Dakwah yang Melukai Hati

April 24, 2011

Bila Hati Sudah Terluka…

Dakwah artinya seruan, ajakan, atau bimbingan. Dakwah Islamiyyah berarti seruan atau ajakan untuk menetapi jalan Islam. Semua kata atau istilah yang berkaitan dengan dakwah selalu bercirikan lembut, bijaksana, hangat, mencerahkan, dan penuh empati. Dakwah tidak dihubungkan dengan jalan kekerasan, tekanan, paksaan, penipuan, dan sebagainya.

Namun suatu saat, suka atau tidak suka, kita bisa menghadapi kenyataan-kenyataan buruk, seperti berikut ini…

[a] Sebagian orang membenci Islam, membenci dakwah, membenci aktivis Muslim. Ketika ditanya, mengapa? Jawabnya, mereka melihat perilaku para pengurus lembaga Islam yang bersikap kasar/arogan kepada masyarakat kecil.

[a] Sebagian orang anti datang ke masjid. Mengapa ya? Katanya, sendalnya sering hilang, kran air wudhu sering mampet, WC tempat buang air sangat pesing baunya. Satu lagi, di masjid itu tak ada tempat sampah; manusia bebas membuang sampah dimana saja.

[a] Sebagian orang jengah ketika mendengar istilah ustadz. Mengapa? Sebab dengan mata kepala sendiri, mereka menyaksikan perilaku ustadz yang amoral, jauh dari akhlak mulia.

[a] Sebagian orang benci dengan pelatihan-pelatihan ekonomi Islam, benci dengan BMT, benci dengan komunitas bisnis Muslim. Mengapa lagi? Karena mereka punya pengalaman ditipu habis-habisan oleh “pebisnis Muslim”.

[a] Sebagian orang antipati dengan partai Islam. Mengapa? Karena partai itu hanya peduli dengan jabatan (kekuasaan), serta terlibat korupsi dan penyelewengan politik. “Halah, sama sajalah. Semua partai sama-sama rakus kekuasaan,” begitu katanya.

[a] Sebagian orang benci wanita-wanita berjilbab rapi. Kenapa mesti benci? Katanya, kaum wanita itu cenderung eksklusif dan sombong. “Mereka sih hanya mau gaul dengan ahli syurga. Kita dianggap calon ahli neraka kali yeee…,” kata mereka beralasan.

Sejujurnya, di tengah masyarakat Indonesia masih banyak yang memiliki iman lemah. Mereka mau menerima nilai-nilai Islam dengan syarat. Apa syaratnya? Ya, hati mereka senang melihat orang-orang Muslim memiliki akhlak baik, memiliki moral tinggi, memiliki idealisme, peduli dengan penderitaan masyarakat, berani menentang ketidak-adilan, dll. Melihat sikap yang mulia, hati mereka gembira. Karena itu mereka pun mau belajar Islam; mau mendatangi masjid; mau memakai nama-nama Islami; mau menyekolahkan anaknya di sekolah Islam, dll.

Selama mereka kagum dengan perilaku Muslim, selama itu pula dukungan mereka kepada dakwah Islam sangat kuat. Tetapi ketika perilaku-perilaku Muslim, khususnya orang-orang yang bergerak di dunia dakwah, mengecewakan; mereka pun menarik dukungan.

Betapa banyak saat ini masyarakat yang tidak simpati lagi kepada dakwah Islam dan para dai. Karena, perilaku para dai dianggap mengecewakan. Ada yang terlalu komersial; ada yang arogan; ada yang punya catatan buruk seputar moral; ada yang menipu dalam bisnis; ada yang mengeksploitasi harta-benda jamaah; ada yang memanfaatkan masyarakat untuk mencapai jabatan-jabatan politik, dll. Semua itu mengecewakan, membuat kesal hati, membuat marah dan sesalan.

Dakwah itu artinya seruan. Seruan bermakna lembut. Atau disebutkan sebagai karakter, Rahmatan lil ‘Alamiin. Namun dakwah-dakwah yang salah terbukti telah banyak melukai hati insan.  Alih-alih mau menyebarkan rahmat, malah muncul rasa benci yang sulit sembuh –kecuali jika Allah menyembuhkannya–.

Andaikan waktu bisa ditarik mundur, tentu kita ingin kembali ke masa-masa lalu, saat semangat berdakwah begitu kuat, sedangkan respon masyarakat kaum Muslimin begitu besar dalam menghargai dakwah. Namun apa daya kita menghadapi hasil dari “percobaan dakwah” yang penuh kesalahan dan cacat. Sebagian pendakwah di masa lalu menanam kesalahan, lalu kini kita harus menanggung resiko akibat kesalahan itu.

Jangan melukai hati manusia, agar mereka tidak menolak Islam atau membenci Syari’at Allah. Hiburlah mereka dengan sebanyak-banyak kebaikan dan teladan mulia. Hibur mereka sampai hatinya teguh dalam keislaman. Jika sudah teguh, biarpun badai besar melanda 7 samudra; mereka tetap akan ISTIQAMAH di atas jalan Islam.

Rasulullah Saw mengatakan, “Basy-syiruu wa laa tunafiruu, yassiruu wa laa tu’assiru!”  (Berikan kabar gembira, jangan membuat manusia lari. Permudahlah urusan, jangan mempersulit keadaan).

Semoga bermanfaat. Allahumma amin.

Depok, 24 April 2011.

AM. Waskito.

Iklan

Dakwah Islam dan Faktor Ekonomi

Mei 5, 2010

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Selama ini kaum Muslimin (khususnya gerakan dakwah Islam) giat mengajak masyarakat hijrah dari kehidupan jahiliyyah menuju kehidupan Islami. Hijrah yang dimaksud ialah memulai kehidupan sesuai tuntunan Allah dan Rasul-Nya, sejak dari masalah pribadi, ibadah, akhlak, penampilan, muamalah, sosial, sampai urusan kenegaraan. Istilahnya, menjadi Muslim secara totalitas.

Setiap pemuda Muslim (atau Muslimah), saat dia melakukan hijrah dari keadaan jahiliyah menuju kehidupan Islami, dia telah mengerahkan banyak PENGORBANAN. Terutama, pengorbanan perasaan, kejiwaan, dan sosial. Jika semula dia malas Shalat, akhirnya konsisten Shalat. Jika semula dia tidak menutup aurat, akhirnya menutup aurat. Jika semula matanya tidak dijaga, akhirnya dijaga, menghindari pemandangan haram. Jika semua berkecimpung dalam bisnis haram (misalnya ribawi), akhirnya ditinggalkan. Dan lain-lain.

Fithrah Manusia: Zhahir dan Batin

Semua keputusan hijrah di atas, membutuhkan pengorbanan jiwa yang tidak ringan. Seseorang harus memerangi hawa nafsunya yang selalu meronta ingin hidup bebas, lepas kendali, tidak mau diatur oleh petunjuk Allah dan Rasul-Nya. Dampak psikologis yang dihadapi para pemuda (pemudi) Muslim itu, hidup mereka menjadi tidak bebas seperti semula. Tetapi mereka merasakan ketenangan spiritual yang tidak pernah dirasakan sebelumnya. Dimana ada pengorbanan, disana ada kebaikan yang diperoleh. Apalagi ketika disadari, bahwa kesenangan hedonisme tidak memberi kepuasan apapun, selain jiwa semakin sakit. Padahal inti kehidupan manusia adalah jiwanya.

Sampai ke tahap hijrah ini, semua baik-baik saja. Tidak ada masalah. Dan disana ada satu tahapan perubahan diri yang diharapkan. Selama dakwah Islam masih terus menghijrahkan Ummat, selama pribadi-pribadi Muslim terus bermunculan untuk berhijrah di jalan Allah, selama itu dakwah terus berkembang. Jika dakwah terhenti menghijrahkan jiwa manusia, alamat bahaya besar bagi masa depan Islam.

Namun masalahnya wahai Saudaraku, hijrah kejiwaan dari kehidupan jahiliyyah menuju kehidupan Islam, ia baru setengah perjalanan hijrah seorang Muslim. Ia belum menjawab seluruh kebutuhan hijrah seperti yang diharapkan dalam Islam. Hijrah batin adalah fondasi kehidupan seorang Muslim, tetapi ia perlu diikuti dengan hijrah zhahir, sehingga hijrah itu menjadi paripurna (total).

Lalu apa yang disebut sebagai hijrah zhahir? Ia adalah kemandirian ekonomi seorang Muslim.

Nabi Muhammad Saw pernah mengatakan, “Yadul ulya khairun min yadis sufla” (tangan yang di atas lebih baik daripada tangan di bawah). Maksudnya, seorang Muslim yang memberi sedekah kepada orang lain, lebih baik daripada Muslim yang selalu meminta-minta kepada orang lain.

Hadits shahih ini memberi hikmah luar biasa. Bahwa dalam kehidupan ini, seorang Muslim harus berusaha mandiri secara ekonomi, sehingga dia tidak bergantung kepada orang lain, tidak selalu merepotkan orang lain, tidak menjadi beban Islam dan kaum Muslimin. Hendaklah setiap Muslim berusaha memberi pertolongan kepada Islam, bukan selalu meminta belas-kasihan Islam. Nah, untuk mencapai kemandirian itu tentu kita harus berjuang secara maksimal.

Hadits di atas, dikuatkan oleh hadits shahih lain, bahwa Nabi Saw bersabda, “Al mukminul qawiyyu khairun wa ahabbu ilallah minal mu’minid dhaif” (Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih disukai oleh Allah daripada Mukmin yang lemah). Faktor kekuatan itu bisa apa saja, mulai dari ilmu, ekonomi, akses ekonomi, pengaruh sosial, kesehatan fisik, dll.

Jadi, ketika seorang Muslim sudah berhijrah secara batin, dia harus pula berhijrah secara zhahir, yaitu membangun kemandirian ekonomi. Dengan kemandirian ekonomi, dia tidak lagi merepotkan orangtua, tidak merepotkan mertua, tidak merepotkan adik-kakak, tidak merepotkan kawan-kawan, dll. Bahkan dia justru lebih giat menolong orang lain dengan santunan-santunan hartanya.

Selama ini, target dakwah kita umumnya hanya hijrah batin. Kalau seseorang pemuda (pemudi) Muslim sudah berhijrah batin, seolah urusan sudah selesai. Tinggal berpangku-tangan, menanti pertolongan Allah. Ini salah dan mencerminkan pemikiran yang tidak benar. Buktinya sebagai berikut:

[1] Fitrah manusia terdiri dari batin dan zhahir. Kebutuhan batin dipenuhi dengan didikan agama, sedang kebutuhan zhahir dipenuhi dengan aspek-aspek maaliyyah (harta). Ini fitrah lho, bukan mengada-ada.

[2] Ketika seorang manusia unggul zhahir-nya tetapi rusak batin-nya, dia berada dalam belenggu jahiliyyah, sekuler, bahkan kekafiran. Sebaliknya, ketika seorang manusia unggul batin-nya, dan sengsara zhahir-nya, maka dia menjadi lemah, tidak berdaya, tidak terberdayakan, tidak mampu berbuat banyak, menjadi korban sistem sosial, tidak memiliki harga diri, bahkan kemandirian imannya diragukan.

[3] Doa yang paling banyak dibaca oleh Rasulullah Saw ialah permintaan hasanah dalam kehidupan dunia dan Akhirat. Bukan hanya meminta dunia, atau meminta Akhirat saja, tetapi meminta hasanah pada keduanya. Tepat seperti ungkapan hikmah, “Bekerjalah untuk duniamu seolah engkau akan hidup selamanya, dan bekerjalah untuk Akhiratmu seolah engkau akan mati besok.” Sama-sama serius dalam urusan dunia dan Akhirat.

[4] Contoh yang mudah dilihat, ialah kehidupan Imam Abu Hanifah rahimahullah. Beliau adalah peletak dasar madzhab fiqih Hanafi. Selain dikenal sebagai seorang faqih, beliau juga saudagar yang sukses. Giatnya Imam Abu Hanifah saat shalat malam, tidak kalah giatnya saat beliau sedang berdagang.

[5] Hikmah dari Shirah Nabawiyyah.

Bukan sekali dua kali kita mendengar ucapan seperti ini, “Sudahlah, yang penting kajian tauhid, tauhid, tauhid. Rasulullah di Makkah selama 13 tahun hanya mengurusi masalah tauhid saja. Sudahlah bersihkan tauhid Ummat, nanti kemenangan itu akan datang dengan sendirinya. Tidak usah bicara politik, tidak usah bicara bisnis Islam, tidak usah bicara lembaga pendidikan, yang penting tauhid, tauhid, tauhid. Ngerti gak?”

Hijrah Muslim: Hijrah Jiwa Plus Kemandirian Ekonomi

Menurut pandanganku, wallahu A’lam bisshawaab, pemikiran di atas termasuk pemikiran sesat. Mengapa? Pandangan seperti itu bisa menipu Ummat, bisa melemahkan kehidupan Islam, dan jelas-jelas bertentangan dengan kehidupan Nabiyullah Muhammad Saw dan para Shahabat Ra.

Harus dipahami, kehidupan Islam itu sesuatu yang menyatu seluruh sisinya. Ketika kita bicara tauhid, ia tidak boleh dipandang sebagai suatu urusan yang terpisah dari masalah-masalah lain. Tidak bisa. Tauhid Islami itu menyertai kehidupan seorang Muslim di seluruh sisi hidupnya. Lha, namanya juga akidah tauhid (keyakinan). Ia berada di hati kita, ia menyertai kita kemanapun kita berada.

Seorang Muslim saat mengajar di sekolah, tauhid ikut bersamanya. Saat dia safar dengan temannya, tauhid ikut di hatinya. Saat dia membangun rumah, tauhid ikut bersamanya. Saat dia transaksi bisnis, tauhid ikut. Saat dia bercumbu dengan isterinya, tauhid ikut bersama dia. Saat dia memerangi musuh, tauhid ada di dadanya. Bahkan saat dia berada di WC, tauhid ada di hatinya. Sepanjang hayat Muslim, tauhid bersamanya.

Nah, selama ini ada orang-orang bodoh, berpura-pura sebagai dai, padahal sekuler. Mereka hendak memisahkan tauhid dari kehidupan Ummat. Tauhid dianggap urusan yang terpisah dari masalah ekonomi, pendidikan, sosial, budaya, politik, moralitas, dsb. Ini benar-benar pemikiran sekuler. Mereka menganggap tauhid itu suatu bentuk kehidupan eksklusif yang tidak ada sangkut-pautnya dengan urusan lain.

Tauhid di mata mereka, adalah mengaji kitab secara rutin, menerbitkan majalah, menerbitkan buku-buku, mengelola website, membuat blog, debat seru di internet, dll. Tauhid hanya dipahami sebagai AMAL WACANA belaka. Ketika ekonomi didominasi orang kafir, pendidikan dikuasai sekuler, media-media dikuasai kaum anti Islam; mereka tidak memandang semua itu sebagai masalah tauhid. (Padahal dampak dominasi itu sangat besar dalam merusak akidah dan tauhid Ummat). Tauhid tidak ingin coba dibangun di tengah-tengah masyarakat, di tengah-tengah pasar, di tengah-tengah arus politik, di tengah-tengah dinamika pendidikan, di tengah-tengah komunitas seni, dan seterusnya.

Dulu, Sayyidah Khadijah binti Khuwailid Ra., beliau membelanjakan banyak sekali hartanya untuk membela Islam. Abu Bakar As Shiddiq Ra membelanjakan hartanya untuk menebus budak-budak Muslim di Makkah. Shuhaib Ar Rumi Ra menyerahkan harta bendanya yang banyak sebagai tebusan, agar dia bisa bebas hijrah ke Madinah. Ja’far bin Abdul Muthalib Ra. dll diperintahkan hijrah ke Habasyah, mencari perlindungan keamanan, sosial, dan tentu kemudahan ekonomi. Nabi Saw berusaha berdakwah ke Thaif, Bani Hasyim bantu-membantu memberi makanan dan aneka perbekalan kepada Nabi Saw dan para Shahabat Ra yang diboikot selama 3 tahun. Dan aneka fakta-fakta lainnya. Padahal semua kejadian itu terjadi di Makkah yang katanya disebut “13 tahun ngurusi tauhid“.

Adalah kesesatan yang nyata ketika ada yang mengklaim, bahwa dakwah Nabi di Makkah hanya seputar “majlis taklim tauhid” saja. Tidak sama sekali. Tarbiyah tauhid di Makkah selalu dihubungkan dengan pengalaman-pengalaman hidup di lapangan. Sehingga Islam itu menjadi panduan hidup paripurna, panduan teori dan praktik. Jadi, bukan cuma tauhid dalam arti “ngaji kitab” doang. Islam bukan sekularisme. Islam adalah ilmu Kitabullah dan Sunnah, serta peradaban yang tumbuh di muka bumi.

Harus dipahami dengan benar fakta berikut ini:

Para Shahabat dan Shahabiyyah Ra, mereka itu sudah mandiri secara ekonomi, pandai mencari uang, pandai bisnis, ketika mereka belum masuk Islam. Anda tentu masih ingat, kaum Muhajirin Makkah sangat ahli dalam dagang. Ketika Islam datang, ajaran agama ini tidak mematikan bakat dan keahlian bisnis mereka. Islam hanyalah mengatur transaksi mereka, mengatur metode mereka, dalam berbisnis; agar tidak bertentangan dengan ajaran Allah dan Rasul-Nya. Bukan mematikan keahlian bisnis itu sendiri.”

Rasulullah Saw itu pribadi yang sangat lembut dan santun. “Innaka la ‘ala khuluqin ‘azhim” (sesungguhnya engkau Muhammad berada di atas akhlak yang agung). Mengapa suatu saat Rasul mengatakan, “Antum a’lamu bi umuri dunyakum” (kalian lebih tahu urusan dunia kalian). Apakah Anda mengira Rasulullah Saw tidak tahu urusan keduniaan, urusan bisnis, dan sebagainya? Jika Anda menyangka demikian, sungguh Anda SALAH BESAR. Nabi Saw, ketika masih berdagang bersama kafilah Khadijah, beliau sangat ahli dalam bisnis.

Nabi Saw tidak mau mencampuri urusan keduniaan, sebab khawatir akan merepotkan Ummatnya. Beliau tahu, bahkan keadaan kaum Muslimin itu bermacam-macam, wilayahnya bermacam-macam, metode mencari penghasilannya juga bermacam-macam. Kalau saja, Nabi Saw memasukkan cara bisnis, kiat bisnis, keahlian bisnis ke dalam Sunnah-nya, pasti kaum Muslimin akan sangat kesulitan. Mereka akan dibebani kewajiban untuk berbisnis, berdagang, mencari penghasilan, persis seperti dalam Sunnah Nabi.

Nabi Saw itu sangat luhur akhlaknya. Beliau tidak mau merepotkan Ummatnya. Tetapi tidak berarti, kita sebagai Ummatnya lalu mengabaikan keahlian membangun ekonomi (seperti kenyataan yang ada di Indonesia selama ini). Ya tetap saja, Nabi mengatakan, “Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah.” Cukuplah seruan hadits shahih itu membuat kita malu untuk menuntut lebih kepada Nabiyullah Al Musthafa shallallah ‘alaihi wa alihi wa ashabihi wa sallam.

Ke depan, untuk memenangkan dakwah Islam, para dai perlu MEREFORMAT pemikirannya, khususnya terkait masalah kemandirian ekonomi. Jangan lagi-lagi menyebarkan paham sesat yang bisa melumpuhkan Islam dan kehidupan kaum Muslimin. Dakwah membutuhkan daya-dukung ekonomi, sebab memang manusia itu terdiri dari aspek lahir dan batin.

Hijrah batin adalah penting, bahkan ia adalah azas kebangkitan Islam. Tetapi hijrah batin harus dilindungi dengan hijrah zhahir, yaitu kemandirian ekonomi. Jika tidak dilindungi, nanti hijrah batin itu bisa rusak kembali, bahkan rusaknya bisa lebih parah dari sebelumnya. Orang yang “pernah shalih”, lalu terjerumus jahiliyyah lagi; jauh lebih sulit menghijrahkannya kembali, daripada menghijrahkan orang yang “tidak penah shalih”.

Semoga tulisan ini bisa menjadi renungan semua pihak, khususnya diriku sendiri. Mohon maaf atas segala salah dan khilaf, atas apa-apa yang tidak berkenan di hati. Alhamdulillah Rabbil ‘alamiin, wallahu A’lam bisshawaab.

Bandung, 5 Mei 2010.

AMW.