Antara FPI dan Pancasila

Februari 16, 2011

Saat ini FPI mendapat serangan dari berbagai arah. Media-media liberal seperti MetroTV tidak henti-hentinya menyerang FPI. Termasuk tentunya para aktivis liberal, aktivis demokrasi, politisi, pejabat negara, dan lain-lain. Mereka saat ini sepakat untuk menghajar FPI. Kalau bisa, dalam waktu dekat FPI dibubarkan. Itu targetnya!

MetroTV sebagai jongos pelayan kepentingan bisnis China, tentu sangat membenci FPI. FPI adalah penghalang terbesar proses SEKULARISASI dan LIBERALISASI, seperti yang diperjuangankan MetroTV dan Surya Paloh. Mereka dalam persekutuannya dengan pemodal-pemodal China, pasti akan menghajar terus FPI. Apapun istilah akan mereka angkat, demi tujuan yang diinginkan pemodal-pemodal China, FPI dibubarkan. FPI jelas akan menjadi penghalang terbesar proses ANEKSASI bangsa Indonesia oleh jaringan bisnis China, yang saat ini sedang bersekutu mesra dengan MetroTV dan Surya Paloh. Surya Paloh sendiri punya obsesi besar untuk: “Merestorasi Indonesia dengan menggandeng kekuatan modal dan filosofi China.” Maka tidak heran, saat ini MetroTV benar-benar seperti “kantor kebudayaan China” yang sangat agressif dalam mempromokan keindahan budaya MUSYRIK China.

Ya Ummat Islam perlu berdoa, agar orang-orang MetroTV ini diberi hidayah, sehingga tidak menjadi jongos kaum penjajah. Di sisi lain, mereka jangan mempromokan budaya etnis China secara massif, sehingga kelak ia akan mengancurkan budaya nasional sendiri. Kalau mereka tidak mau berubah dan bersikap fair, kita doakan saja, agar MetroTV dihancurkan oleh Allah Ta’ala, dibuat porak-poranda lahir-batinnya, ditimpakan kehinaan dan kekacauan sistemik di dalam dirinya. (Amin Allahumma amin).

Disini banyak pertanyaan yang harus dijawab dan diuraikan…

Kerusuhan Ambon: Sejak Lama Kita "Diasuh" oleh Tragedi dan Kekerasan. Tiada Aparat yang Sudi Membela. Kita Membela Diri Sekuat Tenaga. Salah-satunya, FPI.

Mengapa aktivis FPI kerap terlibat kerusuhan atas nama agama? Mengapa FPI sering melakukan sweeping tempat-tempat maksiyat? Mengapa Burhanuddin Muhtadi menyebut FPI sebagai “polisi swasta”? Mengapa FPI kerap dituduh sebagai ormas Islam radikal dan anarkhis?

Masalah-masalah ini kalau Anda tanyakan ke MetroTV dan jongos China lainnya, juga ke orang-orang liberal, dan kawan-kawan, pasti tidak akan ketemu jawabannya. Sebab darah mereka memang mendidih ingin agar FPI segera dibubarkan. FPI adalah target utama penjajah untuk disingkirkan. Para komprador penjajah pasti membenci FPI.

Pada dasarnya, cara-cara kekerasan untuk menyelesaikan masalah TIDAK BAIK dilakukan. Oleh siapapun. Kalau suatu problem bisa diatasi dengan cara dialog atau berembug, itu lebih baik.

Tetapi sepanjang sejarahnya, Ummat Islam di Indonesia tak henti-hentinya dianiaya, diserang, dibantai, dimusnahkan kampung dan rumahnya, dan lain-lain. Itu terjadi dalam masa yang panjang. Mulai Tragedi Priok, Tragedi DOM di Aceh, Tragedi Banyuwangi, Situbondo, Tasikmalaya, Tragedi di Ambon, Maluku Utara, NTT, Timor-Timur, Sambas, Sampit, dan lainnya. Terlalu banyak tragedi kekerasan yang menimpa Ummat Islam sejak masa lalu. Di jaman Reformasi juga banyak muncul tragedi, terutama TRAGEDI TERORISME. Densus88 tidak henti-hentinya mengejar pemuda Islam, mengepung mereka, menyerang, membunuhi di jalan-jalan, memfitnah, menyiksa, dan seterusnya.

Ummat Islam sejak merdeka sampai saat ini dibesarkan dalam ASUHAN tragedi demi tragedi. Disinilah terlihat betapa jahat dan keji opini yang disebarkan oleh MetroTV, wartawan-wartawan atheis dan amoral, aktivis liberal terlaknat, aktivis HAM, demokrasi, politisi, tokoh agama, dll. dimana mereka SANGAT TIDAK ADIL dalam menilai dan memvonis. Termasuk di dalamnya, A. Syafi’i Ma’arif, tokoh sepuh yang sok bijak, tetapi sering berlaku sewenang-wenang. Katanya dia melek sejarah. Tetapi tidak pernah menakar harga darah dan air-mata Ummat Islam yang pernah tertumpah dalam tragedi demi tragedi itu. Itukah yang disebut Buya? Masya Allah.

Gerakan Islam seperti FPI, dan tidak semua gerakan Islam seperti ini. Mereka lahir di atas latar-belakang sejarah yang dipenuhi rasa sakit hati, dendam kepada orang kafir, rasa ketidak-percayaan kepada aparat, dan permusuhan total kepada aliran-aliran sesat. Karena mereka itulah yang dianggap sebagai SUMBER TRAGEDI kehidupan Ummat Islam di Indonesia.

Andaikan, di negeri ini, para aparat baik Polisi atau TNI, mereka benar-benar bertindak adil, jujur, tidak menjadi alat kekuasaan; tentu tidak perlu terjadi aneka rupa tragedi mengerikan yang menimpa Ummat Islam. Pada gilirannya, FPI tidak perlu mengibarkan “bendera perlawanan”.

Apa yang kini FPI lakukan, ialah pembelaan maksimal yang mampu mereka lakukan, untuk menjaga Ummat, membela Ummat, dan memelihara kehidupan Ummat Islam di negeri ini. Tidak bolehkah FPI membela Ummat ketika Ummat ini tidak lagi dibela oleh para aparat? Kalau cacing saja bisa membela diri, bagaimana dengan manusia? Bagaimana dengan FPI?

Surya Paloh, MetroTV, dan manusia-manusia atheis musuh Allah lainnya, mereka tak henti-hentinya mengecam FPI sebagai: ormas anarkhis, kelompok Islam radikal, ekstrim agama, dll. Tapi mereka tidak pernah mengaca diri, bahwa diri mereka adalah: Sekuler radikal, Liberal ekstrim, kapitalis egois, dan seterusnya. Hanya FPI yang boleh menyandang istilah radikal dan ekstrim. Sementara mereka lupa bila dirinya sendiri sekuler radikal, liberal ekstrim, kaki-tangan kapitalis.

Banyak orang kini berlinang air-mata menangisi korban dari jamaah Ahmadiyyah. Seakan, di dunia ini tidak pernah terjadi tragedi lebih mengerikan, selain peristiwa di Monas, peristiwa Cikeusik, Pemalang, dll. Padahal mereka belum tahu, bagaimana keadaan pemuda-pemuda Islam ketika dibantai di Tanjung Priok tahun 1984, bagaimana kejamnya DOM di Aceh, bagaimana sadisnya pembantaian di Poso oleh kaum Protestan, bagaimana sadisnya peristiwa di Lampung Selatan. Termasuk bagaimana perih dukanya pemuda-pemuda yang ditembaki aparat karena dituduh sebagai TERORIS. Darah warga Ahmadiyyah begitu harum di hidung mereka. Tetapi darah ratusan, ribuan Ummat Islam, terasa busuk di hidung mereka.

Pertanyaanya, katanya Indonesia ini bangsa berdasar PANCASILA. Dalam Pancasila itu ada sila: “Ketuhanan Yang Maha Esa.”

Jika benar bangsa Indonesia berdasar Pancasila: “Mengapa mereka membiarkan terjadi kerusuhan Ambon, Maluku, Poso, Sampit, Sambas, dll. yang korban Ummat Islam di dalamnya hingga ribuan orang? Mungkin bisa mencapai puluhan ribu. Mengapa negara ini lebih mencintai sekularisme dan hedonisme, dan anti nilai-nilai Islam? Mengapa negara ini memakai APBN untuk merusak, memfitnah, memecah-belah, mengadu-domda Ummat Islam? Mengapa negara ini toleran kepada aliran-aliran sesat? Mengapa negara lebih mencintai para kapitalis China dan kapitalis asing lainnya, daripada putra bangsa sendiri seperti FPI? Mengapa negara lebih banyak menelan fatwa-fatwa kaum kafir liberal, daripada fatwa ulama yang lurus?” Dan lain-lain pertanyaan.

Jadi, benarkah bangsa ini berdasarkan Pancasila? Kalau benar, pasti negara sudah lama membubarkan Ahmadiyyah, karena mengganggu keyakinan mayoritas Ummat Islam Indonesia. Dan negara akan bersikap tanggap dan sigap atas segala masalah Ummat, tidak menanti FPI turun tangan. Itu kalau benar negara ini berdasarkan: “Ketuhanan Yang Maha Esa.”

Selama bangsa ini tidak pernah mau melaksanakan sila “Ketuhanan Yang Maha Esa” secara murni dan konsekuen; yakinlah kerusuhan agama akan terus terjadi di negeri ini; yakinlah FPI akan terus eksis di bumi Nusantara ini; sebab mereka akan terus berusaha membela Islam, ketika negara tidak mau membela Islam.

Semoga Allah menolong hamba-hamba-Nya yang ikhlas berjuang dan membela agama-Nya. Allahumma amin.

AMW.

Iklan