Nia Dinata dan Logika Kain Kafan

Oktober 24, 2008

Kemarin malam digelar kembali debat terbuka di TV antara pihak yang pro RUU Pornografi dan yang anti RUU. Saya tidak mengikuti secara keseluruhan, hanya sempat melihat bagian terakhir, debat antara Nia Dinata (sutradara film) dan Feri Omar Farouk (pendukung kampanye Jangan Bugil di Depan Kamera).

Semula tersiar kabar RUU Pornografi akan disahkan DPR sekitar tanggal 23 Oktober, ternyata ditunda lagi. Ini adalah penundaan untuk kesekian kalinya. DPR yang telah bekerja sejak 4 tahun lalu, bahkan sejak 10 tahun lalu, tidak kelar-kelar menggolkan RUU yang isinya sekitar 40 pasal itu. Demi perlindungan moral masyarakat betapa lelet-nya kerja DPR. Bandingkan kalau mereka menggarap RUU politik, rapat-rapat maraton pun akan digelar untuk mengejar deadline.

Nia Dinata, Riri Riza, Dian Sastro, Ayu Utami, Rieke Dyah Pitaloka, dll. sudah sangat terkenal perlawanan mereka terhadap gerakan anti pornografi, khususnya melalui upaya legislasi untuk menghasilkan RUU Pornografi (Semula RUU Anti Pornografi Pornoaksi – RUU APP). Di balik mereka ada Mbah Dur, Gunawan Mohamad, aktivis JIL, Ratu Hemas, dan seterusnya.

Menarik sekali kalau mencermati perilaku kaum pembela kebebasan seni, liberalisasi budaya, dan pornografi itu. Sejak dulu mereka melontarkan alasan-alasan yang banyak dan bermacam-macam. Alasan-alasan mereka tampak keren dan cerdas, tapi alhamdulillah bisa dijawab tuntas oleh para pembela gerakan anti pornografi. Salah satu contoh baik ialah saat Musdah Mulia (guru besar UIN Jakarta) berdebat dengan seorang ustadz HTI. Musdah dibuat tidak berkutik, sehingga keluarlah sifat-sifat asli kewanitaannya, nervous dan emosional.

Para pendukung pornografi selalu memperbaharui alasan-alasan mereka. Setiap satu alasan dibantah, mereka segera bergeser ke alasan lain; ketika alasan baru itu juga dibantah, mereka bergeser ke alasan lainnya lagi; begitu seterusnya, sampai tidak ada satu pun alasan mereka yang tersisa. Setelah mereka kehabisan modal alasan, mereka balik lagi ke alasan pertama, lalu ke alasan kedua, ketiga, dan seterusnya. Mereka tidak pernah tulus ingin bicara tentang pornografi; alasan-alasan mereka hanyalah cover untuk menunda-nunda pengesahan RUU Pornografi. Semakin lama proses pengesahan itu berjalan, semakin tebal “upah perjuangan” yang didapat. Singkat kata, ini adalah “profesi” baru, menunda-nunda pengesahan RUU untuk melayani kepentingan industri kapitalis liberal. Soal “alasan cerdas”, itu mudah dibuat, tinggal diskusi, sharing, brain storming, dapat sudah ide “kreatif”.

Dalam debat di TVOne di atas, hampir tidak ada alasan baru dari seorang “pekerja seni” seperti Nia Dinata. Dia hanya mengulang-ulang lagu lama yang sudah terlalu sering diputar. Dari sisi intelligence atau smartness, para pendukung industri pornografi tidak memiliki ide yang layak.

Disini saya ingin mengulas sedikit cara berpikir Nia Dinata. Tetapi tujuannya bukan untuk membantah, sebab pemikiran-pemikiran mereka sudah terlalu sering dibantah. Kita hanya ingin bersenang-senang dengan aktivitas membela moralitas masyarakat. “Ya, it’s just for fun,” pinjam istilah anak-anak muda.

Baca entri selengkapnya »

Iklan