“Berjihad” Demi Asing

Maret 4, 2010

Membela negara, membela masyarakat, membela kaum pribumi, membela tanah-air, membela rakyat kecil, membela masa depan anak-cucu, membela bangsa, dan lain-lain, tentu semua itu adalah KEBAIKAN. Sebagian orang menyebutnya sebagai PATRIOTISME. Kalau patriotisme diniati Lillahi Ta’ala, maka nilainya menjadi amal Jihad yang mulia.

Tetapi sangat lucu, kalau ada yang “berjihad” demi melayani kepentingan asing, yang tidak ada hubungannya dengan kepentingan rakyatnya sendiri. Orang asing yang berjiwa rakus, zhalim, semena-mena, hedonis, egois, dan seterusnya dibela; sementara rakyat sendiri yang terlantar, fakir-miskin berjuta-juta, pemuda-pemudi nganggur, kaum lemah, masyarakat marginal, dan seterusnya diabaikan. Rakyat lemah itu dianggap “sampah” yang membebani APBN, sehingga berbagai subsidi sosial yang seharusnya sudah wajar mereka terima, diamputasi dimana-mana.

Orang-orang asing tidak memiliki belas kasih, mereka tidak peduli dengan anak-anak dan isteri kita, mereka tidak peduli dengan keutuhan kita, persaudaraan, budaya konstruktif, martabat, serta posisi kita sebagai manusia yang mulia -selaku hamba Allah-. Mereka tidak peduli, sebab mereka datang selalu membawa missi kolonialisme, baik dulu atau sekarang. Hanya kemasannya saja berbeda, sedang esensinya sami mawon.

Kok bisa ya… ada yang berjihad mati-matian membela kepentingan asing, berjihad menipu rakyat sendiri, berjihad membiarkan pengerukan kekayaan nasional, berjihad merampas masa depan ekonomi, berjihad memperbesar beban hutang, berjihad menyelamatkan pejabat-pejabat kapitalistik, berjihad mengamankan bisnis asing, berjihad melindungi debitor-debitor penjarah harta negara, dan seterusnya. Kok bisa itu lho…

Kalau berjihad demi keadilan bagi masyarakat; berjihad demi kemuliaan martabat Ummat; berjihad demi kesejahteraan yang merata; berjihad menyelamatkan masa depan generasi; berjihad menyelamatkan lingkungan; berjihad memperbaiki moral publik; berjihad memuliakan kaum mustadh’afin, dan sebagainya yang semisal itu, ya dimaklumi. Tapi berjihad kok melayani kepentingan asing… Aneh.

Lihatlah hanya demi menyelamatkan dua pejabat tertentu, “JIHAD MAKSIMUM” digelar sejak berbulan-bulan, sampai menjelang “ketok palu”, sampai menjelang “voting”, bahkan sampai di ranah media. Banyak orang  menjelek-jelekkan wakil masyarakat yang sudah berjuang habis-habisan demi menuntut keadilan atas kasus bank tertentu. Namun semua itu semena-mena dicela. Katanya, “Wakil rakyat miskin etika. Tidak beradab. Memalukan! Memuakkan!” dan seterusnya. Tetapi kalau misalnya yang terpilih akhirnya “Vitamin A” (bukan Vitamin C), mereka pasti akan “berjihad” dengan cara lain, yaitu memuji-muji wakil masyarakat yang sukses memilih “Vitamin A” itu. Ya, di sekitar kita banyak dagelan yang mencla mencle.

Sungguh, sulit dimengerti. Kok ada manusia yang mau berjihad membela kepentingan kaum asing zhalim yang sudah terkenal kejahatan-kejahatan mereka kepada rakyat negeri ini? Kok bisa ya…

Kemungkinannya:

[1] Mereka hanyalah para “pencari kerja” belaka. Kebetulan basis profesinya di bidang itu. Kalau ada “majikan” lain yang bisa memberi gaji lebih baik, meskipun ide politiknya berbeda 180 derajat, ya akan mereka terima juga. Ya, ini sebenarnya domainnya Menteri Ketenaga Kerjaan.

[2] Mereka bagian dari gerakan kebatinan Freemasonry. Dulu perintis-perintis gerakan itu di Jawa, mereka bercita-cita ingin membangun Indonesia yang berbudaya Belanda. Raga pribumi, hati Belanda. Itu cita-cita ideologis. Sepertinya, sampai saat ini masih banyak penerus cita-cita seperti itu.

[3] Mereka bagian dari missi asing itu sendiri. Intinya, majikan mereka memang orang asing sono. Mereka digaji sebagai komprador (atau bahasa keren-nya, jongos). [Lho ada itu, seorang tokoh kandidat wakil presiden tertentu. Saat mencalonkan diri sebagai calon wakil presiden, dia masih tercatat sebagai anggota dewan eksekutif IMF. Ini nyata, tidak mengada-ada].

Ternyata, yang berjihad itu bukan hanya para pejuang di Irak, Afghanistan, Palestina, dan lainnya. Bukan hanya Diponegoro, Imam Bonjol, Jendral Soedriman, Bung Tomo, dan lainnya. Bukan hanya ormas Islam, jamaah dakwah, pesantren Islam, aktivis mahasiswa, media Islam dan seterusnya. Ternyata, yang berjuang untuk asing banyak juga.

Kedua arus itu NYATA dan ADA. Mereka memiliki kekuatan, ideologi, sekaligus memiliki sejarah masing-masing. Para pejuang Islam di masa lalu melahirkan anak-keturunan pejuang; sedang para pengkhianat masa lalu, juga melahirkan pengkhianat-pengkhianat juga. Tetapi ada kalanya juga, dari rahim pejuang Islam masa lalu, lahir keturunan pengkhianat; begitu pula dari rahim pengkhianat di masa lalu, lahir perjuang Islam. Ya Allah Ta’ala berbuat apapun yang dikehendaki-Nya.

Kalau mau merasakan HIDUP SEBENARNYA, jadilah para pejuang yang ikhlas menolong urusan-urusan Ummat Islam. Fokuslah dalam bidang ini, maka Allah akan menolongmu dengan segenap karunia dan rahmat-Nya. La yanshurullahu man yanshuruhu (Allah benar-benar akan menolong siapa yang menolong-Nya). Tolonglah Allah, maka engkau akan ditolong-Nya! Apapun profesi dan kedudukanmu, tolonglah Allah, maka engkau akan ditolong-Nya. Itu pasti dan mutlak!

Jangan pernah lelah dan menyesal meniti perjuangan. Maka Allah akan selalu sedia menyantunimu, saat engkau membutuhkan-Nya.

AMW.