Metode Golongan Selamat

November 25, 2010

artikel ini termasuk salah satu dedikasi terbaik blog “abisyakir” kepada Ummat Islam dan kehidupan, insya Allah

ARTIKEL 13 [terakhir]:

Alhamdulillahi Rabbil ‘alamiin. Was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah Muhammad wa ‘ala alihi wa ashabihil kiram ajma’in. Amma ba’du.

Ini adalah sebuah kajian yang sangat penting, urgen, dan fundamental. Tetapi insya Allah praktis dan mudah dipahami. Disini akan dijelaskan 5 PRINSIP jalan keselamatan Islam. Prinsip-prinsip tersebut diambil dari pemahaman atas ayat-ayat yang terdapat dalam Surat As Shaff ayat 10-13. Dalam ayat-ayat ini Allah Ta’ala menjelaskan cara-cara menjadi Muslim yang selamat. Bukan hanya selamat, tetapi kita juga dijanjikan KEMENANGAN di dunia.

Selama ini banyak ulama membahas tentang metode golongan selamat, Manhaj Firqatun Najiyyah, dengan sifat-sifat yang mereka sebutkan. Tetapi manhaj itu sendiri sebenarnya sudah ada dan dijelaskan dalam Al Qur’an. Hal ini benar-benar ada dan nyata, sehingga bisa menjadi pelajaran bagi semua kalangan. Siapapun bisa memahaminya, sebab ia bersumber dari Al Qur’an Al Karim. Tidak peduli siapapun, baik yang menyebut nama kelompok atau tidak, selama dirinya seorang Muslim, dapat mengambil pelajaran dari Surat As Shaff ayat 10-13 itu.

Jalan Menuju Keridhaan ALLAH Ta'ala

Dalam kajian ini, mula-mula kita akan memahami makna-makna dalam Surat As Shaff ayat 10-13. Lalu disebutkan 5 PRINSIP metode golongan selamat, beserta penjelasannya secara sekilas. Lalu diakhiri dengan penutup.

PEMBAHASAN AYAT

Ayat dalam Surat As Shaff ayat 10-13 adalah sebagai berikut:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا هَلْ أَدُلُّكُمْ عَلَى تِجَارَةٍ تُنْجِيكُمْ مِنْ عَذَابٍ أَلِيم

تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَتُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ

َيغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَيُدْخِلْكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الأنْهَارُ وَمَسَاكِنَ طَيِّبَةً فِي جَنَّاتِ عَدْنٍ ذَلِك الْفَوْزُ الْعَظِيم

َ وَأُخْرَى تُحِبُّونَهَا نَصْرٌ مِنَ اللَّهِ وَفَتْحٌ قَرِيبٌ وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِينَ

“Ya aiyuhal ladzina amanu” (wahai, orang-orang beriman). Yang dipanggil disini adalah orang-orang beriman, bukan hanya seorang Muslim. Pada awalnya ayat ini ditujukan kepada Nabi Saw dan para Shahabat Ra, merekalah yang semula disebut sebagai orang-orang beriman itu. Tetapi ayat ini juga berlaku bagi seluruh kaum Muslimin, sampai akhir jaman.

Orang Mukmin memiliki kelebihan dibandingkan orang Muslim biasa. Orang Mukmin ialah orang yang komitmen dengan amal-amal shalih secara mandiri. Untuk beribadah dan beramal kebaikan, mereka tidak perlu disuruh-suruh, tidak perlu dipaksa-paksa, atau diberi ancaman, atau diberi imbalan komersial. Mereka beramal shalih secara mandiri, secara ikhlas, tidak peduli ada manusia yang mau menghargai amalnya atau tidak. Inilah orang-orang beriman. Mereka taat dan patuh kepada Allah secara aktif, tanpa perlu didorong-dorong oleh orang lain.

Dalam Al Qur’an disebutkan hakikat keimanan. “Bahwasanya orang-orang beriman itu adalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu, lalu mereka berjihad dengan harta dan diri mereka di jalan Allah. Mereka itulah orang-orang benar (perkataannya).” (Al Hujurat: 15).

Iman jika sudah masuk ke dalam hati, terasa manisnya, ia akan menggerakkan diri manusia untuk melaksanakan amal-amal shalih, dan meninggalkan larangan-larangan Allah dan Rasul-Nya, secara mandiri. Tanpa harus dipaksa-paksa, didorong-dorong, diancam, atau diiming-iming dengan keuntungan materi tertentu.

Bahkan orang beriman itu rela mengorbankan kepentingan-kepentingannya demi meraih keridhaan Allah Ta’ala. Mereka tidak merasa rugi dengan pengorbanan itu, sebab Allah menjanjikan pahala di Akhirat dan keberkahan hidup di dunia.

“Hal adullukum ‘ala tijaratin” (sukakah Aku tunjukkan kepada kalian suatu perniagaan). Kalimat ini sangat menarik, ia bisa bermakna, “Maukah kalian Aku tunjukkan dalil-dalil tentang suatu kontrak?” Tijarah disini bukan jual-beli pada umumnya, tetapi jual-beli dalam lapangan iman dan amal shalih. Disini Allah Ta’ala menunjukkan kepada kita suatu METODE tertentu dengan dalil-dalil yang jelas. Itulah metode atau manhaj yang sangat dibutuhkan setiap Muslim. Begitu istimewanya manhaj itu, sampai disebut dengan kata perniagaan, perdagangan, jual beli, transaksi, atau kontrak. Artinya, jika kita menjual (menjalani metode itu), maka Allah Ta’ala akan membeli jualan kita (dengan memberi anugerah-anugerah besar secara pasti dan meyakinkan).

Tunjikum min ‘adzabin alim” (-suatu transaksi- yang akan menyelamatkan kalian dari adzab yang pedih). Inilah dalilnya, mengapa ayat-ayat disebut sebagai metode golongan selamat. Disini sangat jelas, bahwa transaksi atau kontrak yang Allah tunjukkan itu akan menyelamatkan kita dari adzab yang pedih. Adzab ada dua jenis, di dunia dan di Akhirat. Jika kita menjalani metode (transaksi) tersebut, maka sudah pasti kita akan mendapat keselamatan hidup, di dunia dan Akhirat.

Tu’minuna billahi” (hendaklah kalian beriman kalian kepada Allah). Setelah Allah menunjukkan betapa pentingnya metode keselamatan ini, lalu Dia memberitahu isi dari metode yang dimaksud. Disini disebutkan, “Beriman kepada Allah.” Yang dimaksud beriman, bukanlah sekedar perkataan, “Saya percaya kepada Allah.” Tidak sekedar itu, sebab iman oleh Salafus Shalih didefinisikan sebagai: pembnaran dalam hati, ucapan dengan lisan, dan pengamalan dengan perbuatan. Hakikat “beriman” dalam ayat ini: “Beribadah kepada Allah dengan keyakinan tauhid, dan tidak mensyirikkan Allah dengan sesuatu apapun.” Singkat kata, beriman kepada Allah adalah BERIBADAH dan BERTAUHID kepada-Nya. Beribadah saja tanpa tauhid, amal-amal kita akan tertolak; bertauhid saja tanpa ibadah, akan membuat kita menjadi kaum fasiq. Na’udzubillah minhuma.

Wa rasulihi” (-dan beriman juga- kepada Rasul-Nya). Beriman kepada Rasulullah Saw. Beliau adalah seorang Nabi, Rasul, Imam, Amir, Qudwah (Uswah), pemimpin mujahidin, masdar Syar’i (sumber syariat), dan lainnya. Mengimani Rasulullah ialah dengan meyakini kebenaran Syariat-nya, membenarkan sabda-sabdanya (meyakini Al Hadits), mengamalkan Sunnah-sunnahnya sekuat kemampuan, mempelajari jalan perjuangannya (Sirah Nabawiyyah), membela kehormatan beliau, keluarga, dan Shahabatnya, membacakan shalawat untuknya, serta mencintainya.

Wa tujaahiduna fi sabilillahi” (dan kalian berjihad di jalan Allah). Setelah bertauhid kepada Allah, mengikuti Sunnah Nabi, lalu berjihad di jalan Allah. Ini adalah amal-amal yang penuh berkah, satu sama lain terangkai dalam satu susunan yang mengagumkan. Makna asli berjihad ialah berperang menghadapi musuh-musuh Islam, demi membela agama Allah. Contoh mudah amalan jihad: perang Badar, perang Uhud, perang Ahzab. Sebagian ahli tafsir menjelaskan, setiap kata ‘jihad’ dilekatkan dengan kata ‘fi sabilillah’, itu artinya berperang. Hal-hal demikian mudah dipahami di suatu negeri yang menegakkan sistem Islami. Tetapi di negeri di bawah sistem sekuler (non Islam), makna jihad tidak semata-mata berperang. Mendakwahkan Islam, membina Ummat, amar makruf nahi munkar, menentang Kristenisasi, menentang pemikiran sesat, melawan penjajah, membuat media Islam, berjuang di lapangan politik Islami, dll. yang bisa dikatagorikan sebagai amalan menolong agama Allah; semua itu adalah jihad. Namun tetap saja, setinggi-tinggi jihad ialah berperang di jalan Allah. Nabi Saw mengatakan, “Man qatala li takuna kalimatullah hiyal ‘ulya, wa huwa fi sabilillah” (siapa yang berperang dalam rangka meninggikan Kalimat Allah, maka dia berada di jalan Allah).

Bi amwalikum wa anfusikum” (-berjihad- dengan harta dan diri kalian). Perjuangan di jalan Allah dimodali dengan segala kekuatan atau daya yang mampu diberikan. Modal itu berupa harta, tenaga, pikiran, ilmu, keahlian, hingga puncaknya dengan pengorbanan jiwa (nyawa). Demikianlah sifat dalam perjuangan Islam. Tidak bisa perjuangan hanya bermodal teori saja; bermodal keringat saja; bermodal propaganda saja; bermodal diplomasi saja; tetapi seluruh kekuatan yang mampu dikerahkan, harus dikerahkan demi kemenangan agama Allah.

Dzalikum khairul lakum in kuntum ta’lamuun” (yang demikian itu lebih baik bagi kalian, kalau kalian mengetahui). Bertauhid kepada Allah, mengikuti Sunnah Nabi, dan berjihad di jalan Allah, semua itu adalah METODE TERBAIK yang harus dijalani oleh setiap Muslim. Andaikan kita tahu ilmunya, tentulah kita tak akan melepaskan diri dari metode yang penuh berkah ini. Di dalamnya banyak kebaikan-kebaikan yang akan kita peroleh.

Baca entri selengkapnya »

Iklan