Redaktur Republika dan Ayat Bencana

November 13, 2010

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Seseorang yang mengaku sebagai redaktur koran Republika, bernama Rahmad Budi Harto, asli Yogya. Beliau ini menolak keras ketika disampaikan bahwa bencana alam yang terjadi (seperti letusan Gunung Merapi) adalah karena dosa-dosa manusia. Dosa itu sendiri bisa berupa kemusyrikan, kezhaliman, penindasan, maksiyat, prostitusi, ribawi, dan lain-lain. Dengan kata-kata cacian dia menyerang pandangan itu.

Bagi orang yang mengerti ajaran elementer Islam, keyakinan seperti itu seharusnya tidak perlu ditanyakan lagi. Sebab dalam kisah Nabi dan Rasul ‘alaihimussalam telah dijelaskan hal-hal tersebut. Bahkan para Nabi sering mengingatkan kaumnya akan ancaman siksa pedih, bila mereka terus durhaka. Siksa itu bukan hanya di Akhirat, tetapi juga di dunia.

Berbagai peninggalan arkheologis tentang kaum-kaum di masa lalu yang telah dihancurkan, cukuplah menjadi bukti yang nyata. Sebuah tim dokumenter dari Malaysia pernah membuat kisah berseri, Jejak Rasul. Dalam dokumentasi itu banyak diperlihatkan bukti-bukti peninggalan masa lalu. Harun Yahya juga membuat dokumentasi khusus tentang sisa-sisa peninggalan kaum-kaum terdahulu. Bahkan kalau mau jujur, Pyramid dan Sphinx di Mesir adalah sisa-sisa kejayaan imperium Pharaoh (Fir’aun) yang telah dikubur oleh sejarah.

Alam itu pada awalnya: harmoni, ramah, dan bersahabat. (sumber foto: AP Photo/Trisnadi).

Ketika Fir’aun membangkang dari ajaran Musa As, bangsa Mesir tertimpa kekeringan, negerinya dipenuhi kutu, katak, belalang. Bahkan air-airnya pernah diubah menjadi darah. Dalam dimensi yang lebih kecil, bencana alam terjadi di berbagai tempat. Bisa jadi kualitas bencana itu tidak sedahsyat yang menimpa negeri Fir’aun di Mesir, negeri Saba’, kaum Sodom, bangsa Pompeii, Atlantis, bangsa Iram, dll. Tetapi hakikatnya sama, yaitu akibat perbuatan dosa.

Perlu diketahui, posisi seorang redaktur di sebuah media cetak, ia bukan posisi sembarangan. Redaktur lebih tinggi dari reporter, wartawan biasa, bahkan anggota redaksi biasa. Redaktur itu ibarat “penjaga gawang” bagi dimuat-tidaknya suatu berita, sesuai bidang keredaksian orang tersebut. Jadi, sangat menyedihkan kalau ada seorang redaktur media sekelas Republika tidak memahami keyakinan elementer yang biasa diajarkan ke anak-anak SD dalam kisah Nabi-nabi itu. Mungkin Republika sudah terlalu suntuk dengan masalah-masalah industri media, sehingga menghasilkan kualitas redaktur seperti itu. Entahlah.

Dalam menyikapi fenomena perbuatan syirik di Yogya dan tempat-tempat lain di Indonesia, kita tidak perlu sungkan-sungkan. Sampaikan saja kebenaran apa adanya! Tidak perlu ditutup-tutupi, harus dibuka secara transparan! Sebab, dengan pertimbangan “menjaga perasaan” terbukti di negeri ini terus-menerus dilamun bencana alam mengerikan. “Qulil haqqa walau kaana murran” (katakan kebenaran, meskipun pahit konsekuensinya). Dimana saja ditemukan kemungkaran yang nyata, harus ada yang berani mengingkari kemungkaran itu, tanpa basa-basi. [Sifat inilah yang telah “hilang” dari karakter para pejuang Islam di Indonesia, sehingga dari tahun ke tahun tidak banyak kemajuan dakwah yang tercapai. Peluang lompatan dakwah yang seharusnya terjadi, selalu kandas gara-gara “menjaga perasaan” manusia].

Berikut ini adalah terjemah ayat-ayat dalam Al Qur’an Al Karim yang secara tegas menjelaskan hubungan antara dosa manusia dengan siksa berupa bencana alam. Dan ayat-ayat semisal ini tidak sedikit dalam Al Qur’an, baik yang secara langsung atau tidak langsung menyebutkannya.

Selamat membaca dan semoga bermanfaat!

(1) Surat Al An’aam: 6.

Apakah mereka tidak memperhatikan berapa banyak generasi yang telah Kami binasakan sebelum mereka, padahal (generasi itu) telah Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi, yaitu keteguhan yang belum pernah Kami berikan kepadamu, dan Kami curahkan hujan yang lebat atas mereka dan Kami jadikan sungai-sungai mengalir di bawah mereka, kemudian Kami binasakan mereka karena dosa mereka sendiri, dan Kami ciptakan sesudah mereka generasi yang lain.”

(2) Surat Ali Imran: 11.

(keadaan mereka) adalah sebagai keadaan kaum Fir’aun dan orang-orang yang sebelumnya; mereka mendustakan ayat-ayat Kami; karena itu Allah menyiksa mereka disebabkan dosa-dosa mereka. Dan Allah sangat keras siksa-Nya.”

(3) Surat Al A’raaf: 100.

Dan apakah belum jelas bagi orang-orang yang mempusakai suatu negeri sesudah (lenyap) penduduknya, bahwa kalau Kami menghendaki tentu Kami azab mereka karena dosa-dosanya; dan Kami kunci mati hati mereka sehingga mereka tidak dapat mendengar (pelajaran lagi)?

(4) Surat Al Ankabuut: 40.

Maka masing-masing (mereka itu) Kami siksa disebabkan dosanya, maka di antara mereka ada yang Kami timpakan kepadanya hujan batu kerikil dan di antara mereka ada yang ditimpa suara keras yang mengguntur, dan di antara mereka ada yang Kami benamkan ke dalam bumi, dan di antara mereka ada yang Kami tenggelamkan, dan Allah sekali-kali tidak hendak menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri.

(5) Surat Al Ahqaaf: 24-25.

Maka tatkala mereka melihat azab itu berupa awan yang menuju ke lembah-lembah mereka, berkatalah mereka: “Inilah awan yang akan menurunkan hujan kepada kami.” (Bukan!) bahkan itulah azab yang kamu minta supaya datang dengan segera (yaitu) angin yang mengandung azab yang pedih, yang menghancurkan segala sesuatu dengan perintah Tuhannya, maka jadilah mereka tidak ada yang kelihatan lagi kecuali (bekas-bekas) tempat tinggal mereka. Demikianlah Kami memberi balasan kepada kaum yang berdosa.”

(6) Surat Fusshilat: 16.

Maka Kami meniupkan angin yang amat gemuruh kepada mereka dalam beberapa hari yang sial, karena Kami hendak merasakan kepada mereka itu siksaan yang menghinakan dalam kehidupan dunia. Dan Sesungguhnya siksa akhirat lebih menghinakan sedang mereka tidak diberi pertolongan.”

(7) Surat Yusuf: 110.

Sehingga apabila para Rasul tidak mempunyai harapan lagi (tentang keimanan mereka) dan telah meyakini bahwa mereka telah didustakan, datanglah kepada para Rasul itu pertolongan Kami, lalu diselamatkan orang-orang yang Kami kehendaki. Dan tidak dapat ditolak siksa Kami dari pada orang-orang yang berdosa.”

(8) Surat Al An’aam: 42.

Dan sesungguhnya Kami telah mengutus (rasul-rasul) kepada umat-umat yang sebelum kamu, kemudian Kami siksa mereka dengan (menimpakan) kesengsaraan dan kemelaratan, supaya mereka memohon (kepada Allah) dengan tunduk merendahkan diri.”

(9) Surat Al Mujaadilah: 5.

Sesungguhnya orang-orang yang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, pasti mendapat kehinaan sebagaimana orang-orang yang sebelum mereka telah mendapat kehinaan. Sesungguhnya Kami telah menurunkan bukti-bukti nyata. Dan bagi orang-orang kafir ada siksa yang menghinakan.”

(10) Surat Maryam: 84.

Maka janganlah kamu tergesa-gesa memintakan siksa terhadap mereka, karena sesungguhnya Kami hanya menghitung datangnya (hari siksaan) untuk mereka dengan perhitungan yang teliti.”

Andaikan setelah disampaikan semua ini, hati kita masih menolak keyakinan bahwa dosa-dosa manusia bisa mendatangkan siksa berupa bencana alam; bahwa keshalihan itu bisa mendatangkan kebaikan, dan kedurhakaan bisa mendatangkan sengsara; maka penolakan seperti itu bukan hal yang aneh. Sejak jaman dahulu, kaum-kaum durhaka juga bersikap sama. Ketika para Nabi dan Rasul memberi mereka peringatan akan ancaman siksa bila mereka tetap kufur, tetapi kaum-kaum itu malah meminta supaya ancaman itu segera didatangkan.

Perhatikan perkataan Nuh As kepada kaumnya, “Sesungguhnya aku ini adalah pemberi peringatan yang nyata. Janganlah kalian menyembah, selain hanya kepada Allah saja (jangan berbuat kemusyrikan). Sungguh aku takut kalian akan tertimpa adzab di hari yang sangat pedih.” (Huud: 25-26).

Tetapi kaum Nuh bukan percaya atas peringatan itu, malah mereka meminta supaya adzab itu segera didatangkan. Bahkan saat Nuh dan orang-orang beriman membangun bahtera, mereka terus-menerus mengejek. Hingga akhirnya mereka dibenamkan dalam banjir dahsyat, yang akibatnya mengangkat permukaan tanah di kawasan Mesopotamia, Jazirah Arab, dan sekitarnya.

Kedurhakaan terhadap risalah agama Allah terus terjadi, sampai saat ini. Hakikatnya sama, hanya bentuknya berbeda. Kalau dulu kaum durhaka menolak peringatan para Nabi dan Rasul dengan kesombongan dan ejekan. Maka kini mereka menolak semua itu dengan dalih “ilmu pengetahuan modern”. Di mata mereka, sains modern lebih tinggi dari Wahyu Allah Ta’ala. Mereka lebih percaya kepada para saintis daripada kepada Allah Ta’ala yang berkuasa memberikan setiap nafas bagi ara saintis itu. Manusia yang bodoh, pelupa, dan lemah diyakini; sedangkan Allah Ta’ala yang Maha Agung, Maha Sempurna, Maha Bijaksana, diingkari. Why and why?

Hendaklah mengambil pelajaran orang-orang yang masih mau mendapatkan pelajaran. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamiin.

AM. Waskito.

Iklan