Dahlan Iskan Sebagai Dagelan, Monster, atau Panutan?

November 1, 2012

(Revised Edition).

Belum lama lalu, saya menerima sebuah SMS yang isinya cukup membuat dahi berkerut. SMS saya terima tengah malam, sekitar jam 01.15 malam, pada 1 November 2012. Bunyi SMS itu adalah sebagai berikut (setelah diedit dan disesuaikan dengan media blog):

“Uang rakyat 37 triliun dibuat main-main sama Dahlan Iskan. Budi Rahman Hakim menghilang. Kantornya di Gandaria City lantai 16 sudah bersih! Dengan mudah juga Dahlan mengalihkan substansi masalah yang dihadapinya (KKN 37 triliun di PLN) menjadi isu pemerasan DPR. Jadi skenario kasus “KPK Vs Polri” diulang lagi. Dia kaya karena Jawa Pos, sementara karyawan tetap sengsara. Dia (mau) jadi presiden, bangsa ini akan diprivatisasi! Anteknya Dahlan: Budi Rahman Hakim, Direktur Jawa Pos Grup, mengatur pergantian direksi BUMN. Bagi orang yang tak ngerti konstitusi seperti dia (Dahlan), jalan satu-satunya ya mainkan media, dan anteknya ialah: Detik.com, Jawa Pos, dan Tempo, untuk menggambarkan dia sebagai DIZHALIMI oleh DPR!”

Ketika Negara di Bawah Kekuasaan Para Badut (Pemuja Syahwat).

Setelah dimuat SMS ini, saya sampaikan ke narasumber, bahwa SMS-nya sudah dimuat di blog. Ternyata, dia mengirim tambahan-tambahan SMS baru. Lebih panjang lagi. Setelah saya baca, disana ada data-data yang terkait dengan SMS pertama. Setelah dipotong disana-sini, memenuhi masukan pembaca, isi SMS itu sebagai berikut:

Di audit BPK terlihat Dahlan Iskan memang menerima gaji dan semua fasilitas PLN. Jadi tidak benar bila dia tidak mengambil gaji atau fasilitas PLN. Total kerugian negara 37,6 triliun. Ini adalah akumulasi dan kombinasi kesalahan manajemen, leadership, fungsi, dan strategi Dirut PLN (waktu itu Dahlan Iskan). Mekanisme kontrol di PLN berada pada titik terendah dan nyaris tidak ada, saat Dahlan Iskan jadi Dirut PLN. Internal audit dan Serikat Pekerja lumpuh. BPK juga menemukan inefisiensi dalam pemberian gaji dan renumerasi karyawan PLN yang berlebihan dan tidak sesuai dengan keuangan PLN. Di awal kepemimpinan Dahlan Iskan banyak masukan dari staf dan bawahan Dahlan Iskan mengenai kerugian PLN/negara ini, tapi selalu diabaikan.” (Selesai).

Isi SMS demikian sebenarnya tidak terlalu heboh, sebab kita sudah biasa membaca analisa demikian di media, tulisan-tulisan, atau forum-forum diskusi. Lagi pula, saya hanya sebatas menyalin dan memperbaiki sedikit redaksi SMS di atas. Kalau misal ada menteri/pejabat negara tidak mau mendapat analisa demikian, ya sebaiknya jangan jadi pejabat negara.

Tapi yang jelas, in general meaning, kita sangat membenci elit-elit nasional yang bermental bangsat. Mereka itu bobrok moral, khianat, hedonis sejati, memuja syahwat dan kekuasaan. Orang seperti itu kalau berkuasa sering dipuja-puja sebagai: pemimpin masa depan, harapan bangsa, sosok pendobrak, bapak kemajuan, pemimpin dengan visi ke depan, pahlawan pembangunan, manajer handal, dan seterusnya. Kasihan amat rakyat negeri ini. Tak henti-hentinya mereka diperdaya oleh dagelan, badut-badut kekuasan, serta monster-monster perusak kehidupan. Nas’alullah al ‘afiyah lana wa lakum fid dini wad dunya wal akhirah.

Menghadapi elit-elit sekuler, maniak hedonis, jangan ada rasa belas kasihan. No mercy for life destroyers! Manusia-manusia seperti itu menjadi sumber kehancuran kehidupan masyarakat, bangsa, agama, dan kehidupan.

Mine. 

Iklan