Mengapa Anas Tidak Disukai SBY…

Januari 12, 2014

Katanya, yang sangat ditakuti SBY itu adalah: Surat Anas. Ini bisa dibaca N-nya satu, bisa dibaca juga N-nya dua. Kalau N-nya dua, ditambah satu huruf A di bagian akhir sehingga terbaca: Surat An Naas. Cara baca orang Indonesia kedua tulisan itu terdengar sama, meskipun maknanya berbeda.

Oh ya, kenapa SBY tidak suka kepada Anas Urbaningrum?

Sangat memalukan cara Johan Budi dari KPK saat menggelar jumpa pers kemarin. Dalam jumpa pers soal respon KPK atas kedatangan Anas ke kantor KPK, berkali-kali dia menyebut inisial AU. Mungkin biar kelihatan kalau jubir KPK memegang kode etik komunikasi publik. Tapi dalam waktu yang sama, dia sempat “keceplosan” dengan menyebut nama Anas Urbaningrum secara jelas. Ya lucu, sekali waktu bilang AU, di waktu lain bilang Anas Urbaningrum.

Untungnya Johan Budi tidak menyebut nama: Angkatan Udara. Kalau dia menyebut nama itu, nanti nama AL dan AD ingin disebut juga. Ya lumayan, nama korp disebut-sebut oleh Johan Budi…si ketua KPK sejati…eh maksudnya, jubir KPK.

Balik ke soal SBY lagi. Masih ingat ketika SBY buat manuver “penurunan harga gas” kemarin. Padahal sedianya dengan cara “carmuk” begitu hampir saja dia dapat simpati publik. Tapi buru-buru KPK mengangkat kasus Anas. Ya otomatis, citra SBY tenggelam lagi. Sedianya pingin meraih simpati, akhirnya dilupakan. Permainan “sport jantung” bagi rakyat dengan ide kenaikan ini dan itu, harus dihentikan. Itu cara-cara tidak pantas.

Kenapa SBY seperti gething (benci) banget ke Anas?

Jawabnya: Ya, yang tahu hanya Allah dan SBY sendiri. Itu jawaban pastinya.

Tapi kalau jawaban relatif, bisa kita reka-reka. Bisa kita carikan jejak dan analisisnya. Cipta Lesmana, Burhanuddin Mubtadi, Ridwan Saidi, Boni Hargens, dan lain-lain… mereka bisa jadi pengamat, karena dunia analisis dan reka-reka jawaban itu.

Menurut kami, SBY benci Anas, karena satu dosa saja. (Satu dosa besar, tapi anak-cucunya banyak. Jadi akhirnya dosanya dianggap banyak juga. He he he…).

Apa dosa yang satu itu?

[Heleh…lama banget sih, ditunda-tunda melulu, buying time terus. Cepet dong, apa jawabnya! Kalau dijawab cepet, yang enak Situ, yang gak enak disini. He he he…].

SBY benci Anas karena: Anas adalah satu-satunya politisi yang hampir tuntas men-download model dan gerak gerik SBY. Ibaratnya proses download sudah 95 %.

Begitu Anas sudah kelihatan sangat mirip SBY gaya-gayanya, cara ngomongnya, cara menantapnya, cara sedekapnya, cara memandang ke luar jendel; model rambut klimisnya…. Wah, itu jadi pertanda bahaya bagi. “Gawat bro, kalau Anas bisa mengkopi model gue, waduh gawat. Gue bisa kehilangan pasaran. Ntar para pecinta gue jadi nyebrang kesana semua. Mumpung download belum selesai, matikan saja listrik dari saklar-nya. Matikan cepet!”

Tapi ini kan cuma reka-rekaan analisis saja. Bener tidaknya, kita tak tahu. Ya lumayan buat hiburan… khususnya buat fans MU yang akhir-akhir ini kalah melulu. Lho kok jadi ke MU sih? Ya gak apa-apa, wong cuma selingan.


Membaca Pidato Anas

Februari 24, 2013

Surprised !!!

Itulah komentar pendek yang bisa disampaikan untuk pidato politik Anas Urbaningrum, di kantor pusat DPP Demokrat di Jl. Kramat Raya Jakarta, 23 Februari 2013. Ini adalah pidato untuk merespon pengumuman KPK yang menyatakan Anas sebagai tersangka korupsi gratifikasi proyek Hambalang, sehari sebelumnya.

Dari sisi komunikasi, pidato Anas disampaikan tanpa teks, runut, perlahan-lahan, tidak ada kata-kata “eee…eee…” Seluruhnya disampaikan dengan bahasa yang lugas, tenang, kronologis. Ia tidak keluar dari karakter Anas yang tenang, kalem, memilih kata-kata. Dalam sejarah politik Indonesia, ini termasuk salah satu pidato terbaik yang perlu dicatat; dari sisi komunikasi politik.

Dari sisi politik, Anas telah mengeluarkan sebagian serangan keras-nya ke sosok SBY dan politisi-politisi Demokrat di sekitarnya. Anas baru mengeluarkan sebagian dari amunisi yang dia simpan. Sungguh, serangan lewat pidato politik Anas ini amat sangat keras…keras sekali; terutama menohok jantung SBY dan dapur politik Partai Demokrat. Yakinlah, SBY butuh ketegaran khusus untuk mendengar serangan dari Anas ini.

Selain menyerang SBY, pidato Anas juga secara telak menyerang KPK. KPK dianggap sebagai lembaga “super body” yang tidak suci dari intervensi politik. Bahkan Burhanuddin Mubtadi juga menyesalkan pernyataan Abraham Samad yang bebarengan dengan keluarnya 8 poin statement politik SBY. Seakan, pernyataan Samad memberi amunisi kepada SBY untuk terus mendesak Anas. Yang lebih aneh lagi, salah satu butir pakta integritas yang ditanda-tangani Anas, isinya kurang lebih: kader Demokrat siap mundur, kalau menjadi tersangka KPK. Seakan segalanya sudah dipersiapkan, agar Anas cepat tersingkir dan tidak berkutik lagi.

Sebagai perbandingan, untuk menghadapi Muhammad Nazaruddin saja, Partai Demokrat sudah hancur-lebur; apalagi menghadapi Anas yang lebih kuat, pintar, dan memiliki jaringan politik luas. Badai politik yang akan dihadirkan oleh Anas, secara teori, bisa lebih hebat dari Nazaruddin. Harus dicatat juga, baik Nazaruddin maupun Anas, sama-sama dari daerah pemilihan Jawa Timur. Intinya, SBY bisa mendapatkan lawan politik baru yang tangguh.

Oh ya, satu yang ingin kita komentari dari pidato Anas Urbaningrum, yaitu tentang istilah: “Bayi yang tidak diharapkan kelahirannya“. Mengapa muncul pernyataan sekeras itu?

Dari informasi yang pernah disampaikan seorang aktivis, kira-kira background masalah itu sebagai berikut: Ketika terjadi Kongres Demokrat di Padalarang, Kab. Bandung Barat. Ketika itu pertarungan memperebutkan posisi Ketua Umum PD mengerucut ke dua figur, yaitu: Andi Malarangeng dan Anas Urbaningrum. Pihak Cikeas secara umum mendukung Andi Malarangeng; Irfan Baskoro gandeng-renteng dengan Andi Malarangeng kesana-kemari menyampaikan dukungan politik Cikeas ke sosok Andi. Tapi dalam satu pertemuan tertutup elit-elit Demokrat terjadi insiden yang mengejutkan. Waktu itu pertemuan ingin menyepakati suatu keputusan politik tertentu, lalu ada yang berkata: “Tunggu dulu! Jangan putuskan dulu! Kita perlu menunggu pandangan Ibu Ani Yudhoyono.”

Ketika mendengar nama Ibu Ani Yudhoyono disebut-sebut, seketika Ahmad Mubarok, salah seorang elit Demokrat, segera memberikan tanggapan keras. Dia menolak ide untuk meminta persetujuan Bu Ani terlebih dulu. “Tidak perlu Ibu Ani Ibu Ani-an!” kira-kira begitulah ucapan Ahmad Mubarok. Maka ucapan Ahmad Mubarok ini segera dilaporkan ke Bu Ani yang ada di Cikeas. Mendengar namanya disepelekan oleh Ahmad Mubarok yang notabene adalah pendukung Andi Malarangeng juga; maka Bu Ani segera memberikan “hukuman politik” untuk grup Andi Malarangeng. Dia menyerukan agar dukungan politik dialihkan ke Anas Urbaningrum. Sementara Pak SBY hanya bisa menonton intervensi isterinya ke arena kongres. Inilah insiden politik yang kemudian berujung terpilihnya Anas. Jadi, pada awalnya dukungan kubu Cikeas memang bukan untuk Anas.

Begitu kira-kira informasi yang pernah disampaikan seorang aktivis terkait situasi di Kongres Demokrat di Padalarang yang akhirnya menguntungkan posisi Anas Urbaningrum. Maka itu, posisi Ahmad Mubarok di Demokrat jadi seperti tenggelam. Baru-baru ini Ahmad Mubarok menyatakan bahwa Ibas tidak mungkin akan menjadi pengganti Anas. Seakan, Ahmad Mubarok masih memendam rasa kesal dengan seorang ibu tertentu.

Bagi yang belum mendengar pidato Anas Urbaningrum, silakan lihat di link berikut ini:

Oke. Selamat bersiap-siap membaca buku-buku selanjutkan yang akan dibuka oleh Anas seputar aurat-aurat Partai Demokrat dan politik SBY. Selamat membaca ya!

Mine.


Anas Terlalu Menakutkan Bagi SBY

Februari 7, 2013

Tidak disangka, tidak dinyana, ternyata Anas Urbaningrum terlalu tangguh buat SBY. Semua politisi Demokrat tunduk kepada SBY dan patuh, tetapi Anas punya kekuatan untuk mbalelo. Hingga SBY butuh dukungan spiritual, saat ibadah Umrah, sekedar untuk mendesak KPK agar cepat-cepat memutuskan kasus Hambalang (yang katanya melibatnya Anas). Itu pun SBY tidak berani terang-terangan menyebut nama Anas.

Dulunya, Anas itu hanyalah sekedar nunut (ikutan), ngengnger (menumpang untuk mengabdi), atau ngiyup (ikut sekedar berteduh) di kendaraan politik Pak SBY, Partai Demokrat. Tetapi kini Anas telah memiliki kekuatan politik mandiri, yang membuat Ketua Dewan Pembina Demokrat itu seperti tak berdaya.

Sekedar catatan, saat Konggres Demokrat di Padalarang beberapa waktu lalu (saat itu M. Nazaruddin masih aktif di Demokrat), Anas telah menunjukkan kelasnya. Bukan hanya karena dia mampu menjadi Ketua Umum Demokrat; tetapi proses menjadi ketua itu dilalui setelah dia berhasil mengobrak-abrik benteng politik Cikeas. Saat itu manuver-manuver Anas berhasil membuat kekuatan politik Cikeas terbelah. Irfan Baskoro secara demonstratif mendukung Andi Malarangeng; tetapi di saat-saat menjelang pemilihan ketua umum, Ani Yudhoyono mendukung Anas, karena sebal dengan pendukung-pendukung Malarangeng. SBY sendiri hanya mampu menjadi “penonton” dengan ketidak-mampuan mengarahkan pendulum dukungan politik.

Beda: Batu Cadas dan Bakpao. Ya Bedalah...

Beda: Batu Cadas dan Bakpao. Ya Bedalah…

Kembali ke sosok Anas. Dia memiliki keahlian politik lumayan. Meskipun belum sekelas Akbar Tanjung, tapi dia punya kemampuan besar. Anas didukung oleh jaringan politik, media, serta kolega-koleganya sesama alumni HMI. Sosok Bambang Widjoyanto atau Abraham Samad di KPK, sedikit atau banyak punya hubungan emosional dengan Anas; karena mereka sama-sama alumni HMI. Militansi kaum HMI ini, dengan segala kelebihan dan kekurangannya, banyak bermain dalam percaturan politik, kepemimpinan, dan birokrasi di Indonesia.

Kini pertanyaannya: sanggupkah SBY melengserkan Anas demi menyelamatkan Partai Demokrat?

Secara teori SBY mampu, sebab posisinya di Ketua Dewan Pembina Demokrat. Tetapi secara praktik, kecil kemungkinan hal itu bisa terjadi. Bukan hanya karena karakter Anas, kelihatan pendiam tapi ngeyel, cukup menakutkan bagi SBY. Tetapi juga karena SBY sendiri nyaris tidak memiliki kemampuan politik yang memadai. Satu-satunya modal politik SBY adalah: R-E-T-O-R-I-K-A. Kemampuan ini tak berbeda dengan Abdurrahman Wahid dulu, hanya SBY lebih sopan dan soft retorikanya.

Politik retorika SBY tak akan mampu menghadapi kuatnya power politik Anas. SBY pasti tidak akan berani mengambil jalan vis a vis menentang Anas. Bukan hanya SBY, tokoh-tokoh pendukungnya seperti Dipo Alam, Jero Wacik, Sudi Silalahi, Ruhut Sitompul, Sutan Batoegana, Syarif Hasan, Marzuki Alie, dll. juga keder menghadapi Anas.

Seperti sudah berulang kali disampaikan, berbagai persoalan yang muncul di tubuh Demokrat, pada dasarnya bersumber dari minimnya kemampuan politik SBY. Sebagai politisi, SBY kurang memiliki karakter. Anas Urbaningrum, sosoknya seperti “feminim”, tetapi tekad dan ngeyelnya sangat jelas. Itulah yang tidak dimiliki SBY.

Dari sisi tekad dan mental, dua tokoh ini (Anas dan SBY) seperti batu cadas dan bakpao. Yang satu liat, satu lagi lumer. Meskipun posisi Anas terjepit, tapi karena liatnya, dia bisa survive (sampai saat ini). Sebaliknya, sosok satunya lagi seperti bakpao, lunak, imut, dan mudah dibelokkan kesana kemari. Dapat SMS sedikit, cemas; lihat hasil surve, cemas; ada laporan miring dari menteri, cemas. Ya begitu deh.

Ke depan, posisi Anas tampaknya masih akan aman. Paling-paling SBY akan memberikan solusi “jalan tengah” atau “sama-sama enak”. Itu sudah lagunya sejak dulu. Nasib Demokrat akan tetap tersandera kasus hukum Hambalang, sementara SBY akan menyiapkan retorika-retorika selanjutnya untuk menyempurnakan jati diri kepemimpinannya, sebagai ahli komunikasi.

Oke sekian dulu. Kurang dan lebihnya, mohon maap ya. Terimakasih, hatur nuhun.

Mine.

NOTE: Artikel ini merupakan contoh penggunaan media untuk tujuan SIYASAH, yaitu mempengaruhi dinamika politik di tengah masyarakat. Isi artikel itu tidak mencerminkan pandangan sebenarnya, hanya semacam “provokasi” agar kekuatan politik tertentu keluar dari rel nalar logis sikap politiknya.


Anas Pasti Terjungkal!

Februari 8, 2012

Saat ini posisi politik Ketua Umum Partai Demokrat, Anas Urbaningrum, semakin terpojok. Terutama setelah Angelina Sondakh ditetapkan sebagai tersangka oleh KPK. Beberapa hari lalu, Angie (demikiaan sapaan Angelina Sondakh) berziarah ke makam suaminya, Ajie Masaid. Entahlah, apa tujuan Angie datang kesana?

Kata orang, “Tumben Angie ingat makam suaminya?” Maklum polisi sih, jadi urusan ke makam pun dilakukan sesuai “kepentingan politik”.  (Kasihan Ajie Masaid, meskipun sudah wafat, masih “diharapkan” kontribusi politiknya. He he he). Mungkin, ini semacam acara “meminta empati publik” seperti yang dilakukan Afriyani Susanti beberapa waktu lalu, saat dia hujan tangis, memohon maaf karena sudah “menghabisi” 9 nyawa manusia. Afriyani tidak pernah hujan air-mata saat berdugem-dugem ria. Mandi keringat, iya kale…

Oh ya, kembali ke Bung Anas. Nama lengkapnya, Anas Urbaningrum; sebuah paduan nama antara maskulinitas dan feminitas. Dalam khazanah bahasa Jawa kata “ningrum” itu merupakan ciri identitas perempuan. Pantesan, kalau melihat gaya publik Bung Anas; sekali waktu tampak gagah, di waktu lain terkesan “cantik”. Ah sudahlah, lupakan saja. Mari kita fokus ke konten lagi.

Dalam situasi seperti ini, banyak orang berandai-andai soal nasib Bung Anas Urbaningrum. Ada yang berteori: “Anas tetap kokoh. Dia didukung oleh Pak SBY, plus tentunya dukungan Ibu Ani Yudhoyono. Posisi Anas tetap kuat. Dia akan aman melenggang sebagai Ketua Umum PD sampai tahun 2015 nanti.” Tetapi ada juga yang berteori: “Wah, posisi Anas sangat riskan. Dia tak akan bertahan lama.” Kenapa bisa begitu, Bung? “Ya, karena citra Partai Demokrat semakin ringsek. Kalau Anas tidak segera dilengserkan, Partai Demokrat bakal tamat.” Atau mungkin ada yang berteori: “Anas, bisa kuat, bisa lemah. Tergantung situasi dan kondisinya.”

Kalau saya percaya, bahwa Anas akan terguling. Dia akan terjungkal, insya Allah. Ini keyakinan saya pribadi. Bisa benar, bisa tidak.

Mengapa saya menduga seperti itu?

Hal ini bukan soal analisis kasus Wisma Atlet, kasus Munas Demokrat di Padalarang, atau kasus Hambalang. Bukan juga masalah hitung-hitungan politik seperti yang kerap ditunjukkan oleh Burhanuddin Muhtadi atau Eep Saefullah Fatah. Bukan juga karena hitung-hitungan logika hukum versi KPK, atau versi Jakarta Lawyers Club (Karni Ilyas). Bukan pula karena hitung-hitungan survei yang macam-macam. Bukan semua itu.

Lalu berdasarkan apa?

Jawabnya, berdasarkan Hukum Keadilan.

Maksudnya bagaimana?

Mari kita buka lembaran-lembaran sejarah lagi. Dalam Pemilu 2004, kita harus ingat Bung Anas Urbaningrum masuk dalam jajaran anggota KPU. Ketika itu KPU dilanda kemelut hebat. Beberapa pejabat KPU didakwa melakukan perbuatan korupsi (melawan hukum). Akibatnya, sebagian dari mereka mendapat sanksi hukuman, seperti Prof. Dr. Nazaruddin Syamsuddin, Prof. Dr. Mulyana W. Kusumah, dan lainnya. Pejabat-pejabat itu harus dihukum, dan kini sudah bebas dari hukuman.

Sebenarnya, Anas ketika itu tersangkut masalah-masalah di KPU. Namun dia cepat-cepat berlindung di balik punggung Pak SBY dan Partai Demokrat. Di tangan PD, posisi Anas aman, nyaman, terkendali, dan berkemajuan (apaan tuh maksudnya?). Pendek kata, ketika kawan-kawan Anas sudah dijebloskan ke penjara, Anas sendiri selamat, sehat, sentausa, bernaung di bawah perlindungan politik Partai Demokrat.

Tentu saja, sikap Anas ini amat sangat menyakitkan bagi kawan-kawannya di KPU. Anas dianggap mau selamat sendiri, mencari aman, dan tidak solider dengan nasib kawan. Entahlah, apa selama menjadi anggota HMI, Anas diajari sikap-sikap nyeleneh seperti itu? Rasanya aneh ya. Tapi itulah kenyataan.

Ketika geger KPU versi 2004 itu mencuat, salah satu delik yang dituduhkan ke Anas ialah: menerima gratifikasi (suap). Anas benar-benar menerima uang itu, meskipun bukan dia sendiri yang memakainya. Ketika ditanya, bagaimana status uang tersebut? Anas mengaku, kurang lebih: “Uang itu tidak haram, tapi juga tidak halal. Jadi statusnya syubhat.” Sambil cengengesan.

Kalau tahu uang syubhat, seharusnya dijauhi ya. Tapi ini malah dibagi-bagikan ke para kawan dan kolega. Itulah Anas Urbaningrum, salah satu alumni terbaik HMI, dengan sikap keagamaannya yang ambigu (aneh).

Setelah masuk Demokrat, Anas bukan saja terlindungi, tetapi semakin mencorong pamornya. Karier politik Anas melesat jauh tinggi. Kalau di dunia entertainment, mungkin semujur nasib Sule itulah.

Nah, dalam konteks sejarah Anas di masa lalu; sikapnya yang mencari selamat, tidak solider kepada kawan, dan juga kenyataan bahwa kawan-kawannya sudah dijebloskan ke penjara; tampaknya Anas akan mengikuti langkah itu.

Secara logika politik manusia bisa ngomong apa saja, selicin komentar-komentar Burhanuddin Muhtadi, sang pakar “politico mathematic” (mengkaji politik dengan pola pikir Matematik, he he he). Tetapi dalam rentangan sejarah dan hukum keadilan; Anas tidak akan bisa lari. Para Malaikat sudah menandai punggung dan dahinya. Hanya tinggal menanti momen yang tepat.

Bung Anas pasti terjungkal… Sebagai sunnah berlakunya hukum keadilan dalam kehidupan. Bukan hanya Bung Anas, tetapi juga “Bos Besar” dan “Ketua Besar” (dalam konteks ini, baca sebagai: Es-Be-Ye). Hanya soal waktu saja!

Wa lan tajida li sunnatillahi tabdila… Dan sekali-kali kamu tidak akan pernah melihat Sunnah Allah itu berubah.

Selamat menanti, Bung Anas! Ingat, kawan-kawan Anda di KPU 2004 sudah ada yang dijebloskan ke penjara. Dalam doa-doanya, mereka mungkin merintih agar Anda juga mendapatkan sanksi yang setimpal. Iya gak…

Mine.