Seputar ESQ dan Islam

Juli 30, 2010

Berikut ini sebuah makalah yang dipublikasikan secara berseri oleh http://www.suara-islam.com. Makalah ini masih menyoroti tentang konsep ESQ yang beberapa waktu lalu diberikan fatwa sesat oleh Mufti Wilayah Persekutuan Malaysia, Datuk Haji Wan Zahidi bin Wan Teh. Melalui pembacaan langsung terhadap buku ESQ karya Bapak Ary Ginanjar Agustian, disana didapati bukti-bukti ketidak-sesuaian pemikiran ESQ dengan ajaran Islam. Selamat membaca, semoga bermanfaat!

1. Konsep ESQ Memang Bermasalah I.

2. Konsep ESQ Memang Bermasalah II.

3. Konsep ESQ Memang Bermasalah III.

4. Konsep ESQ Memang Bermasalah IV.

Hasil kajian dalam makalah ini berbeda dengan pandangan Prof. Dr. Din Syamsuddin, Prof. Dr. Said Agil Siradj, Menteri Agama, dll. yang menganggap konsep ESQ baik-baik saja. Disana ada masalah-masalah serius yang mestinya menjadi perhatian kita semua.

Namun bagi manajemen ESQ, hal demikian janganlah membuat mereka patah arang untuk mengembangkan usaha di bidang training SDM. Teruskan saja hal-hal yang positif, misalnya memperkuat konsentrasi di bidang character building, memperbaiki mentalitas (EQ), menerapkan prinsip etik dalam bisnis, dan sebagainya. Hal-hal yang positif dan tidak berbenturan dengan prinsip-prinsip Islam, silakan diteruskan.

Pesan terakhir, untuk eksis dalam kehidupan kontemporer sungguh tidak mudah. Tetapi tidak berarti kita harus berpikir PLURALIS agar diterima dalam lingkungan INDUSTRI. Dari pengalaman selama ini, siapa yang sengaja memakai “baju pluralisme” dalam rangka mencari keridhaan pelaku-pelaku industri yang mayoritas sekuler dan terpengaruh Freemasonry itu; biasanya akan tersungkur. Lebih baik, kita berdiri di atas prinsip-prinsip Islam yang stabil dan jelas, meskipun resikonya harus maju secara perlahan.

Siapapun yang membeli Pluralisme, akan dibela oleh komunitas Freemasonry CS. Tetapi sebaliknya, akan ditinggalkan oleh Allah Ta’ala. Dan suatu saat, mereka akan juga ditinggalkan oleh kaum Freemason itu, sebab orang-orang itu ya punya kepentingan sendiri juga. Tidak mungkin terus-menerus akan membantu orang pluralis.

Layak direnungkan ayat berikut ini:

Surat Ali Imran ayat 28.

Janganlah orang-orang beriman mengambil orang-orang kafir sebagai pemimpin mereka, dengan meninggalkan orang-orang beriman lainnya. Dan siapa yang melakukan perbuatan itu, fa laisa minallahi syai’un (dia tidak akan mendapat apapun dari sisi Allah). Kecuali, jika mereka ketakutan atas tekanan kekerasan oleh mereka (orang kafir). Dan Allah memperingatkan kalian dengan atas diri-Nya. Dan kepada Allah dikembalikan segala sesuatu.” (Ali Imran: 28).

Siapapun yang sengaja mengambil orang kafir sebagai sekutu dengan meninggalkan orang-orang beriman, mereka akan terputus dari segala karunia, rahmat, pertolongan, dukungan, barakah, dan segala kebaikan dari sisi Allah. Maka usaha apapun yang rela menjadi pluralis, dengan meninggalkan prinsip-prinsip Islam, mereka akan terkena konsekuensi dari ayat ini. Apakah bisnis, partai politik, sekolah, media, perguruan tinggi, atau apapun, yang menjadi pluralis; mereka pada dasarnya hanya membuang pertolongan Allah semata.

AMW.

Iklan

Apakah ESQ Sesat?

Juli 20, 2010

Pelatihan ESQ yang dipelopori oleh Ary Ginanjar Agustian sedang menghadapi tekanan hebat. Pasalnya, seorang Mufti Persekutuan di Malaysia,  Datuk Hj. Wan Zahidi Bin Wan Teh, menyatakan program ESQ sesat dan haram diedarkan di Malaysia. Setidaknya tidak disebarkan di wilayah Kuala Lumpur, Putra Jaya, dan Labuan. Daerah ini adalah domain fatwa Mufti Persekutuan, Datuk Wan Zahidi.

Dalam situs mui.or.id seperti mengutip berita dari harian Surya, disebutkan artikel berikut: Ulama Malaysia : ESQ Ginanjar Sesat. Berikut alasan penyesatan yang ditempuh oleh Mufti Malaysia:

(1)   ESQ dinilai mendukung paham liberalisme karena menafsirkan Alquran dan As-Sunnah secara bebas. ESQ mengajarkan pada dasarnya ajaran seluruh agama adalah benar dan sama.

(2)   ESQ juga dinilai menganggap para Nabi mencapai kebenaran melalui pengalaman dan pencarian. Ini bertentangan dengan akidah Islam soal Nabi dan Rasul.

(3)   ESQ dituduh telah mencampuradukkan ajaran kerohanian bukan Islam dengan ajaran Islam. Mufti juga melihat ESQ menekankan konsep ’suara hati’ sebagai rujukan utama dalam menentukan baik buruk suatu perbuatan.

(4)   ESQ juga dianggap salah karena telah menjadikan logika sebagai rujukan, bukannya Alquran dan Hadis. Mukjizat juga tidak dipandang di ESQ karena bertentangan dengan keadaan zaman sekarang yang serba logik.

(5)   ESQ dinilai salah karena menggunakan Kod 19 rekaan dari Rasyad Khalifah untuk menafsirkan Alquran. Rasyad Khalifah mengaku sebagai rasul dan membawa agama baru yang dinamakan ’submission’. Teori ini bahkan dipandang lebih tinggi dibanding Alquran.

(6)   ESQ menyamakan bacaan Al-Fatihah sebanyak 17 kali oleh orang Islam dengan ajaran Bushido Jepang. ESQ dianggap telah menafsirkan makna kalimat syahadat dengan triple one. Menurut Mufti, itu adalah tafsiran bid`ah dan sesat.

Masalah menjadi menarik ketika manajemen ESQ mengklaim bahwa program pelatihan mereka sudah dinyatakan HALAL atau TIDAK SESAT oleh lembaga-lembaga Islam di Indonesia. Manajemen ESQ pernah menyantumkan link download hasil rekomendasi dari DDII. Mereka juga mencantumkan pernyataan dari KH. Amidhan Shabirah, salah seorang Ketua MUI Pusat.

Namun belakangan, DDII memberikan klarifikasi, bahwa DDII tidak pernah memberi rekomendasi resmi kepada ESQ. Kalaupun ada, ia bersifat pribadi, oleh salah seorang pengurus DDII, bukan oleh board DDII sendiri. Pernyataan DDII disampaikan di situs eramuslim.com. Lihat tulisan ini: Pernyataan Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia Pusat tentang Rekomendasi untuk ESQ.

Pelatihan ESQ Dipersoalkan di Malaysia.

Semula saya sudah merasa tenang dengan adanya fatwa DDII dan MUI tersebut. Ternyata kemudian ada koreksi. Wah, jadi bertanya-tanya lagi tentang status pelatihan ESQ tersebut. Ustadz Muhammad Al Khatthat dari FUI baru-baru ini memberi pernyataan, “Jika memang benar ada penyimpangan ajaran Islam di dalam pelatihan ataupun buku-buku ESQ, maka perlu di luruskan oleh para ulama. Wajar jika ada ulama yang mengkoreksi, dan justru salah besar jika ulama mendukung kesesatan.” Sedianya, Ary Ginanjar akan diundang dalam diskusi FKSK yang rutin digelar oleh FUI setiap bulannya. Disana akan diundang juga Datuk Wan Zahidi.

Jadi intinya, pelatihan ESQ belum “bisa lolos” dari penyelidikan para ahli dan pakar Islam. Diperlukan tinjauan yang lebih teliti lagi. Siapa tahu, selama ini kaum Muslimin di Indonesia terlalu terlena, sehingga tidak peka dengan unsur-unsur kesalahan seperti yang dikatakan oleh Datuk Wan Zahidi itu.

PANDANGAN PRIBADI

Terus terang, saya tidak mengerti banyak tentang ESQ ini. Saya belum pernah mengikuti pelatihan ESQ, kecuali pelatihan amatir yang pernah diadakan sebagian anggota ESQ. Itu pun terjadi sekitar tahun 2005-2006 lalu. Ada buku best seller Ary Ginanjar tentang ESQ. Tapi entahlah, ada rasa enggan untuk membacanya. Di mata saya, pokoknya tahu tentang ESQ secara global. Dari sisi perincian, sulit diandalkan.

Tetapi kalau membaca alasana-alasan yang disebutkan oleh Mufti Persekutuan Malaysia tersebut, ada rasa kaget luar biasa. Benarkah kesalahan ESQ sampai sedemikian parahnya? Jika benar seperti itu, berarti memang ESQ tidak halal untuk disebarkan dimanapun, tidak di Indonesia atau di Malaysia. Tetapi pihak yang mengangkat fatwa harus memberikan bukti-buktinya.

Sungguh, kalau pihak Datuk Wan Zahidi memiliki bukti-bukti kuat bahwa pelatihan ESQ mengandung unsur-unsur seperti yang beliau katakan, itu adalah bencana. Maksudnya, bencana bagi kaum Muslimin di Indonesia-Malaysia yang selama ini memakai program ESQ. Pelatihan seperti itu sama saja dianggap telah menyebarkan “ajaran JIL” secara halus melalui program-program pelatihan motivasi. Ya disebut bencana, sebab selama ini kita memandang pelatihan ESQ baik-baik saja. Dianggap tidak ada masalah.

Tetapi semua itu butuh bukti yang kuat, bukan klaim palsu, niat kedengkian, atau sengaja ingin menyebarkan fitnah di kalangan Ummat. Mufti Persekutuan Malaysia harus membuka bukti-buktinya, agar bisa dikaji dan dinilai oleh para ahli Islam. Jika tidak demikian, masalah ini akan menjadi fitnah, dan tentu sangat merugikan Ummat. Bagus sekali jika FUI berniat membuat diskusi khusus sepertar masalah ini.

Pihak manajemen ESQ harus legowo. Mereka tidak boleh membela diri dengan cara-cara yang tidak substansial. Misalnya, menyebut jumlah Mufti Malaysia yang pernah ikut program ESQ, menyebut Mufti Persekutuan belum pernah bertemu dengan pihak ESQ, mereka mengklaim memiliki Panel Syariah, atau mereka membawa legitimasi dari surat pribadi tokoh-tokoh tertentu. Jawaban board ESQ harus SUBSTANSIAL, ke inti alasan penyesatan itu sendiri.

Kalau secara substansi ESQ tidak memiliki materi/ajaran seperti yang dituduhkan, hendaklah mereka tenang saja. Insya Allah, kaum Muslimin akan membela ESQ, jika program ini sesuai Syariat Islam. Namun jika secara substansi program ESQ memang bermasalah, mereka harus segera merombak ajaran-ajaran itu. Tak ada pilihan lain. Konsep ESQ harus di-halal-kan dulu, sebelum disebar ke khalayak kaum Muslimin.

Kini kita tunggu klarifikasi dari Datuk Wan Zahidi bin Wan Teh, tentang bukti-bukti di balik fatwa mereka. Kata Nabi Saw, “Orang yang menuduh harus menunjukkan bukti-bukti, sedang yang menyangkal tuduhan harus membawa saksi (bahwa dirinya benar).”

Wallahu A’lam bisshawaab.

AMW.