Siapa Paling Sibuk & Siapa Paling Terkenal…

Desember 4, 2011

Sekedar tulisan rehat untuk melepas penat dan mengungkap senyum. Mengeluarkan energi dan gejolak berlebih, agar tercapai kembali kestabilan. He he he…terlalu puitis. Semoga bermanfaat ya!

Memori Serial Boneka Si Unyil.

Di dunia imajinasi, tampak Pak Oga sedang duduk-duduk di bawah pohon Papyrus dengan temannya, Ableh. Mereka tampak bosan bermain-main dengan BB, Android, Ipad, headset, video streaming, 3D image, game online, dan piranti mainan sejenis. Oga dan Ableh memutuskan untuk main tebak-tebakan, suatu genre refreshing yang sudah banyak dilupain orang Indonesia; akibat mereka sudah berubah “eksistensi” menjadi gadget mania.

Pak Oga: “Bleh, kamu tahu gak?”

Ableh: “Gak tahu, Pak Oga.”

Pak Oga: “Ya, gimana akan tahu, wong belum ditanya?”

Ableh: “He he he… Iya ya.”

Pak Oga: “Bleh, kamu tahu gak, orang paling sibuk di Indonesia? Paling sibuk, sibuk, sibuk. Dimana-mana aja, dia selalu kerja dan sibuk melulu. Tahu gak?”

Ableh: “Wah, siapa ya? Kagak tahu aku?”

Pak Oga: “Jawab dulu, Bleh. Jangan cepat menyerah!”

Ableh: “Pak presiden… Pak Menteri… Tukang nyapu jalanan… Kuli bangunan… Sopir angkot… Kuli bangunan… Sales barang… de el el.”

Pak Oga: “Bukan, bukan, bukan, Bleh. Semua itu bukan.”

Ableh: “Kalau begitu siapa dong, Pak Oga?”

Pak Oga: “Sudah nyerah, Bleh?”

Ableh: “Iya deh. Nyerah ajalah. Kayaknya sulit dijawab.”

Pak Oga: “Bleh, orang yang paling sibuk di Indonesia itu namanya SLAMET.”

Ableh: “Kok Slamet, Pak Oga? Emang gimana dia bisa dibilang orang paling sibuk?”

Pak Oga: “Coba aja, Bleh. Perhatikan tulisan-tulisan yang ada dimana-mana! Disana ada tulisan: ‘Selamat bekerja. Selamat belajar. Selamat bertanding. Selamat menikmati. Selamat datang. Selamat menikah. Selamat berjuang. Selamat mencoba. Selamat mendengarkan. Selamat membaca. Selamat olah-raga. Dan banyak lagi. Dimana-mana Slamet selalu terlihat bekerja, tidak pernah nganggur. Slamet itu sibuk banget, Bleh.”

Ableh: “Ha ha ha… Itu bukan Slamet, Pak Oga. Itu, selamat. Selamat beda sama Slamet. Beda dong!”

Pak Oga: “Lho, memang beda ya, Bleh? Mulai kapan ya beda?”

Ableh: “Ya, sudah dari sononya beda, Pak Oga.”

Sejenak suasana hening, baik Oga maupun Ableh agak sumringah, ada ide tebak-tebakan. Kini giliran Ableh ingin melontarkan pertanyaan tebak-tebakan.

Ableh: “Aku punya tebak-tebakan, Pak Oga.”

Pak Oga: “Apa itu? Gampang apa susah?”

Ableh: “Gampang kok, karena sudah sering terdengar.”

Pak Oga: “Gitu… Apa tuh tebakannya?”

Ableh: “Pak Oga, siapa orang paling terkenal dari Betawi? Itu aja.”

Pak Oga: “Waduh, siapa ya? Si Pitung… Benyamin… Rano Karno… Ali Sadikin… Sutiyoso… SBY… Fauzi Bowo… Atau siapa lagi ya?”

Ableh: “Bukan, no no, nehi-nehi, sanes, khatha’…” (Ableh menjawab dengan pilihan-pilihan aneka bahasa).

Pak Oga: “Wah, apa ya Bleh? Aku gak tahu. Lalu siapa yang paling terkenal itu, Bleh?”

Ableh: “Bang Senturi!”

Pak Oga: “Kok Bang Senturi, Bleh?”

Ableh: “Bener Pak Oga. Aku denger sendiri, orang-orang di TV, radio, di cafe, di stasiun, di angkot, dimana-mana. Mereka ribut bicara soal Bang Senturi. Dia tuh yang paling terkenal di Jakarta.”

Pak Oga: “Yang bener aja, Bleh! Itu bukan nama orang, itu nama sebuah bank.”

Ableh: “Maksudnya gimana?”

Pak Oga: “Iya. Itu nama bank, namanya Bank Century. Itu bank yang tersangkut korupsi. Katanya, pelakunya Sri Mulani dan Boediono. Gitu Bleh… Itu bukan nama orang.”

Ableh: “Dari kapan Pak Oga dia jadi nama bank?”

Pak Oga: “Halah, halah. Dari sononya memang nama bank, Bleh. Ampun deh, kamu!”

Akhirnya, mereka berdua saling pandang. Lalu…ha ha ha. Mereka melepas tawa bersama, merasa puas sudah berbagi gembira. Setelah puas tertawa, mereka terdiam hening.

“Bleh, kalau dipikir-pikir, kenapa ya kita sekarang kayak jadi budak alat-alat elektronik? Akal kita kayak gak jalan. Padahal harga alat-alat itu mahal. Dan produknya ada lagi, ada lagi. Satu produk dibilang hebat, nanti ada yang lebih hebat lagi. Kita jadi dipermainin sama pabrikan alat-alat itu. Mereka terus membanjiri produk, sementara kita disuruh beli melulu, tanpa tahu untuk apa semua itu. Sampai kapan Bleh, kita diperbudak alat-alat elektronik ini?” kata Pak Oga.

“Bener, Pak Oga. Mendingan kita tebak-tebakan, daripada main alat-alat begituan. Terlalu menyibukkan, menyita emosi, alat-alat itu lama-lama jadi mengendalikan kita. Jujur, aku bosan Pak Oga dengan yang begitu-begitu. Mending kita beli yang dibutuhkan saja, deh. Gak usah gaya-gayaan. Iya kan, Pak Oga?” kata Ableh.

Pak Oga hanya mengangguk kepala… “Bleh, ayo pulang. Sebentar lagi Maghrib… Oke Pak Oga, makasih ya sudah berbagi tebak-tebakan… Sama-sama, Bleh…”

(Mine).

Iklan

Tradisi Kita: Melanggar Hukum!

September 24, 2010

Sebodoh-bodohnya manusia, ialah mereka yang membuat aturan, lalu aturan itu dia langgar sendiri. Mengapa dilanggar? Agar sebagian orang bisa bebas menindas sebagian yang lain. Masya Allah.

Sebuah cerita kecil dari Kota Leipzig di Jerman. Cerita ini saya baca di sebuah harian nasional beberapa waktu lalu. Ada ibrah besar yang harus kita ketahui disini.

Belum lama lalu terjadi kasus hukum yang unik di Leipzig. Seorang wanita, sudah bekerja di sebuah supermarket selama 27 tahun. Dia diajukan ke pengadilan karena telah melakukan pelanggaran. Ceritanya, supermarket itu menjual roti-roti. Setelah berlalu waktu tertentu, roti-roti itu ada yang kedaluarsa. Menurut aturan di supermarket itu, roti tersebut harus dibuang, dikosongkan dari rak-rak roti. Tetapi oleh wanita itu, sebungkus roti dia simpan di tasnya, hendak dibawa pulang. Ketika ada inspeksi, tas-tas karyawan diperiksa, ditemukan sebungkus roti di tas wanita itu.

Karena dia telah menyimpan roti yang seharusnya dibuang, dia disidangkan. Hasilnya, wanita itu dipecat dari pekerjaannya. Namun selang beberapa lama, keputusan diubah, dia tak jadi dipecat, karena roti itu sendiri sudah berstatus “sampah” yang tidak merugikan apapun bagi kepentingan supermarket. Andaikan roti itu menyebabkan seseorang sakit perut, resiko sakit akan dihadapi wanita itu sendiri, bukan konsumen roti. Akhirnya, wanita itu tetap mendapat kesempatan kerjanya.

Negara Rendah: Hukum Senilai Duit!

HIKMAH. Lihatlah, betapa ketatnya orang-orang Barat dalam menegakkan hukum di kalangan mereka! Ketat sekali, sehingga hanya masalah sebungkus roti saja, mereka tegakkan hukum, tanpa pandang bulu. Kalau dipikir, apalah artinya sebungkus roti di mata seorang karyawan yang sudah bekerja 27 tahunan? Tetapi hukum tetap hukum, ia harus ditegakkan secara PRESISI. Ibaratnya, tidak menyimpang walau hanya sehelai rambut.

Bangsa Barat meraih kemajuan tinggi karena mereka KONSISTEN menegakkan hukum, tanpa pandang bulu. Mereka konsisten sekali, sehingga indeks korupsi di kalangan mereka selalu kecil. Padahal hukum yang berlaku di negeri-negeri itu tidak selalu bagus, adil, dan mulia.

Orang-orang Barat diberi kecukupan ekonomi, kesejahteraan, fasilitas hidup, kemajuan sains dan teknologi, dll. bukan karena KUALITAS HUKUM yang mereka anut. Tetapi karena sikap KONSISTEN mereka dalam menegakkan hukum itu sendiri. Seburuk-buruk hukum yang dijalankan Jengis Khan, kalau diterapkan secara konsisten, membuat mereka bisa merajai Asia di masanya. Bahkan mereka bisa menghancur-luluhkan peradaban kaum Muslimin yang telah pudar dan penuh kemerosotan di Baghdad ketika itu.

Lalu, mari kita lihat kondisi bangsa Indonesia ini! Di negeri ini tidak sedikit orang pintar, tidak sedikit ilmuwan, ahli hukum, pakar birokrasi, dan sebagainya. Tetapi mereka tidak memiliki KOMITMEN untuk menegakkan hukum sama sekali; apalagi jika aturan hukum itu akan memakan hak-hak pribadi, keluarga, dan kelompoknya.

Mau bukti? Tidak usah yang jauh-jauh. Kita angkat yang mudah-mudah saja, yang sedang aktual, yang banyak dibicarakan masyarakat saat ini. Sebagiannya adalah sbb.:

[1] Ketua MK sudah memutuskan, mengabulkan sebagian permohonan judicial review dari Yusril Ihza Mahendra. Di harian Kompas, Ketua MK jelas-jelas sudah mengatakan, masa jabatan Hendarman Supandji menjadi ilegal setelah keputusan itu ditetapkan. Tetapi anehnya, Staf Ahli Hukum Kepresidenan, Deny Indrayana, mengklaim Hendarman Supandji tetap sah sebagai Ketua Kejaksaan Agung. Sudi Silalahi juga mengatakan demikian. Sementara Hendarman Supandji sendiri, lebih percaya ke Presiden daripada keputusan MK. Lihatlah, betapa hebatnya tingkah orang-orang ini dalam mengangkangi hukum yang sudah ditetapkan MK?

[2] Lihatlah aksi Densus 88 saat masuk Bandara Polonia, yang menyebabkan Polri diprotes oleh Angkatan Udara! Densus itu kan aparat hukum, mau menegakkan hukum, tetapi caranya melanggar hukum. Densus 88 sudah melanggar wilayah steril Angkatan Udara, juga melanggar ketentuan koordinasi dengan pihak Polda Sumut.

[3] Lihatlah ketika seorang Presiden gagal telekonferensi di daerah Cikopo karena ada gangguan signal telekomunikasi. Belum melakukan check-recheck, dia langsung memarahi Dirut Telkom dan Telkomsel. Itu marah-marah di depan umum. Ternyata, kemudian terbukti, aplikasi telekonferensi itu tidak memakai jaringan milik Telkomsel. Pelanggaran hukum, mencemarkan nama baik orang lain sudah dilakukan, setelah itu “cuci tangan”, tak ada kata maaf sedikit pun.

[4] Lihatlah ketika seorang Presiden berkomentar keras soal insiden penusukan jemaat HKBP di Ciketing Bekasi. Dia begitu peduli dengan nasib korban tersebut, dan tentu saja -seperti kebiasaan pro Amerika- selalu menyudutkan ormas Islam tertentu. Penusukan jemaat HKBP begitu berharga baginya, tetapi pembiaran kezhaliman sikap/tingkah jemaat HKBP yang merugikan kepentingan warga Ciketing selama 20 tahunan, dibiarkan begitu saja. Ini namanya, penegakan hukum yang tebang pilih. Apapun ada kesempatan untuk menembak FPI, akan dia lakukan.

[5] Bagaimana dengan kericuhan antara PERADI dan KAI baru-baru ini? Anda tahu semua kan situasi ricuhnya? “Mau apa kau? Beri pintu agar abang kami, presiden kami masuk ruangan?” Ya, begitulah. Ini komunitas advokat yang katanya mengerti hukum, taat hukum, mengabdi di dunia hukum; tetapi kelakuan seperti itu. Menyedihkan sekali kan?

[6] Coba lihat apa yang dilakukan Polisi/Densus 88 dalam berbagai kasus terorisme! Bidik sasaran, tembak di tempat, lalu membuat opininya sendiri. Dalam seluruh sisi kasus terorisme di Indonesia, opini yang berlaku hanya milik Polisi belaka. Tidak ada opini pembanding. Akhirnya mereka bisa sewenang-wenang sesuka hatinya. “Soal opini nanti bisa kita pikirkan.” Tidak heran jika kemudian seorang pejabat Polri ada yang ditolol-tololkan oleh pemimpin ormas Islam.

[7] Opini polisi yang sewenang-wenang itu akhirnya membuahkan masalah serius di Buol, Sulawesi. Kantor polisi dan pemukiman mereka diserbu ribuan orang, karena gemas. Bagaimana tidak? Ada seorang tahanan meninggal di kantor polisi. Kata polisi, dia mati bunuh diri. Tapi saat jenazah diterima keluarga, di sekujur tubuhnya banyak memar-memar akibat pukulan.

[8] Bagaimana dengan kasus Skandal Bank Century? Mengapa Polri, Kejaksaan Agung, dan KPK diam saja sampai saat ini? Kapan orang-orang yang tertuduh dalam kasus itu akan disidangkan ke pengadilan? Apa mereka menunggu SBY turun dari jabatan RI-1 tahun 2014 nanti, baru kasus Bank Century disidangkan? Lalu bagaimana dengan Sri Mulyani yang sudah nyaman ngantor di sono? Mengapa ia tidak dicekal atau ditetapkan sebagai DPO? Bukankah dia pergi sebelum kasus Bank Century masuk ke meja hukum?

[9] Penghilangan secara sengaja “ayat rokok” dari draft UU Kesehatan yang diduga dilakukan oleh anggota DPR Ribka Ciptaning dan kawan-kawan. Ini sudah menjadi draft UU, tinggal disahkan saja, tetapi malah dihapus. Begitu kejinya tangan manusia-manusia satanic itu.

[10] Kasus Bibit-Chandra tidak karuan sampai saat ini. Apakah kedua orang itu bersalah seperti yang dituduhkan OC. Kaligis, atau dia tidak bersalah.

[11] Hilangnya rekaman Ary Muladi dan Hendra Rahardja, padahal tadinya Bambang Hendarso mengklaim rekaman itu ada. Begitu buruknya komitmen Kepala Polri terhadap hukum yang mestinya dia tegakkan.

[12] Kasus Susno Duadji, sang “peniup peluit” yang saat ini nasibnya tidak karuan. Mau disidang, kapan? Tidak disidang, mengapa dia sudah dipastikan sebagai tersangka? Begitu pula masalah “rekening gendut” perwira Polri juga tidak ada kelanjutannya.

[13] Dan lain-lain kasus yang sangat banyak.

Lihatlah dengan mata hati, dengan logika jernih, dengan akal sehat, dengan naluri sebagai manusia sewajarnya; apakah semua itu layak terjadi di negara yang katanya “menghormati hukum” ini? Masya Allah. Sungguh sangat menyedihkan kondisi ini.

Di Barat, urusan hukum tidak bisa ditawar-tawar. Tetapi disini, para elit dan penegak hukum, justru memberi contoh cara melanggar hukum yang seindah-indahnya, sehebat-hebatnya, selicik-liciknya, senikmat-nikmatnya.

Kalau begini, lalu apa yang bisa kita harapkan? Adakah masa depan bagi bangsa Indonesia? Adakah “adil dan makmur” seperti yang sama-sama kita dambakan itu? Bukankah kita ini seperti manusia yang setiap hari sarapan omong kosong; minum omong kosong; menelan omong kosong; mandi omong kosong; tidur di atas omong kosong; bermimpi omong kosong; berpikir omong kosong; dan sebagainya?

Untuk hukum sekuler yang penuh kekurangan saja, kita tak mampu konsisten melaksanakan. Padahal hukum semacam itu jauh sekali kualitasnya di bawah Syariat Nabi Muhammad Saw.

di atas kesedihan sebagai bangsa beradab

AMW.


Bank Century dan Moralitas Pejabat

Januari 19, 2010

Skandal Bank Century merupakan TRAGEDI BESAR dalam sistem keuangan negara kita. Tentu saja Skandal BLBI masih jauh lebih besar dari skandal Bank Century. Tetapi modusnya sangat mirip. Disini uang negara dengan seenaknya dipakai untuk mem-bailout sebuah bank yang sebenarnya sakit dan kriminal. Alasannya dibuat macam-macam; bahkan pihak-pihak yang bertanggung-jawab, seolah berusaha memainkan “melodi” yang sama. “Bela, dan bela terus bailout Century. Logis gak logis, urusan belakang!” Seolah begitu prinsip yang dianut.

Skandal Bank Century masalah besar dan berat. Selain dana yang dipakai disana mencapai 6,7 Triliun. Modus serupa pernah terjadi dalam jumlah lebih mengerikan pada tahun 1997-1998 lalu. Pelaku utamanya adalah pejabat-pejabat keuangan negara berkolaborasi dengan bankir-bankir kriminal. Jika modus seperti ini tidak dihentikan, alamat hancur masa depan negara ini. Nanti semua pejabat negara dengan seenaknya bisa mengacak-acak keuangan negara. Mereka bisa beralasan, “Sikat dulu duitnya, soal alasan bisa dicari-cari!” Ini sangat mengerikan, sebab menyangkut hidup rakyat Indonesia semua.

Tanggal 13 Januari 2010, Sri Mulyani dipanggil oleh Pansus DPR. Dalam sesi dialog dengan Pansus, Sri Mulyani sangat percaya diri, sebagaimana pembawaannya selama ini. Bu Menteri ini memang termasuk istimewa; smart, percaya diri, karakter suara jelas, dan penampilan selalu simpatik. Sri seolah memiliki manajemen “citra diri” khusus, di luar keahliannya di bidang moneter.

Apa yang disampaikan oleh Sri Mulyani dalam pemeriksaan Pansus, tidak ada yang baru. Dia kembali mengulang-ulang argumen yang sama seperti sebelumnya. Malah Sri Mulyani mengatakan secara verbal, kalimat-kalimat yang sebenarnya tidak layak diucapkan seorang pejabat negara. Sri mengatakan, bahwa bailout kepada Bank Century tidak merugikan keuangan negara. Malah katanya, LPS untung dengan mengambil-alih Bank Century tersebut.

Seperti sudah sama-sama kita ketahui, argumen yang dibangun oleh semua pendukung bailout Bank Century, termasuk “pahlawan baru” Christianto Wibisono, kurang lebih sebagai berikut:

“Bank Century harus diselematkan, tidak boleh ditutup. Kalau ditutup, khawatir akan menimbulkan dampak sistemik ke seluruh sistem perbankan nasional. Penutupan Bank Century bisa memicu keresahan seluruh nasabah bank di Indonesia, lalu mereka menarik dananya beramai-ramai dari semua bank tempat mereka menyimpan uang (istilahnya, rush). Kekhawatiran itu beralasan, sebab pada tahun 1997 lalu perbankan Indonesia pernah hancur-lebur, ketika 16 bank nasional ditutup oleh Pemerintah. Perlu diingat, kondisi ketika penutupan Bank Century, Indonesia berada dalam situasi yang mengkhawatirkan, akibat pengaruh Krisis Moneter Global. Data-data moneter, seperti indeks saham, kurs rupiah, likuiditas perbankan, indeks emiten, dll. sudah menunjukkan penurunan. Waktu itu harus dilakukan langkah berani, demi menyelamatkan sistem perbankan nasional, agar tidak terjadi lagi kehancuran sistem perbankan seperti tahun 1997. Ibaratnya, seperti seseorang yang sakit jantung, perlu tindakan operasi. Di kemudian hari, bisa saja pasien itu merasa sehat, setelah lewat masa kritisnya. Ketika saat kritis, jika tidak dioperasi, dia mungkin sudah mati.”

Sebenarnya malas juga bantah-bantahan seperti ini. Sebab meskipun sudah diberi alasan seperti apapun, para pendukung bailout Bank Century akan tetap membenarkan bailout tersebut. Seperti seorang terdakwa korupsi yang tertangkap basah melakukan tindakan korupsi, dia tetap akan membela diri. Mereka akan beralasan, “Apa gunanya ada penasehat hukum, kalau tidak bisa membela diri?” Sementara di jaman kita ini, “kebenaran hukum” itu bisa diperjual-belikan.

Sedih memang. Hidup di jaman seperti ini serba bergantung kepada uang. Siapa yang memiliki akses keuangan besar, bisa melakukan apa saja. Soal alasan-alasan hukum, itu bisa dicarikan kemudian. “Pokoknya sikat aja dulu. Urusan hukum, nanti dipikirkan,” begitu prinsip yang banyak dianut. Jadi masyarakat sulit mendapatkan cercah kebenaran yang bisa menuntun hidup mereka, sebab kebenaran itu kemudian terkait dengan loyalitas uang. Siapa memberi uang, siapa memberi bonus, siapa yang mengancam karier; akan menjadi sasaran pengabdian hidup.

Disini kita akan coba buka lagi debat “skandal bank”. Tujuannya, untuk lebih meningkatkan wawasan seputar kasus-kasus perbankan ini. Insya Allah, ada sisi-sisi tambahan pengetahuan dibandingkan perdebatan sebelumnya. Semoga bermanfaat. Walhamdulillah Rabbil ‘alamiin.

[1] Logika Sri Mulyani: “Bailout kepada Bank Century harus dilakukan, kalau tidak akan berdampak sistemik merusak sistem perbankan nasional.”

JAWAB: Ketika Bank Indovert di Belanda dan Bank IFI ditutup pada April 2009, hal itu tidak menimbulkan dampak apa-apa bagi bank nasional. Padahal semula penutupan itu juga dikhawatirkan akan berdampak sistemik. Perlu disadari nilai Bank Century dalam perbankan nasional hanya sekitar 0,5 % aset bank nasional. Ibaratnya, Bank Century itu seperti jari kaki yang terinfeksi parah dan harus diamputasi. Jika diamputasi, tidak akan membunuh jiwa orang tersebut. Kerugian jelas ada, tetapi tidak akan sampai mematikan seluruh tubuh.

Masalahnya, Sri Mulyani, Boediono, para politisi, dan ekonom pendukung mereka, semuanya mendramatisasikan kasus Bank Century ini. Dramatisasi menjadi metode inti mereka untuk membela diri. Sama saja seperti seseorang yang sakit batuk-batuk, lalu divonis: “Awas, sakitmu ini bisa mematikan. Kamu bisa kena stroke karena batuk-batuk itu!”

Justru analisis yang mengatakan, bahwa Bank Century jika tidak di-bailout, akan membunuh seluruh sistem perbankan nasional, ini mencerminkan suatu kenyataan, betapa rapuhnya fondasi sistem perbankan di Indonesia. Hanya gara-gara bank yang nilainya 0,5 % bisa hancur berantakan. Jika demikian, apa saja kerjaan Bank Indonesia, sehingga struktur perbankan nasional bisa begitu rapuh?

Maka disini muncul pertanyaan, “Apakah para pendukung bailout Century itu sepakat bahwa sistem perbankan nasional begitu rapuh, sehingga hanya digoyang oleh sebuah bank kecil, bisa hancur-berantakan?” Jika mereka mengatakan, “Ya! Perbankan kita memang rapuh!” Nah, kalau keluar pernyataan seperti ini dari mereka, barulah seluruh nasabah bank boleh cemas. Ternyata, mereka menyimpan uang di bank-bank yang sangat rapuh.

Dan satu lagi pertanyaan, “Andaikan dampak sistemik itu ada, berapa nilai pengaruhnya bagi sistem perbankan?” Harus jelas dong! Apakah dampak sistemik itu bisa menghancurkan 100 % perbankan nasional, apakah 50 % perbankan nasional, apakah 10 %, atau 5 %, atau bahkan hanya 0,5 % sesuai nilai Bank Century itu sendiri? Baik Sri, Boed, Christianto “IMF” Wibisono, dll. harus bisa menjawab secara pasti perkiraan dampak sistemik itu.

Mereka bukan “anak SD” yang menempuh kebijakan keuangan negara hanya berdasar perasaan-perasaan. Harus ada parameter kuantitatifnya!

[2] Logika Sri Mulyani: “Tahun 2008 waktu itu ekonomi Indonesia menghadapi tekanan serius, akibat Krisis Moneter dunia. Berbagai parameter makro ekonomi menunjukkan kemerosotan itu. Waktu itu situasinya sulit, banyak usaha gulung tikar, ribuan karyawan di-PHK. Jadi, lihat situasi ketika itu, jangan hanya dilihat situasi sekarang!”

JAWAB: Betul, ketika itu memang situasi ekonomi Indonesia sulit, sebagai dampak Krisis Global. Betul, shahih, sepakat! Justru nilai indeks yang macam-macam itu yang menunjukkan, bahwa ekonomi kita memang sedang tertekan kuat. Ini fakta! Tidak bisa diingkari lagi. Tapi harus dicatat, semua negara mengalami kondisi yang sama. Sekalipun China, juga mengalami tekanan. Permintaan barang ke negara itu merosot, seiring Krisis Global. Eropa apalagi, tekanannya lebih hebat. Jadi, Krisis Global itu suatu fenomena umum, menimpa siapa saja.

Letak kesalahan Sri, Boed, dan kawan-kawan, mereka membela bailout Century dengan “membonceng” isu Krisis Global. Padahal keduanya, dua kasus berbeda, pada domain berbeda. Berbeda wilayahnya, berbeda pula sifatnya.

Bank Century rusak bukan karena Krisis Global, tetapi karena kejahatan keuangan di dalam bank itu sendiri. Bank Century bahkan sudah bermasalah sejak menjadi bank hasil merger. Bank ini sudah dibicarakan sejak lama, jauh-jauh hari sebelum terjadi Krisis Global pada tahun 2008. Tanpa Krisis Global pun, Bank Century sudah sakit. Mengaitkan kasus Century dengan Krisis Global sungguh tidak tepat.

Logika yang ditempuh para pembela bailout Century: “Pertengahan 2008 lalu kondisi ekonomi Indonesia tertekan, akibat Krisis Global. Jika menutup Bank Century ketika itu, khawatir terjadi rush yang akan menghancurkan sistem perbankan nasional. Jadi penyelamatan Bank Century bisa dianggap sebagai patriotisme dalam rangka menyelamatkan sistem bank nasional. Ini bukan kesalahan kebijakan, justru merupakan kepahlawanan yang hebat.”

Tetapi Krisis Global menimpa semua negara, menimpa seluruh sisi kehidupan bangsa Indonesia, bukan hanya sektor perbankan. Bahkan menimpa semua bank, bukan hanya Century. Nah, mengapa di mata Bank Indonesia, Menteri Keuangan, dan KSSK, yang terlihat hanya Bank Century? Ada ribuan entitas nasional, baik berupa bank, institusi, komisi negara, organisasi, lembaga, perusahan bisnis, dan sebagainya. Nah, mengapa yang mendapat perlakuan khusus hanya Bank Century saja, padahal semua pihak terkena dampak Krisis Global?

Tampak jelas ada kecurangan pada pembela bailout Century. Mereka menjadikan alasan Krisis Global untuk membenarkan tindakan bailout, sekalipun tindakan itu sangat tidak logis. Andaikan para pembaca ketika tahun 2008 lalu gagal menikah, atau gagal lulus kuliah, atau gagal menjadi PNS, atau gagal membuat proyek, atau gagal studi ke luar negeri, dll. Apakah atas kegagalan itu, Anda juga akan membuat alasan atas nama Krisis Global? “Maklum ketika itu lagi Krisis Global. Jadi saya mengalami kegagalan.” Begitukah cara berpikirnya? Ini sama dengan “mencuri kesempatan di tengah kesempitan”. Nanti semua penjahat di tahun 2008, mereka bisa membuat alasan yang sama untuk membenarkan kejahatan mereka?

Andaikan bailout Century dianggap sah dan benar, pertanyaannya: “Mengapa dana bailout itu membengkak lebih dari 10 kali lipat?” Semula bailout disepakati Rp. 632 miliar rupiah. Ternyata realisasi Rp. 6,7 triliun rupiah. Membengkak 10 kali lipat (atau 1000 %) menandakan disini terjadi kecurangan besar.

OK-lah, Sri Mulyani dan kawan-kawan boleh beralasan dengan dampak sistemik. Katakanlah, kita terima alasan itu. Tetapi ingat, itu untuk bailout yang nilainya Rp. 632 miliar rupiah. Lalu bagaimana dengan dana bailout yang akhirnya menjadi Rp. 6,7 triliun? Mengapa terjadi pembengkakan 10 kali lipat?

Saya rasa pertanyaan itu semakin mengerucut: “Mengapa dana bailout membengkak dari 632 miliar menjadi 6,7 triliun?” Sebab kasus Bank Century menjadi kasus raksasa, karena alasan 6,7 triliun itu. Andaikan bailout itu hanya 632 miliar rupiah, mungkin masyarakat luas tidak akan terlalu care, meskipun tetap saja ada kemungkinan suara-suara protes. Apalagi BPK sudah membuat analisis, ada penggunaan dana ilegal senilai 2,8 triliun rupiah dalam kasus bailout Bank Century.

Baca entri selengkapnya »


Menggugat Analisis “Dampak Sistemik” Sri Mulyani

Desember 12, 2009

Seperti kita maklumi, kasus bailout Bank Century telah merugikan negara 6,7 triliun rupiah. Kerugian muncul karena negara harus nomboki keuangan Bank Century yang nyaris bangkrut. Malah kemudian negara (LPS) harus mengambil alih Bank Century, memperbaiki, dan mengelolanya, untuk suatu saat nanti dijual lagi ke investor.

Dana negara 6,7 triliun yang seharusnya bisa dimanfaatkan untuk hal-hal lain yang produktif akhirnya tersesat di seputar Bank Century (kini namanya Bank Mutiara). Konyolnya, Bank Century itu nyaris bangkrut bukan karena apapun, tetapi karena ulah pemiliknya sendiri. Pemilik Bank Century merampok uang bank itu, lalu dilarikan ke luar negeri. Mereka juga sangat maniak dengan judi (berspekulasi) sehingga posisi keuangan bank itu nyaris ambruk. Kasus Bank Century tidak jauh beda dengan Mega Skandal BLBI tahun 1997-1998 dulu yang merugikan negara sampai 600 triliun rupiah. Kedua-duanya sama perampokan yang menyengsarakan rakyat Indonesia.

Menarik mencermati alasan Pemerintah ketika menyelamatkan Bank Century pada Nomvember 2008 lalu. Melalui Menkeu sekaligus Ketua KSSK (Komite Stabilisasi Sistem Keuangan), Sri Mulyani, Pemerintah menyatakan bahwa penyelamatan Bank Century merupakan pilihan yang harus diambil. Alasannya, kalau Bank Century tidak diselamatakan dengan dana talangan (bailout), ia akan menimbulkan DAMPAK SISTEMIK bagi sistem perbankan di Indonesia secara keseluruhan. Alasan “sistemik” ini diulang-ulang terus oleh Bulek Sri Mulyani di berbagai kesempatan, dengan gaya khas-nya yang seolah paling tahu soal keuangan negara.

Dari analisis yang saya tempuh, di dapat kesimpulan bahwa alasan “dampak sistemik” yang dilontarkan Sri Mulyani itu merupakan KEBOHONGAN PUBLIK yang sangat menyesatkan. Ia adalah argumentasi dicari-cari yang seolah ilmiah, padahal landasannya sangat lemah. Para pakar banyak mempertanyakan analisis “dampak sistemik” itu. Menurut mereka, yang menjadi pertimbangan utama analisis “dampak sistemik” itu hanyalah masalah psikologis yang tidak bisa diukur. Singkat kata, analisis itu hanya berdasarkan perasaan saja. (Sangat memalukan, seorang ekonom UI bergelar doktor, mantan pejabat IMF, membuat analisis berdasarkan perasaan. Memalukan!!!).

Secara umum, berikut alasan Sri Mulyani Cs yang membela kebijakana bailout Bank Century:

<=> Bailout Bank Century adalah tindakan legal, sebab memakai data-data dari Bank Indonesia, dan telah disetujui oleh Gubernur Bank Indonesia sendiri (waktu itu dijabat oleh “Si Boed” Boediono).

<=> Jika Bank Century tidak diselamatkan, dikhawatirkan akan terjadi rush (penarikan uang secara besar-besaran dari bank) yang bisa merusak sistem perbankan nasional sendiri. [Kekhawatiran terhadap rusaknya sistem perbankan nasional inilah yang kemudian dikenal sebagai “dampak sistemik”].

<=> Penyelamatan Bank Century dilakukan saat terjadi krisis finansial global, sekitar November 2008 lalu. SBY dalam pidatonya juga menyinggung alasan ini. Kata dia, “Penyelamatan Bank Century harus dilihat pada kondisi waktu itu ketika dunia mengalami krisis finansial. Jadi jangan dilihat dengan ukuran sekarang.” Begitu kira-kira isi pernyataan SBY pada pidato Senin malam terkait masalah Century dan Bibit-Chandra.

<=> Beberapa praktisi pasar saham aneh dan pengamat ekonomi aneh, yang suaranya selalu mendukung kebijakan Pemerintah SBY. Mereka menambahkan alasan, waktu itu data-data makro ekonomi menunjukkan bahwa kondisi ekonomi Indonesia memang negatif. Kurs rupiah turun dari angka Rp. 9.800 menjadi Rp. 12.000 per dollar. Indeks saham gabungan turun, dan lain-lain. Jadi benar, ada potensi ancaman sistemik.

Kalau kita memandang alasan-alasan yang dikemukakan Sri Mulyani Cs di atas, seakan semua itu sangat logis dan legal. Tetapi alhamdulillah, melalui audit BPK terbukti bahwa dalam penanganan Bank Century terdapat 9 indikasi pelanggaran hukum dan pengabaian aturan perbankan. BPK juga mencatat ada penggunaan 2,8 triliun dana yang tidak jelas payung hukumnya alias ilegal. Jadi, dengan dasar audit BPK ini saja sudah cukup untuk melemparkan alasan “dampak sistemik” ke tong sampah.

Tetapi untuk menguatkan kembali argumentasi, disini ada beberapa bantahan terhadap analisis “dampak sistemik” yang selalu disuarakan Sri Mulyani Cs di berbagai kesempatan. Argumentasi-argumentasi ini sekaligus menguatkan tuduhan telah terjadi kebohongan publik yang dilakukan Sri Mulyani Cs.

PERTAMA, Bank Century adalah bank kecil yang tidak berarti dalam sistem perbankan nasional. Andaikan bank yang ditutup seperti BNI, Bank Mandiri, BRI, BCA, dan yang sekelas itu, bolehlah dikhawatirkan terjadi dampak sistemik. Century itu terlalu kecil untuk mempengaruhi sistem perbankan nasional.

KEDUA, harus diingat asal-muasal terjadinya kolaps keuangan di tubuh Bank Century. Mereka nyaris bangkrut secara keuangan bukan karena kesalahan Pemerintah, bukan karena kesalahan nasabah, bukan karena bencana alam, dan alasana-alasan lain yang bisa dimaklumi. Bank Century kolaps karena kebejatan pejabat bank itu dan para pemilik sahamnya. Pejabat Century doyan “bermain judi” melalui transaksi-transaksi keuangan spekulatif. Kemudian banyak dana nasabah dari anak perusahaan Century yang dibawa kabur oleh pemilik bank itu.

KETIGA, Sri Mulyani beralasan bahwa penutupan Bank Century bisa menimbulkan rush (penarikan uang besar-besaran dari bank-bank). Alasan ini hanya dibuat-buat, tidak ada contohnya. Coba, Sri Mulyani sebutkan contoh penarikan uang dari bank secara besar-besaran karena sebuah bank kecil ditutup? Di Indonesia tidak ada contoh seperti itu. Dulu pernah ada rush tahun 1997, setelah kejadian “Likuidasi 16 Bank Nasional“. Kalau ada 15 atau 20 bank ditutup secara bersamaan, barulah kita boleh khawatir terjadi rush.

KEEMPAT, kondisi keuangan global tidak bisa dijadikan alasan untuk membenarkan bailout Bank Century. Mengapa? Sebab tidak nyambung. Kondisi krisis global tidak ada sangkut pautnya dengan nasib sebuah bank kecil seperti Century. Krisis global memang berpengaruh terhadap makro ekonomi Indonesia. Berpengaruh juga bagi perbankan. Tetapi semua bank terkena dampaknya, bukan hanya Century.

Bank Century dan krisis global ada dalam domain berbeda. Logikanya, seperti seseorang yang mendadak terkena gejala demam berdarah. Baru gejala, belum jatuh sakit demam berdarah. Pada saat yang sama, salah satu jari orang itu terluka karena pisau dapur. Gejala demam berdarah, jika dibiarkan bisa berakibat fatal. Tetapi, luka terkena pisau, meskipun terasa sakit, dampaknya tidak berpengaruh serius. Krisis global itu seperti gejala demam berdarah, sedang kasus Bank Century seperti jari terkena pisau. Keduanya sama-sama sakit, tetapi ada dalam domain berbeda. Jangan lalu orang mengatakan, “Luka pisau ini bisa menimbulkan kematian, sebab yang bersangkutan sedang mengalami gejala demam berdarah.” Ini logika orang aneh bin letoy.

KELIMA, bukti kedustaan Sri Mulyani, juga kebohongan SBY dalam pidato “Senin malam”. Mereka mengklaim, bahwa krisis global mengharuskan Pemerintah menyelamatkan Bank Century. Ini adalah bohong sebohong-bohongnya alasan. Mengapa? Dalam situasi krisis global, Pemerintah justru harus sangat hati-hati dalam mengucurkan dana negara. Situasi sedang krisis, kok malah seenaknya menggelontorkan dana 6,7 triliun untuk bank yang sejak awal memang dibuat rusak oleh pemiliknya sendiri? Dimana logikanya? Situasi krisis kok malah sebar-sebar uang seenak perutnya.

Kedustaan alasan krisis global itu makin terang-benderang kalau kita ingat kebijakan tight money (uang ketat) yang ditempuh Bank Indonesia selama 2004-2009. BI di bawah “Si Boed” menerapkan kebijakan uang ketat. Masyarakat bisnis sektor riil menjerit-jerit karena susahnya mendapatkan pinjaman modal dari bank. Untuk mendapat pinjaman modal 5 juta rupiah dari bank, syarat-syaratnya “minta ampun deh”. Tetapi lihatlah, betapa konyok-nya pejabat-pejabat BI itu. Mereka seenaknya sendiri menggelontorkan dana 6,7 triliun saat sedang krisis global. Betapa kejam, culas, dan biadabnya mereka. Na’udzubillah min dzalik.

KEENAM, fakta kemudian berbicara, bahwa perbankan Indonesia ternyata aman dari ancaman “dampak sistemik”. Ya, saat ini kita bisa melihat, bahwa sistem perbankan di Indonesia masih anteng-anteng saja. Andaikan alasan Sri Mulyani itu benar, pasti posisi Bank Century akan menjadi perhatian utama para bankir di negeri ini. Mereka akan menjadikan masalah Bank Century sebagai agenda masalah mereka. Buktinya, tidak ada sama sekali. Coba cari dalam notulen-notulen rapat para pejabat bank-bank nasional, adakah mereka menjadikan masalah Century sebagai problem serius? Kalau kini masyarakat peduli dengan Century, bukan karena peduli posisi dia dalam perbankan nasional, tetapi peduli dengan tindak kezhaliman yang terjadi padanya.

Mungkin pihak Depkeu atau BI akan beralasan, “Ya, sekarang kondisi perbankan aman, sebab kami sudah menyelamatkan Bank Century. Kalau tidak diselamatkan, tentu kondisi perbankan tidak akan seperti ini.” Maka jawaban atas klaim seperti ini, “Sekarang Anda keluarkan dasar hitung-hitungannya, lalu beberkan ke masyarakat luas, bahwa penyelamatan Bank Century berpengaruh significant menyelamatkan sistem perbankan nasional!” Mohon Anda keluarkan hitung-hitungannya! Tetapi bukan alasan “psikologis” lho!

KETUJUH, kita perlu bercermin pada kasus pembobolan Bank BNI yang pernah merugikan negara triliunan rupiah juga. Apakah setelah itu terjadi “dampak sistemik” terhadap perbankan nasional? Ada dampaknya, tetapi tidak seberapa. Padahal BNI adalah bank besar di Indonesia.

Sebagai tambahan, Ketua LPS pernah mengatakan, bahwa uang yang dipakai untuk bailout Century bukanlah uang negara. Kata dia, LPS mewarisi modal awal 4 triliun rupiah dari sisa modal di BPPN pada periode Pemerintahan sebelumnya. Lalu selama operasinya LPS mendapat keuntungan dari premi asuransi bank-bank, sehingga modal LPS menjadi 17 triliun. Jadi, uang yang dipakai LPS itu bukan dari negara, tetapi dari keuntungan bisnis yang dikembangkan LPS.

Apa yang dikemukakan pejabat LPS dan diamini politisi-politisi Demokrat itu benar-benar SANGAT KONYOL. Mereka tidak layak menjadi pejabat negara. Mereka harus diganti pejabat lain, karena moralnya rendah dan cara berpikir sistematiknya kacau. Sangat memalukan mengatakan dana LPS “bukan uang negara”.

LPS itu lembaga apa? Ia milik pribadi, milik pengusaha, milik asing, atau milik partai politik? Jelas-jelas LPS adalah lembaga negara. Maka dia berhak mendapat modal awal dari negara, operasinya dilindungi UU negara, dan eksistensianya diakui lembaga-lembaga negara lainnya.

Meskipun, dana yang dipakai LPS dari keuntungan usaha LPS setelah beroperasi, itu tetap dicatat sebagai dana negara. Misalnya, Departemen Kelautan mengembangkan bisnis pengolahan ikan laut. Dana modal awal diperoleh dari Departemen Keuangan. Setelah bisnis berjalan, Departemen Kelautan mendapat banyak keuntungan. Maka keuntungan yang diperoleh itu tetap dihitung sebagai uang negara. Lho, mau disebut uang apa dong? Keuntungan yang diperoleh lembaga-lembaga negara, menjadi uang negara juga. Andaikan dalam operasinya KPK bikin bisnis fotokopi, lalu mendapat keuntungan. Ia tetap diklaim sebagai uang negara, bukan uang milik Pak Bibit-Chandra.

Ini benar-benar memalukan. Ada elit-elit birokrasi, tetapi cara berpikirnya sangat buruk. Apalagi ingat, keuntungan LPS diambil dari premi asuransi bank-bank nasional. Bagaimana kalau nanti bank-bank nasional ada masalah, darimana mereka akan berharap mendapat pertolongan asuransi kalau uang LPS dipakai urusan lain? Justru praktik konyol seperti ini bisa berdampak sistemik bagi perbankan nasional.

Maka dapat disimpulkan, klaim “dampak sistemik” adalah kebohongan publik yang disebarkan Sri Mulyani Cs. Tidak ada argumentasi obyektif yang dijadikan alasan, selain perasaan doang. Adapun hasil analisis praktisi saham atau pengamat ekonomi yang membenarkan bailout Bank Century, mereka itu hanyalah “juru bicara politik” yang tidak memiliki pilihan. Hidupnya sudah ditawan oleh “amplop tebal”. Kacian deh…

Terus kejar Sri Mulyani dan “Si Boed” !!! Semoga di balik itu ada perbaikan significant bagi kehidupan masyarakat Indonesia. Allahumma amin.

AMW.


Gempa Dahsyat dan Shaum Ummat

September 3, 2009

Sore hari, 2 September 2009, sekitar jam 14.50 WIB, terjadi guncangan gempa dahsyat di Tasikmalaya, Jawa Barat, dan Jakarta. Kami merasakan benar kuatnya guncangan gempa ini. Antara panik, takut, dan bertakbir menyebut Asma Allah campur aduk jadi satu. Orang-orang satu gang langsung keluar rumah, menyelamatkan diri. Mereka juga bertakbir, istighfar, dan bertasbih menyebut Asma Allah.

Kuat sekali guncangannya. Saat saya sedang mengetik di komputer, guncangan gempa sangat kuat. Seketika saya berdiri dan bertakbir dalam keadaan panik. Selama tinggal di Bandung, inilah gempa paling besar dan lama yang kami rasakan. Ketika gempa pertama mereda, beberapa lama situasi tenang kembali, tapi kemudian gempa kembali. Dengan bergegas saya gendong Syakir dan membawanya keluar rumah. Masya Allah, saya terlupa kalau Fathimah, anak kami yang masih SD, sedang tertidur lelap di kamar tidur. Ada sesalan di hati, mengapa saya lupa dengan Fathimah? Baru setelah masuk rumah kembali, saya lihat dia sedang terlelap dalam tidurnya. Mungkin hal ini terjadi karena begitu paniknya. Alhamdulillah, Allah tidak merobohkan rumah kami dengan gempa ini. Alhamdulillah, alhamdulillah wa syukru lillah bi kulli ni’matih.

Gempa Tasikmalaya ini mengandung hikmah yang sangat dalam, antara lain:

[o] Guncangan gempa dirasakan dalam radius ratusan kilometer, sampai Jakarta, Cirebon, Tegal, Yogya, bahkan katanya dirasakan sampai Bali. Semua orang di kawasan Jawa Barat dan Jakarta merasakan efek guncangan yang sama. Sama-sama kuat dan paniknya.

[o] Saat gempa itu terjadi, rasanya semua makar manusia-manusia keji tidak ada artinya. Hanya dengan digoyang sedikit saja, semuanya ketakutan dan panik. Inilah salah satu tanda ketika Allah menampakkan sedikit saja dari Kekuatan-Nya. Agen-agen NEOLIB, Freemasonry, para penjual negara, agen westernisasi, dll. mereka bisa membuat makar apa saja untuk menghancurkan kehidupan rakyat Indonesia. Tetapi dengan “sentilan” bencana sedikit saja, semua orang ketakutan, gelisah, menyelamatkan diri.

[o] Gempa terjadi dalam jarak sekitar 140 km dari pantai, barat daya Tasikmalaya. Kekuatan lebih besar dari gempa Yogya, 7,3 skala richter. Andai pusat gempa terjadi di pantai, atau di daratan, tidak terbayangkan sampai seberapa besar kehancurannya? Jakarta bisa hancur total, sehingga Indonesia bangkrut, terus NKRI pun hancur berantakan, karena pusat kekuatan Indonesia ada di Jakarta.

[o] Jutaan manusia di Jawa Barat dan Jakarta telah “diberi rasa” oleh Allah, berupa rasa takut, gelisah, dan panik. Tetapi mereka sendiri belum menjadi korban gempa, kecuali sedikit sekali. Ya lumayanlah, biar masyarakat sedikit ingat, bahwa mereka tidak boleh menyembah hedonisme di TV, atau menganggap TV sebagai jalan hidup dan agama. Tetapi mereka setiap hari harus beribadah kepada-Nya.

[o] Andaikan gempa terjadi di luar Ramadhan, saat manusia Indonesia sedang ramai bermandi maksiyat, bermandi kedurhakaan, mengabdi kekafiran, dan membela para pengkhianat pendosa, tentulah Jawa Barat dan Jakarta akan habis disikat gempa ini. Alhamdulillah, gempa terjadi di bulan Ramadhan. Puasa orang-orang Muslim, meskipun puasanya hanya ikut-ikutan atau sekedar ikut tradisi, alhamdulillah puasa kita semua telah menahan gempuran mengerikan dari gempa ini. Alhamdulillahil Karim.

Ketika gempa terjadi di kawasan Jawa Barat dan DKI Jakarta (mungkin termasuk juga Banten), hal ini adalah ancaman besar bagi eksistensi Indonesia. Sebab pusat kekuatan negeri ini memang Jakarta. 70 % bisnis ada di Jakarta. Sementara Jawa Barat adalah penyangga Jakarta. Jika kedua daerah ini hancur, alamat Indonesia hancur juga.

Kok Allah begitu “kejam” ingin menghancurkan Indonesia?

Ya, bagaimana tidak akan dihancurkan. Coba perhatikan dua hal di bawah ini:

SATU: Terjadi teror bom di JW Marriott dan Ritz Carlton, lalu tuduhan dialamatkan ke Ummat Islam. Pesantren, Ngruki, mantan Mujahidin Afghan, Jamaah Islamiyyah (yang tidak ada wujudnya), pendukung Negara Islam, paham Wahhabi, orang bersorban, orang berjanggut, orang celana cingkrang, wanita bercadar, dll. Ini semua kan serangan dahsyat ke Ummat Islam. Malah, seorang perwira polisi hampir saja memaklumlah “perang” melawan dakwah Islam dengan siap menangkapi para dai. Ya Ilahi ya Rahman. Siapa yang berbuat, siapa yang harus menanggung akibat? Ini fitnah sangat dahsyat. Bahkan seorang kepala negara telah memberi contoh cara memfitnah lawan-lawan politik, yang mengatakan aksi teror bom itu terkait dengan hasil Pilpres.

DUA: Lihat kasus Bank Century. DPR setuju bank itu disuntik dana 1,3 triliun, tetapi Menteri Keuangan Sri Mulyani didukung oleh Bank Indonesia, malah mencairkan dana suntikan 6,7 triliun rupiah. Ya Allah, dagelan apa ini? Apa Menteri Keuangan dan pejabat BI tidak bisa menghitung uang ya? Masak tidak bisa membedakan antara jumlah 1,3 triliun dengan 6,7 triliun? Mungkin karena SBY sudah menang secara total, mereka yakin banget rakyat Indonesia bisa dibodoh-bodohi. Mereka yakin bahwa rakyat Indonesia tidak bisa membedakan uang 1,3 triliun dengan 6,7 triliun. Bisa jadi mereka sesumbar, “Hayo siapa yang mau melawan kami? Kalau macem-macem, kami akan panggil Densus 88 agar mengejar orang itu sebagai pelaku terorisme.”

Dalam dua kasus ini sudah sangat telanjang BETAPA DURHAKA elit-elit pemimpin di negeri ini. Rasa keimanan sudah tidak tampak lagi. Yang ada hanyalah permusuhan total kepada elemen-elemen Islam, dan memporak-porandakan ekonomi nasional sesuka hatinya.

Atas semua itu, ya wajar kalau Jawa Barat dan Jakarta akan dihancurkan. Mungkin suatu saat, kalau semua kedurhakaan ini tidak segera diperbaiki dan ditaubati, bukan mustahil episentrum gempa suatu saat akan muncul di Cikeas, Bogor. Laa haula wa laa quwwata illa billah.

Lalu bagaimana sikap rakyat Indonesia kemudian?

Kalau melihat yang sudah-sudah, biasanya masyarakat akan sadar sebentar, istighfar sebentar, taubat sebentar. Setelah seminggu dua minggu, mereka juga akan HEDONIS lagi. Mereka akan lagi menyembah TV, menyembah vokalis band, menyembah konser-konser, menyembah selebritis, menyembah tontonan bola, menyembah media pornografi, penipuan bisnis, menipu timbangan, korupsi lagi, berzina lagi, melacur lagi, berjudi lagi, narkoba lagi, dll. Tidak lupa, mereka juga akan menjelek-jelekkan Islam, menuduh teroris sesuka hati, membenci aktivitas masjid, membenci kaum santri, membenci dakwah Islam, dan seterusnya.

Bukan aku berharap kenyataan buruk itu akan terus terulang. Tapi betapa miskinnya masyarakat ini dengan sikap kritis, dan betapa mereka telah mengagung-agungkan hiburan TV. Nah, semua itu membuat mereka tumpul, tidak peka, mudah dibodoh-bodohi. Kenyataan seperti ini bukan sekali dua kali terjadi.

Bahkan, sejujurnya yang saya takutkan, gempa Tasikmalaya ini hanya merupakan “DP” sebelum “paket sebenarnya” datang untuk meremukkan kehidupan seremuk-remuknya. Na’udzubillah min dzalik.

‘Ala kulli haal, janganlah kita lemah dan berputus-asa. Allah Ta’ala tidak akan mengecewakan orang-orang beriman. Allah akan menyelamatkan hamba-hamba-Nya yang tetap istiqamah membela agama dan menerangi Ummat Muhammad Saw dengan kebaikan. Alhamdulillah Rabbil ‘alamin.

Ya Allah, aku takut, aku panik saat gempa itu…sampai aku lupa bahwa anakku masih tertidur lelap di tempat tidur. Dia tidur untuk melawan rasa lapar karena memenuhi perintah-Mu melaksanakan shaum di bulan Ramadhan.  Ya Allah ampuni diriku dan ampuni saudara-saudaraku kaum Muslimin di negeri ini. Perbaikilah hidup kami, perbaikilah zhahir bathin kami, agar Engkau tidak memurkai kami. Amin Allahumma amin.

Wallahu A’lam bisshawaab.

== AMW ==