Blunder “Jilbab” Ani Yudhoyono

Mei 30, 2009

Masalah ini muncul ketika deklarasi pasangan JK-Win (baca: JK menang) di Tugu Proklamator. Waktu itu isteri kedua Capres dan Cawapres itu mengenakan jilbab. Bu JK sudah lama dikenal memakai jilbab. Bahkan sejak deklarasi pencalonan pasangan SBY-JK pada tahun 2004 lalu. Namun Bu Wiranto, baru tampak expossed dalam deklarasi kemarin itu. (Mungkin saya saja yang kurang tahu penampilan Bu Wiranto. Maybe…).

Penampilan isteri kedua tokoh tersebut segera mendapat tanggapan dari elit-elit PKS. Di antaranya Mahfuzh Siddiq dan Mabruri. Kedua tokoh ini memuji penampilan Bu JK dan Bu Wiranto itu. Misalnya Mabruri mengatakan, kalau isteri Capres-Cawapres berjilbab, lebih mudah mengkomunikasikannya ke para pendukung PKS di bawah. Mereka menyarankan agar Bu Ani Yudhoyono memakai jilbab.

Nah, masalah jilbab ini akhirnya menjadi blunder bagi Ummat Islam. Mengapa demikian? Karena akibat isu jilbab tersebut, banyak orang menuduh isu jilbab sengaja dipolitisasi. Malah sebagian orang tidak segan-segan mencela isu agama dalam ranah politik. Di MetroTV isu jilbab itu sempat menjadi bahan diskusi, termasuk dialog yang dibawakan Wimar Witoelar yang mewawancarai sosok ibu tertentu.

Satu pernyataan paling menyakitkan muncul dari lidah Burhanuddin Muhtadi. Dia disebut-sebut sebagai “pengamat politik”, sekaligus peneliti di LSI (Lembaga Survei Indonesia). Ingat, LSI itu lembaga survei yang selama ini cenderung berpihak ke kepentingan SBY. Hasil-hasil surveinya tidak kredibel, hanya mengagung-agungkan citra SBY. Bahkan sosok direktur LSI, Saiful Mujani, dia lebih layak disebut sebagai politisi Demokrat, daripada sebagai seorang ketua lembaga surve yang kredibel.

Burhanuddin Muhtadi mengklaim, bahwa politik agama, isu agama, atau simbol-simbol agama tidak laku lagi dalam kompetisi politik nasional dewasa ini. Dia lalu membuka data berupa kekalahan partai-partai Islam dalam pemilu 1999, 2004, termasuk dalam pemilu 2009. Kata dia, isu agama tidak laku lagi. Saya khawatir, orang seperti ini adalah manusia-manusia liberal yang berkedok pengamat politik.

Klaim buruk Burhanuddin Muhtadi (oh betapa bagusnya nama ini) di atas bisa dijawab sebagai berikut:

[Satu], dalam Pemilu 1999 perolehan suara partai Islam atau partai basis massa Islam, mencapai 34 % dari seluruh pemilih nasional. Tahun 2004 naik menjadi 38 %, namun tahun 2009 turun menjadi 28 %. Kalau dirata-rata, masih ada 30 % potensi pemilih di Indonesia yang berbasiskan faktor keislaman. Jadi, sangat bodoh kalau Burhanuddin Muhtadi mengatakan isu agama tidak laku lagi.

[Dua], pendukung terbesar koalisi SBY saat ini adalah partai-partai Islam atau basis massa Muslim. Semua orang sudah tahu betapa butuhnya SBY kepada partai-partai Islam itu. Tanpa keberadaan mereka, posisi Demokrat akan hancur dihajar partai-partai nasionalis lain. Ini berarti, dalam konstelasi politik, posisi perolehan suara partai Islam/basis Muslim itu masih sangat diperhitungkan. (Rasanya terlalu bodoh menyebut Burhanuddin Muhtadi sebagai pengamat politik. Orang ini sih lebih tepat disebut: pegawai biro statistik).

[Tiga], jika partai-partai label Islam dianggap merosot, bisa jadi. Tetapi posisi politik kalangan Islamis di Indonesia masihlah kuat, terutama yang ada di luar sistem Demokrasi. Mereka bahkan selama ini sengaja tidak ikut proses politik karena menolak demokrasi, atau kecewa dengan reputasi partai-partai label Islam. Kata siapa isu agama tidak laku lagi? Bahkan di masyarakat itu banyak sekali dinamika sosial-politik yang berangkat dari isu agama. Contoh, masalah UU Pornografi, aliran Ahmadiyyah, bunga bank, isu terorisme, fatwa golput, moralitas anggota dewan, dan sebagainya.

(Saya yakin betul manusia macam Burhanuddin Muhtadi itu termasuk kaum Liberalis, sebab cara-cara berpikirnya mirip dengan “the god father” kaum Liberaliyun, Ulil Absar Abdala. Mereka sama-sama sekulernya dan antipati dengan misi politik Islam).

Kembali ke isu jilbab…

Saya yakin, saat Bu JK atau Bu Wiranto memakai jilbab, hal itu bukan untuk promo, tetapi memang mereka demikian adanya. Wong, sejak lama Bu JK sendiri dikenal konsisten dengan jilbab yang selalu dia pakai. Mungkin, kalau ada promo-promo politik, ya itu sekalian jalan lah. Kata orang, “Sambil menyelam minum air.”

Maksudnya, hal seperti itu jangan ditanggapi berlebihan, sehingga saol jilbab akhirnya menjadi isu nasional. Bukan masalah apa, tetapi agama kita akhirnya dimaki-maki orang gara-gara isu jilbab itu. Akhirnya, Islam yang tercoreng, yaitu risalah tentang jilbab.

Soal misal Bu Ani atau isteri elit politik lain tidak memakai jilbab, ya biar saja. Kan itu pilihan masing-masing orang. Daripada sebagian orang dipaksa-paksa mengenakan jilbab, sedang hatinya menolak. Jangan sampai kita menyangka sedang memperjuangan syiar Islam, namun pada saat yang sama, peranan Islam malah dilecehkan. Seperti komentar-komentar bodoh yang keluar dari Burhanuddin “pengamat politik” Muhtadi itu.

Terimakasih. Semoga menjadi inspirasi! Amin.

AMW.