh dan dainya diberi suaka politik di Saudi. FAKTA, sampai hari ini tidak pernah terungkap ada konsep MAKAR dari Al Ikhwan di Saudi.

* Sangat menggembirakan bila Kerajaan Saudi mengubah sikap prasangka, menjadi bersahabat. Karena itulah cara Raja-raja Saudi bersikap sebelum era 1990. FAKTA, Kerajaan Qatar tidak phobia dengan Al Ikhwan, padahal sama-sama kerajaan.

* Dan yang lebih penting lagi, Al Ikhwan adalah ASET BESAR Ahlus Sunnah di dunia. Ini harus jadi FOKUS smua pihak. Jangan sampai kita menghancurkan bagian dari keluarga kita sendiri!!!

* Kalau diungkap dengan bahasa yang mudah: “Al Ikhwan itu organisasi dakwah yang rapi, dekat dengan ciri-ciri Salafiyah, bersikap terbuka kepada berbagai elemen Ahlus Sunnah.”

* Al Ikhwan didirikan untuk menegakkan peradaban Islam; mengutamakan persatuan Ummat; dan konsisten di atas akidah Ahlus Sunnah Wal Jamaah.

* Ahlan wa sahlan ya Malik Salman hafizhakumullah. Wa shulhu khair ya Malik, wa innamal Mukminuna ikhwah. Barakallah fik ya Malik.

(AM. Waskito).


Lebih Bijak Memahami Posisi Pejuang Suriah (Piagam Kehormatan Revolusi)

Mei 24, 2014

Alhamdulillahi Rabbil’alamiin, was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah Muhammad wa ‘ala alihi wa ashabihil kiram wa sallim ‘alaihim ajma’in. Amma ba’du.

Baru-baru pimpinan Jabhah Islamiyah Suriah, Syaiikh Hassan Aboud dan sejumlah pimpinan faksi pejuang Islam Suriah menanda-tangani teks yang disebut “Piagam Kehormatan Revolusi”. (Isi teks ini dapat dibaca pada edisi terjemahan berikut: http://www.kiblat.net/2014/05/22/tokoh-jihad-nilai-piagam-jabhah-islamiyah-diintervensi-asing/).

Setelah teks piagam ini beredar, segera mendapat tanggapan dari faksi-faksi Mujahidin, khususnya Jabhah Nushrah dan para pemimpin Jihad internasional. Jabhah Nushrah adalah sebuah gerakan Jihad Islam, telah banyak berjasa bagi Ummat ini, telah berkorban habis-habisan dalam membela Ummat di Suriah. Mereka pantas bereaksi, pantas bersikap, dan alhamdulillah pernyataan sikapnya sangat baik, tidak keluar dari ranah Syariat Islam. (Isi teks tanggapan Jabhah Nushrah bisa dibaca pada edisi terjemahan ini: http://muqawamah.com/penjelasan-sikap-jabhah-nushrah-terhadap-piagam-kehormatan-suriah.html).

Munculnya “Piagam Kehormatan Revolusi” ini bila dipahami secara tekstual, bisa menimbulkan kerugian bagi para Mujahidin, baik di Suriah atau Mujahidin secara umum. Minimal akan membuat perpecahan yang ada selama ini semakin membesar. Oleh karena itu sebaiknya kita memandang isi “Piagam Kehormatan Revolusi” itu dalam bingkai yang lebih luas; terutama berusaha menangkap pesan-pesan tidak langsung darinya.

"Jangan Tergesa Menilai. Utamakan Persatuan!"

“Jangan Tergesa Menilai. Utamakan Persatuan!”

Mari kita mulai melihat makna “Piagam Kehormatan Revolusi” ini lebih bijaksana…

[1]. Posisi Jabhah Islamiyah (di bawah pimpinan Syaikh Hassan Aboud) selama ini cukup terjepit. Mereka berada di antara dua titik berbeda, yaitu Jabhah Nushrah yang berangkat dari Irak dan kaum Muslimin Ahlus Sunnah asli Suriah. Saat Jabhah Islamiyah menandatangani piagam tersebut, bukan berarti meninggalkan Jabhah Nushrah atau membuat jarak dengannya; bukan sama sekali. Posisi Jabhah Islamiyah di sana adalah sedang dikelilingi oleh para pejuang asli Suriah yang sedang mengajukan banyak tuntutan dan tekanan. Hal demikian harus dimaklumi.

[2]. Di antara isi piagam itu memang ada yang terkait dengan posisi Jabhah Nushrah. Hal ini janganlah dipandang sebagai sikap ashabiyah kebangsaan atau kesukuan. Tapi seolah memberikan pesan, pihak-pihak internal pejuang Ahlus Sunnah di Suriah, ingin lebih dihargai, ingin memikul peran lebih besar, atau menginginkan agar Jabhah Nushrah lebih mengerem mobilitasnya. Tidak mungkin mereka menolak atau bersikap buruk kepada Jabhah Nushrah, karena memang sejak awal mereka sangat membutuhkan keberadaan para pejuang Islam dari negeri lain.

[3]. Lahirnya piagam tersebut tak bisa dipisahkan dari kejadian tragis yang menimpa mujahid Jabhah Islamiyah, Abu Miqdam rahimahullah wa taqabbalallah fihi. Tersebarnya informasi penyembelihan Abu Miqdam yang dikenal sebagai “Qanaz Dababat” sangat mengguncang para Mujahidin Suriah. Khususnya para Mujahidin Jabhah Islamiyah. Di sini muncul berbagai ketidak-percayaan mereka kepada jamaah Daulah (ISIS) dan pihak-pihak yang masih berhuhungan dengannya. Sementara itu para pejuang Suriah sangat tahu bagaimana komunikasi balas-balasan tulisan yang terjadi antara Dr. Aiman Al Zhawahiri dan juru bicara ISIS selama ini. Di sana mereka melihat, bahwa Jabhah Nushrah sedikit atau banyak masih terkait dengan ISIS. Hal itu mulai membuat kepercayaan para pejuang Mujahidin Suriah mulai melemah, meskipun mereka juga tahu bahwa Jabhah Nushrah juga sama-sama diperangi oleh tentara ISIS. Potensi fitnah ini bisa diselesaikan dengan cara pembicaraan langsung ke pimpinan-pimpinan Mujahidin Suriah, jangan melalui media. Para pejuang senior Mujahidin perlu turun untuk membendung fitnah akibat terbunuhnya Abu Al Miqdam ini.

[4]. Perlu diketahui juga, negeri Suriah berbeda dengan negeri Muslim yang lain. Mereka selama puluhan tahun ditindas oleh rezim minoritas Nushairiyah. Mereka tetap Sunni,tapi diitindas oleh minoritas Syiah. Hal ini menimbulkan kekuatan perlawanan secara luas di masyarakat Suriah, hanya saja perlawanan diam-diam. Maka itu saat terjadi konflik, banyak sekali faksi-faksi Jihad muncul dari negeri ini. Keadaan demikian berbeda dengan situasi di negeri-negeri Muslim lain ketika Jihad berkumandang, hanya kelompok Mujahidin saja yang relatif sibuk. Perlu diingat, sejak era Hafezh Assad gerakan Jihad sudah berkembang di Suriah, bersama Ikhwanul Muslimin. Bahkan mereka itu aktif berhubungan dengan kelompok perlawanan Hamas di Palestina. Maka cara kita mendekati kancah peperangan di negeri ini harus berbeda dengan negeri-negeri lain. Intinya, perlu menjaga perasaan dan kehormatan saudara yang sejak lama tumbuh di negeri perjuangan.

[5]. Selain itu, isi “Piagam Kehormatan Revolusi” itu juga terkait sikap kelompok-kelompok Jihad Suriah terhadap gerakan ISIS. Secara jelas di sana disebutkan, mereka bereaksi keras terhadap klaim murtad yang dilontarkan oleh ISIS terhadap para pejuang dan rakyat Suriah yang tidak mendukung dirinya. Secara basa-basi jubir ISIS, Abu Muhammad Al Adnani, menolak bahwa ISIS mengkafirkan kaum Muslimin. Tapi dalam statement yang berjudul “Udzran ya Amir Al Qa’idah” jelas-jelas mereka mengkafirkan negeri-negeri Muslim Arab, Mesir, dan lainnya; bahkan berniat memerangi semua itu di bawah seorang Khalifah. (Menaklukkan Nuri Al Maliki saja belum bisa, tapi mau memerangi Jazirah Arab, Mesir, Afrika, dan lainnya?). Presiden Mursi saja mereka sebut murtad. Al Adnani tak segan-segan menyebut Jabhah Islamiyah dengan sebutan “Jabhah Laa Islamiyah”. (Ada yang aneh. Al Adnani menyebut pihak tertentu sebagai kelompok “Sururiyah”; di sisi lain mereka mencela pemerintah Saudi sebagai Ibnu Salul. Padahal yang mula-mula mengenalkan istilah “Sururiyah” itu adalah ulama-ulama dukungan pemerintah Saudi. Mana ada ulama Ahlus Sunnah sedunia yang peduli dengan istilah “Sururiyah” selain yang pro pemerintah Saudi? Ini adalah fakta kecil yang bisa bermakna besar). Di titik seperti inilah banyak pihak menyimpulkan perkara khawarij pada diri mereka. Para pendukung ISIS tidak boleh marah atau mengingkari, karena ia jelas-jelas disebutkan juru bicara ISIS dalam pernyataannya. Bahkan pernyataan itu disiarkan di berbagai media pendukung, termasuk di Indonesia. Adanya pernyataan-pernyataan Al Adnani itu harus disyukuri, karena ia memperjelas posisi ISIS di mata kaum Muslimin. Menjadi hak kaum Muslimin Suriah untuk membela diri, karena dalam hadits shahih dijelaskan, siapa yang wafat karena membela harta, agama, keluarganya, dia mati dalam keadaan syahid.

[6]. Adalah suatu reaksi yang bisa dimaklumi tatkala para pejuang Suriah melancarkan perang kepada ISIS, meskipun mereka sendiri sedang diperangi Nushairiyah. Mengapa demikian? Karena selama ini mereka telah ditindas secara kejam oleh Basyar Assad, lalu mereka berjuang ingin bebas, ingin lepas, ingin merdeka dari penindasan. Tapi anehnya, saat mereka sedang berjuang melawan rezim Assad, tiba-tiba datang “penindas” lain dari arah Irak. Pakaian dan simbol mereka seperti Mujahidin, tapi maksud dan tujuan untuk menguasai negara Suriah. Kalau diumpamakan begini: Bangsa Indonesia sedang berjuang mengusir Belanda, lalu tiba-tiba datang pasukan dari Malaysia, seragam dan simbolnya sama seperti pejuang kita; tapi maksud kedatangan mereka untuk menjajah Indonesia, menggantikan Belanda. Di sini Anda bisa memahami perasaan masyarakat Ahlus Sunnah di Suriah? Mungkin ada yang akan membantah, “Jangan terpaku pada konsep batas negara menurut Sykes Picot. Lemparkan itu ke tong sampah!” Jika demikian, kami balik bertanya, “Memang batas negara ISIS itu sendiri seperti apa? Apakah ISIS punya tapal batas yang jelas? Bagaimana petanya? Bagaimana bukti penguasaan mereka atas wilayah dalam peta itu? Bagaimana wujud pemerintahan di sana?” Andaikan ISIS punya tapal batas yang benar-benar jelas, diakui oleh kawan dan lawan; apakah adil ketika mereka datang ke Suriah lalu bermaksud merebut wilayahnya, lalu memaksa rakyatnya berbaiat kepadanya? Apakah tidak sebaiknya ISIS membantu rakyat Suriah lebih dulu untuk membebaskan diri dari penindasan rezim Assad, baru setelah itu mereka memberi pilihan kepada rakyat Suriah untuk mendukung ISIS atau mandiri? Andai perjuangan ISIS di Suriah sangat bermanfaat bagi kaum Muslimin di sana, pastilah mereka dengan rela akan mendukung kelompok itu. Inilah yang selalu dipertanyakan Ummat selama ini, ISIS mengklaim sebagai Daulah Islamiyah tapi tidak jelas batas dan bentuknya.

[7]. Bagi setiap Mukmin pasti sangat mendambakan sebuah Daulah Islamiyah seperti di masa-masa sejarah Islam yang sudah berlalu. Banyak gerakan-gerakan Islam modern dibangun untuk tujuan ke sana, meskipun caranya berbeda-beda. Namun Daulah ini tentulah suatu tatanan pemerintahan dan masyarakat yang membawa rahmat di muka bumi. Mereka membuka diri dari seluruh Muslim untuk berhijrah kepadanya; mereka mencintai kaum Muslimin dan tidak menuduhnya murtad; mereka menjanjikan pertolongan bagi setiap Muslim, bukan ancaman diperangi; mereka memberi keamanan dan keselamatan, bukan menebar pembunuhan, kekejaman, intimidasi; mereka menghargai kesepakatan dan perjanjian, bukan mau menang sendiri; mereka bertanggung-jawab penuh atas kesejahteraan, keamanan, dan kehidupan Umat; mereka mencintai para pejuang,memberi perlindungan, membantu keperluan, bukan memurtadkan pejuang, membunuhnya, lalu mempertontonkan kekejaman di hadapan manusia; mereka mendukung perjuangan Jihad bukan memporak-porandakan persatuan para Mujahidin; mereka memberi solusi, bukan memperparah keadaan. Kalau gambaran Daulah yang muncul itu penuh masalah, jauh dari karakter Daulah Nabawiyah; jangan salahkan kalau umat manusia meremehkan Daulah itu.

[8]. Tentang keadaan faksi-faksi Mujahidin Suriah sendiri, bisa jadi kondisi mereka saat ini sangat membutuhkan dukungan logistik, peralatan, pendanaan, dukungan politik, dan sebagainya dari internal bangsa Suriah maupun berbagai negara Muslim. Bisa jadi mereka melihat proses konflik di Suriah ini masih panjang, dibutuhkan sangat banyak bekal dan modal. Untuk itu mereka berusaha meraih simpati internal dan eksternal dengan tidak memperlihatkan permusuhan yang tegas terhadap konsep-konsep manusia seperti nasionalisme, demokrasi, sekularisme. Hal ini dipandang sebagai upaya politik, bukan sikap akidah. Betapapun faktanya negeri Suriah saat ini sudah hancur-lebur; para penduduk Suriah kehilangan negeri mereka seperti dulu; untuk membangun negeri ini kembali –sebagai suatu perkara yang memotivasi perjuangan bangsa Suriah saat ini- dibutuhkan tentusaja uluran tangan banyak pihak. Jika hanya mengandalkan modal dan kekuatan para Mujahidin, bisa jadi ada rasa kurang percaya dari diri sebagian pejuang Suriah.

[9]. Kalau dicermati tujuan “Piagam Kehormatan” ingin mencapai negara yang bebas dari penindasan, berdaulat, berkeadilan. Hal ini sebenarnya merujuk kepada konsep-konsep kenegaraan Islam, hanya dibahas dengan ungkapan yang bersifat umum. Bukankan setiap negara berdasar Syariat Islam diharamkan penindasan, rakyatnya merdeka, dan keadilan terlaksana di sana? Hal-hal demikian mesti dibaca sebagai kalimat diplomasi, bukan akidah sekuler. Tidak mungkin para pejuang Islam akan menggadaikan keyakinan dengan kekuasaan sekularisme. Mereka tidak perlu berjuang sebagai Mujahidin jika tujuannya sekularisme.

[10]. Juga perlu dipahami posisi gerakan Ikhwanul Muslimin di Suriah, sebelum pecah konflik dan sesudahnya; kemudian dikaitkan dengan posisi IM di Timur Tengah secara umum. Jabhah Islamiyah diyakini banyak didukung oleh para pejuang Al Ikhwan. Bahkan disebut-sebut, mereka adalah putra-putra para pejuang Islam di era Hafezh Assad di masa lalu. Al Ikhwan saat ini menghadapi tekanan sangat hebat dari pemerintah Saudi, Mesir, UEA, Bahrain, Israel, dan lainnya. Syaikh Al Qaradhawi sampai pindah ke Tunisia, setelah posisi Al Ikhwan di Qatar terdesak. Faksi-faksi Jihad yang berafiliasi ke Al Ikhwan di Suriah berada pada posisi sulit. Maka itu, satu sisi mereka terus mendukung perjuangan untuk menggulingan Bashar Assad, di sisi lain mereka tidak mau membuat musuh baru dari negara-negara di Timur Tengah dan lainnya. Kebijakan pemerintah As Sisi di Mesir benar-benar membahayakan posisi Al Ikhwan, terutama setelah penangkapan tokoh-tokoh seniornya. Bukan hanya itu, asset kekayaan, saluran dana, komunikasi, dll. juga banyak dibekukan. Kalau dikatakan lahirnya piagam itu karena “tekanan eksternal”, mungkin saja. Sebab bagaimanapun, yang berjasa memperpanjang umur gerakan perlawanan Suriah, sebagian besar dari luar.

Demikian, semoga pandangan seperti ini bisa memberikan nuansa lebih bijak tatkala kita melihat realitas perjuangan di bumi Syam yang diberkahi Allah dan didoakan Sayyidul Mursalin SAW. Amin Allahumma amin. Terimakasih.

(Mine).


Rezim Militer Mesir Ingin Membabat Islam (Al Ikhwan) Ketika Musim Semi Jihad Sedang Berhembus

Februari 13, 2014

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Suatu kaum ketika sudah melakukan kezhaliman, dia akan mengulang perbuatan zhalim yang lain. Satu kezhaliman akan diikuti kezhaliman berikutnya; begitu seterusnya sehingga dia berubah wujud dari manusia normal menjadi SETAN zhalim. Ketika dalam keadaan bergelimang kezhaliman, akibatnya dia akan banyak melakukan kesalahan; lalu akhirnya di kalahkan.

Percaya tidak percaya, semua riwayat kaum zhalim tidak ada yang happy ending. Selalu berakhir nestapa berkepanjangan. Allah Ta’ala telah mengingatkan: “Innallaha laa yahdi qaumaz zhalimin” (sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum zhalim). Haram bagi Allah memberi petunjuk, dukungan, sokongan kepada kaum zhalim. Bahkan kezhaliman itu hakikatnya adalah kegelapan, tanpa jalan terang. Kata Nabi Saw: “Ittaquu zhulma fa innaz zhulma zhulumatun fi yaumil qiyamah” (takutlah kalian dari berbuat zhalim, karena kezhaliman itu adalah kegelapan-kegelapan di Hari Kiamat).

Ketika Basyar Assad -laknatullah ‘alaih wa ashabihim ajma’in- sedang terus bekerja untuk membantai kaum Muslimin di Suriah; pada saat yang sama Jendral As Sisi terus intensif bekerja untuk membabat Islam di Mesir. Mulanya, sasaran As Sisi adalah jamaah Ikhwanul Muslimin. Tapi lama-lama, segala yang berbau Islami, segala yang pro Syariat, yang peduli dan simpati kepada Al Ikhwan, dianggap teroris, musuh negara, halal diperangi. Masjid-masjid disegel, lisensi dakwah dan mengajar agama dicabut, khutbah dan pengajaran Islam diawasi, para ulama terus ditekan. Tidak hanya dari kalangan Al Ikhwan, tapi dari seluruh elemen-elemen Islam. Bahkan mahasiswa Al Azhar yang sebenarnya terkenal moderat, dikuyo-kuyo oleh aparat As Sisi.

Rezim As Sisi Sedang Membidik Dirinya Sendiri

Rezim As Sisi Membidik Dirinya Sendiri

Tidak berlebihan jika sebagian ulama mengatakan: “Kondisi di Mesir bukanlah untuk membabat IM, tetapi untuk menghancurkan Islam.” Masya Allah, laa haula wa laa quwwata illa billah.

Ketika Jendral As Sisi sudah kekenyangan meminum darah kaum Muslimin dan tidur mendengkur di atas tengkorak-tengkorak korban kezhaliman, saat itu akalnya mulai error, kecerdasannya luruh, kepekaannya mati. Dia melakukan KESALAHAN TERBESAR yang tidak akan dimaafkan oleh sejarah kaum berakal. As Sisi bukannya berdamai dengan singa, atau mencari celah kesepakatan dengannya; tapi dia malah menampar keras singa itu, ketika ia sedang sadar.

Segi apa yang membuat Jendral As Sisi (rezim militer Mesir) dianggap bertindak sangat bodoh dan tidak masuk akal? Bukankah dia berhasil mengaduk-aduk jantung organisasi Al Ikhwan dan membuatnya terhempas ke tanah? Bukankah itu suatu sukses yang belum pernah diraih para pendahulu As Sisi?

Kalau melihat penderitaan Al Ikhwan, iya mungkin kesimpulan begitu ada benarnya. Tapi kalau membaca situasi geopolitik Timur Tengah secara umum, atau dilebarkan sedikit menjangkau kawasan Afghanistan dan Kaukasus, justru tindakan As Sisi itu akan menghadapi GELOMBANG DAHSYAT yang tak pernah dia perkirakan.

Gelombang apa itu? Ya gelombang Jihad Fi Sabilillah. Dengan kelakuan kejam As Sisi dan rezim militernya, dia telah menghalalkan bagi ditegakkannya pilar-pilar Jihad di Mesir. Bahkan gerakan Jihad itu sudah mulai tumbuh dan bereproduksi di Mesir. Ia seperti cendawan yang mulai bermunculan di sana-sini.

Perhatikan analisa ini….

[a]. Mengapa As Sisi membantai ribuan para pendukung Al Ikhwan, kaum wanita, dan anak-anaknya? Bukankah atas alasan kekejaman ini, ribuan para Mujahidin bersafar dari segala tempat menuju Suriah? Untuk apa mereka kesana? Untuk membela kaum Muslimin tertindas kan.

[b]. Mengapa As Sisi tidak melihat maraknya musim semi Jihad di Suriah, di Irak, di Afghanistan, di Yaman, di Somalia, dan sebagainya? Apakah As Sisi memandang remeh gerakan para Mujahidin Islam itu?

[c]. Sejelek-jeleknya Al Ikhwan -jika ada yang memandang begitu- mereka punya hubungan historis dengan para Mujahidin ini. Ulama-ulama Al Ikhwan berkontribusi besar bagi bangkitnya ideologi Salafi Jihadi di dunia. Syaikh Hasan Al Banna rahimahullah melontarkan prinsip “Al Jihadu Sabiluna” dan “Al Mautu Fi Sabilillahi Asma Amanina“. Kalangan Jihadis dengan sangat baik telah merealisasikan prinsip tersebut. Dr. Abdullah Azzam rahimahullah adalah guru dari ulama Jihad dunia, Syaikh Usamah bin Ladin rahimahullah. Bahkan fatwa Jihad Global Syaikh Usamah, dilandaskan atas peristiwa-peristiwa penindasan Israel di bumi Palestina (pada awalnya). Termasuk yang tidak dilupakan adalah kontribusi pemikiran Ustadz Sayyid Quthb rahimahullah yang kerap menjadi sandaran para Mujahidin, terutama dalam Tauhid Mulkiyah.

[d]. Dari internal Al Ikhwan sendiri, mereka memiliki tradisi dan disiplin dalam Jihad. Memang harus diakui, peranan ideologis Syaikh Al Qaradhawi sangat kuat dalam membentuk wajah Al Ikhwan yang cenderung moderat. Tapi basis pemikiran dan gerakan mereka, tak bisa dilepaskan dari kancah Jihad. Faktanya, Hamas sebagai sayap politik Al Ikhwan di Palestina, sampai saat ini tetap konsisten dengan Jihad dalam skala lokal Palestina. Al Ikhwan pasti tidak akan membiarkan ketika As Sisi terus bermain kasar dan ingin meluluh-lantakkan kekuatan mereka.

[e]. Besarnya simpati kaum Muslimin sedunia, termasuk organisasi-organisasi Islam, kepada Al Ikhwan. Hal ini menjadi masalah besar yang harus dihadapi As Sisi dari segi diplomasi internasional. Siapapun yang kini bersedia membantu As Sisi, mengulurkan tangan kepadanya, akan didakwa sebagai pembela rezim kudeta yang kejam dan sadis. Bahkan mengulurkan tangan kepada As Sisi dalam rangka memerangi kaum Muslimin (Al Ikhwan) yang tak berdosa di Mesir, termasuk jenis kekufuran dari sisi berserikat memerangi kaum Muslimin (Al Maa’idah: 51).

Betapa amat sangat bodoh As Sisi ketika membantai kaum Muslimin di Mesir, di saat sedang berhembus musim semi Jihad Fi Sabilillah. Lihatlah kancah di Suriah, di Palestina, Afghanistan, Irak, Yaman, Somalia, Libya, dan lain-lain! Apa mungkin para Mujahidin Islam itu akan berdiam diri melihat penindasan di Mesir? Sangat mustahil.

Dan anehnya, As Sisi begitu bergantung kepada Saudi dan UEA, dimana kedua negara ini aparat militernya tidak punya sejarah pernah bertempur dengan siapapun. Coba saja teliti lagi, kapan pasukan Saudi dan UEA bertempur melawan musuh-musuhnya, dalam perang apa saja? Tidak ada. Memang di tengah masyarakat Saudi terdapat banyak potensi kombatan, tapi itu dari kalangan Mujahidin, bukan tentara reguler. Dari sisi pemikiran pun, mereka sangat anti kebijakan politik Saudi.

Al Ikhwan akan butuh waktu beberapa lama untuk konsolidasi dan mengubah cara perjuangan mereka. Mereka sudah berusaha semoderat mungkin, tapi tetap saja ditindas dan dipecundangi; ya tak ada jalan lain, selain terang-terangan menegakkan metode Islami. Ya rezim As Sisi dan dukungan kaum monarkhi Arab yang merestui pembantaian atas jamaah mereka; semua itu telah memaksa Al Ikhwan kembali ke garis aslinya. Waktu akan membuktikan, batas antara Al Ikhwan dan Hamas, akan semakin memudar. Keduanya akan bersinergi. Hanya soal waktu.

Hasbunallah wa Ni’mal Wakil Ni’mal Maula wa Ni’man Nashir.

(Mine).