Anjing Pun Punya Kebaikan

Januari 22, 2012

Anjing termasuk hewan yang sering dibicarakan oleh manusia. Hewan ini dikenal sebagai “teman” manusia yang paling setia. Anjing kerap dipelihara di rumah (oleh mereka yang kurang paham ajaran Islam). Atau dipelihara sebagai anjing penjaga kebun, rumah, kantor, dan sebagainya. Juga dilatih sebagai anjing pelacak, pengejar buronan, dan seterusnya. Bahkan anjing juga dipelihara untuk berburu, untuk diadu, dilatih ketangkasan, atau dilombakan dalam kontes-kontes.

Die aje bisa tersenyum...

Tidak sedikit juga yang memakai kata “anjing” sebagai alat memaki atau melecehkan orang lain. Di Jawa, anjing disebut dengan istilah asu atau kirik. Di Sunda disebut dengan bahasa penghalusan, Gogog. Dalam bahasa Arab disebut kalbun (bukan qalbun). Menurut Muslim, anjing termasuk hewan yang harus dijauhi; tetapi di mata non Muslim, anjing banyak dijadikan teman di berbagai situasi.

Anjing memiliki sifat-sifat khas, sehingga ia dipandang berharga di mata manusia. Andaikan hewan ini tak memiliki kelebihan, manusia pasti enggan memanfaatkannya. Di antara kelebihan anjing adalah sebagai berikut:

[1]. Ia termasuk tipe hewan fight (berani bertarung). Dia akan memanfaatkan gigi, cakar, dan dorongan tubuhnya untuk menyerang siapa saja yang dianggap musuh atau pengganggu. Dalam hal ini anjing memiliki sifat seperti harimau, singa, srigala, atau beruang yang sama-sama bertipe fight.

[2]. Ia termasuk hewan yang “pintar berterima-kasih”. Hampir serupa seperti kucing. Anjing akan menjadi hewan jinak, penurut, setia kepada siapa saja yang merawatnya, memberinya tempat tinggal, dan makanan.

[3]. Ia termasuk hewan yang setia kepada majikan, kepada pemilik, atau kepada siapa saja yang merawat dirinya. Anjing bisa mengorbankan dirinya, demi membela orang yang merawat dirinya.

[4]. Ia bisa dilatih, bisa diarahkan, bisa diajari ketrampilan tertentu. Kemampuan paling elementer dari anjing ialah ketika pemiliknya melemparkan tongkat atau benda ke suatu titik, lalu anjing itu disuruh mengambilkan tongkat/benda tersebut. Ini ketrampilan dasarnya.

[5]. Ia memiliki sifat waspada, atau curiga kepada siapa saja yang dianggap (oleh anjing) sebagai manusia, hewan, atau sesuatu yang membawa potensi bahaya. Signal yang akan segera mereka keluarkan kalau melihat sesuatu yang mencurigakan ialah gonggongan.

Di luar hal-hal di atas, tentu anjing masih memiliki catatan kelebihan, juga catatan-catatan keburukan. Tetapi cukuplah kita pahami, bahwa hewan ini memiliki kelebihan tertentu, sehingga ia menjadi teman manusia, di samping hewan lain yang tipenya mirip seperti kucing.

Namun Al Qur’an memposisikan anjing sebagai hewan tercela. Anjing menjadi gambaran perilaku buruk orang-orang yang enggan beriman kepada ayat-ayat Allah Ar Rahman. Disana dikatakan:

وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ الَّذِي ءَاتَيْنَاهُ ءَايَاتِنَا فَانْسَلَخَ مِنْهَا فَأَتْبَعَهُ الشَّيْطَانُ فَكَانَ مِنَ الْغَاوِينَ

وَلَوْ شِئْنَا لَرَفَعْنَاهُ بِهَا وَلَكِنَّهُ أَخْلَدَ إِلَى الْأَرْضِ وَاتَّبَعَ هَوَاهُ

فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ الْكَلْبِ إِنْ تَحْمِلْ عَلَيْهِ يَلْهَثْ أَوْ تَتْرُكْهُ يَلْهَثْ

ذَلِكَ مَثَلُ الْقَوْمِ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا فَاقْصُصِ الْقَصَصَ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ

Dan bacakanlah kepada mereka berita orang yang telah Kami berikan kepadanya ayat-ayat Kami (pengetahuan tentang isi Al Kitab), kemudian dia melepaskan diri dari pada ayat-ayat itu, lalu dia diikuti oleh syaitan (sampai dia tergoda), maka jadilah dia termasuk orang-orang yang sesat. Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan (derajat)nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya dijulurkan lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia menjulurkan lidahnya (juga). Demikian itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu, agar mereka berfikir.” (Al A’raaf: 175-176).

Dan tidak salah kalau ada yang menjadikan istilah “anjing” sebagai celaan atau makian, karena memang Al Qur’an memposisikan hewan itu pada derajat yang layak dicela. Dalam hadits-hadits disebutkan, air liur anjing adalah najis. Kalau di dalam rumah ada anjing, para Malaikat enggan masuk ke rumah itu. Begitu juga kalau ada anjing dengan warna “hitam polos”, dia boleh dimusnahkan dimanapun dijumpai.

Intinya, anjing memiliki kedudukan “spiritual” rendah dalam kehidupan manusia. Tetapi ia juga memiliki kelebihan “teknis” dan sifat-sifat tertentu yang membuat manusia (non Muslim) mengaguminya. Seorang Muslim boleh memelihara anjing untuk berburu (dengan catatan, saat melepas anjing itu untuk mengejar hewan buruan, dilepas dengan bacaan “bismillahirrahmaanirrahiim”), juga boleh memelihara untuk menjaga kebun, gudang, atau apa saja (asalkan bukan menjaga rumah tempat tinggal, atau dipelihara di rumah).

Lalu, apa kaitannya tulisan ini dengan posisi manusia?

Ya, kita tahu bahwa posisi anjing dalam ajaran Islam adalah rendah. Maka sudah semestinya kita memposisikan hewan itu sesuai maqam-nya menurut Syariat Islam. Tetapi hewan itu sendiri juga punya kelebihan-kelebihan. Meskipun posisinya rendah, tetapi ia memiliki kelebihan-kelebihan.

Dan alangkah malangnya, kalau ada manusia yang sifat-sifatnya lebih buruk dari anjing. Mereka penakut, tidak kesatria dalam menghadapi musuh. Mereka tidak tahu terimakasih kepada orang-orang yang berjasa baik baginya. Mereka tidak setia kepada saudara, keluarga, dan kawan-kawannya. Dia sangat ceroboh, sehingga tidak bisa membedakan mana kawan dan mana lawan. Mereka sulit diarahkan untuk menjadi baik dan mulia.

Misalnya saja, ini hanya sekedar contoh. Misalnya ada seorang manusia bernama SADI. Tokoh ini awalnya miskin, papa, diabaikan. Suatu saat ada kaum yang berbuat baik kepadanya. Sadi diangkat sebagai “anak angkat”, dia dibiayai, diberi beasiswa, diberi tempat tinggal, makan-minum, disekolahkan sampai tinggi. Sadi akhirnya bisa meraih ijazah sekolah sampai level tertinggi. Ilmunya mumpuni, bahasa asingnya fasih, dia banyak tahu aneka ilmu. Tetapi entah karena apa, tiba-tiba Sadi berubah pikiran. Dia tiba-tiba memusuhi kaum yang telah berbuat baik kepadanya. Dia memfitnah kaum itu, menyerang secara membabi-buta, menginginkan agar kaum itu dimusuhi, diperangi, ditumpas habis, sampai ke akar-akarnya. Sadi sudah gelap mata, dia sampai mengajari anak-anak kecil agar memusuhi kaum itu, seperti seorang Muslim memusuhi orang kafir. Sadi lupa sama sekali kebaikan-kebaikan kaum itu, dia sudah menjadikan kawan sebagai musuh, dan musuh sebagai kawan.

Nah, sosok seperti Sadi itu disebut telah kehilangan sifat-sifat kemanusiaan. Dia dianggap keluar dari rel sifat-sifat insani. Dia gagal mengelola jalan kehidupan, sehingga sebatas untuk menyamai karakter hewan tertentu saja, Sadi gagal. Padahal hewan itu dalam Islam dianggap rendah. Kenyataan demikian tentu sangat memilukan.

Sadi…Sadi… sebatas menyamai hewan tertentu saja, tak mampu. Sosok Sadi itu bisa diakatakan: lebih rendah dari… Ya sudahlah. Ini kan hanya bentuk “curhat sosial” saja. Kita berharap akan memiliki tokoh-tokoh panutan sosial yang mulia, ksatria, jujur, dan berintegritas. Tetapi mengapa sulit sekali mendapati tokoh seperti itu. Mengapa wahai insan, mengapa wahai Ummat?Akhirnya, kepada Allah Al Hadi kita memohon pertolongan, perlindungan, dan istiqamah. Amin ya Rabbal ‘alamiin.

Terimakasih.

Mine.