Amerika, Israel, dan Wahhabi

Januari 16, 2009

Baru saja saya ikut Shalat Jum’at di sebuah masjid NU, yang sering disinggahi. Lama tidak pernah Shalat Jum’at disini, saya coba sempatkan. Alhamdulillah sampai di masjid sebelum adzan dikumandangkan.

Pertama masuk pelataran masjid, terdengar pengurus masjid meminta doa para jamaah bagi saudara-saudaranya di Palestina. Alhamdulillah, ini adalah simpati yang layak diperbuat oleh kaum Muslim dalam situasi seperti sekarang. Bapak pengurus itu serius meminta kesungguhan jamaah untuk mendoakan kaum Muslimin di Filistin. Seperti biasa, beliau memimpin membacakan Al Fatihah beberapa kali. Ala hadiniah wa niyatin sholihah….ya begitulah.

Khutbah Jum’at disampaikan seorang khatib, kelihatannya setingkat ustadz. Dia membahas perilaku Bani Israil di Surat Al Baqarah. Khutbahnya ringkas, sehingga cepat selesai. Memang dalam khutbah itu seharusnya ringkas, dalam, dan berkesan. Jangan bertele-tele, lalu membiarkan pra jamaah pada -maaf- ngiler karena tertidur.

Sebelum khutbah ditutup, beliau membaca doa. Di dalamnya dimasukkan doa seperti Qunut Nazilah, meminta pertolongan bagi Muslim, dan meminta kehancuran bagi kafir zhalim. Saya sangat apresiatif dengan doa seperti itu, alhamdulillah.

Sampai dalam doa itu dimintakan kehancuran bagi: AMERIKA, ISRAEL, dan…ini sungguh tidak disangka, WAHHABI. Amerika, Israel, dan Wahhabi dibaca satu baris, berurutan, hanya dijeda oleh koma saja.

Saya kaget bukan main. Yang tadinya membaca “amin”, seketika saya berhenti. Saya khawatir ikut mendoakan sesuatu yang salah. Sampai saat menulis artikel ini, rasa kelu di hati saya masih terasa.

Bagaimana mungkin, Wahhabi disejajarkan dengan Amerika dan Israel? Apa hubungannya Wahhabi dengan Krisis Ghaza saat ini? Apakah memang Wahhabi itu sudah sampai ke tingkat kufur? Zhalim? Seperti Yahudi Israel laknatullah ‘alaihim?

Saya tidak mengerti, dan harus bagaimana menjawabnya? Entahlah.

Sebagai seseorang yang dilahirkan dan dibesarkan di Jawa Timur, di Kota Nahdhiyin Malang. Sejak remaja saya sudah tahu tentang kebencian kaum Nahdhiyin kepada Wahhabi. KH. Sirodjuddin Abbas adalah magnum opus-nya kalangan Nahdhiyin dalam kebenciannya kepada Wahhabi dan Ibnu Taimiyyah. Banyak fakta yang tidak perlu dibahas disini. Begitu takutnya dengan isu Wahhabi ini sampai DPP PKS pernah membuat klaririfikasi bahwa mereka “bersih” dari unsur Wahhabi.

Sungguh, saya sangat sedih melihat kebencian yang amat sangat itu. Bertahun-tahun saya masuk masjid NU, ikut shalat bersama mereka. Ikut makmum di belakang mereka. Saya tidak pernah menyebut mereka kafir, murtad, atau setara dengan Israel yang zhalim. Saya hargai keadaan diri mereka, meskipun saya tidak terjun dalam amal-amal mereka.

Namun, adilkah menyebut Wahhabi sebagai musuh Islam, setara dengan Amerika dan Israel yang zhalim?

Ya…silakan jawab dengan nurani Anda sendiri.

Wahhabi, jika boleh disebut demikian, padahal ini masih sangat debatable, tidak semuanya buruk, beringas, main hakim sendiri, menjilat penguasa, dan lain-lain. Saya memahami, Wahhabi itu hanyalah cara untuk mengembalikan kita kepada KOMITMEN terhadap DUA KALIMAT SYAHADAT. Setiap Muslim jelas membutuhkan komitmen kepada Syahadatnya.

Wallahu a’lam bisshawaab.

Bandung, 15 Januari 2009.

AM. Waskito.