Foto Kenangan Sejarah

Januari 12, 2015

Berikut ini sebuah foto kenangan sejarah bangsa kita. Masih tersisa di antara tumpukan sejarah yang telah berkarat. Mari kita hayati, renungkan, dan resapkan di hati.

Jendral Soedirman dan Petinggi Militer

Jendral Soedirman dan Petinggi Militer

Dulu para pemimpin Islam dekat dengan struktur militer RI. Tapi sayang, seiring perjalanan bangsa, terlalu banyak fitnah yang menyuramkan hubungan antara militer dan Islam. Kaum Muslimin sering jadi sasaran fitnah. Sayang sekali.

Admin.


Orang Ini Mau Sekolah TK Lagi…

Januari 27, 2014

Ada komentar menarik dari seorang pembaca dalam tulisan “Antara PKS dan Wahabi“. Dia menyanggah tulisan itu. Tapi dia janji mulai besok akan sekolah TK lagi, kalau isi tulisan kami tersebut benar. Tentu saja, kami sangat ingin melihat dia melaksanakan janjinya. Maka perlu kami jelaskan tentang argumen-argumen di balik tulisan itu.

Ini komentarnya:

@ Gue ya gue…

Imam Bonjol, Jendral Sudirman, Bung Tomo, Dipenogoro WAHABI ????

Hahaha lucu yah ??? Saya mau ulang sekolah dari TK besok, mau pelajari kalau para pejuang di atas termasuk sosok Wahabi.

Artikel ngaku-ngaku gitu aja bisa gue buat. Jangankan para pejuang, Malaikat bisa gue aku-aku. Tapi gue gak berani karena pekerjaan salah.

Wahhhhhh bahaya nih. Refisi lagi al mukarom ustaz, dai, KH, penulis, tulisannya!

 

Besok Sekolah TK Ya !!!

Besok Sekolah TK Ya !!!

RESPON ADMIN: 

Imam Bonjol rahimahullah jelas perjuangannya di Sumatera Barat dipengaruhi dakwah Wahabi. Itu sangat jelas. Jarak antara meletusnya Jihad di Sumatera Barat dengan wafatnya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab hanya sekitar 40 tahunan.

Jendral Soedirman rahimahullah, seorang guru Muhammadiyah. Kan Muhammadiyah sejak lama disebut Wahabi oleh kaum NU. Buya Hamka menulis, bahwa sebelum Pemilu 1955 beredar desas-desus bahwa Masyumi (yang didukung Muhammadiyah) adalah Wahabi. Beliau menulis bahwa desas-desus itu disebarkan oleh kepentingan kolonialis-imperialis yang takut dengan daya revivalis kaum Wahhabi.  

Bung Tomo rahimahullah dikenal sebagai pejuang dalam Perang 10 November 1945. Beliau terkenal dengan pekik TAKBIR-nya yang luar biasa, melalui siaran-siaran RRI. Ada rekaman pidato beliau beredar di online. Bung Tomo sangat berani dalam menghadang tantangan Sekutu. Beliau juga dikenal sebagai “pendukung” perjuangan DI/TII. Beliau tidak rela dengan perlakuan pemerintah Soekarno-Soeharto kepada barisan DI/TII. Maka itu, pemerintah RI baru tahun-tahun kemarin mengakui kepahlawanan Bung Tomo, karena dukungan beliau kepada DI/TII Al Ustadz Kartosoewirjo rahimahullah.

Bung Tomo menghabiskan masa tuanya di Makkah sampai wafat. Sedikit banyak, beliau pasti menerima pengaruh Wahabi di Makkah. Mungkinkah beliau sama sekali bersih dari pengaruh dakwah Salafiyah di Makkah? Bisakah? Mungkin secara klaim beliau tidak berlabel Wahhabi, tapi pilihan beliau tinggal di Makkah, pasti ada alasannya. Lagi pula, dalam komitmen perlawanan melawan Sekutu, Bung Tomo punya kesamaan dengan para pemuda Wahhabi saat ini yang sama-sama berjuang menghadapi Sekutu (Amerika Cs).

Perjuangan Diponegoro rahimahullah juga terpengaruh Wahabi. Alasannya: (a). Perang Diponegoro bersamaan waktunya dengan Perang Paderi di Sumatera Barat; hanya berselang beberapa tahun saja; (b). Panglima Diponegoro, Sentot Alibasyah Prawiradirja, dipaksa Belanda untuk memerangi perlawanan Paderi. Ternyata, setelah terjun dalam peperangan, Sentot berbalik mendukung perjuangan Paderi; (c). Buya Hamka dalam buku sejarahnya menulis keterkaitan antara perjuangan Pangeran Diponegoro dengan dakwah Wahhabi.

Nah demikian, apa yang ditanyakan oleh @ Gue ya gue sudah kami jawab. Boleh saja dia membantah, asalkan dengan argumen-argumen juga. Jangan dengan komen-komen lebay. Kalau tidak bisa menghadirkan argumen yang lebih baik, dia harus laksanakan janjinya.

======= 🙂

ANDA HARUS MEMENUHI JANJI, UNTUK MULAI BESOK SEKOLAH TK LAGI. HARUS ITU! SESUAI JANJI ANDA. TOLONG KIRIMKAN FOTO ANDA SAAT LAGI DISUAPI BU GURU. SAYA BUTUH FOTO ITU, UNTUK “SELINGAN” DI BLOG INI. INGAT LHO YA, JANJI ADALAH HUTANG! ANDA HARUS LAKUKAN JANJI ANDA!!!

(Admin).

 


Kita Tidak Butuh Gelar Pahlawan!

November 20, 2010

ARTIKEL 05:

Hari Pahlawan, 10 November 2010, sudah berlalu. Tidak ada kesan apapun, tidak ada yang istimewa. Segala serba hambar, formal, dan dibuat-buat. Hari Pahlawan kini, seperti tahun-tahun sebelumnya, hanya menjadi basa-basi tanpa makna.

Sempat marak perdebatan seputar pemberian gelar pahlawan kepada mendiang Pak Harto dan Wahid. Keduanya mantan Presiden RI. Kalau Soeharto di jaman Orde Baru, Wahid di jaman Reformasi.

Tulisan ini tidak ada kaitannya dengan isu pemberian gelar pahlawan kepada kedua tokoh. Tidak, tidak ada koneksinya kesana. Lewat tulisan ini kita justru ingin bertanya-tanya: “Apa gunanya kita bicara soal gelar pahlawan? Apa ada manfaatnya pemberian gelar pahlawan bagi kehidupan rakyat Indonesia? Apa yang mau diteladani dari jejak orang-orang yang diberi gelar pahlawan?”

Indonesia adalah negara paling aneh di dunia. Jika ada negara yang paling banyak jendral-nya, itulah Indonesia. Jika ada negara yang paling banyak pahlawan-nya, itulah pula Indonesia. Jika ada negara yang paling banyak masjid-nya, sekaligus paling parah korupsinya, ya Indonesia. Kalau ada negara yang mengaku ber-Ketuhanan Yang Maha Esa, tetapi Pemerintahnya aktif mendukung kemusyrikan, adalah Indonesia. Kalau ada negara yang setiap tahun ratusan ribu rakyatnya berbondong-bondong naik haji ke Makkah, belum lagi yang Umrah, tetapi kondisi negerinya kerap sekali dilamun bencana alam, siapa lagi kalau bukan Indonesia. Kalau ada negara yang aparat hukumnya bekerja menjaga hukum dan sekaligus menjadi bandit hukum, Indonesia juga. Kalau ada negara yang mengeluarkan APBN 20 % untuk sektor pendidikan, pada saat sama negara itu terus mengembang-biakkan kebodohan, kejahilan, ketidak-pedulian, kekacauan persepsi, perpecahan politik, dll. ya Indonesia lagi. Inilah negara teraneh di dunia.

Bangsa Indonesia tidak perlu bicara soal pahlawan, tidak perlu membuat gelar pahlawan, tidak usah capek-capek mengangkat ini itu sebagai pahlawan. Semua perbuatan itu percuma, tidak ada manfaatnya. Mengapa demikian?

Berikut alasan-alasannya…

[1] Apa artinya gelar pahlawan, kalau rakyat Indonesia tidak mengerti hakikat kemerdekaan dan kedaulatan? Pahlawan berjasa besar bagi bangsa, khususnya dalam meraih kemerdekaan. Lalu kalau bangsa ini sendiri tidak mengerti makna kemerdekaan, untuk apa ada pahlawan? Kita mengklaim sudah 65 tahun merdeka, tetapi tidak memiliki kedaulatan untuk mengatur negara sendiri. Contoh paling telanjang, beberapa bulan lalu seorang menteri keuangan negeri ini dicomot oleh Bank Dunia. Padahal dia masih aktif menjabat. Bukan karena sayang sama Sri Mulyani –semoga Allah membalas semua kezhalimannya-, tetapi betapa bangsa ini tak punya harga diri sama sekali. Begitu mudahnya lembaga-lembaga asing mencampuri urusan dalam negeri, sampai “membajak” pejabat yang sedang aktif. Mungkin, suatu saat giliran IMF akan membajak pejabat presiden.

PAHLAWAN: Deretan Gambar Tanpa Makna...

[2] Selama ini bangsa Indonesia sudah kebanyakan pahlawan. Semuanya saja mau diangkat menjadi pahlawan. Sampai seorang tokoh yang berani menghujat Al Qur’an dengan kata-kata, “Menurut saya, kitab suci yang paling porno di dunia adalah Al Qur’an. Ha ha ha…” Orang semacam itu mau diberi gelar pahlawan juga. Allahu Akbar. Mengapa tidak sekalian saja kita angkat Fir’aun sebagai pahlawan terbesar di dunia? [Aku mendoakan, dengan menyadari segala kelemahan diri dan Keagungan Rabbul ‘alamiin, andaikan nanti Abdurrahman Wahid benar-benar diangkat sebagai pahlawan nasional, semoga bangsa ini dilumat oleh bencana alam yang lebih mengerikan dari yang pernah terjadi selama ini. Biar mereka bisa merasakan enaknya akibat dari menghina agama Allah Ta’ala. Allahumma amin. Wa shallallah ‘ala Rasulillah Muhammad wa ‘ala alihi wa ashabihi ajma’in].

[3] Selama ini banyak pengkhianat-pengkhianat bangsa, antek-antek penjajah di masa lalu atau masa kini, ikut-ikutan diangkat sebagai pahlawan. Banyak tokoh-tokoh di era Boedi Oetomo dulu, era pergerakan, era kemerdekaan, bahkan era Reformasi yang menjadi antek penjajah asing. Orang seperti Adam Malik saja, ada yang mencurigainya sebagai antek asing. Lalu mereka dimasukkan sebagai pahlawan. Ini sama dengan mewariskan sejarah penipuan secara sistematik.

[4] Sejak lama bangsa Indonesia sudah sbiasa bersikap tidak fair. Dalam menentukan kriteria pahlawan berlaku hukum like or dislike. Tokoh seperti Soekarno dipuja-puja setengah mati. Sementara tokoh pejuang Muslim seperti Syafruddin Prawiranegara –rahimahullah- tidak diakui kepahlawanannya. Mau tahu jasa beliau? Beliau adalah Presiden RI dalam pemerintahan darurat di Bukit Tinggi. Ketika itu Pemerintah RI yang rersmi tidak ada, karena dikudeta oleh Belanda, sehingga negara kita tidak memiliki pemerintahan. Saat itu Mr. Syafruddin Prawiranegara mendeklarasikan PDRI (Pemerintah Darurat RI) di Bukit Tinggi. Andaikan tanpa gerakan ini, RI bisa habis disingkirkan oleh Belanda (NICA). Bahkan bangsa ini juga TIDAK JUJUR saat menuliskan sejarah Daarul Islam (DI/TII). Terlalu banyak kepalsuan dan dusta. Jadi akhirnya makna pahlawan itu menjadi: “Siapa suka siapa?” Kalau ada yang disukai, dipahlawankan; kalau ada yang dibenci, diabaikan.

Baca entri selengkapnya »