Boediono = Anggota Dewan Gubernur IMF ???

Juni 6, 2009

Sebuah berita amat sangat mengejutkan mencuat dari sebuah editorial di eramuslim.com.  Judulnya: “Amin: Boediono Harus Keluar dari IMF”. (Eramuslim.com, 27 Mei 2009). Merujuk kepada informasi yang disampaikan Amien Rais di Republika, disebutkan bahwa Boediono yang saat ini menjadi Cawapres SBY ternyata berstatus: Anggota Dewan Gubernur  IMF.

Benarkah ini kawan? Apakah ini nyata atau mimpi? Apakah ini dusta atau black campaign? Apa ini fitnah, ghibah, mengadu domba, atau iri dengki? Atau mungkin semacam igauan gitu?

Lebih jelasnya, berikut kutipan dari eramuslim.com:

Namun, ada masalah yang dikemukakan oleh Amin, yang patut menjadi pertimbangan seluruh bangsa Indonesia, yang menentukan pilihan di pilpres nanti, ternyata menurut Prof.Dr.Amin Rais, ternyata Boediono, tak lain adalah anggota Dewan Gubernur IMF, per tanggal 21 Mei 2009, sebuah badan tertinggi pengambil keputusan di IMF. Amin mengatakan, ‘Bodeiono harus bisa memberikan bukti dengan cara menarik diri dari IMF, WTO dan lembaga-lembaga asing lainnya. Saya tidak ingin SBY-Boediono menerapkan paham Neolib’, ujar Amin, ketika menyampaikannya di sela-sela Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) di Hotel Sultan, kemarin. (Republika, 27/5/2009).

Bahkan menurut suatu sumber, ketika Boediono terpilih sebagai Cawapres SBY, seorang pejabat Bank Dunia (World Bank) seketika memberikan ucapan selamat. Kutipannya sebagai berikut:

Pantas, menurut seorang tokoh yang belum lama ini, menyampaikan kepada redaksi Eramuslim, (Boediono) mantan Gubernur BI yang terpilih menjadi cawapres oleh SBY ini, mendapatkan ucapan selamat dari Robert Zullick, Direktur World Bank (Bank Dunia), dan ini hanya menggambarkan betapa posisi Boediono, sangat penting.

Wah, kalau benar Boediono sebagai anggota Dewan Gubernur IMF, berarti bangsa Indonesia bukan lagi menghadapi “isu NEOLIB”, tetapi langsung berhadapan muka dengan Mbah-nya ekonomi Liberal. Ini bukan isu NEOLIB lagi Pak SBY, tetapi jantungnya sistem Liberal, permata hatinya jiwa Kapitalisme. Wah, bangsa Indonesia, khususnya kaum Muslimin jangan mau diam menghadapi kenyataan ini.

Jika benar info yang disampaikan Amien Rais, konsekuensinya sangat berat:

[1] Berarti SBY-Boediono selama ini melakukan kebohongan publik luar biasa. Deklarasi di Sabuga ITB itu berarti isinya kebohongan semua. Semua dalih, celoteh, dan kampanye Pilpres dari SBY, berarti isinya bohong juga.

[2] Berarti Pemerintah SBY membohongi masyarakat dua kali. Sudah mengatakan, mereka bukan NEOLIB, juga mereka selama ini mengklaim sudah keluar dari IMF. Sudah keluar apa? Wong, Cawapres SBY disebut anggota Dewan Gubernur IMF. Keluar kerjasamanya, tetapi tidak keluar garis kebijakannya.

[3] Dalam salah satu syarat pencalonan sebagai Presiden menurut versi KPU, kandidat Presiden bukanlah seorang pengkhianat bangsa. Kalau Boediono terbukti anggota Dewan Gubernur IMF dan dia tidak menceritakan diri secara jujur kepada masyarakat luas, berarti dia seorang pengkhianat. Batal pencalonannya sebagai Cawapres.

[4] Karena SBY-Boediono didukung oleh partai-partai berlabel Islam, maka hukumnya HARAM mendukung partai-partai itu, sebab mereka selama ini membela liberalisasi ekonomi melalui SBY-Boediono. Setiap Muslim berdosa mendukung partai-partai berlabel Islam itu dan akan mendapatkan sanksi dari Allah atas perbuatannya mendukung liberalisasi ekonomi melalui pasangan SBY-Boediono.

[5] Kalau nanti SBY-Boediono jadi terpilih sebagai Presiden dan Wakil Presiden RI, maka Indonesia akan masuk dalam suasana kelam krisis ekonomi seperti tahun 1997 lalu. Ketika itu, titik awal kehancuran ekonomi kita ketika Soeharto menanda-tangani Letter of Intends dengan IMF (Michael Camdessus). Berarti alamat kehancuran ekonomi akan terjadi lagi untuk kesekian kalinya.

Maka sekarang Ummat Islam harus memastikan kebenaran informasi yang disampaikan Amien Rais itu. Benarkah Boediono menjadi anggota aktif Dewan Gubernur IMF per 21 Mei 2009? Kalau benar, berarti dia adalah seorang PENGKHIANAT BANGSA dan harus dibatalkan pencalonannya sebagai Cawapres, sesuai UU Pemilu yang menjadi acuan KPU selama ini.

Berkorban menyelamatkan harta Ummat, sekalipun taruhannya adalah kematian, maka status kematian itu adalah Syahid di jalan Allah. Saudaraku, pelihara harta-benda Ummat-mu, untuk masa depan anak-cucu kaum Muslimin nanti. Cukup sekali saja kita diobrak-abrik oleh IMF yaitu saat krisis ekonomi 1997 itu. Selebihnya mari kita selamatkan masa depan Islam dan kaum Muslimin dengan segala usaha yang kita mampu!

Wallahu A’lam bisshawaab.

== Joko Waskito bin Buang ==

Iklan