Catatan Berserak dari Aksi GMJ 10 November 2014

November 12, 2014

Bismillah. Berikut adalah catatan berserak, pandangan mata jurnalis dari lapangan; yang kebetulan informasi-informasi ini banyak tidak tercover oleh media. Anda siap membaca informasi-informasi berikut? Mari ikuti…

*) Aksi massa GMJ (Gerakan Masyarakat Jakarta) 10 November 2014 merupakan tekanan politik yang sangat kuat dan hebat. Bukan saja ke personal Ahok, tapi kepada kekuatan-kekuatan di baliknya. Karena kita tahu, tak mungkin Ahok berani celamitan, kecuali memang disuruh begitu.

*) Aksi ini oleh MetroTV disebut diikuti oleh 500 orang. Ha ha ha…para jurnalis kalau matanya rabun, hasil laporan pun jadi jauh dari kenyataan. Tidak ada jurnalis terbodoh yang mengatakan, peserta hanya 500 orang, kecuali MetroTV. Maklumlah…

"Menyentuh Sisi Sensitif Kepekaan Rasa Muslim Betawi"

“Menyentuh Sisi Sensitif Kepekaan Rasa Muslim Betawi”

*) Sehari sebelum aksi massa 10 November, beredar broadcast dari aparat polisi tentang perkiraan massa peserta demo. Katanya, hanya sekitar 1000 orang; telah diberangkatkan 5 bus FPI asal Surakarta; paling akan terjadi sambit-sambitan batu seperti massa tawuran. Prediksi tersebut salah besar dan sesat. Demo diikuti setidaknya 10.000 massa. Mereka melakukan tekanan politik sangat kuat dan nyaris mendominasi lapangan.

*) Dikatakan, demo itu didukung oleh massa FPI. Sebagai motor gerakan, iya benar. FPI memang dominan. Tapi tanpa dukungan elemen-elemen massa lain, gerak aksi ini tidak akan sekuat itu. Banyak elemen Islam/Muslim terlibat dalam demo ini, meskipun tetap bintangnya adalah FPI.

*) Fenomena yang hebat: pesan besar dalam demo ini adalah SERUAN REVOLUSI ANTI AHOK. Atau katakanlah, masyarakat Muslim Jakarta tidak menghendaki Ahok jadi Gubernur DKI. Dalam aksi ini para demonstran hanya memberi pilihan: Ahok turun dan tidak dilantik menjadi Gubernur DKI. Alasannya, masyarakat Muslim Jakarta “sudah gak demen sama elo”.

*) Jargon yang populer dalam demo ini adalah: “Gue gak mau tahu, yang penting Ahok turun.” Ini adalah yel-yel dengan nuansa revolusi. Seperti yel-yel perjuangan masa lalu: “Merdeka atau mati!”

*) Tokoh-tokoh pendukung demo ini membaca dengan jelas arah dari kebijakan dan statement-statement Ahok selama ini, yaitu kehendak ingin menghapuskan Islam dari Jakarta. Faktanya: Ahok melarang takbir keliling, tapi memfasilitasi acara-acara hedonisme tahun baru; mempersulit izin pengajian dan majelis dzikir; membuldozer masjid-masjid tanpa memberi ganti; melarang penjualan hewan qurban di pinggir jalan; melarang penyembelihan hewan qurban di sekolah-sekolah dan instansi; mengganti pakaian religius pelajar Jakarta pada hari Jumat dengan pakaian adat; hendak menghapuskan kolom agama dalam KTP; hendak melegalisasi komplek pelacuran; berulang-ulang menghina Islam dan kaum Muslimin; dan sebagainya. Arah sekularisasi dari kebijakan dan statement Ahok sangat jelas.

*) Dr. Sri Bintang Pamungkas, dia menyatakan bukan bagian massa FPI, tapi dia mencintai Islam. Dia sangat marah karena Ahok pernah mengatakan agar aparat keamanan memenuhi senjata mereka dengan peluru tajam dan mengisi water canon dengan bensin; tentu tujuannya untuk membunuhi para demonstran Muslim. Itu kata Dr. Sri Bintang dalam orasinya.

*) Salah besar orang yang mengatakan bahwa demo ini hanya dilakukan oleh FPI. Salah besar. Bahkan di sana tampil sekumpulan pelajar memakai baju batik warna biru dan celana putih, mereka dari komunitas PERSATUAN ISLAM (Persis) Jakarta. Bahkan seorang ibu Muslimah, dua kali memberikan orasi, menggugah semangat Jihad para pemuda Islam; beliau dari komunitas Muhammadiyah. Demo ini diikuti oleh ibu-ibu juga, sekitar 100 orang; karena mayoritas adalah kaum laki-laki dan pemuda.

*) Alhamdulillah, demo berjalan lancar, tidak ada aksi anarkhis. Tampaknya panitia telah menyiapkan segala perangkat untuk menghindari anarkhisme. Berulang-ulang mereka mengingatkan bahaya provokasi. Mereka juga mengamankan seorang provokator yang terus menerus berteriak: “Bunuh Ahok! Ahok halal darahnya!” Posturnya tinggi besar, berkendaraan motor, dan memakai seragam/atribut FPI.

*) Jumlah massa yang hadir sangat banyak. Ada masa jalan kaki, masa kendaraan motor, massa kendaraan mobil. Ketika kita di satu titik di Jalan Thamrin, lalu melihat jauh ke arah peserta demo; seolah di ujung pandangan mata massa demo terus mengalir. Ia laksana aliran air bah yang menggenangi Jl. Thamrin, lalu masuk Jl. Kebon Sirih, sampai ke Balai Kota Jakarta. Mungkin serupa seperti aksi massa yang biasa dilakukan PKS, tapi ini dominan kaum laki-laki dan santri Betawi.

*) Media Islam yang lumayan obyektif dan proporsional meng-cover berita seputar demo ini adalah situs Suara-islam.com. Yang lain seperti kurang semangat, padahal tujuan aksi ini adalah untuk: menghadang sekularisme di Jakarta dan Indonesia secara umum. Sayang sekali.

*) Mungkin kita punya banyak perbedaan dengan FPI atau Habib Rizieq Shihab; tapi bukankah tujuan mereka adalah membela Islam di Jakarta dan tentu saja di Indonesia? Apakah tidak bisa kita tepiskan dulu perbedaan-perbedaan, lalu kita bersatu hadapi common enemy? Bagaimana Anda akan bisa mendukung perjuangan Ummat di negeri-negeri lain, kalau dalam hal seperti ini saja selalu ragu dan mengutamakan egoisme? Musuh sudah semakin jelas akhi/ukhti; maka bersatulah demi kemenangan bersama!

*) Satu hal yang menarik dari demo ini, yaitu kemampuan panitia untuk menggabungkan semangat revolusi dengan seni shalawatan. Dari kendaraan sound para orator terus membangkitkan semangat massa, tapi mereka juga bershalawatan dengan irama mendayu. Akibatnya, demo ini menarik simpati banyak orang di jalanan, di kantor-kantor, di kendaraan umum, bahkan anak-anak sekolah juga berebut melihat aliran massa. Termasuk pegawai gedung-gedung tinggi di kawasan Thamrin tidak henti-hentinya meliput massa dengan kamera ponsel mereka. Kami sendiri melihat ada seorang wanita Tionghoa meliput demo dengan Ipad dari serambi rumah/kantornya yang tinggi. Wong memang ini aksi damai.

*) Di depan Balai Kota diperagakan aksi pencak silat Betawi oleh beberapa orang. Judulnya kira-kira begini: “Kalau Ahok membawa jurus dewa mabuk. Kita akan hadapi dengan jurus kemplang babi.” Di antara orator juga ada yang berkata begini: “Wahai Ahok Lu pernah mengancam kite dengan pistol. Keluarkan pistol Lu Ahok. Kami siap mati di sini.”

*) Kebijakan yang sangat baik dari Polda Metrojaya, yaitu bersikap simpatik sepanjang pengamanan demo. Polisi bersikap simpatik, memudahkan, dan tidak memprovokasi. Sempat di Balai Kota polisi mengeluarkan 4 anjing pelacak; hal ini membuat sedikit kegaduhan; tapi anjing-anjing itu segera ditarik. Kalau polisi bersikap beringas, dapat diperkirakan akan terjadi kerusuhan hebat, karena mayoritas peserta demo sudah siap bertarung; meskipun mereka tidak membawa senjata tajam.

*) GMJ dan FPI sudah menjelaskan sikap politik mereka. Hanya satu pilihan: Ahok turun dan tidak dilantik menjadi Gubernur Jakarta. Jika tetap dipaksakan, gerakan santri dan aktivis Islam Jakarta menolak keras dan berjanji akan melakukan perlawanan. Jadi, naiknya Ahok menjadi Gubernur Jakarta adalah: POTENSI KONFLIK BESAR di Jakarta. Kita tahu, aset-aset besar ekonomi dan pemerintahan ada di Jakarta. Maka hendaknya pemerintah berhati-hati, karena yang mereka hadapi adalah grassroot kaum santri Betawi.

*) Kami hanya ingin mengingatkan kejadian kerusuhan di komplek makam Mbah Priok beberapa tahun lalu. Cukuplah hal itu menjadi peringatan bagi Pemda Jakarta dan Pemerintah RI. Jangan sampai hal seperti ini terjadi dan terulang di pusat-pusat kota Jakarta. Ingat, komunitas yang dihadapi di Priok saat itu identik dengan yang beraksi saat ini di jalanan Jakarta. Bahkan dukungan Habib-habib dalam hal ini lebih luas lagi.

*) Aparat sekuler sering menyamakan antara Jakarta dan Kairo. Kalau Al Ikhwan di Kairo bisa dibabat habis, maka aktivis Islam di Jakarta juga bisa dibabat habis. Itu teori mereka. Tapi tunggu dulu, Al Ikhwan rata-rata didukung kaum intelektual dan kelas menengah. Sedangkan komunitas GMJ, FPI, FBB, Habib-habib, ormas-ormas Islam, rata-rata didukung oleh massa grassroot yang mengakar di masyarakat. Cara mereka berpikir tentang tingkat risiko sangat berbeda.

*) Terakhir, sebagai penutup. Dalam aksi massa di depan Gedung DPRD Jakarta kemarin, seorang habib bercerita. Saat tanggal 10 November itu, beliau teringat pahlawan nasional (yang lambat sekali mendapat pengakuan sebagai pahlawan) yaitu Bung Tomo di Surabaya. Kata beliau, Bung Tomo yang mempopulerkan pekik Takbir dalam perang Jihad. Beliau habiskan masa tuanya di Makkah, sampai meninggal. Setelah meninggal, beliau dimakamkan di pekuburan Ma’la Makkah. Setahun kemudian pemerintah Indonesia mengutus seorang perwira (letnan kolonel) untuk mengurus kepulangan jenazah Bung Tomo ke Indonesia. Sang perwira itu adalah murid dari habib tersebut. Subhanallah, meskipun sudah wafat selama setahun, jenazah Bung Tomo rahimahullah masih utuh dan menebarkan aroma harum. Ini tanda-tanda karomah seorang pejuang. Hal ini perlu diketahui kaum Muslimin.

Baik, demikian saja yang bisa kami sampaikan, sebagai laporan pandangan mata dari lokasi aksi perjuangan rakyat Jakarta. Semoga bermanfaat. Alhamdulillahi Rabbil ‘alamiin.

(Mine).

Iklan

Silakan Anti Ahok, Tapi Jangan Kaitkan Foke dengan Islam!

Agustus 18, 2012

Seiring semakin dekatnya akhir Ramadhan, dan menjelang bulan Syawal, satu penjelasan kecil ingin disampaikan, terkait Pilkada DKI 2012 putaran II, yang akan berlangsung September nanti. Hal ini disampaikan agar tidak muncul salah paham.

[1]. Adalah hak warga Muslim Jakarta, atau Muslim di tempat lain, untuk memilih atau mendukung calon pemimpin yang diyakini akan membawa kemaslahatan bagi kehidupan ke depan. Karena lazimnya seorang Muslim, dia mendambakan maslahat dan berusaha sekuat tenaga menjauhi madharat. Sesuai prinsip Syariat Islam: jalbu al mashalih wa daf’u al mafasid (mencapai kebaikan dan menolak kemadharatan).

“Simbol Kumis” Sangat Jauh dari Pesan Islami. Ini Tidak Mewakili Aspirasi Islam.

[2]. Warga Muslim Jakarta sangat berhak bersikap apapun, seperti menolak pasangan Jokowi-Ahok, lalu memilih pasangan Foke-Nara. Hal ini boleh semata, sebagai bagian dari hak kebebasan menyalurkan aspirasi politik. Misalnya, alasannya Jokowi cenderung Kejawen; Ahok seorang non Muslim, China lagi; kalau Jokowi menang, khawatir nanti Jakarta akan semakin dikuasai oleh non Muslim dan China. Alasan demikian, secara politik, sifatnya boleh, tidak ada larangan.

[3]. Jika Muslim Jakarta menolak pasangan Jokowi-Ahok dengan alasan di atas (poin ke-2), itu sudah cukup. Itu sudah sah dan standar, bagi siapa saja yang memiliki hak suara. Namun, jika sudah beralasan seperti itu, jangan lantas menganggap pasangan Foke-Nara sebagai pasangan yang Islami. Jangan demikian, sebab itu jelas mendustakan kebenaran. Silakan saja anti Jokowi atau anti Ahok; tapi jangan beralasan bahwa Foke-Nara lebih Islami. Ini sebuah kedustaan yang nyata. Foke-Nara itu jelas-jelas didukung oleh Partai Demokrat, Partai Golkar, PDS, PKB, PKS, PAN, dan lainnya. Partai-partai Neolib dan sekuler mendukung dirinya; atau mendukung “Simbol Kumis” Foke. Bagaimana hal ini dianggap sebagai pasangan Islami? Kalau mengaitkan Foke dengan perjuangan Islam, sementara buktinya tidak ada, jelas ini sebuah kedustaan yang nyata.

[4]. Kemudian, jika warga Muslim Jakarta mendukung Foke-Nara, jangan karena alasan: Foke-Nara anti Wahabi atau hal itu dilakukan demi menjaga persatuan Ummat. Alasan demikian sangat menyakitkan hati saudara-saudaramu sesama Muslim; ia jelas-jelas memecah-belah barisan Ummat; dan merupakan fitnah bagi gerakan dakwah Wahabi. Tolonglah, jangan dipakai alasan keji seperti itu. Kalau tetap dipakai, jangan salah kalau akan bermunculan sikap anti Foke-Nara secara ideologis dari semua kalangan gerakan dakwah Wahabi.

[5]. Siapapun yang nanti terpilih sebagai gubernur DKI Jakarta, bukan berarti masalah-masalah Ummat Islam akan otomatis selesai, atau semakin ringan. Jangan bermimpi terlalu jauh! Kita masih ingat, tahun 2004 lalu, DKI Jakarta secara politik dikuasai oleh PKS. Mereka mendominasi perolehan suara di tingkat parlemen DKI Jakarta. Gubernur Jawa Barat sekarang, Ahmad Heriyawan, adalah termasuk anggota DPRD DKI Jakarta periode itu. Tapi Ummat Islam bisa merasakan sendiri, sejuhmana dampak kemenangan politik PKS di Jakarta ketika. Ngaruh tidak? Kalau setingkat PKS saja tidak banyak pengaruhnya, apalagi sosok Foke yang membanggakan Kumis-nya. Maksudnya, bila nanti Foke berkuasa lagi, dan ternyata tidak banyak perubahan; ya mesti bersabar. Namanya juga sistem sekuler, mau dibolak-balik seperti apapun, hasilnya sama; ngenes.

Demikian yang bisa disampaikan. Selamat menyambut Idul Fithri 1 Syawal 1433 H. Taqabbalallah minna wa minkum shalihan a’mal. Ja’alanallahu wa iyyakum minal a’idina wal fa’izin, kullu aamin wa antum bi khair. Mohon maaf lahir dan bathin.

Abu Muhammad (Joko) Waskito.