Narasi Politik: SBY Versus Nazaruddin

Desember 15, 2012

Ahmad Yani, salah satu anggota DPR dari PPP, dalam sebuah forum diskusi mengatakan, bahwa ternyata informasi yang dikatakan Nazaruddin (mantan bendahara Partai Demokrat) banyak benarnya. Kata-kata ini merupakan pernyataan terbuka tentang kekuatan politik Nazaruddin, sekaligus kekalahan demi kekalahan yang terus diderita Partai Demokrat. Apalagi, 7 Desember 2012 lalu, KPK telah menetapkan salah satu kader terbaik Demokrat, Andi Mallarangeng sebagai tersangka korupsi Hambalang.

Andi menjadi tersangka menyusul Nazaruddin sendiri, Angelina Sondakh, Hartati Murdaya, dan lainnya. Jika Anas Urbaningrum juga kemudian menjadi tersangka, rasanya lengkap sudah kehancuran citra politik yang mendera Partai Demokrat. Dalam usianya yang masih muda, di tangan anak-anak muda; ternyata Partai Demokrat terlalu cepat luruh dan layu. Besar kemungkinan, pada Pemilu 2014 nanti, partai ini akan ditinggalkan para pendukungnya. Sebab, basis utama pendukung partai ini adalah kalangan rasionalis perkotaan, yang pada awalnya terpikat dengan slogan anti korupsi SBY.

"Jangan Ngremehin Gue, Boss..."

“Jangan Ngremehin Gue, Boss…”

Andai SBY boleh meminta, tentu dia ingin memutar arah jam sejarah ke belakang, ke masa-masa saat awal Partai Demokrat berdiri. Di masa itu, sekitar tahun 2004, dia menjadi sosok “tokoh terzhalimi” di bawah rezim Megawati. Atau kembali ke tahun 2009 ketika PD berhasil memenangi Pemilu mengalahkan Golkar dan PDIP, sebagai dua partai paling dominan. “Andaikan kita bisa mundur ke belakang, tentu saat itu kita akan mengatur partai ini sebaik mungkin, agar ia tidak seumur jagung,” mungkin begitu lamunan SBY dengan segala sesal di hatinya.

Partai Demokrat adalah partai anak-anak muda. Banyak kader, pengurus, dan simpatisannya berasal dari kaum muda. SBY sendiri dalam pencitraannya berselera anak muda. Namun sifat kemudaan ini ternyata begitu rapuh menghadapi godaan: harta, tahta, dan wanita. “Duhai indahnya, orang-orang tua yang berjiwa muda. Meski sudah tua, tapi selalu kreatif, dinamis, gerak cepat, dan mendukung perubahan-perubahan,” begitu kata sebagian orang.  Tetapi di hamparan suatu realitas politik, istilah ini bisa menjadi terbalik: Disana berkumpul anak-anak muda berjiwa tua!  Masih muda, enerjik, dinamis, tetapi pikirannya seperti orang tua; mereka bicara tema-tema investasi, dana pensiun, istri muda, kaya mendadak, dan seterusnya. Inilah anak-anak muda berjiwa tua (berjiwa lapuk dan lemah).

Sebagian aktivis muda, saat lagi moncer-moncernya kemampuan, daya, dan ekspresi; mereka berteriak keras: “Ganyang koruptor! Gantung koruptor! Bersihkan birokrasi dari KKN! Ciptakan clean government, good public service! Tumpas praktik korupsi dan mafia hukum sampai ke akar-akarnya.” Teriakan demikian mereka sampaikan saat masih menjadi pengangguran, teu boga gawe, atau penghasilan ada tapi pas-pasan.

Namun begitu mendapat kesempatan, mendapat posisi jabatan; begitu uang masuk ke rekening secara ajaib, ratusan juta uang keluar-masuk begitu mudahnya; begitu melihat SPG cantik-cantik, model tinggi semampai, atau selebritis “doyan keluyuran”…mendadak semangat “anti korupsi” itu lumer seperti kerupuk kesiram air. Sejak itu, isi omongannya tidak pernah lepas dari kosa kata “miliaran”. Jika semula dia berteriak “berantas korupsi”, pelan-pelan berubah: “Hati-hati, jangan mudah menuduh korupsi! Tetap tegakkan prinsip praduga tak bersalah!” Bahkan sampai pada kata-kata seperti ini: “Koruptor juga manusia, perlu hak-hak kehidupan dan dihargai privasinya.” Inilah dia, anak muda berjiwa tua. Usia masih muda, tapi otak dan perasaannya sudah ngendon di kuburan!

Mungkin kita bertanya, siapa sejatinya yang menghancurkan Partai Demokrat ini? Mengapa ia begitu rapuh; berdiri tahun sekitar 2004, atau baru sekitar 8 atau 9 tahun lalu, tapi kini citranya di mata publik sudah hancur-lebur?

Baca entri selengkapnya »

Iklan