Indonesia CINTA MATI Terorisme

April 21, 2011

Banyak yang aneh di negeri ini. Lalu orang berseloroh enteng, “Kalau tidak aneh, bukan Indonesia, dong? Siapa dulu? Kita, bangsa Indonesia, top master untuk urusan yang aneh-aneh. Hayolah kawan, anehkan dirimu, anehkan hidupmu, Indonesiakan darahnya. Oh ye? Gitu tho? Oke, oke, aneh!”

Soal TERORISME…ah sudahlah. Ini kan hanya hiburan saja. Nikmati sajalah… Ini hiburan, semacam sinetron Cinta Fitri yang episodenya tidak entek-entek itu. Mungkin, menjelang kedatangan Imam Mahdi nanti, sinetron tersebut baru tammat. Isu teroris di Indonesia, tidak usah dibuat pusing. Itu sami mawon dengan sinetron-sinetron itu.

Di Indonesia kan ada Densus88. Sampai tahun 2010 nama Densus88 terus berkibar. Sekarang ada badan tersendiri, namanya BNPT (Badan Nasional Penanggulangan Terorisme). Ini lembaga resmi negara. Namanya lembaga negara, pasti ada ongkos operasionalnya kan. Itu pasti. Misalnya, di Indonesia tidak ada terorisme, terorisnya habis bersih disikat aparat keamanan. Misalnya begitu. Lalu apa kerja BNPT dong? Ya gak ada kerjaan. Kalau gak ada kerjaan, sementara anggaran jalan terus, jadinya bagaimana? Ya, pasti dibubarkan.

Sinetron Tak Kenal Tammat.

Maka ramainya pembicaraan soal terorisme itu sama dengan: memberi nyawa yang panjang bagi BNPT. Kalau negara merasa terancam, BNPT akan panen pekerjaan, sekaligus tentu panen anggaran. Kalau isu terorisme berakhir, ya pasti penghasilan akan terancam. Iya kan.

Sama juga media-media massa. Isu terorisme itu semacam “lumbung padi” bagi mereka. Para wartawan media tak peduli efek apapun dari pemberitaan soal terorisme. “Yang penting ada berita, yang penting ratting acara tinggi, yang penting iklan nyedot terus. Soal A, B, C, D, E, F, G, H… itu soal lain. Yang penting cari makan dulu, buat anak-isteri.” Cuma buat makan anak-isteri Pak? Ya tidak. Ada plus-nya. Plus-nya apa? Nambah koleksi mobil baru, beli gadget baru (seperti Arifinto itu lho), masuk kafe “kopi luwak” yang bergengsi itu, nonton final Piala Champions dari pinggir lapangan, pelesir ke Macao, Hawaii, minimal Singapore lah.

Berita yang dimuat seputar darah, air mata, dan nyawa manusia…tetapi outputnya untuk jalan-jalan ke Pataya, Paris, Dubai, dan seterusnya. Kalau ditanya, kok gitu sih? Jawabnya enteng, “Dunia ini hanya panggung sandiwara. Ceritanya mudah berubah-ubah.” Ya, kalau tahu panggung sandiwara, mengapa mereka mau memainkan peranan Dasamuka, Rahwana, Buto Ijo, dan kawan-kawan? Pilih peran yang bagus dong!

Ya itulah Indonesia, sebuah negeri yang aneh, menganehi, dan sekaligus teranehi. [Anda paham maksudnya? Kalau tidak paham, bilang saja “pass”. Saya juga “pass” kok].

Pak Jero Wacik dari Kementrian Budaya dan Pariwisata. Dia berusaha keras melariskan obyek-obyek wisata di Indonesia. Begitu semangat sampai hampir ketipu. Ceritanya, soal Komodo mau dimasukkan dalam salah satu ikon “7 Keajaiban Dunia”. Ternyata, yayasan internasional yang mengadakan even penganugerahan gelar “7 keajaiban dunia” itu memakai cara seperti “debt collector”, suka maksa-maksa. Kalau Indonesia mau Komodo masuk daftar “7 keajaiban dunia”, Indonesia harus setor dana sekian juta dollar, dan Indonesia harus mau mengadakan acara penganugerahan predikat “7 keajaiban dunia” itu.

Ya, mirip modus orang-orang kita. Mau cari duit, tetapi berliku-liku, dengan retorika tinggi. Tentu Pak Jero Wacik menolak keras. Gak mau aku. Nanti, malah ketipu lagi. Begitulah, salah satu bukti keseriusan Pak Menteri dalam soal kampanye wisata obyek-obyek menarik di Indonesia.

Tetapi dalam soal terorisme ini, efeknya sangat kuat bagi sektor wisata di Indonesia. Bukan hanya wisata, tetapi juga investasi, kunjungan bisnis, kunjungan studi, kerjasama sosial, dll. Setiap negara yang diobral media sebagai “sarang teroris”, pasti akan sangat dirugikan nama baiknya. Sektor wisata rusak, investasi rusak, bidang sosial rusak.

Siapa yang merusak? Ya, tentu saja para pelaku teror, para pemimpin BNPT, para pengamat terorisme, media-media yang getol memberitakan isu terorisme. Mereka ini kan sama saja dengan “seolah membela negara”, padahal pekerjaannya “merusak kepentingan negara”.

Dalam isu terorisme ini, sebaiknya rakyat Indonesia mendengar analisis Dr. AC. Manullang. Kata beliau, isu terorisme itu hanya bikin-bikinan saja. Teroris sejati di Indonesia tidak ada. Andaikan ada, maka teroris itu akan dicegah terlebih dulu dengan aksi “kontra intelijen” sebelum ia pecah. Beliau bahkan meyakinkan bahwa tuduhan kepada Abu Bakar Ba’asyir adalah mengada-ada. Tidak ada bukti material ke arah sana.

Memang, di balik isu terorisme ada multi kepentingan. Pihak aparat ingin mendapat anggaran dana; pihak pelaku ingin mendapat ketenaran; pihak media lagi-lagi berdalih “cari makan buat anak-isteri”.

Seharusnya, kalau bangsa Indonesia SEHAT lahir-batin, jangan suka membesar-besarkan masalah terorisme ini, sebab efeknya merusak kepentingan bangsa sendiri. Merusak kepentingan wisata, investasi, bisnis, sosial, dll. Kalau perlu aksi terorisme itu ditutup-tutupi, atau diklaim sebagai kasus kriminal biasa saja, agar tidak merusak kehidupan umum. Ya, namanya KELICIKAN pasti hasilnya adalah KERUSAKAN. Itu pasti!

Inilah anehnya Indonesia. Aneh, aneh, aneh betul. Kok mau-maunya negeri ini dijuluki “sarang teroris”. Padahal julukan itu sangat merepotkan dan memiskinkan kehidupan bangsa.

Kalau bangsa lain sangat membenci mafia, narkoba, pornografi, kekerasan; maka Indonesia justru “cinta mati” dengan isu terorisme. Hebatnya, dari isu yang “gelap gulita” nanti dipakai untuk menghantam lawan-lawan politik. Aneh kan…ya sangat teraneh-anehi, menganeh-anehkan, plus diperanehkan. [Kalau tidak mudeng, bilang “pass”. Aku sudah “pass” duluan…].

Oke lah…santai aja soal terorisme. Jangan termakan propaganda media. Kalau ada yang memfitnah, menyudutkan, berbohong, dll. ya doakan saja yang bersangkutan agar sadar. Kalau dia maniac, doakan agar mendapat laknat Allah yang sempurna. Ingat, semua ini just sinetron. Not else.

AM. Waskito.

Iklan

Awas: Adu Domba TNI dan Ummat Islam!!!

September 25, 2010

Sejak lama banyak kalangan Islam tidak yakin dengan segala isu terorisme. Dari sekian panjang proses pemberantasan terorisme, sejak 12 Oktober 2002, banyak pihak meyakini bahwa terorisme adalah fenomena yang diciptakan sendiri oleh Polri. Mereka yang menciptakan semua itu, mereka yang kerepotan, lalu urusan negara dikorbankan.

Mengapa dikatakan demikian?

Pertama, mantan Kepala BIN di jaman BJ. Habibie, Mayjend ZA. Maulani pernah diminta MUI untuk mencari fakta seputar kasus Bom Bali I di Legian Bali. Setelah melihat fakta-fakta kerusakan dahsyat yang ada, beliau tidak percaya bom sedahsyat itu dibuat oleh Imam Samudra Cs. Masalahnya, teknologi bom Pindad pun belum setaraf itu. Jadi sejak tahun 2002 isu terorisme ini sudah digugat oleh para ahli.

Kedua, sejak era tahun 80-an sampai tahun 2000, tidak pernah terjadi kasus-kasus terorisme di Indonesia. Baru sejak Bom Bali I 12 Oktober 2002, terjadi terus-menerus peristiwa teror di Indonesia. Dan terjadinya hampir setiap tahun. Sempat terhenti sejak tahun 2005, lalu terjadi lagi dengan ledakan bom di JW Marriot – Ritz Carlton tahun 2009 lalu. Pada mulanya bangsa Indonesia tidak pusing oleh kasus-kasus terorisme ini, tetapi sejak tahun 2002, kasus teror seperti menjadi rutinitas.

Otak Pemfitnah Ummat! (sumber: inilah.com).

Ketiga, hampir di semua kasus terorisme yang diungkap Polri, selalu menyisakan tanda tanya dan misteri yang semakin menggunung. Contoh, dalam kasus Aceh, ada puluhan pemuda Islam sedang latihan jihad untuk menuju Ghaza, karena tahun 2008 lalu terjadi Tragedi Ghaza yang sangat memilukan. Lalu mereka diklaim sedang latihan untuk menyerang Presiden RI saat peringatan 17 Agustus 2009. Bahkan yang terakhir, seorang remaja Yuki Wantoro dituduh terlibat perampokan Bank CIMB. Padahal ada bukti valid yang menjelaskan, bahwa saat perampokan itu terjadi Yuki sedang di Solo, nonton berita perampokan dari TV.

Keempat, Polri terus-menerus mengklaim telah melakukan pemberantasan terorisme sebaik-baiknya. Tetapi nyatanya, aksi-aksi kekerasan tidak semakin mereda, bahkan semakin berkembang. Andaikan mereka jujur dalam isu terorisme, bukan menjadikan isu itu sebagai “komoditas nafkah”, tentu masalah ini sudah bisa diselesaikan sejak lama.

Kini masalah terorisme menjadi semakin serius, dengan rencana melibatkan TNI dalam pemberantasan apa yang diklaim oleh Polri sebagai terorisme itu. Baru-baru ini Pemerintah membentuk badan yang bernama BNPT (Badan Nasional Penanggulangan Terorisme). Hakikat badan ini dijelaskan oleh Bambang Hendarso Danuri, “Teman-teman dari TNI dalam momen tertentu jika dibutuhkan kita akan libatkan detasemen-detasemen khusus yang dimiliki oleh tiap angkatan di TNI seperti Denjaka, Den Bravo dalam striking force bersama.” Hal itu disampaikan Bambang Hendarso di Rupatama Mabes Polri, di Jakarta Jumat 24 September 2010 (Sumber: http://www.inilah.com, 24 September 2010).

PERHATIKAN: Satuan ini merupakan kekuatan pemukul, yaitu merupakan penggabungan Densus 88 ditambah satuan elit TNI seperti Den Jaka, Den Bravo, dan Gultor Kopasssus. Jadi, pemberantasan terorisme di negeri kita tidak pernah berubah dengan pendekatan psikologi, sosial, humanitas, tetapi selalu dengan prinsip sikat, sikat, sikat habis. Persis seperti aksi-aksi brutal Densus 88 selama ini. Hanya nanti, akan ditambah anggota dari satuan elit TNI. Istilah striking force itu bukan pendekatan manusiawi, bukan pendekatan sosial, atau kultural, tetapi pendekatan: Sikat habis!

Lalu, kira-kira apa yang nanti akan terjadi di Indonesia?

Dapat dipastikan, di negara ini eskalasi konflik antara Ummat Islam dengan pemerintah akan semakin hebat. Betapa tidak, selama ini Ummat Islam telah sedemikian rupa dalam mengkritik, mengecam, dan mengoreksi aksi-aksi oleh Densus 88. Bukan hanya Ummat Islam, tetapi juga kalangan TNI, para cendekiawan, para pengamat yang jujur, dll.

Dengan dibentuknya BNPT itu sama saja dengan mengadu-domba Ummat Islam dengan TNI. Selama ini, jika ada konflik kepentingan, hanya antara Ummat Islam dengan Polri. Tetapi kini akan diperluas lagi, dengan melibatkan TNI, khususnya satuan-satuan elit. Padahal kita tahu, fondasi keutuhan NKRI ada di tangan kalangan Islam dan TNI. Jika kemudian kedua-belah pihak dihadap-hadapkan, seperti jaman Orde Baru dulu, jelas akibatnya sangat fatal bagi NKRI.

Demi Allah, Ummat Islam tidak suka dengan cara-cara teror, Ummat Islam tidak mendukung aksi-aksi terorisme yang merusak kehidupan. Tetapi masalahnya, apakah benar terorisme yang dituduhkan itu? Atau ia hanya rekayasa belaka untuk memojokkan Ummat Islam dengan memakai fasilitas kekuasaan negara? Kalau benar-benar ada aksi terorisme yang sangat merugikan, kita pasti mendukung ia diberantas. Tetapi jangan semena-mena menyerang Ummat Islam atas alasan terorisme!

Kenyataan yang sangat menyakitkan. Begitu mudahnya Kapolri menuduh ini teroris, itu teroris, lalu membuat fakta-fakta seenaknya sendiri. Tak lupa, Polri yang memang memiliki hubungan khusus dengan Karni Ilyas, mereka akan memakai TVOne, atau akan memakai MetroTV untuk menjelek-jelekkan Ummat Islam, untuk membangun opini palsu.

Betapa tidak, dalam kasus latihan militer di Aceh, itu latihan legal yang diketahui aparat keamanan. Tujuannya, untuk persiapan Jihad di Ghaza, lalu diklaim sebagai terorisme untuk menyerang SBY di Jakarta. Video yang ditayangkan berulang-ulang di TVOne dan MetroTV itu adalah video latihan pemuda-pemuda Islam untuk persiapan ke Ghaza. Bagaimana bisa video ini lalu dibelokkan ke rencana menyerang SBY di Jakarta? Betapa tololnya pengelola media-media itu. Mereka sehari-hari makan-minum dari memfitnah Ummat Islam, menjelek-jelekkan pemuda Islam.

Yang paling parah ialah penggerebekan sebuah bengkel motor di Solo beberapa waktu lalu. Sebelum penggerebekan, aparat Polri melakukan persiapan di rumah makan, hanya sejarak 200 m dari lokasi. Ketika masuk bengkel itu, wartawan dilarang masuk dulu, aparat sedang “mempersiapkan” TKP. Begitu wartawan bisa masuk ke bengkel, disana senjata api, amunisi, peluru, dll. sudah ditata sangat rapi. Sudah digelar di lantai sangat rapi. Kalau boleh bertanya, “Itu para teroris sebenarnya lagi persiapan penyerangan, atau mereka mau jualan peluru ya? Kok cara menata peluru itu begitu rapi sekali?” Dan Kepala Dest Antiteror, Ansyad Mbai hadir dalam penggerebekan ke bengkel tersebut. Di TV ditayangkan kehadirannya.

Semua ini kan penipuan luar biasa. Polisi sendiri yang membuat-buat isu terorisme, mereka membuat kezhaliman luar biasa, atas nama pemberantasan teroris. Berapa banyak manusia yang akhirnya dirugikan, keluarga dirugikan, anak-isteri kehilangan ayah, kakak, paman mereka, akibat semua skenario itu? Yuki Wantoro yang tak tahu apa-apa tentang perampokan CIMB akhirnya menjadi korban sia-sia. Dia mati dalam keadaan tak bisa menuntut kezhaliman para polisi itu.

Wahai manusia Indonesia… Coba kalian pikir dengan akal kalian yang bersih, jika akal itu masih ada. Pernahkah akan tercipta keamanan negara, tentram, sentausa, dengan segala konspirasi penuh kezhaliman itu? Kezhaliman pasti akan menimbulkan mata rantai kerusakan sosial yang panjang. Hal ini akan menyebabkan dendam kesumat sosial secara luas di tengah masyarakat. Siapapun yang membuka pintu-pintu kezhaliman, dia tak akan bisa menutup pintu, hingga dirinya sendiri menjadi korban paling hina dari kezhaliman yang dilakukannya sendiri.

Kini masalahnya semakin serius. TNI hendak dilibatkan dalam konflik yang diciptakan oleh Kepolisian ini. Jelas akibatnya, eskalasi konflik itu akan semakin besar, semakin membara, semakin luas. Dan akibatnya kelak, jangan heran kalau NKRI akan lebih cepat hancur-lebur. Kalau Ummat Islam sudah membenci NKRI, Anda tidak akan memiliki kekuatan lagi untuk mempertahankan keutuhan negara ini.

Sekali lagi, kami bukan mendukung teroris, atau setuju dengan aksi terorisme. Tidak sama sekali. Tetapi kami sangat MENGGUGAT OPINI terorisme yang selama ini dikembangkan oleh Polri. Mereka seenaknya sendiri menuduh orang terlibat terorisme, menangkap, menembak mati, menyerbu, menggerebek, dan sebagainya. Mereka hanya bermodal opini tunggal di kepalanya sendiri, tanpa ada opini pembanding sama sekali.

Adapun Bambang Hendarso Danuri. Betapa zhalimnya orang ini, dengan segala penampilan dan retorikanya yang tampak santun. Semoga Allah melaknati dirinya, melaknati isteri dan anak-anaknya, melaknati keluarganya. Semoga Allah melaknati perwira-perwira Polisi yang berserikat dengannya dalam memfitnah Ummat Islam, dan melaknati siapa pun yang mendukung konspirasi zhalim atas kaum Muslimin di negeri ini. Semoga Allah melumpuhkan kekuatan mereka, sehingga mereka tidak mampu lagi berbuat zhalim kepada siapapun, selain menghancurkan diri mereka sendiri. Semoga Allah menyelamatkan bangsa ini dari manusia-manusia berhati syaitan. Amin Allahumma amin. Wa shallallah ‘ala Rasulillah Muhammad wa ‘ala alihi wa ashabihi ajma’in.

Semoga kita bisa mengambil sebaik-baik pelajaran.

AMW.