Pandangan Prof. Dr. Yunahar Ilyas tentang Ahlus Sunnah di Nusantara

Januari 3, 2013
Membangun Ummat dengan Ilmu

Membangun Ummat dengan Ilmu

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Dalam even Yogya Islamic Book Fair, pada tanggal 29 Desember 2012, diadakan bedah buku “Mendamaikan Ahlus Sunnah di Nusantara”. Bertempat di panggung pameran, GOR Universitas Negeri Yogyakarta. Bertindak sebagai pembicara pembanding, Prof. Yunahar Ilyas, dari PP Muhammadiyah. Dalam paparannya –semoga Allah selalu menjaga beliau dalam kebaikan- Prof. Yunahar banyak mengemukakan informasi atau pandangan menarik seputar Ahlus Sunnah di Nusantara.

Disini coba saya sampaikan sebagian dari isi paparan beliau, sebatas informasi yang mampu diingat, karena selama acara berlangsung kami tidak merekamnya. Semoga paparan ini bermanfaat menambah pengetahuan dan wawasan kita, serta mendekatkan antara elemen-elemen Ahlus Sunnah di Nusantara yang selama ini terlibat perselisihan.

[1]. Prof. Yunahar menolak pandangan sebagian orang, bahwa masalah politik itu tidak penting. Menurut beliau, munculnya sekte-sekte menyimpang dalam Islam, seperti Syiah, Khawarij, Mu’tazilah, dan lain-lain, hal itu tidak lepas dari latar-belakang persoalan politik (kekuasaan) di zamannya. Disini beliau jelaskan latar-belakang historis munculnya sekte-sekte sesat tertentu.

[2]. Menurut beliau, perselisihan antara kalangan Asy’ariyah (tradisionalis) dan Wahabiyah (modernis) sudah lama mereda. Namun akhir-akhir ini muncul kembali, sehingga perlu ada upaya mendamaikan antar sesama Ahlus Sunnah.

[3]. Beliau membenarkan kesimpulan penulis (baca: saya), bahwa Muhammadiyah itu tidak murni Wahabi, sebab juga mendapat pengaruh dari pemikiran Muhammad Abduh dan Syaikh Rasyid Ridha; tetapi Muhammadiyah juga tidak lepas dari pengaruh dakwah tauhid yang diserukan oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab. Menurut beliau, pengaruh Kitabut Tauhid sangat meluas di seluruh dunia Islam.

[4]. Menurut beliau, para pendukung dakwah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab tidak menyebut dirinya sebagai Wahabi atau Salafi; tetapi menyebut diri sebagai Al Muwahhidun (orang-orang bertauhid). Dakwah tauhid ini berpengaruh ke Sumatera Barat, dibawa oleh tiga orang Haji yaitu: Haji Sumanik, Haji Miskin, Haji Piobang. Bahkan ketiganya sempat menjadi tentara di Najd, membela gerakan tauhid disana.

[5]. Dalam risalah-risalah resmi Muhammadiyah, tidak ada istilah Ahlus Sunnah Wal Jamaah. Istilah yang digunakan ialah Firqatun Najiyyah. Muhammadiyah dalam konteks di Indonesia tidak mengklaim diri secara verbal sebagai Ahlus Sunnah Wal Jamaah; tetapi jika dikaitkan dengan ajaran Syiah, Muhammadiyah jelas memposisikan diri sebagai Ahlus Sunnah Wal Jamaah.

[6]. Mengingati banyaknya perselisihan-perselisihan pendapat, seringkali Muhammadiyah menempuh metode netral, yaitu: merujuk kepada Al Qur’an dan As Sunnah. Tafsirnya, sesuai Al Qur’an dan Sunnah; fiqihnya sesuai Al Qur’an dan Sunnah; akidahnya sesuai Al Qur’an dan Sunnah; akhlaknya sesuai Al Qur’an dan Sunnah; dan sebagainya. Konsep ini serupa dengan pemikiran yang dikembangkan oleh Syaikh Muhammad Rasyid Ridha.

[7]. Beliau membenarkan, bahwa salah satu pangkal perselisihan di kalangan Ahlus Sunnah di Indonesia ialah berebut klaim Ahlus Sunnah. Disini ada fenomena identifikasi, bahwa istilah tertentu identik dengan pihak tertentu. Di Jawa, yang dikenal sebagai Ahlus Sunnah adalah ormas NU; di Sumatera Barat yang dikenal sebagai Ahlus Sunnah adalah Persatuan Tarbiyah Islamiyyah (Perti); di Sumatera Utara yang dikenal sebagai Ahlus Sunnah adalah Al Washliyah.

[8]. Menurut beliau, di kalangan Muhammadiyah tidak ada larangan berceramah dengan menyebut istilah “Sayyidina Muhammad”. Tetapi kalau dalam shalat, Muhammadiyah tidak membaca kata “Sayyidina”; karena berpendapat doa dalam shalat tidak boleh ditambah-tambahi. Dalam ceramah, Muhammadiyah juga tidak keberatan dengan perkataan “Sayyidina Muhammad”, tetapi hal itu di mata masyarakat identik dengan ceramah muballigh NU.

[9]. Istilah Ahlus Sunnah identik dengan ormas NU. Disana dikenal istilah Aswaja atau Ahlus Sunnah Wal Jamaah. Dalam diskusi di kalangan MUI, ada kesepakatan di antara ormas-ormas Islam, untuk menerima istilah: Ahlus Sunnah Wal Jamaah dalam Pengertian Luas. Istilah ini diusulkan oleh Prof. Dr. Yunahar Ilyas. Dengan istilah demikian, maka ormas-ormas Islam di Indonesia secara mayoritas masuk dalam cakupan Ahlus Sunnah Wal Jamaah. Ketika NU memiliki kekhususan dalam pemaknaannya atas istilah Aswaja, hal itu sudah terwadahi  disana.

[10]. Beliau mengingat pesan Pak Natsir rahimahullah, sekitar tahun 80-an. Pak Natsir pernah mengingatkan, bahwa gerakan Syiah itu bisa menjadi bom waktu. Beliau tidak yakin Sunni dan Syiah bisa disatukan. Beliau mengingatkan tentang gerakan politik Syiah. Karena seperti di Suriah, kaum Syiah Alawit (Nusairiyah) meskipun jumlahnya kecil tetapi menguasai politik dan militer, sehingga bisa mendominasi kaum Sunni.

[11]. Beliau mengaku pernah diberi kiriman sebuah buku tertentu yang menjelaskan seputar manhaj Salaf. Namun ketika baru membacanya sejenak, lalu beliau melihat dalam buku itu banyak menyesat-nyesatkan orang lain, beliau segera menutup buku itu, lalu meletakkannya di rak. Menurut beliau, daripada emosi dengan isi sebuah buku, lebih baik tidak perlu dibaca.

Apa yang disebutkan di atas adalah butir-butir pandangan yang disampaikan oleh Prof. Yunahar Ilyas tentang Ahlus Sunnah di Nusantara. Mungkin disini ada bagian-bagian tertentu yang terlewat. Jika membutuhkan kejelasan, silakan dikonfirmasi ulang ke narasumber.

Dalam sessi pembicaraan pribadi dengan penulis (saya), Prof. Yunahar sempat bertanya tentang buku, Bersikap Adil Kepada Wahabi. Beliau bertanya, apakah sosok Syaikh Idahram, penulis buku Sejarah Berdarah Sekte Salafi Wahabi ada? Katanya, nama asli si penulis buku itu adalah kebalikan dari “Idahram” (alias Marhadi). Saya menanggapi beliau dengan senyum; sebab bingung bagaimana mesti menanggapinya. Saya meyakinkan beliau, bahwa si penulis itu memang ada orangnya.

Demikian di antara pandangan-pandangan Prof. Dr. Yunahar Ilyas tentang perkembangan Ahlus Sunnah di Indonesia. Semoga pandangan seperti ini bermanfaat bagi perbaikan kehidupan masyarakat Ahlus Sunnah Wal Jamaah di Nusantara. Amin ya Rabbal ‘alamiin.

Jakarta, 3 Januari 2013.

(Abu Muhammad Waskito).

Iklan

Buku Baru: “Mendamaikan Ahlus Sunnah di Nusantara”

Desember 20, 2012

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Kita Adalah Ahlus Sunnah. Sudah Sepatutnya Saling Berdamai dan Menyayangi.

Kita Adalah Ahlus Sunnah. Sudah Sepatutnya Saling Berdamai dan Menyayangi.

Istilah Ahlus Sunnah Wal Jamaah digali dari hadits “73 golongan” atau “Iftiraqul Ummah”. Saat membahas hadits ini banyak orang cenderung mengklaim diri sebagai golongan selamat, dan memvonis pihak-pihak lain sebagai golongan sesat (fin naar). Padahal dalam riwayat-riwayat itu Rasulullah Shallallah ‘Alaihi Wasallam hanya menyebutkan METODE menjadi golongan selamat, yaitu: Mengikuti Sunnah dan komitmen dengan Al Jamaah (kesatuan umat Islam). Siapapun yang sesuai metode ini, dia adalah Ahlus Sunnah. 

Abdul Qahir Al Baghdadi membedakan Ahlus Sunnah sebagai Ahlur Ra’yi danAhlul Hadits. As Safariniy Al Hanbali menyebutkan, Ahlus Sunnah adalah pengikut Asy’ariyah, Maturidiyah, dan Ahlul Hadits. Ibnu Taimiyah menjelaskan makna umum Ahlus Sunnah, sebagai setiap orang yang mengikatkan diri dengan Islam sedangkan dia bukan Syiah Rafidhah. Dalam riwayat-riwayat yang diteliti Syaikh Salman Al Audah, dalam bukunya Shifatu Ghuraba, golongan yang selamat adalah As Sawadul A’zham (jumlah mayoritas kaum Muslimin).

Judul buku                  :  Mendamaikan Ahlus Sunnah di Nusantara.

Penulis                       :  Abu Muhammad Waskito.

Penerbit                      :  Pustaka Al Kautsar, Jakarta.

Cetakan                      :  Cet. I, Oktober 2012.

Halaman                     :  xvi + 432 hlm.

Harga pasar                :  Rp. 69.000,-.

Kelompok Ahlus Sunnah di Indonesia meliputi kalangan Asy’ariyah, Wahabiyah, dan lainnya yang merujuk kepada Al Qur`an dan As Sunnah; meyakini Rukun Islam dan Rukun Iman (sesuai versi Ahlus Sunnah); meyakini Al Qur`an sebagai Kalamullah; memuliakan isteri-isteri Nabi dan para Shahabat; meyakini Sifat-sifat Allah; mereka bukan bagian dari sekte sesat, terutama Syiah Rafidhah dan aliran-aliran yang menyempal dari Syariat Islam.

Kalangan Wahabiyah bukan musuh Islam; mereka adalah Muslim, Ahlus Sunnah, saudara kita. Jika ada di antara mereka yang bersikap negatif, tidak berarti menggugurkan hak-haknya sebagai Muslim.

Begitu juga, kalangan Asy’ariyah dan Maturidiyah, adalah saudara kita, sesama Muslim, sesama Ahlus Sunnah. Mereka mengimani Al Qur`an, mengikuti Sunnah Nabi, rujuk kepada Syariat Islam. Ada beberapa perbedaan pemikiran di antara Wahabiyah dan Asy’ariyah, tetapi sisi-sisi kesamaan keduanya lebih banyak (dalam buku ini dibahas 16 poin kesamaan). Sisi-sisi kesamaan ini mestinya bisa menjadi titik-tolak untuk mewujudkan saling pengertian, pemahaman, dan kerjasama.

Buku ini mengkaji pentingnya persatuan umat; akar pertikaian antar Ahlus Sunnah di Nusantara; konsep Firqatun Najiyah menurut Al Qur`an; menawarkan 10 langkah praktis untuk menyatukan Ahlus Sunnah; mengkaji misi liberalisme, propaganda komunisme di majalah Tempo, dan membedah fakta-fakta seputar gerakan Syiah; Fatwa MUI Jawa Timur tentang Syiah, dan lain-lain.

Semoga hadirnya buku ini bisa menjadi kontribusi untuk memperbaiki hubungan antar elemen-elemen Ahlus Sunnah di Nusantara; dan bisa mencegah destruksi kehidupan beragama yang lebih parah. Allahumma amin.

Admin.