Arogansi Seorang Alim…

Desember 16, 2013

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Ali Hasan Al Halabi Al Urduni, ya tentu seorang alim ya. Ilmunya banyak, wawasan din-nya luas. Beliau disebut-sebut sebagai salah satu murid terbaik Syaikh Nashiruddin Al Albani rahimahullah. Selain menulis buku, berceramah, menjadi dai dan tokoh Islam; Ali Hasan juga diakui sebagai tokoh besar komunitas Salafi. Beberapa tahun lalu dia datang ke Istiqlal Jakarta, saya hadir dalam ceramahnya. Tapi karena telat datang, jadi hanya dapat melihat dari layar lebar saja.

Sikap Meremehkan "Lajnah Daimah" dan Menganggapnya Sepele

Sikap Meremehkan “Lajnah Daimah” dan Menganggapnya Sepele

Tapi sayang, untuk sosok alim seperti dia bersikap arogan kepada dewan ulama kaum Muslimin (Lajnah Da’imah Arab Saudi). Itu berdasar informasi yang disampaikan oleh ustadz-ustadz mujahidin, setelah melakukan debat di Lapas Nusa Kambangan. Hebat ya…orang biasa saja susah bukan main masuk kesana; apalagi yang ciri-ciri fisiknya “mirip teroris”; tapi Ali Hasan Al Halabi begitu mudahnya… seolah digelarkan karfet merah di hadapannya.

Dalam debat dengan ustadz mujahidin, Ali Al Halabi ditanya tentang Fatwa Lajnah Da’imah yang telah menyalahkan dirinya. Namun dia malah menjawab begini: “Bahwa Lajnah Da’imah menulis tahdziran (peringatan) satu setengah halaman saja, sementara saya telah membantahnya lagi dengan tulisan lebih dari 1000 halaman. Sudahkah Anda membacanya?

Ada sebuah hikmah yang baik dari khazanah bahasa kita. Orangtua-orangtua kita mengajarkan ungkapan: “Seperti ilmu padi, semakin berisi semakin merunduk.” Maksudnya, bulir-bulir padi itu kalau berisi, ia pasti akan merunduk, pertanda berat.

Sebaliknya ada ungkapan lain: “Tong kosong, nyaring bunyinya.” Anda pernah melihat sebuah tong (brum) minyak sedang digelindingkan di tanah? Kalau drum itu isinya penuh, saat digelindingkan, tidak terdengar bunyi berisik. Tapi kalau drum sedang kosong, saat digelindingkan berisik. Tandanya, kalau orang kosong ilmu, biasanya banyak bicara. Termasuk memperlihatkan kesombongannya.

Intinya…janganlah sombong lah. Tidak baik. Iblis diusir dari surga karena alasan itu lho.

(Abah).

Iklan

Jokowi Punya Kemampuan, Tapi Masalah Jakarta Sangat Komplek. Foke Punya Pengalaman, Tapi Cenderung Arogan.

November 28, 2012

Baru juga Jokowi memimpin Jakarta, masalah-masalah klasik di provinsi ini mulai bermunculan. Minimal, soal banjir dan macet. Dalam masalah banjir, Jokowi sempat bilang bahwa dirinya “kalah cepat” dibandingkan kedatangan banjir; dalam masalah kemacetan, yang semula Jokowi tidak setuju dengan pembangunan jalan tol dalam kota, akhirnya sepakat untuk merealisasikan pembangunan dua ruas jalan tol. Banyak masalah-masalah Jakarta yang sedang menanti “tangan dingin” Jokowi.

Menurut sebagian analisis, nama besar Jokowi yang meriah di mata media dan rakyat, tak urung membuat Megawati dan kawan-kawan merasa “gerah” juga. Sebab dikhawatirkan Jokowi akan mengganggu “nama besar” Megawati di mata para PDIP-ers. Ibaratnya, hanya boleh ada satu bola lampu yang menyala terang. Nah, itu masalah lain lagi.

Intinya begini lah…Pak Jokowi ini punya kemampuan, punya leadership, juga punya pengalaman. Minimal dalam memimpin Kota Solo. Dengan kemampuan yang ada itu, dia insya Allah bisa mengadakan perbaikan-perbaikan di Jakarta pada sektor-sektor tertentu. Tapi untuk memperbaiki Jakarta secara fundamental, untuk mengubah wajah Jakarta, untuk menata-ulang wajah provinsi ini sebaik-baiknya; hal itu tidaklah mudah. Alasan utamanya, masalah Jakarta terlalu komplek.

Jakarta Terlalu Ruwet untuk Dihadapi Seorang Diri.

Jakarta bisa diibaratkan sebagai “ruang tamu” sekaligus “dapur” bangsa Indonesia. Ia adalah pajangan bagi dunia luar; tetapi sekaligus pusat bisnis bagi dunia dalam. Jakarta itu inti magnet kehidupan nasional. Di dalamnya bermain banyak sekali tangan-tangan yang berkepentingan. Ada pemda & pemkot, serta pejabat-pejabat mereka; ada pemerintah pusat dan departemen-departemen; ada BUMN dan swasta yang berkantor pusat disana; ada perusahaan swasta, pebisnis, pedagang dan seterusnya; ada media-media massa, baik cetak maupun elektronik; ada aparat keamanan dan hukum, yang juga punya kepentingan bisnis dan politik; ada asosiasi-asosiasi; ada partai-partai politik; ada masyarakat marginal; ada kepentingan negara-negara asing; ada jaringan perusahaan-perusahaan multi nasional, dan seterusnya dan seterusnya. Jakarta seperti “pasar tradisional” tempat bertemunya aneka macam jenis manusia, kepentingan, ambisi, serta tingkah-polahnya.

Pihak-pihak yang bermain di Jakarta ini bisa dikelompokkan menjadi 3 golongan: [1]. Kelompok mapan (settled). [2]. Kelompok oposisi yang anti kelompok mapan. [3]. Kelompok eksperimen yang berusaha keras mencari kemapanan.

Kelompok pertama adalah kalangan yang telah mendominasi Jakarta, dan sangat banyak mendapatkan keuntungan secara ekonomi, bisnis, finansial, politik, dan sosial. Kelompok ini punya kekuatan dana, power politik, media, serta agen-agen loyal yang selalu bekerja keras untuk mempertahankan dominasinya di Jakarta. Kelompok kedua adalah barisan siapa saja, terutama rakyat dan mahasiswa, yang ingin ada perubahan di Jakarta. Kelompok satu dan dua ini selalu berseteru. Jokowi disebut-sebut sebagai bagian dari “kelompok perubahan” ini; tetapi bisa juga dimaknai, dia disetir oleh kelompok pertama. Sementara kelompok ketiga, adalah kaum pragmatis-oprtunis yang terus mencari celah untuk menguasai Jakarta, dengan prinsip ekonomi: bermodal pengorbanan sekecil-kecilnya untuk meraup untung sebesar-besarnya.

Selagi kebijakan Jokowi tidak membahayakan kelompok pertama, dia akan dibiarkan aman, selamat, dan sentosa. Tetapi kalau sudah mulai mengganggu, Jokowi akan diserang dengan aneka macam senjata; mulai dari yang paling halus, semi halus, agak kasar, kasar, hingga sangat kasar. Tinggal pilih, mana selera yang cocok. Saya perhatikan, media-media tertentu sudah mulai gatel menjadikan Jokowi sebagai “sansak”; sebagaimana media-media lain berpura-pura bego atas kasus yang membelit Dahlan Iskan, sewaktu menjadi Dirut PLN.

Pertanyaan, di atas semua kenyataan ini, mungkinkah Jokowi bisa mengatur Jakarta sebaik-baiknya?

Kemunculan Jokowi di Jakarta, tidak lepas dari peranan sebagian politisi senior (di Gerindra dan PDIP); bukan agenda Jokowi sendiri; itu tandanya dia tidak mandiri, secara politik. Dengan keadaan demikian, bisakah Jokowi membereskan kompleksitas Jakarta dengan segala elemennya? Kalau secara hitung-hitungan teoritis, itu sangat sulit.

Tapi soal Jokowi akan bisa mengadakan perbaikan-perbaikan tertentu di Jakarta, insya Allah bisa, sebab beliau punya pengalaman. Namun jika berharap banyak padanya, untuk membereskan segala keruwetan Jakarta, rasanya sangat sulit. Kita seperti mengharap seekor tupai untuk mendorong truk trailer sampai ke pelabuhan.

Adapun Foke (Fauzi Bowo), secara umum dia punya pengalaman, 30 tahunan di birokrasi pemda/pemkot. Dia juga meraih gelar doktor dari Jerman. Dari sisi ini sudah bagus, sudah layak untuk jabatan selevel gubernur. Tapi pembawaan Foke kurang bagus. Sikap kepribadiannya cenderung arogan. Pencitraan dengan kumis tebal yang dipotong “kotak” itu, semakin menambah kesan arogansinya. Sementara masyarakat Indonesia kurang suka dengan sikap arogan. “Meskipun pintar, kalau arogan, kita gak suka. Meskipun bodoh, kalau ramah dan sopan, kita demen tuh.” Begitu kira-kira prinsip kultural masyarakat kita.

Kita jangan terlalu memberi beban ke pundak Jokowi, sebab kemampuan dia sangat terbatas dibandingkan masalah komplek yang ada di Jakarta. Mesti bersikap proporsional. Tetapi boleh juga berharap, dia akan melakukan perbaikan-perbaikan tertentu yang bersifat sektoral. Jakarta itu bisa berubah secara drastis, jika pola pikir (software), elit-elit dominator (processor), kesadaran umum masyarakat (motherboard), serta fasilitas fisik (hardware) Jakarta juga berubah.

Oke Pak Jokowi, selamat bekerja dan berjuang demi kebaikan hidup masyarakat Jakarta. Dan bagi rakyat Jakarta, para pengamat, para netters, dan seterusnya…jangan berhenti untuk berharap, bahwa: “Hari ini harus lebih baik dari hari kemarin, hari esok harus lebih baik dari hari ini.” Amin.

(Blogadmin).


Janganlah Bersikap Sombong…

September 15, 2011

Bismillahirrahmaanirrahiim.

IFTITAH: Tulisan ini direvisi dari bentuk aslinya. Hal ini dilakukan setelah tabloid Suara Islam menurunkan tulisan simpatik tentang sosok seorang calon Ketua KPK. Tulisan itu digoreskan oleh Ustadz Aru Syeif Asadullah di kolom Khatimah, edisi 121 (7-12 Oktober 2011).

Sebagai bentuk rasa ukhuwwah antar sesama Muslim, dan menghormati para senior aktivis Islam yang banyak jasanya kepada Ummat, maka tulisan ini pun direvisi. Semoga Allah Ta’ala mengampuni diriku atas segala kesalahan-kesalahan yang ada; dan semoga Allah memuliakan kita di atas jalan persaudaraan Islam. Allahumma amin.

***

Pagi ini, Kamis 15 September 2011, saya menyaksikan dialog di TV dengan seorang calon Ketua KPK. Alhamdulillah, dengan segala pertolongan Allah, kita masih bisa dinamika kehidupan Ummat di Nusantara ini.

Aku punya tanjung... Aku bisa mengeluarkan suara mendesing...

Singkat kata, dalam wawancara dengan TV di atas, tampak ada sikap-sikap arogansi yang mestinya tidak boleh tampak dalam diri seorang calon Ketua KPK. Arogansi dimanapun adalah buruk, sebab iblis dikeluarkan dari syurga dan mendapat laknat Allah karena arogansi itu sendiri.

Dalam hal ini ada kaidah sederhana. Kemungkaran yang dilakukan di depan publik, harus diluruskan di depan publik juga. Kemungkaran secara pribadi, diluruskan secara pribadi pula. Lalu, kemungkaran oleh orang-orang yang alim dalam Islam (ustadz atau ulama) berbeda dengan kemungkaran yang dilakukan oleh individu biasa. Kemungkaran oleh orang alim nanti bisa dianggap sebagai “penghalalan” kemungkaran. Cara menasehatinya pun berbeda dengan kepada orang-orang biasa. Semoga dimengerti!

Untuk sosok sekaliber Musa As saja ditegur keras oleh Allah dalam perkara arogansi, apalagi untuk insan biasa seperti kita-kita ini. Bahkan Rasulullah Saw ketika mukanya masam menyambut kedatangan orang tunanetra, Abdullah bin Ummi Maktum, seketika diingatkan dengan Surat “Abasa Watawalla”. Hal ini termasuk perkara hati, perkara sangat peka. Kita harus berhati-hati. Nas’alullah al ‘afiyah fid dini wad dunya wal akhirah.

Arogansi termasuk perbuatan yang tak diberi toleransi, kecuali bersikap arogan di depan orang sombong, dalam rangka mengingatkan kesombongannya. Hal seperti itu diperbolehkan, demi amal nahyul munkar. Meskipun harus tetap hati-hati juga.

Dalam wawancara itu saya mencatat beberapa hal yang seharusnya dihindari oleh setiap Muslim yang ISTIQAMAH di jalan Islam, karena hal itu terindikasi merupakan sikap kesombongan. Misalnya sebagai berikut:

[1]. Seseorang mengklaim diri sudah berkiprah di KPK sejak tahun 2005/2006. Posisinya sebagai anggota dewan penasehat KPK, juga ikut terlibat dalam menyusun konsep legal KPK itu sendiri. Disana dia mengklaim sangat tahu seluk-beluk lembaga KPK.  Katanya, “Andaikan ada jarum yang jatuh di KPK, saya tahu letaknya.” Perkataan ini tidak tepat, harus diperbaiki. Di dalamnya mengandung arogansi.

Dulu saya masih ingat ada politisi Muslim dari partai Islam yang didukung anak-anak muda aktivis kampus. Waktu itu, partai tersebut membawa konsep baru, yaitu mengintegrasikan antara partai politik dan partai dakwah; sesuatu yang tidak lazim dalam dunia politik di berbagai negara Muslim. Lalu dia sesumbar, “Andaikan ada 20 jilid kamus politik, lalu di dalamnya tidak ada konsep seperti ini; mengapa tidak kita membuat jilid yang ke-21.” Ya begitulah, kesombongan manusia yang akhirnya menjadi sesalan tak berkesudahan.

Taruhlah, seseorang tahu betul kondisi lahir batin, tahu istilah, hakikat dan makrifat sekaligus. Tetapi tetap tidak layak mengklaim seperti itu. Pengetahuan kita ada tanggung-jawabnya; semakin kita mengklaim “banyak tahu”, semakin besar juga tanggung-jawabnya. Semoga hal ini menjadi pelajaran.

[2]. Seseorang masuk KPK sebagai bentuk rasa cinta kepada saudara-saudara sesama aktivis Muslim, keluarganya, dll. Dia masuk KPK sebagai upaya mewujudkan rasa cinta itu.  Secara teori boleh mengungkapkan cinta kepada orang lain dengan komitmen memberantas korupsi sampai ke akar-akarnya. Ini boleh semata, bahkan baik. Kalau korupsi terberantas, orang-orang yang dicintai itu insya Allah akan hidup dengan sejahtera dan baik.

Namun masalahnya, ketika muncul analogi kurang bagus. Disana seseorang mengatakan, kurang lebih: “Misalnya nanti di Akhirat saya masuk syurga, lalu kawan-kawan masuk neraka. Lalu mereka meminta tolong ke saya. Kalau sudah di Akhirat, saya tak bisa berbuat apa-apa…” Ucapan seperti ini tidak tepat dan tidak sesuai ajaran Islam. Tidak ada ulama Islam yang membuat pengandaian jika dirinya masuk syurga, lalu orang lain masuk neraka. Kata-kata seperti itu termasuk domain para Nabi dan Rasul.

Jadi sebaiknya kita menghindar dari kata-kata seperti itu. Bahkan lebih mulia kalau kita merendahkan diri, misalnya dengan mengatakan, “Apalah artinya aku ini? Aku ini hamba yang faqir dan lemah? Aku ini berlumur dosa. Tidaklah diriku ini, selain hamba yang sangat mengharapkan maghfirah Allah.” Kata-kata demikian dibenarkan dan insya Allah termasuk kebaikan.

[3]. Kemudian seseorang ditanya, apa yang akan dia lakukan kalau nanti menjadi Ketua KPK? Lalu dia menjawab: “Dalam waktu 6 bulan pertama, saya akan selesaikan masalah internal KPK sampai beres. Kalau selama ini masih SETENGAH MALAIKAT, akan saya buat sehingga menjadi TIGA PER EMPAT MALAIKAT.” Kalimat-kalimat demikian seharusnya dihindari. Kita ini hanya hamba-hamba Allah yang dhaif dan penuh kesalahan. Sedangkan para Malaikat itu mulia dan disucikan. Maqamnya manusia ya sebatas amal-amal manusia, tak akan bisa mencapai prestasi Malaikat.

Jangankan menjadi setengah Malaikat, menjadi 1 % saja belum tentu bisa. Karena Malaikat disucikan dari dosa, sedang kita tak luput dari dosa-dosa. Kalau membaca kisah Nabi Luth As dan kaumnya. Untuk menyelesaikan kedurhakaan kaum Sodom itu, Allah Ta’ala hanya mengutus dua makhluk Malaikat saja. Bahkan kalau mau, bisa saja Allah hanya menurunkan satu Malaikat saja seperti ketika Nabi Saw diusir kaum Thaif, lalu Allah memerintahkan Malaikat penjaga gunung untuk memenuhi kemauan Rasulullah Saw. Hal-hal demikian ini levelnya Rububiyyah Allah; yaitu level seputar urusan-urusan Ketuhanan-Nya.

Kita tak memiliki hak di kawasan seperti ini. Berhati-hatilah wahai saudaraku. Ingat pesan Nabi Saw, “Falyaqul khairan au liyasmut” (berkatalah yang baik, atau kalau tak bisa diam sajalah). Di tengah KPK sendiri banyak sekali masalah-masalah. Misalnya:  Skandal Bank Century, kasus suap pemilihan deputi gubernur BI, kasus Melinda Dee dan rekening gendut pejabat Polri, korupsi di KPU, korupsi pajak yang melibatkan grup Bakrie, Ramayana, dll.; kasus pemilihan Ketua Umum Demokrat, kasus Wisma Atlet SEAGAMES, kasus Bibit dan Ade Raharja, kasus Menakertrans, dll. Hal-hal demikian tidak boleh sama sekali diklaim sebagai SETENGAH MALAIKAT.

Jangan wahai saudaraku! Nasehat tulus kepada seseorang: “Andaikan beliau tak mampu mengendalikan segala keadaan di sekitar KPK dan diri beliau sendiri, cobalah bersikap santun. Jangan membawa-bawa nama malaikat. Malaikat adalah makhluk yang suci, patuh, dan tak pernah bermaksiyat kepada Allah seperti disebut dalam Surat At Tahrim. Janganlah kelemahan kita hendak ditutupi dengan kesucian makhluk Allah Ta’ala, sebab semua itu perbuatan curang.”

Allahumma inna nas’aluka husnal khatimah, wa na’udzubika min su’il khatimah. Allahumma inna nas’alukal jannah wa na’udzubika min adzabin naar. Amin Allahumma amin.

AM. Waskito.