Kualitas Seks Manusia Zaman Modern…

Juli 16, 2012

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Biasanya di masa-masa menjelang Ramadhan, ormas-ormas Islam mulai sibuk dengan penentuan awal Ramadhan. Sidang Itsbat Departemen Agama, tentu yang dinanti-nanti. Meskipun ada juga yang sudah menerapkan tradisi “mencuri start” sebelum yang lain…he he he. Tahulah, siapa dia.

Tapi selain soal awal Ramadhan, ormas Islam biasanya juga mulai sibuk ingin menertibkan tempat-tempat maksiyat. Ya semacam night club, diskotik, bar, hotel dipakai prostitusi, kafe remang-remang, tempat mesum berkedok SPA, dll. Ini bukan pekerjaan kecil dan ringan, karena memang tempat-tempat mesum itu rata-rata dijaga oleh oknum aparat polisi, TNI, dan birokrasi. Banyak orang ternyata sama-sama menggantungkan “periuk nasi” di tempat hiburan seperti itu. Disini kerap ada potensi bentrok.

Para backing aparat di balik industri mesum itu, mereka bisa beralasan: “Enak saja mau sweeping tempat-tempat bisnis ini. Kami tolak 100 persen! Hidup kami ada di atas bisnis beginian, tahu! Kami kasih makan anak-isteri, kami bayar uang sekolah, kami bayar uang listrik, beli pulsa telepon, beli bensin, bayar pajak, dll. dari sini tahu. Lo berani ganggu tempat bisnis ini, berarti lo nantang maut ya?” Sedang ormas-ormas Islam juga punya alasan, yaitu alasan MORAL, SPIRITUAL, dan KESUCIAN bulan Ramadhan.

Oke…kita coba mulai masuk ke tema pembahasan tulisan ini…

Godaan seks begitu menggiurkan… Tetapi itu hanya dalam pencitraan-nya. Dalam realitas, indahnya seks tidak bisa lepas dari MORAL.

Ada sebuah pertanyaan: “Mengapa dalam 10 tahun terakhir, bisnis mesum atau bisnis esek-esek, begitu laris dan banyak penggemar?” Karena larisnya, maka ketika tiba bulan Ramadhan pun, bisnis itu tidak mau diganggu. Jika ada ancaman gangguan dari ormas-ormas Islam, para pembela bisnis mesum itu bersatu-padu membela slogan: memasyarakatkan kemesuman dan memesumkan masyarakat! Masya Allah.

Ya, semua ini tidak lepas dari “logika ekonomi”…ada demand ada supply. Dimana ada permintaan, pasti disana ada penawaran. Ada banyak laki-laki mesum butuh nikmat seks ilegal, maka bisnis mesum akan menjamur. Sebaliknya, kalau kaum laki-lakinya moralis, kuat dalam memegang prinsip keluarga; bisnis begituan tidak akan laku.

Nah, disini kita saksikan adanya fenomena seks manusia modern… Seks yang dimaksud bukanlah seperti dalam koridor aturan agama, dalam batasan norma sosial atau etika; tetapi seks dengan rasa sangat berbeda. Ada yang menyebutnya seks ilegal (karena tidak sesuai aturan agama); atau seks amoral (karena memang sangat melanggar batas-batas moral); atau seks komersial (karena berkaitan dengan hukum jual-beli); atau seks transaksional (sebatas ruang lingkup transaksi bisnis); atau seks industri (karena dijalankan penuh dengan pendekatan industrialis).

Ciri-ciri dari seks manusia modern (maksudnya seks yang tidak legal di atas) antara lain:

[a]. Instan. Seks semacam itu hanya bersifat instan, serba terburu-buru; semata demi memenuhi syahwat pihak laki-laki saja, tanpa memberi hak-hak bagi pihak wanita. Kalau si laki-laki sudah puas, tiada hak seksual bagi lawannya.

[b]. Ilegal. Jelas seks demikian tidak sesuai aturan agama (Islam), tidak sesuai aturan negara, juga norma sosial. Siapapun yang melakukannya, akan selalu dihantui rasa takut, khawatir, dan gelisah.

[c]. Transaksional. Selain bertujuan semata memuaskan pihak laki-laki (itu pun kalau puas); seks ini hanya bernilai jual-beli. Ada yang beli, ada yang menjual. Sangat sulit berharap ada kesenangan disini, karena memang sifatnya komersial sesaat. Bayangkan, urusan seksual jadi seperti urusan membeli kerupuk, gorengan, atau kue di pinggir jalan.

[d]. Permukaan. Seks demikian kelihatan heboh, excited, wonderful, amazing… Tapi itu di permukaan saja kelihatan seperti itu. Dalam realitas sebenarnya ia jauh dari kepuasan atau kesenangan. Hampir seluruh upaya seks yang bergaya beginian, hanya heboh di pencitraan; tetapi secara makna kesenangan, hambar dan terlalu tergesa.

[e]. Beresiko tinggi. Jelas, seks demikian beresiko tinggi. Beresiko kehamilan di luar nikah, beresiko tidak ada yang bertanggung-jawab atau dicampakkan; beresiko aborsi; beresiko citra sosial jatuh atau hancur; beresiko terkena penyakit kelamin dan HIV; beresiko jatuh dalam pusaran narkoba dan bunuh diri. Belum lagi jika keluarga hancur, studi hancur, profesi hancur, jabatan hancur, dll. Nas’alullah al ‘afiyah min kulli dzalik.

[f]. Reduksi. Maksudnya, secara nikmat seksual, hanya sedikit kebaikan yang bisa diperoleh. Dalam kondisi demikian, tujuan puncak seorang laki-laki, hanya sebatas mengeluarkan -maaf beribu maaf sperma semata; begitu juga bagi pihak wanitanya, asalkan sudah ada penetrasi, sudah dianggap “sempurna”. Padahal dalam situasi hubungan suami-isteri yang normal dan wajar; nilai kesenangan yang bisa dicapai sangat besar. Dalam konteks seks instan, paling nilai kesenangan yang dicapai maksimal 10 % saja.

Mungkin pertanyaannya, “Bagaimana kalau yang melakukan seks ilegal itu orang-orang yang sudah berpengalaman berumah-tangga? Bisa jadi nikmatnya jauh lebih besar?” Mungkin saja begitu, tetapi resikonya sangat besar. Disana ada resiko kehancuran keluarga, resiko kehancuran profesi, hancurnya nama baik sosial, hancurnya jabatan…semua itu jauh lebih menyakitkan. Tidak sedikit lho, orang-orang tua dihukum anak-anak dan isterinya karena sekali saja melakukan selingkuh (seks ilegal). Mereka harus menatap hari tua dalam hukuman sangat menyakitkan. Ini hanya soal waktu saja…

[g]. Depressi. Ia adalah akibat umum di balik perilaku seks ilegal itu. Tidak ada yang membahagiakan dari seks ilegal. Paling kesan heboh, kesan wah, kesan meriah…ya kesan begitu ada; tetapi pada hakikinya setiap jiwa yang masuk dalam pusaran seks ilegal ini, mereka menderita. Itu saja!

[h]. Verbalitas. Dampak lanjutan, meskipun hal ini jarang disinggung, yaitu sejenis kualitas seks verbalitas. Apa tuh maksudnya? Maksudnya, sebagian orang yang tidak bahagia secara seksual itu sering kali ngomong jorok; becandanya jorok melulu; kalau bicara tidak jauh dari organ-organ genital dan aktivitasnya… Orang demikian, sejatinya tersiksa secara seksual; karenanya omongan jorok menjadi sasaran. “Gue gak bahagia nih. Gue gak pernah puas. Maka sasaran gue ialah ngomong jorok selama-lamanya…,” begitulah logika berpikir orang-orang itu.

Sebuah saran praktis ingin disampaikan, terutama kepada pemuda atau remaja Muslim, yang sehari-hari menghadapi kepungan godaan zina dari berbagai penjuru… Nas’alullah al ‘afiyah lana wa lahum jami’an.

Saudaraku…bila suatu ketika timbul dorongan syahwat luar biasa dalam dirimu, sehingga dengan dorongan itu tiba-tiba engkau ada niatan untuk memperkosa wanita di dekatmu, atau ingin berzina dengan pacarmu, atau ingin berzina dengan mencari pelacur… maka aku berikan nasehat sederhana kepadamu: “Dalam kondisi seperti itu, segeralah kamu masuk kamar mandi, lalu keluarkan sperma-mu disana. Jika sperma itu telah keluar, maka dorongan ingin memperkosa atau berzina itu seketika habis.” Dorongan itu ada selagi sperma masih ada di tempatnya; tetapi kalau sudah dikeluarkan, meskipun secara paksa; hal itu akan menghindarkan kamu dari bahaya zina, sodomi, memerkosa, dan sejenisnya.

Onani bukanlah perbuatan halal. Ia termasuk perbuatan haram. Tetapi haramnya jauh lebih kecil daripada perbuatan zina, prostitusi, sodomi, dll. Disini ada rahasia bagi mereka yang terjerumus ke dalam zina, sodomi, pelacuran…yaitu ketika muncul dorongan syahwat menggebu-gebu, ia disalurkan di tempat yang haram (bukan dengan isteri yang sah). Padahal jika dorongan syahwat (sperma) dalam diri itu sudah dikeluarkan, ia akan memadamkan niat berbuat jahat itu.

Tetapi jangan juga membiasakan melakukan onani, sebab hal itu bisa melemahkan tubuh, akal, dan ghirah seksualmu. Onani itu hanya sebagai “pintu sarurat” saja, ketika ada ajakan berbuat zina, sodomi, melacur di depan mata. Lebih utama, selamat, dan sangat ideal, jika kalian bersegera menikah. Menikah usia 20 tahun atau baru lulus SMA, tidak masalah. Pacaran setelah menikah jauh lebih indah, daripada pacaran sebelum menikah. You know, man?

Maling-maling moral, pembegal-pembegal kesucian, serta perompak-perompak susila…mereka selalu mengiming-imingi dirimu dengan indahnya zina, indahnya prostitusi, dan segarnya tubuh wanita-wanita nakal. Tetapi semua itu hanya tipuan pencitraan semata. Orang-orang yang memberikan iming-iming itu sendiri, mereka TIDAK MENIKMATI indahnya nikmat seks sama sekali. Mereka itu “sakit”, mereka berusaha mencari kawan untuk diberi “penyakit” yang sama.

Baiklah, di bagian akhir tulisan ini, aku sebutkan sebuah firman Allah: “Wa tilka hududullahi, wa man yatta’adda hududallahi fa qad zhalama nafsah” (itulah batas-batas aturan Allah, maka siapa yang melanggar batas-batas Allah, sesungguhnya dia telah menganiaya dirinya sendiri). At Thalaaq, ayat 2.

Semoga bermanfaat ya untuk menghindarkan diri, keluarga, dan Ummat dari bahaya perbuatan keji (zina, sodomi, prostitusi, dll). Amin Allahumma amin.

Admin.

Iklan