Takfir Seorang Asy’ariyun…

November 13, 2013

Bismillahirrahmaanirrahiim. Sebenarnya kita sering di diskusi di media ini, atau di media-media lain. Banyak perlakuan orang yang sudah kita terima. Salah satu yang unik dari seseorang yang menamakan diri @ Sunni Asy’ari Syafi’i dalam diskusi bertema: Dimana Allah Tinggal Sebelum Bersemayam di Atas Arasy? Komentar dia ditulis pada 7 November 2013 lalu. Belum berkata apa-apa, dia langsung mengkafirkan saya. Masya Allah, laa haula wa laa quwwata illa billah.

Sejujurnya, sikap takfir itu bukan monopoli satu golongan saja. Banyak pihak bisa melakukan takfir kepada sesama Muslim, secara zhalim. Na’udzubillah wa na’udzubillah min dzalik. Nas’alullah al ‘afiyah. Sengaja komentar dan jawaban dimuat ulang dalam tulisan tersendiri, agar menjadi bukti kehidupan dan pelajaran. Amin. Selamat membaca!

_______________________________________________________________

@ Sunni Asy’ari Syafi’i…

WAHAI MANUSIA SEKALIANNN..KETAHUILAH OLEHMU BAHWA PENULIS TULISAN INI ADALAH SEORANG MUJASSIM MUSYABBIH. SEORANG KAFIR DI ATAS KEKAFIRAN. IMAM SYAFI’I BERKATA: المجسم كافر

MUJASSIM (ORANG YG BERKEYAKINAN ALLAH BERUPA BENDA) ITU KAAFIR. DIA SEDANG MENYURUH KALIAN UNTUK MENYEMBAH SESUATU YANG ADA DI LANGIT DAN DI ARSY (HEH? ADA DI DUA TEMPAT?!!). SESUATU YANG BERTEMPAT SUDAH PASTI DIA BENTUK DAN DIMENSI.MAHA SUCI ALLAH DARI TEMPAT. MAHA SUCI ALLAH DARI MENEMPATI ARAH. MAHA SUCI ALLAH DARI BERBENTYK. LAYSA KAMITSLIHII SYAII’ (ASY-SYUUROO:11)

Respon: Orang aneh. Belum apa-apa sudah mengkafirkan orang lain (diri saya). Tulisan aneh yang pernah saya baca. Pandir… Ya benar bahwa kaum mujassim memang sesat, karena mereka serupakan Allah dengan makhluk berjasad. Sementara kami hanya meyakini ayat-ayat dan hadits sebagaimana adanya, tanpa menyamakan Allah dengan makhluk-Nya sedikit pun. Kalau dikatakan, Allah punya tangan, lalu manusia punya tangan; apakah kami menyamakan istilah Tangan Allah dengan tangan makhluk? Coba jawab! Tidak sama sekali. Kami tidak menyamakan Tangan Allah dengan tangan makhluk.

Misalnya karena masalah tangan ini, lalu kami dituduh mujassimah; bagaimana Allah punya sifat Al Hakim, sedangkan manusia juga punya sifat hakim (bijaksana)? Allah punya sifat “Melihat” sedang manusia juga bisa melihat; Allah punya sifat “Mendengar” sedang manusia juga mendengar? Apakah orang yang meyakini sifat Al Hakim, Ar Rahman, Ar Rahiim, As Sama’, Al Bashar, dan seterusnya…mereka itu juga mujassimah; karena menyamakan Allah dengan makhluk?

@ PENULIS. BACA DULU BACA! Al-Hafizh al-Muhaddits al-Imam as-Sayyid Muhammad Murtadla az-Zabidi al-Hanafi (w 1205 H) dalam kitab Ithaf as-Sadah al-Muttaqin menjelaskan panjang lebar perkataan al-Imam al-Ghazali bahwa Allah mustahil bertempat atau bersemayam di atas arsy. Dalam kitab Ihya’ ‘Ulum ad-Din, al-Imam al-Ghazali menuliskan sebagai berikut: “al-Istiwa’ jika diartikan dengan makna bertempat atau bersemayam maka hal ini mengharuskan bahwa yang berada di atas arsy tersebut adalah benda yang menempel. Benda tersebut bisa jadi lebih besar atau bisa jadi lebih kecil dari arsy itu sendiri. Dan ini adalah sesuatu yang mustahil atas Allah” .

Respon: Ini adalah ucapan BODOH. Coba perhatikan kalimat ini: “Al-Istiwa’ jika diartikan dengan makna bertempat atau bersemayam, maka hal ini mengharuskan bahwa yang berada di atas Arsy tersebut adalah benda yang menempel.

Bantahanku: Kenapa kalian membatasi Sifat Istiwa’ Allah dengan sifat makhluk-Nya? Kalau makhluk istiwa’ dia menempel; sedangkan Allah apa perlu menempel seperti makhluk? Begitu rendahnya kalian mensifati Rabb kalian! Allah Ta’ala hendak kalian perkosa dengan sifat-sifat lazim yang ada pada makhluk-Nya. Dasar aneh!

Dalam penjelasannya al-Imam az-Zabidi menuliskan sebagai berikut: “Penjabarannya ialah bahwa jika Allah berada pada suatu tempat atau menempel pada suatu tempat maka berarti Allah sama besar dengan tempat tersebut, atau lebih besar darinya atau bisa jadi lebih kecil. Jika Allah sama besar dengan tempat tersebut maka berarti Dia membentuk sesuai bentuk tempat itu sendiri. Jika tempat itu segi empat maka Dia juga segi empat. Jika tempat itu segi tiga maka Dia juga segi tiga. Ini jelas sesuatu yang mustahil. Kemudian jika Allah lebih besar dari arsy maka berarti sebagian-Nya di atas arsy dan sebagian yang lainnya tidak berada di atas arsy. Ini berarti memberikan paham bahwa Allah memiliki bagian-bagian yang satu sama lainnya saling tersusun. Kemudian kalau arsy lebih besar dari Allah berarti sama saja mengatakan bahwa besar-Nya hanya seperempat arsy, atau seperlima arsy dan seterusnya. Kemudian jika Allah lebih kecil dari arsy, -seberapapun ukuran lebih kecilnya-, itu berarti mengharuskan akan adanya ukuran dan batasan bagi Allah. Tentu ini adalah kekufuran dan kesesatan. Seandainya Allah -Yang Azali- ada pada tempat yang juga azali maka berarti tidak akan dapat dibedakan antara keduanya, kecuali jika dikatakan bahwa Allah ada terkemudian setelah tempat itu. Dan ini jelas sesat karena berarti bahwa Allah itu baharu, karena ada setelah tempat. Kemudian jika dikatakan bahwa Allah bertempat dan menempel di atas arsy maka berarti boleh pula dikatakan bahwa Allah dapat terpisah dan menjauh atau meningalkan arsy itu sendiri. Padahal sesuatu yang menempel dan terpisah pastilah sesuatu yang baharu. Bukankah kita mengetahui bahwa setiap komponen dari alam ini sebagai sesuatu yang baharu karena semua itu memiliki sifat menempel dan terpisah?! Hanya orang-orang bodoh dan berpemahaman pendek saja yang berkata: Bagaimana mungkin sesuatu yang ada tidak memiliki tempat dan arah? Karena pernyataan semacam itu benar-benar tidak timbul kecuali dari seorang ahli bid’ah -yang menyerupakan Allah denganmakhluk-Nya-. Sesungguhnya yang menciptakan sifat-sifat benda (kayf) mustahil Dia disifati dengan sifat-sifat benda itu sendiri. -Artinya Dia tidak boleh dikatakan “bagaimana (kayf)” karena “bagaimana (kayf)” adalah sifat benda-.

Respon: Sama-sama bodohnya, mensifati Allah dengan kelaziman pada makhluk-Nya. Ini sangat bodoh. Coba baca Surat Al A’raaf ketika Musa As meminta melihat Allah, lalu Allah menampakkan diri kepada gunung, seketika gunung hancur lebur; Musa pun pingsan seketika. Itu kan ibrah yang jelas, kita tak boleh mensifati Allah dengan detail, sifat, kelaziman makhluk-Nya; apapun itu. Sifat menempel, punya ukuran, menempati ruang, dan sterusnya, itu semua sifat makhluk; kita tak boleh membawa Dzat Allah pada batasan-batasan begitu.

Di antara bantahan yang dapat membungkam mereka, katakan kepada mereka: Sebelum Allah menciptakan alam ini dan menciptakan tempat apakah Dia ada atau tidak ada? Tentu mereka akan menjawab: Ada. Kemudian katakan kepada mereka: Jika demikian atas dasar keyakinan kalian -bahwa segala sesuatu itu pasti memiliki tempat- terdapat dua kemungkinan kesimpulan. Pertama; Bisa jadi kalian berpendapat bahwa tempat, arsy dan seluruh alam ini qadim; ada tanpa permulaan -seperti Allah-. Atau kesimpulan kedua; Bisa jadi kalian berpendapat bahwa Allah itu baharu -seperti makhluk-. Dan jelas keduanya adalah kesesatan, ini tidak lain hanya merupakan pendapat orang-orang bodoh dari kaum Hasyawiyyah. Sesungguhnya Yang Maha Qadim (Allah) itu jelas bukan makhluk. Dan sesuatu yang baharu (makhluk) jelas bukan yang Maha Qadim (Allah). Kita berlindung kepada Allah dari keyakinan yang rusak” .

Respon: Jawabnya simple… Alam semesta ini sesuatu yang baru (muhdats), sementara Allah itu Qadim (terdahulu dari segalanya). Sebelum menciptakan alam ini Allah ada dimana dan menempati apa? Jawabnya: KITA TIDAK TAHU, karena Allah tidak menjelaskan hal itu. Allah Ta’ala mau berada dimanapun, mau bagaimanapun, itu terserah diri-Nya. Kalau dia mau menempati suatu ruang, mudah bagi-Nya; sebagaimana kalau Dia tak butuh ruang juga mudah bagi-Nya. Kan disini berlaku prinsip besar: Idza arada syai’an an yaqula kun fa yakun (kalau Dia ingin sesuatu, tinggal bilang ‘jadi’ maka jadilah itu).

Masalah Allah ada di dalam ruang atau tidak, itu terserah Dia saja. Dia bisa melakukan apapun yang Dia kehendaki. Apa kamu bisa menghalangi kalau Allah melakukan ini dan itu, sesuka Diri-Nya? Sejak kapan kamu punya kuasa di sisi Allah?

Masih dalam kitab Ithaf as-Sadah al-Muttaqin, al-Imam Murtadla az-Zabidi juga menuliskan sebagai berikut: “Peringatan: Keyakinan bahwa Allah ada tanpa tempat dan tanpa arah adalah akidah yang telah disepakati di kalangan Ahlussunnah. Tidak ada perselisihan antara seorang ahli hadits dengan ahli fiqih atau dengan lainnya. Dan di dalam syari’at sama sekali tidak ada seorang nabi sekalipun yang menyebutkan secara jelas adanya arah bagi Allah. Arah dalam pengertian yang sudah kita jelaskan, secara lafazh maupun secara makna, benar-benar dinafikan dari Allah. Bagaimana tidak, padahal Allah telah berfirman: “Dia Allah tidak menyerupai sesuatu apapun” (QS. as-Syura: 11). Karena jika Dia berada pada suatu tempat maka akan ada banyak yang serupa dengan-Nya”.

Respon: Aneh, jangan sebut itu kesepakatan Ahlus Sunnah; paling juga pendapat mayoritas ‘Asyariyah. Dalam Al Qur’an jelas-jelas disebut sampai 6 kali, bahwa Allah itu ada di atas Arasy. Apa kalian bersepakat untuk menganulir ayat Al Qur’an ini? Aneh.

Soal Arasy itu ruang atau bukan, tempat besar atau kecil, caranya menempel atau tidak; kita semua mengatakan: Wallahu a’lam. Hanya Allah yang Maha Tahu keadaan diri-Nya. Seperti kata Imam Malik rahimahullah: Istiwa’ itu sudah dimaklumi, caranya tidak diketahui; mengimaninya wajib, mendebatkannya bid’ah.

Saran saya: kalau mau berdiskusi dan debat ilmiah, silakan; tapi jangan langsung mengkafirkan begitu. Kamu sendiri nanti yang akan meringis dalam duka.

Walhamdulillahi Rabbil ‘alamiin.

(Mine).

Iklan