Konflik Mesir dan Logika “Rampok”

Agustus 24, 2013

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Dunia Islam saat ini benar-benar geger dengan kondisi terakhir di Mesir, khususnya setelah pembantaian “Tragedi Rabu” 14 Agustus 2013 yang menimbulkan terbunuhnya ribuan kaum Muslimin pro Presiden Mursi. Dunia seakan bertanya-tanya: “Inilah agenda politik yang diperjuangkan kelompok Tamarod? Mereka ingin keadilan politik atau pembantaian?”

Jangan Menjadi Sekutu Perampok (Kekuasaan)!

Jangan Menjadi Sekutu Perampok (Kekuasaan)!

Meskipun begitu, banyak beredar pemikiran-pemikiran aneh, menyeleweng, menyesatkan, dan mengesankan si penyebar pemikiran seperti itu tidak memiliki koridor akal sehat yang layak ditimbang. Mereka berargumen secara sulas, dengan logika-logika aneh, mencari-cari dalil untuk memenuhi ambisinya (menjaga kepentingan raja-raja monarkhi Arab).

Di antara pemikiran yang beredar itu, katanya:

“Sebaiknya rakyat Mesir jangan demonstrasi lagi. Ayolah pulang ke rumah. Terimalah kudeta dengan ikhlas, jangan ditolak. Maafkan pelakunya. Cara ini lebih baik, untuk menyelamatkan nyawa kaum Muslimin Mesir. Darah sudah tumpah, jangan ditambah lagi. Jangan karena posisi jabatan, harus mengorbankan nyawa banyak manusia. Kita tahu semua, militer Mesir sangat kejam dan sadis, maka itu jangan dilawan, Kita tak memiliki kekuatan. Mereka pun belum tentu bisa disebut kafir.” Dan lain-lain logika.

Orang-orang itu sangat tidak jujur dalam berpikir dan membangun opini. Mereka melukapakan banyak fakta-fakta yang sengaja tidak ditampakkan. Mereka menjadikan dalil-dalil Syariat sebagai kendaraan untuk melayani hawa nafsu dan kekuasaan (raja-raja monarkhi Arab).

Mari kita lihat sekilas kesalahan-kesalahan berpikir mereka…

[1]. Ikhwanul Muslimin dan pendukungnya hanya berusaha mempertahankan hak-hak politik yang telah mereka peroleh secara SAH, melalui mekanisme yang telah sama-sama dimaklumi (pemilu). Mempertahankan hak sampai titik darah penghabisan adalah bukti bahwa kita MENGHARGAI dan MENSYUKURI nikmat yang Allah limpahkan. Maka itu Nabi Saw bersabda: “Wa man qutila duna maalihi wa huwa syahid” (siapa yang terbunuh karena mempertahankan hartanya, dia mati syahid). Itui baru harta yang sifatnya privat dan terbatas; lalu bagaimana kalau memperjuangkan kekuasaan yang akan digunakan untuk memperbaiki kehidupan Muslimin seluruh Mesir? Apa itu tidak lebih afdhal?

[2]. Posisi Ikhwanul Muslimin saat ini sedang dizhalimi. Seharusnya, kita membantu mereka dan menahan tangan orang-orang yang menzhaliminya. Rasulullah Saw bersabda, “Al Muslimu akhul muslimi, laa yazhlimuhu wa laa yuslimuhu” (Muslim itu saudara Muslim yang lain, jangan menzhaliminya dan jangan membiarkannnya dizhalimi). Kok sekarang malah berkembang ajakan, agar Muslim Mesir menerima begitu saja penzhaliman hak-hak mereka? Masya Allah, begitu khianat manusia-manusia penyeleweng itu.

[3]. Kalau kita menyuruh Muslimin Mesir agar pulang ke rumah, jangan menuntut hak-hak dengan demo, “pulang saja dan duduk manis di rumah”, dan seterusnya. Maka hal ini sama saja dengan MENOLONG ORANG-ORANG ZHALIM, MEMULUSKAN AGENDA MEREKA, SERTA MENOLONG TUJUAN MEREKA untuk merampas hak-hak kekuasaan dari tangan kaum Muslimin (IM). Maka seruan demikian adalah kejahatan besar dalam Islam. Justru kita menyerukan kepada kaum Muslimin Mesir agar terus menuntut hak-hak kekuasaan mereka, sekalipun hanya tinggal satu orang Muslim yang tersisa. Kalau mereka pulang, tidak menuntut lagi, JUSTRU itulah yang ditunggu oleh koalisi militer penindas, sekuler-liberal, Koptik, Zionis Yahudi, Amerika dan Uni Eropa, Syiah Rafidhah, dan seterusnya. Ini adalah JIHAD, kaum Muslimin harus mempertahankan hak-haknya sampai titik darah terakhir!

[4]. Militer Mesir sebenarnya sudah melemah, sejak Revolusi Januari 2011. Yang membuat mereka jadi kuat, beringas lagi, dan menindas, adalah datangnya bala bantuan dana, peralatan, dan strategi dari Amerika, Israel, Saudi, Emirat Arab, dan lainnya. Masuknya bantuan itulah yang membuat mereka punya daya lagi untuk membantai rakyatnya. Harusnya manusia-manusia menyeleweng itu sadar akan hakikat ini, mereka segera bertaubat, dan pensiun dari menyesatkan kaum Muslimin.

[5]. Ketika terjadi pembantaian manusia, sampai gugur ribuan nyawa, jangan menyalahkan Ikhwanul Muslimin; karena bukan mereka pelaku kekejaman itu; mereka menempuh cara damai; mereka berhak menuntut hak-haknya. Aneh sekali logika manusia itu. Misalnya ada ibu masuk pasar sambil pakai kalung emas, lalu dijambret penjahat. Bukannya kita mengejar penjahat dan mengembalikan hak sang ibu, kita malah berkata menyalahkan si ibu: “Ibu sih biang keroknya. Ibu ke pasar pakai kalung emas. Sudah tahu banyak penjahat, malah pakai kalung emas.” Harusnya kejar dulu sang penjahat, ambil kalung sang ibu, serahkan ke pemiliknya; setelah itu baru nasehati sang ibu. Ini cara yang adil, bukan main salahkan korban. Banyak manusia berlogika seperti orang tidak waras

Singkat kata, untuk memahami bagaimana situasi di Mesir saat ini, caranya mudah. Mari berpikir tentang kejadian perampokan.

Misalnya rumah Anda dirampok sekawanan rampok. Rumah Anda mereka duduki, lalu Anda dan semua anggota keluarga diusir dari rumah. Setelah itu, si perampok membuat plang besar: “Rumah Ini Milik Keluarga Dalton”. Dalton adalah si pemimpin perampok. Setelah itu, Pak RT, RW, Lurah, dan lainnya sepakat mengakui rumah milik keluarga Dalton. Malah mereka memasang polisi untuk menjaga keluarga Dalton. Tidak lupa Pak Lurah berpesan, “Kalau ada yang menuntut keluarga Dalton, ketahuilah dia adalah TERORIS.”

Jika kejadian ini terjadi, bagaimana sikap Anda? Apa Anda akan menyalahkan diri sendiri dan keluarga? Apa Anda akan memaafkan, mengikhlaskan, dan mendoakan keluarga Dalton? Apa Anda akan mencarikan dalil-dalil Al Qur’an dan Sunnah untuk membenarkan perampokan keluarga Dalton?

Wahai manusia, wahai aktivis, wahai orang berakal, wahai ustadz kibar, wahai syaikh ‘alim… dimana akal kita atas logika perampokan ini?

Apapun jawaban Anda, maka Allah akan memperlakukan Anda tidak jauh dari jawaban yang Anda lakukan. Siapa mendukung perampok, nanti dia akan dirampok; siapa membela korban, maka dia akan dibela. Mengapa demikian? Karena kini kita sedang bicara tentang hak-hak kaum Muslimin, hak harta, darah, kehormatan, agama, dan kehidupan mereka. Siapa yang membela Umat, Allah akan membelanya; siapa yang membela perampokan atas Umat, maka dia akan menjadi korban kejahatan yang sama. Dalam ayat: In ahsantum ahsantum li anfusikum, wa in asa’tum fa laha (kalau kalian berbuat baik, kebaikannya untuk diri kalian sendiri; kalau kalian berbuat jahat, akibatnya akan menimpa kalian juga. Al Israa’: 7). Berhati-hatilah dari kejahatan menjadi sekutu perampok, secara tidak disadari.

Semoga bermanfaat. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamiin.

(Abine Syakir).

Iklan