Sikap Berlebihan Menyikapi Kematian Uje

Mei 6, 2013

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Seperti kita tahu, Uje atau Ustadz Jefri meninggal 26 April 2013 lalu, dalam kecelakaan tunggal di Pondok Indah. Banyak orang merasa berduka, bersedih, terharu, merasa kehilangan, menunjukkan simpati, dan seterusnya. Media-media TV secara intensif membahas topik ini melalui aneka liputan, wawancara, berita, sajian infotainment, bahkan diskusi serius. Media online, surat kabar, tabloid, majalah juga tak mau ketinggalan mengupas isu yang sama.

Ketika Uje meninggal, adalah wajar kalau keluarganya sedih, teman-temannya sedih, para penggemarnya sedih. Itu wajar saja, namanya juga mengalami musibah. Tapi bersikap berlebihan dalam hal seperti ini tidak boleh, seperti meratapi kematian, histeris, memuja-muja sosok Uje, mencari berkah di kuburnya, dan sebagainya. Semua itu juga dilarang. Termasuk di dalamnya memuji-muji Uje setinggi langit, mengaitkan dirinya dengan hal-hal metafisik (ghaib), mengaitkan tanda-tanda alam dengan kematiannya; semua itu tak boleh dan tak layak dilakukan.

Mengapa Ada Kain Hitam di Keranda Ini?

Mengapa Ada Kain Hitam di Keranda Ini?

Saat putra Nabi Saw yang bernama Ibrahim wafat, waktu itu terjadi gerhana matahari. Orang-orang menyangka bahwa gerhana matahari terjadi karena wafatnya Ibrahim. Nabi Saw membantah anggapan itu. Beliau tegaskan bahwa masalah gerhana tidak ada sangkut-pautnya dengan wafatnya seseorang. Bahkan Nabi Saw kemudian men-sunnah-kan dilakukan Shalat Gerhana. Jadi tidak boleh berlebihan mengaitkan kematian seseorang dengan tanda-tanda alam.

Bagi orang yang cerdas, sikap berlebihan Ummat Islam terkait kematian Uje, jelas tidak proporsional. Seharusnya media-media massa juga rasional, bukan mengeksploitasi. Tapi masalahnya kan di era dewasa ini banyak hal “bisa dijual” seperti kemiskinan, kesusahan, kematian, juga tangisan. Itu sangat tercela. Nas’alullah al ‘afiyah.

Di balik wafatnya Uje, banyak bertaburan informasi-informasi yang “tidak bagus”; di luar informasi-informasi lain yang sengaja dibagus-baguskan. Hal ini perlu diingatkan lagi, agar Ummat Islam tidak berlebihan menyikapi tokoh seperti ini; juga tokoh semisal itu kalau nanti ada yang meninggal lagi.

Sebelum wafatnya Uje sempat menulis pesanĀ  ini: “Pada akhirnya… semua akan menemukan yang namanya titik jenuh.. dan pada saat itu..kembali adalah yang terbaik.. kepada siapa? Kepada DIA pastinya… Bismi_KA Allohumma ahya wa amuut.

Pesan demikian seakan menjelaskan kegalauan hebat yang sedang melanda kejiwaan Uje. Apakah terjadi benturan pemikiran, benturan kepentingan, atau apapun? Wallahu a’lam bisshawaab. Selain itu Uje juga mengaku merindukan ayahnya (Apih) yang telah wafat. Seolah dia ingin berada dalam pemahaman yang wajar seperti ayahnya, tanpa akidah yang aneh-aneh dan membuat kegelisahan hati.

Intinya begini, Uje sebagai bagian dari kerabat para dai atau guru-guru agama di Betawi, adalah sesuatu yang dihargai. Sedangkan posisi Uje sebagai penggiat “entertainment genre dakwah” adalah perkara munkar yang tidak boleh didukung, meskipun jutaan manusia menggemarinya. Dakwah Islam adalah dakwah ilallah, bukan entertainment dengan kemasan dakwah. Entertainment dakwah hanyalah produk industri media TV, bukan diniatkan untuk membangun kejayaan dan keberdayaan kaum Muslimin.

Lalu posisi Uje sebagai orang yang dibidik oleh dai-dai Syiah, lalu dipengaruhi untuk menganut paham seperti mereka; ini adalah perkara yang membuat Uje mengalami kejenuhan hebat. Dia seperti tak berdaya menghadapi aneka tekanan dari kanan-kiri. Di titik itu Uje merasa tak kuat menatap masa depan kehidupan lebih panjang. Tidak heran jika melihat dari kata-kata, perbuatan, atau pesan Uje yang bernada “pamitan”. Tuntunan Islam membawa damai, sedangkan ajaran yang menghalalkan caci-maki terhadap para Shahabat Nabi Radhiyallahu ‘Anhum, akan berujung nestapa.

Semoga tulisan sederhana ini bermanfaat menjadi tadzkirah bagi kaum Muslimin, bagi para penggemar Uje, dan juga bagi kami. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamiin, wallahu a’lam bisshawaab.

(Abi Syakir).

Iklan