Mengapa Mereka Menghujat Islam?

Februari 2, 2010

Setelah Abdurrahman Wahid meninggal, komunitas AKKBB membuat manuver-manuver. Mereka seperti panik karena baru kehilangan dedengkot kesesatan nomer wahid. Manuver paling baru AKKBB, mereka hendak menggugat UU penistaan agama yang sudah berlaku sejak tahun 1965. Kata mereka, UU itu bertentangan dengan Konstitusi, khususnya pasal 28 tentang kebebasan berpendapat. Mereka menuntut UU penistaan agama itu dicabut.

Di jaman ketika kondisi kehidupan masyarakat sedang sumpek (ruwet) seperti ini, adalah logis jika bangsa Indonesia menata kembali moralitasnya. Hal itu pula yang dilakukan Presiden Rusia, Vladimir Putin, dengan membangkitkan semanagat religius rakyatnya. Di Rusia ada gelombang kegairahan baru di kalangan generasi muda disana untuk mendatangi gereja-gereja. Pemerintah Jerman pun telah memasukkan kurikulum pelajaran agama ke sekolah-sekolah umum di Jerman. Pelajaran agama Islam sedang dikaji untuk diberikan kepada putra-putri Muslim di Jerman. Eropa dalam dekade-dekade terakhir sudah menyadari pentingnya nilai-nilai agama untuk mengatasi krisis demografi yang sangat parah disana. Pangeran Charles di Inggris, pemuka agama, serta otoritas moneter Inggris, mereka bersikap simpatik terhadap nilai-nilai Syariat Islam. Bahkan Inggris ingin menjadi gerbang ekonomi Syariah terbesar di Eropa. Sementara Pemerintah Yahudi Israel sejak lama meyakini bahwa eksistensi negara mereka sangat bergantung kepada pengajaran nilai-nilai Yudaisme kepada generasi muda Israel.

Menata moral sangat dibutuhkan, agar bangsa ini selamat dalam menghadapi segala turbulensi (guncangan) kehidupan seperti saat ini. Maka itu di jaman Orde Baru dulu, Pemerintah Soeharto memasukkan prinsip “Beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa” sebagai prinsip pembangunan dalam GBHN. Ya bagaimana lagi cara kita akan bangkit, kalau tidak kembali ke dasar moralitas kita sebagai bangsa religius? Bangsa manapun yang mengalami keterpurukan, asti akan membangun moralnya, sebagai landasan membangun kebangkitan.

Namun dari pengalaman selama 10 tahun terakhir, kita menyaksikan betapa derasnya arus penghujatan agama. Herannya, yang menjadi sasaran utama penghujatan ini adalah ISLAM. Agama-agama lain seolah selamat dari segala kasus penghujatan, hanya Islam yang menjadi sasaran utama. Lebih mengherankan lagi, yang menghujat Islam bukanlah orientalis, komunis, atau orang-orang non Muslim. Para penghujat Islam itu justru dari kalangan kyai, cendekiawan Muslim, tokoh ormas, dosen IAIN (UIN), guru besar perguruan tinggi Islam, mahasiswa IAIN, dan sejenisnya. Rupanya, para penghujat itu memerlukan simbol-simbol Islam sebagai KENDARAAN untuk menyerang Islam itu sendiri. Persis seperti Snouck Hurgronje.

Disini kita ambil beberapa contoh kasus penghujatan Islam, antara lain:

[o] Ulil Absar Abdala dengan tulisannya di Kompas, Menyegarkan Kembali Pemahaman Keagamaan. Tulisan ini jelas melecehkan ajaran-ajaran Islam.

[o] Ucapan Abdurrahman Wahid dalam wawancara dengan Radio Utan Kayu, “Menurut saya kitab suci yang paling porno adalah Al Qur’an. Ha ha ha..”

[o] Ucapan Dawam Rahardjo yang mendesak, jika Ummat Islam sulit diatur, agar Islam dilarang saja di Indonesia.

[o] Buku karya Sumanto Al Qurthubi, berjudul Lubang Hitam Agama.

[o] Karya tulis mahasiswa UIN Yogya, Menggugat Otentesitas Wahyu. Isinya sangat melecehkan kesucian Al Qur’an.

[o] Fatwa Musdah Mulia yang mengklaim bahwa Islam memperbolehkan homoseksual dan lesbian. (Maka itu Musdah bisa disebut sebagai “pakar homoseks dan lesbian”).

[o] Seruan pembubaran MUI dan Departemen Agama.

[o] Gerakan menentang UU Sisdiknas yang memasukkan materi keagamaan dalam pendidikan umum.

[o] Kampanye menentang legalisasi RUU Anti Pornografi-Pornoaksi yang sebenarnya ditujukan untuk melindungi moralitas masyarakat.

Bagaimana Ummat Islam di Indonesia akan hidup tenang dengan segala hujatan-hujaran seperti di atas? Semua itu sama saja dengan upaya menghancurkan sendi-sendi Islam dari dasar-dasarnya.

Anehnya, para penghujat itu tetap dikenal sebagai tokoh Islam, panutan Ummat, kyai haji, cendekiawan Muslim, aktivis Islam, dan sebagainya. Padahal pernyataan mereka –menurut hukum fiqih- mengandung konsekuensi kemurtadan. Tetapi media-media massa tidak peduli dengan semua itu. Media-media massa terus menjadi corong publikasi penghujatan-penghujatan tersebut. Kompas, Media Indonesia, Tempo, media-media TV, sering menjadi corong praktik penghujatan. Selain tentu saja media-media yang mereka kelola sendiri.

Sebuah pertanyaan mendasar: “Mengapa mereka bergerak secara sistematik menghujat Islam?”

Kalau mengikuti pernyataan-pernyataan di situs JIL, mereka melakukan gerakan LIBERALISASI (baca: menghancurkan konsep Islam dari dasar-dasarnya) dengan niatan antara lain: (1) Melawan pemahaman-pemahaman fundamentalis Islam yang merebak di masyarakat; (2) Mendukung kehidupan demokratis; (3) Mempertahankan Indonesia sebagai negara yang multi kultural/majemuk.

Tapi Anda jangan cepat percaya dengan omong kosong orang-orang JIL itu. Mereka hanyalah kaum pendusta, yang hidup meminum kedustaan, dari waktu ke waktu, dari generasi ke generasi. Untuk membantah pernyataan-pernyataan JIL tersebut, disini ada beberapa argumentasi yang bisa disebutkan, yaitu:

[a] JIL hanya menjadikan Islam fundamentalis sebagai sasaran, sementara mereka tidak pernah sama sekali bicara tentang Nashrani fundamentalis, Freemasonry fundamentalis, Zionis fundamentalis, Kapitalis fundamentalis, atau Liberal fundamentalis. Jadi yang dilawan JIL hanya Islam fundamentalis, sedangkan komunitas-komunitas fundamentalis lainnya tidak disentuh sama sekali.

[b] Jika memang JIL melawan Islam fundamentalis, mengapa sasaran mereka adalah dasar-dasar ajaran Islam itu sendiri? Mereka mengklaim bahwa Al Qur’an perlu diedit lagi, atau hadits Nabi dianggap tidak relevan dengan jaman modern. Dengan hujatan seperti itu, semua pemeluk Islam, bukan hanya Islam fundamentalis, kena semua. Bahkan anak-anak kecil yang belajar IQRA’ juga kena hujatan itu.

[c] Kalau JIL dan kawan-kawan memang demokratis tulen, mengapa mereka menyerang pemahaman Ummat Islam? Bukankah demokrasi itu identik dengan menghargai pendapat orang lain? Apa artinya demokrasi, kalau sebagian orang diperbolehkan menghujat keyakinan sebagian yang lainnya? Sangat jelas sekali, agressi JIL dan kawan-kawan terhadap Islam, benar-benar bertentangan dengan semangat demokrasi itu sendiri.

[d] JIL mengklaim sangat mendukung kehidupan multi kultural. Mereka membawa slogan “Bhineka Tunggal Ika” kemana-mana. Tetapi sikap JIL sangat memusuhi dasar-dasar pemahaman Islam. Ini jelas bukti kuat, bahwa mereka sangat tidak menghargai realitas multi kultural. Bahkan mereka terus memicu konflik di tengah-tengah masyarakat. Provokasi AKKBB dalam kejadian Insiden Monas 1 Juni 2008 adalah bukti besar, bahwa mereka menyuburkan konflik.

[e] Nah, ini fakta besar yang sulit dilupakan. Jika JIL sangat menghujat nilai-nilai Islam, maka perhatikanlah dengan sangat cermat, bahwa mereka TIDAK PERNAH SEKALIPUN MENGHUJAT AGENDA NEO LIBERALISME di Indonesia. Orang-orang JIL itu kerjanya hanya menghujati konsep-konsep Islam, tetapi mereka tidak pernah menghujat usaha-usaha pengerukan kekayaan nasional oleh kekuatan-kekuatan asing dan pengusaha-pengusaha kapitalis.

Perlu dicatat dengan jelas, orang-orang JIL dan sejenisnya, mereka sama sekali tidak peduli dengan gelombang Neo-Liberalisme yang melanda Indonesia. Dalam Pemilu 2009 lalu, mereka mendukung pasangan SBY-Boediono. Padahal kalau mau jujur, masalah Neo Liberalisme ini adalah bahaya besar yang mengancam seluruh bangsa Indonesia. Mengapa JIL dan kawan-kawan malah menghujat Al Qur’an, menghujat Sunnah Nabi, menghujat hukum Islam, menghalalkan homseksual-lesbian, menghujat MUI, mendukung pornografi-pornoaksi, dan lain-lain?

Disini kita bisa menarik BENANG MERAH. Hujatan-hujatan JIL, AKKBB, Abdurrahman Wahid, Ulil Absar, Luthfi Syaukani, Musdah Mulia, dll. bukanlah gerakan yang berdiri sendiri. Itu sangat terkait dengan missi lain, yaitu KOLONIALISME BARU. Ketika Ummat Islam sedang sibuk menghadapi JIL dan kawan-kawan, pada saat yang sama, gelombang eksploitasi kekayaan nasional oleh tangan-tangan asing dan kaum kapitalis berjalan intensif.

JIL menempati posisi menyibukkan kaum Muslimin, khususnya Islam fundamentalis, sementara gerakan eksploitasi ekonomi dimainkan dengan sangat kencang oleh perusahaan-perusahaan asing dan jaringan mereka. Sebagi upahnya, JIL dan kawan-kawan diberi bantuan dana oleh lembaga seperti Ford Foundation, Asia Foundation, Libforall, dan kawan-kawan. Mereka mendapat upah sedikit dengan cara mengorbankan kehidupan masyarakat luas dan anak-cucunya.

Untuk ke depan, kita jangan berbasa-basi lagi menghadapi kawanan JIL ini. Mereka adalah sekeji-kejinya manusia, karena rela menjual bangsanya demi keuntungan sedikit. Mereka menjadi kanker mematikan di dalam tubuh Ummat Islam, untuk mematikan semangat militansi dalam menghadapi kolonialisme baru.

Tawarkan kepada JIL beberapa tantangan. Satu, ajak mereka berdebat terbuka, disaksikan oleh masyarakat umum. Dua, ajak mereka mubahalah, perang doa, agar Allah melaknati siapa yang terbukti berdusta. Tiga, ajak mereka berhenti dari segala pengkhianatan, atas nama Islam, atas nama semangat kebangsaan. Jika tidak mau berhenti, doakan mereka agar celaka, binasa, beserta keluarga dan anak-keturunannya. Empat, adukan hujatan-hujatan mereka terhadap Islam, kepada kepolisian. Jika menyangkut perdata, tuntut mereka setinggi-tingginya, agar binasa dalam kemiskinan. Lima, sadarkan masyarakat luas, bahwa siapapun yang merusak tatanan moral, mereka adalah agen-agen Neolib. Enam, lakukan upaya-upaya pembelaan yang memungkinkan, demi menjaga eksistensi Islam.

Semoga bermanfaat. Amin ya Karim.

AMW.

Iklan

Syariat Islam dan Penjajahan Ekonomi

Februari 2, 2010

Mula-mula, kaum Muslimin harus memahami, bahwa kondisi bangsa kita saat ini berada dalam Kolonialisme Baru. Memang, kita tidak mengalami penindasan fisik seperti di jaman VOC, Belanda, Jepang dulu. Tetapi kita mengalami PENJAJAHAN EKONOMI yang sangat massif dan intensif.

Kalau jujur kita bertanya, “Apa sih tujuan terbesar para penjajah dulu datang ke Indonesia?” Jawabnya, tentu adalah untuk mengeruk kekayaan ekonomi. Slogan mereka sangat terkenal, Gold-Gospel-Glory. Gold adalah mencari kekayaan; Gospel berarti menyebarkan agama gereja; dan Glory berarti membangun imperialisme Barat di Nusantara. Missi penjajahan tidak bisa dipisahkan dari motif ekonomi.

Penjajah Belanda dulu menyadari tentang jasa-jasa bangsa kita dalam memperkaya kehidupan mereka. Maka itu Douwes Decker pernah mengusulkan agar Pemerintah Belanda menerapkan “politik etik”, yaitu menjadi “penjajah yang sopan”. Meskipun menjajah, mereka ingin dilihat tetap peduli dengan pendidikan anak-anak Indonesia. Sebagai konsekuensi “politik etik” ini, banyak sekali putra-putra terbaik dari Indonesia diberi beasiswa untuk sekolah ke Belanda. Setelah lulus dari Belanda, otak-otak mereka banyak yang diracuni konsep peradaban Belanda. Dan kemudian terbukti, “politik etik” tersebut hanyalah bagian dari strategi Belanda untuk memperpanjang cengkeraman penjajahannya di Indonesia.

Kondisi ini sama persis seperti nasib yang menimpa Nurcholis Madjid. Ketika menjadi Ketua HMI, Nurcholis dipuji-puji setinggi langit, sebagai cikal-bakal cendekiawan besar di Indonesia. Maka dia pun diberi beasiswa sekolah ke Amerika. Setelah pulang dari Amerika, pemikiran Nurcholis seperti korsleting alias error. Para penjajah selalu mencari kesempatan untuk menancapkan kukunya lebih dalam. Mereka akan memakai putra-putra pribumi menjadi agen kepentingan kolonialisme.

Penjajahan di era dewasa ini sangat jelas. Sasaran utamanya, mengeruk kekayaan nasional untuk diboyong ke negeri asing. Ada yang mengatakan, dalam setahun kekayaan nasional yang diborong ke luar negeri, bisa mencapai Rp. 200 triliun. Sebuah angka yang sangat fantastik.

Modus penjajahan ekonomi yang dilakukan selama ini, antara lain:

[1] Melakukan eksploitasi kekayaan tambang, hutan, laut, gunung, sungai, dengan cara yang merusak alam, dengan manajemen tidak transparan, serta proporsi bagi hasil yang kecil bagi Indonesia. Operasi perusahaan seperti Freeport, Exxon Mobile, Chevron, Newmont, dan lain-lain tidak diragukan lagi.

[2] Mendirikan perusahaan-perusahaan asing di Indonesia, yang merebut pangsa pasar perusahaan-perusahaan domestik dan UKM. Contoh, waralaba McDonald jelas telah merebut pangsa pasar para penjual ayam goreng lokal.

[3] Menguasai saham perusahaan-perusahaan milik negara atau perusahaan swasta nasional. Kasus seperti terjadi pada Indosat dan Telkom adalah contoh nyata yang bisa disebut disini. Begitu pula penguasaan saham TV-TV nasional.

[4] Membeli obligasi dalam bentuk SBI (Surat Bank Indonesia) atau SUN (Surat Utang Negara) dalam jumlah besar. Kalau tidak salah, penguasaan asing dalam pasar obligasi ini mencapai 60 %. Setiap tahun negara harus membayar bunga hutang itu dalam jumlah besar.

[5] Merebaknya produk-produk asing atau produk dari perusahaan-perusahaan lisensi asing di pasar domestik. Misalnya, produk dari China, Jepang, Korea, Amerika, Jerman, dan lain-lain. Bisa dikatakan, produk domestik kita hanya bertahan untuk kategori produk-produk tradisional dan UKM saja.

[6] Ketergantungan kepada lembaga kreditor dunia, terutama IMF, Bank Dunia, Bank Pembangunan Asia, dan lain-lain. Memang hubungan dengan IMF sudah diputus, tetapi Wakil Presiden Si Boediono, ketika ikut dalam Pilpres, dia masih berstatus pejabat eksekutif IMF dari perwakilan Indonesia.

[7] Menguasai saham-saham media massa, baik cetak maupun elektronik, kemudian memakai media-media itu untuk semakin menancapkan kuku penjajahan di Tanah Air. Caranya, dengan menyebarkan hedonisme, westernisasi, sikap konsumtif masyarakat, klenik, sihir, pornografi, dll.

Realitas penjajahan seperti ini jelas sangat bertentangan dengan PANCASILA. Bertentangan dengan seluruh Sila Pancasila.

Penjajahan ekonomi seperti ini jelas akan merusak moralitas bangsa Indonesia. Rakyat akan melakukan apa saja untuk bertahan hidup, termasuk melakukan perbuatan amoral, kriminal, korupsi, dll. Hal itu jelas melanggar, “Ketuhanan Yang Maha Esa.” Ia juga melanggar, “Kemanusiaan yang adil dan beradab.” Bagaimana akan adil, kalau rakyat Indonesia hidup nestapa dan kelaparan, sedangkan orang-orang asing makmur materi.

Juga melanggar, “Persatuan Indonesia.” Bukti nyata adalah kenyataan di Papua saat ini. Sebagian masyarakat Papua menuntut memisahkan diri dari Indonesia, karena Pemerintah RI dianggap bersikap tidak adil. Sementara Freeport tetap tenang melakukan penggalian emas, tembaga, uranium, dll. di bumi Papua. Masyarakat Riau dan Aceh juga demikian, meskipun tidak seekstrim orang Papua. Jadi intinya, orang asing untung, bangsa kita buntung.

Juga melanggar Sila Ke-4, sebab penjajahan seperti itu jelas-jelas dilakukan secara sepihak, demi keuntungan orang asing, sementara rakyat Indonesia tidak pernah diajak berbicara baik-baik. Dan jelas, penjajahan itu sangat bertentangan dengan Sila, “Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.” Bagaimana disebut keadilan sosial bagi rakyat Indonesia, kalau kekayaan negeri ini lebih banyak menguntungkan asing daripada warga negara pribumi?

Jelas sekali, sangat terang, tidak ada kesamaran, bahwa penjajahan ekonomi selama ini di Indonesia bertentangan sangat kuat dengan PANCASILA. Artinya, masalah ini sudah mengguncang dasar-dasar kehidupan kebangsaaan di negeri ini. Jika sudah separah ini, alamat kehancuran NKRI tinggal menanti waktu saja.

Kalau seorang pemuda Islam ditanya, “Bagaimana solusi tuntas untuk keluar dari semua persoalan pelik ini?”

Maka jawaban yang sangat jelas adalah menerapkan Syariat Islam. Inilah jawaban yang kuat, tuntas, dan efektif. Sudah bukan rahasia lagi, para penjajah asing sangat takut dengan penerapan Syari’at Islam. Jika Syariat diberlakukan, mereka khawatir akan kehilangan daerah jajahan potensial. Karena itu sangat dimaklumi, kalau para penjajah membiayai JIL, Libforall, Wahid Institute, ICIP, dkk. untuk menentang secara total gerakan penegakan Syariat Islam. Islam memiliki banyak instrumen yang efektif bisa dipakai untuk mematahkan tangan-tangan kaum imperialis-kolonialis itu. Tidak heran, jika mereka sangat memusuhi Syariat Islam.

Kita perlu ingat sejarah. Belanda sangat sulit untuk menembus benteng pertahanan masyarakat Aceh. Berkali-kali usaha, selalu gagal. Maka mereka menyusupkan seorang orientalis, Snouck Hurgronje yang menyamar sebagai Haji Abdul Ghafur untuk masuk ke tengah masyarakat Aceh. Sejak saat itu Snouck mulai meracuni pikiran rakyat Aceh dan memberikan rahasia-rahasia kehidupan sosial di Aceh. Dengan gerakan Snouck inilah, rakyat Aceh kemudian dikalahkan. Di hari ini, tangan-tangan asing melahirkan Snouck-Snouck baru dalam jumlah yang banyak, yaitu JIL dan kawan-kawan. Mereka menyerang Islam dari dalam, dalam rangka melayani kepentingan para penjajah.

Hanya saja, untuk melaksanakan Syariat Islam di Indonesia ini tidaklah mudah. Masyarakat kita sudah terlanjur phobia, berburuk-sangka, dan termakan oleh fitnah-fitnah yang menyesatkan. Hal itu juga tidak terlepas dari perusakan opini oleh media-media massa selama puluhan tahun terakhir. Melaksanakan Syariat Islam dalam kondisi seperti ini, tak ubahnya seperti melukis gambar harimau di atas kertas. Harimau dikenal sebagai hewan yang tangguh dan berwibawa, tetapi kalau hanya di atas kertas, tidak banyak pengaruhnya.

Dan tidak baik juga jika kita menempuh cara-cara kekerasan untuk memaksa masyarakat menerima Syariat Islam. Dulu Nabi Saw berdakwah baik-baik, tanpa kekerasan, sampai Allah memberikan kemenangan di Madinah. Kita harus tetap menempuh cara-cara damai untuk mengajak masyarakat menerima Syariat Islam dan komitmen dengannya. Jika peluang demokrasi terbuka, tidak masalah juga memanfaatkan sarana seperti itu.

Meskipun begitu, kita harus terus menentang penjajahan ekonomi di negeri ini. Dengan sarana-sarana politik yang ada, kita harus terus memperjuangkan kepentingan masyarakat Indonesia. Kita bisa berkerjasama dengan para pejuang Nasionalis dalam rangka menyelematkan kehidupan rakyat di negeri ini. Nabi Saw dulu juga pernah bekerjasama dengan kalangan Yahudi dan kabilah-kabilah Arab di Madinah, untuk sama-sama menjaga Kota Madinah. Itulah yang kemudian kita kenal sebagai perjanjian Piagam Madinah.

Mari kita sama-sama berjuang, menyelamatkan kehidupan ratusan juta penduduk Indonesia, menentang praktik PENJAJAHAN EKONOMI di negeri ini. Semboyannya jelas: Merdeka atau mati!!! Sekali merdeka, tetap merdeka!!! Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, wa lillahil hamd.

AMW.